BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Disparitas Regional
Para pakar mengatakan adanya trade off diantara ketimpangan dan pertumbuhan ekonomi. Fei dan Ranis (1964), Kuznets (1966), Adelman dan Moris (1973), menyatakan bahwa disparitas atau ketimpangan pendapatan ditentukan oleh jenis pembangunan ekonomi yang diindikasikan oleh luas wilayah (negara), sumberdaya alam sebagai endowment factor dan kebijakan yang dilaksanakan. Selanjutnya, salah satu permasalahan pokok yang harus dipikirkan dalam perencanaan wilayah menurut Miraza (2006) adalah masalah transportasi. Hal ini diperkuat oleh Kamaluddin (2003), transportasi merupakan unsur yang penting dan berfungsi sebagai urat nadi kehidupan dan perkembangan ekonomi, sosial, politik, dan mobilitas penduduk yang tumbuh bersamaan dan mengikuti perkembangan yang terjadi dalam berbagai bidang dan sektor.
Becker (1975) mengkaitkan diantara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi adalah produktivitas tenaga kerja dengan asumsi semakin tinggi kualitas dan mutu pendidikan, maka akan semakin tinggi produktivitas tenaga kerja dan semakin tinggi pula pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi. Teori ini selanjutnya mengungkapkan bahwa produktivitas tenaga kerja akan menyebabkan kenaikan dalam pendapatan masyarakat lebih tinggi, sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Perbedaan pertumbuhan ekonomi antar wilayah mengakibatkan ketimpangan pembangunan ekonomi antar wilayah. Menurut Todaro dan Smith (2006), pertambahan penduduk merupakan merupakan unsur penting yang akan memacu pembangunan ekonomi. Populasi yang lebih besar adalah pasar potensial yang menjadi sumber permintaan akan berbagai macam barang dan jasa yang kemudian akan menggerakan berbagai macam kegiatan
ekonomi sehingga menciptakan skala ekonomis (economies of scale) produk yang menguntungkan semua pihak, menurunkan biaya-biaya produksi, dan menciptakan sumber pasokan atau penawaran tenaga kerja murah dalam jumlah yang memadai sehingga pada gilirannya merangsang tingkat output atau produksi agregat yang lebih tinggi lagi.
Masalah besar dari kependudukan adalah kepadatan penduduk, dan selalu menjadi problema tersendiri bagi suatu wilayah karena akan memunculkan masalah lain seperti: permukiman, penyediaan lapangan pekerjaan, sarana dan prasarana, dan masalah sosial lainnya. Berbagai studi empiris yang telah dilakukan oleh Amstrong dan Taylor (2001) membuktikan bahwa kepadatan penduduk dapat memberikan efek positif ataupun negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Jika sebagian besar penduduk (seperti: penduduk usia lanjut, anak-anak, dan para penganggur) tidak ikut berpartisipasi terhadap aktivitas ekonomi regional maka pertumbuhan ekonomi menjadi negatif. Menurut Djojohadikusumo (1994), sumberdaya manusia merupakan salah satu faktor dinamika dalam perkembangan ekonomi jangka panjang, bersama dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, sumberdaya alam, dan kapasitas produksi yang terpasang, dalam masyarakat yang bersangkutan. Keempat faktor dinamika itu harus dilihat dalam kaitan interaksinya satu dengan yang lainnya. Namun, diantaranya peranan sumberdaya manusia mengambil tempat yang sentral, khususnya dalam pembangunan ekonomi negara-negara berkembang dimana kesejahteraan manusia dijadikan tujuan pokok dari ekonomi masyarakat. Berpangkal pada masalah penduduk dan angkatan kerja, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, wajib diberi perhatian utama dalam ekonomi pembangunan.
Alokasi anggaran pemerintah untuk bidang pendidikan dan kesehatan merupakan bagian yang terpenting dalam kebijakan anggaran (Rosen, 2004). Kebijakan ini dikaitkan dengan peranan pemerintah sebagai penyedia dari barang publik. Dampak eksternalitas dari kebijakan alokasi anggaran untuk kedua bidang tersebut tentunya diharapkan berpengaruh pada peningkatan tingkat pendidikan dan kesehatan bila anggaran yang digunakan sesuai dengan yang diharapkan. Berkaitan dengan hal tersebut, Rostow dan Musgrave (2003) mengembangkan teori yang menghubungkan perkembangan pengeluaran pemerintah dan tahap- tahap pembangunan ekonomi. Pada tahap awal perkembangan ekonomi persentase investasi pemerintah terhadap total investasi besar sebab pemerintah harus menyediakan prasarana seperti misalnya pendidikan, kesehatan, prasarana transportasi dan sebagainya. Wagner dalamHyman (2005), mengembangkan teori dimana perkembangan persentase pengeluaran pemerintah yang semakin besar terhadap Produk Domestik Bruto. Dalam suatu perekonomian apabila pendapatan per kapita meningkat, secara relatif pengeluaran pemerintahakan meningkat, terutama pengeluaran pemerintah untuk mengatur hubungan dalam masyarakat, seperti hukum, pendidikan, kebudayaan dan sebagainya.
Menurut Sjafrizal (2008), ketimpangan pembangunan dipengaruhi faktor- faktorsebagai berikut:
(1) Perbedaan kandungan sumberdaya alam, yang akan mempengaruhi kegiatan produksi di daerah tersebut. Daerah yang kaya sumberdaya alam dapat memperoduksi barang-barang tertentu dengan harga yang lebih murah sehingga mempercepat pertumbuhan ekonominya.
(2) Perbedaan kondisi demografis, meliputi tingkat pertumbuhan dan struktur kependudukan, tingkat pendidikan dan kesehatan, kondisi ketenagakerjaan, tingkah laku dan etos kerja masyarakatnya.
(3) Kurang lancarnya mobilitas barang dan jasa, yang menyebabkan kelebihan produksi suatu daerah tidak dapat diperdagangkan/dijual ke daerah lain yang membutuhkan sehingga daerah yang kurang maju tersebut pertumbuhannya lebih lambat.
(4) Konsentrasi kegiatan ekonomi wilayah akan mendorong peningkatan penyediaan lapangan kerja dan juga tingkat pendapatan masyarakat.
(5) Alokasi dana pembangunan antarwilayah (investasi yang ditanamkan). Sumber investasi terdiri dari dua pelaku ekonomi yaitu pemerintah dan swasta.
Hal yang hampir sama dikemukakan oleh Murty (2000), yang menyatakan bahwa ketimpangan disebabkan oleh:
(1) Faktor geografi: pada suatu wilayah yang cukup luas akan terjadi perbedaan distribusi sumberdaya alam, sumber daya pertanian, topografi, iklim, curah hujan, sumberdaya mineral dan variasi spasial lainnya.
(2) Faktor sejarah: tingkat perkembangan masyarakat dalam suatu wilayah sangat tergantung dari apa yang dilakukan pada masa lalu. Bentuk kelembagaan ataubudaya dan kehidupan perekonomian pada masa lalu merupakan penyebabyang cukup penting terutama terkait dengan sistem insentif terhadap kapasitaskerja dan entrepreneurship.
(3) Faktor politik: politik yang tidak stabil akan menyebabkan ketidakpastian diberbagai bidang terutama ekonomi, terutama keraguan dalam berusaha atau berinvestasi bahkan dapat menyebabkan terjadinya crowding out ke luardaerah.
(4) Faktor kebijakan: kebijakan pemerintah yang sentralistik hampir di semua sektor dan lebih menekankan pertumbuhan ekonomi untuk membangun pusat-pusat pertumbuhan di wilayah tertentu akan menyebabkan kesenjangan, baik antar sektor, antar pelaku ekonomi maupun antar daerah.
(5) Faktor administrasi: wilayah yang dikelola dengan administrasi yang baik cenderung lebih maju.
(6) Faktor sosial: masyarakat yang tertinggal umumnya tidak memiliki institusi dan perilaku yang kondusif bagi berkembangnya perekonomian karena masih percaya pada kepercayaan yang primitif, tradisional, dan nilai-nilai sosial yang cenderung konservatif dan menghambat perkembangan ekonomi.
(7) Faktor ekonomi, yang terkait dengan:
a. Kuantitas dan kualitas faktor produksi: lahan, infrastruktur, tenaga kerja, modal, organisasi, perusahaan.
b. Akumulasi dari berbagai sektor: lingkaran setan kemiskinan, kondisi masyarakat yang tertinggal, standar hidup yang rendah, efisiensi yang rendah, konsumsi yang rendah, tabungan yang rendah, investasi yang rendah, dan tingkat pengangguran yang meningkat.
c. Kekuatan pasar bebas dan pengaruhnya pada spread effect danbackwash
effect: tenaga kerja, modal, perusahaan, dan aktivitas ekonomi seperti
industri, perdagangan, perbankan dan asuransi yang memberikan hasil yang lebih besar, cenderung terkonsentrasi di daerah yang maju.
d. Distorsi pasar: immobilitas, kebijakan harga, keterbatasan spesialisasi, keterbatasan keterampilan tenaga kerja, dan sebagainya.