C. Perilaku Sosial
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Sosial
Keragaman dan keunikan perilaku sosial yang dilakukan oleh masyarakat merupakan manifestasi dari pengaruh yang melatarbelakanginya. Artinya,
keunikan perilaku itu disebabkan oleh faktor-faktor yang menimbulkan hal tersebut. Senada dengan hal tersebut, Soerjono Soekanto (1990:123-124) yang mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku seseorang dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Faktor dari dalam, yaitu faktor yang dimiliki oleh setiap manusia semenjak kejadiannya, kedalamannya termasuk kecerdasan, bakat-bakat khusus, jenis kelamin, sifat-sifat fisik, sifat-sifat kepribadian dan dorongan-dorongan.
b. Faktor dari luar, yaitu faktor yang dihadapi oleh individu tersebut pada waktu dan sesudah lahir terdapat dalam lingkungannya, meliputi keluarga, sekolah, masyarakat, kelompok sebaya, kebudayaan dan lngkungan fisik. c. Faktor yang diperoleh dari dalam dan luar, yaitu apabila faktor endogen
dengan faktor eksogen meliputi: sikap, minat, keadaan-keadaan emosi, dan kepribadian.
Pendapat lain dikemukakan oleh Husai Yusuf (Syamsu Yusuf, 2002:53) yaitu: “keberhasilan perilaku sosial individu dipengaruhi oleh intelegensi sosialnya. Selain itu tempramen, sikap kejujuran, pertimbangan, humor dan persahabatan, dan tingkat kebebasan dari rasa cemburu”.
Selain faktor-faktor di atas, Soerjono Soekanto (1990:67) menyebutkan bahwa masyarakat berperilaku berbeda-beda dalam berinteraksi dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya sebagai berikut:
1. Faktor kekayaan
Individu yang memiliki kekayaan banyak, termasuk lapisan atas, dan biasanya dalam interaksi di masyarakat juga berbeda.
2. Ukuran kekuasaan
Individu yang bmemiliki kekuasaan dimasyarakat, biasanya masyarakat selalu patuh dan taat pada perilaku yang dicontohkan oleh individu tersebut.
3. Ukuran kehormatan
Ukuran kehormatan tersebut mungkin terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan dan kekuasaan. Individu yang paling disegani dan dihormati mendapat tempat yang teratas. Biasanya golongan ini adalah orang yang pernah berjasa dalam kehidupan masyarakat.
4. Ukuran ilmu pengetahuan
Ilmu pengatahuan adalah ukuran yang dipakai oleh masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan, dimana mereka mencontoh individu yang memiliki pengetahuan yang tinggi, padahal itu belum tentu dalam kehidupan dimasyarakat pada saat ini.
Selain faktor di atas, perilaku sosial seseorang atau masyarakat juga dapat dipengaruhi oleh faktor perubahan sosial yang ada dimasyarakat, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Sistem pendidikan formal yang maju
Pendidikan mengajarkan kepada individu aneka macam kemampuan. Pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu dalam membuka fikirannya serta menerima hal-hal baru dan juga bagaimana cara berfikir. Pendidikan mengajarkan manusia untuk dapat berfikir secara obyektif, hal mana yang akan memberikan kemampuan untuk menilai apakah kebudayaan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan zaman atau tidak. 2. Toleransi
Perilaku yang berbeda-beda antara masyarakat tersebut dengan adanya toleransi baik beragama maupun bermasyarakat akan tetap menghargai perilaku dari masyarakat lain walaupun perilaku tersebut menyimpang. Dengan adanya toleransi menghindari dari terjadinya bentrokan antara masyarakat tersebut.
3. Penduduk yang heterogen
Masyarakat yang terdiri dari kelompok sosial yang mempunyai latar belakang kebudayaan yang berbeda, agama, ras, serta ideologi, mempermudah terjadinya pertentangan yang mengundang kegoncangan-kegoncangan dan konflik dalam masyarakat. Keadaan demikian mendorong masyarakat serta individu dalam bersikap dan berperilaku.
Dari beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku sosial dalam masyarakat, dapat disimpulkan bahwa memang tidak ada variabel tunggal dalam mempengaruhi perilaku sosial dalam masyarakat. Kontekstualitas dalam
memahami perilaku sosial dalam masyarakat agaknya menjadi faktor yang utama dalam memahami faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku sosial dalam masyarakat. Artinya, tidak ada satu teoripun yang bisa mengakomodir dalam memahami hal tersebut. Hal ini dapat teridentifikasi dengan kasus-kasus perilaku sosial dimasyarakat, baik yang posistif maupun negatif (menyimpang) dalam masyarakat, hampir semuanya memiliki faktor-faktor tersendiri yang bersifat kastuistis dan kontekstual.
D. Sejarah Dialog dan Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama di Indonesia dan dunia
1. Faktor-faktor yang Menyebabkan Bentrokan Antar Umat Beragama Menurut Kasman Singodimejo (Hasyim 1979:337), ada tujuh faktor yang menyebabkan terjadinya bentrokan antar umat beragama, yaitu:
1. Dangkalnya pengertian dan kesadaran beragama
Apabila terjadi bentrokan atau persengketaan antara umat beragama, maka para pelakunya belum tentu sebagai seorang awam di bidang agama, tetapi justru mereka itu termasuk tokoh-tokoh agama yang menguasai ilmu agama yang menyebabknanya. Seperti pada peristiwa Makasar, adalah asal mula dari penghinaan seorang pendeta terhadap umat Muslim setempat. 2. Fanatisme yang negatif
Orang yang teguh menjalankan perintah agamanya, tunduk dan taat pada ajaran dan keyakinan agamanya adalah baik. Orang yang tidak goyah pendiriannya walaupun keras godaan yang menimpa adalah baik. Ia dikatakan seorang yang fanatik. Tetapi fanatisme buta, tentu saja fanatisme yang negatif adalah jelek. Ia buta tuli, cinta kepada pahamnya dengan membeli buta, dengan merealisasikan segala sikap dan geraknya untuk menyerang dan menghina faham atau agama lain. Ia bersikap sinis terhadap golongan lain.
3. Cara dakwah dan propaganda yang salah
Agar di dalam pelaksanaan dakwah dan propaganda agama diperhatikan kode-kode etik penyebaran agama, dengan sejauh mungkin dihindari ucapan-ucapan yang mempersoalkan doktrin-doktrin keyakinan agama lain, walaupun bersifat perbandingan sekalipun dengan pengertian bahwa
cara penyampaian bahan itu tidak bersifat menghasut dan memanaskan golongan lain.
Cara-cara dalam berdakwah yang salah bisa memungkinkan menjadi sumber penyebab bentrokan antar umat beragama, apalagi bila bermaksud untuk menghasut dan tidak pula mengingat dan memperhitungkan faktor waktu, lingkungan dan kepentingan umum.
4. Obyek dakwah dan propaganda agama
Penyiaran agama yang amat menyolok kepada pemeluk agama lain apalagi secara demonstratif adalah sesuatu yang amat menyinggung perasaan keagamaan. Dengan cara yang demikian, masyarakat beragama menjadi anak buah atau anak asuhan atau anggota jama’ah dari agama tertentu kemudian dibujuk dan dirinya agar dapat memeluk agamanya orang yang membujuk tadi. Hal ini adalah merupakan pengumuman permusuhan secara halus atau berterus terang saja.
5. Subversi sisa G30S/PKI
Memang terkadang bekas-bekas anggota PKI ikut mengacau agar ketenteraman uamat beragama terganggu. Seperti peristiwa Jatibarang, yakni tentang larinya gadis Muslim kemudian menjadi Kristen adalah karena mendapat geriliya politik dari bekas anggota PKI. Maka terkadang juga dikatakan bahwa bentrokan antar umat beragama itu mendapat hasutan dan dikobarkan oleh anggota PKI yang berjiwa komunis karena mendapat hasutan dari orang-orang komunis.
6. Karena perlakuan yang tidak adil terhadap agama lain
Lihat saja peristiwa pemberontakan orang Islam Mindanao, adalah karena perlakuan yang tidak adil dan sewenang-wenang dari penguasa yang beragama Kristen Katholik, dimana perlakuan itu karena bertendensi atau berlatar belakang agama. Atau seperti di Eretria, Ethiopia dan di Negara Afrika lainnya.
7. Karena perebutan kekuasaan
Sebagai contoh adalah perang antara Irlandia dan Inggris, adalah karena tuntutan hak untuk merdeka sendiri yang berlatar belakang agama juga. Senada dengan pendapat di atas, Jalaluddin (2001:277) menguraikan faktor-faktor penyebab terjadinya konflik agama sebagai berikut:
1. Pengetahuan agama yang dangkal
Ajaran agama berisi nilai-nilai ajaran moral yang berkaitan dengan pembentukan sifat-sifat yang luhur. Namun demikian, tidak semua penganut agama dapat menyerap secara utuh ajaran agamanya. Kelompok seperti ini biasanya dikenal sebagai masyarakat awam. Dalam keterbatasan pengetahuan yang dimilikinya, terkadang mereka memerlukan informasi tambahan dari orang lain yang dianggap lebih menguasai permasalahan agama.
Agama sebagai keyakinan, pada hakikatnya merupakan pilihan pribadi dari pemeluknya. Pilihan itu tentunya didasarkan pada penilaian bahwa agama yang dianutnya adalah yang terbaik. Pemahaman inilah yang merupakan pemicu konflik agama.
3. Agama sebagai doktrin
Ada kecenderungan di masyarakat bahwa agama dipahami sebagai doktrin yang bersifat normatif. Pemahaman demikian menjadikan ajaran agama sebagai ajaran yang kaku. Inilah yang menjadikannya sebagai ajaran yang sulit diubah dan diganggu.
4. Simbol-simbol keagamaan
Dalam kajian antropologi, agama ditandai oleh keyakinan terhadap sesuatu yang bersifat adikordati (Supernatural), ajaran, penyampai ajaran, lakon ritual, orang-orang suci, tempat-tempat suci dan benda-benda suci. Simbol inilah yang sensitif menimbulkan konflik bila diganggu atau dirusak. Sementara itu, Rosita S. Noer (Abdul Azis 2001:275) mengutarakan pendapat bahwa:
Akhir-akhir ini telah terjadi sejumlah kasus yang cukup mencemaskan. Selama kurun waktu tiga tahun terakhir ini, kerusuhan sosial semakin menjadi gejala umum bagi perjalanan kehidupan bangsa Indonesia. Penyebab awal yang tampak di permukaan dari kasus-kasus tersebut adalah marahnya massa hingga terjadi kerusuhan. Sementara penyebab yang menjadi faktor tersembunyi umumnya dikaitkan dengan masalah-masalah hubungan sosial keagamaan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa konflik agama muncul ketika masyarakat merngalami semacam clash atau kesalahpahaman secara interaksi sosial. Kesalahpahaman sosial tersebut merembet ke hal-hal yang bersifat entitas keagamaan. Dari entitas keagamaan inilah berkembang menjadi konflik yang lebih permanen, karena agama memang menjadi sistem nilai yang bersifat fanatis dan memang menuntut pemeluknya untuk bersikap dan bertingkah laku loyal (setia atau cinta) terhadap agamanya.