BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Yuridis Konstitusional tentang Pedoman Penyiaran Agama, Tata Cara Pelaksanaan Penyiaran Agama dan bantuan Luar Negeri kepada Lembaga Keagamaan di Indonesia, Pengembangan Lembaga Keagamaan di Indonesia, Pendirian Rumah Ibadah serta Tugas Kepala Daerah dalam Membina Kerukunan Umat Beragama
1. Keputusan Menteri Agama No. 70 Tahun 1978 (Tentang Pedoman Penyiaran Agama)
Peraturan ini memuat klausul tentang cara-cara penyiaran agama yang dibolehkan dan diatur oleh perundang-undangan yang berlaku, serta pihak-pihak lembaga-lembaga mengawasi proses penyiaran agama sebagai berikut:
Pertama:
Untuk menjaga stabilitas nasional dan demi tegaknya kerukunan antar umat beragama, pengembangan dan penyiaran agama supaya dilaksanakan dengan semangat kerukunan, tenggang rasa, tepo seliro, saling menghargai, hormat menghormati antar umat beragama sesuai jiwa Pancasila.
Kedua: Penyiaran agama tidak dibenarkan untuk:
a. Ditujukan terhadap orang atau orang-orang yang telah memeluk sesuatu agama lain;
b. Dilakukan dengan menggunakan bujukan/pemberian materiil uang, pakaian, makanan/minuman, obat-obatan dan lain-lain agar supaya orang tertarik untuk memeluk suatu agama.
c. Dilakukan dengan cara-cara penyebaran pamflet, buletin, majalah, buku-buku dan sebagainya di daerah-daerah/rumah-rumah kediaman umat/orang yang beragama lain;
d. Dilakukan dengan cara-cara masuk keluar dari rumah kerumah orang yang telah memeluk agama lain dengan dalih apapun.
Ketiga:
Bilamana ternyata pelaksanaan pengembangan dan penyiaran agama sebagaimana yang dimaksud diktum kedua menimbulkan terganggunya
kerukunan hidup antar umat beragama akan diambil tindakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Keempat:
Seluruh Aparat Departemen Agama sampai ke daerah-daerah diperintahkan untuk melakukakan pengawasan terhadap pelaksanaan keputusan ini dan selalu mengadakan konsultasi/koordinasi dengan unsur Pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat setempat.
Dari uraian peraturan hukum di atas, dapat disimpulkan bahwa penyiaran agama tidak boleh dilakukan dengan jalan paksaan, ancaman, bujukan materil, ditujukan terhadap orang atau orang-orang yang telah memeluk sesuatu agama lain, dilakukan dengan cara-cara penyebaran pamflet, buletin, majalah, buku-buku dan sebagainya, di daerah-daerah/rumah-rumah kediaman umat yang beragama lain dan proses penyiaran agama tidak dibenarkan mengakibatkan renggangnya kerukunan hidup umat beragama.
2. Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 1979 ( Tentang Tata Cara Pelaksanaan Penyiaran Agama dan Bantuan Luar Negeri Kepada Lembaga Keagamaan di Indonesia, tertanggal 2 Januari 1979)
Dalam peraturan ini disebutkan bahwa “Penyiaran Agama adalah segala kegiatan yang bentuk, sifat dan tujuannya untuk menyebarluaskan ajaran sesuatu agama”. Selanjutnya, pasal 3 dan pasal 4a, 4b, dan 4c memuat klausul dan regulasi hukum mengenai tata cara pelaksanaan penyiaran agama sebagai berikut:
Pasal 3
Pelaksanaan penyiaran agama dilakukan dengan semangat kerukunan, tenggang rasa, saling menghargai dan saling menghormati antara sesama umat beagama serta dengan dilandaskan pada penghormatan terhadap hak dan kemerdekaan seseorang untuk memeluk/ menganut dan melakukan ibadah menurut agamanya.
Pasal 4
Pelaksanaan penyiaran agama tidak dibenarkan untuk ditujukan terhadap orang atau kelompok orang yang telah memeluk/menganut agama lain dengan cara :
a. Menggunakan bujukan dengan atau tanpa pemberian barang, uang, pakaian, makanan dan atau minuman, pengobatan, obat-obatan dan bentuk-bentuk pemberian apapun lainnya agar orang atau kelompok orang yang telah memeluk/menganut agama yang lain berpindah dan memeluk/menganut agama yang disiarkan tersebut.
b. Menyebarkan pamflet, majalah, bulletin, buku-buku, dan bentuk-bentuk barang penerbitan cetakan lainnya kepada orang atau kelompok orang yang telah memeluk /menganut agama yang lain.
c. Melakukan kunjungan dari rumah ke rumah umat yang telah memeluk/menganut agama yang lain.
Dari peraturan hukum di atas, dapat dipahami bahwa penyiaran agama tidak boleh dilakukan dengan cara paksaan maupun bujukan, karena hal tersebut tidak sesuai dengan semangat kerukunan umat beragama, tenggang rasa saling menghargai dan saling menghormati antar pemeluk umat beragama. Penyiaran agama seharusnya berlandaskan azas-azas kerukunan umat beragama yang diamanatkan oleh undang-undang dan peraturan hukum yang berlaku.
Surat Keputusan Bersama Menteri Agama & Menteri Dalam Negeri No 1 Tahun 1979 di atas juga memuat tentang tugas kepala daerah tingkat I dan kepala daerah tingkat II yang tertuang dalam pasal 5 ayat (1), ayat (2) , dimana isinya memuat klausul tentang tugas-tugas kepala daerah dalam mengelola serta menjaga kerukunan umat beragama sebagai berikut:
Pasal 5
1) Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I dan Bupati/Walikota/Kepala Daerah Tingkat II mengkoordinir kegiatan Kepala Perwakilan Departemen yang berwenang dalam melakukan bimbingan dan pengawasan atas segala kegiatan pembinaan, pengembangan dan penyiaran agama oleh Lembaga Keagamaan sehingga pelaksanaan kegiatan tersebut dapat berlangsung sesuai dengan ketentuan Pasal 4 Keputusan Bersama ini, serta lebih menumbuhkan kerukunan hidup antara sesama umat beragama.
2) Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I dan Bupati/Walikota/Kepala Daerah Tingkat II mengkoordinir kegiatan Kepala Perwakilan Departemen yang berwenang dalam melakukan bimbingan terhadap kehidupan Lembaga Keagamaan dengan mengikut sertakan Majelis-Majelis Agama di daerah tersebut.
Peraturan hukum di atas menegaskan bahwa kepala daerah memiliki kewajiban serta kewenangan dalam melakukan pengawasan atas segala kegiatan pembinaan, pengembangan dan penyiaran agama yang dilakukan oleh masing-masing lembaga keagamaan yang hidup di Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar kerukunan antar umat beragama dan intern umat beragama tetap terjaga serta ketenangan dalam beribadah dapat terjamin.
Merujuk pada peraturan di atas, terdapat regulasi khusus yang perlu pula mendapat perhatian bersama, antara lain Instruksi Direktur Jenderal Bimas Islam Nomor Kep. /D/201/78 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musholla. Pada Lampiran, butir F butir 5 disebutkan :
Karena itu tabligh/pengajian hanya menggunakan pengeras suara yang ditujukan ke dalam dan tidak untuk ke luar karena tidak diketahui reaksi pendengarannya atau lebih sering menimbulkan gangguan bagi yang istirahat daripada didengarkan sungguh-sungguh. Dikecualikan dari hal ini, apabila pengunjung tabligh atau hari besar Islam memang melimpah keluar.
Berdasarkan regulasi khusus di atas, maka dapat dirumuskan kesimpulan bahwa kegiatan pengajian dan kegiatan keagamaan lain yang dilakukan di mushola atau masjid hendaknya memperhatikan ketenangan pemeluk agama lain. Pengajian dan kegiatan keagamaan lain boleh menggunakan pengeras suara keluar pada hari-hari besar Islam yang dihadiri oleh banyak umat karena alasan kejelasan materi penyiaran agama yang disampaikan.
3. Keputusan Menteri Agama No. 77 Tahun 1978 (Tentang Bantuan Luar Negeri Kepada Lembaga Keagamaan di Indonesia)
Peraturan ini memuat klausul tentang tata cara serta prosedur bantuan luar negeri kepada lembaga keagamaan dalam pasal 1a dan b, pasal 2, pasal 3 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4) dan ayat (5), pasal 4, pasal 5 dan pasal 6 ayat (1) serta ayat (2) sebagai berikut:
Pasal 1
Dalam Keputusan ini yang dimaksudkan dengan:
a. Bantuan luar negeri ialah segala bentuk bantuan berasal dari luar negeri, yang berujud bantuan tenaga, materiil, dan finansiil yang diberikan oleh Pemerintah negara asing, organisasi dan atau perseorangan kepada lembaga keagamaan dan atau perseorangan di Indonesia dengan cara apa pun yang bertujuan atau dapat diduga bertujuan untuk membantu pembinaan, pengembangan dan penyiaran agama di Indonesia.
b. Lembaga keagamaan ialah organisasi perkumpulan, Badan Yayasan dan lain-lain bentuk Lembaga Keagamaan yang usahanya bertujuan membina, mengembangkan, dan menyiarkan agama yang secara kelembagaan/instantionil dikelola oleh Pemerintah dalam hal ini Departemen Agama.
Pasal 2
Bantuan luar negeri seperti dimaksud pasal 1 huruf a Keputusan ini hanya dapat dilaksanakan setelah mendapat persetujuan/rekomendasi dan melalui Menteri Agama.
Pasal 3
1) Dalam rangka pembinaan pengembangan, penyiaran dan bimbingan terhadap ummat beragama di Indonesia, maka penggunaan tenaga asing untuk pengembangan dan penyiaran agama dibatasi.
2) Warga negara asing yang ada di Indonesia yang tugas pokoknya di luar bidang agama, hanya dibenarkan melakukan kegiatan di bidang agama secara insidentil, setelah mendapat izin dari Menteri Agama atau pejabat yang ditunjukkannya.
3) Lembaga Keagamaan seperti yang dimaksud pasal 1 huruf b Keputusan ini dapat menggunakan Warga Negara Asing untuk melakukan kegiatan di bidang agama, setelah mendapat izin dari Menteri Agama.
4) Lembaga Keagamaan seperti yang dimaksud pasal b Keputusan ini, wajib mengadakan program pendidikan dan latihan, dengan tujuan agar dalam waktu yang ditentukan tenaga-tenaga warga negara Indonesia dapat menggantikan tenaga asing yang melakukan kegiatan di bidang agama tersebut.
5) Program pendidikan dan latihan seperti dimaksud ayat (4) pasal ini harus dilakukan selambat-lambatnya 6 bulan setelah ditetapkannya Keputusan ini dan selesai dilaksanakan selambat-lambatnya 2 tahun setelah pelaksanaan program pendidikan dan latihan tersebut.
Pasal 4
Lembaga Keagamaan yang menerima bantuan luar negeri yang ternyata tidak memenuhi ketentuan pasal 2, pasal 3 ayat (3) ayat (4) dan ayat (5) Keputusan ini dan warga negara asing yang melanggar ketentuan pasal 3 ayat (2) Keputusan ini, dapat diambil tindakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 5
Direktur Jenderal Bimas Islam, Direktur Jenderal Bimas Kristen Protestan, Direktur Jenderal Bimas Kristen Katholik dan Direktur Jenderal Bimas Hindu Budha Departemen Agama serta Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama melaksanakan Keputusan ini dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan serta memberikan laporan pelaksanaan keputusan ini.
Pasal 6
1) Segala sesuatu yang bertentangan dengan keputusan ini dinyatakan tidak berlaku lagi.
2) Hal-hal yang belum diatur dalam keputusan ini akan diatur lebih lanjut oleh Menteri Agama.
Dari peraturan di atas, dapat diambil penegasan bahwa bantuan yang sifatnya materiil dan finansial dari luar negeri harus terlebih dahulu memenuhi prosedur dan regulasi yang berlaku, diantaranya: persetujuan resmi dari Menteri Agama, setelah itu persetujuan dari direktorat-direktorat keagamaan seperti: Direktur Jenderal Bimas Islam, Direktur Jenderal Bimas Kristen Protestan, Direktur Jenderal Bimas Kristen Katholik dan Direktur Jenderal Bimas Hindu Budha. Departemen Agama serta Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama melaksanakan Keputusan ini dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan serta memberikan laporan pelaksanaan keputusan ini.
4. Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No: 8 Tahun 2006 (Tentang Pedoman Pendirian Rumah Ibadah)
Peraturan ini memuat klausul tentang prosedur pendirian rumah ibadah yang tertuang dalam Pasal 13 ayat (1), ayat (2), ayat (3), pasal 14 ayat (1), ayat (2), pasal 15, pasal 16 ayat (1), ayat (2), dan pasal 17 sebagai berikut:
Pasal 13
1) Pendirian rumah ibadah didasarkan pada keperluan nyata dan sungguh-sungguh berdasarkan jumlah penduduk bagi pelayanan umat beragama yang bersangkutan di wilayah kelurahan/desa
2) Pendirian rumah ibadah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tetap menjaga kerukunan umat beragama tidak mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum, serta mematuhi peraturan perundang-undangan.
3) Dalam hal keperluan nyata bagi pelayanan umat beragama di wilayah kelurahan/desa sebagaimana dimaksud ayat (1) tidak terpenuhi, pertimbangan komposisi jumlah penduduk digunakan batas wilayah kecamatan atau kabupaten/kota atau provinsi.
Pasal 14
1) Pendirian rumah ibadah wajib memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan teknis bangunan gedung.
2) Selain memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pendirian rumah ibadah harus memenuhi persyaratan khusus meliputi: a. daftar nama dan Kartu Tanda Penduduk pengguna rumah Ibadah
paling sedikit 90 (sembilan puluh) orang yang disahkan oleh pejabat setempat sesuai dengan tingkat batas wilayah sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 ayat (3);
b. dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 (enam puluh) orang yang disahkan oleh lurah/kepala desa;
c. rekomendasi tertulis kepala kantor departemen agama kabupaten/kota; dan
d. rekomendasi tertulis FKUB kabupaten/kota.
3) Dalam hal persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a terpenuhi sedangkan persyaratan huruf b belum terpenuhi, pemerintah daerah berkewajiban memfasilitasi tersedianya lokasi pembangunan rumah ibadah.
Pasal 15
Rekomendasi FKUB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2) huruf d merupakan hasil musyawarah dan mufakat dalam rapat FKUB, dituangkan dalam bentuk tertulis.
Pasal 16
1) Permohonan pendirian rumah ibadah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 diajukan oleh panitia pembangunan rumah ibadah kepada bupati/walikota untuk memperoleh IMB rumah ibadah
2) Bupati/walikota memberikan keputusan paling lambat 90 (sembilan puluh) hari sejak permohonan pendirian rumah ibadah diajukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Pasal 17
Pemerintah daerah memfasilitasi penyediaan lokasi baru bagi bangunan gedung rumah ibadah yang telah memiliki IMB yang dipindahkan karena perubahan rencana tata ruang wilayah.
Dari regulasi peraturan di atas, dapat dipahami bahwa pendirian rumah ibadah harus didasarkan pada peraturan hukum yang berlaku dan keperluan nyata umat beragama di lapangan. Pendirian rumah ibadah harus memenuhi prosedur administrasi yang berlaku, antara lain surat izin mendirikan bangunan (IMB), serta yang paling penting ada persetujuan dari masyarakat sekitar yang disahkan oleh kepala desa setempat.
Merujuk pada kesimpulan di atas, terdapat regulasi khusus yang tertuang dalam pasal 18 ayat (1a,dan b, ayat 2, dan 3a,b,c,d), pasal 19 ayat (1) dan (2), serta pasal 20 ayat (1), dan (2). Pasal-pasal tersebut memuat klausul tentang prosedur permohonan izin sementara pemanfaatan bangunan gedung menjadi rumah ibadah sementara, sebagai berikut:
Pasal 18
1) Pemanfaatan bangunan gedung bukan rumah ibadah sebagai rumah ibadah sementara harus mendapat surat keterangan pemberian izin sementara dari bupati/walikota dengan memenuhi persyaratan:
a. baik fungsi; dan
b. pemeliharaan kerukunan umat beragama serta ketenteraman dan ketertiban masyarakat.
2) Persyaratan laik fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a mengacu pada peraturan perundang-undangan tentang bangunan gedung.
3) Persyaratan pemeliharaan kerukunan umat beragama serta ketenteraman dan ketertiban masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, meliputi:
a. izin tertulis pemilik bangunan;
b. rekomendasi tertulis lurah/kepala desa;
c. pelaporan tetulis kepada FKUB kabupaten/kota; dan
d. pelaporan tetulis kepada kepala kantor departemen agama kabupaten/kota.
Pasal 19
1) Surat keterangan pemberian izin sementara pemanfaatan bangunan gedung bukan rumah ibadah oleh bupati/walikota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) diterbitkan setelah mempertimbangkan pendapat tertulis kepala kantor departemen agama kabupaten/kota dan FKUB kabupaten/kota.
2) Surat keterangan pemberian izin sementara pemanfaatan bangunan gedung bukan rumah ibadah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku paling lama 2 (dua) tahun.
Pasal 20
1) Penerbitan surat keterangan pemberian izin sementara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dapat dilimpahkan kepada camat. 2) Penerbitan surat keterangan pemberian izin sementara sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dikeluarkan setelah mempertimbangkan pendapat tertulis kepala kantor departemen agama kabupaten/kota dan FKUB kabupaten/kota.
Pasal 21
1) Perselisihan akibat pendirian rumah ibadah diselesaikan secara musyawarah oleh masyarakat setempat.
2) Dalam hal musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dicapai, penyelesaian perselisihan dilakukan oleh bupati/walikota dibantu kepala kantor departemen agama kabupaten/kota melalui musyawarah yang dilakukan secara adil dan tidak memihak dengan mempertimbangkan pendapat atau saran FKUB kabupaten/kota.
3) Dalam hal penyelesaian perselisihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dicapai, penyelesaian perselisihan dilakukan melalui pengadilan setempat.
Pasal 22
Gubernur melaksanakan pembinaan terhadap Bupati/Walikota serta instansi terkait di daerah dalam menyelesaikan perselisihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21.
Pasal 23
1) Gubernur dibantu kepala kantor wilayah departemen agama provinsi melakukan pengawasan terhadap bupati/walikota serta instansi terkait di daerah atas pelaksanaan pemeliharaan kerukunan umat beragama, pemberdayaan forum kerukunan umat beragama dan pendirian rumah ibadah.
2) Bupati/Walikota dibantu kepala kantor departemen agama kabupaten/kota melakukan pengawasan terhadap camat dan lurah/kepala desa serta instansi terkait di daerah atas pelaksanaan pemeliharaan kerukunan umat beragama, pemberdayaan forum kerukunan umat beragama, dan pendirian rumah ibadah.
Pasal 24
1) Gubernur melaporkan pelaksanaan pemeliharaan kerukunan umat beragama, pemberdayaan forum kerukunan umat beragama dan pengaturan pendirian rumah ibadah di provinsi kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama dengan tembusan kepada Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat.
2) Bupati melaporkan pelaksanaan pemeliharaan kerukunan umat beragama, pemberdayaan forum kerukunan umat beragama dan pengaturan pendirian rumah ibadah di kabupaten/kota kepada Gubernur dengan tembusan kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama.
3) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) disampaikan setiap 6 (enam) bulan pada bulan Januari dan Juli, atau sewaktu-waktu dipandang perlu.
Dari peraturan khusus di atas, dapat dirumuskan kesimpulan bahwa dalam memanfaatkan gedung bukan rumah ibadah menjadi rumah ibadah sementara, harus mendapat izin berupa surat keterangan izin sementara dari bupati atau walikota dengan memenuhi persyaratan baik fungsi dan pemeliharaan kerukunan umat beragama serta ketenteraman dan ketertiban masyarakat. Pemanfaatan gedung menjadi rumah ibadah jangan sampai meresahkan masyarakat dan memicu konflik baik antar umat beragama maupun intern umat beragama.
5. Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No: 9 Tahun 2006 (Tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Dalam Memelihara Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama)
Peraturan di atas kembali memuat klausul tentang tugas kepala daerah dalam memelihara kerukunan umat beragama secara tegas. Namun berbeda dengan peraturan hukum sejenis yang tertuang di atas, peraturan ini lebih hierarkis dalam mengatur regulasi tugas kepala daerah dalam memelihara kerukunan umat beragama. Selain itu, peraturan ini juga mencantumkan partisipasi masyarakat dalam memelihara kerukunan umat beragama dalam suatu wadah yang bernama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Semua regulasi tersebut tertuang dalam pasal 2, pasal 3 ayat (1), dan (2), pasal 3 ayat (1) dan (2), pasal 4 ayat (1) dan ayat (2), pasal 5 ayat (1a, b, c, d) dan ayat 2, pasal 6 ayat (1a, b, c, d, e) ayat 2 dan ayat 3, serta pasal 7 ayat (1a, b, c) dan ayat (2a, b) sebagai berikut:
Pasal 2
Pemeliharaan kerukunan umat beragama menjadi tanggung jawab bersama umat beragama, pemerintahan daerah dan Pemerintah.
Pasal 3
1) Pemeliharaan kerukunan umat beragama di provinsi menjadi tugas dan kewajiban Gubernur.
2) Pelaksanaan tugas dan kewajiban gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh kepala cantor wilayah departemen agama provinsi.
Pasal 4
1) Pemeliharaan kerukunan umat beragama di kabupaten/kota menjadi tugas dan kewajiban bupati/walikota.
2) Pelaksanaan tugas dan kewajiban Bupati/Walikota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota.
Pasal 5
1) Tugas dan kewajiban Gubernur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 meliputi:
a. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat termasuk memfasilitasi terwujudnya kerukunan umat beragama di provinsi; b. mengoordinasikan kegiatan instansi vertikal di provinsi dalam
pemeliharaan kerukunan umat beragama;
c. menumbuhkembangkan keharmonisan, saling pengertian, saling menghormati, dan saling percaya di antara umat beragama; dan d. membina dan mengoordinasikan bupati/wakil bupati dan
walikota/wakil walikota dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah di bidang ketenteraman dan ketertiban masyarakat dalam kehidupan beragama.
2) Pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, huruf c, dan huruf d dapat didelegasikan kepada Wakil Gubernur.
Pasal 6
1) Tugas dan kewajiban Bupati/Walikota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 meliputi:
a. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat termasuk memfasilitasi terwujudnya kerukunan umat beragama di kabupaten/kota;
b. mengoordinasikan kegiatan instansi vertikal di Kabupaten/Kota dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama;
c. menumbuhkembangkan keharmonisan, saling pengertian, saling menghormati, dan saling percaya di antara umat beragama;
d. membina dan mengoordinasikan camat, lurah, atau kepala desa dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah di bidang ketenteraman dan ketertiban masyarakat dalam kehidupan keagamaan; dan
e. menerbitkan IMB rumah ibadah.
2) Pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, huruf c, dan huruf d dapat didelegasikan kepada wakil bupati/wakil walikota. 3) Pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf
c di wilayah kecamatan dilimpahkan kepada camat dan di wilayah kelurahan/desa dilimpahkan kepada kepala lurah/kepala desa melalui camat.
Pasal 7
1) Tugas dan kewajiban camat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) meliputi:
a. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat termasuk memfasilitasi terwujudnya kerukunan umat beragama di wilayah kecamatan;
b. menumbuhkembangkan keharmonisan, saling pengertian, saling menghormati, dan saling percaya di antara umat beragama; dan
c. membina dan mengoordinasikan lurah dan kepala desa dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah di bidang ketenteraman dan ketertiban masyarakat dalam kehidupan keagamaan;
2) Tugas dan kewajiban lurah/kepala desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) meliputi:
a. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat termasuk memfasilitasi terwujudnya kerukunan umat beragama di wilayah kelurahan/ desa; dan
b. menumbuhkembangkan keharmonisan, saling pengertian, saling menghormati, dan saling percaya di antara umat beragama;
Dari peraturan hukum di atas, dapat dipahami secara menyeluruh bahwa terlihat jelas ada pembagian yang tegas mengenai tugas-tugas kepala daerah dalam menjaga kerukunan umat beragama secara hierarkis. Dari gubernur sampai pada tingkatan kepala desa diatur tugas-tugasnya dalam membina kerukunan umat beragama.
Secara kenyataan (factual) dan hukum yang berlaku (yuridis forma) merujuk pada semua aturan hukum di atas, terbukti bahwa bangsa Indonesia bukanlah negara agama (teokratis) yang berdasarkan kepada satu agama tertentu. Negara Indonesia juga bukan negara sekuler yang tidak berdasarkan agama dan tidak memperdulikan agama. Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan Pancasila, yang memposisikan agama (Ketuhanan Yang Maha Esa) sebagai dasar yang pertama dan yang warganya adalah umat beragama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, dan lain-lain) serta yang tidak membolehkan adanya faham-faham yang anti agama atau anti Tuhan (seperti ateisme dan lain-lain). Oleh karena itu, negara Indonesia dapat disebut sebagai negara religius, betapa pun dalam kenyataan belum tercermin sebagaimana diharapkan, bahkan dipengaruhi oleh trend global yang sekularistik.
Kita sebagai umat beragama berkepentingan untuk memeluk agama, menjalankan agama dan beribadah menurut agama masing-masing. Dalam
kapasitas sebagai warga negara berkepentingan juga untuk menjalankan fungsi kita sebagai warga negara yang baik, taat hukum, turut mempertahankan negara dari berbagai ancaman, turut memelihara dan membangun bangsa dan negara agar dapat maju secara signifikan. Jadi, yang dikehendaki adalah agar kita menjadi umat beragama yang baik dan menjadi warga negara yang baik secara integral.
Sebagai contoh dari agama Islam mengenai perihal yang dijelaskan di atas, dapat dilihat pada kutipan dari Al-Qur’an dan Terjemahnya terbitan Departemen Agama tahun 2004 sebagai berikut:
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan orang-orang yang memegang kekuasaan di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnah Nabi), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. (Q.S. An Nisa:59).
Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka. Dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka. (Q.S. Asy Syura:38).
Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang sangat mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. An Nahl:125).
Dari ayat-ayat di atas, dapat dikaji bahwa ada tiga rangkaian ketaatan umat Islam yang harus dilaksanakan secara integral, yaitu ketaatan kepada Allah, kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang memegang kekuasaan (pemerintah). Perlu dicatat oleh karena integral, maka apabila pemerintah melakukan hal-hal yang melawan atau bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka tidak mesti ditaati. Penyiaran agama Islam dilakukan dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta diskusi yang baik pula. Begitu juga dengan
mekanisme penyiaran agama lain seharusnya memperhatikan peraturan hukum yang berlaku secara agama masing-masing (intern agama), juga peraturan hukum positif yang diatur dan dijalankan di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
B. Sikap dan Perilaku 1. Pengertian Sikap
Sikap merupakan cerminan hati dan refleksi jiwa. Sikap individu muncul diakibatkan oleh responnya terhadap lingkungan. Sikap muncul ketika individu lain, lingkungan, lembaga tertentu memberikan stimulus yang menimbulkan individu bersikap. Sikap dapat dimunculkan secara positif maupun negatif tergantung dari stimulus yang merangsangnya. Seperti dikatakan Thurstone (Syamsu Yusuf, 2002:42) bahwa ”Sikap merupakan suatu tingkatan afeksi, baik bersifat positif maupun negatif dalam hubungannya dengan objek-objek psikologis, seperti: simbol, prase, slogan, orang, lembaga, cita-cita dan gagasan”.
Sikap pada hakekatnya merupakan manifestasi daripada kita menanggapi suatu objek atau masalah tertentu, baik setuju (pro) atau tidak setuju (kontra). Dalam hal ini Howard Kendler (Syamsu Yusuf, 2002:42) mengemukakan bahwa: “Sikap merupakan kecenderungan (tendency) untuk mendekati (approach) atau menjauhi (avoid) atau melakukan sesuatu, baik secara positif maupun negatif terhadap suatu lembaga, peristiwa, gagasan atau konsep”.
Berbeda dengan yang diungkapkan oleh Howard Kendler, Paul Massen dan David Krech (Syamsu Yusuf, 2002:42) berpendapat bahwa: “Sikap itu merupakan suatu sistem dari tiga komponen yang saling berhubungan, yaitu
kognisi (pengenalan), feeling (perasaan), dan action tendency (kecenderungan untuk bertindak)”.
Pendapat lain diungkapkan oleh Sarwono (Syamsu Yusuf, 2002:42) yang mengemukakan bahwa “Sikap adalah kesiapan pada seseorang untuk bertindak secara tertentu terhadap hal-hal tertentu”.
Pengertian di atas menurut Syamsu Yusuf (2002:42) dapat dijelaskan dengan ilustrasi sebagai berikut:
Seorang mahasiswi muslim setelah mengetahui bahwa memakai busana muslim atau jilbab itu hukumnya wajib (aspek kognisi), timbul dalam hatinya perasaan senang atau setuju untuk memakai jilbab itu (aspek afeksi), kemudian perasaan tersebut mendorong dirinya untuk memakai jilbab (aspek action tendency).
Dari pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa sikap adalah kesediaan mental yang relatif menetap untuk merespon atau bereaksi terhadap suatu objek atau perangsang tertentu yang mempunyai arti, baik bersifat positif, netral, atau negatif, menyangkut aspek-aspek kognisi, afeksi, dan kecenderungan untuk bertindak.
Sikap individu dibangun dengan berbagai unsur yang membentuknya. Unsur-unsur seperti pengalaman, pendidikan, dan lingkungan merupakan unsur yang sangat dominan yang menyebabakan baik atau buruknya sikap seseorang. Uraian di atas senada dengan yang diungkapkan oleh Syamsu Yusuf (2002:43) yang mengklasifikasikan sikap kedalam 3 unsur, yaitu:
1. Unsur Kognisi
Unsur ini terdiri atas keyakinan atau pemahaman individu terhadap objek-objek tertentu. Misalnya, sikap kita terhadap perjudian, minuman keras itu hukumnya haram.
2. Unsur afeksi (feeling/perasaan)
Unsur ini menunjukan arah perasaan yang menyertai sikap individu terhadap objek. Unsur ini bisa bersifat positif (menyenangi, menyetujui, bersahabat) dan negatif (tidak menyenangi, tidak menyetujui, sikap bermusuhan). Kita sebagai orang Islam tidak menyenangi perjudian atau minuman keras, karena kita tahu bahwa hukumnya haram.
3. Unsur kecenderungan bertindak (action tendency)
Unsur ini meliputi seluruh kesediaan individu untuk bertindak/ mereaksi terhadap objek tertentu. Bentuk dari kecenderungan bertindak ini sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur sebelumnya. Misalnya seorang muslim yang sudah meyakini bahwa judi itu hukumnya haram, dia akan membenci judi tersebut, cenderung akan menjauhi dan berusaha untuk menghilangkannya. Dari uraian di atas, dapat diidentifikasi bahwa sifat dibentuk dan di konstruksi oleh 3 unsur, yaitu: kognisi, afeksi dan kecenderungan bertindak. Unsur-unsur tersebut menjadi semacam pendorong yang menyebabkan individu bersikap terhadap suatu hal.
Untuk membedakan sikap dengan aspek-aspek psikis lain seperti: motif, kebiasaan dan pengetahuan, Sarlito Wirawan (Syamsu Yusuf, 2002:44) mengemukakan ciri-cirinya sebagai berikut:
1. Dalam sikap selalu terdapat hubungan antara subjek-objek, tidak ada sikap yang tanpa objek. Objek sikap itu bisa berupa benda, orang, nilai-nilai, pandangan hidup, agama, hukum, lembaga masyarakat, dan sebagainya. 2. Sikap tidak dibawa sejak lahir, melainkan dipelajari dan dibentuk melalui
pengalaman-pengalaman.
3. Karena sikap dipelajari, maka sikap dapat berubah-ubah sesuai dengan keadaan lingkungan di sekitar individu yang bersangkutan pada saat-saat yang berbeda-beda.
4. Dalam sikap tersangkut juga faktor motivasi dan perasaan. Inilah yang membedakannya daripada misalnya pengetahuan.
5. Sikap tidak menghilang walaupun kebutuhan sudah dipenuhi. Jadi berada dengan refleks atau dorongan. Misalnya, seorang yang gemar nasi goreng, akan tetap mempertahankan kegemarannya itu sekalipun baru saja makan nasi goreng sampai kenyang.
6. Sikap tidak hanya satu macam, melainkan sangat bermacam-macam sesuai dengan banyak objek yang dapat menjadi perhatian individu yang bersangkutan.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa sikap individu tidak dipengaruhi oleh faktor genetika (keturunan). Sikap lebih banyak dipengaruhi oleh stimulus atau rangsangan yang berasal dari luar individu. Selain itu, sikap juga dapat dipelajari melalui berbagai bentuk pengalaman-pengalaman yang dialami oleh individu melalui proses belajar.
2. Pembentukan Sikap
Sartain (Syamsu Yusuf, 2002:44) mengemukakan pendapat bahwa “ada empat faktor yang mempengaruhi terbentuknya sikap, yaitu: faktor pengalaman khusus (specific experience), faktor komunikasi dengan orang lain (communication with other people), faktor Model, faktor lembaga-lembaga sosial (institusional)”. Faktor-faktor tersebut diilusustrasikan sebagai berikut:
Pertama, Faktor pengalaman khusus (specific experience). Hal ini berarti bahwa sikap terhadap suatu objek itu terbentuk melalui pengalaman khusus. Misalnya: para mahasiswa yang mendapatkan perlakuan baik dari dosennya, baik pada waktu belajar maupun diluar jam pelajaran, maka akan terbentuk pada dirinya sikap yang positif terhadap dosen tersebut. Sebaliknya apabila perlakuan dosen tersebut sering marah-marah, menghukum, atau kurang simpati dalam penampilannya, maka pada diri mahasiswa akan terbentuk sikap negatif terhadap dosen tersebut.
Kedua, Faktor komunikasi dengan orang lain (communication with other people). Banyak sikap terbentuk disebabkan oleh adanya komunikasi dengan
orang lain. Komunikasi itu baik langsung (face to face) maupun tidak langsung, yaitu melalui media massa, seperti: TV, radio, film, koran, dan majalah.
Ketiga, Faktor Model. Banyak sikap terbentuk terhadap sesuatu itu dengan melalui jalan mengimitasi (meniru) suatu tingkah laku yang menjadi model dirinya, seperti perilaku orang tua, guru, pemimpin, bintang film, biduan, dan sebagainya. Seorang anak merasa senang membaca koran karena melihat ayahnya suka membaca koran.
Keempat, Faktor lembaga-lembaga sosial (institusional). Suatu lembaga dapat juga menjadi sumber yang mempengaruhi terbentuknya sikap, seperti: lembaga keagamaan, organisasi kemasyarakatan, partai politik, dan sebagainya.
Dari keempat faktor terbentuknya sikap di atas, dapat diambil penegasan secara menyeluruh bahwa hubungan pembentukan sikap dengan faktor pengalaman khusus (specific experience), faktor komunikasi dengan orang lain (communication with other people), faktor Model, faktor lembaga-lembaga sosial (institusional) sangat erat dan merupakan elemen penting dalam membentuk sikap individu. Individu tidak akan bisa bersikap tanpa adanya aspek-aspek yang membentuk sikap tersebut. Dari faktor-faktor di atas, ada faktor yang tidak dapat dipisahkan dalam membentuk sikap individu, yaitu faktor lingkungan sebagai tempat (locus) yang merupakan media munculnya faktor-faktor di atas.
3. Perubahan sikap
Sikap merupakan aspek psikis yang dipelajari, maka sikap itu dapat berubah. Perubahan itu sudah barang tentu tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi
dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Mc Guire (2002:45) mengemukakan tentang teorinya menngenai perubahan sikap itu sebagai berikut:
a. Learning Theory Approach (pendekatan teori belajar)
Pendekatan teori ini berarti bahwa sikap itu berubah disebabkan oleh karena proses belajar atau materi yang dipelajari.
b. Perceptual Theory Approach (pendekatan teori persepsi)
Pendekatan teori ini berarti bahwa sikap itu berubah bila persepsinya tentang objek itu berubah.
c. Consistency Theory Approach (pendekatan teori konsistensi)
Pendekatan teori ini berarti bahwa setiap orang akan berusaha untuk memelihara harmoni internal, yaitu keserasian atau keseimbangan (kenyamanan) dalam dirinya. Apabila keserasiannya terganggu, maka ia akan menyesuaikan sikap dan perilakunya demi kelestarian harmoninya itu.
d. Functional Theory Approach (pendekatan teori konsistensi)
Pendekatan teori ini berarti bahwa sikap seseorang itu akan berubah atau tidak, amat tergantung kepada hubungan fungsional (kemanfaatan) objek itu bagi dirinya atau pemenuhan kebutuhan (need) dirinya.
Dari teori-teori tersebut di atas, dapat diidentifikasi bahwa pada dasarnya sikap individu dapat berubah-ubah diakibatkan oleh banyak hal seperti lingkungan, kebutuhan, serta individu lain. Perubahan tersebut akan terjadi, tergantung kepada individu tersebut dalam mempersepsikan sesuatu rangsangan (stimulus). Perubahan sikap tentu tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi dirangsang oleh rangsangan (stimulus) yang berasal dari lingkungan kebutuhan serta individu lain.
4. Pengertian Perilaku
Perilaku mempunyai peranan penting yang menentukan dalam kehidupan dan pergaulan yang bersifat umum. Seseorang yang mempunyai perilaku buruk selalu dikucilkan dalam pergaulan, sehingga mempersempit ruang geraknya sendiri dan selalu dibenci oleh orang, yang berarti dari segi duniawi saja sudah
merugikan dirinya. Sebaliknya, orang yang berperilaku baik dimana-mana mudah diterima dalam kehidupan masyarakat, disenangi oleh lingkungannya dan mudah dipercaya oleh setiap orang yang berhubungan dengannya. Oleh karena itu, orang yang berperilaku baik akan mudah mendapatkan rizki dan mudah segala urusannya karena kehadirannya menenteramkan lingkungan. Dalam hal ini, Kasumajana (Koentjaraningrat, 1989:6) mengemukakan bahwa:
Perilaku adalah tingkah laku tiap orang ketika sendirian maupun sedang bergaul dengan sesamanya dalam segala bentuk, pada sembarang tempat, waktu dan keadaan sehingga hal ini yang menyebabkan setiap orang mempunyai keperibadian yang berbeda antara manusia yang satu dengan yang lainnya.
Berbeda dengan yang diungkapkan oleh Abin Syamsudin (1990:21), bahwa “perilaku itu pada hakikatnya merupakan interaksi individu dengan lingkungannya sebagai manifestasi bahwa ia mahluk hidup”. Sedangkan Kadarusmadi (1996:73) membagi perilaku menjadi dua bagian, yaitu perilaku yang tampak oleh mata dan perilaku yang tidak tampak oleh mata.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa lingkungan merupakan aspek yang paling utama dalam membentuk perilaku individu. Baik atau buruknya perilaku individu, salah satunya diakibatkan oleh faktor lingkungan. Sebaliknya, baik atau buruknya lingkungan akan mempengaruhi perilaku individu secara keseluruhan. Lingkungan dan individu merupakan dua aspek yang saling mempengaruhi yang dapat menciptakan suatu mekanisme saling mempengaruhi satu sama lainnya.
5. Memahami dan Mempelajari Perilaku
Sarlito Wirawan (1987:74) menyatakan bahwa untuk memahami dan mempelajari perilaku manusia, ada beberapa pendekatan atau orientasi yang digunakan yaitu:
a. Orientasi penguat.
Pendekatan ini menekankan bahwa perilaku manusia terjadi jika terdapat stimulus (rangsangan) yang menimbulkan reaksi. John Watson yang dikutip oleh Sarlito Wirawan (1987:74) menyatakan bahwa “tingkah laku pada hakikatnya merupakan tanggapan atau balasan (respon) terhadap stimulus (rangsangan), karena itu sangat mempengaruhi tingkah laku sehinga tingkah laku tersebut diatur oleh rangsangan”.
b. Orientasi lapangan.
Pendekatan ini didasarkan oleh teori yang dikemukakan oleh Kurt Lewin bahwa perilaku manusia dapat dilihat dari lapangan kehidupan itu sendiri. c. Orientasi kesadaran.
Pendekatan ini memahami perilaku dengan menekankan pada proses dan sentral seperti sikap, ide dan harapan. Perilaku muncul dan berkembang karena adanya proses sentral tersebut yang mengarahkan manusia untuk berperilaku tertentu.
d. Orientasi psikoanalisa.
Berdasarkan pada pendekatan ini bahwa tingkah laku manusia itu dipengaruhi ketidak sadaran individu yang bersangkutan.
e. Orientasi tradisional.
Pendekatan ini menekankan bahwa perilaku manusia itu diakibatkan adanya hubungan antara pribadi dengan lingkungan. Dalam hal ini, perilaku dilihat sebagai hasil dari proses penilaian sosial, proses pemberian sifat, proses kelompok dan peran individu dalam kehidupannya.
Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku manusia tidak terlepas dari rangsangan stimulus yang ada didalam diri dan diluar diri individu, yang selanjutnya tercermin dalam kehidupan sehari-hari berupa sikap maupun tingkah laku. Perilaku manusia atau individu diakibatkan oleh adanya hubungan interaksi antara pribadi dengan lingkungan. Selain itu, sikap, ide dan harapan dari individu juga ikut mempengaruhi munculnya perilaku tertentu.
6. Tahapan Perkembangan Perilaku
Agus Sujanto (1996:65) mengemukakan beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang tua dalam perkebangan perilaku anak diantaranya adalah:
a. Pada setiap perkembangan manusia selalu mengalami diferensi baru, baik jasmani maupun rohani. Hal ini tampak jelas bila memperhatikan tingkah laku seseorang. Mula-mula anak kecil menerima sesuatu dengan kedua tangannya, tetapi dalam perkembangannya anak tersebut menerima sesuatu dengan satu tangannya.
b. Bahwa setiap suatu fase yang dialami oleh seorang anak adalah suatu masa peralihan atau masa persiapan bagi masa selanjutnya. Tiap fase antara anak yang satu dengan yang lain tidaklah sama. Inilah sebabnya mengapa sering dikatakan bahwa setiap anak mempunyai irama perkembangan sendiri-sendiri.
c. Perlu kita ketahui bahwa perkembangan yang dialami oleh seseorang adalah perkembangan jasmani dan rohaninya. Oleh karena itu, dalam membantu perkembangan perilaku seseorang, maka orang tua dan guru diharapkan harus memperhatikan dari segi jasmani dan rohani orang yang bersangkutan.
d. Perkembangan yang diawali dari keluarga dimana orang tersebut tinggal. Oleh karena itu, keluarga menduduki tempat yang sangat penting bagi terbentuknya kepribadian anak secara keseluruhan. Keluarga memberikan pembentukan watak, memberi dasar pendidikan agama, menanamkan sifat, kebiasaan, cita-cita dan sebagainya, sedangkan lembaga pendidikan yang lain hanyalah sekedar membantu, melanjutkan, memperbanyak, dan memperdalam apa yang diperoleh dari keluarga.
Senada dengan pendapat di atas, Lawrence Kohlberg (Sarlito Wirawan Sarwono, 2004:47-50) menyatakan bahwa “kemampuan seseorang untuk melihat baik buruknya sesuatu tergantung pada kemampuan penalaran, sehingga kemampuan untuk mengerti moral pada anak-anak dan orang dewasa akan berbeda”. Penalaran terhadap penilaian seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat keilmuan dan pengalaman, sehingga bagi orang yang tingkat pendidikan tinggi dan pengalamannya banyak maka akan lebih bijaksana dalam penilaian terhadap perilaku seseorang. Oleh karena itu, Lawrence Kohlberg berkeyakinan bahwa perilaku manusia dapat dipelajari dengan mengikuti tahap-tahap berikut:
1) Pra-Konvensional
Pada tahap ini, manusia belum mengetahui aturan-aturan yang ada. Pada tahap ini pendidikan diberikan kepada seseorang yaitu mengenai bagaimana membedakan perbuatan yang baik atau buruk, sopan atau tidak sopan, adil dan tidak adil. Dalam memberikan pendidikan, dapat dilakukan dengan tegas sehingga setiap kesalahan bisa diberikan hukuman. Tahap ini dibagi menjadi dua sub tahapan. Pertama, orientasi hukuman patuh yaitu seseorang patuh dan menyesuaikan kelakuannya kalau ia mendapat hukuman. Kedua, orientasi pertukaran instrumental yaitu pada tahap ini tidak dikenal hukuman langsung apalagi yang bersifat fisik, tapi ada kerugian maupun keuntungan yang akan dialami oleh seseorang seperti denda, bonus dan sebagainya, tergantung pada perilaku seseorang yang tujukan.
2) Konvensional
Konvensional yaitu seseorang sudah dapat memahami konvensi (aturan norma) yang berlaku tanpa memerlukan hukuman fisik maupun non fisik. Tahap ini terbagi menjadi dua sub bagian, yaitu pertama, orientasi perilaku baik maupun tidak baik antara usia 6-11 tahun. Pada tahap ini seseorang mengukur perilakunya berorientasi pada yang lazim dianggap baik, misalnya menghormati orang yang lebih tua, rajin sholat, tidak ribut di dalam kelas. Kedua, orientasi menjaga sistem yang terjadi pada usia remaja antara 12-20 tahun. Perilaku moralnya ditujukan untuk mempertahankan norma-norma tertentu.
3) Pasca Konvensional
Perkembangan moral pada usia dewasa tolak ukurnya sudah lebih bersifat umum dan kuat, sudah tidak berpedoman pada konvensi-konvensi yang baku lagi, kecuali konvensi-konvensi tersebut dianggapnya dapat berfungsi pada tahapan yang lebih luas. Tahapan ini terdiri dari dua sub tahap, yaitu pertama, orientasi kontak sosial yaitu orang sudah memahami bahwa moral adalah untuk menjaga tatanan masyarakat agar tidak ada orang yang dirugikan untuk kesenangan orang lain atau dikekang untuk kebebasan orang lain. Kedua, orientasi prinsip etika universal yaitu seseorang tidak lagi terpengaruh oleh situasi dan kondisi yang kongkrit dan bersifat sesaat. Ukuran kebenaran dan ketidakbenaran berlaku umum dan ia bisa melaksanakan secara konsekuen.
Berdasarkan perkembangan perilaku yang terjadi pada seseorang, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku manusia berkembang sejalan dengan tingkatan usianya. Perilaku seseorang dapat dilihat dari bagaimana orang tersebut bersikap dan berinteraksi dalam pergaulan di lingkungan masyarakat. Lingkungan masyarakat tersebut akan menjadi semacam stimulus atau rangsangan bagi
individu, dalam pembentukan pola-pola perilaku dan sikap untuk memperkuat karakter individu sebagai suatu pribadi yang unik dan khas.
7. Faktor Pengaruh Perilaku
Keanekaragaman perilaku setiap individu satu sama lainnya dalam kehidupan sehari-hari sering kita lihat. Hal ini karena faktor yang mempengaruhi berbeda-beda pula, artinya setiap perkembangan perilaku seseorang itu bergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhi individu yang bersangkutan. Berkenaan dengan hal tersebut, Kadarusmadi (1973:83) menyebutkan tiga faktor yang mempengaruhi perilaku diantaranya adalah:
a. Pribadi.
Pribadi yaitu person (individu) yang melakukan suatu tindakan. Dalam faktor ini mencakup aspek-aspek seperti perasaan, emosi persepsi, kebutuhan, keinginan sikap dan kecenderungan untuk bertindak. Aspek-aspek tersebut mengarahkan individu agar menanggapi atau memberi respon tertentu terhadap suatu objek atau masalah yang dihadapi.
b. Lingkungan.
Lingkungan yaitu segala sesuatu yang berada di sekeliling individu. Faktor ini dapat berupa lingkungan fisik seperti orang tua, sekolah, teman dan masyarakat. Pada hakikatnya, lingkungan itu segala sesuatu yang mempengaruhi individu yang dapat berhubungan, dipengaruhi atau mempengaruhi individu agar ia melakukan sesuatu tindakan atau perbuatan tertentu.
c. Situasi.
Situasi yaitu keadaan yang memungkinkan terjadinya hubungan antara pribadi dengan lingkungan. Faktor ini berkenaan dengan situasi tertentu yang dapat mendukung kelancaran terjadinya hubungan antara individu dengan lingkungannya. Didalam situasi tertentu terdapat suatu iklim yang pada akhirnya mendorong munculnya suatu perilaku-perilaku tertentu. Sebagai manusia, secara terus menerus pasti akan mengalami perkembangan dan perubahan. Perkembangan dan perubahan perilaku manusia dipengaruhi oleh berbagai hal. Setiap aspek perkembangan itu menyangkut fisik,
emosi, intelegensi maupun sosial. Mengenai faktor yang mempengaruhi perkembangan perilaku manusia, Syamsu Yusuf (2001:31) membagi kedalam dua faktor yang mempengaruhinya, yaitu:
1) Faktor heriditas atau faktor keturunan. 2) Faktor lingkungan.
Kemudian Hadisubrata (1991:33) mengemukakan hal yang serupa mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian manusia itu dapat digolongkan menjadi dua faktor, diantaranya yaitu:
a) Faktor keluarga, termasuk didalamnya sikap orang tua, suasana keluarga, jumlah anggota keluarga, dan urutan kelahiran.
b) Faktor-faktor lain yang didalamnya termasuk pengalaman awal, kebudayaan masyarakat, kondisi fisik, keberhasilan, kegagalan, penerimaan sosial dan simbol status.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa segala aspek yang berada di dalam dan di luar individu sangat berpengaruh terhadap perkembangan perilaku individu itu sendiri. Dengan kata lain, faktor-faktor tersebut akan mendorong bahkan mengarahkan individu pada perilaku tertentu. Apabila faktor-faktor yang mempengaruhi individu itu baik, maka akan menghasilkan individu yang baik. Sebaliknya, jika salah satu faktor atau semua faktor yang mempengaruhi individu memberikan pengaruh yang tidak baik, maka dapat diprediksikan akan menghasilkan individu yang bermasalah.
C. Perilaku Sosial
1. Pengertian Perilaku Sosial
Keberadaan manusia sebagai mahluk individu dan sosial mengandung pengertian bahwa manusia merupakan perpaduan antara aspek individu dengan perwujudan anggota kelompok atau masyarakat. Sebagai mahluk individu dan sosial, individu akan menampilkan tingkah laku tertentu, antara lain interaksi individu dengan lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya.
Didalam interaksi-interaksi sosial tersebut, akan terjadi peristiwa pengaruh-mempengaruhi antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. Hasil dari peristiwa tersebut adalah perilaku sosial. Dalam hal ini Koentjaraningrat (1990:9) mengemukakan bahwa: “tingkah laku dalam masyarakat merupakan hasil interaksi antara hubungan saling mempengaruhi antara para anggotanya”.
Sebagai mahluk sosial, individu senantiasa mengadakan hubungan interpersonal dengan individu lainnya. Di dalam aktivitas-aktivitasnya, ditampilkan individu dalam mewujudkan hubungan interpersonalnya yang disebut perilaku sosial. Syamsu Yusuf (2002:29) mengemukakan bahwa:”perilaku sosial adalah suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang untuk berkomunikasi dengan lingkungannya”.
Senada dengan hal tersebut, Gerungan (2004:12) menyatakan bahwa: ”perilaku sosial merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain (lingkungannya)”. Pendapat lain yang hampir senada dikemukakan oleh Abin Syamsudin (2004:29) sebagai berikut: ”perilaku
sosial adalah suatu aktivitas yang dilakukan seseorang untuk berkomunikasi dengan lingkungan sosialnya”.
Perilaku sosial individu sendiri muncul ketika individu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Skinner (Sarlito Wirawan, 2000:17) menyatakan bahwa:
“Tingkah laku manusia berkembang dan dipertahankan oleh anggota-anggota msyarakat yang memberi penguat pada individu untuk bertingkah laku secara tertentu. Dengan demikian maka tidak dapat dihindarkan bahwa perilaku sosial muncul pada situasi terjadi interaksi sosial dalam upaya individu menyesuaikan dirinya dalam suatu linkungan”.
Sementara itu, dalam kamus besar Bahasa Indonesia (1990:691), perilaku diartikan sebagai tanggapan atau reaksi individu yang terwujud dan digerakkan (sikap), tidak saja badan atau ucapan. Sosial sendiri diartikan sebagai sesuatu yang berkenaan dengan masyarakat (1990:855). Jadi, perilaku sosial adalah gerakan sikap yang ditunjukkan dalam masyarakat oleh individu dalam berinteraksi dengan individu lainnya.
Dari pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku sosial adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau individu untuk berkomunikasi atau melakukan interaksi dan mengadakan hubungan interpersonal dengan lingkungan sekitar atau masyarakat.
2. Bentuk-Bentuk Perilaku Sosial
Dalam suatu masyarakat, seseorang menampilkan perilaku sosial yang beranekaragam. Sering kali ditemukan masyarakat yang mengalami berbagai kesulitan dalam menampilkan perilaku sosialnya. Hal ini dapat dikatakan sebagai masalah perilaku sosial.
Memahami perilaku sosial masyarakat, erat kaitannya dengan keberhasilan dalam membantu masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial. Sesuatu yang terjadi didalam masyarakat itulah yang dinamakan istilah sosialisasi. Merujuk pada hal tersebut, Gerungan (2004:34) menyebutkan tiga proses tahapan individu agar mampu bermasyarakat, yaitu:
a. Belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial. b. Menanamkan peran sesuai dengan jenis kelamin. c. Mengembangkan sikap sosial.
Perilaku sosial tersebut di atas dapat terbentuk melalui proses-proses sosial diantaranya terdiri dari:
1. Hubungan Interpersonal
Hubungan interpersonal merupakan suatu konsep yang kompleks sebagai manifestasi dari kekuatan-kekuatan psikologis dan psikis. Untuk memahami tindakan-tindakan seseorang dalam hubungannya dengan pihak lain, diperlukan pemahaman mengenai apa yang menjadi ketentuan dan tujuan dari perilaku sosial tersebut. Syamsu Yusuf (2002:53) menyatakan bahwa ”hubungan interpersonal adalah suatu bentuk proses interaksi antara dua atau lebih individu”.
Dalam perilaku individu akan nampak hubungan interpersonal yang dapat diamati dari gejala-gejala perilaku interpersonal. Gerungan (2004:78) menjelaskan proses terjadinya hubungan interpersonal sebagai berikut:
a. Tindakan seseorang terhadap yang lainnya berfungsi sebagai stimulus dan pada saat yang sama reaksi dari pihak lainnya berfungsi sebagai respon.
b. Suatu respon terhadap stimulus tertentu akan selalu dikendalikan atau dikontrol oleh suatu respon dan juga sebaliknya.
c. Tindakan dari kedua belah pihak pada hakekatnya tidak lain dari suatu sebab dan suatu akibat.
Senada dengan hal tersebut, Koenjaraningrat (1990:34) memberikan penjelasan bahwa bentuk hubungan interpersonal diibaratkan sebagai perangai-perangai respon diantaranya adalah:
a. Bagaimana hubungan sosial seseorang. b. Bagaimana memahami perilaku seseorang.
c. Bagaimana tindakan-tindakan yang akan dilakukan oleh seseorang.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hubungan interpersonal berfungsi untuk melatih individu dalam berinteraksi dengan lingkunganan juga akan membentuk kepribadian seseorang dalam wadah wawasan dalam pergaulan, berkomunikasi atau melakukan interaksi dan mengadakan hubungan interpersonal dengan lingkungan sekitar atau masyarakat.
2. Kerja sama
Bentuk dan pola-pola kerja sama dapat dijumpai pada semua kelompok masyarakat. Kebiasaan-kebiasaan dan sikap-sikap demikian dimulai sejak masa kanak-kanak didalam kehidupan keluarga atau kelompok-kelompok kekerabatan. Bentuk kerja sama tersebut berkembang apabila individu dapat digerakkan untuk mencapai suatu tujuan bersama dan harus ada kesadaran bahwa tujuan tersebut dikemudian hari mempunyai manfaat bagi semua kelompok masyarakat.
Hal tersebut senada dengan pendapat Koentjaraningrat (1990:67) yang menyatakan sebagai berikut:
“Kerjasama muncul karena orientasi orang per orang terhadap kelompok dan kelompok lainnya. Kerjasama yang mengancam atau ada tindakan-tindakan luar yang menyinggung kesetiaan secara tradisional atau institusional yang telah tertanam didalam kelompok, dalam diri seseorang atau segolongan orang. Kerjasama dapat bersifat agresif apabila kelompok dalam jangka waktu lama mengalami kekecewaan sebagai akibat perasaan tidak puas, karena keinginan pokoknya tidak dapat terpenuhi oleh karena adanya rintangan-rintangan yang bersumber dari kelompok itu. Keadaan tersebut dapat menjadi lebih tajam apabila kelompok demikian merasa tersinggung atau dirugikan sistem kepercayaan atau dalam salah satu bidang sensitif dalam bidang kebudayaan maupun agama.
Sementara itu, Charles H. Cooley (Gerungan, 2004:56) mengilustrasikan betapa pentingnya fungsi kerjasama sebagai berikut:
“Kerjasama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut. Kesadaran akan adanya kepentingan-kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta yang penting dalam kerjasama yang berguna”. Dari uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa kerjasama adalah suatu kegiatan yang dilakukan sekelompok individu secara teratur berinteraksi untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan. Kerjasama merupakan hasil dari suatu proses saling ketergantungan antar anggota masyarakat melalui individu dengan individu, individu dengan kelompok ataupun kelompok dengan kelompok dalam suatu masyarakat.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Sosial
Keragaman dan keunikan perilaku sosial yang dilakukan oleh masyarakat merupakan manifestasi dari pengaruh yang melatarbelakanginya. Artinya,
keunikan perilaku itu disebabkan oleh faktor-faktor yang menimbulkan hal tersebut. Senada dengan hal tersebut, Soerjono Soekanto (1990:123-124) yang mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku seseorang dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Faktor dari dalam, yaitu faktor yang dimiliki oleh setiap manusia semenjak kejadiannya, kedalamannya termasuk kecerdasan, bakat-bakat khusus, jenis kelamin, sifat-sifat fisik, sifat-sifat kepribadian dan dorongan-dorongan.
b. Faktor dari luar, yaitu faktor yang dihadapi oleh individu tersebut pada waktu dan sesudah lahir terdapat dalam lingkungannya, meliputi keluarga, sekolah, masyarakat, kelompok sebaya, kebudayaan dan lngkungan fisik. c. Faktor yang diperoleh dari dalam dan luar, yaitu apabila faktor endogen
dengan faktor eksogen meliputi: sikap, minat, keadaan-keadaan emosi, dan kepribadian.
Pendapat lain dikemukakan oleh Husai Yusuf (Syamsu Yusuf, 2002:53) yaitu: “keberhasilan perilaku sosial individu dipengaruhi oleh intelegensi sosialnya. Selain itu tempramen, sikap kejujuran, pertimbangan, humor dan persahabatan, dan tingkat kebebasan dari rasa cemburu”.
Selain faktor-faktor di atas, Soerjono Soekanto (1990:67) menyebutkan bahwa masyarakat berperilaku berbeda-beda dalam berinteraksi dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya sebagai berikut:
1. Faktor kekayaan
Individu yang memiliki kekayaan banyak, termasuk lapisan atas, dan biasanya dalam interaksi di masyarakat juga berbeda.
2. Ukuran kekuasaan
Individu yang bmemiliki kekuasaan dimasyarakat, biasanya masyarakat selalu patuh dan taat pada perilaku yang dicontohkan oleh individu tersebut.
3. Ukuran kehormatan
Ukuran kehormatan tersebut mungkin terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan dan kekuasaan. Individu yang paling disegani dan dihormati mendapat tempat yang teratas. Biasanya golongan ini adalah orang yang pernah berjasa dalam kehidupan masyarakat.
4. Ukuran ilmu pengetahuan
Ilmu pengatahuan adalah ukuran yang dipakai oleh masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan, dimana mereka mencontoh individu yang memiliki pengetahuan yang tinggi, padahal itu belum tentu dalam kehidupan dimasyarakat pada saat ini.
Selain faktor di atas, perilaku sosial seseorang atau masyarakat juga dapat dipengaruhi oleh faktor perubahan sosial yang ada dimasyarakat, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Sistem pendidikan formal yang maju
Pendidikan mengajarkan kepada individu aneka macam kemampuan. Pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu dalam membuka fikirannya serta menerima hal-hal baru dan juga bagaimana cara berfikir. Pendidikan mengajarkan manusia untuk dapat berfikir secara obyektif, hal mana yang akan memberikan kemampuan untuk menilai apakah kebudayaan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan zaman atau tidak. 2. Toleransi
Perilaku yang berbeda-beda antara masyarakat tersebut dengan adanya toleransi baik beragama maupun bermasyarakat akan tetap menghargai perilaku dari masyarakat lain walaupun perilaku tersebut menyimpang. Dengan adanya toleransi menghindari dari terjadinya bentrokan antara masyarakat tersebut.
3. Penduduk yang heterogen
Masyarakat yang terdiri dari kelompok sosial yang mempunyai latar belakang kebudayaan yang berbeda, agama, ras, serta ideologi, mempermudah terjadinya pertentangan yang mengundang kegoncangan-kegoncangan dan konflik dalam masyarakat. Keadaan demikian mendorong masyarakat serta individu dalam bersikap dan berperilaku.
Dari beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku sosial dalam masyarakat, dapat disimpulkan bahwa memang tidak ada variabel tunggal dalam mempengaruhi perilaku sosial dalam masyarakat. Kontekstualitas dalam
memahami perilaku sosial dalam masyarakat agaknya menjadi faktor yang utama dalam memahami faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku sosial dalam masyarakat. Artinya, tidak ada satu teoripun yang bisa mengakomodir dalam memahami hal tersebut. Hal ini dapat teridentifikasi dengan kasus-kasus perilaku sosial dimasyarakat, baik yang posistif maupun negatif (menyimpang) dalam masyarakat, hampir semuanya memiliki faktor-faktor tersendiri yang bersifat kastuistis dan kontekstual.
D. Sejarah Dialog dan Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama di Indonesia dan dunia
1. Faktor-faktor yang Menyebabkan Bentrokan Antar Umat Beragama Menurut Kasman Singodimejo (Hasyim 1979:337), ada tujuh faktor yang menyebabkan terjadinya bentrokan antar umat beragama, yaitu:
1. Dangkalnya pengertian dan kesadaran beragama
Apabila terjadi bentrokan atau persengketaan antara umat beragama, maka para pelakunya belum tentu sebagai seorang awam di bidang agama, tetapi justru mereka itu termasuk tokoh-tokoh agama yang menguasai ilmu agama yang menyebabknanya. Seperti pada peristiwa Makasar, adalah asal mula dari penghinaan seorang pendeta terhadap umat Muslim setempat. 2. Fanatisme yang negatif
Orang yang teguh menjalankan perintah agamanya, tunduk dan taat pada ajaran dan keyakinan agamanya adalah baik. Orang yang tidak goyah pendiriannya walaupun keras godaan yang menimpa adalah baik. Ia dikatakan seorang yang fanatik. Tetapi fanatisme buta, tentu saja fanatisme yang negatif adalah jelek. Ia buta tuli, cinta kepada pahamnya dengan membeli buta, dengan merealisasikan segala sikap dan geraknya untuk menyerang dan menghina faham atau agama lain. Ia bersikap sinis terhadap golongan lain.
3. Cara dakwah dan propaganda yang salah
Agar di dalam pelaksanaan dakwah dan propaganda agama diperhatikan kode-kode etik penyebaran agama, dengan sejauh mungkin dihindari ucapan-ucapan yang mempersoalkan doktrin-doktrin keyakinan agama lain, walaupun bersifat perbandingan sekalipun dengan pengertian bahwa
cara penyampaian bahan itu tidak bersifat menghasut dan memanaskan golongan lain.
Cara-cara dalam berdakwah yang salah bisa memungkinkan menjadi sumber penyebab bentrokan antar umat beragama, apalagi bila bermaksud untuk menghasut dan tidak pula mengingat dan memperhitungkan faktor waktu, lingkungan dan kepentingan umum.
4. Obyek dakwah dan propaganda agama
Penyiaran agama yang amat menyolok kepada pemeluk agama lain apalagi secara demonstratif adalah sesuatu yang amat menyinggung perasaan keagamaan. Dengan cara yang demikian, masyarakat beragama menjadi anak buah atau anak asuhan atau anggota jama’ah dari agama tertentu kemudian dibujuk dan dirinya agar dapat memeluk agamanya orang yang membujuk tadi. Hal ini adalah merupakan pengumuman permusuhan secara halus atau berterus terang saja.
5. Subversi sisa G30S/PKI
Memang terkadang bekas-bekas anggota PKI ikut mengacau agar ketenteraman uamat beragama terganggu. Seperti peristiwa Jatibarang, yakni tentang larinya gadis Muslim kemudian menjadi Kristen adalah karena mendapat geriliya politik dari bekas anggota PKI. Maka terkadang juga dikatakan bahwa bentrokan antar umat beragama itu mendapat hasutan dan dikobarkan oleh anggota PKI yang berjiwa komunis karena mendapat hasutan dari orang-orang komunis.
6. Karena perlakuan yang tidak adil terhadap agama lain
Lihat saja peristiwa pemberontakan orang Islam Mindanao, adalah karena perlakuan yang tidak adil dan sewenang-wenang dari penguasa yang beragama Kristen Katholik, dimana perlakuan itu karena bertendensi atau berlatar belakang agama. Atau seperti di Eretria, Ethiopia dan di Negara Afrika lainnya.
7. Karena perebutan kekuasaan
Sebagai contoh adalah perang antara Irlandia dan Inggris, adalah karena tuntutan hak untuk merdeka sendiri yang berlatar belakang agama juga. Senada dengan pendapat di atas, Jalaluddin (2001:277) menguraikan faktor-faktor penyebab terjadinya konflik agama sebagai berikut:
1. Pengetahuan agama yang dangkal
Ajaran agama berisi nilai-nilai ajaran moral yang berkaitan dengan pembentukan sifat-sifat yang luhur. Namun demikian, tidak semua penganut agama dapat menyerap secara utuh ajaran agamanya. Kelompok seperti ini biasanya dikenal sebagai masyarakat awam. Dalam keterbatasan pengetahuan yang dimilikinya, terkadang mereka memerlukan informasi tambahan dari orang lain yang dianggap lebih menguasai permasalahan agama.
Agama sebagai keyakinan, pada hakikatnya merupakan pilihan pribadi dari pemeluknya. Pilihan itu tentunya didasarkan pada penilaian bahwa agama yang dianutnya adalah yang terbaik. Pemahaman inilah yang merupakan pemicu konflik agama.
3. Agama sebagai doktrin
Ada kecenderungan di masyarakat bahwa agama dipahami sebagai doktrin yang bersifat normatif. Pemahaman demikian menjadikan ajaran agama sebagai ajaran yang kaku. Inilah yang menjadikannya sebagai ajaran yang sulit diubah dan diganggu.
4. Simbol-simbol keagamaan
Dalam kajian antropologi, agama ditandai oleh keyakinan terhadap sesuatu yang bersifat adikordati (Supernatural), ajaran, penyampai ajaran, lakon ritual, orang-orang suci, tempat-tempat suci dan benda-benda suci. Simbol inilah yang sensitif menimbulkan konflik bila diganggu atau dirusak. Sementara itu, Rosita S. Noer (Abdul Azis 2001:275) mengutarakan pendapat bahwa:
Akhir-akhir ini telah terjadi sejumlah kasus yang cukup mencemaskan. Selama kurun waktu tiga tahun terakhir ini, kerusuhan sosial semakin menjadi gejala umum bagi perjalanan kehidupan bangsa Indonesia. Penyebab awal yang tampak di permukaan dari kasus-kasus tersebut adalah marahnya massa hingga terjadi kerusuhan. Sementara penyebab yang menjadi faktor tersembunyi umumnya dikaitkan dengan masalah-masalah hubungan sosial keagamaan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa konflik agama muncul ketika masyarakat merngalami semacam clash atau kesalahpahaman secara interaksi sosial. Kesalahpahaman sosial tersebut merembet ke hal-hal yang bersifat entitas keagamaan. Dari entitas keagamaan inilah berkembang menjadi konflik yang lebih permanen, karena agama memang menjadi sistem nilai yang bersifat fanatis dan memang menuntut pemeluknya untuk bersikap dan bertingkah laku loyal (setia atau cinta) terhadap agamanya.