• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil-Hasil Dialog Antar Umat Beragama di Dunia

Dalam dokumen BAB II KAJIAN PUSTAKA (Halaman 37-44)

C. Perilaku Sosial

2. Hasil-Hasil Dialog Antar Umat Beragama di Dunia

Akibat dari bentrokan antar umat beragama sungguh parah karena hal itu bisa merembet keseluruh negara dan melibatkan seluruh sudut kehidupan bangsa. Maka, setelah terjadi gejala-gejala yang tidak sehat dikalangan kehidupan beragama di Indonesia ini, pemerintah segera menyelenggarakan dialog-dialog agar peristiwa-peristiwa tersebut tidak berkelanjutan, sehingga nantinya dapat mengganggu program pembangunan yang sedang berjalan ini.

Dengan demikian, maka dialog-dialog itu merupakan suatu bentuk kegiatan yang diadakan sebagai proyek dari pembinaan kerukunan hidup antar umat beragama. Hasyim (1979:342) mengatakan bahwa dialog yang merupakan komunikasi interpersonal di dalam kalangan umat beragama itu telah diselenggarakan di beberapa tempat di Indonesia, sebagai berikut:

Tahun 1972/1973 di Surabaya, Yogjakarta, Jakarta, Medan serta Ujungpandang.

Tahun 1973/1974 di Manado, Palembang, Denpasar serta Banjarmasin. Tahun 1974/1975 di Kupang, Bandung, Semarang, Pontianak serta Jakarta.

Tahun 1975/1976 di Ujungpandang, Medan, Sukabumi, Malang, serta Sala.

Tahun 1999 s/d 2003 di Poso, Sampit, Ambon, Maluku serta Papua.

Di samping dialog-dialog di atas, Departemen Agama juga ikut aktif dan mengirim utusan-utusannya pada dialog-dialog antar agama di luar negeri, seperti: Tahun 1970 (bulan Maret) pada dialog Ajaltoun Libanon, Menteri Agama Mukti Ali sendiri ikut hadir. Pertemuan Ajaltoun ini merupakan tonggak sejarah yang penting dalam kehidupan umat beragama.

Tahun 1970 (Desember) pada dialog Islam-Kristen di Vatikan Roma. Tahun 1972 pada dialog agama di Broumana, Libanon.

Tahun 1974 pada dialog agama di Srilanka. Tahun 1975 pada dialog agama di Hongkong.

Selain itu juga, pada tahun 1973 di Jakarta telah diadakan seminar pimpinan-pimpinan agama dalam pembangunan yang diselenggarakan kerjasama antara Yayasan Tenaga Kerja Indonesia, Ebert Stiftung dan Departemen Agama Indonesia, dan juga pada tahun 1974 di Banda Aceh.

Hamka (Hasyim, 1979:343) menguraikan hasil-hasil dialog antar umat beragama di luar negeri, anatara lain di Beirut, Srilanka, Hongkong serta Libanon ialah:

1. Adanya keinginan untuk saling memahami kepercayaan satu sama lain, antar pemeluk agama di dunia. Orang-orang Kristen dan Islam dapat bekerjasama dalam situasi lokal dan nasional, dalam pembinaan bangsa untuk menjamin hak-hak manusia dan agama dan usaha untuk mencapai keadilan dan perdamaian. Dialog menerima dengan senang hati adanya keinginan bahwa bantuan-bantuan dari kelompok agama tidak hanya diberikan melalui kelompok-kelompok agama saja tetapi diberikan tanpa syarat untuk kepentingan masyarakat seluruhnya tanpa membeda-bedakan agama.

2. Jangan sampai orang berusaha agar orang lain yang sudah memeluk agama meninggalkan agamanya untuk memeluk agama yang lain dengan penindasan atau daya tarik ekonomi dan kebudayaan. Adalah terutama tidak patut untuk mengeksploitir kelemahan orang-orang yang tidak berpendidikan, orang sakit dan anak-anak muda.

3. Kita menekankan untuk menjauhi polemik untuk lebih meningkatkan hubungan antar kedua kelompok agama. Umat Islam dan Kristen bekerja sama untuk menghilangkan kesalahpahaman dan pertentangan dalam masa-masa yang lalu. Hendaknya diusahakan bekerjasama dalam kehidupan sehari-hari.

4. Hendaknya diusahakan dialog seperti ini dilakukan juga dalam situasi lokal dan bahwa dialog itu melibatkan kerjasama dalam bidang sosial, intelek dan dalam beberapa hal satu sama lain dapat saling mengisi dalam kehidupan kesalehan.

5. Dialog ini akan diikuti dengan dialog-dialog lainnya. Perlu diterangkan bahwa dalam waktu pembukaan oleh ketua penyelenggara dari Dewan Gereja Sedunia diterapkan bahwa dialog Kristen-Islam ini tidak ingin membentuk satu kelompok untuk kelompok agama lain.

Sementara itu, Kasman Singodimejo (Hasyim, 1979:345) menguraikan hasil-hasil dialog antar umat beragama yang di selenggarakan di Indonesia, yang kemudian melahirkan kesimpulan dan ikrar sebagai berikut:

1. Penggalian sebab-sebab timbulnya ketegangan antar umat beragama. 2. Perlunya dialog antar umat beragama.

3. Tentang wadah bersama antar umat beragama, perlu dibentuk seharmonis mungkin.

4. Program bersama dan partisipasi umat beragama dalam pembangunan. 5. Tentang kode etik pergaulan dan penyebaran agama.

6. Dan masalah-masalah lain yang menyangkut kemasyarakatan dan pembangunan.

Menurut Rasyidi yang dimuat dalam “Panji masyarakat” terbitan tanggal 15 September 1976 (Hasyim, 1979:345), menguraikan hasil-hasil pernyataan konferensi misi Kristen dan Dakwah Islamiyah, di Chambesy, Jenewa pada tanggal 30 juni 1976, sebagai berikut:

1. Berhubung misi Kristen dan Dakwah Islam merupakan kewajiban yang pokok (essensiil) dalam agama Kristen dan agama Islam, maka oleh Dewan Gereja Dunia bekerjasama dengan Islamic Foundation (Yayasan Islam) di Leicester London telah diadakan konferensi pada tanggal 28 Jumadil Akhir - 4 Rajab 1396/26 Juni 1976. Selain menyelidiki watak (nature) daripada Dakwah Islamiyah dan misi Kristen, tujuan daripada konferensi adalah untuk memupuk umat Kristen dan untuk menyelidiki usaha-usaha atau jalan tengah yang akan menjamin kesejahteraan rohani bagi semua pihak.

2. Konferensi menyetujui sepenuhnya bahwa masyarakat masing-masing, apabila salah satunya merupakan minoritas penduduk suatu negara, maka harus mempunyai wujud (existensi) de jure, bahwa tiap-tiap kelompok keagamaannya dalam kebebasan yang penuh. Konferensi menjunjung tinggi prinsip kemerdekaan beragama dan mengakui bahwa umat Islam dan umat Kristen harus mempunyai kemerdekaan untuk meyakinkan (orang lain) dalam meyakini untuk diri sendiri dan untuk mengamalkan kepercayaan mereka dan mengatur kehidupan keagamaan mereka menurut hukum-hukum dan prinsip-prinsip agama itu sendiri, dan tiap-tiap perorangan berhak sepenuhnya untuk mempertahankan keimanan keagamaannya dengan mengikuti prinsip agamanya dan dengan patuh akan identitas keagamaannya.

3. Konferensi setuju bahwa kehidupan keluarga adalah suatu lembaga yang wajib dilakukan dan yang sangat berharga. Konferensi menyatakan

perhatiannya yang sungguh terhadap bahaya disintegrasi yang mengancam lembaga kekeluargaan, dan konferensi juga menganjurkan agar hukum agama mengenai keluarga, baik Islam maupun Kristen, jangan sampai diganggu dan diganti pleh pihak diluar tradisinya. Konferensi menyetujui pula bahwa keluarga dan umat harus mempunyai hak untuk menjamin pendidikan agama bagi anak-anak mereka, dengan mengorganisir sekolah-sekolahnya sendiri, atau dengan memakai guru-guru dari agamanya untuk mengajarkan agama kepada anak-anak mereka di rumah, sekolah atau dengan cara yang baik. Bagaimanapun juga, mereka harus diizinkan mengorganisir (mengatur) kehidupan spiritual dan kulturil mereka dengan tak ada campur tangan dari luar.

4. Konferensi merasa sedih mendengar bahwa sebagian umat Kristen di suatu negara Islam tidak dibolehkan mendirikan gereja. Para peserta konferensi yang beragama Islam memandang perlakuan tersebut sebagai tindakan yang bertentangan dengan hukum agama mereka dan hak mereka untuk mempunyai dan mengurus lembaga-lembaga yang diperlukan menurut prinsip-prinsip dan hukum-hukum agama mereka sebagaimana warga negara yang sama haknya.

5. Para peserta konferensi yang beragama Kristen menyampaikan simpati yang dalam kepada umat Islam terhadap kejahatan moral yang mereka derita dari para kaum penjajah, neo kolonilaisme dan kaki tangan mereka. Konferensi menyadari bahwa hubungan Islam-Kristen telah dinodai dengan ketidakpercayaan, buruk sangka dan rasa takut umat Islam dan umat Kristen telah jauh satu daripada lainnya dan tidak bekerjasama untuk kebaikan kedua belah pihak.

6. Konferensi telah sadar dengan merasa sedih bahwa sikap umat Islam terhadap misi Kristen telah banyak dipengaruhi oleh penyalahgunaan diakonia (pengabdian masyarakat) itu dan mengajurkan dengan paksa agar gereja-gereja dan organisasi-organisasi Kristen untuk sementara memberhentikan aktivitas pengabdian masyarakat di dunia Islam. Tindakan yang radikal ini adalah perlu untuk membersihkan suasana hubungan Islam-Kristen dan untuk mengarahkannya kepada pengakuan timbal balik dan kerjasama yang layak bagi kedua agama besar ini. Konferensi menganjurkan supaya sedapat mungkin segala bantuan materiil yang diberikan untuk gereja-gereja dan organisasi agama di luar negeri, mulai sekarang dibagi-bagikan melalui saluran Pemerintah atau dengan bekerja sama dengan Pemerintah Negara dimana bantuan itu diperuntukkan dengan mengindahkan kehormatan dan kepribadian bangsa yang bersangkutan.

7. Konferensi menganjurkan bahwa segera setelah tindakan-tindakan yang disebutkan di atas diselenggarakan, umat Islam dan Kristen agar dipanggil ke dalam suatu persidangan antara wakil-wakil kedua kepercayaan untuk membicarakan metode misi Kristen dan Dakwah Islam serta aturan-aturan bagi tiap-tiap agama tersebut dan untuk mencari jalan tengah agar tiap-tiap agama dapat melakukan misi dan dakwahnya menurut kepercayaan masing-masing.

8. Konferensi menyadari bahwa hubungan persahabatan dan kerjasama antara Islam dan Kristen tidak akan terwujudkan atau langsung ada, kecuali jika didasarkan atas paham yang timbal balik mengenai teologi, sejarah, doktrin dan hukum dan moral, teori-teori sosial dan modernisasi daripada kedua kepercayaan itu. Untuk maksud tersebut, konferensi menganjurkan agar Dewan Gereja Dunia, Vatikan dan organisasi-organisasi Islam Internasional mensponsori siding-sidang yang diadakan secara teratur dimana soal-soal tersebut diselidiki dan didiskusikan.

9. Konferensi khususnya para peserta yang beragama Islam menyampaikan pengahargaan yang setinggi-tingginya kepada Dewan Gereja Dunia dan pimpinan Majalah Internasional mengenai misi untuk undangannya dan bantuannya terhadap konferensi ini. Semua peserta menyampaikan rasa gembiranya bahwa Tuhan telah memberikan kepada mereka kesabaran dalam berunding dan rasa simpati. Mereka berterimakasih kepada Tuhan bahwa konferensi ini telah dapat memberikan sumbangan untuk menjernihkan suasana hubungan Kristen-Islam dimasa mendatang dan mereka berdoa mudah-mudahan hubungan antara penganut-penganut agama yang diwakilinya berkembang menjadi persaudaraan spiritual untuk keagungan Tuhan sendiri.

Sementara itu, Kafrawi (Azyumardi, 2003:124) menguraikan berbagai macam hambatan dalam melakukan proses dialog antar umat beragama di Indonesia, antara lain:

1. Sementara orang menganggap bahwa kerukunan yang dicapai atau yang kelihatan sekarang ini adalah sekedar kerukunan semu belaka. Masing-masing mengidap kecurigaan, ketidakpercayaan dan kekhawatiran terhadap yang lain.

2. Belum adanya keberanian masing-masing untuk menafsirkan kembali misionary zeal mereka yang mengakibatkan setiap kegiatan selalu ditujukan, dijiwai dan diwarnai dengan semangat tersebut.

3. Kelompok Islam curiga dan khawatir bahwa umatnya akan dimurtadkan (dalam angka waktu 20 tahun), sementara kelompok Kristen dihantui oleh negara Islam.

4. Masih adanya dugaan bahwa satu kelompok mengendalikan kwalitas dan kekayaannya, sedang kelompok yang lain mengandalkan kekuatan dan jumlahnya.

5. Ketegangan-ketegangan sosial, politik, tidak jarang atau sering melibatkan kelompok agama, hal ini berakibat terganggunya kerukunan.

6. Terangkatnya pejabat-pejabat yang memeluk agama diam-diam selalu dinilai akan menguntungkan kelompok seagamanya dan sebaliknya selalu dicurigai akan merugikan bahkan menindas kelompok agama lain.

7. Tenaga-tenaga asing dalam bidang agama juga tidak jarang yang menimbulkan ketegangan karena ketidakpahaman mereka tentang jiwa Pancasila.

Lebih jauh lagi, Hasyim (1979:357) menguraikan dasar-dasar serta landasan kerukunan hidup antar umat beragama, sebagai berikut:

1. Falsafah Pancasila

2. Undang-Undang Dasar 1945

3. Tugas Nasional Bersama dalam Pembangunan 4. Setuju dalam perbedaan

5. Rukun, saling menghormati, saling mengerti, adalah watak Bangsa Indonesia

6. Adanya kode etik penyebaran agama

M. Panggabean (Hasyim, 1979:357) menguraikan pendapat yang senada mengenai faktor-faktor dalam membina kerukunan hidup umat beragama, sebagai berikut:

1. Golongan yang belum beragama atau belum berKetuhanan Yang Maha Esa termasuk golongan atheis dan animis diusahakan agar mereka beragama dan berKetuhanan Yang Maha Esa, sesuai dengan keyakinan dan pilihannya sendiri.

2. Golongan yang sudah beragama atau berKetuhanan Yang Maha Esa, diusahakan agar mereka makin mantap dan tebal imannya serta luhur budi pekertinya berdasarkan keyakinan agamanya masing-masing.

3. Golongan pemuda dan golongan remaja diusahakan untuk menghargai dan menghayati nilai-nilai moral dan akhlak yang luhur serta kegiatan-kegiatan usaha yang lebih mengarah kepada pembangunan.

4. Golongan ulama dan cendikiawan diusahakan kreativitas dan dukungan yang bergairah sehingga akan menimbulkan partisipasi nyata dari rakyat terhadap program-program pembangunan.

5. Peningkatan kerukunan hidup beragama dan jiwa tenggang rasa umat beragama yang tinggi antar pemeluk agama yang berlainan, dengan memperhatikan faktor-faktor di bawah ini:

a. Jangan sampai berusaha supaya orang lain yang sudah memeluk agama meninggalkan agamanya untuk memeluk agama yang ia peluk dengan penindasan atau daya tarik ekonomi dan kebudayaan.

b. Menjauhi polemik untuk lebih meningkatkan hubungan antar kelompok-kelompok yang berbeda agama.

c. Saling memehami kepercayaan satu sama lain.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam menghadapi masa Pembangunan Nasional dewasa ini perlu kiranya suatu perumusan serta rencana strategi jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang mengenai pembinan kerukunan hidup beragama. Adapun materi pokok yang perlu mendapatkan pembahasan serta selanjutnya ditentukan sasaran pokok yang harus dicapai ialah masalah komunikasi antar agama untuk menyusun “modal rohaniah dan mental bagi pembangunan nasional”.

Sementara itu, dalam pidatonya di Pesantren Islam Suralaya, Tasikmalaya, tanggal 10 Juni 1978, Menteri Agama H. Alamsyah Ratu Prawiranegara (Hasyim, 1979:376) menegaskan bahwa perlu adanya tiga macam kerukunan di Indonesia agar pembangunan berlangsung dengan mantap dan

lancar. Ketiga kerukunan tersebut dikenal dengan istilah Tri Kerukunan Umat beragama, sebagai berikut:

1. Kerukunan intern umat beragama

Kerukunan ini mencakup kerukunan para pemeluk suatu agama tertentu, seperti sesama orang Islam, sesama orang Kristen, sesama orang Hindu, serta sesama orang Budha.

2. Kerukunan antar umat beragama

Kerukunan ini mencakup antara pemeluk-pemeluk agama di Indonesia. Antara pemeluk agama di Indonesia hendaknya saling menghormati dan menghargai serta saling mengunjungi satu sama lainnya dengan berpedoman kepada ayat Al-Quran, “Lakum diinukum wa liya diin”, yang artinya bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

3. Kerukunan umat beragama dengan pemerintah.

Kerukunan ketiga ini dapat tercapai jika pemerintah bisa memahami apa yang disenangi dan apa yang tidak disenangi oleh rakyatnya. Begitu juga rakyat memahami hal-hal yang disenangi dan tidak disenangi oleh pemerintah. Seperti hal-hal yang tidak disenangi rakyat, kemudian pemerintah mengambil kebijaksanaan yang baik, yakni memutuskan tidak memasukannya “aliran kepercayaan” ke dalam Departemen Agama. Hal yang disenangi pemerintah antara lain ialah apabila rakyat memelihara Ketahanan Nasional dan turut melaksanakan pembangunan. Sedangkan, yang tidak disenangi pemerintah adalah rakyat tidak memandang dan menghargai Pancasila, dengan mengganggu ideologi Pancasila dengan berbagai konflik agama dan perdebatan ideologi agama yang menjurus kearah konflik.

E. Toleransi Antar Umat Beragama dalam Agama Islam

Dalam dokumen BAB II KAJIAN PUSTAKA (Halaman 37-44)

Dokumen terkait