• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konversi Agama

Dalam dokumen BAB II KAJIAN PUSTAKA (Halaman 57-62)

1. Pengertian Konversi Agama

Abdul Azis Ahyadi (1995:43) mengatakan bahwa “konversi agama (religious conversion) secara umum dapat diartikan dengan berubah agama ataupun masuk agama”.

Sementara itu, Jalaluddin (2001:259) mendefinisikan konversi agama secara etimologi sebagai berikut:

Konversi berasal dari kata lain “Conversio” yang berarti: tobat, pindah serta beruba agama. Selanjutnya kata tersebut dipakai dalam kata Inggris Conversion yang mengandung pengertian:berubah dari suatu keadaan, atau dari suatu agama ke agama lain.

Berdasarkan arti kata-kata tersebut, dapat disimpulkan bahwa konversi agama mengandung pengertian: bertobat, berubah agama atau berbalik pendirian terhadap ajaran agama atau masuk ke dalam agama lain.

Sementara itu, Max Heirich (Hasyim 1979:76) menyatakan bahwa “konversi agama merupakan suatu tindakan di mana seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah ke suatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya”.

Senada dengan uraian di atas, William James (Jalaluddin 2001:260) mendefinisikan konversi agama sebagai berikut:

Perilaku seseorang yang tidak puas atau kecewa terhadap keyakinan yang dianutnya, kemudian mencari jalan keluar atas suatu masalah yang dihadapinya, dengan cara mencari keyakinan baru yang menurutnya dirasa dapat mengatasi atau menyelesaikan masalah yang dia hadapi.

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa konversi agama di identikkan dengan pindahnya seseorang pemeluk agama ke agama lainnya, di luar agama yang telah di anutnya. Hal ini diakibatkan oleh berbagai hal, salah satunya menurut pengertian di atas yaitu faktor petunjuk Ilahi yang memang menjadi faktor determinan seseorang berpindah agama.

2. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Terjadinya Konversi Agama

William James (Jalaluddin 2001:261) menjelaskan faktor penyebab terjadinya konversi agama dari sudut keagamaan yang menyatakan bahwa “para ahli agama menganalisis penyebab terjadinya konfersi agama tiada lain adalah petunjuk Ilahi. Pengaruh superanatural berperan secara dominan dalam proses terjadinya konversi agama pada diri seseorang atau kelompok”.

Pendapat berbeda diungkapkan Max Heirch (Jalaluddin 2001:261) yang menjelaskan penyebab terjadinya konversi agama secara pengaruh sosial. Pengaruh sosial yang mendorong terjadinya konversi agama itu terdiri dari adanya berbagai faktor, antara lain:

a. Pengaruh hubungan antar pribadi baik pergaulan yang bersifat keagamaan maupun non agama.

b. Pengaruh kebiasaan yang rutin.

c. Pengaruh anjuran atau propaganda dari orang-orang yang dekat misalnya: keluarga, teman serta pimpinan.

d. Pengaruh pimpinan keagamaan.

e. Pengaruh perkumpulan yang berdasarkan hobi. f. Pengaruh kekuasaan pimpinan.

Sementara itu, Abdul Aziz (1996:54) mengungkapkan penyebab terjadinya konversi agama secara psikologis yang ditimbulkan oleh faktor intern maupun ekstern, sebagai berikut:

Faktor-faktor tersebut apabila mempengaruhi seseorang atau kelompok hingga hingga menimbulkan tekanan batin, maka akan mendorong untuk mencari jalan keluar yaitu ketenangan batin. Dalam kondisi jiwa yang demikian itu secara psikologis kehidupan batin seseorang itu menjadi kosong dan tak berdaya sehingga mencari perlindungan ke kekuatan lain yang mampu memberinya kehidupan jiwa yang terang dan tenteram yaitu agama.

Lebih jauh lagi, Abdul Aziz Ahyadi (1996:57), membagi kedua faktor terjadinya konversi agama tersebut sebagai berikut:

a. Faktor Intern, yang ikut mempengaruhi terjadinya konversi agama adalah: 1. Kepribadian

Secara psikologi tipe kepribadian tertentu akan mempengaruhi kehidupan jiwa seseorang. Dalam penelitian William James, ia menemukan bahwa tipe melankolis yang memiliki kerentaan perasaan lebih mendalam dapat menyebabkan terjadinya konversi agama dalam dirinya.

2. Faktor Pembawaan

Menurut penelitian Guy E. Swanson, bahwa ada semacam kecenderungan urutan kelahiran mempengaruhi konversi agama. Anak sulung dan anak bungsu biasanya tidak mengalami tekanan batin, sedangkan anak-anak yang dilahirkan pada urutan antara keduanya sering mengalami stress jiwa. Kondisi yang dibawa berdasarkan urutan kelahiran itu banyak mempengaruhi terjadinya konversi agama.

b. Faktor Ekstern (faktor luar diri), yang mempengaruhi terjadinya konversi agama adalah:

1. Faktor keluarga

2. Lingkungan tempat tinggal 3. Perubahan status

4. Kemiskinan

Lebih jauh lagi, Jalaluddin (2001:264) mengkaji penyebab konversi agama dari sudut pandang pendidikan beliau berpendapat sebagai berikut:

Koversi agama dipengaruhi oleh kondisi pendidikan. Penelitian ilmu sosial menampilkan data dan argumentasi bahwa suasana pendidikan ikut mempengaruhi konversi agama. Berdirinya sekolah-sekolah yang bernaung di bawah yayasan agama tentunya mempunyai tujuan keagamaan pula.

Sementara itu, Abdul Aziz Ahyadi (1995: 53) membagi tipe konversi agama ke dalam dua tipe, yaitu:

1. Tipe Volitional (Perubahan Bertahap)

Konversi agama tipe ini terjadi secara berproses sedikit demi sedikit, sehingga kemudian menjadi seperangkat aspek dan kebiasaan rohaniah yang baru.

2. Tipe Self Surrender (Perubahan Drastis)

Konversi agama tipe ini adalah konversi yang terjadi secara mendadak. Seseorang tanpa mengalami suatu proses tertentu tiba-tiba berubah pendiriannya terhadap suatu agama yang dianutnya.

Berdasarkan uraian-uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa konversi agama dapat terjadi diakibatkan oleh beberapa faktor, antara lain: faktor keyakinan agama yang dianut, petunjuk Ilahi, kondisi kejiwaan, pengaruh sosial serta pengaruh pimpinan agama. Faktor-faktor tersebut merupakan faktor determinan yang mengakibatkan seseorang melakukan konversi agama (berpindah agama). Jika terjadi motif lain dari proses konversi agama, sifatnya hanya kasus per kasus karena secara teoritik maupun kenyataan (factual) faktor-faktor inilah yang menjadi motif dominan atau kecenderungan seseorang melakukan proses konversi agama.

3. Proses Konversi Agama

M.T.L. Penido (Jalaluddin, 2001: 266) menyebutkan dua proses terjadinya konversi agama, yaitu:

1. Proses dari dalam diri (endogenos origin), yaitu proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang atau kelompok. Konversi yang terjadi dalam batin ini membentuk suatu kesadaran untuk mengadakan suatu transformasi disebabkan oleh krisis yang terjadi dan keputusan yang diambil seseorang berdasarkan pertimbangan pribadi.

2. Unsur dari luar (eksogenos origin), yaitu proses perubahan yang berasal dari luar diri atau kelompok sehingga mampu menguasai kesadaran orang atau kelompok yang bersangkutan. Kekuatan yang datang dari luar ini kemudian menekan pengaruhnya terhadap kesadaran mungkin berupa tekanan batin, sehingga memerlukan penyelasaian oleh yang bersangkutan. Sementara itu, H. Carrier (Abdul Aziz Ahyadi, 1995: 123) membagi proses konversi agama dalam pentahapan sebagai berikut:

1. Terjadi disintegrasi sintesis kognitif dan motivasi sebagai akibat dari krisis yang dialami.

2. Reintegrasi kepribadian berdasarkan konversi agama yang baru.

3. Tumbuh sikap menerima konsepsi agama yang baru serta peranan yang dituntut oleh ajarannya.

4. Timbul kesadaran bahwa keadaan yang baru itu merupakan panggilan suci petunjuk Tuhan.

Lebih jauh lagi, Zakiah Daradjat (Jalaluddin, 2001: 268) membagi proses konversi agama menjadi 5 tahap, yaitu:

1. Masa Tenang, yaitu disaat ini kondisi jiwa seseorang berada dalam keadaan tenang karena masalah agama belum mempengaruhi sikapnya. 2. Masa Ketidaktenangan, yaitu tahap ini berlangsung jika masalah agama

telah mempengaruhi batinnya. Mungkin dikarenakan suatu krisis, musibah ataupun perasaan berdosa yang dialaminya.

3. Masa Konversi, yaitu tahap setelah konflik batin mengalami keredaan karena kemantapan batin telah terpenuhi berupa kemampuan menentukan keputusan untuk memilih yang dianggap serasi ataupun timbulnya rasa pasrah.

4. Masa Tenang dan Tenteram, yaitu proses yang ditimbulkan oleh kepuasaan terhadap keputusan yang sudah diambil. Ia timbul karena telah mampu membawa suasana batin menjadi mantap sebagai pernyataan menerima konsep baru.

5. Masa Konversi, yaitu proses ungkapan dari sikap menerima terhadap konsep baru dari ajaran agama yang diyakininya tadi, maka tidak tunduk dan sikap hidupnya diselaraskan dengan ajaran dan peraturan agama yang dipilih tersebut dengan meninggalkan agama yang lama.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa proses konversi agama secara dominan memang dipengaruhi oleh keinginan dari dalam diri sendiri (niat, tekad serta azam). Hal ini diperkuat oleh faktor eksternal, yaitu pengaruh lingkungan yang dominan mempengaruhi proses seseorang berpindah agama. Akan tetapi, niat, tekad serta azam yang menentukan semuanya.

Dalam dokumen BAB II KAJIAN PUSTAKA (Halaman 57-62)

Dokumen terkait