II. TINJAUAN PUSTAKA
2.8. Persepsi Masyarakat 1. Pengertian Persepsi
2.8.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi Masyarakat
Menurut Saarinen (1976) persepsi berkaitan dengan pengaruh faktor sosial-budaya terhadap struktur kognitif dari lingkungan fisik dan sosial. Barent (1977) mengatakan bahwa persepsi merupakan penafsiran otak terhadap apa
yang dirasakan seseorang. Dengan demikian persepsi terhadap suatu stimulus (misalnya air sungai) memiliki peluang besar untuk sesuai dengan kenyataan sesungguhnya. Kalaupun tidak demikian halnya, informasi mengenai persepsi ini bisa digunakan untuk melakukan intervensi dalam rangka memperbaikinya. Sarwono (1992) mengatakan bahwa kita perlu mengetahui alasan dan cara berubahnya persepsi, agar kita bisa meramalkan dan jika perlu mempengaruhi persepsi.
Persepsi yang baik dan benar diperlukan, sebab persepsi merupakan dasar pembentukan sikap yang akan berlanjut ke perilaku. Asngari (1984) mengatakan bahwa persepsi terhadap lingkungan merupakan faktor penting, karena akan berlanjut dalam tindakan. Bahkan Toch dan McLean (Kemp et al., 1975) mengatakan: “tidak ada perilaku tertentu tanpa persepsi, perilaku adalah hasil persepsi.” Demikian pula Duncan (Thoha, 1988) mengatakan bahwa persepsi merupakan unsur penting dalam penyesuaian perilaku.
Menurut pandangan “konvensional/fungsionalis/pendekatan konstruktivisme” (Sarwono, 1992), persepsi terbentuk melalui serangkaian proses, yakni seleksi, organisasi, dan interpretasi (Sereno et al., 1975 dalam Asngari, 1984).
Menurut Thorndike (1968) persepsi dapat terbentuk melalui faktor heriditas (keturunan/bawaan) dan lingkungan. Keduanya saling mempengaruhi dan berinteraksi. Faktor heriditas antara lain bakat, minat, kemauan, perasaan, fantasi dan tanggapan yang dibawa sejak lahir. Faktor lingkungan berada diluar individu, misalnya pendidikan, lingkungan sosial dan status sosial. Jadi persepsi dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Dalam penelitian ini perhatian difokuskan pada faktor eksternal, karena untuk meneliti faktor internal diperlukan kemampuan khusus yang berada di luar diri penulis.
Menurut Wibowo (1988) dalam Gunawan (2002) yang membedakan persepsi seseorang, antara lain: (1) Faktor Pengalaman, semakin banyak pengalaman yang dimiliki seseorang mengenai obyek stimulusnya, semakin tinggi pula verdikalitasnya. Pengalaman ini dapat terjadi karena kontak-kontak dengan obyek-obyek stimulus yang serupa; (2) faktor inteligensia, semakin tinggi inteligensia seseorang semakin besar kemungkinannya orang tersebut
bertindak lebih obyektif dalam memberikan penilaian atau membangun kesan obyek stimulus; (3) faktor kemampuan menghayati stimuli, yaitu kemampuan untuk turut menghayati perasaan orang lain (empaty); (4) faktor ingatan, daya ingat seseorang akan menentukan veridikalitas persepsinya. (5) Faktor disposisi kepribadian atau kecenderungan kepribadian yang relatif menetap dari seseorang. (6) Faktor sikap terhadap obyek-stimulus, sikap secara umum dapat dinyatakan sebagai kecenderungan yang ada pada diri seseorang untuk berfikir atau berpandangan, berperasaan, dan berkehendak dan berbuat secara tertentu terhadap sesutu obyek. Faktor (7) Faktor kecemasan, seseorang yang tercekat oleh kecemasan karena suatu hal yang berkaitan dengan obyek-stimulusnya akan mudah dihadapkan pada hambatan-hambatan dalam mempersepsikan obyek tersebut. (8) Faktor pengharapan, faktor ini merupakan kumpulan dari beberapa pengharapan yang bersumber dari adanya asumsi-asumsi tertentu mengenai manusia dan perilaku.
Faktor eksternal lain yang dapat mempengaruhi persepsi adalah umur (Munn, 1974), pendapatan (Malickson dan Nason, 1977), nilai/kepercayaan, pengalaman (Bailey, 1982 dan Saarinen, 1976), jenis kelamin (Powell, 1963), ingatan, keadaan sosial, harapan (Edmund dan Letely, 1973; Saarinen, 1976), faktor pribadi (Krecht et al., 1976), dan agama (Sarwono, 1992). Faktor pribadi mencakup yang bersifat sesaat maupun tetap, seperti nilai, kebutuhan (Saarinen, 1976) dan emosi. Menurut Saarinen (1976), persepsi sangat tergantung pada stimulus.
Menurut Gibson (Sarwono, 1992) proses terbentuknya persepsi dapat dijelaskan melalui pendekatan “ekologis”. Menurut pendekatan ini individu tidak menciptakan makna dari obyek yang diinderanya. Makna ini telah terkandung dalam setiap obyek dan tersedia bagi organisme yang siap menyerapnya. Setiap obyek menonjolkan sifat-sifatnya yang khas. Persepsi terjadi secara spontan dan langsung (holistik). Dilihat dari pendekatan ini manusia merupakan makhluk yang dapat mengubah kemanfaatan suatu stimulus sesuai dengan keinginannya. Masalah akan timbul jika manusia terlalu banyak mengubah lingkungan sehingga keseimbangan ekosistem terganggu.
Dalam pendekatan konvensional, persepsi lebih dikaitkan dengan faktor-faktor syaraf dan faal. Dalam pendekatan ekologi interpretasi terhadap hasil proses faal itulah yang menentukan persepsi (bukan proses faalnya). Menurut pendekatan ekologi persepsi juga ditentukan oleh pengalaman. Sedang pengalaman dipengaruhi oleh kebudayaan. Menurut Sarwono (1992) persepsi juga dipengaruhi oleh usia, agama, jenis kelamin, lingkungan tempat tinggal dan suku bangsa.
Disamping persepsi dalam pengertian umum seperti yang telah diuraikan, didalam studi lingkungan juga dikenal konsep “persepsi terhadap lingkungan” (environmental perception). Edmund dan Letey (1973) mendefinisikan persepsi terhadap lingkungan sesuai cerminan penglihatan, kekaguman, kepuasan, serta harapan individu terhadap lingkungan. Menurut Haryadi dan Setiawan (1995) persepsi terhadap lingkungan adalah interpretasi tentang suatu lingkungan yang didasarkan pada latar belakang budaya, nalar dan pengalaman. Jadi setiap individu memiliki persepsi lingkungan yang berbeda. Beberapa kelompok individu mungkin mempunyai persepsi lingkungan yang sama atau mirip.
Persepsi lingkungan terbentuk melalui proses kognisi, afeksi dan kognasi. Proses kognisi terjadi dari penerimaaan (perceiving), pemahaman (understanding) dan pemikiran (thinking). Proses afeksi meliputi perasaan (feeling) dan emosi (emotions), keinginan (desire, preferences) serta nilai-nilai (values) tentang lingkungan. Adapun proses kognasi meliputi tindakan atau perlakuan terhadap lingkungan sebagai respon dari proses kognisi dan afeksi. Keseluruhan proses ini menghasilkan preceived environment atau lingkungan yang dipersepsikan. Jadi preceived environment merupakan bentuk atau produk dari persepsi terhadap lingkungan (Haryadi dan Setiawan, 1995).
Sesuai dengan definisi persepsi dan persepsi terhadap lingkungan, maka persepsi terhadap air sungai yang dimaksud dalam penelitian ini meliputi penilaian responden terhadap kualitas air sungai yang ada, pemahaman dan interpretasi responden terhadap faktor-faktor dan indikator yang berhubungan dengan kualitas air sungai, interpretasi responden terhadap menurunnya kualitas air sungai dan akibatnya, serta penilaian responden terhadap kelayakan air
sungai yang ada bagi sejumlah peruntukan. Persepsi terhadap air sungai ini merupakan respon terhadap kondisi air sungai sebagai obyek atau stimulus.
Gambar 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap air sungai (Harianto, 2004)
Pengetahuan tentang air sungai
Persepsi terhadap air sungai Kemampuan ekonomi Kebutuhan air sungai Pekerjaan Lamanya tinggal di dekat sungai Jarak antara rumah dengan sungai Keyakinan Interpretasi terhadap konsepsi mengenai hakekat lingkungan Interpretasi terhadap ajaran agama Status dan peranan sosial Pendidikan