• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI KETERKAITAN BEBAN LIMBAH TERHADAP KUALITAS PERAIRAN (STUDI KASUS KAMAL MUARA) HELMA DAHLIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STUDI KETERKAITAN BEBAN LIMBAH TERHADAP KUALITAS PERAIRAN (STUDI KASUS KAMAL MUARA) HELMA DAHLIA"

Copied!
153
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI KETERKAITAN BEBAN LIMBAH

TERHADAP KUALITAS PERAIRAN

(STUDI KASUS KAMAL MUARA)

HELMA DAHLIA

SEKOLAH PASCA SARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2009

(2)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul Studi Keterkaitan Beban Limbah Terhadap Kualitas Perairan (Studi Kasus Perairan Kamal Muara, Jakarta) adalah karya sendiri dan belum pernah dipublikasikan oleh sumber manapun. Sumber informasi yang terdapat atau dikutip telah disebutkan dalam tesis dan tercantum dalam daftar pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Januari 2009

Helma Dahlia NRP. P051064114

(3)

ABSTRACT

HELMA DAHLIA. Correlation Study of Pollution Load Against Water Quality (Cases : Kamal Muara). Guided by ETTY RIANI and ISDRADJAD SETYABUDIANDI.

Jakarta gulf waters gives a lot of contribution on supporting Jakarta’s society live, for examples are fishpond area, fishermans site, recreation place and tourism object, harbour, housing, transportation etc. With many activities surrounding the gulf and alot of pollutions load that brough by river and also the change of the rules for land using in Jakarta gulf, so that make the environment quality also been changed. The contain of this research is about the pollutions load that comes from the industrial and housewives surrounding Jakarta gulf (Kamal Muara), information about pollutions contamination (heavy metals) on sea biota (plankton and green mussels), and the perception from the society about polution that happen on Jakarta gulf water (Kamal Muara). Kruskal-wallis rank analysis (non-parametric) conduct toward heavy metals contain data (Hg, Pb, Cd) to show a lot of differences, so it stiil continue by using duncan multiple range test. Pollution load that flow to Kamal Muara gulf water are COD 1450.78 tons/month, BOD 624.13 tons/month, sulphide 58.57 tons/month, ammonia 78.63 tons/month, phosphate 6.87 tons/month, lead 1.04 tons/month, and cadmium 0.21 tons/month, with pollution index high polluted to medium polluted. Plankton and green mussels has contaminated by heavy metals. Plankton contains 0.005 to 0.042 mg/kg cadmium, and 0.005 to 0.096 mg/kg lead. The green mussels has contains 0.001 to 0.021 mg/kg cadmium, 0.001 to 0.188 mg/kg lead, and the mercury level is 0.0013 to 0.025 mg/kg. This research show the pollution index on Kamal Muara belonging to very polluted and still averange, fitoplankton and green mussels have been contaminated by heavy metals, and the perception from Kamal Muara resident about pollution that happened on Kamal Muara is a very big problem and the main consequence is it makes their income decrease about 50%.

(4)

RINGKASAN

HELMA DAHLIA. Studi Keterkaitan Beban Limbah Terhadap Kualitas Perairan (Studi Kasus: Kamal Muara). Dibimbing oleh ETTY RIANI dan ISDRADJAD SETYABUDIANDI.

Perairan Teluk Jakarta banyak memberikan kontribusi dalam menunjang kehidupan penduduk Jakarta antara lain sebagai areal tambak, pemukiman nelayan, daerah wisata dan rekreasi, pelabuhan, pemukiman, transportasi dan sebagainya. Adanya 13 muara sungai yang membawa limbahnya baik dari pembuangan sampah, industri maupun rumah tangga serta kegiatan lainnya, menyebabkan perairan Teluk Jakarta mempunyai karakteristik yang khusus dan perairan ini menerima beban pencemaran yang cukup berat. Dengan beragamnya aktivitas di sekitar teluk dan juga beban limbah yang terbawa sungai serta perubahan tata guna lahan di Teluk Jakarta, mengakibatkan kualitas lingkungannya berubah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan tentang beban limbah yang dihasilkan oleh industri dan rumah tangga di Perairan Teluk Jakarta (Kamal Muara), informasi tentang kontaminasi limbah (logam berat) pada biota air (plankton dan kerang hijau), dan gambaran persepsi masyarakat terhadap pencemaran yang terjadi di Perairan Teluk Jakarta(Kamal Muara). Pemilihan tempat penelitian didasarkan atas pertimbangan: 1) Sungai Kamal merupakan salah satu sungai yang bermuara ke Teluk Jakarta. Aktivitas pembangunan yang terkait dengan perairan pantai terus meningkat dari tahun ke tahun; 2) Perairan Kamal Muara masih digunakan untuk kegiatan perikanan khususnya budidaya kerang hijau sejak tahun 1983. Waktu penelitian yaitu selama 3 bulan yaitu pada bulan Agustus - Oktober 2008.Pengambilan contoh dilakukan di 3 stasiun yang dipilih atas dasar jenis aktifitas-aktifitas disekitarnya yang dapat menimbulkan pencemaran. Waktu penelitian yaitu selama 3 bulan yaitu pada bulan Agustus - Oktober 2008. Penentuan stasiun tersebut adalah sebagai berikut: (a) Stasiun 1: yaitu terletak di hulu Sungai Kamal yaitu sodetan sungai Cisadane ditentukan 2 substasiun, (b) Stasiun 2: yaitu sepanjang Sungai Mookevart yang terdapat kegiatan industri, transportasi,pasar dan perumahan ditentukan 3 substasiun, (c) Stasiun 3: yaitu terletak di muara Sungai Kamal ditentukan 2 substasiun dan (d) Stasiun 4: yaitu terletak di Perairan Kamal yang digunakan untuk aktifitas perikanan ditentukan 6 substasiun. Parameter yang diukur ditentukan berdasarkan parameter limbah cair kota yaitu : suhu, salinitas, pH, chemical oxygen demand (COD), biological oxygen demand (BOD), ammonia, sulfida, fosfat, oksigen terlarut, logam timah hitam (Pb), kadmium (Cd) dan merkuri (Hg). Parameter biologi ditentukan keberadaan bakteri Fecal coli dan Coliform. Analisis kruskal-wallis (non parametrik) dilakukan terhadap data kandungan logam berat (Hg, Pb, Cd) untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar stasiun, apabila hasilnya menunjukkan berbeda nyata, maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda duncan. Untuk mengetahui bentuk dan

(5)

keeratan hubungan antara konsentrasi logam berat (Hg, Pb, Cd) pada air, sedimen, plankton dan jaringan kerang, dianalisis dengan analisis korelasi. Beban limbah yang masuk ke Perairan Kamal Muara adalah untuk COD sebesar 1450,78 ton/ bulan, BOD sebesar 624,13 ton/bulan, organik sebesar 868,49 ton/bulan, kekeruhan sebesar 516,24 ton/bulan, sulfida sebesar 58,57 ton/bulan, ammonia sebesar 78,63 ton/bulan, fosfat sebesar 6,87 ton/bulan, timah hitam 1,04 ton/bulan dan kadmium sebesar 0,21 ton/bulan, dengan indeks pencemaran tercemar berat dan sedang. Plankton dan kerang hijau telah terkontaminasi logam berat. Plankton mengandung kadmium sebesar 0,005 mg/kg - 0,042 mg/kg, sedangkan timah hitam sebesar 0,005 mg/kg - 0,096 mg/kg. Kerang hijau mengandung kadmium sebesar 0,001 mg/kg - 0,021 mg/kg, timah hitam sebesar 0,001 mg/kg – 0,188 mg/kg dan kandungan merkuri sebesar 0,0013 mg/kg - 0,0250 mg/kg. Persepsi masyarakat Kamal Muara tentang pencemaran yang terjadi di Kamal Muara adalah buruknya Perairan Kamal Muara merupakan suatu masalah untuk mereka dan mengakibatkan penurunan pendapatan sebesar 50%.

(6)

@ Hak Cipta milik Institut Pertanian Bogor, Tahun 2009

Hak Cipta dilindungi Undang-undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah

b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar bagi IPB

2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB

(7)

STUDI KETERKAITAN BEBAN LIMBAH TERHADAP

KUALITAS PERAIRAN

(STUDI KASUS : KAMAL MUARA)

HELMA DAHLIA

Tesis

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Master Sains PadaProgram Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan

SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(8)

BOGOR 2009

Judul : Studi Keterkaitan Beban Limbah Terhadap Kualitas Perairan (Studi Kasus Kamal Muara)

Nama : Helma Dahlia

NRP : P051064114

Program Studi : Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL)

Menyetujui, Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Etty Riani H., MS Ketua

Dr. Ir. Isdradjad Setyabudiandi., M.Sc Anggota

Mengetahui,

Ketua Program Studi PSL

Prof. Dr. Ir. Surjono H. Sutjahjo, MS

Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof. Dr.Ir. Khairil A. Notodiputro, MS

(9)

PRAKATA

Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala karunia dan nikmat yang telah diberikan sehingga penulis bisa menyelesaikan penyusunan tesis ini yang berjudul Studi Keterkaitan Beban Limbah Terhadap Kualitas Perairan (Studi Kasus Perairan Kamal, Jakarta)

Dengan terselesaikannya tesis ini, ijinkanlah penulis untuk menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada :

1. Dr. Ir. Etty Riani, MS selaku ketua komisi pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan selama berlangsungnya penelitian dan penyusunan tesis ini, tetapi juga memberikan dorongan dan motivasi pada penulis untuk segera menyelesaikan studi.

2. Dr. Ir. Isdradjad Setyabudiandi, M.Sc selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyempurnaan isi tesis ini.

3. Dekan Sekolah Pascasarjana IPB beserta staf yang telah bekerja dengan baik dalam segala pelayanan administrasi selama penulis menjadi mahasiswa. 4. Ketua Program Studi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan (PSL)

beserta staf dosen dan pegawai dalam memberikan pelayanan administrasi sehingga penulis dapat menyelesaikan studi.

5. Dr. Ir. Sulistiono, M.Sc selaku penguji luar yang berkenan memberikan masukan dan saran untuk perbaikan tesis ini.

6. PEMDA DKI Jakarta melalui DIKLAT Prov. DKI Jakarta yang telah memberikan beasiswa tugas belajar sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan tesis.

7. Redjani Kartoatmodjo, S.P, M. Si dan Ir. R. Una Rusmana, MM selaku Kepala BPMPHPK DKI Jakarta yang banyak memberikan dukungan moril dan motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.

8. Sri Haryati, S.Pi, M.Si selaku Kepala Seksi Pengujian BPMPHPK DKI Jakarta yang banyak memberikan dukungan moril, materil dan buku-buku dalam memperkaya penulisan tesis ini.

(10)

9. Kedua orang tua Papa, Mama dan adik-adik Fifi, Isra, Dedi, Rina juga keponakan tercinta Ara yang telah banyak memberikan dukungan materi maupun moril serta doa hingga terselesainya tesis ini.

10. Suami tercinta yang dengan sabar banyak membantu dan memotivasi hingga terselesainya tesis ini.

11. Adi Purwanto ST, sobat setia yang banyak membantu dalam penyusunan dan penulisan tesis ini.

12. Teman-teman PSL kelas khusus angkatan 2007, atas support dan motivasi hingga terselesainya tesis ini.

13. Aryo, Ahmad, Yusup, Adrian dan Desti yang banyak membantu dalam sampling, penambahan koleksi jurnal dan penyusunan tesis.

14. Teman-teman Seksi Pengujian BPMPHPK DKI Jakarta yang telah memberikan support dan motivasi untuk penyelesaian tesis ini.

15. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah mendukung terselesaikannya tesis ini.

Semoga Allah SWT membalas dan mencatat kebaikan yang telah dilakukan sebagai amal baik, Amin.

Penulis sangat menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis mohon kritik dan saran yang membangun bagi tesis ini. Terakhir penulis berharap semoga buah pikiran yan sedikit ini dapat memberikan manfaat.

Bogor, Januari 2009

(11)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 16 Maret 1974 dari ayah Z. Helmy dan ibu Dahniar Nurdin. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.

Pada Tahun 1986 penulis lulus dari SDN 13 petang, tahun 1989 lulus dari SMPN 25, tahun 1993 penulis lulus dari Sekolah Analis Kimia Menengah Atas (SAKMA) Caraka Nusantara. Pendidikan sarjana ditempuh di jurusan Teknik Manajemen Industri Fakultas Teknik Industri Universitas Persada Indonesia YAI, dan lulus pada tahun 2004. Pada tahun 2007 penulis melanjutkan pendidikan di Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Sekolah Pasca SarjanaInstitut Pertanian Bogor melalui beasiswa dari PEMDA DKI Jakarta.

Sejak tahun 1993 sampai saat ini, penulis bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Balai Pengujian Mutu dan Pengolahan Hasil Perikanan dan Kelautan Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta.

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... i

DAFTAR GAMBAR ... iii

DAFTAR LAMPIRAN ... iv I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Perumusan Masalah ... 3 1.3 Kerangka Pemikiran ... 4 1.4 Tujuan Penelitian ... 7 1.5 Manfaat Penelitian ... 7

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian ... 8

2.2 Wilayah Pesisir ... 9

2.3 Sungai ... 10

2.4 Pencemaran ... 11

2.5 Sumber Pencemaran Teluk Jakarta ... 14

2.6 Beban Pencemaran ... 16

2.7 Fitoplankton ... 17

2.8 Persepsi Masyarakat ... 18

2.8.1 Penertian Persepsi ... 18

2.8.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi Masyarakat 20

III. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu penelitian ... 24

3.2 Metode Pengumpulan Data ... 25

3.2.1 Penentuan Stasiun Pengamatan, Parameter Fisika, kimia dan Biologi yang Diukur ... 26

3.2.2 Tekhnik Pengambilan Contoh Air, Sedimen, Kerang Hijau, dan Spesimen Fitoplankton serta Pengukuran Fisika, Kimia ... 26

3.2.3 Sumber dan Beban Limbah Pencemaran ... 28

3.2.4 Persepsi Masyarakat ... 28

3.3 Analisis data ... 28

3.3.1 Parameter fisika dan kimia Perairan pantai ... 29

3.3.2 Sumber dan Beban Limbah, serta Tingkat Pencemaran Perairan ... 29

(13)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kualitas Fisik dan Kimia Perairan Kamal Muara ... 33

4.1.1 Suhu ... 33

4.1.2 pH ... 35

4.1.3 Kekeruhan ... 37

4.1.4 Oksigen Terlarut (DO) ... 38

4.1.5 Chemical oxygen demand (COD) ... 40

4.1.6 Biologycal oxygen demand (BOD) ... 42

4.1.7 Bahan Organik ... 43

4.1.8 Fosfat ... 44

4.1.9 Ammonia ... 46

4.1.10 Sulfida ... 48

4.2 Penentuan Indeks Pencemaran ... 49

4.3 Beban Pencemar ... 52

4.4 Pengukuran LogamBerat (Hg, Pb, Cd) di Perairan Kamal Muara ... 57

4.4.1 Pengukuran Kualitas Perairan di Hulu Sungai Mookevart 58 4.4.2 Pengukuran Kualitas Perairan di Sungai Mookevart ... 63

4.4.3 Pengukuran Kualitas Perairan Muara Sungai Kamal ... 69

4.4.4 Pengukuran Kualitas Perairan Kamal Muara ... 73

4.4.5 Penentuan Kualitas Biota (Kerang Hijau) ... 80

4.4.6 Hubungan Kandungan Logam Berat dalam Kerang Hijau Dengan Air, Sedimen, dan Plankton di Perairan Kamal Muara ... 83

4.5 Persepsi Responden terhadap Perairan Kamal Muara ... 87

V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 91

5.2 Saran ... 92

(14)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Beberapa jenis pencemar dan sumbernya ... 12

2. Parameter kualitas air yang diteliti serta metode analisa dan pengukurannya ... 27

3. Suhu perairan di lokasi penelitian pada bulan Agustus, 4. September dan Oktober ... 33

5. pH perairan Kamal Muara ... 35

6. Kekeruhan di Perairan Kamal Muara ... 37

7. Konsentrasi oksigen terlarut (DO) perairan Kamal Muara ... 39

8. Konsentrasi COD perairan Kamal Muara ... 41

9. Konsentrasi BOD perairan Kamal Muara ... 42

10. Konsentrasi bahan organik pada Perairan Kamal Muara ... 44

11. Konsentrasi Fosfat perairan di Kamal Muara ... 45

12. Konsentrasi ammonia di Perairan Kamal Muara ... 47

13. Konsentrasi sulfida di Perairan Kamal Muara ... 49

14. Nilai indeks pencemar (IP) air sungai dan kategorinya ... 50

15. Indeks pencemaran di Sungai Mookevart ... 50

16. Debit air Sungai Mookevart ... 53

17. Beban limbah rata-rata dari bulan Agustus 2008 – Oktober 2008 ... 55

18. Perbandingan beban limbah tahun 2006 dengan tahun 2008 .... 57

19. Pengukuran Rerata Logam Berat Cd, Pb, Hg di Perairan Kamal Muara ... 58

20. Konsentrasi logam berat pada plankton yang terdapat di hulu Sungai Mookevart ... 60

21. Konsentrasi logam berat dalam sedimen yang terdapat di hulu Sungai Mookevart ... 60

22. Hasil pengujian air di hulu Sungai Mookevart ... 62

23. Konsentrasi logam berat dalam plankton di Sungai Mookevart 65

24. Konsentrasi logam berat dalam sedimen di Sungai Mookevart 65

(15)

26. Konsentrasi logam berat dalam plankton di Muara Sungai ... 70 27. Konsentrasi logam berat dalam air di muara sungai ... 70 28. Konsentrasi logam berat dalam sedimen di Muara Sungai ... 72 29. Konsentrasi logam berat dalam plankton di Perairan Kamal

Muara ... 74 30. Konsentrasi logam berat dalam sedimen di Perairan Kamal

Muara ... 76 31. Konsentrasi logam berat dalam air di Perairan Kamal Muara ... 79 32. Konsentrasi logam berat dalam kerang hijau di Perairan Kamal

Muara ... 81 33. Korelasi logam berat dalam kerang hijau dengan air, sedimen

danplankton ... 86 34. Responden penelitian (dirinci menurut kelompoknya) ... 87 35. Persepsi responden terhadap Perairan Kamal Muara ... 88 36. Rangkuman kualitas Perairan Kamal Muara

(16)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Kerangka pemikiran ... 6

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap Air Sungai (Harianto, 2004) ... 23

3. Lokasi penelitian ... 24

4. Lokasi hulu Sungai Kamal ... 25

5. Pernyataan indeks untuk suatu peruntukan (j) ... 31

6. Suhu perairan di lokasi penelitian pada bulan Agustus, September dan Oktober ... 34

7. pH perairan Kamal Muara ... 35

8. Kekeruhan di Perairan Kamal Muara ... 37

9. Konsentrasi oksigen terlarut (DO) perairan Kamal Muara ... 39

10. Konsentrasi COD perairan Kamal Muara ... 41

11. Konsentrasi BOD perairan Kamal Muara ... 43

12. Konsentrasi bahan organik pada Perairan Kamal Muara ... 44

13. Konsentrasi Fosfat dilokasi penelitian ... 45

14. Konsentrasi ammonia di Perairan Kamal Muara ... 47

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman 1. Analisis Kruskal-Wallis Timah Hitam dalam Air, Sedimen

dan Plankton ... 97 2. Uji Jarak Berganda Duncan Timah Hitam dalam Air, Sedimen

Dan Plankton ... 98 3. Analisis Kruskal-Wallis Kadmium dalam Air, Sedimen dan

Plankton ... 99 3. Uji Jarak Berganda Duncan Kadmium dalam Air, Sedimen

dan Plankton ... 100 4. Analisis Kruskal-Wallis Merkuri dalam Air, Sedimen dan

Plankton ... 101 5. Analisis Uji Jarak Berganda Duncan Kandungan Merkuri dalam

Air, Plankton dan Sedimen ... 102 6. Analisis Kruskal-Wallis Merkuri dalam Sedimen dan Plankton

pada Hulu Sungai Mookevart ... 103 7. Analisis Kruskal-Wallis Timah Hitam dalam Air, Sedimen dan

Plankton pada Hulu Sungai Mookevart ... 104 8. Analisis Kruskal-Wallis Kadmium dalam Air, Sedimen dan

Plankton pada Hulu Sungai Mookevart ... 105 9. Analisis Kruskal-Wallis Timah Hitam dalam Air, Sedimen dan

Plankton pada Sungai Mookevart ... 106 10. Uji Jarak Berganda Duncan Timah Hitam dalam Sedimen pada

Sungai Mookevart ... 107 11. Analisis Kruskal-Wallis Kadmium dalam Air, Sedimen dan

Plankton pada Sungai Mookevart ... 108 12. Uji Jarak Berganda Duncan Kadmium dalam Air dan Sedimen

pada Sungai Mookevart ... 109 13. Analisis Kruskal-Wallis Merkuri dalam Air dan Sedimen pada

Muara Sungai Kamal ... 110 14. Analisis Kruskal-Wallis Timah Hitam dalam Air, Sedimen dan

(18)

15. Analisis Kruskal-Wallis Kadmium dalam Air, Sedimen dan

Plankton pada Muara Sungai Kamal ... 112 16. Analisis Kruskal-Wallis Merkuri dalam Sedimen, Air dan

Kerang pada Perairan Kamal Muara ... 113 17. Analisis Kruskal-Wallis Timah Hitam dalam Sedimen, Air,

Plankton dan Kerang pada Perairan Kamal Muara ... 114 18. Analisis Kruskal-Wallis Kadmium dalam Sedimen, Air,

Plankton dan Kerang pada Perairan Kamal Muara ... 116 19. Korelasi Kandungan Timah Hitam dalam Kerang Hijau dengan

Air ... 118 20. Korelasi Kandungan Timah Hitam dalam Kerang Hijau dengan

Sedimen ... 119 21. Korelasi Kandungan Timah Hitam dalam Kerang Hijau dengan

Plankton ... 120 22. Korelasi Kandungan Kadmium dalam Kerang Hijau dengan Air 121 23. Korelasi Kandungan Kadmium dalam Kerang Hijau dengan

Sedimen ... 122 24. Korelasi Kandungan Kadmium dalam Kerang Hijau dengan

Plankton ... 123 25. Korelasi Kandungan Merkuri dalam Kerang Hijau dengan Air 124 26. Korelasi Kandungan Merkuri dalam Kerang Hijau dengan

Sedimen ... 125 27. Kuisioner ... 126

(19)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Teluk Jakarta terletak di pantai utara jawa yang sebagian wilayahnya adalah termasuk wilayah DKI Jakarta. Teluk Jakarta dibatasi oleh dua buah tanjung yaitu Tanjung Karawang di sebelah timur dan Tanjung Kait di sebelah Barat. Perairan Teluk Jakarta banyak memberikan kontribusi dalam menunjang kehidupan penduduk Jakarta antara lain sebagai areal tambak, kompleks nelayan, PLTU, daerah wisata dan rekreasi, pelabuhan, permukiman, transportasi dan sebagainya. Pada Teluk Jakarta juga bermuara sekitar 13 sungai yang melewati Jabotabek. Tetapi di samping itu, teluk ini juga berfungsi sebagai tempat akhir pembuangan berbagai bahan buangan yang datang dari darat ataupun dari hasil kegiatan di laut. Adanya berbagai macam tekanan terhadap lingkungan perairan, menyebabkan kondisi perairan Teluk Jakarta mengalami kemunduran sepanjang tahun. Dengan beragamnya aktivitas di sekitar teluk dan juga beban limbah yang terbawa sungai serta perubahan tata guna lahan di Teluk Jakarta, mengakibatkan kualitas lingkungannya berubah. Salah satunya adalah terjadinya perubahan kualitas air.

Sumber pencemaran air berasal dari efluen industri pengolahan atau limbah cair yang masuk ke dalam air dan buangan dari kegiatan domestik rumah tangga, kantor, hotel, restoran, tempat hiburan, pasar, pertokoan dan rumah sakit. Sumber industri pengolahan yang menjadi sumber pencemaran air adalah agroindustri (peternakan), industri pengolahan makanan, industri minuman, industri tekstil, industri kulit, industri kimia dasar, industri mineral non logam, industri logam dasar, industri hasil olahan logam, maupun industri listrik dan gas.

Masuknya bahan-bahan yang bersifat toksik ke suatu ekosistem akuatik akan menimbulkan perubahan yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup organisme yang ada didalamnya. Perubahan ini juga mempengaruhi fungsi dan kegunaan air laut menjadi tidak sesuai lagi dengan peruntukannya. Air yang tercemar tidak lagi bisa digunakan untuk kehidupan karena tidak memenuhi syarat kesehatan dan tidak bisa menjadi habitat biota akuatik yang aman.

(20)

Adapun penyebab dari terjadinya perubahan (pencemaran) pada kualitas perairan Teluk Jakarta adalah laut seringkali dijadikan sebagai lokasi pembuangan akhir dari berbagai sisa aktivitas manusia di daratan, seperti pembuangan sampah (limbah padat) baik yang berasal dari rumah tangga, perkotaan atau dari kegiatan lainnya. Selain tempat pembuangan sampah, laut juga merupakan tempat bermuaranya limbah cair dari berbagai kegiatan yang sengaja dibuang ke dalam ekosistem perairan. Namun demikian diantara berbagai limbah tersebut, jenis polutan yang saat ini cukup ditakuti oleh berbagai kalangan dan jumlahnya sudah cukup mengkhawatirkan adalah logam berat karena bersifat toksik.

Logam berat merupakan salah satu bahan pencemar yang berbahaya karena bersifat toksik jika dalam jumlah yang besar dan dapat mempengaruhi berbagai aspek dalam perairan baik aspek ekologis maupun aspek biologis. Logam-logam berat yang ada dalam badan perairan akan mengalami proses pengendapan dan terakumulasi dalam sedimen, kemudian terakumulasi dalam tubuh biota laut yang ada dalam perairan (termasuk kerang yang bersifat sessil dan sebagai bioindikator) baik melalui insang maupun melalui rantai makanan dan akhirnya akan sampai pada manusia. Fenonema ini dikenal sebagai bioakumulasi atau biomagnifikasi (Dahuri et al., 1996).

Logam berat yang masuk ke dalam lingkungan perairan laut (Teluk Jakarta) pada umumnya berasal dari kegiatan antropogenik yakni dari kegiatan industri, bahan bakar, rumah tangga (domestik), pertanian dan sebagainya. Logam berat ini selain akan mempengaruhi kualitas air sehingga mengakibatkan kondisi lingkungan tidak sesuai lagi peruntukannya, juga akan berpengaruh pada sumberdaya hayati perairan, karena logam berat bersifat akumulatif. Pengaruh tersebut ternyata tidak hanya berhenti sampai di situ, karena sumberdaya hayati perairan yang telah terkontaminasi logam berat ini pada akhirnya akan berakibat buruk pada kesehatan manusia yang mengkonsumsinya.

Pada suatu rantai makanan, satu jenis biota air yang pertama kali terkontaminasi logam berat dari perairan adalah fitoplankton yang hidup pada lapisan permukaan air. Sebagai mata rantai pertama pada rantai makanan, keberadaan fitoplankton sangat mempengaruhi kehidupan di perairan karena

(21)

memegang peranan sangat penting sebagai makanan bagi berbagai organisme laut. Namun adanya kontaminasi logam berat pada air akan menyebabkan terkontaminasinya fitoplankton yang hidup di dalamnya.

Selama ini telah banyak dilakukan penelitian logam berat di perairan Teluk Jakarta dan penelitian terhadap plankton yang ada di dalamnya, namun penelitian mengenai beban pencemaran limbah industri di perairan Teluk Jakarta serta kontaminasi logam berat pada plankton dan kerang hijau serta persepsi masyarakat terhadap kejadian pencemaran di Teluk Jakarta belum pernah dilakukan. Untuk itu maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian keterkaitan beban limbah terhadap kualitas perairan dan kontaminasi logam berat dari limbah tersebut pada tubuh fitoplankton yang ada di Teluk Jakarta serta persepsi dari masyarakat terhadap pencemaran yang terjadi di Teluk Jakarta.

1.2. Perumusan Masalah

Perairan Teluk Jakarta yang dikategorikan sebagai perairan pantai (coastal water) mempunyai peranan yang sangat besar dalam kehidupan karena berbagai sektor telah memanfaatkan wilayah ini, antara lain sektor industri, pertambangan, perhubungan, pertanian, dan pariwisata. Kegiatan berbagai sektor yang sedemikian banyak dan relatif sulit dikendalikan ini pada akhirnya akan menurunkan tingkat kualitas perairannya. Selain hal tersebut di atas, Teluk Jakarta yang merupakan tempat bermuaranya beberapa sungai yang melewati kota Jakarta, juga akan semakin memperbesar tekanan terhadap ekosistem perairan tersebut.

Adanya 13 muara sungai yang membawa limbahnya baik dari pembuangan sampah, industri maupun rumah tangga serta kegiatan lainnya, menyebabkan perairan Teluk Jakarta mempunyai karakteristik yang khusus dan perairan ini menerima beban pencemaran yang cukup berat. Di lain pihak Teluk Jakarta juga merupakan tempat bagi nelayan melakukan kegiatan penangkapan ikan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat di Provinsi DKI Jakarta.

Berdasarkan hal tersebut diatas maka Pemda Provinsi DKI Jakarta telah menerbitkan berbagai kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas

(22)

perairan Teluk Jakarta. Adapun upaya-upaya yang telah dilaksanakan untuk memperbaiki mutu perairan Teluk Jakarta antara lain adalah program Kali Bersih yang bertujuan untuk mengendalikan beban pencemaran dari kegiatan di sepanjang DPS Ciliwung, Cipinang, Mookevart, Cakung dan Grogol.

Namun adanya kebijakan tersebut masih belum dapat merubah kualitas perairan secara nyata terutama di muara Teluk Jakarta baik pada kondisi pasang maupun surut bila dibanding tahun sebelumnya (kondisinya semakin memburuk). Namun demikian di wilayah laut cukup menggembirakan, dalam hal ini terjadi peningkatan kualitas air laut yang tercermin dari nilai Indeks Pencemaran, pada tahun 2006 mengalami penurunan pencemaran, yakni lokasi yang tercemar berat 42%, tercemar sedang 40% dan tercemar ringan 18%, meningkat dari tahun 2005 yakni persentase tercemar berat 43%, dan tercemar sedang 57% (BPLHD, 2006).

Adanya kondisi yang lebih baik dan lebih buruk ini sayangnya tidak didukung data yang memadai, karena data tersebut hanya diambil dari data pemantauan pada waktu tertentu saja; sedangkan data beban pencemaran dan besarnya kontaminasi pada biota yang ada di dalamnya masih minim. Berdasarkan kondisi di atas maka diperlukan studi mengenai beban limbah industri dan rumah tangga terhadap kualitas perairan, khususnya perairan sungai kamal dan muara kamal, studi mengenai kontaminasinya pada biota air, terutama plankton serta studi mengenai persepsi dari masyarakat sekitar perairan Teluk Jakarta (terutama di lokasi Kamal Muara) terhadap pencemaran yang terjadi di Teluk Jakarta. Dengan demikian perumusan masalah dalam penelitian studi keterkaitan beban limbah terhadap kualitas perairan di Kamal Muara:

1. Pengaruh beban limbah yang dihasilkan oleh industri dan rumah tangga terhadap kualitas perairan.

2. Kontaminasi limbah (logam berat) tersebut terhadap biota air (plankton). 3. Persepsi masyarakat terhadap pencemaran yang terjadi di perairan Teluk

(23)

1.3. Kerangka Pemikiran

Perairan Teluk Jakarta mempunyai arti penting karena peranannya sebagai medium perhubungan laut, sumber perikanan, pariwisata dan rekreasi. Tetapi disamping itu teluk ini juga berfungsi sebagai tempat akhir pembuangan berbagai macam bahan buangan yang datang dari darat maupun dari hasil kegiatan di laut. Adanya berbagai macam tekanan terhadap lingkungan perairan, menyebabkan kondisi perairan Teluk Jakarta mengalami kemunduran sepanjang tahun, sementara itu perairan Teluk Jakarta juga masih digunakan untuk kegiatan perikanan lainnya khususnya budidaya kerang hijau.

Indikator yang menunjukkan bahwa kawasan Teluk Jakarta telah tercemar pernah dilaporkan oleh sejumlah peneliti diantaranya Mulyono (2000) yang dari hasil kajiannya menyatakan bahwa ditemukan jenis ikan seperti tongkol, kakap, bawal, dan baronang mengandung timah hitam melebihi batas maksimum yang telah ditentukan. Suharsono (2005) menemukan konsentrasi timah hitam pada sedimen Teluk Jakarta mencapai 27,6 mg/kg – 70 mg/kg. Bahkan Waluyo (2005) melaporkan indikasi terjadinya pencemaran di Teluk Jakarta dapat dilihat dari produksi ikan tangkap yang turun dari 28,526 ton pada tahun 1999 menjadi 17,829 ton pada tahun 2002. Mezuan (2007) menemukan bahwa beberapa parameter kualitas perairan Marina telah melampaui baku mutu Kep.Men LH No. 51 tahun 2004 dan UNESCO/WHO/UNEP tentang baku mutu air laut untuk organisme aquatik seperti parameter kecerahan, kekeruhan, COD, amonia, nitrat, fosfat, timah hitam dan kadmium. Dengan beban pencemar tertinggi yang masuk ke perairan Marina mencapai 4582,176 ton/bulan untuk parameter COD dan 297,929 ton/bulan untuk parameter TSS.

Nemerow (1991) memaparkan bahwa polutan yang masuk ke perairan laut akan mengalami dispersi/penyebaran, pengenceran dan pengendapan sebagai mekanisme alamiah dalam merespon bahan asing yang masuk atau memulihkan diri terhadap pencemar. Proses penyebaran, pengenceran atau pencampuran dan pengendapan dipengaruhi sejumlah faktor seperti angin, morfologi perairan, arus, konsentrasi oksigen dan faktor lainnya. Untuk lebih jelasnya, kerangka pemikiran ini dapat dilihat pada Gambar 1.

(24)

Gambar 1. Kerangka pemikiran Keterangan : BP = Bahan Pencemar

BM = Baku Mutu tidak ya Sumber pencemar Jenis bahan pencemar Jumlah bahan pencemar Dinamika perairan Morfologi perairan Penyusunan strategi pengelolaan kualitas perairan Kualitas Perairan Status pencemaran Perairan

Dampak yang terjadi : Ekologi Ekonomi Sosial

BP > BM

Baku mutu yang berlaku Beban

(25)

1.4. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mendapatkan beban limbah yang dihasilkan oleh industri dan rumah tangga di perairan Teluk Jakarta (Kamal Muara).

2. Mendapatkan informasi tentang kontaminasi limbah (logam berat) pada biota air (plankton dan kerang hijau).

3. Mendapatkan gambaran persepsi masyarakat terhadap pencemaran yang terjadi di perairan Teluk Jakarta (Kamal Muara).

1.5. Manfaat Penelitian

Manfaat yang didapat dari penelitian ini adalah:

1. Sebagai informasi bagi masyarakat mengenai kondisi perairan di Kamal Muara.

2. Sebagai informasi bagi stakeholder sebagai penentu kebijakan dalam melakukan pengawasan terhadap industri-industri di sekitar Sungai Kamal yang menghasilkan limbah.

3. Sebagai informasi bagi pemerintah daerah untuk melakukan program monitoring perairan Teluk Jakarta.

(26)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Gambaran Umum Daerah Penelitian

Perairan Teluk Jakarta membentang dari timur ke barat sepanjang ± 35 km. Batas timur adalah Perairan Marunda yang berbatasan dengan Tanjung Gembong Bekasi. Batas barat adalah Perairan Kamal yang berbatasan dengan Perairan Dadap Tangerang. Empat (4) sungai besar dan sembilan (9) sungai sedang dengan luas daerah aliran sungai 5.325.020 m2 bermuara di Teluk Jakarta (Kusriyanto, 2002). Di Perairan Kamal terdapat muara Sungai Kamal yang merupakan sambungan sistem aliran Sungai Mookervat, sedangkan Sungai Mookervat merupakan sodetan dari Sungai Cisadane–Tangerang (Fitriati, 2004).

Kelurahan Kamal Muara merupakan salah satu kelurahan yang ada di wilayah Kecamatan Penjaringan, Kotamadya Jakarta Utara. Kelurahan Kamal Muara memiliki luas wilayah 10,53 km2, dengan batas wilayah:

- Sebelah utara berbatasan dengan pantai utara Laut Jawa.

- Sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Dadap (Tangerang – Banten).

- Sebelah selatan berbatasan dengan Jalan Kapuk Kamal (Kelurahan Kamal Barat, Tegal Alur dan Kapuk).

- Sebelah timur berbatasan dengan Kali Cengkareng.

Kelurahan Kamal Muara yang termasuk dalam wilayah Jakarta Utara merupakan daerah pantai beriklim panas, dengan suhu rata-rata 27°C, curah hujan setiap tahunnya rata-rata 152,54 mm.

Kelurahan Kamal Muara terdiri dari empat (4) Rukun Warga (RW), dan RW 1 dan 4 merupakan daerah perumahan dan lokasi budidaya kerang hijau. Sebagian besar penduduk Kamal Muara mempunyai mata pencaharian di sektor perikanan yaitu sebagai nelayan sebanyak 8.018 orang, pembudidaya kerang hijau 352 orang serta pengolah (kerang, ikan rebon dan terasi) sebanyak 775 orang (Sudin Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kotamadya Jakarta Utara, 2006). Sedangkan RW 2 dan 3 digunakan sebagai kawasan industri seperti galvanisir, pengecoran logam, garmen, farmasi dan lain-lain.

(27)

Perairan Kamal Muara memiliki arus yang disebabkan oleh adanya kondisi pasang surut yang lebih banyak terjadi di perairan pantai dan teluk (Arief, 2002). Dasar perairan di wilayah ini terdiri atas lumpur, sehingga sangat cocok untuk lokasi pemasangan alat tangkap sero. Kedalaman perairan tempat pemasangan sero bervariasi mulai dari 3 m, 10 m hingga 15 m. Arus di Perairan Kamal Muara disebabkan oleh angin dan pengaruh pasang surut. Kecepatan arus di perairan ini berkisar antara 0,25 m/det - 0,50 m/det.

2.2. Wilayah Pesisir

Definisi wilayah pesisir menurut Dahuri (2001) adalah daerah pertemuan antara darat dan laut; kearah darat wilayah pesisir meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang, surut, angin laut dan perembesan air asin, sedangkan kearah laut wilayah pesisir mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi didarat seperti sedimentasi dan aliran air tawar maupun yang disebabkan kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran.

Dalam konteks pengelolaan definisi wilayah pesisir perlu diperluas hingga lebih jauh kearah hulu dan lebih jauh kearah laut. Hal ini disebabkan kawasan pesisir tidak berdiri sendiri, dan sangat dipengaruhi oleh berbagai kegiatan manusia dan proses alami didaerah hulu. Proses penggundulan hutan dan erosi sungai dikawasan hulu daerah aliran sungai (DAS) akan berpengaruh hingga wilayah pesisir. Kegiatan manusia dilaut lepas pengaruhnya dapat mencapai wilayah pesisir. Saat ini, dengan tingginya intensitas kegiatan manusia dihampir seluruh wilayah, pengelolaan wilayah pesisir tidak dapat dilakukan secara parsial tanpa melibatkan pengelolaan kawasan hulu dan laut lepas.

Perairan pesisir merupakan daerah yang kaya unsur hara. Karena kaya akan unsur hara dan jasad renik makanan alami, maka daerah ini merupakan daerah pengasuhan (nursery ground) dan daerah tempat mencari makan (feeding ground) bagi berbagai jenis biota laut seperti ikan, kerang dan udang. Ekosistem pesisir sangat sensitif terhadap gejala perubahan dan faktor yang dapat menimbulkan kerusakan ekosistem tersebut. Ini tidak lain karena daerah tersebut

(28)

merupakan terminal dari daerah aliran sungai (DAS) sebagai sumber pasok bermacam-macam limbah yang dibawa dari hulu melalui aliran sungai ke daerah hilir. Perairan di wilayah pesisir sering dianggap sebagai lokasi pendingin (power generation plants) bagi industri (Cincin-Sain,1998).

Dilihat dari kondisi geografi dan topografi alamnya, lingkungan pesisir berhubungan erat dengan lingkungan DAS dan terletak dibagian paling bawah (hilir) zona tersebut. Karena itu perubahan apa saja yang terjadi di DAS akan langsung berpengaruh pada ekosistem estuarin (Kordi, Et al., 2005).

Dari sekian banyak penyebab kerusakan lingkungan laut dan pesisir, pencemaran merupakan faktor yang paling penting (Dahuri, 1998). Pencemaran tidak saja dapat merusak atau mematikan komponen biotic (biota) perairan, tetapi juga dapat membahayakan kesehatan atau bahkan mematikan manusia yang memanfaatkan biota atau perairan tercemar. Selain itu pencemaran juga bisa menurunkan nilai estetika perairan laut dan pesisir yang terkena. The World Resources Institute (WRI, 1992) mempublikasikan kembali data dari artikel yang terdapat di Nature April 1991, yang memperlihatkan hubungan yang jelas antara peningkatan jumlah penduduk dengan peningkatan pencemaran pada empat puluh dua sub bagian utama.

2.3. Sungai

Sungai merupakan daerah yang dilalui badan air yang bergerak dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah dan melalui permukaan atau bawah tanah. Karena itu, dikenal istilah sungai dan sungai bawah tanah. Berdasarkan sifat badan air, tanah dan populasi biota air, sebuah sungai dapat dibedakan menjadi hulu, hilir dan muara.

Sungai bagian hulu dicirikan dengan badan sungai yang dangkal dan sempit, tebing curam dan tinggi, berair jernih dan mengalir cepat serta mempunyai populasi (jenis maupun jumlah) biota air sedikit. Sungai bagian hilir umumnya lebih lebar, tebingnya curam atau landai, badan air dalam, keruh, aliran air lambat, dan populasi biota air di dalamnya termasuk banyak, tetapi jenisnya kurang bervariasi.

(29)

Muara adalah bagian sungai yang berbatasan dengan laut. Di bagian sungai ini mempunyai tebing landai dan dangkal, badan air dalam, keruh serta mengalir lambat. Pada saat air laut pasang, air sungai mengalir ke hulu. Air di muara bersifat tawar sampai payau. Ketinggian permukaan badan air sangat dipengaruhi oleh pasang dan surutnya air laut. Populasi (jenis maupun jumlah) biota air relatif banyak, karena beberapa jenis ikan laut dapat masuk ke muara sungai, seperti bandeng, kakap putih, sumpit/tatabola, baronang, belanak, dan golila/terapon (Kordi, et al., 2005).

2.4. Pencemaran

Pencemaran secara umum didefinisikan sebagai kondisi berkurangnya nilai guna sebuah perairan yang diakibatkan oleh masuknya bahan ke perairan merupakan masalah serius yang perlu ditindaklanjuti pemecahan dan penanganannya. Pencemaran bahan organik yang menyebabkan terjadinya peningkatan konsentrasi unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman didalam air memiliki dua sisi. Satu sisi adalah sisi positif, yaitu berupa terjadinya peningkatan kesuburan perairan yang berarti pula peningkatan potensi guna perairan. Disisi lain, yang merupakan sisi negatif yaitu peningkatan kesuburan perairan ini menyebabkan berbagai akibat negatif bagi ekosistem perairan dan memerlukan penanganan yang serius (Damar, 2004).

Sumber pencemar (polutan) dapat berupa suatu lokasi tertentu (point source) atau tak tentu/tersebar (non point/diffuse source). Sumber pencemar point source misalnya knalpot mobil, cerobong asap pabrik, dan saluran limbah industri. Pencemar yang berasal dari point source bersifat lokal. Efek yang ditimbulkan dapat ditentukan berdasarkan karakteristik spasial kualitas air. Volume pencemar dari point source biasanya relatif tetap. Kualitas air sungai merupakan indikator kondisi sungai apakah masih dalam keadaan baik atau tercemar. Pencemaran sungai didefinisikan sebagai perubahan kualitas suatu perairan akibat kegiatan manusia, yang pada gilirannya akan mengganggu kehidupan manusia itu sendiri ataupun mahluk hidup lainnya (Kupchella dan Hyland, 1993 dalam Adibroto, 2001).

(30)

Sumber pencemar non-point source dapat berupa point source dalam jumlah yang banyak. Misalnya: limpasan dari daerah pertanian yang mengandung pestisida dan pupuk, limpasan dari daerah pemukiman (domestik), dan limpasan dari daerah perkotaan (Effendi, 2003). Davis dan Cornwell (1991) mengemukakan beberapa jenis pencemar dan sumbernya dalam Tabel 1.

Tabel 1. Beberapa jenis pencemar dan sumbernya

Jenis Pencemar

Sumber Tertentu (Point source)

Sumber Tak Tentu (Non Point source) Limbah Domestik Limbah Industri Limpasan Daerah Pertanian Limpasan Daerah Perkotaan 1. Limbah yang dapat

menurunkan kadar oksigen 2. Nutrien

3. Patogen 4. Sedimen 5. Garam-garam 6. Logam yang toksik

7. Bahan organik yang toksik 8. Pencemaran panas X X X X - - - - X X X X X X X X X X X X X - X - X X X X X X - - Sumber : Davis dan Cornwell, 1991

Perubahan kualitas air dapat disebabkan oleh zat pencemar sungai maupun senyawa yang masuk ke aliran sungai yang bergerak ke hilir bersama aliran air atau tersimpan didasar, berakumulasi (khususnya pada endapan) dan suatu saat dapat terjadi pencucian atau pengenceran. Senyawa tersebut, terutama yang beracun, berakumulasi dan menjadi suatu konsenterasi tertentu yang berbahaya bagi mata rantai kehidupan. Menurut Haslam (1992) dapat dibagi menjadi: 1. Organisme patogen (bakteri, virus, dan protozoa)

2. Zat hara tanaman (garam-garam nitrat dan fospat yang larut dalam air), yang berasal dari penguraian limbah organik jika berlebihan dapat mengakibatkan eutrofikasi.

3. Limbah organik biodegradable (limbah cair domestik, limbah pertanian, limbah peternakan, limbah rumah potong hewan, limbah industri) yang dalam proses dekomposisi oleh mikroorganisme (biasanya bakteri dan jamur untuk

(31)

kemudian menjadi zat-zat inorganik) memerlukan oksigen sehingga nilai BOD dari suatu badan air tinggi.

4. Bahan inorganik yang larut dalam air (asam, garam, logam berat, dan senyawa-senyawanya, anion, seperti sulfida, sulfit dan sianida).

5. Bahan-bahan kimia yang larut dan tidak larut (minyak, plastik, pestisida, pelarut, PCB, fenol, formaldehida, dan lain-lain). Zat-zat tersebut merupakan penyebab yang sangat beracun bahkan pada konsentrasi yang rendah (<1 ppm).

6. Zat-zat/bahan-bahan radioaktif.

7. Pencemaran thermal ; biasanya dalam bentuk limbah air panas yang berasal dari kegiatan suatu pembangkit tenaga. Pencemaran ini dapat mengakibatkan naiknya temperatur air, meningkatkan rasio dekomposisi dari limbah organik yang biodegradable dan mengurangi kapasitas air untuk menahan oksigen. 8. Sedimen (suspended solid); merupakan partikel yang tidak larut atau terlalu

besar untuk dapat segera larut. Kecenderungan sedimen untuk tinggal di dasar air tergantung pada ukurannya. Rasio aliran (flow rate) dan besarnya turbulensi yang ada pada suatu badan air. Partikel antara 1µm dan 1nm tetap dapat “melayang” dalam air, yang disebut colloidal solid dan air yang banyak mengandung colloidal solid terlihat seperti air susu. Jumlah sedimen mempengaruhi turbiditas air, dan kualitasnya mempengaruhi warna.

Logam berat merupakan bahan buangan yang sudah sering menimbulkan pencemaran laut atau pantai di negara-negara yang sedang berkembang. Diketahui ada 18 jenis logam berat yang dipertimbangkan sebagai bahan pencemar, namun ada beberapa dari logam dari logam tersebut yang esensial untuk kehidupan organisme, misalnya Mn, Fe dan Cu tetapi dalam jumlah berlebih sangat beracun bagi kehidupan organisme (Bryan dalam Rochayatun et al., 2005). Sumber limbah yang banyak mengandung logam berat biasanya berasal dari aktivitas industri, pertambangan, pertanian dan pemukiman. Konsentrasi logam berat dalam perairan dipengaruhi oleh parameter fisika dan kimia yaitu arus, suhu, salinitas, padatan tersuspensi dan derajat keasaman (pH).

Telah lama diketahui bahwa merkuri dan turunannya sangat beracun, sehingga kehadirannya dilingkungan perairan dapat mengakibatkan kerugian

(32)

pada manusia karena sifatnya yang mudah larut dan terikat dalam jaringan tubuh organisme air. Selain itu pencemaran perairan oleh merkuri mempunyai pengaruh terhadap ekosistem setempat yang disebabkan oleh sifatnya yang stabil dalam sedimen, kelarutannya yang rendah dalam air dan kemudahannya diserap dan kemudahannya diserap dan terkumpul dalam jaringan tubuh organisme air, baik melalui proses bioaccumulation maupun biomagnification yaitu melalui food chain. Dikatakan pula bahwa fluktuasi merkuri di lingkungan laut, terutama didaerah estuarin dan daerah pantai ditentukan oleh proses precification, sedimentation, floculation dan reaksi adsorpsi desorpsi. Akumulasi merkuri didalam tubuh hewan air yaitu fitoplankton (Chlorella sp), mussel (genus Vivipare) dan ikan herbivora Gyrinocheilus aymonieri (fam. Gyrinochelideae) karena up take rate merkuri oleh organisme air lebih cepat dibanding proses ekskresi (Sanusi, 1980).

Masalah pencemaran merupakan masalah besar sebagai salah satu dampak negatip dari kemajuan bidang industri dan domestik. Limbah industri jika tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan dampak bagi lingkungan terhadap manusia maupun organisme-organisme yang hidup disekitarnya. Bahan cemaran logam berat biasanya berasal dari kegiatan industri selain bersifat racun bagi organisme perairan, logam berat dapat terakumulasi dalam tubuh ikan, udang dan hasil laut lainnya. Hal ini akan berakibat membahayakan kesehatan manusia yang mengkonsumsi hasil-hasil laut tersebut.

Pencemaran logam berat terhadap alam lingkungan estuaria merupakan suatu proses yang erat hubungannya dengan penggunaan logam tersebut oleh manusia. Pada air laut dilautan lepas kontaminasi logam berat biasanya terjadi secara langsung dari atmosfer atau karena tumpahan minyak dari kapal-kapal tanker yang melaluinya, sedangkan didaerah sekitar pantai kontaminasi logam kebanyakn berasal dari mulut sungai yang terkontaminasi oleh limbah buangan industri atau pertambangan (Darmono, 1995).

Pada daerah-daerah perindustrian, sungai dan laut sekitarnya umumnya berangsur-angsur menerima tekanan terus menerus. Muara sungai umumnya

(33)

merupakan alur perjalanan bahan cemaran yang dibawa melalui sungai dari aktivitas didarat ke laut (Rochyatun et al., 2005).

2.5. Sumber Pencemaran Teluk Jakarta

Sutamihardja et al.,(1982) dalam tinjauannya mengenai pencemaran di Teluk Jakarta menjelaskan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan pencemaran di teluk ini, yang sebenarnya juga berlaku untuk semua lingkungan laut adalah: 1. Erosi dan sedimentasi. – Keadaan ini disebabkan oleh penggundulan hutan di

daerah hulu dan penambangan pasir di sungai-sungai.

2. Pertanian. – Pupuk kimiawi dan berbagai macam pestisida untuk intensifikasi pertanian. Residu dari bahan kimia ini lama-kelamaan akan masuk ke sungai dan ke laut.

3. Limbah kota. – Air yang tercemar yang berisi berbagai limbah kota mengalir melalui selokan-selokan ke sungai dan akhirnya ke laut. Tidak jarang kita jumpai di kota-kota besar sepanjang kedua sisi beberapa sungai yang digunakan untuk MCK, misalnya di Sungai Ciliwung. Sampah padat sudah menimbulkan masalah di kota-kota besar. Limbah padat ini dapat ditemukan di mana-mana, ditimbun di tanah lapang tak terpakai, membusuk, terlarut dan masuk ke selokan-selokan menuju ke sungai dan ke laut.

4. Minyak. – Minyak dapat mencemari lautan melalui dua cara, yakni, (a) sebagai hasil pemeliharaan bangunan di laut dan pecucian kapal dan (b) akibat kecelakaan kapal tangki. Di Selat Malaka dan Singapura telah terjadi 25 kecelakaan kapal tangki, tubrukan atau terkandas.

5. P L T U. – Pengoperasian PLTU memerlukan air pendingin yang diambil air laut. Setelah digunakan air pendingin akan dibuang sebagai limbah panas. Di Teluk Jakarta terdapat dua lokasi PLTU, yakni di Muara Karang dan di Tanjung Priok.

6. Industri. – Pencemaran oleh industri diakibatkan oleh beberapa faktor: a. Perencanaan kompleks industri yang tak teratur.

(34)

b. Perluasan kota yang masuk ke kawasan industri menyebabkan berbaurnya pemukiman dengan kompleks industri.

c. Tak tersedianya atau adanya pengolahan limbah yang tak sempurna.

d. Karena kondisi yang miskin, air digunakan untuk industri dan untuk keperluan rumah tangga.

e. Kesadaran akan bahaya limbah industri yang kurang atau tak ada.

f. Kemampuan pulih-diri sungai-sungai yang menerima limbah yang berbeda.

g. Musim kering yang mengakibatkan debit air sangat rendah.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh tim Japan Internasional Cooperation Agency (JICA), diperkirakan bahwa pada tahun 2010 nanti jumlah limbah cair industri khusus yang berasal dari DKI Jakarta saja akan mencapai 256.631 m3/hari dengan beban polusi 118.600 kg BOD/hari. Said (1997) menyatakan bahwa pencemaran yang disebabkan oleh adanya limbah domestik di DKI Jakarta telah berkembang hingga ke badan air (water body) yang diperuntukkan sebagai bahan baku air minum. Melihat perkembangan jumlah industri DKI Jakarta dan sekitarnya yang begitu pesat dan upaya untuk mengatasi pencemaran masih belum dilakukan secara efektif, maka diperkirakan pada tahun 2010 nanti akan terjadi pencemaran mencapai antara enam sampai dengan sembilan kali lipat dibandingkan pada awal dekade 1990. Akibatnya perubahan yang terjadi secara dinamis seperti perkembangan daerah pemukiman maupun industri yang membuang limbahnya ke sungai, akan sangat mempengaruhi kualitas Teluk Jakarta.

Masalah lain yang berkaitan dengan kualitas air di Teluk Jakarta pada saat ini, antara lain adalah terjadinya eutrofikasi yang merupakan eksplosi pertumbuhan ganggang secara besar-besaran yang sangat mempengaruhi kualitas produksi perikanan. Eutrofikasi ini dapat terjadi karena adanya dua hal utama yaitu: (a) beban (load) zat-zat pencemar yang dibawa oleh sungai-sungai yang langsung masuk ke perairan teluk, maupun lewat saluran-saluran

(35)

pembuangan (out full) dan (b) proses fisis, kimia dan biologis yang terjadi di perairan teluk (Mulyono, 2000).

2.6. Beban Pencemar

Beban pencemar didefinisikan sebagai jumlah total bahan pencemar yang masuk ke lingkungan dalam hal ini perairan baik langsung maupun tidak langsung, dalam kurun waktu tertentu. Beban pencemar berasal dari berbagai aktivitas manusia misalnya industri dan rumah tangga. Besarnya beban masukan limbah sangat tergantung dari aktivitas manusia di sekitar perairan dan di bagian hulu sungai yang mengalir ke arah laut (Suharsono, 2005).

Selain dipengaruhi oleh aktivitas di sekitar sungai, nilai beban pencemar juga sangat tergantung pada keadaan pasang dan surut. Pada kondisi pasang, beban masukan limbah kecil karena aliran sungai akan tertahan oleh peningkatan massa air di pantai, sedangkan pada saat surut beban masukan limbah ke kawasan pantai akan lebih besar, karena aliran sungai yang membawa bahan pencemar dapat masuk ke perairan estuaria atau pantai tanpa terhalang oleh massa air laut (Rafni, 2004).

Perhitungan beban pencemar dilakukan dengan mengalikan konsentrasi dengan aliran debit sungai dalam satuan waktu tertentu. Sebelumnya debit aliran sungai dapat diperoleh dengan mengalikan luas penampang aliran sungai dengan kecepatan aliran sungai (Mezuan, 2007).

2.7. Fitoplankton

Fitoplankton dan zooplankton yang hidup pada lapisan permukaan air memegang peranan penting dalam populasi ikan. Industri terbukti telah menyebabkan terjadinya pencemaran alga, baik di darat, air maupun udara. Pencemaran air dapat menyebabkan tumbuhnya ganggang yang berlebihan, terjadinya deoksigenasi air dan sebagai akibatnya populasi ikan menurun. Ketidakseimbangan alam ini terutama disebabkan oleh perbuatan manusia sendiri.

(36)

Fitoplankton sebagai tumbuhan yang mengandung pigmen klorofil mampu melaksanakan reaksi fotosintesis di mana air dan karbon dioksida dengan adanya sinar surya dan garam-garam hara dapat menghasilkan senyawa organik seperti karbohidrat.

Fitoplankton ada yang dapat tertangkap dengan jaring plankton, tetapi lebih banyak lagi yang sangat halus, lolos tak tertangkap. Fitoplankton yang sangat halus ini disebut nanoplankton, ukurannya kurang dari 20 µm, dan sangat rapuh hingga sulit diawetkan. Fitoplankton yang bisa tertangkap dengan jaring umumnya tergolong dalam tiga kelompok utama yakni diatom, Dinoflagellata dan alga biru (blue green algae). Di perairan Indonesia diatom paling sering ditemukan, baru kemudian Dinoflagellata. Alga biru jarang dijumpai, tetapi sekali muncul sering populasinya sangat besar.

Fitoplankton yang subur umumnya terdapat di perairan sekitar muara sungai atau di perairan lepas pantai di mana terjadi air naik (up welling). Di kedua lokasi itu terjadi proses penyuburan karena masuknya zat hara ke dalam lingkungan tersebut. Di depan muara sungai banyak zat hara datang dari daratan dan dialirkan oleh sungai ke laut, sedangkan di daerah air naik zat hara yang kaya terangkat dari lapisan lebih dalam ke arah permukaan.

Keberadaan fitoplankton sangat mempengaruhi kehidupan di perairan karena memegang peranan sangat penting sebagai makanan bagi berbagai organisme laut. Berubahnya fungsi perairan sering diakibatkan oleh adanya perubahan struktur dan nilai kuantitatif fitoplankton. Perubahan ini disebabkan oleh faktor-faktor yang berasal dari alam maupun dari aktivitas manusia seperti adanya peningkatan konsentrasi unsur hara sel sporadis sehingga dapat menimbulkan peningkatan nilai kuantitatif fitoplankton melampaui batas normal yang dapat ditolerir oleh organisme hidup lainnya. Kondisi itu dapat menimbulkan dampak negatif berupa kematian massal organisme perairan akibat persaingan penggunaan oksigen terlarut seperti yang terjadi di berbagai perairan di dunia dan beberapa perairan di Indonesia. Di perairan pantai Laut Jawa diatom dari marga Skeletonema, Chaetoceros, Bacteriastrum dan Rhizosolenia sangat sering dijumpai. Menurut Nontji (1997) acapkali dijumpai ledakan

(37)

populasi (blooming) Skeletonema yang membuat air berwarna hijau kecoklat-coklatan.

2.8. Persepsi Masyarakat 2.8.1. Pengertian Persepsi

Harvey dan Smith (1977) dalam Gunawan (2002) menyatakan bahwa persepsi adalah suatu proses membuat penilaian (judgement) atau membangun kesan (impression) mengenai berbagai hal yang terdapat dilapangan, melalui penginderaan seseorang. Banyak ahli psikologi sosial mendefinisikan persepsi sebagai suatu proses melekatkan atau memberi makna kepada informasi sensori yang diterima seseorang (Wibowo, 1988). Dari pengertian tersebut, persepsi mempunyai dua pengertian, pertama menunjukan proses dan kedua mengacu kepada hasil proses itu sendiri.

Persepsi bermula dari penginderaan, diolah dalam alam pikiran dan berakhir dengan penafsiran. Persepsi dibedakan atas persepsi benda dan persepsi sosial. Persepsi sosial menurut Shaw dan Costanzo (1982) adalah bagaimana seseorang ber-respon terhadap rangsangan-rangsangan sosial, sedangkan persepsi benda, obyek stimulusnya merupakan suatu hal atau benda yang nyata-nyata dapat dirasakan, dapat diinderai secara langsung. Dari pengertian sosial tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa persepsi sosial berhubungan erat dengan rangsangan-rangsangan sosial. Perbedaan dari persepsi benda dan persepsi sosial terletak pada: (1) sifat dari unsur mediasi, (2) kemajemukan stimuli dan (3) perasaan dari proses konstruksi dalam pemberian makna.

Langvelt dalam Thoha (1983) mengatakan bahwa persepsi berhubungan dengan pendapat dan penilaian individu terhadap suatu stimulus yang akan berakibat motivasi kemauan dan perasaan terhadap stimulus tersebut. Stimulus dapat berupa benda, isyarat, informasi maupun situsi dan kondisi tertentu. Stimulus bisa berupa benda, isyarat, informasi maupun situasi dan kondisi tertentu. Dalam konteks persepsi terhadap pengelolaan lingkungan di pesisir terhadap pengelolaan lingkungan di pesisir dapat berlaku sebagai stimulus yang dapat menimbulkan persepsi pada individu yang melakukannya, mendengar dan sebagai motivator.

(38)

Penelitian tentang persepsi diperlukan, sebab di samping melibatkan panca indera, pembentukan persepsi juga melibatkan otak. Bahwa persepsi adalah merupakan penafsiran otak terhadap apa yang dirasakan seseorang. Dengan demikian persepsi terhadap suatu stimulus memiliki peluang besar untuk sesuai dengan kenyataan sesungguhnya. Demikian juga halnya persepsi terhadap pencemaran lingkungan di wilayah Kelurahan Kamal Muara. Jika persepsi masyarakat mengarah kepada kesimpulan bahwa pencemaran lingkungan telah terjadi, kemungkinan besar ukuran objektif untuk menunjukan kesimpulan yang sama. Jika persepsi seseorang tidak sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya, informasi ini bisa digunakan untuk melakukan intervensi dalam rangka membentuk persepsi yang benar.

Sarwono (1992) mengatakan bahwa kita perlu mengetahui alasan dan cara berubahnya persepsi, agar kita bisa meramalkan dan jika perlu mempengaruhi persepsi, karena persepsi bukan sesuatu yang statis melainkan bisa berubah. Heatchote (1980) menemukan bukti adanya keragaman persepsi manusia terhadap lingkungan dan peranannya dalam pengelolaan lingkungan. Alasan ini, perlunya penelitian persepsi terhadap lingkungan adalah untuk mencapai secara optimal kualitas lingkungan yang baik, yakni kualitas lingkungan yang sesuai dengan persepsi masyarakat yang menggunakannya. Hal ini sesuai dengan definisi persepsi mengenai lingkungan yang mencakup harapan, aspirasi dan keinginan terhadap suatu kualitas lingkungan tertentu. Kualitas lingkungan selayaknya dipahami secara subyektif, yakni dikaitkan dengan aspek-aspek psikologis dan sosial-budaya masyarakat pengguna. Penilaian atau penetapan kualitas lingkungan harus memperhatikan persepsi masyarakat. Melalui cara ini diharapkan dapat tercapai secara optimal kualitas lingkungan yang baik. Pandangan ini menyempurnakan pandangan sebelumnya yang cenderung mengartikan kualitas lingkungan hanya dari aspek fisik, kimia dan biologi.

2.8.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi Masyarakat

Menurut Saarinen (1976) persepsi berkaitan dengan pengaruh faktor sosial-budaya terhadap struktur kognitif dari lingkungan fisik dan sosial. Barent (1977) mengatakan bahwa persepsi merupakan penafsiran otak terhadap apa

(39)

yang dirasakan seseorang. Dengan demikian persepsi terhadap suatu stimulus (misalnya air sungai) memiliki peluang besar untuk sesuai dengan kenyataan sesungguhnya. Kalaupun tidak demikian halnya, informasi mengenai persepsi ini bisa digunakan untuk melakukan intervensi dalam rangka memperbaikinya. Sarwono (1992) mengatakan bahwa kita perlu mengetahui alasan dan cara berubahnya persepsi, agar kita bisa meramalkan dan jika perlu mempengaruhi persepsi.

Persepsi yang baik dan benar diperlukan, sebab persepsi merupakan dasar pembentukan sikap yang akan berlanjut ke perilaku. Asngari (1984) mengatakan bahwa persepsi terhadap lingkungan merupakan faktor penting, karena akan berlanjut dalam tindakan. Bahkan Toch dan McLean (Kemp et al., 1975) mengatakan: “tidak ada perilaku tertentu tanpa persepsi, perilaku adalah hasil persepsi.” Demikian pula Duncan (Thoha, 1988) mengatakan bahwa persepsi merupakan unsur penting dalam penyesuaian perilaku.

Menurut pandangan “konvensional/fungsionalis/pendekatan konstruktivisme” (Sarwono, 1992), persepsi terbentuk melalui serangkaian proses, yakni seleksi, organisasi, dan interpretasi (Sereno et al., 1975 dalam Asngari, 1984).

Menurut Thorndike (1968) persepsi dapat terbentuk melalui faktor heriditas (keturunan/bawaan) dan lingkungan. Keduanya saling mempengaruhi dan berinteraksi. Faktor heriditas antara lain bakat, minat, kemauan, perasaan, fantasi dan tanggapan yang dibawa sejak lahir. Faktor lingkungan berada diluar individu, misalnya pendidikan, lingkungan sosial dan status sosial. Jadi persepsi dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Dalam penelitian ini perhatian difokuskan pada faktor eksternal, karena untuk meneliti faktor internal diperlukan kemampuan khusus yang berada di luar diri penulis.

Menurut Wibowo (1988) dalam Gunawan (2002) yang membedakan persepsi seseorang, antara lain: (1) Faktor Pengalaman, semakin banyak pengalaman yang dimiliki seseorang mengenai obyek stimulusnya, semakin tinggi pula verdikalitasnya. Pengalaman ini dapat terjadi karena kontak-kontak dengan obyek-obyek stimulus yang serupa; (2) faktor inteligensia, semakin tinggi inteligensia seseorang semakin besar kemungkinannya orang tersebut

(40)

bertindak lebih obyektif dalam memberikan penilaian atau membangun kesan obyek stimulus; (3) faktor kemampuan menghayati stimuli, yaitu kemampuan untuk turut menghayati perasaan orang lain (empaty); (4) faktor ingatan, daya ingat seseorang akan menentukan veridikalitas persepsinya. (5) Faktor disposisi kepribadian atau kecenderungan kepribadian yang relatif menetap dari seseorang. (6) Faktor sikap terhadap obyek-stimulus, sikap secara umum dapat dinyatakan sebagai kecenderungan yang ada pada diri seseorang untuk berfikir atau berpandangan, berperasaan, dan berkehendak dan berbuat secara tertentu terhadap sesutu obyek. Faktor (7) Faktor kecemasan, seseorang yang tercekat oleh kecemasan karena suatu hal yang berkaitan dengan obyek-stimulusnya akan mudah dihadapkan pada hambatan-hambatan dalam mempersepsikan obyek tersebut. (8) Faktor pengharapan, faktor ini merupakan kumpulan dari beberapa pengharapan yang bersumber dari adanya asumsi-asumsi tertentu mengenai manusia dan perilaku.

Faktor eksternal lain yang dapat mempengaruhi persepsi adalah umur (Munn, 1974), pendapatan (Malickson dan Nason, 1977), nilai/kepercayaan, pengalaman (Bailey, 1982 dan Saarinen, 1976), jenis kelamin (Powell, 1963), ingatan, keadaan sosial, harapan (Edmund dan Letely, 1973; Saarinen, 1976), faktor pribadi (Krecht et al., 1976), dan agama (Sarwono, 1992). Faktor pribadi mencakup yang bersifat sesaat maupun tetap, seperti nilai, kebutuhan (Saarinen, 1976) dan emosi. Menurut Saarinen (1976), persepsi sangat tergantung pada stimulus.

Menurut Gibson (Sarwono, 1992) proses terbentuknya persepsi dapat dijelaskan melalui pendekatan “ekologis”. Menurut pendekatan ini individu tidak menciptakan makna dari obyek yang diinderanya. Makna ini telah terkandung dalam setiap obyek dan tersedia bagi organisme yang siap menyerapnya. Setiap obyek menonjolkan sifat-sifatnya yang khas. Persepsi terjadi secara spontan dan langsung (holistik). Dilihat dari pendekatan ini manusia merupakan makhluk yang dapat mengubah kemanfaatan suatu stimulus sesuai dengan keinginannya. Masalah akan timbul jika manusia terlalu banyak mengubah lingkungan sehingga keseimbangan ekosistem terganggu.

(41)

Dalam pendekatan konvensional, persepsi lebih dikaitkan dengan faktor-faktor syaraf dan faal. Dalam pendekatan ekologi interpretasi terhadap hasil proses faal itulah yang menentukan persepsi (bukan proses faalnya). Menurut pendekatan ekologi persepsi juga ditentukan oleh pengalaman. Sedang pengalaman dipengaruhi oleh kebudayaan. Menurut Sarwono (1992) persepsi juga dipengaruhi oleh usia, agama, jenis kelamin, lingkungan tempat tinggal dan suku bangsa.

Disamping persepsi dalam pengertian umum seperti yang telah diuraikan, didalam studi lingkungan juga dikenal konsep “persepsi terhadap lingkungan” (environmental perception). Edmund dan Letey (1973) mendefinisikan persepsi terhadap lingkungan sesuai cerminan penglihatan, kekaguman, kepuasan, serta harapan individu terhadap lingkungan. Menurut Haryadi dan Setiawan (1995) persepsi terhadap lingkungan adalah interpretasi tentang suatu lingkungan yang didasarkan pada latar belakang budaya, nalar dan pengalaman. Jadi setiap individu memiliki persepsi lingkungan yang berbeda. Beberapa kelompok individu mungkin mempunyai persepsi lingkungan yang sama atau mirip.

Persepsi lingkungan terbentuk melalui proses kognisi, afeksi dan kognasi. Proses kognisi terjadi dari penerimaaan (perceiving), pemahaman (understanding) dan pemikiran (thinking). Proses afeksi meliputi perasaan (feeling) dan emosi (emotions), keinginan (desire, preferences) serta nilai-nilai (values) tentang lingkungan. Adapun proses kognasi meliputi tindakan atau perlakuan terhadap lingkungan sebagai respon dari proses kognisi dan afeksi. Keseluruhan proses ini menghasilkan preceived environment atau lingkungan yang dipersepsikan. Jadi preceived environment merupakan bentuk atau produk dari persepsi terhadap lingkungan (Haryadi dan Setiawan, 1995).

Sesuai dengan definisi persepsi dan persepsi terhadap lingkungan, maka persepsi terhadap air sungai yang dimaksud dalam penelitian ini meliputi penilaian responden terhadap kualitas air sungai yang ada, pemahaman dan interpretasi responden terhadap faktor-faktor dan indikator yang berhubungan dengan kualitas air sungai, interpretasi responden terhadap menurunnya kualitas air sungai dan akibatnya, serta penilaian responden terhadap kelayakan air

(42)

sungai yang ada bagi sejumlah peruntukan. Persepsi terhadap air sungai ini merupakan respon terhadap kondisi air sungai sebagai obyek atau stimulus.

Gambar 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap air sungai (Harianto, 2004)

Pengetahuan tentang air sungai

Persepsi terhadap air sungai Kemampuan ekonomi Kebutuhan air sungai Pekerjaan Lamanya tinggal di dekat sungai Jarak antara rumah dengan sungai Keyakinan Interpretasi terhadap konsepsi mengenai hakekat lingkungan Interpretasi terhadap ajaran agama Status dan peranan sosial Pendidikan

(43)

III. Metode Penelitian

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di sungai dan perairan Kamal Muara, Jakarta Utara (Gambar 3). Pemilihan tempat penelitian didasarkan atas pertimbangan: 1) Sungai Kamal merupakan salah satu sungai yang bermuara ke Teluk Jakarta. Aktivitas pembangunan yang terkait dengan perairan pantai terus meningkat dari tahun ke tahun; 2) Perairan Kamal Muara masih digunakan untuk kegiatan perikanan khususnya budidaya kerang hijau sejak tahun 1983. Waktu penelitian yaitu selama 3 bulan yaitu pada bulan Agustus - Oktober 2008.

Gambar

Gambar 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap air  sungai (Harianto, 2004)
Gambar 3. Lokasi penelitian
Gambar 4. Lokasi hulu Sungai Kamal
Tabel 2. Parameter kualitas air yang diteliti serta metode analisa                                dan pengukurannya
+7

Referensi

Dokumen terkait

ALUR PELAYARAN DAN PERAIRAN PELABUHAN (Studi Kasus Teluk

Hasil analisis menunjukkan bahwa terbangunnya resiliensi masyarakat nelayan Kamal Muara dipengaruhi oleh serangkaian mekanisme dalam mendapatkan, mengendalikan dan

Judul : Struktur Komunitas dan Distribusi Horizontal Zooplankton di Perairan Pesisir Muara Angke dan Sunda Kelapa, Teluk Jakarta. Nama Mahasiswa : Fadhli Makaminan..

Seeara umum dari hasil pengamatan terhadap parameter fisika dan kimia yang dilakukan dalam penelitian ini dapat ditarik suatu kesimpulan terhadap kondisi perairan Muara Kamal,

Gambaran Umum dan Kondisi Lingkungan Kampung Kamal Muara merupakan salah satu permukiman nelayan perkotaan yang timbul karena proses urbanisasi, terlihat dari dominasi

Sedangkan  hasil  analisis kandungan  logam  berat merkuri dalam  sedimen di  Perairan  Kamal  Muara  memiliki  kisaran  nilai  rata­rata  1,412­2,823  mg/l, 

Hasil pengamatan Sidauruk (2001) secara umum, parameter fisika dan kimia yang dilakukan didalam perairan Teluk Jakarta tepatnya di Muara Kamal pada bulan

Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi jenis-jenis senyawa PAH yang terakumulasi dalam tubuh organisme kerang hijau di perairan Teluk Jakarta dan keterkaitannya dengan