• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Return Saham

2.1.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Return Saham

2.1.4.1 Book to Market Value

Book to market value adalah perbandingan antara nilai buku saham suatu perusahaan dengan nilai pasar sahamnya di pasar modal. Nilai pasar adalah nilai ekuitas yang dilihat oleh investor. Book value (nilai buku) merupakan nilai yang dihitung berdasarkan pembukuan perusahaan penerbit saham (emiten). Sedangkan nilai pasar adalah nilai saham di pasar, yang ditunjukkan oleh harga saham tersebut di pasar. (Tandelilin, 2001:183).

Nilai pasar yang tinggi menunjukkan bahwa saham tersebut dihargai lebih tinggi dari nilai bukunya. Sedangkan jika harga saham diperdagangkan lebih rendah dari nilai buku per lembarnya maka ini menunjukkan saham perusahaan tersebut undervalued. Book to market value digunakan untuk mengukur nilai dari

saham. Book to market value dapat diperoleh dengan rumus (Auret dan Sinclaire, 2006) :

Book to market value = Book value of equity Market value of equity Atau

Book to market value = Nilai buku ekuitas per lembar saham Harga per lembar

2 .1.4.2 Price Earning Ratio

Price earning ratio adalah harga per lembar saham dibagi dengan laba (earning) per saham (Hirt dan Block, 2003:180). Price earning ratio ditetapkan investor di pasar pada saat mereka menawarkan harga saham naik atau turun berkaitan dengan earning-nya. Price earning ratio biasanya dinyatakan dalam laporan keuangan sebagai angka historis dengan menggunakan harga saat ini dibagi dengan pendapatan 12 bulan terakhir.

Price earning ratio adalah perbandingan dari harga saham dengan laba per lembar saham (Brealey dkk, 2001:134). Jika semakin tinggi nilai PER berarti bahwa investor bersedia membayar lebih atas setiap rupiah laba bersih dan harga saham ini lebih tinggi dari saham yang memiliki PER yang lebih rendah. PER adalah indeks yang mencerminkan permintaan investor saat ini dengan PER yang tinggi mengindikasikan permintaan yang relatif lebih tinggi pada saham tersebut. PER berkaitan dengan harga saham yang merupakan return saham ,sehingga dapat mencerminkan pendapatan bersih perusahaan saat ini. Jika harga saham naik, maka PER juga akan naik tanpa perubahan laba bersih. Price earning

ratio didefinisikan sebagai harga per lembar saham dibagi dengan laba per lembar saham (Ross et.al, 2003:71).

Berdasarkan teori yang diuraikan,maka perhitungan Price Earning Ratio

dapat dirumuskan dengan ( Ross et al, 2003:31) :

Price earning ratio = ����� ��������� ��ℎ�� ������� ��������� ��ℎ��

Price earning ratio digunakan untuk mengukur berapa banyak investor harus membayar tiap dollar/rupiah atas laba saat ini. Price earning ratio yang tinggi sering diartikan bahwa perusahaan memiliki prospek di masa yang akan datang.

Untuk mandapatkan price earning rasio harus terlebih dahulu dihitung nilai earning per share yaitu keuntungan perusahaan yang bisa dibagikan kepada pemegang saham. Earning per share merupakan perbandingan antara laba bersih setelah pajak pada satu tahun buku dengan jumlah saham yang diterbitkan.

Earning per share adalah menunjukkan besarnya laba yang diberikan kepada pemegang saham (Syahyunan, 2012:95). Earning per share dapat dirumuskan dengan formula:

Earning per share = ����� ℎ���������� ����� ℎ ������ ℎ �������ℎ������ �������

2.1.4.3 Dividend Yield

Dividend yield adalah bagian dari total return yang investor terima selama

capital gain atau capital loss (Block dkk, 2003:219). Dividend yield dapat dihitung dengan membagi dividen per lembar saham dengan harga pasar per

lembar saham (Syahyunan, 2012:95). Dividend yield menunjukkan tingkat penghasilan berjalan yang diperoleh dari investasi saham perusahaan.

Menurut Bodie dan Merton (2000:235), Dividend yield didefinisikan sebagai dividen dollar tahunan dibagi dengan harga saham yang dinyatakan sebagai persentase. Hal ini mencerminkan bahwa dividen yield dinyatakan dalam bentuk persentase tertentu. Dividen yield merupakan ukuran atau rasio keuangan yang mengukur rasio penilaian (valuation ratio) yang bertujuan menjadi tolak ukur yang mengaitkan hubungan antara harga saham biasa dengan pendapatan perusahaan dan nilai buku saham atau mencerminkan kinerja perusahaan secara keseluruhan. Dividend Yield dihitung dengan membagi dividen per lembar saham biasa dengan harga per lembar saham.

Berdasarkan uraian tersebut, maka perhitungan Dividend yield dapat dilakukan dengan rumus (Auret dan Sinclaire, 2006):

Dividend Yield = ������������������� ������ �ℎ����ℎ���

2.1.4.4 Firm Size

Ukuran perusahaan (Size) adalah skala dimana dapat diklasifikasikan besar kecilnya perusahaan menurut berbagai cara seperti total aktiva, nilai pasar saham dan logaritma natural nilai pasar perusahaan. Firm size dikelompokkan dalam 3 (tiga) kategori ukuran yaitu perusahaan besar (large size), perusahaan menegah (medium size), dan perusahaan kecil (small size).

Suatu perusahaan besar lebih mudah memasuki pasar modal dibandingkan dengan perusahaan menegah dan kecil yang mengalami keterbatasann akses ke pasar modal akan mengalami kesulitan mendapatkan dana modal atau

memperoleh pinjaman di pasar modal. Oleh karena itu, perusahaan cenderung menahan laba untuk membiayai kegiatan operasional atau investasi di masa mendatang, maka dividen yang merupakan return saham yang diterima pemegang saham akan semakin kecil.

Menurut Banz (dalam Tandelilin, 2001:125), menunjukkan bukti empiris mengenai size effect yaitu adanya kecenderungan saham-saham perusahaan kecil yang mempunyai return yang lebih tinggi dibanding saham-saham perusahaan besar. Size perusahaan dapat diukur dengan rumus (Auret dan Sinclaire, 2006):

Size = ����������������������������� Atau

Size = ���� (�����ℎ��ℎ����������ℎ������������������) Ukuran perusahaan diukur dengan mengembalikan ke bentuk natural dari nilai kapitalisasi pasar dengan cara melogaritma-naturalkan nilai tersebut.

2.1.4.5 Price to Net Asset Value

Price to net Asset Value adalah perbandingan antara harga saham dengan nilai asset bersih per lembar saham. Nilai asset bersih per lembar saham diperoleh dari nilai pasar portofolio dikurangi kewajiban perusahaan dibagi dengan jumlah saham yang beredar ( Fabozzi, 2000:192). Nilai pasar saham dihitung dengan jumlah saham beredar dikalikan harga akhir perdagangan tiap hari.

Net Asset Value.= ���������� ℎ ����� −�������ℎ��������� ����������

PNAV diperoleh dengan membagi harga pasar saham dengan nilai aset bersih per lembar saham. Berdasarkan uraian teori maka perhitungan Price to net asset value

PNAV= ����� ����ℎ��� �������� ����� ����ℎ���

2.1.4.6 Cash Flow to Price

Cash flow to price adalah perbandingan antara arus kas terhadap harga saham. Cash flow diproksikan oleh arus kas bersih dari kegiatan operasi yang dapat dilihat dalam laporan arus kas. Laporan arus kas adalah menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas atau setara kas dan kebutuhan perusahaan dalam memanfaatkan dana tersebut, yang diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.

Arus kas operasi secara normatif adalah positif. Perusahaan tidak mengalami masalah operasional yaitu laba dan modal kerja, arus operasionalnya positif. Aliran kas operasi adalah penerimaan dan pengeluaran kas dan setara kas dari kegiatan operasional perusahaan selama satu periode (satu tahun).

Sehingga cash flow to price dihitung dengan rumus:

Cash flow to price= ������ℎ���� ���� ��������� ����ℎ��� ����� ����ℎ���

2.1.5 Indeks LQ-45

Indeks LQ-45 adalah nilai kapitalisasi pasar dari 45 perusahaan yang paling likuid dan memiliki nilai kapitalisasi yang besar yang merupakan indikator likuiditas. Indeks LQ-45 menggunakan 45 perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia yang dipilih berdasarkan likuiditas perdagangan sahamnya dan disesuaikan setipa enam bulan sekali (bulan Pebruari dan Agustus).

Oleh karena itu, perusahaan dalam indeks ini selalu berubah. Hal ini disebabkan oleh tingkat intensitas transaksi setiap sekuritas berbeda. Ada sebagian

sekuritas memiliki frekuensi yang tinggi dan aktif diperdagangkan di pasar modal, namun sebagian sekuritas lainnya relatif sedikit frekuensi transaksinya dan cenderung bersifat pasif.

Indek LQ-45 hanya terdiri dari 45 perusahaan yang terpilih melalui berbagai kriteria pemilihan sehingga hanya terdiri dari saham-saham dengan likuiditas dan kapitalisasi yang tinggi. Saham LQ-45 harus memenuhi kriteria berikut:

1. Masuk dalam urutan 60 besar dari total transaksi saham di pasar regular (rata-rata nilai transaksi selama 12 bulan terakhir).

2. Urutan berdasarkan kapitalisasi pasar (rata-rata nilai kapitalisasi pasar selama 12 bulan terakhir).

3. Telah tercatat di BEI selama minimum 3 bulan.

4. Keadaan keuangan perusahaan dan prospek pertumbuhan perusahaan,frekuensi dan jumlah hari perdagangan transaksi di pasar regular.

Perkembangan kinerja masing-masing ke 45 saham yang terdaftar dalam indeks LQ-45 akan dipantau atau di-review enam bulan sekali (Pebruari dan Agustus). Apabila ada saham yang tidak masuk kriteria pemilihan akan diganti dengan saham yang memenuhi kriteria. Tujuan indeks LQ-45 adalah sebagai pelengkap IHSG dan menyediakan sarana objektif dan terpercaya bagi analisis keuangan, manajer investasi, investor dan pihak yang berkepentingan lainnya di pasar modal dalam memonitor pergerakan harga dari saham-saham yang aktif diperdagangkan.

Dokumen terkait