HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian .1 Statistik Deskriptif .1 Statistik Deskriptif
4.2.4 Pengujian Hipotesis
4.2.4.2 Uji Hipotesis Secara Parsial (Uji t)
Uji parsial (uji t) dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara parsial. Pengaruh dari masing-masing variabel BTM, PER, DY, Size, PNAV, CFTP terhadap return saham dapat dilihat dari arah tanda dan tingkat signifikansi. Variabel PER, Size, dan CFTP mempunyai arah positif dan variabel BTM, DY, dan PNAV mempunyai arah negatif. Variabel DY dan PER berpengaruh signifikan terhadap return saham karena nilai signifikan < 0,05. Sedangkan variabel BTM, Size, PNAV, dan CFTP berpengaruh tidak signifikan terhadap return saham karena nilai signifikansinya > 0,05.
Kriteria pengambilan keputusan menggunakan taraf 5 %. Jika thitung < ttabel ,maka H0 diterima atau H1 ditolak. Sedangkan jika t hitung > t tabel maka H0 ditolak dan H1 diterima. Nilai tabel dengan taraf 5% dan derajat bebas (df) sebesar 69 adalah 1,995.
1. Pengujian BTM (X1) terhadap return saham (Y) menunjukkan nilai sig. 0,126 >
α = 0,05 dan thitung adalah -1,548 dimana variabel X1 memiliki thitung (-1,548) < ttabel
(1,995), maka H0 diterima dan H1 ditolak. Untuk tingkat signifikansi yang ditunjukkan oleh variabel Book to Market Value (BTM) adalah sebesar 0,126 yang berarti variabel BTM berpengaruh secara negatif dan tidak signifikan terhadap return saham. Dapat disimpulkan bahwa H0 diterima atau dengan kata
lain variabel BTM berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap return
saham.
2. Pengujian PER (X2) terhadap return saham (Y) menunjukkan nilai sig. 0,038 <
α = 0,05 dan thitung adalah 2,115 dimana thitung (2,115) < ttabel (1,995), maka H0 diterima dan H1 ditolak. Untuk tingkat signifikansi yang ditunjukkan variabel X2 adalah sebesar 0,038 yang berarti PER berpengaruh signifikan terhadap return
saham. Dapat disimpulkan bahwa H1 diterima atau dengan kata lain variabel PER berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap return saham.
3. Pengujian DY (X3) terhadap return saham (Y) menunjukkan nilai sig adalah 0,003. Nilai sig 0,003 < α = 0,05 dan nilai thitung adalah -3,046 dimana thitung ( - 3,046 ) > ttabel (1,995) , maka H0 ditolak dan H1 diterima. Untuk tingkat signifikansi yang ditunjukan oleh variabel X3 sebesar 0,003 berarti DY berpengaruh signifikan terhadap return saham. Jadi dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak atau dengan kata lain variabel DY berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap return saham.
4. Pengujian Size (X4) terhadap return saham (Y) menunjukkan nilai sig adalah sebesar 0,459. Nilai sig. 0,459 > α = 0,05 dan thitung adalah 0,745 dimana thitung ( 0,745) < ttabel (1,995) maka H0 diterima atau H1 ditolak. Untuk tingkat signifikansi yang ditunjukkan oleh variabel Size sebesar 0,459 berarti Size berpengaruh tidak signifikan terhadap return saham. Dapat disimpulkan bahwa H0 diterima atau dengan kata lain variabel Size berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap
5. Pengujian PNAV (X5) terhadap return saham (Y) menunjukkan sig sebesar 0,100. Nilai sig > α = 0,05 dan thitung adalah sebesar -1,667 dimana thitung (- 1,667) < ttabel (1,995), maka H0 diterima atau H1 ditolak. Untuk tingkat signifikansi yang ditunjukkan oleh variabel PNAV sebesar 0,100 berarti variabel PNAV berpengaruh tidak signifikan terhadap return saham. Jadi dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak atau dengan kata lain variabel PNAV berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap return saham.
6. Pengujian CFTP (X6) terhadap return saham (Y) menunjukkan nilai sig. adalah sebesar 0,528. Nilai sig 0,528 > α = 0,05 dan nilai thitung adalah 0,634 dimana thitung (0,634) < ttabel (1,995) maka H0 diterima atau H1 ditolak. Untuk tingkat signifikansi yang ditunjukkan oleh variabel CFTP sebesar 0,528 berarti variabel CFTP berpengaruh tidak signifikan terhadap return saham. Jadi dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak atau dengan kata lain bahwa variabel CFTP berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap return saham.
4.2.4.3 Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Nilai Koefisien determinasi (R2) terletak di antara 0 sampai dengan 1 (0 ≥ R 2 ≥ 1). Tujuan menghitung koefisien determinasi adalah mengetahui proporsi atau persentasi variabel bebas terhadap variabel terikat. Dari hasil analisis data diperoleh hasil yang ditunjukkan pada Tabel 4.16 sebagai berikut :
Tabel 4.16
Koefisien Determinasi (R2) Model Summary Model R R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimates 1 .606a .367 .312 1.742760 a. Predictors: (Constant), CFTP, BTM, DY, SIZE, PNAV, PER
Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (Data Diolah)
Dari Tabel 4.16 dapat diketahui bahwa nilai Adjusted R Square adalah sebesar 0,312 atau 31,2 %. Hal ini menunjukkan bahwa 31,2 % Return saham pada perusahaan indeks LQ 45 dipengaruhi oleh keenam variabel independen yang digunakan yaitu Book to Market Value (BTM), Price Earning Ratio (PER),
Dividend Yield (DY), Size, Price to Net Asset Value (PNAV), Cash Flow to Price
(CFTP). Sedangkan sisanya sebesar 68,8% dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini.
4.3 Pembahasan
4.3.1 Analisis Regresi Univariat
Hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa variabel Book to Market Value ((BTM) berpengaruh negatif dan signifikan. Artinya semakin tinggi nilai
Book to Market Value (BTM) maka return saham akan semakin rendah. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian yang dikemukan Auret dan Sinclaire (2006) yang menyatakan BTM berpengaruh positif dan signifikan. Semakin besar nilai buku saham terhadap nilai pasar saham menunjukkan nilai pasar yaitu harga saham di pasar lebih rendah dari harga yang dicatatkan dalam
pembukuan perusahaan maka saham tersebut menjadi undervalue. Hal ini akan mengurangi minat investor atas saham tersebut sehingga return saham menurun.
Pengaruh Price Earning Ratio terhadap Return Saham. Hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa variabel Price Earning Ratio (PER) berpengaruh positif dan signifikan. Artinya jika nilai rasio PER semakin besar maka return
saham akan semakin besar juga dan sebaliknya, jika semakin kecil nilai PER maka return saham juga semakin kecil. Hasil ini berbeda dengan hasil penelitian Auret dan Sinclaire (2006) yang menyatakan bahwa PER berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return saham. Semakin tinggi nilai harga terhadap laba per lembar saham mengindikasikan bahwa investor akan bersedia membayar lebih tinggi atas laba bersih dan harga yang lebih tinggi dibanding saham dengan PER yang lebih rendah (Pan: 2012). PER meningkat maka harga saham akan naik. Oleh karena itu semakin tinggi rasio ini maka semakin baik karena akan memberikan return saham yang lebih besar .
Pengaruh Dividend Yield terhadap Return Saham. Hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa variabel Dividend Yield (DY) berpengaruh negatif dan signifikan. Artinya jika nilai DY meningkat maka nilai return saham akan menurun dan sebaliknya jika nilai DY diturunkan maka return saham akan meningkat. Hasil ini berbeda dengan hasil penelitian Auret dan Sinclaire (2006) yaitu DY berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham. Dividend yield yang menggambarkan persentase return dari dividen tahunan dibagi dengan harga saham (Bodie dan Merton, 2000:235). Semakin besar persentase DY maka semakin kecil return (selisih harga) diperoleh karena dengan besarnya DY maka
investor akan lebih memilih deviden kas sehingga frekuensi perdagangan saham akan menurun.
Pengaruh Size terhadap Return Saham. Hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa variabel Size berpengaruh positif dan tidak signifikan. Artinya walaupun nilai size ditingkatkan maka return saham tidak akan meningkat. Hasil ini berbeda dengan hasil penelitian Auret dan Sinclaire (2006) yang menyatakan bahwa size berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return
saham. Size dilihat dari kapitalisasi pasar yakni jumlah saham beredar dikalikan harga saham. Semakin besar size berakibat pada kemudahan memasuki dan menguasai pasar, namun pengaruhnya pada harga saham relatif kecil.
Pengaruh Price to Net Asset Value terhadap Return Saham. Hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa variabel Price to Net Asset Value (PNAV) berpengaruh positif dan tidak signifikan. Artinya walaupun PNAV ditingkatkan maka return saham tidak akan meningkat. Hasil ini berbeda dengan hasil penelitian Auret dan Sinclaire (2006) yang menyatakan PNAV berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return saham. Harga yang dibayarkan atas sejumlah nilai asset bersih perusahaan akan berdampak pada permintaan investor akan saham perusahaan tersebut sehingga harga saham akan meningkat. Dengan demikian, semakin besar rasio harga terhadap nilai asset bersih kemungkinan
return yang diperoleh relatif kecil.
Pengaruh Cash Flow to Price terhadap Return Saham. Hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa variabel Cash Flow to Price berpengaruh negatif dan tidak signifikan. Artinya walaupun nilai Cash Flow to Price (CFTP)
ditingkatkan maka return saham tidak akan menurun. Hasil ini berbeda dengan hasil penelitian Auret dan Sinclaire (2006) menyatakan CFTP berpengaruh positif terhadap return saham. Arus kas dari kegiatan operasi adalah penerimaan dan pengeluaran kas dan setara kas dari kegiatan operasional perusahaan selama satu periode dan secara normatif adalah positif (Syahyunan,2012:33). Arus kas sangat penting bagi perusahaan untuk mendapatkan laba. Namun, jika investor lebih memilih return dari dividen kas maka investor lebih memilih menerapkan strategi pasif sehingga frekuensi perdagangan akan menurun. Kenaikan CFTP relatif tidak berpengaruh terhadap return saham.
4.3.2 Analisis Regresi Bivariat
Dalam analisis regresi bivariat, seluruh variabel bebas dikombinasikan menjadi pasangan kombinasi dua variabel bebas yaitu (Xi dan Xj). Berdasarkan hasil pengujian statistik maka kombinasi pasangan variabel bebas dikatakan berpengaruh signifikan jika kedua variabel Xi dan Xj memiliki nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 (Auret dan Sinclaire:2006). Pengaruh pasangan kombinasi variabel bebas terhadap return saham dijelaskan sebagai berikut:
1. Pengaruh Kombinasi Book to Market Value dan Price Earning Ratio terhadap
Return Saham
Hasil pengujian statistik menunjukkan kombinasi variabel Book to Market Value dan Price Earning Ratio berpengaruh tidak signifikan yang ditunjukkan dengan nilai sig sebesar 0,533 dan 0.004. Artinya walaupun nilai kombinasi BTM dan PER ditingkatkan atau diturunkan maka return saham tidak akan
meningkat atau menurun. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Auret dan Sinclaire (2006) yang menyatakan kombinasi BTM dan PER berpengaruh tidak signifikan terhadap return saham. Hal ini disebabkan variabel PER menutupi pengaruh BTM dalam regresi bivariat dan membuat BTM menjadi tidak signifikan sementara PER sendiri signifikan. Ini kemungkinan terjadi karena tingkat korelasi antara BTM dan PER cukup tinggi. Semakin besar BTM maka return makin menurun. Sedangkan nilai PER yang tinggi menunjukkan prospek yang baik dan akan menaikkan return
saham.
2. Pengaruh Kombinasi Variabel Book to Market Value dan Dividend Yield
terhadap Return Saham
Hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa kombinasi variabel Book to Market Value dan Dividend Yield berpengaruh signifikan yang ditunjukkan dengan nilai sig sebesar 0,004 dan 0,000. Artinya jika nilai BTM dan DY ditingkat atau diturunkan maka return saham akan menurun atau meningkat. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Auret dan Sinclaire (2006) yang menyatakan kombinasi BTM dan DY berpengaruh tidak signifikan terhadap return saham. Hal ini disebabkan efek DY tidak lebih besar dari BTM sehingga kedua variabel berpengaruh signifikan. Semakin besar nilai BTM dan nilai dividend yield maka return semakin kecil karena permintaan yang rendah dan frekuensi perdagangan yang relatif sedikit.
Hasil pengujian statistik menunjukkkan bahwa kombinasi variabel Book to Market Value dan size berpengaruh tidak signifikan yang ditunjukkan oleh nilai sig. sebesar 0,008 dan 0,742. Artinya walaupun nilai BTM dan Size ditingkatkan atau diturunkan maka return saham tidak akan meningkat atau menurun. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Auret dan Sinclaire (2006) yang menyatakan kombinasi BTM dan Size berpengaruh tidak signifikan terhadap return saham. Hal ini terjadi karena pengaruh individual BTM lebih besar dari Size namun efek kombinasi mereka rendah. Nilai buku terhadap nilai pasar saham berkaitan dengan ukuran perusahaan. Nilai buku lebih besar dari nilai pasar akan menurunkan return.
4. Pengaruh Book to Market Value dan Price to Net Asset Value terhadap Return
Saham
Hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa kombinasi Book to Market Value dan PNAV berpengaruh tidak signifikan yang ditunjukkan oleh nilai sig. sebesar 0,013 dan 0,740. Artinya walaupun nilai BTM dan PNAV ditingkatkan atau diturunkan maka return saham tidak akan meningkat atau menurun. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Auret dan Sinclaire (2006) yang menyatakan kombinasi variabel berpengaruh tidak signifikan terhadap return saham. Karena BTM memiliki pengaruh individual yang kuat daripada PNAV sehingga ketika dikombinasikan maka pengaruh kombinasi BTM dan PNAV menjadi lemah. Akibat nilai buku yang lebih besar dari nilai pasar, dimana nilai buku merupakan nilai asset bersih yang diperoleh investor atas harga yang dibayarkan.
5. Pengaruh Book to Market Value dan Cash Flow to Price terhadap Return
Saham
Hasil Pengujian statistik menunjukkan bahwa kombinasi variabel Book to Market Value dan Cash Flow to Price berpengaruh tidak signifikan yang ditunjukkan oleh nilai sig sebesar 0,007 dan 0,892. Artinya walaupun nilai BTM dan CFTP ditingkatkan atau diturunkan maka return saham tidak akan meningkat atau menurun. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Auret dan Sinclaire (2006) yang menyatakan kombinasi BTM dan CFTP berpengaruh tidak signifikan terhadap return saham. Hal ini terjadi karena pengaruh BTM lebih besar secara individual dibandingkan CFTP sehingga pengaruh CFTP tidak terlihat. Nilai BTM tidak akan mempengaruhi arus kas karena arus kas kegiatan operasi diperoleh dari kemampuan perusahaan mengelola asset yang dimilikinya untuk menghasilkan kas.
6. Pengaruh Price Earning Ratio dan Dividend Yield terhadap Return Saham Hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa kombinasi variabel Price Earning Ratio dan Dividend Yield berpengaruh signifikan yang ditunjukkan nilai sig sebesar 0,006 dan 0,001. Artinya jika nilai PER and DY ditingkatkan atau diturunkan maka return saham akan meningkat atau menurun. Hasil ini berbeda dengan hasil penelitian yang dikemukakan oleh Auret dan Sinclaire (2006) menyatakan kombinasi PER dan DY berpengaruh tidak signifikan terhadap return saham. Hal ini disebabkan secara individual dan kombinasi pengaruh PER dan DY sama besarnya karena tingkat korelasinya rendah. Nilai PER dan DY yang besar akan mempengaruhi return saham, dimana semakin
besar nilai PER maka return akan semakin besar. Sedangkan kenaikan DY akan menurunkan return saham.
7. Pengaruh Price Earning Ratio dan Size terhadap Return Saham
Hasil pengujian statistik menunujukkan bahwa kombinasi variabel Price Earning Ratio dan Size berpengaruh tidak signifikan yang ditunjukkan oleh nilai sig sebesar 0.000 dan 0,362. Artinya walaupun nilai PER dan Size
ditingkatkan atau diturunkan maka return saham tidak akan meningkat atau menurun. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian Auret dan Sinclaire (2006) yang menyatakan bahwa kombinasi PER dan SIZE berpengaruh signifikan terhadap return saham. Hal ini terjadi karena pengaruh individual PER lebih besar daripada Size. Perusahaan yang memiliki PER yang tinggi mereflesikan prospek yang baik di masa depan. Sedangkan Size
akan memberi kemudahan memasuki pasar dan frekuensi perdagangan yang tinggi.
8. Pengaruh Price Earning Ratio dan Price to Net Asset Value terhadap Return
Saham
Hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa kombinasi variabel Price Earning Ratio dan Price to Net Asset Value berpengaruh signifikan yang ditunjukkan nilai sig yaitu 0,000 dan 0,035. Artinya jika nilai PER dan PNAV ditingkatkan atau diturunkan maka return saham akan meningkat atau menurun. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian Auret dan Sinclaire (2006) yang menyatakan bahwa kombinasi PER dan PNAV berpengaruh tidak signifikan terhadap return saham. Dalam hal ini pengaruh
individual PER dan PNAV sama sehingga ketika dikombinasikan menjadi berpengaruh signifikan karena pengaruh PER tidak menutupi pengaruh PNAV. Perusahaan yang memiliki PER yang tinggi akan memberikan keyakinan bagi investor untuk membayar harga lebih atas nilai asset bersih perusahaan.
9. Pengaruh Price Earning Ratio dan Cash Flow to Price terhadap Return Saham Hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa kombinasi variabel Price Earning Ratio dan Cash Flow to Price berpengaruh tidak signifikan yang ditunjukkan nilai sig. yaitu sebesar 0,000 dan 0,517. Artinya walaupun nilai PER dan CFTP ditingkatkan atau diturunkan maka return saham tidak akan meningkat atau menurun. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Auret dan Sinclaire (2006) yang menyatakan bahwa kombinasi PER dan CFTP berpengaruh tidak signifikan terhadap return saham. Hal ini terjadi karena secara individual pengaruh PER lebih besar sehingga ketika dikombinasikan dengan CFTP maka pengaruh kombinasinya kecil. Laba yang diperoleh per lembar saham dipengaruhi oleh aliran kas kegiatan operasi perusahaan. PER yang tinggi akan menaikkan harga dan return saham.
10.Pengaruh Dividend Yield dan Size terhadap Return Saham
Hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa kombinasi variabel Dividend Yield dan size berpengaruh tidak signifikan yang ditunjukkan nilai sig. sebesar 0,000 dan 0,766. Artinya walaupun nilai DY dan Size ditingkat atau diturunkan maka return saham tidak akan meningkat atau menurun. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Auret dan Sinclaire (2006) yang menyatakan
kombinasi DY dan Size berpengaruh tidak signifikan terhadap return saham. Hal ini terjadi DY secara individual lebih berpengaruh dibandingkan size sehingga pengaruh size menjadi tidak terlihat ketika dikombinasikan dengan DY. Persentase dividen yang akan diperoleh dipengaruhi oleh ukuran perusahaan yaitu jumlah saham beredar. Semakin sedikit saham beredar maka jumlah dividen yang didapat kemungkinan semakin besar. Nilai size yang besar tidak akan meningkatkan return saham.
11.Pengaruh Dividend Yield dan Price to Net Asset Value terhadap Return Saham Hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa kombinasi variabel Dividend Yield dan Price to Net Asset Value berpengaruh tidak signifikan yang ditunjukkan nilai sig. sebesar 0,000 dan 0,287. Artinya walaupun nilai DY dan PNAV ditingkatkan atau diturunkan maka return saham tidak akan meningkat atau menurun. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Auret dan Sinclaire (2006) yang menyatakan kombinasi DY dan PNAV berpengaruh tidak signifikan terhadap return saham. Hal ini terjadi dikarenakan pengaruh individual DY lebih kuat dibanding PNAV sehingga ketika dikombinasikan pengaruh PNAV kurang terlihat. Akibat persentase dividen yang tinggi saham perusahaan akan kurang aktif diperdagangkan sehingga return saham akan menurun dan PNAV yang tinggi tidak akan meningkatkan return saham. 12.Pengaruh Dividend Yield dan Cash Flow to Price terhadap Return Saham
Hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa kombinasi variabel Dividend Yield dan Cash Flow to Price berpengaruh tidak signifikan yang ditunjukkan oleh nilai sig. sebesar 0,000 dan 0,751. Artinya walaupun nilai DY dan CFTP
ditingkatkan atau diturunkan maka nilai return saham tidak akan meningkat atau menurun. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Auret dan Sinclaire (2006) yang menyatakan kombinasi DY dan CFTP berpengaruh tidak signifikan terhadap return saham. Hal ini terjadi disebabkan pengaruh individual DY lebih signifikan dibandingkan pengaruh CFTP, sehingga ketika dikombinasikan pengaruhnya menjadi tidak signifikan. Semakin tinggi DY maka saham cenderung ditahan oleh investor untuk memperoleh dividen kas. Nilai arus kas kegiatan operasi yang besar akan memberikan kemungkinan laba yang tinggi melalui dividen kas sehingga return saham berupa capital gain akan menurun.
13.Pengaruh Size dan Price to Net Asset Value terhadap Return Saham
Hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa kombinasi variabel Size dan
Price to Net Asset Value berpengaruh tidak signifikan yang ditunjukkan dengan nilai sig. 0,650 dan 0,326. Artinya walaupun nilai Size dan PNAV ditingkatkan atau diturunkan maka return saham tidak akan meningkat atau menurun. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Auret dan Sinclaire (2006) yang menyatakan bahwa kombinasi Size dan PNAV berpengaruh tidak signifikan terhadap return saham. Hal ini disebabkan pengaruh individual size
dan PNAV kecil sehingga ketika dikombinasikan pengaruhnya lemah. Nilai kapitalisasi (size) dan nilai asset bersih akan mempengaruhi permintaan saham perusahaan tersebut dan tidak akan mempengaruhi return saham.
Hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa kombinasi variabel size dan
Cash Flow to Price berpengaruh tidak signifikan yang ditunjukkan dengan nilai sig. sebesar 0,460 dan 0,736. Artinya walaupun nilai Size dan CFTP ditingkatkan atau diturunkan maka return saham tidak akan meningkat atau menurun. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Auret dan Sinclaire (2006) yang menyatakan kombinasi Size dan CFTP berpengaruh tidak signifikan terhadap return saham. Hal ini terjadi karena pengaruh kedua variabel secara individual sangat lemah sehingga ketika dikombinasikan tetap sangat lemah. Kapitalisasi pasar tidak akan menjamin arus kas kegiatan operasi semakin besar, karena jumlah saham yang beredar akan mempengaruhi laba per lembar saham dan return saham yang diterima investor.
15.Pengaruh Price to Net Asset Value dan Cash Flow to Price terhadap Return
Saham
Hasil statistik menunjukkan bahwa variabel Price to Net Asset Value dan Cash Flow to Price berpengaruh tidak signifikan yang ditunjukkan nilai sig sebesar 0.273 dan 0,922. Artinya walaupun nilai PNAV dan CFTP ditingkatkan atau diturunkan maka return saham tidak akan meningkat atau menurun. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Auret dan Sinclaire (2006) yang menyatakan bahwa kombinasi PNAV dan CFTP berpengaruh tidak signifikan terhadap
return saham. Pengaruh PNAV dan CFTP sangat lemah baik secara individual maupun kombinasi. Kemampuan perusahaan mengelola asset bersih perusahaan akan mempengaruhi arus kas dari kegiatan operasi perusahaan tersebut. Nilai PNAV dan CFTP tidak akan mempengaruhi return saham
4.3.3 Analisis Regresi Linear Berganda (Multivariat)