• Tidak ada hasil yang ditemukan

DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN

4.3. PEMBAHASAN PENELITIAN

4.3.3. Proses adaptasi bahasa

4.3.3.1. Faktor-Faktor yang Mempercepat Proses Adaptasi Bahasa

Dari penelitian yang dilakukan di daerah Kelurahan Saribudolok, maka banyak faktor-faktor yang menyebabkan penduduk setempat melakukan adaptasi bahasa. Adapun diantaranya adalah:

4.3.3.1.1. Faktor Perkawinan

Perkawinan campuran antara suku merupakan salah satu bentuk strategi adapatasi yang dilakukan oleh para suku pendatang terhadap suku asli, dimana keadaan ini sangat jelas untuk mempercepat proses adaptasi sehingga timbul suatu proses asimilasi yaitu sekumpulan manusia atau masyarakat bergaul secara intensif untuk waktu yang cukup lama sehingga kebutuhan tadi masing-masing berubah sifatnya yang khas dan juga unsur-unsurnya berubah wujudnya menjadi unsur kebudayaan campuran (Koenjaranigrat 1980 : 255)

Dalam hubungan perkawinan campuran antara suku bangsa telah terjadi di Kelurahan Saribudolok, dimana perkawinan campuran antara suku yang satu dengan

suku lainnya. Khususunya antara Suku Simalungun dengan Suku Batak Toba dan Karo telah lama terjadi karena bisa dikatakan ketiga suku inilah yang cenderung lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan suku lain seperi Suku Jawa dan suku bangsa China. Perkawianan campuran ini adalah merupakan salah satu faktor untuk mempercepat proses adaptasi bahasa bagi masyarakat pendatang ataupun untuk penduduk asli. Seperti yang dikatakan oleh salah satu informan

“ Awalnya saya dulu memang sudah mengerti bahasa Karo tapi ya… hanya sekedar mengerti aja.., tapi setelah saya menikah dengan istri saya, yaah…secara gak sadar kita sering berbalas pembicaraan dengan bahasa masing-masing yang pada akhirya lama-kelamaan saya sudah bisa pake bahasa karo dengan lancar kepada siapapun dan begitu juga dengan istri saya yang sudah tau pake bahasa simalungun. Hal ini harus kami lakukan karena apabila saya berkunjung ke rumah keluarga istri saya maka kelurga istri saya akan berbicara dengan pakai bahasa daerah mereka sendiri” ( Wawancara 27 Januari 2008 dengan Bapak Sinar Girsang )

Seperti yang telah dikatakan oleh informan bahwa melalui perkawinan akan lebih mempercepat proses adaptasi bahasa. Hal ini disebabkan oleh komunikasi diantara suku yang berbeda, dimana apabila si istri berkomunikasi dengan keluarga pihak suami maka si istri secara tidak sadar diwajibkan untuk memakai bahasa daerah suaminya dan begitu juga sebaliknya. Keadaan tersebut akan lebih mempercepat adaptasi bahasa.

Dalam proses adaptasi bahasa ini pihak pendatang cenderung kewalahan untuk berkomunikasi dengan memakai bahasa asli daerah Kelurahan Saribudolok. Hal ini dikarenakan Suku Karo ataupun Suku Batak Toba lebih mempertahankan identitas mereka yaitu dari segi bahasa. Seperti yang dikatakan oleh salah satu informan yang diwawancarai ketika ditanya bagaimana cara mereka menempatkan bahasanya

“Yah kalau ditanya masalah mudah apa tidak mengenai awalnya saya tau bahasa daerah istri saya kayaknya ga kewalahan……. Kan bahasa Simalungun hampir mirip Bahasa Karo itu kan agak mirip kan? Tapi kalau istri saya memang dia agak susah buktinya kalau sampai sekarang istri saya itu bahasanya masih berpasi-pasir ( bercampur-campur), malah kalau misalnya kita ngomong ama dia nih…dianya sering balas dengan bahasa asalnya sendiri”

( Wawancara 27 Januari 2008 dengan Bapak Randiman Dmk)

Dari hasil wawancara tersebut kita dapat mengetahui bahwa orang Simalangun tidak begitu kewalahan dalam mengerti, bahkan dapat memakai bahasa lain dengan baik. Hal ini dikarenakan Bahasa Simalungun (Bahasa daerah Silimakuta) itu sangat mirip dengan Bahasa Karo dan Bahasa Toba.

4.3.3.1.2. Faktor Pergaulan

Pergaulan adalah salah satu bentuk interaksi yang dilakukan oleh para penduduk setempat dengan penduduk pendatang. Biasanya pergaulan yang mereka maksud adalah pertemuan yang sering terjadi dengan suku yang berbeda dan biasanya pergaulan ini timbul ketika mereka berada di warung kopi dan di pasar. Warung kopi adalah salah satu tempat kaum pria untuk santai, dimana warung kopi dijadikan para suami untuk bertemu dengan teman-temanya untuk berbagi cerita. Warung kopi ini tidak saja didatangi oleh penduduk setempat saja bahkan dari tempat-tempat lain sebagai persinggahan yang datang dari berbagai suku.

Dari beberapa informan yang diwawancarai, maka jika dilihat dari jawaban bagaimana proses adaptasi bahasa mereka kenapa sampai mereka bisa menguasai lebih dari satu bahasa diluar bahasa ibunya. Rata-rata informan itu menjawab melalui pergaulan. Seperti yang dikemukan oleh salah satu informan ketika peneliti bertanya, bagaimana awalnya dia bisa menguasai bahasa lain

“ Sebenarnya kalau ditanya sejak kapan saya bisa menguasai bahasa lain… saya agak lupa sejak tahun berapa tapi yang pasti ketika saya belum menikah saya dah tau bahasa lain seperti bahasa karo dan toba.yaaa dan ini tentunya dari pergaulan saya, dulu ketika saya kuliah kebanyak teman-teman saya itu orang kita dari Samosir sana, otomatis karena kita juga ngekost di daerah yang banyak orang toba ya…. Akhirnya tanpa disadari kita keseringan pakai bahasa toba ketika lagi ngomong-ngomong gitu… yang akhirya bisalah saya berbahasa toba dan kalu bahasa karo itu karena pergaulan dengan sesama pedagang” ( Wawancara 23 Januari 2008 dengan bapak Sinar Girsang )

Pergaulan adalah faktor yang paling banyak berpengaruh dalam proses adaptasi bahasa, karena intensitas pertemuan mereka. Khususya para suami ataupun pria itu sangat terbuka dan saling menghargai. Hal ini dapat kita lihat dalam pergaulan mereka yang bukan berasal dari suku yang sama dan tidak segan memakai bahasa yang berbeda-beda. Misalnya ketika Suku Simalungun menyapa temanya yang orang karo maka ia akan menyapanya dengan bahasa Karo begitu juga sebaliknya.

Pergaulan sebagai salah satu faktor yang mempercepat proses adaptasi bahasa, karena Kelurahan Saribudolok adalah daerah yang majemuk oleh sebab itu pergaulan yang timbul hanya dilakukan masyarakat dengan suku yang sama saja akan tetapi bergaul dengan suku-suku yang lain yang tentunya akan membawa dampak pada pemakaian bahasa

4.3.3.1.3. Faktor Letak Geografis

Dari letak geografisnya maka daerah Saribudolok sangat dekat dengan Kabupaten Karo dan Kabupaten Dairi (Sidikalang ). Hal ini di dukung masyarakat Saribudolok yang terbuka yang dapat mengusai bahasa pendatang yang terbukti dari mayoritas penduduknya mampu menguasai bahasa-bahasa daerah yang dekat dengan daerah pemukiman mereka yaitu Bahasa Karo dan Toba.

Keadaan tersebut juga mengakibatkan perbedaan bahasa diantara orang Simalungun yang ada di Kecamatan Silimakuta ini. Masyarakat Simalungun mayoritas tinggal di daerah perbatasan antara Kecamatan Silimakuta dan Karo. contohnya Merek dan Situnggaling dimana daerah ini sangat dipengaruhi oleh Bahasa Karo dan Toba, desa Rakut Besi dan Jandi Saribi yang dipengaruhi oleh Bahasa Karo. Masyarakat di Saribudolok yang ada ditengahnya memeliki bahasa yang dipengaruhi dari bahasa sekitarnya, hal inilah yang mengakiibatkan orang Simalungun yang ada di Saribudolok sangat mudah melakukan proses adaptasi terhadap bahasa pendatang.

Saribudolok adalah salah satu jalur perdagangan sayur mayur (hasil pertanian) jadi desa disekitarnya atau agen-agen besar pedagang sayur itu datang ke daerah ini untuk berdagang. Pedagangn masih menggunakan bahasa mereka jadi sebagai penduduk asli yang memiliki hasil pertanian akan berkomunikasi dengan agen-agen yang datang dari berbagai wilayah sehingga mendorong masyarakat Saribudolok harus mampu memakai bahasa agen tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh salah satu informan, ketika ditanya bagaimana dia bisa menguasai bahasa daerah lain,

“ Kalau saya ditanya kenapa kebanyakan orang Saribudolok bisa menguasai bahasa lain, yah… mungkin karena letaknya Saribudolok yang begitu dekat dengan atau berbatasan dengan daerah Kabupaten Dairi dan Kabupaten Karo. Jadi pastinya kita cepat terpengaruh dengan bahasa mereka apalagi banyak diantara mereka datang ke Saribudolok untuk bedagang” (Wawancara 23 Januari 2008 dengan bapak Jankosan Sitopu)

Dokumen terkait