BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian dan Pembahasan
2. Problematika Psikososial dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi
Proses pembelajaran menghendaki terjadinya interaksi antara pendidik yang dalam hal ini adalah guru dan peserta didik, dalam pelaksanaannya sering kali ditemukan berbagai macam kesulitan yang menghambat proses pembelajaran tersebut, Kesulitan tersebut sering kali disebut problematika pembelajaran. Lilik Sriyanti dalam bukunya Psikologi Belajar mendefinisikan masalah atau problematika dalam belajar adalah kondisi yang dialami siswa dan menghambat usaha dalam mencapai tujuan belajar.116
Problematika pembelajaran bisa terjadi dari berbagai macam faktor, sering kali kesulitan baru yang dialami peserta didik juga bisa terjadi, di setiap sekolah dalam berbagai jenis dan tingkatan pasti memiliki anak yang berkesulitan belajar. Masalah yang satu ini tidak hanya dirasakan oleh sekolah modern di perkotaan, tapi juga dimiliki oleh sekolah tradisional di pedesaan dengan segala keminiman dan kesederhanaannya. Hanya yang menbedakannya pada sifat, jenis dan faktor penyebabnya.117
Fenomena kesulitan belajar biasanya tampak jelas dari menurunnya kinerja akademik atau prestasi belajarnya. Namun, kesulitan belajar juga dapat dibuktikan dengan munculnya kelainan perilaku (missbehavior) siswa, seperti suka berteriak-teriak di dalam kelas, mengusik teman, berkelahi, tidak aktif dalam belajar, bersikap murung, berkelahi, sering tidak masuk sekolah, dan lain-lain.118
Peserta didik dalam pendidikan Islam adalah individu yang sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik maupun psikis untuk mencapai tujuan pendidikannya melalui lembaga pendidikan. Peserta didik adalah makhluk yang sedang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan menurut fitrahnya masing-masing. Mereka perlu bimbingan dan pengarahan yang konsisten.119 Oleh karena itu peran pendidik sangatlah penting, sudah
116 Lilik Sriyanti, Psikologi Belajar, (Yogyakarta: Ombak, 2013), hal. 143
117 Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2011), hal. 234 118 Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu. 1999), hal. 164-165 119 Syafaruddin dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Hijri Pustaka Utama, 2016), hal. 46
menjadi kewajiban bagi para pendidik untuk membantu peserta didiknya yang mengalami kesulitan dalam belajar supaya dapat memecahkan kesulitan tersebut.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa problematika pembelajaran atau kesulitan yang dialami pada proses pembelajaran adalah suatu kondisi dimana peserta didik tidak dapat belajar secara wajar atau sebagaimana mestinya dikarenakan adanya ancaman, hambatan, atau gangguan dalam belajar.
Problematika pembelajaran yang dialami setiap peserta didik berbeda-beda sesuai dengan faktor yang menyebabkan terjadinya problematika tersebut. Begitu juga Problematika pembelajaran yang dialami oleh peserta didik Imigran asal Afghanistan, latar belakang sosial, asal Negara, bahasa, dan budaya mereka tentu menyebabkan problematika pembelajaran yang bervariasi. Sejak awal datang ke Negara Indonesia sebagai imigran para peserta didik Imigran asal Afghanistan sudah menemui berbagai kendala seperti keterbatasan pemahaman bahasa Indonesia dan tidak banyak sekolah yang mau menerima mereka menjadi peserta didiknya.
Problematika Pembelajaran Psikososial adalaH Kesulitan belajar yang terjadi pada individu peserta didik yang mencakup aspek psikis dan sosialnya.
Dalam hal ini peserta didik imigran asal Afghanistan mengalami probelamatika Psikososial karena kondisi mereka yang merupakan korban perang sehingga mempengaruhi psikisnya dan kehidupan mereka dengan lingkugan sosial yang kurang baik.
SMP Islam Ruhama: Labschool of Uhamka merupakan salah satu dari sedikit sekolah yang mau menerima keberadaan peserta didik imigran asal Afghanistan tersebut. Pada sesi wawancara bersama kepala sekolah bapak Drs. Juhdi Asidi, peneliti menanyakan alasan SMP Islam Ruhama menerima peserta didik Imigran asal Afghanistan tersebut, beliau menjawab:120
120 Hasil wawancara dengan bapak Drs. Juhdi Asidi. Kepala Sekolah SMP Islam Ruhama:
Labschool of Uhamka, senin 8 maret 2021, pukul 10.20, di ruang kepala sekolah.
“Pertama kita melakukan kerjasama dengan pihak IOM121, mereka datang ke sekolah dan bertanya apakah mereka bisa sekolah di sini, saya menjawab bisa asalkan ada yang bertanggung jawab atas mereka dan pihak IOM menyanggupinya. Namun dengan syarat mereka harus mengikuti seluruh peraturan sekolah dan status mereka disini hanya titipan saja. Tentu saja sekolah juga mengambil manfaat dari adanya mereka bersekolah di sini, kebanyakan dari mereka bahsa Inggrisnya cukup bagus sehingga kami mengharapkan kemampuan bahasa inggris tersebut menular ke peserta didik asal Indonesia sehingga terjadi pembiasaan dan penularan agar lebih menguasai bahasa Inggris.
Sehingga ada sisi manfaat kenapa mereka di terima bersekolah di sini.”
Bapak Juhdi Asidi menjelaskan bahwa SMP Islam Ruhama: Labschool of Uhamka menerima mereka karena kerjasama pihak sekolah dengan IOM (International Organization for Migration) yang bersedia memberikan tanggungan pembayaran bagi peserta didik asal Afghanistan dan siap bertanggung jawab penuh atas status peserta didik Imigran asal Afghanistan di sekolah tersebut.
IOM (International Organization for Migration) merupakan organisasi yang berdedikasi untuk mempromosikan migrasi yang berperikemanusiaan dan teratur yang bermanfaat bagi semua.an menegakkan martabatserta kesejahteraan migran, keluarganya, dan komunitasnya.122 Dengan kata lain yang membiayai kehidupan dan memberikan izin tinggal dan sekolah bagi para imigran adalah IOM itu sendiri.
Bapak Juhdi Asidi menjelaskan bahwa para peserta didik imigran asal Afghanistan tersebut sifatnya hanya titipan. Hal ini karena para peserta didik asal Afghanistan tersebut tidak terdaftar pada dinas pendidikan dan kebudayaan dan tidak memiliki nomor induk nasional sehingga tidak dapat mengikuti UN (Ujian Akhir). Selain itu aturan dan regulasi dari pihak IOM juga menyebutkan bahwa warga asing itu tidak boleh ikut belajar kecuali dia memiliki surat tugas izin belajar dari Kementerian Luar Negeri, namun SMP Islam Ruhama menerima
121 IOM (International Organization for Migration), IOM merupakan badan Migrasi di bawah naungan PBB yang bertugas untuk mengurus kegiatan migrasi dan para Imigran, Di Indonesia, IOM telah mulai beroperasi sejak tahun 1979 salah satu tugasnya adalah memberikan bantuan keuangan dan mengurus seluruh kebutuhan imigran.
122 https://indonesia.IOM.int/id/international-organization-migration-indonesia, diakses pada tanggal 18 maret 2021, pada pukul 19.30
mereka dengan tujuan jangan sampai anak-anak tersebut dalam usia sekolah malah berkeliaran dan tidak merasakan pendidikan123.
Senada dengan pernyataan kepala sekolah, pak Jojo dan ibu Nani juga mengatakan hal yang sama, bahwa peserta didik asal Afghanistan tersebut hanya
“menumpang belajar”. Pendapat kepala sekolah dan para guru tersebut nampaknya secara tidak lansung menyebabkan kurangnya perhatian yang di berikan kepada peserta didik asal Afghanistan karena anggapan bahwa mereka hanya ”numpang belajar” tersebut. selain hal tesrbut, problematika yang dialami oleh peserta didik asal Afghanistan disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal.
Memang benar bahwa para imigran asal Afghanistan sifatnya hanya sementara menetap di Indonesia, negara tujuan terakhir para imigran tersebut antara lain Australia, Kanada, dan Amerika. Sehingga di Indonesia imigran asal Afghanistan sedang menunggu gilirannya untuk dipindahkan ke negara selanjutnya, peserta didik asal Afghanistan sebelum menetap di Indonesia juga sudah pernah singgah di negara-negara lain seperti India, Vietnam, dan Malaysia Karena mereka hanya menetap sementara di Indonesia maka mereka tidak memiliki kartu tanda penduduk (KTP) seperti masyarakat Indonesia pada umumnya, namun mereka memiliki tanda pengenal sendiri berupa kartu anggota yang menunjukkan bahwa mereka merupakan imigran resmi yang namanya terdaftar di UNHCR.
Tanda pengenal atau identitas yang dimiliki peserta didik Imigran asal Afghanistan hanya kartu imigran dari UNHCR mereka tidak memiliki KTP maupun Kartu Keluarga, hal tersebut membuat mereka kesulitan dalam menggunakan Whatssapp yang dibutuhkan selama pelaksanaan belajar online, karena tidak memiliki NIK (Nomor Induk Kependudukan) yang diperlukan untuk registrasi nomor Whatsapp tersebut. sehingga peserta didik asal Afghanistan tersebut mengandalkan satu Whatsapp untuk 3-4 peserta didik secara bergantian.
123 Hasil wawancara dengan bapak Drs. Juhdi Asidi. Kepala Sekolah SMP Islam Ruhama:
Labschool of Uhamka, senin 8 maret 2021, pukul 10.20, di ruang kepala sekolah.
Gambar 4.16 Kartu identitas UNHCR
Selain hal tersebut terdapat juga faktor internal yang menyebabkan problematika pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi peserta didik asal Afghanistan tersebut. Faktor internal adalah suatu keadaan yang muncul dari dalam diri peserta didik itu sendiri.124 Faktor ini merupakan salah satu penyebab adanya problematika pembelajaran pada peserta didik yang berasal dari dalam diri peserta didik itu sendiri, sedangkan Faktor eksternal adalah hal-hal atau keadaan yang datang dari luar.125 Faktor tersebut meliputi semua kondisi lingkungan yang tidak mendukung aktivitas belajar peserta didik, baik yang bersifat sosial maupun non-sosial.126 Dari penjelasan tersebut berikut beberapa problematika psikososial yang terjadi dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi peserta didik imigran asal Afghanistan, penulis akan membagi problematika tersebut menjadi dua, yakni problematika yang berhubungan dengan psikologi atau psikis perseta didik dan problematika sosial peserta didik:
124 Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011),hal. 184.
125 Muhibbin Syah, Ibid, hal. 184.
126 Muhammad Irham dan Novan Ardy Wiyani, Psikologi Pendidikan: Teori Alikasi dalam Proses Pembelajaran, (Depok: Ar-Ruzz Media, 2016) hal 265.
a. Problematika yang berkaitan dengan aspek psikologis peserta didik 1) Kurangnya motivasi belajar
Motivasi adalah kecenderungan peserta didik dalam melakukan kegiatan pembelajaran yang didorong oleh hasrat untuk mencapai prestasi atau hasil belajar sebaik mungkin.127 menurut pendapat pak Jojo peserta didik asal Afghanistan kekurangan motivasi belajar karena tidak ada motivasi dari rumah, dan mungkin karena pengungsi membuat psikologinya tidak tenang karena memikirkan Negaranya, mungkin bisa jadi ada pengaruhnya, sehingga motivasinya kurang.128
Gambar 4.18 Wawancara bersama Rahmatullah Rezai
Berkaitan dengan motivasi belajar, Selsela Rezai dan Rahmatullah Rezai mengungkapkan bahwa kondisi berjauhan dengan orang tua tepatnya 6 tahun tidak bertemu orang tua membuat Selsela menjadi malas belajar karena
127 Mahasiswa/i PAI semester 3A, Psikologi Pendidikan, (Ciputat: PAI semester 3A, 2017), hal 83.
128 Hasil wawancara dengan Bapak Jojo. Guru mata pelajaran Al-Qur’an Hadits SMP Islam Ruhama: Labschool of Uhamka, Rabu 24 maret 2021, pukul 10.00, di ruang guru.
tidak ada penyemangat dan motivasi untuk belajar dari orang tua.129 Lain halnya dengan Selsela dan Rahmat, Hamidullah Ali Zada yang tinggal di Indonesia bersama keluarganya meskipun begitu Hamid juga merasakan kurangnya motivasi belajar karena dari orang tua Hamid tidak menuntut Hamid agar mendapatkan prestasi belajar yang penting Hamid mau sekolah ungkap Hamid.130
Motivasi belajar melibatkan proses yang memberikan energi, mengarahkan dan mempertahankan perilaku.131 Peran motivasi adalah sebagai penggerak bagi peserta didik agar antusias dalam mengikuti proses pembelajaran. Kurangnya motivasi peserta didik imigran asal Afghanistan dalam belajar salah satunya disebabkan oleh gangguan psikologis peserta didik tersebut yang merupakan korban perang di Negara asalnya, tentu hal tersebut menimbulkan rasa takut dan kekhawatiran yang akan mempengaruhi peserta didik tersebut.
Selain itu beberapa peserta didik imigran asal Afghanistan seperti Rahmatullah Rezai dan Selsela Rezai hidup terpisah dan berjauhan dengan orang tuanya. Orang tua Rahmat dan Sela masih di Afghanistan. pada saat melakukan wawancara peneliti menanyakan alasan kenapa orang tua tidak ikut pindah ke Indonesia juga, Rahmat menjelaskan “karena alasan ekonomi, uangnya tidak cukup jika pindah semua jadi hanya kami bertiga yang mengungsi). Kondisi tersebut membuat Rahmat dan Sela menjadi kurang semangat dalam belajar.
Senada dengan hal tersebut di atas, salah satu guru Pendidikan Agama Islam pak Jojo mengatakan bahwa:
“ para peserta didik asal Afghanistan itu banyak yang malas belajar mungkin karna tidak ada motivasi dari rumah, dan mungkin karena pengungsi membuat psikologinya tidak tenang karena memikirkan Negaranya, mungkin bisa jadi ada pengaruhnya, sehingga motivasinya kurang.”
129 Hasil wawancara Selsela Rezai. Peserta didik asal Afghanistan, Jumat 19 maret 2021, pukul 09.15, di depan ruangan kelas SMP Islam Ruhama.
130 Hasil wawancara Hamidullah Ali Zada. Peserta didik asal Afghanistan, Minggu 14 maret 2021, pukul 20.15, di salah satu tempat makan dekat SMP Islam Ruhama.
131 John W Santrock, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Salemba Humanika, 2014), hal. 165.
Kurangnya motivasi belajar peserta didik tersebut tentu akan mempengaruhi kinerja dan hasil belajar mereka. Motivasi diperlukan bagi peserta didik sebagai sebuah dorongan yang memicu semangat dan antusias dalam melaksanakan sesuatu, jika mereka kekurangan atau bahkan tidak memiliki motivasi maka apa yang akan mereka kerjakan tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal. Kondisi mereka sebagai imigran yang merupakan korban perang di negara asalnya adalah penyebab utama hilangnya motivasi belajar, akibat perang yang berkepanjangan sehingga mereka terusir dari negara mereka sendiri bahkan harus tinggal berjauhan dan beda negara dengan orang tua menyebabkan kurangnya motiasi untuk belajar di sekolah.
Guru sebagai orang tua kedua di sekolah sudah seharusnya memberikan motivasi dan memikirkan cara terbaik agar peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran dengan nyaman. Alangkah baiknya guru menaruh perhatian lebih terhadap para peserta didik asal Afghanistan tersebut. kondisi mereka jauh dari orang tua menyebabkan mereka kurang merasakan perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tua mereka. Alangkah baiknya jika guru disini dapat menempatkan diri layaknya orang tua yang memberikan perhatian dan dukungan serta motivasi kepada para peserta didik tersebut.
2) Sikap dan Minat belajar Pendidikan Agama Islam yang rendah
Sikap diartikan sebagai suatu kecenderungan untuk mereaksi terhadap suatu hal, orang atau benda dengan rasa suka, tidak suka atau acuh tak acuh.
Perwujudan dari sikap seseorang itu dapat dipengaruhi oleh faktor pengetahuan, kebiasaan, dan keyakinan. Adapun yang dimaksud minat adalah suatu kecenderungan untuk selalu memperhatikan dan adanya perasaan senang sehingga menjadikan seseorang antusias dalam melaksanakan suatu kegiatan. Alisuf Sabri dalam bukunya Psikologi Pendidikan menjelaskan bahwa minat itu erat kaitannya dengan perasaan senang, oleh karena itu dapat
dikatakan orang yang berminat itu memiliki sikap senang terhadap sesuatu itu.132
Sikap dan minat merupakan faktor psikologis yang akan mempengaruhi proses pembelajaran. Dalam hal ini sikap yang akan menunjang belajar seseorang adalah sikap positif (menerima/suka) terhadap mata pelajaran, terhadap guru yang mengajar, serta terhadap lingkungan tempat belajar. Adapun minat yang dapat menunjang belajar adalah minat kepada mata pelajaran dan kepada guru yang mengajarnya. Sikap dan minat salah satunya harus ada dalam proses pembelajaran, paling tidak dalam diri siswa itu harus ada sikap positif (menerima) kepala pelajaran yang dipelajari atau kepada gurunya.133
Temuan penelitian menunjukkan kurangnya sikap yang positif dari peserta didik asal Afghanistan terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan guru. Ibu Nani dalam sesi wawancara ketika ada pertanyaan bagaimana kesan dan sikap ibu terhadap peserta didik asal Afghanistan, beliau mengatakan134:
“Tidak ada kesan sama sekali, dari sopan santun mereka kurang, dari tugas mereka kurang aktif dan jarang mengerjakan tugas mereka, sekarang juga sudah ada arahan dari kepala sekolah untuk tidak terlalu memikirkan mereka karena status mereka yang hanya menumpang belajar. mereka tidak aktif dan kurang merespon ketika saya menyampaikan materi, saya sendiri tidak mengetahui alasannya. Tapi dalam pelajaran olahraga mereka aktif namun di pelajaran saya kurang aktif.”
Dari temuan tersebut di atas terlihat bahwa minat belajar peserta didik asal Afghanistan dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam juga kurang, ibu Nani mengatakan bahwa mereka kurang aktif dan kurang merespon dalam pelajaran saya namun dalam pelajaran olahraga mereka terlihat aktif dan senang. Selain itu juga sikap peserta didik asal Afghanistan juga kurang baik, hal tersebut juga terlihat pada observasi yang peneliti lakukan, peserta didik
132 Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2010), hal 83-84.
133 Alisuf Sabri, Ibid, hal 84.
134 Hasil wawancara dengan ibu Nani. Guru mata pelajaran Fiqh SMP Islam Ruhama: Labschool of Uhamka, senin 22 maret 2021, pukul 10.30, di ruang guru.
asal Afghanistan hanya sekali datang ke sekolah untuk mengumpulkan tugas dari ibu Nani, waktu pengumpulan tugasnya juga terlambat dan yang mengumpulkan hanya satu orang yaitu Selsela Rezai.
Sedangkan pak Jojo mengatakan dalam pelajaran beliau peserta didik asal Afghanistan tidak menunjukkan kenakalan dan sudah sopan kepada saya, yang ada hanya kemalasan saja135. Ini menunjukkan adanya perbedaan sikap yang diberikan oleh peserta didik asal Afghanistan terhadap pak Jojo dan ibu Nani. Sikap sebagai peserta didik yang kurang menyukai mata pelajaran atau guru yang mengajar akan berakibat pada hasil belajar yang kurang maksimal dan hilangnya keberkahan dari suatu ilmu.
3) Kurangnya kemampuan peserta didik asal Afghanistan dalam membaca Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam, kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat jibril untuk dibaca, dipahami, dan diamalkan sebagai petunjuk atau pedoman hidup bagi umat manusia. Melihat hal tersebut kemampuan membaca Al-Qur’an penting untuk dipelajari bagi peserta didik, mengingat pentingnya memahami dan mengamalkan Al-Qur’an sehingga kemampuan membaca Al-Qur’an merupakan kemampuan utama yang sangat penting sebelum dapat memahami dan mengamalkan isinya.
Temuan penelitian menunjukkan kurangnya kemampuan peserta didik imigran asal Afghanistan dalam membaca dan memahami Al-Qur’an. Bapak Juhdi Asidi kepala sekolah SMP Islam Ruhama dalam sesi wawancara bersama peneliti mengatakan selain problematika bahasa para peserta didik asal Afghanistan juga kurang bisa membaca Al-Qur’an beliau memaparkan136:
“Problematika utama ya kurangnya pemahaman bahasa Indonesia bagi beberapa peserta didik asal Afghanistan namun kebanyakan dari mereka saat ini sudah mulai bisa memahami bahasa Indonesia,
135 Hasil wawancara dengan Bapak Jojo. Guru mata pelajaran Al-Qur’an Hadits SMP Islam Ruhama: Labschool of Uhamka, Rabu 24 maret 2021, pukul 10.00, di ruang guru.
136 Hasil wawancara dengan bapak Drs. Juhdi Asidi. Kepala Sekolah SMP Islam Ruhama:
Labschool of Uhamka, senin 8 maret 2021, pukul 10.20, di ruang kepala sekolah.
kemudian yang saya liat harusnya karena mereka berasal dari Afghanistan yang notabene nya merupakan Negara Islam harusnya pemahaman agamanya dalam ya, namun kenyataannya kebanyakan dari mereka tidak lancar membaca Al-Qur’an. Hal ini mungkin karena kondisi mereka yang dalam keadaan mengungsi sehingga tidak sempat untuk belajar membaca Al-Qur’an karena jelas kondisi psikologisnya juga pasti terganggu akibat bencana perang dan ketakutan yang sebelumnya mereka rasakan di Negara asalnya.”
Selama melaksanakan Observasi peneliti beberapa kali mendengar lansung peserta didik asal Afghanistan melantunkan bacaan Al-Qur’an ketika setoran hafalan bersama pak Jojo, dari yang peneliti amati dan pedapat pak Jojo memang benar peserta didik asal Afghanistan belum lancar membaca Al-Qur’an, Tajwidnya juga belum pas. Namun pak Jojo memaklumi hal tersebut dan meminta mereka untuk tetap belajar membaca Al-Qur’an di rumah.
b. Problematika yang berkaitan dengan aspek sosial peserta didik
1) Problematika yang berkaitan dengan kurangnya pemahaman bahasa Indonesia
Faktor internal utama yang menyebabkan problematika pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi peserta didik Imigran asal Afghanistan adalah Kurangnya kemampuan mereka dalam memahami Bahasa Indonesia, sehingga interaksi dan komunikasi antara guru dan peserta didik menjadi terganggu sehingga menjadi penyebab kesulitan belajar yang mempengaruhi kemampuan kognitif mereka. Temuan peneliti menunjukkan bahwa beberapa peserta didik sudah mengerti dan bisa bahasa Indonesia, namun dalam proses pembelajaran terkadang guru menjelaskan materi dengan cepat dan terdapat beberapa kata yang sulit di mengerti oleh mereka.
Gambar 4.14 Proses wawancara bersama Selsela Rezai
Selsela Rezai salah satu peserta didik imigran asal Afghanistan mengatakan bahwa dia sudah menguasai bahasa Indonesia sejak tahun 2017 karena mengikuti kelas privat bahasa Indonesia.137 Namun Selsela mengatakan jika guru menerangkan dengan bahasa Indonesia terkadang terlalu cepat sehingga sulit untuk di cerna. Sependapat dengan Selsela, Rahmatullah Rezai yang juga merupakan adik kandung Selsela menuturkan hal yang sama, Rahmat mengatakan138 “Saya kurang paham materi bahasa Indonesia jika guru menjelaskan secara cepat, dan gurunya juga kurang menjelaskan lebih kepada saya sehingga saya merasa kurang di perhatikan.”
Hamidullah Ali Zada merupakan salah satu peserta didik yang kemampuan memahami bahasa Indonesianya masih terbilang kurang jika dibandingkan dengan Rahmatulah Rezai maupun Selsela. Hamid lebih
137 Hasil wawancara Selsela Rezai. Peserta didik asal Afghanistan, Jumat 19 maret 2021, pukul 09.15, di depan ruangan kelas SMP Islam Ruhama.
138 Hasil wawancara Rahmatullah Rezai. Peserta didik asal Afghanistan, Minggu 14 maret 2021, pukul 20.15, di salah satu tempat makan dekat SMP Islam Ruhama.
banyak mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran pendidikan Agama Islam ketimbang peserta didik imigran lainnya, hal tersebut disebabkan karena Hamid tidak mengikuti kursus atau les Bahasa Indonesia seperti Rahmat. Beruntung Hamid berada satu kelas bersama Rahmatullah Rezai dan tempat duduk mereka juga bersebelahan sehingga jika ada materi yang tidak Hamid pahami, dia akan segera menanyakan kepada Rahmat.
Sedangkan menurut ibu Nani, peserta didik asal Afghanistan tidak pernah menyampaikan keluhan terkait penyampaian materi pada mata pelajaran beliau, ibu Nani mengatakan mereka jarang aktif dan meminta penjelasan ulang terkait materi yang disampaikan. Senada dengan hal tersebut pak Jojo juga jarang mendapati peserta didik asal Afghanistan mengacungkan
Sedangkan menurut ibu Nani, peserta didik asal Afghanistan tidak pernah menyampaikan keluhan terkait penyampaian materi pada mata pelajaran beliau, ibu Nani mengatakan mereka jarang aktif dan meminta penjelasan ulang terkait materi yang disampaikan. Senada dengan hal tersebut pak Jojo juga jarang mendapati peserta didik asal Afghanistan mengacungkan