BAB II KAJIAN TEORI
B. Problematika Psikososial dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
3. Upaya Mengatasi Problematika Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
peningkatan prestasi akademik. Namun terkadang peserta didik mengalami masa sulit dalam memahami pelajaran sehinga mempengaruhi hasil dari proses pembelajaran. Kesulitan murid dalam belajar memang sulit untuk diidentifikasi dengan kasat mata, karena meliputi banyak jenisnya, banyak kemungkinan faktor penyebabnya, banyak jenis gejala, serta kemungkinan penanganannya.59
Problematika atau kesulitan-kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik tentu memerlukan solusi sebagai pemecahan masalahnya. Upaya dalam mencari solusi harus dilakukan agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara maksimal, tidak dipungkiri lagi sudah menjadi tugas pendidik dalam hal ini guru dalam membantu peserta didik memecahkan masalah yang dialaminya, Tokoh utama di sekolah adalah guru. Pribadi, sikap, tanggapan dan perlakuan seorang guru membawa dampak besar bagi penanaman gagasan dalam pikiran peserta didik.60 selain itu juga butuh perhatian lansung dari berbagai elemen sekolah dan lingkungan agar dapat memecahkan masalah kesulitan belajar tersebut. Seperti pihak sekolah, guru, guru BK (bimbingan konseling), teman sekelas, keluarga, dan masyarakat sekitar.
Dalam upaya mengatasi problematika pembelajaran Pendidikan Agama Islam, sebelum mencoba mencari solusi yang diharapkan dapat
59 Derek Wood, Kiat Mengatasi Gangguan Belajar Terjemahan Ivan Taniputera, (Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media, 2007), hal 24.
60 Mahasiswa/i PAI semester 3A, Psikologi Pendidikan, (Ciputat: PAI semester 3A, 2017), hal 11.
memecahkan masalah tersebut perlu dilakukan identifikasi terhadap apa saja kesulitan belajar yang dialami peserta didik. Untuk mengidentifikasi problematika tersebut dapat dilakukan dengan melihat gejala-gejala sebagai indikator kesulitan belajar. Syaiful Bahri dalam bukunya Psikologi Belajar mengidentifikasikan gejala-gejala tersebut, yaitu61:
a. Menunjukkan prestasi belajar yang rendah, di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompok anak didik di kelas.
b. Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. padahal anak didik sudah berusaha belajar dengan keras, tetapi nilainya selalu rendah.
c. Anak didik lambat dalam mengerjakan tugas-tugas belajar. Ia selalu tertinggal dengan teman-temannya dalam mengerjakan tugas.
d. Anak didik menunjukkan sikap yang kurang wajar, seperti acuh tak acuh, berpura-pura, berdusta, mudah tersinggung, dan sebagainya.
e. Anak didik tergolong memiliki kecerdasan yang potensial dimana mereka seharusnya meraih prestasi belajar yang tinggi, namun kenyataannya mereka mendapatkan prestasi belajar yang rendah.
f. Anak didik yang selalu menunjukkan prestasi belajar yang tinggi untuk sebagian mata pelajaran, tetapi di lain waktu prestasi belajarnya menurun drastis.
Setelah dapat diidentifikasi masalah dan kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik, langkah selanjutnya adalah melakukan diagnosis terhadap kesulitan belajar, dan yang paling tepat melakukan diagnosis tersebut adalah guru. Mendiagnosa kesulitan belajar bukanlah pekerjaan yang mudah apalagi bagi guru yang belum memiliki pengalaman menyelami keadaan anak-anak.
Ada beberapa hal yang mendasari sehingga mendiagnosa kesulitan belajar perlu dilakukan secara hati-hati, yaitu62:
a. Penyebab kesulitan sangat komplek, karena itu tidak bisa dilihat secara sepintas, walau oleh seorang ahli.
61 Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2011), hal. 246 62 Lilik Sriyanti, Psikologi Belajar, (Yogyakarta: Ombak, 2013), hal. 156
b. Karena penyebab kesulitan sangat beragam, sehingga gejala yang sama bisa bersumber dari faktor penyebab yang berbeda dan sebaliknya, sumber penyebab yang sama bisa muncul dalam bentuk gejala yang berbeda-beda.
c. Usaha pemecahan kesulitan belajar mungkin tepat atau cocok untuk seorang peserta didik, akan tetapi belum tentu tepat atau cocok untuk peserta didik lainnya. Pemahaman terhadap karakteristik anak menjadi penting bagi upaya bantuan yang tepat.
Oleh sebab itu maka dalam mendiagnosis masalah, guru harus melakukannya secara teliti. Menurut Muhibbin Syah dalam bukunya Psikologi Belajar, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam mendiagnosis kesulitan belajar, yaitu63:
a. Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang peserta didik ketika mengikuti pelajaran.
b. Memeriksa penglihatan dan pendengaran peserta didik, khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar.
c. Mewawancarai orang tua atau wali peserta didik untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar.
d. Memberikan tes diagnostik bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa.
e. Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar disebabkan rendahnya kemampuan inteligensi.
Setelah berhasil melakukan diagnostik masalah belajar bagi peserta didik, dalam upaya mengatasi problematika belajar tersebut banyak alternatif yang dapat diambil guru dalam mengatasi hal tersebut. Akan tetapi, sebelum pilihan tertentu diambil, guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu melakukan beberapa langkah penting yang meliputi64:
63 Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu. 1999), hal. 164-165 64 Lilik Sriyanti, Ibid, hal. 156
a. Menganalisis hasil diagnostik yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antara bagian tersebut untuk memperoleh pemahaman yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi peserta didik.
b. Mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan.
c. Menyusun program perbaikan, khususnya program remedial teaching (pengajaran perbaikan).
Menurut Muhammad Irham, dkk. Dalam bukunya Psikologi Pendidikan mengutip perkataan Tidjan, penentuan janis upaya mengatasi problematika yang dialami peserta didik meliputi65:
1) Apabila faktor penyebab problematika pembelajarannya bersumber pada kelemahan fisik, maka pemecahannya dengan menyerahkan kepada tenaga kesehatan.
2) Apabila faktor penyebab problematika pembelajarannya bersumber pada kebiasaan belajar yang salah, proses pemberian bantuan dilakukan dalam bentuk cara belajar yang efektif dan efisien.
3) Apabila faktor penyebab problematika pembelajarannya bersumber pada kepribadian peserta didik, maka proses pemberian bantuan dilakukan dalam bentuk bimbingan pribadi.
4) Apabila faktor penyebab problematika pembelajarannya disebabkan oleh faktor sosial, pemberian bantuannya dilakukan dengan pendekatan bimbingan sosial, cara bergaul, dan sebagainya.
Namun ada hal yang penting untuk diperhatikan, bahwa setiap kali kesulitan belajar anak didik yang satu dapat diatasi, tetapi pada waktu yang lain muncul lagi kasus kesulitan belajar anak didik yang lain. Dalam setiap bulan bahkan dalam setiap minggu tidak jarang ditemui anak didik yang berkesulitan berlajar. Walaupun sebenarnya masalah yang menganggu keberhasilan belajar anak didik ini sangat tidak disenangi guru dan bahkan oleh anak itu sendiri.
Namun, begitu usaha demi usaha harus diupayakan dengan berbagai strategi
65 Muhammad Irham dan Novan Ardy Wiyan, Op Cit, Hal. 270
dan pendekatan agak anak didik dapat dibantu keluar dari kesulitan belajar.
Sebab bila tidak, anak didik akan gagal meraih prestasi belajar yang memuaskan.66
4. Peran Guru dan Sekolah dalam Mengatasi Problematika Pembelajaran