BAB V PENUTUP
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan di atas, ada beberapa hal yang disarankan oleh peneliti, diantaranya:
1. Bagi pihak Sekolah SMP Islam Ruhama: Labschool of Uhamka: yang pertama adalah ucapan terimakasih mendalam yang peneliti sampaikan dan diuangkapkan juga oleh peserta didik asal Afghanistan karena sudah bersedia menerima peserta didik asal Afghanistan untuk mengikuti proses pembelajaran di SMP Islam Ruhama tersebut. Selanjutnya sedikit saran dari peneliti adalah untuk lebih memperhatikan kondisi peserta didik asal Afghaistan yang memiliki kesulitan belajarnya sendiri. Proses belajar sangat penting bagi mereka. Meski hanya menumpang belajar namun alangkah baiknya lebih memperhatikan keberadaan mereka dengan memberikan bimbingan secara pribadi agar dapar menyelesaikan problemtika-problematika yang mereka alami terutama dalam hal psikologis dan kemampuan membaca Al-Qur’an peserta didik tersebut.
2. Bagi Guru Pendidikan Agama Islam: guru merupakan tokoh utama dalam pendidikan, pekerjaan mulia yang membutuhkan banyak keterampilan dan
harus selalu menjadi contoh bagi peserta didiknya. Sedikit saran bagi para guru adalah pentingnya melakukan pendekatan emosional kepada setiap peserta didik terutama bagi peserta didik yang benar-benar membutuhkan sosok orang tua yang dapat memberikan mereka ilmu dan nilai-nilai yang bermanfaat bagi mereka kelak.
3. Bagi peserta didik imigran asal Afghanistan: saran yang bisa peneliti berikan adalah agar tidak menyerah dalam belajar, sesulit apapun kondisi dan masalah yang dihadapi untuk tidak berhenti belajar karena ilmu itu penting khususnya dalam Pendidikan Agama Islam. Tetap memiliki mimpi yang tinggi dan selalu berusaha untuk meraihnya.
4. Bagi mahasiswa: penelitian ini masih terbatas pada problematika pembelajaraan Pendidikan Agama Islam bagi peserta didik imigran asal Afghanitsan, hendaklah penelitian selanjutnya dapat mengembangkan penelitian mengenai problematika pembelajaran yang serupa dengan variabel dan subjek penelitian lain atau menggunakan sudut pandang yang berbeda.
92
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi. 2005. Ideologi Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ali, Muhammad Daud. 1998. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Basri, Hasan. 2009. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: CV Pustaka Setia.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Gramedia.
Dimyati, dan Mudjiono. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Faisal, Sanapiah. 1992, Format-format Penelitian Sosial. Jakarta: Rajawali Press.
Febi Yadani, “Pengalaman Komunikasi dan Konsep Diri Pengungsi asal Afghanistan di Kecamatan Rumbai”, JOM FISIP Vol. 4 No. 2 Oktober, 2017.
Gerungan. 2002, Psikologi Sosial. Bandung: Refika Aditama.
Gunawan, Heri. 2004. Pendidikan Islam Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
https://indonesia.IOM.int/id/international-organization-migration-indonesia, diakses pada tanggal 18 maret 2021, pada pukul 19.30
https://www.UNHCR.org/id/figures-at-a-glance, diakses pada tanggal 7 april 2021 jam 15.00.
Irham, Muhammad dan Novan Ardy Wiyani. 2016, Psikologi Pendidikan. Depok:
Ar-Ruzz Media.
Khadijah. 2016, Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Perdana Mulya Sarana.
KMA No 211 Tahun 2011 tentang Pedoman Standar Nasional Pendidikan Agama Islam di Sekolah.
Knoers, Monks dan Siti Rahayu. 2006, Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Mahasiswa/i PAI semester 3A. 2017, Psikologi Pendidikan. Ciputat.
Mahfud, dkk. 2015. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasi Multietnik.
yogyakarta: CV Budi Utama.
Maolan, Rukaesih A. 2015. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Marimba, Ahmad D. 2004. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Al- Ma‟rif.
Miles, Matthew B dan A Michael Huberman. 2007. Analisis data Kualitatif. Jakarta:
U-I PRESS.
Moleong, Lexy J. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Muhaimin. 2004. Pradigma Pendidikan Islam, PT Remaja Rosda Karya, Bandung.
Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakkir. 2017. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.
Mulyadi. 2010, Diagnosis Kesulitan Belajar. Yogyakarta: Nuha Litera Mulyana, Dendy. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nata, Abuddin. 2014. Metodologi Studi Islam. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Nata, Abuddin. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Prenadamedia Group.
Nata, Abuddin. 2001. Persepektif Islam Tentang Pola-Hubungan Guru-Murid, Jakarta: Raja Grafido Persada.
Noor, Wahyudin. Jurnal Qatruna, Rekontruksi Pendidikan Islam, Vol.1 No. 1, Periode Januari-Juni 2014.
Peraturan Menteri Agama Nomor 3 Tahun 2012 tentang Pendidikan Agama Islam.
Poerwadarminta, W.J.S. 1991. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Romsan, Achmad dkk. 2003. Pengantar Hukum Pengungsi Internasional. Bandung:
Sanic Offset bekerjasama dengan UNHCR Jakarta.
Rusman. 2017. Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Kencana.
Sabri, Alisuf. 2010, Psikologi Pendidikan. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.
Sadiman, Arief S, dkk. 2002. Media Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sakharina Iin Karita dan Kadarudin. 2017. Pengantar Hukum Pengungsi Internasional. Yogyakarta: CV Budi Utama.
Santrock, Jhon W. 2014, Psikologi Pendidikan. Jakarta: Salemba Humanika.
SMP ISLAM RUHAMA, (https://www.SMPIslamruhama.sch.id/ekstrakurikuler).
Diakses pada tanggal 6 april 2021 jam 15.20.
Sriyanti, Lilik. 2013. Psikologi Belajar. Yogyakarta: Ombak.Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sujarweni, V. Wiratna. 2018. Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2016. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sumantri, Mohammad syarif. 2015. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan Mengajar di Sekolah. Jakarta: Prenada Media Group.
Syafaruddin, dkk. 2016. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Hijri Pustaka Utama.
Syah, Muhibbin. 1999. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu.
Tobroni, DKK. 2018, Memperbincangkan Pemikiran Pendidikan Islam. Jakarta:
Prenadamedia Group.
Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS Bandung: Citra Umbara. 2006
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Uno, Hamzah B. 2009. Perencaan Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Wood, Derek. 2007, Kiat Mengatasi Gangguan Belajar Terjemahan Ivan Taniputera.
Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
www.UNHCR.org, diakses pada tanggal 19 Februari 2020, pada pukul: 22.25 Zubaedi. 2011, Desain Pendidikan Karakter. Jakarta: Kencana.
95
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran 1
Lampiran 2
INSTRUMEN PENELITIAN
PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN PAI BAGI PESERTA DIDIK IMIGRAN ASAL AFGHANISTAN (STUDI KASUS SMP
ISLAM RUHAMA: LABSCHOOL OF UHAMKA)
A. Pedoman Wawancara bersama Kepala Sekolah atau Wakil Kepala Sekolah
1. Bagaimana keadaan sekolah di masa pandemi ini?
2. Kebijakan apa yang dikeluarkan pihak sekolah dalam pelaksanaan proses pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran pendidikan agama Islam?
3. Apa alasan sekolah menerima peserta didik asal Afghanistan?
4. Apa ada persyaratan khusus bagi peserta didik Afghanistan tersebut jika ingin menikuti proses pembelajaran di SMP Islam Ruhama ini?
5. Apakah ada keluhan dari para siswa asal asfghanistan tersebut seputar kegiatan pembelajaran di SMP Islam Ruhama? Jika ada apa saja keluhan yang mereka sampaikan?
6. Bagaimana penyelesaian masalah dari keluhan siswa-siswa asal Afghanistan tersebut?
7. Apa yang membedakan peserta didik Imigran asal Afghanistan tersebut dengan peserta didik lainnya?
8. Bagaimana sekolah memberikan perlakuan terhadap peserta didik asal Afghanistan tersebut, apakah ada perlakuan khusus?
9. Bagaimana prestasi peserta didik asal Afghanistan tersebut selama mengenyam pendidikan di SMP Islam Ruhama?
10. Bagaimana peran sekolah dalam memfasilitasi kegiatan pembelajaran peserta didik asal Afghanistan yang memiliki keterbatasan dalam penggunaan Bahasa Indonesia?
B. Pedoman Wawancara bersama Guru Pendidikan Agama Islam, Ibu Nani 1. Apa saja persiapan yang dilakukan sebelum mengajar PAI?
2. Metode apa yang digunakan dalam proses PAI?
3. Bagaimana tanggapan Ibu mengenai peserta didik imigran asal Afghanistan yang mengikuti pembelajaran?
4. Apa ada perlakuan khusus yang ibu berikan kepada peserta didik asal Afghanistan tersebut?
5. Apakah ada keluhan dari para siswa asal asfghanistan tersebut seputar kegiatan pembelajaran di SMP Islam Ruhama? Jika ada apa saja keluhan yang mereka sampaikan?
6. Bagaimana penyelesaian masalah dari keluhan siswa-siswa asal Afghanistan tersebut?
7. Apa kesulitan yang ibu alami ketika memberikan materi ajar PAI khususnya kepada peserta didik asal Afghanistan tersebut?
8. Bagaimana ibu mengatasi pemahaman bahasa Indonesia pada peserta didik asal Afghanistan yang masih terbatas dalam menyampaikan materi ajar?
9. Bagaimana prestasi belajar yang diraih peserta didik asal Afghanistan selama mengikuti proses pembelajaran?
10. Bagaimana respon yang diberikan peserta didik asal Afghanistan selama mengikuti kegiatan pembelajaran?
11. Bagaimana ibu memotivasi peserta didik asal Afghanistan tersebut agar selalu bersemangat mengikuti pembelajaran?
12. Apakah perbedaan mazhab Afghanistan dan Indonesia mempengaruhi proses pembelajaran?
13. Apa kepala sekolah atau wakil kepala sekolah memberikan arahan khusus dalam mendidik para peserta didik asal Afghanistan tersebut?
C. Pedoman Wawancara bersama Guru Pendidikan Agama Islam, Pak Jojo 1. Bagaimana keadaan proses pembelajaran PAI selama masa pandemi?
2. Apa saja yang bapak persiapkan sebelum melaksanakan proses belajar mengajar?
3. Metode apa yang bapak gunakan dalam menyampaikan materi pelajaran pendidikan Agama Islam?
4. Terkait peserta didik asal Afghanistan, apa yang membedakan mereka dengan peserta didik lainnya?
5. Apakah ada keluhan dari para siswa asal asfghanistan tersebut seputar kegiatan pembelajaran di SMP Islam Ruhama? Jika ada apa saja keluhan yang mereka sampaikan?
6. Bagaimana penyelesaian masalah dari keluhan siswa-siswa asal Afghanistan tersebut?
7. Apa saja problematika yang bapak alami dalam menyampaikan materi ajar kepada peserta didik asal Afghanistan?
8. Bagaimana upaya bapak dalam mengatasi problematika tersebut?
9. Apa saja pencaPAI tujuan minimal yang diharapkan dapat dimiliki oleh peserta didik asal Afghanistan tersebut selama mengikuti pembelajaran?
10. Bagaimana respon yang diberikan oleh peserta didik asal Afghanistan selama mengikuti proses pembelajaran bersama bapak?
11. Bagaimana penilaian afektif yang bapak berikan kepada peserta didik asal Afghanistan selama mengikuti pembelajaran?
12. Kendala yang dialami peserta didik saat menerima pelajaran?
13. Sebagai pendidik yang profesional, menurut bapak apa yang sebaiknya pihak sekolah lakukan dalam menyikapi peserta didik asal Afghanistan yang memiliki beberapa problematika selama mengikuti pembelajaran PAI?
D. Pedoman Wawancara bersama Peserta Didik asal Afghanistan, Rahmatullah Rezai
1. Kenapa memilih sekolah di SMP Islam Ruhama?
2. Perbedaan sekolah di Afghanistan dan di Indonesia?
3. Suka duka bersekolah di Indonesia?
4. Bagaimana perlakuan yang diberikan oleh teman-teman peserta didik yang berasal dari Indonesia?
5. Apa sudah mengerti dan bisa berbahasa Indonesia?
6. Siapa yang membantu dalam mempelajari Bahasa Indonesia
7. Bagaimana pengaruh jauhnya orang tua terhadap prestasi belajar di sekolah?
8. Apa yang kamu lakukan jika tidak mengerti materi yang disampaikan oleh bapak/ibu guru di sekolah?
9. Apakah terdapat perbedaan materi pelajaran Pendidikan Agama Islam yang didapat di Indonesia dan di Afghanistan?
10. Menurut Rahmat guru yang baik itu guru yang bagaimana?
11. Apa saja problematika yang dialami selama mengikuti pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah?
12. Bagaimana cara mengatasi problematika tersebut?
E. Pedoman Wawancara bersama Peserta Didik asal Afghanistan 1. Sejak kapan pindah ke Indonesia?
2. Bagaimana proses perpindahan dari Afghanistan hingga ke Indonesia? Bisa di ceritakan?
3. Siapa yang membantu untuk belajar bahasa Indonesia?
4. Di Indonesia tinggal bersama siapa?
5. Kenapa memilih sekolah di SMP Islam Ruhama?
6. Apa yang menjadi motivasi ketika malas belajar?
7. Apa saja kesulitan yang dialami ketika mengikuti proses pembelajaran PAI di sekolah?
8. Mata pelajaran PAI yang paling disenangi dan alasannya?
9. Apakah guru di sekolah menggunakan bahasa yang di mengerti dalam menyampaikan materi ajar?
10. Apa teman-teman di sekolah membantu jika kamu kesulitan mengerti materi yang disampaikan oleh guru?
Hari/ Tanggal :
Jam :
Tempat :
Observasi :
Subjek Penelitian :
No Deskriptif Tanggapan
Peneliti Kesimpulan
Pedoman Dokumentasi
1. Sejarah Berdirinya SMP Islam Ruhama: Labshool of Uhamka 2. Visi, Misi, dan Tujuan SMP Islam Ruhama: Labshool of Uhamka 3. Struktur Organisasi SMP Islam Ruhama: Labshool of Uhamka
4. Dokumentasi bangunan dan ruangan kelas SMP Islam Ruhama: Labshool of Uhamka
5. Data tenaga pengajar dan data siswa 6. Data sarana dan prasarana
7. Dokumentasi kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam secara daring
8. Dokumentasi kegiatan wawancara bersama narasumber
Transkip Hasil Wawancara
Wawancara bersama Kepala Sekolah Bapak Drs. Juhdi Asidi
Peneliti : Bagaimana sejarah berdirinya SMP Islam Ruhama ini? Dan kenapa dinamakan SMP Islam? (1)
Informan : berdirinya SMP Islam Ruhama pada tanggal 17 juli 1987, kenapa tanggal 17 juli karena mulai operasionalnya pada tanggal segitu, sejarah awal kenapa dinamakan SMP Islam Ruhama itu juga menarik ini bagi saya. Jadi pendirinya itu kan Ibu Prof. Dr. Zakiah Daradjat yang memiliki dasar pendidikan keIslaman mestinya beliau mendirikan MI, MTS atau MA. Beliau kan ahli Psikologi agama, pada saat itu beliau melihat di daerah sekitar sini, yang namanya sekolah berbasis agama itu kurang di minati. Pada masa itu mencari peserta didik sangat sulit harus membawa beras ke kampung-kampung dan menawarkan rumah ke rumah agar anaknya mau bersekolah di pesantren atau tsanawiyah karena kurang di minatinya. Setelah dilakukan penelitian seerhana untuk wilayah cirendeu dan pisangan serta pondok cabe, hasilnya sekolah berbasis agama kurang di minati dan pengetahuan agamanya juga kurang, sehingga beliau berinisiatif mendirikan sekolah umum yang bernuansa agama, sehingga berdirilah SMP Islam Ruhama.
Logo awal SMP Islam Ruhama itu adalah padi yang filosofinya adalah semakin berisi semakin merunduk dan jika ditanam satu akan mekar beberapa puluh lagi atau berbuah banyak, diharapkan SMP Islam juga demikian. (2)
Peneliti : Bagaimana terkait kurikulum SMP Islam Ruhama apakah mengikuti Dinas Pendidikan atau Departemen Agama? (1)
Informan : kita mengikuti Kurikulum Dinas Pendidikan namun dalam muatan agama kita mencontoh kurikulum Tsanawiyah sehingga Pelajaran PAI di SMP Islam Ruhama dipecah menjadi ada pelajaran SKI. Fiqh, Aqidah Akhlak, dan Al-Qur’an Hadits dalam rangka sesuai sejarah tadi memberikan nuansa Islam pada SMP Umum. (2)
Peneliti : Bagaimana kondisi Sekolah di masa pandemi dan apa problematika yang dialami selama melaksanakan proses pembelajaran? (1)
begitu sulitnya melaksanakan proses pembelajaran dengan situasi seperti ini, namun seiring berjalannya waktu sudah mulai beradaptasi dan menemukan solusinya masing-masing, jika ditanya kesulitannya hanya di awal-awal saja namun sekarang sudah teratasi, kesulitannya mungkin dalam memonitoring peserta didik agar dapat mengikuti pembelajaran aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Namun bisa diatasi dengan melakukan kerjasama dengan orang tua peserta didik agar peserta didik tersebut mengikuti pembelajaran secara aktif. (2)
Peneliti : Apa Alasan SMP Islam Ruhama menerima peserta didik Imigran asal Afghanistan tersebut? (1)
Informan : pertama kita melakukan kerjasama dengan pihak IOM, mereka datang ke sekolah dan bertanya apakah mereka bisa sekolah di sini, saya menjawab bisa asalkan ada yang bertanggung jawab atas mereka dan pihak IOM menyanggupinya. Namun dengan syarat mereka harus mengikuti seluruh peraturan sekolah dan status mereka di sini hanya titipan saja. Mereka juga pemukimannya dekat dengan sekolah ini, dan awalnya saya melihat mereka sering mondar mandir melihat orang lain yang bersekolah, bermain bersama teman sebayanya sehingga rasa empati saya muncul dan juga sekolah masih sanggup menampung mereka. Dan mereka juga harus mau belajar bahasa Indonesia meski awalnya beberapa tidak menguasai bahasa Indonesia namun lama kelamaan karena berinteraksi juga dengan peserta didik lain yang asal Indonesia akhirnya mereka bisa menguasai bahasa Indonesia. Tentu saja sekolah juga mengambil manfaat dari adanya mereka bersekolah di sini, kebanyakan dari mereka bahsa Inggrisnya cukup bagus sehingga kami mengharapkan kemampuan bahsa inggris tersebut menular ke peserta didik asal Indonesia sehingga terjadi pembiasaan dan penularan agar lebih menguasai bahasa Inggris. Sehingga ada sisi manfaat kenapa mereka di terima bersekolah di sini. (2)
Peneliti : Apakah pihak IOM menanggung semua administrasi dan anggaran belajar peserta didik Imigran asal Afghanistan tersebut? (1)
Informan : Iya IOM memang memberikan tanggungan sesuai anggaran mereka, memang ada anggarannya untuk smua peserta didik namun dibayarkan
pada umumnya, itu merupakan suatu bentuk kemudahan yang diberikan sekolah bagi mereka. (2)
Peneliti : Apakah ada persyaratan khusus dari pihak sekolah agar peserta didik Imigran asal Afghanistan dapat mengikuti proses pembelajaran di SMP Islam Ruhama? (1)
Informan : Ya persyaratannya tentu saja mereka harus mau baca dan mengikuti aturan sekolah, kemudian usia juga kita hitung. Misalnya usianya masih 15 tahun, dia bisa masuk kelas 7. Meski mereka tidak mempunyai data diri seperti raport mereka di tempatkan kelasnya sesuai usia meski ada yang usianya lebih tua namun kami tempatkan juga sesuai usia dan kemampuannya. Sehingga ada dalam satu kelas yang berusia 15 tahun dan ada yang 17 tahun. Mereka juga harus memiliki kartu pengenal sendiri dari UNHCR sebagai pengenal mereka, jika sudah terpenuhi boleh mengisi formulir dan bersekolah di sini. (2)
Peneliti : Apakah ada keluhan dari para siswa asal asfghanistan ataud ari para guru seputar kegiatan pembelajaran di SMP Islam Ruhama? Jika ada apa saja keluhan yang mereka sampaikan? (1)
Informan : Kalau untuk pembelajaran secara umum biasanya kesulitannya adalah mereka belum mengerti betul berbahasa Indonesia, sebab mereka baru bisa berbicara itu terbata-bata meski ada juga yang sudah lancar, kesulitannya ya dari sisi komunikasi tadi. Ada juga yang bisa menguasai betul bahasa Indonesia sehingga mereka memahami pelajaran meski tidak seluruhnya. (2)
Peneliti : Bagaimana penyelesaian masalah dari keluhan siswa-siswa asal Afghanistan tersebut? (1)
Informan : solusinya ya mereka yang lancar dan mengerti bahasa Indonesia membantu menerangkan materi kepada peserta didik lain yang kurang mengerti. (2) Peneliti : Apa yang membedakan peserta didik Imigran asal Afghanistan tersebut dengan peserta didik lainnya? (1)
Informan : Perbedaannya karena status mereka sebagai imigran dan pengungsi, sehingga mereka di sini pada dasarnya hanya menumpang belajar, sehingga mereka tidak bisa mengikuti Ujian Nasional dan tidak mendapat Ijazah.
mereka pernah mengikuti pembelajaran di SMP Islam Ruhama dari tahun sekian hingga tahun sekian. Hal itu karena aturan dari pihak imigrasinya bahwa warga asing itu tidak boleh ikut belajar kecuali dia memiliki surat tugas izin belajar dari Kementerian Luar Negeri, tapi kalau misalnya di izinkan ikut belajar karena ada kerjasama dari pihak IOM itu kami terima. Itu dalam rangka jangan sampai anak-anak tersebut dalam usia sekolah malah berkeliaran dan tidak merasakan pendidikan. (2)
Peneliti : Jika peseta didik Imigran tersebut mendapatkan ijazah dan raport khusus apakah setelah lulus dari Ruhama mereka bisa melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi? (1)
Informan : kita tidak jamin jika mereka melanjutkan ke Sekolah lain, tapi jika mereka mau melanjutkan ke Sekolah yang di bawah naungan Ruhama yakni SMK Ruhama kami bisa bantu koordinasi untuk melanjutkan. (2)
Peneliti : Bagaimana sekolah memberikan perlakuan terhadap peserta didik asal Afghanistan tersebut, apakah ada perlakuan khusus? (1)
Informan : perlakuan khususnya yang pertama tadi berkaitan dengan ijazah tersebut, kemudian mereka tidak dibebani KKM mereka kita kasih nilai yang dicapai. Untuk sekedar mengikuti pembelajaran mereka juga diberi nilai. Asalkan mengikuti dan mengerjakan tugas mereka sudah diberikan nilai. Berbeda dengan peserta didik lainnya. Sehingga bagi mereka tidak ada standar khusus sehingga sesuai dengan kemampuannya saja. Karena mereka bukan untuk mengejar sekolah yang lebih tinggi, mereka hanya numpang belajar, beradaptasi dengan lingkungan, dan juga jangan sampai usia-usia belajar mereka justru tidak bisa berkomunikasi dengan teman-temannya. Sehingga secara psikologi kita ingin mengangkat mental mereka karena kondisi mereka yang terombang ambing sebagai pengungsi sehingga disediakan lah fasilitas belajar di sini. (2)
Peneliti : Apakah pihak sekolah mempunyai harapan tersendiri terkait peserta didik asal Afghanistan supaya mereka lebih baik? (1)
Informan : harapannya jika suatu saat anak-anak ini sudah mendapat tempat yang lebih baik, paling tidak mereka ingat bahwa saya pernah belajar di Indonesia
mereka bisa mendapatkan hak mengenyam pendidikan lebih baik. Dan harapan untuk sekarang semoga anak tersebut secara kejiwaan nya bisa nyaman meski bukan di Negara sendiri karena tidak dibeda-bedakan. (2)
Peneliti : Bagaimana prestasi dan pencapaian yang diraih oleh peserta didik asal Afghanistan? (1)
Informan : kalau dari sisi prestasi mereka pernah mengharumkan nama Ruhama lewat perlombaan futsal, namun untuk segi pembelajaran di kelas mereka biasa-biasa saja karena mungkin problem bahasa tersebut. (2)
Peneliti : Sebagai kepala Sekolah apakah bapak melihat ada Problematika Pembelajaran khususnya dalam pelajaran PAI bagi peserta didik Imigran asal Afghanistan tersebut? (1)
Informan : problematika utama ya tadi kurangnya pemahaman bahasa Indonesia bagi beberapa peserta didik asal Afghanistan namun kebanyakan dari mereka saat ini sudah mulai bisa memahami bahasa Indonesia, kemudian yang saya liat harusnya karena mereka berasal dari Afghanistan yang notabene nya merupakan Negara Islam harusnya pemahaman agamanya dalam ya, namun kenyataannya kebanyakan dari mereka tidak lancar membaca Al-Qur’an. Hal ini mungkin karena kondisi mereka yang dalam keadaan mengungsi sehingga tidak sempat untuk belajar membaca Al-Qur’an karena jelas kondisi psikologisnya juga pasti terganggu akibat bencana perang dan ketakutan yang sebelumnya mereka rasakan di Negara asalnya. (2)
Koding Wawancara
KODE KATA KUNCI
(1) Sejarah Berdiri
(2) Zakiah Daradjat
(1) Kurikulum
(2) Dinas Pendidikan
(1) Pandemi
(2) Monitoring siswa
(2) Kerjasama IOM
(1) Administrasi
(2) Anggaran IOM
(1) Persyaratan
(2) Taat Aturan
(1) Keluhan
(2) Bahasa Indonesia
(1) Solusi
(2) Komunikasi
(1) Perbedaan
(2) Status Imigran
(1) Ijazah
(2) Tidak menjamin
(1) Perlakuan khusus
(2) Ijazah dan KKM
(1) Harapan
(2) Nyaman belajar
(2) Nyaman belajar