BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian dan Pembahasan
1. Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Islam Ruhama:
1. Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Islam Ruhama:
Labschool of Uhamka selama Masa Pandemi
Proses pembelajaran tetap berlansung selama masa pandemi Covid-19 ini, setiap sekolah memiliki metode dan caranya tersendiri dalam melaksanakan proses pembelajaran yang dianggap efektif pada situasi pandemi seperti saat ini, begitu juga yang diterapkan oleh SMP Islam Ruhama:
Labschool of Uhamka. Selama melaksanakan penelitian ini, peneliti menemukan bahwa proses pembelajaran di SMP Islam Ruhama secara umum dilaksanakan secara daring (dalam jaringan) melalui pemanfaatan media-media pembelajaran daring seperti Zoom meeting, whatssapp group, dan google classroom.
Proses pembelajaran dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan dimana terjadi penyampaian materi pembelajaran dari seorang tenaga pendidik kepada para siswa yang dimiliknya. Karenanya kegiatan pembelajaran ini sangat bergantung pada komponen-komponen yang ada di dalamnya. Dari sekian banyak komponen tersebut, maka yang paling utama ialah adanya siswa, tenaga pendidik, media, materi pembelajaran serta adanya rencana pembelajaran.106
106 Mohammad syarif sumantri, Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2015) hal. 340
pembelajaran adalah proses take and gift yakni proses belajar dan mengajar yang dilakukan oleh guru dan peserta didik yang harus direncanakan terlebih dahulu untuk membantu tercapainya tujuan pembelajaran melalui pemilihan media, metode, dan penyesuaian lingkungan belajar yang tepat sehingga tercipta suasana kondusif untuk melaksanakan pembelajaran.
Jadi pembelajaran merupakan proses interaksi antara guru dengan murid, murid dengan murid dan murid dengan lingkungan. Dan pembelajaran yang baik ialah pembelajaran yang menghasilkan interaksi yang edukatif.
Gambar 4.8 Proses Wawancara bersama Kepala Sekolah
Kepala sekolah SMP Islam Ruhama, Bapak Juhdi Asidi memberikan keterangan terkait pelaksanaan proses pembelajaran selama masa pandemi, beliau menjelaskan bahwa107:
“Hampir seluruh sekolah ketika awal-awal pandemi ini mengalami begitu sulitnya melaksanakan proses pembelajaran dengan situasi seperti ini, namun seiring berjalannya waktu sudah mulai beradaptasi dan menemukan solusinya masing-masing, jika ditanya kesulitannya hanya di awal-awal saja namun sekarang sudah teratasi, kesulitannya mungkin dalam memonitoring peserta didik agar dapat mengikuti
107 Hasil wawancara dengan bapak Drs. Juhdi Asidi. Kepala Sekolah SMP Islam Ruhama:
Labschool of Uhamka, senin 8 maret 2021, pukul 10.20, di ruang kepala sekolah.
pembelajaran aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Namun bisa diatasi dengan melakukan kerjasama dengan orang tua peserta didik agar peserta didik tersebut mengikuti pembelajaran secara aktif.”
Kepala sekolah menjelaskan bahwa dalam kondisi pandemi saat ini SMP Islam Ruhama: Labschool of Uhamka sudah menemukan solusi terbaik dalam melaksanakan proses pembelajarannya. Solusi yang dimaksud adalah dengan cara daring, namun para guru dan tenaga pendidik lainnya tetap ke sekolah untuk melaksanakan pembelajaran dari sekolah. Untuk para peserta didik sesekali mereka ke sekolah untuk menyerahkan tugas yang diberikan melalui pembelajaran daring atau untuk melaksanakan tugas hafalan tentu saja dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat seperti wajib menggunakan masker, melakukan phisycal dan sosisal distancing. Pihak sekolah juga menyediakan banyak tempat cuci tangan yang dilengkapi dengan poster cara mencuci tangan yang baik dan benar, sehingga para peserta didik dan guru yang berada di sekolah dapat mencuci tangan setiap saat.
Gambar 4.9 Peserta didik menyetor hafalan di Sekolah
Gambar 4.10 Tempat cuci tangan
Gambar 4.11 Poster 6 langkah mencuci tangan
Pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam Ibu Nani guru Pendidikan Agama Islam menjelaskan bahwa proses pembelajaran dilaksanakan secara daring dan menemui beberapa kendala. Kendala utama yang dihadapi adalah kurangnya respon dari para peserta didik terutama dalam mengumpulkan tugas, namun sebagai guru Ibu Nani selalu mengingatkan para peserta didik untuk mengumpulkan tugasnya.108 Berbeda halnya dengan pak Jojo yang merupakan guru Al-Qur’an hadits beliau mengatakan bahwa proses pembelajarannya sudah mendapat respon yang cukup baik dari peserta didik, hanya saja ketika menggunakan aplikasi Zoom peserta didik yang ikut aktif sedikit sekali, beliau mengatakan mungkin hal itu karena kuota dan jaringan yang terbatas bagi peserta didik tersebut sehingga beliau jarang menggunakan Zoom dan lebih sering menggunakan Google Classroom.109
Gambar 4.12 Proses Wawancara bersama Ibu Nani
108 Hasil wawancara dengan ibu Nani. Guru mata pelajaran Fiqh SMP Islam Ruhama: Labschool of Uhamka, senin 22 maret 2021, pukul 10.30, di ruang guru.
109 Hasil wawancara dengan Bapak Jojo. Guru mata pelajaran Al-Qur’an Hadits SMP Islam Ruhama: Labschool of Uhamka, Rabu 24 maret 2021, pukul 10.00, di ruang guru.
Proses pembelajaran pendidikan agama Islam oleh Ibu Nani dan pak Jojo dilaksakan secara daring, namun dalam beberapa kesempatan diadakan pertemuan tatap muka untuk menyerahkan tugas dan setoran hafalan. Pada observasi kedua yang peneliti lakukan pak Jojo melaksanakan pembelajaran secara tatap muka di salah satu kelas, pak Jojo mengatakan hal itu karena pada mata pelajaran beliau ada ketertinggalan penyampaian materi yang cukup banyak sehingga untuk efektifmya waktu beliau mengadakan proses pembelajaran tatap muka yang mendapatkan izin dari kepala sekolah dengan pembatasan jumlah peserta didik di satu kelas dan penerapan protokol kesehatan110.
Gambar 4.13 Pembelajaran Tatap Muka
Dalam melaksanakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam Ibu Nani terlebih dahulu mempersiapkan materi ajar yang akan disampaikan, karena proses pembelajaran dilaksanakan secara daring maka Ibu Nani juga mempersiapkan kuota dan menggunakan Google Classroom atau Whatsapp Group. Metode yang digunakan Ibu Nani dalam menyampaikan materi ajar adalah ceramah dan
110 Hasil Observasi II kegiatan pembelajaran oleh pak Jojo, Guru Al-Qur’an Hadits, Rabu 24 Maret 2021, di Ruang Kelas SMP Islam Ruhama: Labschool of Uhamka.
penugasan.111 Menurut peneliti proses pembelajaran belum efektif karena kurangnya variasi metode yang digunakan. Ibu Nani juga mengatakan bahwa partisipasi keaktifan dan respon peserta didik sangat kurang pada saat pembelajaran di masa pandemi ini.
Selain melaksanakan poses pembelajaran secara daring, ibu Nani juga melaksanakan proses pembelajaran tatap muka pada saat siswa mengumpulkan tugas dan menyetorkan hafalan di sekolah. Pada observasi V, senin 5 April 2021 pembelajaran Fiqh oleh Ibu Nani dilakukan secara tatap muka di salah satu ruang kelas dengan agenda setoran hafalan shalat jenazah. Para peserta didik terlihat lebih antusias ketika pembelajaran tatap muka di banding dengan pembelajaran daring. Pembelajaran tatap muka tetap mematuhi protokol kesehatan dan pembatasan jumlah peserta didik di ruangan kelas tersebut.112
Gambar 4.14 Setoran Hafalan Fiqh
111 Hasil wawancara dengan ibu Nani. Guru mata pelajaran Fiqh SMP Islam Ruhama: Labschool of Uhamka, senin 22 maret 2021, pukul 10.30, di ruang guru.
112 Hasil Observasi V kegiatan pembelajaran oleh ibu Nani, Guru Fiqh, Senin 29 Maret 2021, di Ruang Kelas SMP Islam Ruhama: Labschool of Uhamka.
Sedangkan Pak Jojo melaksanakan proses pembelajaran dengan terlebih dahulu mempersiapkan materi yang tetap mengacu pada RPP dan silabus, beliau menambahkan yang membedakan proses pembelajaran daring adalah materi yang disampaikan lebih sedikit, inti-intinya saja. Hal tersebut dikarenakan waktu pelajaran yang juga lebih dipersingkat dibandingkan saat pelajaran tatap muka.
Beliau menambahkan untuk penugasan pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits ini jarang diberikan karena beliau merasa jika seluruh mata pelajaran memberikan tugas kepada peserta didik disaat pembelajaran daring ini akan membuat peserta didik merasa tertekan.113
Gambar 4.15 Proses Wawancara bersama Pak Jojo
Berdasarkan temuan peneliti tersebut di atas, Arief S. Sadiman dalam bukunya yang berjudul Media Pendidikan menjelaskan bahwa tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan rumusan bentuk-bentuk
113 Hasil wawancara dengan Bapak Jojo. Guru mata pelajaran Al-Qur’an Hadits SMP Islam Ruhama: Labschool of Uhamka, Rabu 24 maret 2021, pukul 10.00, di ruang guru.
tingkah laku yang dimiliki peserta didik setelah melakukan proses pembelajaran.114
Dalam kegiatan belajar mengajar, guru sebaiknya memperhatikan individual perbedaan anak didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Kerangka berfikir demikian dimaksudkan agar guru mudah dalam melakukan pendekatan kepada setiap anak didik secara individual.115
Dengan demikian, ukuran keberhasilan sebuah proses belajar mengajar itu dapat dilihat pada sejauh mana proses tersebut mampu menumbuhkan, membina, membentuk, dan memberdayakan segenap potensi yang dimiliki manusia, atau pada sejauh mana ia mampu memberikan perubahan secara segnifikan pada kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik.
Sehingga pembelajaran Pendidikan Agama Islam sangat menekankan pentingnya proses interaksi yang mendalam antara guru dan peserta didik agar peserta didik mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama Islam yang disampaikan melalui materi ajar Pendidikan Agama Islam.
Sehingga menurut hemat penulis pemberian tugas yang terlalu banyak pada masa pandemi dianggap kurang efektif dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam tersebut, selain kurangnya waktu untuk menjelaskan materi, tekanan yang dirasakan oleh peserta didik lain karena setiap mata pelajaran memberikan tugas yang berbeda-beda menjadi alasan kurang efektifnya metode penugasan.
Metode penugasan dapat menjadi efektif jika tugas yang diberikan tidak membebani peserta didik dan dapat menumbuhkan nilai positif sehingga dapat membentuk tingkah laku peserta didik menjadi lebih baik seperti yang dijelaskan oleh Arief S. Sadiman tersebut di atas. Proses pembelajaran terutama di masa pandemi seperti sekarang ini dipandang dapat memberikan berbagai problematika pembelajaran yang dapat dirasakan oleh para peserta didik terutama bagi peserta didik Imigran asal Afghanistan. Problematika tersebut akan peneliti bahas berdasarkan temuan di lapangan pada pembahasan selanjutnya.
114 Arief S. Sadiman dkk, Media Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), hal. 102 115 Syaiful bahri djamarah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hal 45
2. Problematika Psikososial dalam Pembelajaran Pendidikan Agama