BAB II TINJAUAN PUSTAKA
E. Kondisi Umum Industri Kecil Menengah (IKM)
2. Faktor Internal dan Eksternal Penyebab kebangkrutan
a. Faktor Internal
Faktor internal yang perlu dibenahi adalah kualitas dan mentalitas Sumber Daya Manusia IKM kerajinan tradisional, kegagapan terhadap perkembangan teknologi, kurangnya wawasan tentang pemasaran serta desain.
1). Masalah Kualitas dan Mentalitas
Standar skill yang dimiliki pengrajin tradisional variatif, ada kelompok pengrajin yang bisa menghasilkan produk kerajinan dengan halus dan rapi, ada juga yang masih kasar. Kadang desain produk kerajinan sudah bagus, tapi tidak memiliki harga jual tinggi karena teknik pengerjaan yang kurang maksimal. Pihak pembeli dari luar negeri biasanya menerapkan standar tinggi terhadap teknik pengerjaan produk, akibatnya lebih banyak produk kerajinan yang belum bisa diekspor daripada yang bisa diekspor. Keluhan tentang kualitas kerja pengrajin menurut hemat penulis berasal dari ketidak
tahuan pengrajin tentang standar kerja. Apa yang biasa dilakukan selama ini dianggap sebagai yang terbaik. Ketiadaan kontrol kualitas yang konsisten pada saat pengrajin merasa sudah trampil, menyebabkan cara kerja cepat dan terburu-buru, sehingga kualitas produk kurang baik.
Ada pemilik-pemilik usaha industri kerajinan yang sebenarnya sadar betul kualitas produknya rendah, tapi membiarkan kondisi tersebut dengan alasan pemenuhan target kuantitas atau karena kesulitan mendapat tenaga kerja trampil. Meski sebenarnya bisa diatasi dengan membina tenaga pengrajin baru, kenyataannya dibutuhkan waktu cukup lama untuk mengajari tenaga kerja hingga ia benar-benar trampil dan paham standar kerja yang tinggi. Kalaupun sudah berhasil dibina hingga memiliki skill yang baik, masalah yang kemudian biasa dihadapi adalah perginya para pekerja trampil untuk membuka usaha sendiri, tidak mau bekerja pada orang lain. Tidak mengherankan jika kebutuhan akan tenaga kerja trampil tidak mudah dipenuhi.
Tidak semua pengrajin tradisional menekuni kerajinan sebagai mata pencaharian utama, melainkan sebagai pekerjaan sampingan setelah bertani. Dengan demikian harapan terhadap peningkatan mutu kerajinan maupun konsistensi produksi tidak diprioritaskan. Ditambah lagi pola hidup komunitas yang kadang tidak begitu memperhatikan profesionalisme, sehingga seringkali pengrajin
pekerja meninggalkan pekerjaan kerajinannya begitu saja jika ada acara keluarga atau hajatan. Penghentian kegiatan produksi biasa terjadi saat menghadapi acara-acara panen maupun ritual kegiatan bertani atau berkebun, ritual keagamaan, ritual keluarga dan masyarakat atau karena faktor cuaca. Sementara itu kelangkaan bahan baku yang menghambat produksi jarang sekali terjadi di masa lalu, tapi mulai banyak terjadi akhir-akhir ini. Hal seperti itu menyebabkan konsistensi produksi terhambat.
Selain masalah kualitas dan konsistensi produksi yang tidak menentu, pengrajin belum memiliki visi strategis untuk bertahan di pasar. Fokus pada produksi tanpa pengembangan desain produk membuat IKM kerajinan tradisional terjebak sebagai pembuat produk. Kondisi ini kadang diperburuk saat pengrajin tradisional bersikukuh menerapkan apa yang telah dibuat generasi sebelumnya harus sesuai tradisi. Kecenderungan untuk berpikir linier, mekanistik, rutin dan parsial seperti itu menyebabkan beberapa pihak yang ditunjuk sebagai konsultan pengrajin (seperti Lembaga Sosial Masyarakat (LSM), Perguruan Tinggi) kadang menghadapi situasi sulit. Pengrajin terlanjur berada di suatu daerah yang membuat orang nyaman, sehingga pengrajin senang menerima masukan baru. Seringkali sikap pesimis pengrajin justru disuburkan melalui ketabuan untuk berpikir besar. Sebagai contoh, pada masyarakat Jawa ada istilah melip yang berarti berpikir terlalu tinggi atau terlalu
rumit. Bagi sebagian besar pengrajin tradisional, berpikir ini harus dihindari. Sebaliknya, pengrajin dituntut untuk sadar diri dan mensyukuri apa yang ada. Saat ada kendala eksternal seperti tingkat persaingan yang tinggi, kenaikan ongkos produksi karena kenaikan BBM, bencana alam, banyak pengrajin yang tetap bertahan dengan pola kerja yang sudah ada. Ancaman kebangkrutan akan menurunkan kapasitas produksi, atau menurunkan harga, atau menurunkan ongkos produksi yang berdampak pada penurunan kualitas produk. Selebihnya, pengrajin memilih bersandar sepenuhnya pada pemerintah tanpa daya inisiatif sendiri.
2). Masalah Bahan Baku dan Peralatan
Beberapa IKM mengalami kesulitan mendapat bahan baku dengan kualitas yang bagus dan variatif. Jika sudah memiliki langganan pemasok bahan baku, pengrajin kerap tidak ingin menjajagi kemungkinan adanya variasi bahan baku yang lain, atau mencari pemasok lain yang lebih baik. Di sisi lain, pengrajin memiliki keterbatasan waktu, dana dan tenaga untuk mencari bahan baku dan peralatan baru hingga ke kota-kota lain. Jika ada tawaran peralatan produksi yang baru tidak mudah disosialisasikan pada pengrajin, karena kadang pengrajin bersikap memilih bertahan dengan peralatan yang sudah ada. Terlebih jika peralatan yang baru tersebut memerlukan skill tertentu untuk mengoperasikannya.
3). Masalah Desain
Industri kreatif yang dimotori SDM kreatif membutuhkan setidaknya 4 pilar kreatifitas : CORE – 1. Curiosity, 2. Open mind, 3.
Risk dan 4. Energy Jordan (2002) yaitu keterbukaan untuk menerima
masukan dari siapapun, kehausan untuk mencoba hal-hal baru, keberanian mengambil resiko dan memiliki energi untuk mengerjakan semua itu. Keyakinan pengrajin bahwa apa yang dilakukan merupakan keahlian turun temurun kadang menimbulkan rasa paling tahu yang terbaik, sehingga menjadi penghalang untuk menerima masukan dari yang lain. Selain itu, keinginan untuk segera meraih keuntungan jangka pendek sekadar untuk bertahan hidup membuat pengrajin cepat puas dengan apa yang sudah dimiliki saat ini, tanpa keberanian mengambil resiko dengan mencoba hal-hal baru. Akibatnya sering timbul keluhan dari pihak pembeli tentang kualitas desain pengrajin. Desain yang dihasilkan dianggap kurang variatif dan hampir sama dengan desain produk sejenis dari daerah lain. Pembeli yang cerdik, kadang datang dari luar negeri, membawa desain sendiri, kemudian pengrajin diperlakukan sebagai mesin produksi. Para pengrajin justru bangga, karena mereka menganggap produk mereka akan diekspor.
Pengrajin memilih tetap bertahan dengan bentuk dan cara tradisional, karena keterbatasan wawasan desain membuat pengrajin tidak tahu bagaimana harus mengembangkan varian desain yang lain.
Wawasan desain itu sebenarnya bisa diperoleh baik melalui pendidikan formal atau dengan melakukan banyak studi banding produk serupa dari daerah lain. Minimal dengan menghadiri pameran-pameran kerajinan berskala nasional dan internasional di Indonesia. Pelatihan desain yang kerap diselenggarakan oleh instansi pemerintah, perguruan tinggi maupun lembaga sosial masyarakat dengan rentang waktu singkat tak berkelanjutan tidak pernah akan cukup memberi wawasan desain jika tidak diikuti inisiatif pengrajin untuk mengembangkannya sendiri. Sebab pelatihan-pelatihan seperti itu bersifat membuka pikiran dan memberikan rangsangan agar pengrajin mengetahui teknik-teknik baru atau ide desain baru. Setelah itu, pengrajin harus memperdalam pengetahuan desain sendiri, mengingat desain adalah bidang yang sangat dinamis dan terus berkembang sesuai trend. Jadi pengetahuan desain harus selalu di kembangkan. Trend desain itu berubah setiap tahun, bahkan di beberapa rumah mode berskala nasional dan internasional, mode
-mode desain diperbaharui setiap dua bulan. 4). Masalah Pemasaran
Pedagang yang teliti justru bisa meraup keuntungan dari ketidak mengertian pengrajin mengenai saluran distribusi. Pihak pedagang sering bisa menjual dengan harga berlipat-lipat jauh dari harga jual dari pengrajin sebagai produsen. Pengrajin memang terbantu jika pedagang datang ke tempat produksi, sebab hal itu
memudahkan pengrajin menjual barang. Tetapi sebagian besar pengrajin kemudian tidak melacak lebih lanjut proses perjalanan produk-produknya hingga ke konsumen, sehingga mereka tidak tahu persis ke mana produk-produk mereka dipasarkan. Proses penjualan dengan mengandalkan pesanan atau pedagang yang datang ke rumah pengrajin menyebabkan pengrajin miskin menjadi pusat data
(database) konsumen yang seharusnya berharga untuk memprediksi
kecenderungan pasar dan langkah-langkah antisipatifnya.
Banyak pengrajin mengakui bahwa pemasaran adalah kendala terbesar yang dihadapi saat ini. Beberapa IKM kerajinan tampak sulit melebarkan jangkauan pemasaran ke luar propinsi atau ke luar pulau apalagi ke luar negeri. Saluran distribusi yang biasa dilakukan selain mengandalkan pedagang langganan adalah menitipkan di toko-toko atau mengikuti pameran. Pameran ini ada yang berskala kota hingga internasional. Tentu hanya IKM dengan produk berkualitas tinggi yang dapat mengikuti pameran internasional. Sebagian besar IKM kerajinan tradisional hanya dapat mengikuti pameran berskala kota. Biasanya pemerintah memfasilitasi pengrajin untuk mengikuti pameran. Tetapi proses pemilihan IKM tertentu yang bisa ikut pameran kerapkali hanya berdasar hubungan baik dengan petugas atau pejabat pemerintah saja, tanpa ada pertimbangan lebih lanjut terhadap hubungannya dengan pengrajin yang lain. Dengan demikian dampak regional terhadap keikut sertaan pameran tersebut kurang
terasa oleh pengrajin yang lain, bahkan rawan menyebabkan kecemburuan antar pengrajin.
b. Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang menghambat perkembangan IKM tradisional antara lain adalah tingginya tingkat persaingan dengan komoditi sejenis dari wilayah lain, kenaikan ongkos produksi akibat kenaikan tarif dasar listrik dan kenaikan BBM, bahan baku yang semakin menipis, maraknya penyelundupan produk impor dan bencana alam. Mengingat kendali faktor eksternal tidak di tangan pengrajin, langkah pro aktif yang bisa dilakukan secepatnya adalah menyiasati kendala eksternal tersebut dengan kreativitas.