BAB II TINJAUAN PUSTAKA
F. Trend Perkembangan Ekonomi
1. Pengertian Produktivitas
Secara teknis operasional, produktivitas merupakan rasio antara output (keluaran) dengan input (masukan). Secara matematis rasio tersebut diformulasikan sebagai berikut:
Output (keluaran) Produktivitas =
Input (masukan)
Pengukuran produktivitas terhadap perkembangan sektor industri kecil secara regional dapat diformulasikan dengan rumus sebagai berikut : Produktivitas perusahaan sub sektor industri kecil =
Hasil produksi perusahaan sub sektor industri kecil
X 100% Jumlah bantuan modal yang diterima + Modal pribadi
2. Pengertian Pembinaan dan Modal
Menurut Sadono Sukirno (1995) modal dapat diartikan sebagai pengeluaran atau perbelanjaan penanam-penanam modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian. Namun disisi lain modal merupakan pengeluaran modal yang diberikan investor kepada pengusaha berupa pinjaman uang yang dialokasikan untuk menambah kemampuan memproduksi serta mengembangkan usaha produksinya dan dalam jangka waktu tertentu.
Pembinaan merupakan suatu kegiatan yang mengarah kepada proses kemajuan terhadap peningkatan produktivitas kegiatan usaha yang sudah ada dan menjadikan kegiatan usaha tersebut lebih baik lagi. Namun pada dasarnya pembinaan adalah bentuk dari suatu program yang berencana dan memiliki arah tujuan perkembangan yang lebih maju.
Dalam melakukan kegiatan pembinaan dengan sendirinya akan terjalin hubungan kerjasama antara kedua pihak yang mempunyai motivasi berbeda-beda. Menurut Tri Sura Suhardi (1992) ada beberapa motivasi yang menjadi semacam pendorong terjalinnya hubungan kerjasama dengan perusahaan sektor industri kecil yaitu:
a. Melaksanakan kewajiban atau perintah karena suatu peraturan perundang-undangan;
b. Motivasi bisnis, karena saling membutuhkan dan melihat peluang yang besar;
c. Tanggung jawab moral dan sosial terutama untuk menciptakan kesan positif keberadaan perusahaan dalam lingkungan masyarakat disekitarnya terutama pemerintah.
Selain hal-hal tersebut perkembangan sub sektor industri kecil juga tidak terlepas dari faktor-faktor lain yang ikut mempengaruhi perkembangan tersebut. Menurut Irsan Azhari Saleh (1986) faktor-faktor yang turut mempengaruhi perkembangan subsektor industri kecil adalah sebagai berikut:
a. Semakin meningkatnya keterampilan pekerja pada sub sektor industri kecil dan semakin meluasnya penyediaan tenaga listrik yang dapat menjangkau pedesaan dan memungkinkan pemanfaatannya bagi sub sektor industri kecil.
b. Semakin berkembang pesatnya sarana transportasi telah memungkinkan distribusi masukan hasil produksi ke wilayah yang lebih luas sehingga dapat mengurangi komponen ongkos produksi. c. Semakin berkembangnya pembuatan mesin-mesin berskala kecil yang
terjadi bersamaan dengan usaha pemecahan proses produksi ke unit-unit yang lebih kecil.
d. Semakin diperkuatnya kebijakan pemerintah untuk mendukung sub sektor industri kecil disamping dilaksanakannya suatu kebijakan perlindungan terhadap sub sektor industri kecil. Kebijakan ini akan lebih efektif apabila faktor-faktor lainnya sudah hadir dalam perekonomian.
3. Pengertian Kesempatan Kerja, Angkatan Kerja dan Tenaga Kerja
Menurut T. Gilarso (2001:207) kesempatan kerja adalah banyaknya lapangan pekerjaan yang tersedia untuk angkatan kerja. Kesempatan kerja berarti peluang atau keadaan yang menunjukkan tersedianya lapangan pekerjaan sehingga semua orang yang bersedia dan sanggup bekerja dalam proses produksi dapat memperoleh pekerjaan sesuai dengan keahlian, keterampilan dan bakatnya masing-masing. Dengan demikian, kesempatan kerja dapat diartikan sebagai permintaan atas tenaga kerja.
Menurut T. Gilarso (2001:206) angkatan kerja (labor force)
didefinisikan sebagai bagian dari jumlah penduduk yang berusia 15 tahun ke atas yang sedang bekerja atau yang sedang mencari pekerjaan. Banyak sedikitnya jumlah angkatan kerja tergantung komposisi jumlah penduduknya. Kenaikan jumlah penduduk terutama yang termasuk golongan usia kerja akan menghasilkan angkatan kerja yang banyak pula. Angkatan kerja yang banyak tersebut diharapkan akan mampu memacu meningkatkan kegiatan ekonomi yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada kenyataannya, jumlah penduduk yang
banyak tidak selalu memberikan dampak yang positif terhadap kesejahteraan. Usia kerja adalah suatu tingkat umur seseorang yang diharapkan sudah dapat bekarja dan menghasilkan pendapatannya sendiri. Usia kerja ini berkisar antara 15 sampai 64 tahun. Selain penduduk dalam usia kerja dan di atas usia kerja. Penduduk yang dimaksud yaitu anak-anak usia sekolah dasar yang sudah pensiun atau berusia lanjut.
Bagian lain dari penduduk dalam usia kerja adalah bukan angkatan kerja. Yang termasuk di dalamnya adalah para remaja yang sudah masuk usia kerja tetapi belum bekerja atau belum mencari pekerjaan karena masih sekolah. Ibu rumah tangga pun termasuk ke dalam kelompok bukan angkatan kerja.
Penduduk dalam usia kerja yang termasuk dalam usia kerja, dikelompokkan menjadi tenaga kerja (bekerja) dan bukan angkatan kerja (mencari kerja dan menganggur). Menurut T. Gilarso (2001:207) tenaga kerja (man power) adalah manusia dengan tenaga fisiknya maupun bakat-bakat dan keterampilannya yang digunakan dalam memproduksi barang dan jasa.
Aspek kinerja usaha yang dilakukan oleh sektor industri kecil secara teknis berpedoman pada keahlian serta keterampilan dari kegiatan usahanya. Kegiatan produksi tersebut dilanjutkan kepada proses penjualan pada lingkungan pasar serta dapat memperoleh keuntungan yang maksimal. Dari keuntungan yang di dapat pembayaran upah tenaga kerja,
pembelian bahan baku serta hal-hal lainnya yang menyangkut kepada kegiatan produksi Nurimansjah Hasibun (1994).
4. Pengertian Laba/Rugi
Laba adalah kenaikan modal (aktiva bersih) yang berasal dari transaksi sampingan atau transaksi yang jarang terjadi suatu badan usaha, dan dari semua transaksi atau kejadian lain yang mempunyai badan usaha selama satu periode, kecuali yang timbul dari pendapatan (revenue) atau investasi pemilik Baridwan (1992:55).
Pengertian laba secara umum adalah selisih dari pendapatan di atas biaya-biayanya dalam jangka waktu tertentu. Laba sering digunakan sebagai suatu dasar untuk pengenaan pajak, kebijakan deviden, pedoman investasi serta pengambilan keputusan dan unsur prediksi Harnanto (2003:444).
Dalam teori ekonomi juga dikenal adanya istilah laba di dalam teori ekonomi berbeda dengan pengertian laba menurut akuntansi. Dalam teori ekonomi, para ekonom mengartikan laba sebagai suatu kenaikan dalam kekayaan perusahaan, sedangkan dalam akuntansi, laba adalah perbedaan pendapatan yang direalisasi dari transaksi yang terjadi pada waktu dibandingkan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan pada periode tertentu Harahap (1997).
Laba atau rugi sering dimanfaatkan sebagai ukuran untuk menilai prestasi perusahaan atau sebagai dasar ukuran penilaian yang lain, seperti laba per lembar saham. Unsur-unsur yang menjadi bagian pembentuk laba
adalah pendapatan dan biaya. Dengan mengelompokkan unsur-unsur pendapatan dan biaya, akan dapat diperoleh hasil pengukuran laba yang berbeda antara lain : laba kotor, laba operasional, laba sebelum pajak, dan laba bersih.
Pengukuran laba bukan saja penting untuk menentukan prestasi perusahaan tetapi penting juga sebagai informasi bagi pembagian laba dan penentuan kebijakan investasi. Oleh karena itu, laba menjadi informasi yang dilihat oleh banyak seperti profesi akuntansi, pengusaha, analisis keuangan pemegang saham, ekonom, fiskus, dan sebagainya Harahap (2001:259). Hal ini menyebabkan adanya berbagai defenisi untuk laba.