• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Kesadaran Masyarakat Untuk Melakukan

Dalam dokumen PULI SIREGAR /HK (Halaman 87-0)

BAB II PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENANGGULANGAN

E. Peran Serta PIMANSU dalam PenanggulanganTindak

6. Faktor Kesadaran Masyarakat Untuk Melakukan

Meningkatnya kasus penyalahgunaan narkoba, semakin banyak elemen masyarakat yang bergabung dalam berbagai organisasi dalam mencegah peredaran gelap narkoba. Hal ini patut disambut baik. Ini berarti, kesadaran masyarakat bahaya narkotika semakin baik.

Saat ini seluruh negara ASEAN dan belahan dunia sedang berperan melawan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Tahun 2015 mendatang seluruh negara di ASEAN berusaha membesarkan diri dari narkoba. Keberhasilan negara membebaskan diri dari peredaran gelap narkoba tidak terlepas dari kesadaran masyarakat.

Partisipasi masyarakat sangat penting, tanpa partisipasi masyarakat, sulit untuk membebaskan diri dari narkoba. Setiap saat para pengedar dan bandar selalu mencari peluang untuk menjual barang haram dengan berbagai cara.

B. Faktor-Faktor Penghambat Peran Serta PIMANSU dalam Penanggulangan Tindak Pidana Narkotika

1. Undang-Undang Dan Penerapannya

Sebagian dari jenis narkotika bermanfaat untuk kehidupan, terutama dalam bidang kesehatan, namun dapat pula disalahgunakan sehingga membawa malapetaka. Penggunaan dan penyalahgunaannya harus diatur dalam undang-undang negara.Undang-undang terkait masalah

narkotika sudah disahkan oleh pemerintah pada tanggal 12 Oktober 2009, yaitu Undang-undang No.

35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

Kendati bangsa Indonesia telah memiliki undang-undang tentang narkotika, dalam prakteknya, penegakan hukum yang terkait dengan masalah narkotika masih carut marut dan tidak efektif. Menurut Bapak Kasman Abdul Manaf Sinambela terkait dengan penerapan hukum yang masih kurang: “Selama ini aspek penerapan undang-undang penegakan hukum menjadi sisi terlemah dalam pemberantasan narkoba. Law enforcement kita rendah. Hal ini menyebabkan pemberantasan tindak pidana narkotika masih jauh dari harapan. Akibatnya tindak pidana narkoba bukan semakin menurun, tetapi makin bertambah.”117

Tidak efektifnya pelaksanaan undang-undang tersebut antara lain disebabkan oleh:118 1. Mental dan moral aparat terkait belum memadai.

2. Kesejahteraan aparat yang menangani masalah narkotika rendah sehingga sering tergiur untuk bekerjasama dengan sindikat demi memperoleh uang.

3. Jumlah aparat kurang memadai dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia dan luas wilayah.

4. Profesional aparat yang kurang memadai

5. Fasilitas/peralatan tugas aparat belum memadai.

6. Luasnya wilayah Indonesia dan kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau sehingga aparat sulit mengontrol kegiatan sindikat.

7. Buruknya koordinasi antar instansi/aparat terkait.

8. Tingkat pengetahuan masyarakat tentang narkotika masih kurang sehingga mudah tertipu.

117Hasil wawancara dengan AKBP. Kasman Abdul Manaf Sinambela, Kabag. Bin.Ops Narkoba Poldasu, Selasa, 3 Juli 2012.

118Direktorat Advokasi, Deputi bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional, Petunjuk Teknis Advokasi Bidang Pencegahan penyalahgunaan Narkotika Bagi Lembaga/Instansi, (Jakarta: BNN RI, 2010), hal 102.

9. Rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat tentang Undang-undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, belum tersosialisasi dengan baik.

Berbagai kendala di atas menyebabkan masyarakat dapat bersikap apriori, curiga terhadap aparat, malas berpartisipasi dan kalau sudah jengkel main hakim sendiri.Dalam kondisi seperti ini akan semakin runyam, karena masalah narkotika tidak berdiri sendiri, tetapi terkait pula dengan masalah antara lain rendahnya kesejahteraan, mental, moral, profesionalisme dan pengetahuan aparat serta keterbatasan keuangan negara.

2. Belum Ada Pedoman Program Penanggulangan Narkotika

Belum adanya petunjuk pedoman bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam program penanggulangan tindak pidana narkotika yang menyangkut:119

a. Peran serta dalam pengawasan dan pelaporan kasus.

b. Peran serta dalam penindakan pelanggaran hukum.

c. Peran serta dalam pengawasan terhadap aparat penegak hukum, seperti polisi, jaksa dan hakim.

d. Peran serta dalam pengawasan pelaksanaanhukuman yang telah dijatuhkan.

Hal ini akan berpengaruh pada kurangnya keinginan masyarakat untuk ikut ambil bagian dalam upaya penanggulangan tindak pidana narkotika dengan alasan tidak mengetahui prosedur dan cara penanggulangan yang efektif dan efisien. Ini juga menjadi kendala yang dialami oleh PIMANSU seperti yang diungkapkan Bapak Zulkarnain Nasution:

“beberapa kendala yang kita hadapi dalam pelaksanaan program penanggulangan tindak pidana narkotika adalah belum adanya pedoman untuk pelaksanaan pelaporan bila terjadi pelanggaran tindak pidana narkotika dan pengawasan dalam pelaksanaan hukuman yang

119Direktorat Advokasi, Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional, Petunjuk Teknis Advokasi Bidang Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika Bagi Lembaga/Instansi, (Jakarta: BNN RI, 2010), hal 103.

telah dijatuhkan kepada para pelaku.Terkadang ini menyulitkan kita untuk berbuat, sehingga apa yang kita lakukan hanya sesuai dengan yang kita ketahui.” 120

3. Tingkat Kesadaran Masyarakat Masih Rendah

Berdasarkan hasil wawancara tersebut, dalam penanggulangan tindak pidana narkoba sangat diperlukan suatu pedoman pelaksana program kegiatan penanggulangan tindak pidana narkotika agar bisa dijalankan sesuai dengan aturan yang ada dan tidak menjadi salah pelaksaaan dan penerapannya di masyarakat.

Apabila pedoman pelaksaan ini telah dibuat dan disosialisasikan kepada masyarakat, maka masyarakat akan ikut berperan serta secara aktif dalam penanggulangan tindak pidana narkoba tanpa merasa takut salah pelakasnaan. Biola ini berjalan dengan baik, maka penanggulangan permasalahan narkoba akan terlaksana dengan efektif dan efisien.

Kurangnya kesadaran masyarakat awam tentang peran mereka dalam upaya penanggulangan tindak pidana narkotika terkait dengan kurangnya sosialisasi program-program pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika (P4GN) yang dibuat oleh BNN RI.

Masyarakat juga banyak yang tidak mengenal adanya keberadaan BNN RI, BNNP dan BNNK.

Masyarakat hanya tahu bahwa permasalahan narkoba adalah tanggung jawab pihak pemerintah dan kepolisian saja. Karena kurangnya pengetahuan dan ketakutan yang berlebihan, mereka cenderung tidak melaporkan kasus – kasus yang mereka temukan.

Selain itu dari sisi ekonomi, bisnis narkotika sangat menggiurkan karena dapat menghasilkan keuntungan yang berlipat ganda hingga milyaran rupiah setiap harinya. Dari sisi politik, bisnis ini sengaja dikembangkan oleh suatu kelompok/negara yang mempunyau tujuan tertentu untuk menghancurkan suatu generasi bangsa (the lost generation).

120Hasil wawancara dengan Drs.Zulkarnain Nasution, MA , Direktur Eksekutif PIMANSU, Selasa, 3 Juli 2012.

Undang-undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika diharapkan dapat memberantas setiap penyalahgunaan narkotika di Indonesia, bagaimanapun besar manfaat narkotika, selain untuk tujuan penelitian (ilmu pengetahuan) dan kesehatan, maka setiap penyimpangannya dapat dikategorikan sebagai tindak pidana kejahatan. Pada kenyataannya setelah berlakunya undang-undang narkotika, tindak pidana penyalahgunaan narkotika belum dapat ditekan secara maksimal, baik kualitas maupun kuantitas.

Masyarakat masih lemah partisipasinya menanggulangi narkoba. Kurangnya partisipasi itu juga terjadi di tingkat pemerintah separti Lurah. Lemahnya partisipasi itu terbukti dari sedikitnya program yang ada.

Untuk lebih meningkatkan kesadaran akan bahaya penyalahgunaan dan perdaran gelap narkoba dan peran serta masyarakat, maka dalam setiap kampanye atau penyuluhan di masyarakat perlu disampaikan tentaang bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan konsep bela negara dimana seluruh rakyat Indonesia wajib membela negara. Jadi semua warga negara diwajibkan untuk perang melawan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.

4. Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia merupakan unsur yang penting dalam hal penanggulangan tindak pidana narkotika. Pada kenyataannya di PIMANSU masih kekurangan sumber daya manusia sebagaimana yang diungkapkan Bapak Zulkarnain Nasution:

“ Sumber daya manusia yang ada di PIMANSU sebenarnya masih terasa belum maksimal.

Hal ini disebabkan karena jumlah dan kemampuan dalam bidang penguasaan teknologi informasi dan sebagai tenaga penyuluh, sehingga menghambat pelaksanaan program kerja PIMANSU. Misalnya untuk kepentingan mendesain buletin, buku, brosur, pembuatan multimedia dan sebagainya, PIMANSU masih menggunakan tenaga-tenaga ahli dari luar.

Selain itu Banyaknya kegiatan-kegiatan PIMANSU, seperti penyuluhan, pelatihan, dan penerbitan informasi tentang hal ihwal narkoba mengharuskan diperlukannya tenaga-tenaga penyuluh yang selalu siap ke lapangan. Misalnya tahun 2012 ada 345 kali penyuluhan ke berbagai elemen masyarakat dengan jumlah orang yang mendapatkan penyuluhan sebanyak

34.964 orang, tentu saja dengan personel kita yang sedikit jumlah dan kemampuan dalam penyuluhan akan berakibat dengan kurang efektifnya pelaksaan kegiatan tersebut”121

5. Pendanaan

Masih banyak keterbatasan kompetensi sumber daya manusia di bidang penanggulangan tindak pidana narkotika. Keterbatasan SDM baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya.

Keterbatasan ini meliputi kurangnya pengetahuan tentang permasalahan Narkotika, keterampilan dalam melakukan penanggulangan tindak pidana narkotika, kurangnya perilaku yang konsisten dan terpanggil untuk memikirkan dan melakukannya serta kurangnya pengamalan kemampuan demi penyelamatan anak bangsa dari ancaman narkotika.

Keberadaan sumber daya merupakan faktor penting dalam menunjang keberhasilan dalam penanggulangan tindak pidana narkotika, karena tanpa ada sumber-sumber daya yang berkualitas, maka kegiatan-kegiatan yang diprogramkan PIMANSU tidak akan berlangsung secara maksimal.

Minimnya jumlah dana yang dianggarkan oleh pemerintah untuk penanggulangan tindak pidana narkotika mengakibatkan tidak maksimalnya penanganan masalah narkotika. Minimnya dana ini tentu saja berpengaruh pada sedikitnya kegiatan yang dapat dilakukan oleh PIMANSU. Terutama bila dikaitkan dengan tantangan tugas yang semakin kompleks.

Walau PIMANSU bisa melaksanakan kegiatan-kegiatan yang lebih banyak bekerja sama dengan masyarakat seperti pelatihan guru-guru, pelajar, penerbitan, penyuluhan yang ternyata cukup efektif hasilnya sesuai dengan evaluasi yang pernah dilakukan, tetapi kegitan itu tidak bisa dilaksanakan dengan frekuensi yang cukup (masih kurang) karena dana yang minim, apalagi kalau kegiatan-kegiatan itu dilaksanakan di daerah.

121Hasil wawancara dengan Drs. Zulkarnain Nasution, MA, Direktur PIMANSU, Selasa, 3 Juli 2012.

Keberhasilan dalam suatu pelaksanaan program tentu saja tidak akan terlepas dari adanya dana yang tersedia dan didukung dengan kebijakan dari pemerintah dalam membantu mewujudkannya.

6. Kurangnya Jaringan Kerja (Network line)

Upaya pencegahan peredaran gelap Narkotika sangat terkait dengan faktor kepercayaan (sikap personal) penegak hukum yang bermuara pada etika moral penegak hukum. Dengan begitu akan dapat membangkitkan motivasi masyarakat untuk berperan serta dalam penanggulangan tindak pidana narkotika.

Komunikasi sosial yang terjalin antara penegak hukum dengan masyarakat, menghasilkan jalinan hubungan kerja (network line), sebagai salah satu bentuk jaringan informasi yang penting baik untuk kepentingan efektivitas penegakkan hukum, maupun untuk pengawasan sosial, yang pada akhirnya tercipta sebuah institusi pengendalian sosial masyarakat.

Kendala yang dialami PIMANSU berkaitan dengan network line adalah terbatasnya akses ke Badan/Lembaga Pendana Tingkat Nasional/Internasional, Pemerintah atau Swasta, minimaldi tingkat nasional ada lembaga-lembaga yang bisa diajak bekerja sama, dari aspek pendanaan maupun dari SDM. Tetapi akses PIMANSU ke sumber-sumber tersebut sangat terbatas. Ada kendala teknis seperti jarak yang jauh maupun non teknis, misalnya pengenalan terhadap lembaga dan program-programnya.

Selain itu kerjasama antara sesama lembaga yang bergerak dalam bidang penanggulangan permasalah narkoba belum sejalan dan maksimal. Selama ini antar lembaga sejenis yang bergerak di bidang penanggulangan permasalahan narkoba berjalan sendiri-sendiri. Tidak saling melanjutkan dan bersinergi. Akibatnya terjadi over job maupun pengulangan-pengulangan yang tidak bersinergi.

Kerjasama PIMANSU dengan lembaga lain yang mempunyai programtentang narkoba masih kurang.Lembaga-lembaga lain seperti Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Departemen Agama juga mempunyai program penanggulangan permasalahan narkoba. Namun selama ini kerja sama tersebut tidak terjalin dengan baik.

7. Terbatasnya Jumlah Pusat Informasi Masyarakat Anti Narkoba

Pusat Informasi Masyarakat Anti Narkoba hanya ada di Medan saja, sehingga belum dapat berkoordinasi dengan daerah-daerah lain dalam hal penanggulangan permasalahan narkoba. Padahal Pusat Informasi tentang permasalahan narkoba sangat dibutuhkan oleh masyarakat sebagai sarana untuk memperoleh informasi, konsultasi, melakukan penyuluhan-penyuluhan tentang bahaya narkoba, sebagai tempat memperoleh data-data dan sarana untuk melaporkan permasalahan narkoba yang ada di masyarakat.

Keberadaan pusat informasi permasalahan narkoba perlu di dukung dan dikembangkan di setiap daerah dalam membantu proses penanggulangan tindak pidana narkotika. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan Bapak Deny Elpriansyah sebagai berikut:

“Pusat Informasi Masyarakat Anti Narkoba Sumatera Utara merupakan satu-satunya pusat informasi tentang permasalahan narkoba yang ada di Sumatera

Utara. PIMANSU telah banyak melakukan berbagai kegiatan dalam rangka pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di masyarakat. Kehadiran PIMANSU sangat membantu pemerintah dalam upaya P4GN, termasuk membantu tugas BNNP. BNNP dapat bermitra dan bekerjasama dalam melaksanakan program-program P4GN di masyarakat. Kita berharap PIMANSU akan terbentuk di setiap daerah, sehingga dapat berkoordinasi dalam melaksanakan program P4GN, dan tentu saja ini akan mempercepat program penanggulangan permasalahan narkoba.”122

“bahwa keberadaan PIMANSU dirasakan masih sangat kurang dalam jumlahnya, karena hanya ada satu di Sumatera Utara. Padahal untuk penanggulangan tindak pidana narkotika, diperlukan banyak lembaga seperti PIMANSU di daerah-daerah agar mudah untuk Lebih lanjut dikatakan Bapak Zulkarnain Nasution tentang keterbatasan PIMANSU:

122Hasil wawancara dengan Bapak Deny Elpriansyah, SH, Kabag TU BNNP Sumut, Selasa, 3 Juli 2012

membantu tugas pemerintah dan dapat berkoordinasi dengan lembaga atau instansi lain dalam melaksanakan berbagai kegiatan pencegahan narkoba.”123

8. Kurangnya Sarana Dan Prasarana

Dari pernyataan-pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa keterbatasan jumlah lembaga PIMANSU mempengaruhi keberhasilan dalam pelaksaan penanggulangan tindak pidana narkotika di masyarakat. Untuk itu perlu dibentuk pusat-pusat informasi permasalahan narkoba di daerah-daerah untuk memaksimalkan kinerja pemerintah dan masyarakat dalam penanggulangan tindak pidana narkotika.

Sarana dan prasarana merupakan hal yang penting dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan agar lebih maksimal. PIMANSU juga memiliki keterbatasan dalam bidang sarana dan prasarana.

a. Minimnya referensi buku dan media tentang narkoba

Sebagai pusat informasi PIMANSU sangat memerlukan referensi, buku, media dan media informasi lain. Kehadiran media informasi itu semakin penting karena selama ini selama ini banyak sekali anggota masyarakat yang memerlukannya, misalnya siswa, mahasiswa, organisasi kemasyarakatan maupun pemuda.

b. Kurangnya Informasi tentang permasalahan narkoba yang diperoleh PIMANSU di tingkat regional, nasional maupun internasional

Sebagai pusat informasi, PIMANSU sangat membutuhkan berbagai informasi penting tentang permasalahan narkoba di tingkat regional, nasional maupun internasional.

Namun informasi ini dirasakan cukup kurang. Masih diperlukan sarana-sarana untuk dapat memperolehnya misalnya ada dikirim buku-buku atau media informasi lain ke PIMANSU secara rutin.

c. Kurangnya Alat Bantu Penyuluhan.

123Hasil wawancara dengan Drs. Zulkarnain Nasution, MA, Direktur PIMANSU, Selasa, 3 Juli 2012.

Untuk memudahkan dan mengefektifkan kegiatan-kegiatan penyuluhan, kehadiran alat-alat bantu penyuluhan sangatlah diperlukan. Namun selama ini ada beberapa kendala yang dihadapi PIMANSU. Kendala tersebut adalah tidak tersedianya alat bantu yang memadai seperti infokus, laptop, dan contoh benda-benda narkoba yang bisa diperlihatkan langsung kepada anggota masyarakat, khususnya orang tua.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian-uraian pada bab-bab terdahulu, maka dapat diambil beberapa kesimpulan tentang peran serta PIMANSU dalam penanggulangan tindak pidana Narkotika yaitu:

1. Peran serta PIMANSU dalam upaya penanggulangan tindak pidana Narkotika telah berjalan sesuai dengan program kegiatan yang telah ditetapkan, walaupun memiliki beberapa kendala.

Hal ini berpengaruh terhadap efektivitas hukum narkotika guna menegakkan aturan-aturan hukum, sehingga dapat menciptakan ketertiban umum dan ketertiban sosial. Disamping itu peran serta PIMANSU untuk mencegah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika telah dapat menunjang penegakan hukum. Adanya peran serta PIMANSU dalam meningkatan kesadaran masyarakat untuk menanggulangi tindak pidana narkotika terlihat dengan berbagai bentuk kegiatan yang dilakukan antara lain:

a. Melakukan berbagai macam kegiatan pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika seperti penyuluhan, kampanye anti narkoba, pendidikan dan pelatihan, dan lain-lain.

b. Melaporkan tindak pidana narkotika kepada pihak kepolisian dan BNN

c. Meminta adanya jaminan keamanan dan perlindungan hukum terhadap masyarakat yang berpartisipasi dalam pengungkapan tindak pidana narkotika.

d. Pengembangan kelembagaan masyarakat.

e. Pelaksanaan program kuratif.

f. Melaksanakan program rehabilitasi.

g. Mengawasi upaya penangkapan, penahanan tersangka, jalannya penuntutan serta jalannya eksekusi hukuman bagi pelanggaran tindak pidana narkotika.

h. Mengawasi pemusnahan barang bukti narkotika.

i. Menyediakan layanan informasi dan konsultasi kepada masyarakat yang membutuhkannya.

2. Faktor-faktor pendorong pelaksanaan peran serta PIMANSU dalam penanggulangan tindak pidana Narkotika ialah:

a. Adanya undang-undang No. 35 Tahun 2009 yang mengatur tentang peran serta masyarakat dalam penanggulangan Tindak Pidana Narkotika.

b. Adanya aparatur pemerintah yang bertugas dalam penanggulangan pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.

c. Adanya budaya hukum.

d. Adanya budaya yang berkembang di masyarakat Indonesia.

e. Terbentuknya lembaga-lembaga sosial yang bergerak dalam bidang penanggulangan Narkoba.

f. Faktor kesadaran masyarakat untuk melakukan sosialisasi bahaya narkotika.

Faktor-faktor penghambat pelaksanaan peran serta PIMANSU dalam penanggulangan tindak pidana narkotika ialah:

a. Belum maksimalnya penerapan Undang-undang Narkotika.

b. Belum ada pedoman pelaksanaan peran serta masyarakat dalam penanggulangan tindak pidana narkotika.

c. Tingkat kesadaran masyarakat masih rendah.

d. Terbatasnya Sumber Daya Manusia

e. Dukungan dana/anggaran yang dialokasikan pemerintah kepada masyarakat khususnya PIMANSU untuk pelaksanaan program penanggulangan tindak pidana narkotika masih kurang, sehingga pelaksaannya belum maksimal.

f. Kurangnya jaringan kerja (network line).

g. Terbatasnya jumlah Pusat Informasi Masyarakat Anti Narkoba.

h. Kurangnya sarana dan prasarana.

B. SARAN

1. Perlu peran serta masyarakat dalam penanggulangan dan pencegahan terhadap tindak pidana penyalahgunaan Narkotika. Penanggulangan tindak pidana narkotika bukan hanya tanggung jawab pihak kepolisian, pemerintah atau PIMANSU saja. Namun, seluruh komponen masyarakat diharapkan ikut berperan serta dalam upaya penanggulangan tindak pidana narkotika tersebut agar terwujud Indonesia Bebas Narkoba 2015.

2. Perlu ditingkatkan koordinasi antara PIMANSU dengan pihak pemerintah, swasta, BUMN, BUMD dan komponen masyarakat lainnya dalam rangka kegiatan penanggulangan tindak pidana narkoba agar dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan yang diharapkan.

3. Adanya komitmen dan dukungan pemerintah daerah dalam bentuk anggaran dana dalam APBD setiap tahun yang diberikan kepada PIMANSU untuk melaksanakan program kegiatan penanggulangan tindak pidana narkotika .

4. PIMANSU perlu mengembangkan suatu pola kerja yang profesional (network line) antara semua pihak baik pemerintah, swasta maupun masyarakat sehingga dapat lebih efektif dalam memberantas dan menanggulangi tindak pidana narkotika.

DAFTAR PUSTAKA

Adi, Kusno, Kebijakan Kriminal Dalam Penanggulangan Tindak Pidana Narkotika Oleh Anak, Malang: UMM Press, 2009

Arief, Barda Nawawi, Kebijakan Penanggulangan Kejahatan, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2001 Ashshofa, Burhan, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Rinneka Cipta, 1996

Atmasasmita, Romli, Perbandngan Hukum Pidana, Bandung Mandar Maju, 2000

Balien, Kenedy dan Djaman Sigar, Budaya Malu Solusi Memberantas Masalah Narkoba, Jakarta:

Gramedium, 2000

Bambang, Waluyo, Penelitian Hukum Dalam Praktek, Jakarta: Sinar Grafika, 1996

Bambang, Poernomo, Pandangan Terhadap Azas-azas Umum Hukum Acara Pidana, Yogyakarta:

Liberty, 1982

Bonger, W.A, Pengantar Tentang Kriminologi, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1982

Direktorat Hukum, Deputi Hukum dan Kerjasama Badan Narkotika Nasional, Himpunan Perundang-Undangan Republik Indonesia, Jakarta, BNN RI, 2011

Farid, Zainal Abidin, Hukum Pidana I, Jakarta: Sinar Grafika, 1995

Friedman,M. Lawrence,Law and Behavioral Sciences, New York: The Bobbs Company, Inc, 1969

Hamzah, Andi, Bunga Rampai Hukum Pidana dan Acara Pidana, Jakarta: Ghalia, 1986

Hawari, Dadang. Al-Qur’an, Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa. Yogyakarta: PT. Dana Bakti Prima Yasa, 1998

Hoefnagels, G.P., The Other Side of Criminology, Holland: Kluwer B.V., Deventer, 1973 Ibrahim, Jhonny, Theory dan Metodologi Penelitian Normatif, Malang: Bayu Media, 2006 , Teori dan Metode Penelitian Hukum Normatif, Malang: Bayu Media, 2008 Johan, Bahder Nasution, Metode Penelitian Hukum, Bandung: Mandar Maju, 2008

Joewana, Satya, dkk. Narkoba: Petunjuk Praktis Bagi Keluarga Untuk Mencegah Penyalahgunaan Narkoba. Yogyakarta: Media Pressindo, 2001

Koentjorodiningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Jakarta: Gramedia Pustaka, 1997 Kaligis, OC, Narkoba dan Peradilannya di Indonesia, Bandung: Alumni, 2002

Kanter, E.Y dan S.R Sianturi, Azas-azas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, Jakarta:

storika Grafika, 2002

Lubis, Solly, Filsafat Ilmu dan Penelitian,Bandung: Mandar Maju, 1994 Marzuki, Mahmud Peter, Penelitian Hukum, Jakarta: Kencana, 2006

Muladi, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, Semarang, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 1995.

______, Demokratisasi, Hak Asasi Manusia, dan Reformasi Hukum di Indonesia Jakarta: Habibie Centre, 2002

______, Hak Asasi Manusia, Politik dan Sistem Peradilan Pidana, Semarang: BP. Universitas Diponegoro, 2002

Muladi dan Barda Nawawi A, Teori-Teori Dan Kebijakan Pidana, Bandung: Penerbit Alumni, 1984

Nasution, Zulkarnain,Menyelamatkan Keluarga Indonesia dari Bahaya Narkoba. Bandung:

Citapustaka, 2005

Prodjodikoro Wirjono, Tindak-tindak Pidana Tertentu di Indonesia, Bandung: Aditama, 2003

Podgorecki Adam and Christopher J.Whelen, Ed, Pendekatan Sosiologis Terhadap Hukum, Jakarta:

Bina Aksara, 1997

Sasangka, Hari, Narkotika dan Psikotropika Dalam Hukum Pidana, Bandung: Mandar Maju, 2003 Seno Adji, Oemar, Hukum Pidana Pengembangan, Jakarta: Erlangga, 1985.

Siswanto S, Politik Hukum dalam Undang-Undang Narkotika, Jakarta: Rineka Cipta, 2012

Soejono, Soekanto, Ringkasan Metodologi Penelitian Hukum Empiris, Jakarta: Indonesia Hillco, 1990

Soejono, Soekanto dan Sri Mumadji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat Jakarta:

Rajagrafindo Persada, 2001

Suparmono, Gatot, Hukum Narkoba di Indonesia, Jakarta: Djamban, 2001

Sunarso, Siswantoro, Penegakan Hukum Psikotropika Dalam Kajian Sosiologi Hukum, Jakarta: PT.

RajaGrafindo Persada, 2004

Tim Penyusun, Norma, Standart dan Prosedur (NSP) Pemberdayaan Masyarakat, Jakarta: BNN RI, 2009

, Buku P4GN Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Jakarta: BNN RI, 2010

B. Makalah, Jurnal, Artikel, Majalah:

Arief, Barda Nawawi, “Beberapa Masalah Penegakan Hukum Pidana dalam Pemberantasan Korupsi”, disajikan pada Seminar CLC & FH UNSWAGATI Cirebon, 30 Juli 2005.

BNN RI, Journal Data On The Prevention And Eradication Of Drug Abuse And Illicit Trafficking, 2011

Buletin P4GN, edisi 02 Februari 2011 Buletin P4GN, edisi 09 September 2011 Buletin P4GN, Edisi12 Desember 2011

Majalah SADAR, Edisi 04. November – Desember 2011 Majalah SINAR BNN, Edisi X/2011

Nasution Binsar, Metode Penelitian Hukum Naormatif dan Perbandingan Hukum. Makalah

Nasution Binsar, Metode Penelitian Hukum Naormatif dan Perbandingan Hukum. Makalah

Dalam dokumen PULI SIREGAR /HK (Halaman 87-0)