Dalam tataran implementasi Program Keluarga Harapan di Kecamatan Sukamakmur, terdapat faktor pendorong serta faktor penghambat yang memberikan pengaruh terhadap keberhasilan pendamping dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya. Dari kedua faktor tersebut kemudian penulis kelompokan ke dalam dua faktor utama, yakni: faktor internal serta faktor eksternal.
Faktor pendorong dalam hal ini diartikan sebagai keadaan-keadaan yang menunjang keberhasilan dari pendamping dalam menanggulangi kemiskinan sekaligus mensukseskan Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Sukamakmur. Untuk Kecamatan Sukamakmur, terdapat beberapa keadaan yang menjadi faktor pendorong dari berhasilnya Program Keluarga Harapan. Keadaan-keadaan ini ada yang bersumber dari pendamping itu sendiri sebagai aktor pelaksana serta orang-orang dan lingkungan di sekeliling pendamping. Untuk keberhasilan pendamping di Kecamatan Sukamakmur sendiri, faktor pendorongnya antara lain:
Pertama, adanya keinganan dari dalam diri pendamping untuk melakukan tanggungjawab sosial. Kedua, adanya pengalaman yang dimiliki oleh pendamping dalam melakukan pekerjaan sosial sebelumnya. Adanya pengalaman yang dimiliki oleh pendamping sebelum melakukan tugasnya dapat memudahkan pendamping dalam memahami serta menjalankan peran dan tanggungjawabnya. Berdasarkan
pada wawancara mendalam yang dilakukan bersama dengan sepuluh pendamping di Kecamatan Sukamakmur diperoleh data sebagai berikut.
Tabel 5.5
Pengalaman yang Dimilliki Oleh Pendamping
No Nama Pengalaman Sebelumnya Memiliki Pengalaman Tidak Memiliki Pengalaman 1. Ahmad Sukirman ¥ 2. Asep Ismatullah ¥ 3. Nano Romansyah ¥ 4. Yusuf Taojiri ¥ 5. Riska Damayanti ¥ 6. Sekarwartini ¥ 7. Usman Sagita ¥
8. I Wayan Dharma Eka ¥
9. Hasan Fatullah ¥
10. Rahmad Mubarok ¥ Sumber: Hasil observasi lapangan, 2017
Hasil observasi lapangan selama penelitian dilakukan menunjukan bahwa dari sepuluh orang pendamping di Kecamatan Sukamakmur yang menjadi informan dalam penelitian, hanya tiga orang yang memiliki pengalaman dalam bidang yang sama sebelum terlibat sebagai pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Sukamakmur. Sementara tujuh sisanya tidak memiliki pengalaman sama sekali. Dari ketujuh orang pendamping yang tidak memiliki pengalaman sebelumnya tersebut diketahui bahwa mayoritas dari mereka memiliki latar belakang pendidikan keguruan dan menjalani profesi sampingan sebagai guru. Sementara satu sisanya memiliki latar belakang pekerjaan dalam bidang perhotelan.
Tidak adanya pengalaman sebelumnya yang dimilliki oleh beberapa pendamping mengharuskan mereka untuk beradaptasi dengan cepat terhadap
seluruh tugas dan pekerjaan sebagai pekerja sosial. Maka sebagai akibatnya, pendamping mengalami kebingungan selama masa-masa awal melakukan pendampingan kepada masyarakat penerima manfaat di Kecamatan Sukamakmur. Faktor ini sebenarnya merupakan nilai tambah bagi pendamping apabila pendamping memilikinya, namun bila tidak dimiliki dan tidak diikuti dengan penyesuaian diri yang baik maka bukan tidak mungkin bila faktor ini menjadi penghambat bagi pendamping dalam melaksanakan tugasnya.
Ketiga, tingkat pendidikan yang memadai menjadi bekal bagi pendamping untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sebagai pekerja sosial. Seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan kesejahteraan sosial tentu akan memiliki kualitas yang berbeda dengan seseorang yang berlatar pendidikan diluar rumpun ilmu sosial. Berikut ini penulis sajikan latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh masing-masing informan yang merupakan pendamping di Kecamatan Sukamakmur.
Tabel 5.6
Tingkat Pendidikan Terakhir Pendamping No. Nama Jenjang Pendidikan 1. Ahmad Sukirman Strata-1 2. Asep Ismatullah Strata-1 3. Nano Romansyah Strata-1 4. Yusuf Taojiri Strata-1 5. Riska Damayanti Strata-1 6. Sekarwartini Strata-1 7. Usman Sagita Strata-1 8. I Wayan Dharma Eka Diploma-4 9. Hasan Fatullah Strata-1 10. Rahmad Mubarok Strata-2 Sumber: Hasil Olahan Penulis, 2017
Dari tabel 5.5 diatas diketahui bahwa sepuluh orang pendamping di Kecamatan Sukamakmur yang menjadi informan penulis dalam penelitian, memiliki latar belakang pendidikan strata 1. Meskipun tidak semua pendamping memiliki latar belakang dari rumpun ilmu sosial. Dari sepuluh pendamping tujuh orang diantaranya memiliki latar belakang pendidikan keguruan, mereka antara lain: Rahmat Mubarok, Haasan Fatulloh, Nano Romansyah, Sekarwartini, Riska Damayanti, Usman Sagita dan Yusuf Taojiri. Satu orang lainnya memiliki latar belakang perhotelan yakni I Wayan Dharma Eka. Sementara dua sisanya memiliki latar belakang pendidikan administrasi yakni Ahmad Sukirman dan Asep Ismatulloh.
Perbedaan latar belakang pendidikan ini dianggap tidak melanggar aturan yang telah di tetapkan. Sebab dalam proses penjaringan yang menjadi persyaratan adalah pendidikan minimal strata 1 tanpa ada spesifikasi rumpun ilmu tertentu. Meskipun tidak melanggar, namun pendamping dengan kualifikasi yang jauh dari rumpun ilmu sosial tentunya akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.
³<D ED\DQJLQ saja, saya yang orang perhotelan yang biasanya juga di dapur harus ngadepin masyarakat yang maaf-maaf ya kaya gitu. Bingung saya di awal, ngga tau harus digimanain ini orang-orang, tapi ya karena
WXQWXWDQPDXJDPDX\DELVDNDUHQDELDVD´60
Penjelasan Bapak Waayan dalam wawancara menunjukan bahwa latar belakang pendidikan yang linear dengan pekerjaan akan berpengaruh terhadap
60Hasil wawancara dengan Bapak I Wayan Dharma Eka selaku pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Sukamulya, pada tanggal 17 Mei 2017
kualitas dari pekerjaan tersebut. Termasuk dalam konteks pekerja sosial seperti pendamping Program Keluarga Harapan (PKH).
Sementara faktor pendorong yang masuk dalam kategori eksternal antara lain: adanya komitmen yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah untuk mensukseskan Program Keluarga Harapan (PKH), terpenuhinya gaji pendamping sebagai pekerja sosial sekaligus pelaksana program di lapangan, serta adanya dukungan dari keluarga. Ketiga faktor ini diungkapkan secara berulang oleh masing-masing pendamping dalam sesi wawancara yang dilakukan bersama penulis.
Pertama, adanya komitmen yang kuat antara pemerintah pusat dengan daerah menjadi faktor pendorong pertama yang mampu memberikaan pengaruh cukup signifikan terhadap kualitas kerja pendamping. Untuk Kabupaten Bogor yang merupakan induk dari Kecamatan Sukamakmur, adanya komitmen yang kuat ini ditunjukan dengan dijadikannya program penurunan kemiskinan yang salah satunya melalui Program Keluarga Harapan (PKH) sebagai salah satu visi Kabupaten Bogor.
Selanjutnya, tercukupinya gaji pendamping sebagai pekerja sosial sekaligus pelaksana program di lapangan. Tak dapat dinafikan, motivasi terbesar dari setiap pendamping untuk melakukan pekerjaan sosial adalah demi terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan mereka. Artinya, bila dalam melakukan tugas dan tanggungjawabnya, pendamping ternyata justru tidak dapat memenuhi kebutuhannya maka yang akan terjadi adalah terganggunya fokus pendamping karena harus melaksanakan pekerjaan lain guna memenuhi kebutuhannya.
Di Kecamatan Sukamakmur, dalam konteks kesejahteraan pendamping, hampir seluruh pendampinng menyatakan hal yang sama, yakni masih kurangnya perhatian pemerintah dalam hal kesejahteraan. Berdasarkan hasil wawancara mendalam diketahui, dari total dua puluh pendamping di Kecamatan Sukamakmur, pendamping yang lebih banyak mengeluhkan persoalan kesejahteraan pendamping adalah pendamping yang direkrut dan bertugas mendampingi masyarakat penerima manfaat di Kecamatan Sukamakmur pada tahun 2016. Sementara pendamping yang telah bekerja sejak tahun 2012 beranggapan, meskipun gaji yang dimiliki oleh pendamping terbilang kurang memadai bila dibandingkan dengan beban tugas di lapangan namun jauh lebih baik bila dibandingkan dengan gaji pendamping yang baru bertugas mendampingi Kecamatan Sukamakmur pada tahun 2015 dan tahun 2016.
³.HVHMDKWHUDDQVLK\D*DMLDMDVDPSDLVHNDUDQJEHOXPVDPSDL805XSDK minimum regional), terus kaya misal tunjangan, kita aja ngga dapat tunjangan kesehatan gitu kaya BPJS. Eh dapat tapi golongan tiga jadi disamain kaya KPM, yah mendekati miskin kalo ngomong
NHVHMDKWHUDDQ´61
Dari apa yang disampaikan diatas dapat diketahui bahwa sampai saat ini, belum ada perhatian khusus dari pemerintah baik pusat maupun daerah mengenai kesejahteraan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Minimnya gaji yang diberikan berdampak pada motivasi pendamping dalam melaksanakan tugasnya secara maksimal.
Sementara faktor penghambat yang banyak ditemui selama observasi di lapangan antara lain: kondisi geografis di Kecamatan Sukamakmur, rendahnya
61Hasil wawancara dengan istri salah seorang pendamping di Desa Pabuaran pada tanggal 15 Mei 2017 bertempat di kediaman beliau.
tingkat pendidikan masyarakat, kultur masyarakat di Kecamatan Sukamakmur, adanya tuntutan untuk memenuhi kebutuhan dasar pendamping sehingga pendamping harus melakukan pekerjaan sampingan, serta adanya perbedaan budaya yang berakibat pada sulitnya kemampuan pendamping dalam memahami bahasa setempat. Dari seluruh faktor-faktor penghambat tersebut, penulis mengelompokannya ke dalam dua faktor utama, yakni: faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal yang menjadi penghambat bagi pendamping dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya antara lain: Pertama, adanya tuntutan untuk memenuhi kebutuhan dasar pendamping. Tuntutan yang bersumber dari keluarga ini pada akhirnya menjadikan pendamping harus melakukan pekerjaan sampingan guna mencukupi kebutuhan dasarnya. Dari sepuluh pendamping yang menjadi informan di Kecamatan Sukamakmur diketahui mayoritas dari mereka memiliki pekerjaan sampingan.
Tabel 5.7
Pekerjaan Lain yang Dimiliki Pendamping
No. Nama Pekerjaan
1. Ahmad Sukirman Sekretaris Desa Sukamakmur 2. Asep Ismatullah -
3. Nano Romansyah Guru dan Ojek
4. Yusuf Taojiri Guru
5. Riska Damayanti -
6. Sekarwartini Pengelola Toko Roti
7. Usman Sagita Guru
8. I Wayan Dharma Eka -
10. Rahmad Mubarok Pengelola Pesantran Sumber: Hasil Observasi Lapangan, 2017
Tabel 5.7 diatas menjelaskan beberapa pekerjaan sampingan yang dimiliki oleh pendamping dalam rangka memenuhi kebutuhan dasarnya. Dari sepuluh pendamping di Kecamatan Sukamakmur, hanya tiga orang yang tidak memiliki pekerjaan sampingan sementara sisanya memilliki pekerjaan sampingan. Rata-rata dari pendamping yang memiliki pekerjaan sampingan berprofesi sebagai tenaga pengajar (guru) sementara tiga lainnya secara berurutan memiliki profesi sebagai: sekretaris desa, pengelola toko roti serta pengelola pesantren. Diakui oleh salah seorang pendamping, profesi ganda yang mereka tekuni ini dilatarbelakangi oleh tingginya kebutuhan dasar keluarga yang harus mereka penuhi sedangkaan gaji sebagai pendamping tak dapat mencukupi kebutuhan tersebut.62
Kedua, adanya perbedaan budaya yang berakibat pada sulitnya kemampuan pendamping dalam memahami bahasa setempat yang mayoritas masyarakat menggunakan bahasa sunda. Kondisi ini diperparah dengan kemampuan masayarakat dalam menggunakan Bahasa Indonesia yang juga minim. Sebagai akibatnya, pendamping mengalami kesulitan dalam melakukan komunikasi dengan masyarakat.
Meskipun kondisi ini tidak terjadi pada seluruh masyarakat dampingan, namun kondisi ini menjadi hambatan tersendiri bagi pendamping. Utamanya pendamping yang berasal dari luar daerah Jawa Barat. Hal ini diakui oleh salah
62Hasil wawancara dengan Bapak Nano Romansyah selaku pendamping Program Keluarga Harapn (PKH) di Desa Sukawangi, pada tanggal 13 Mei 2017 bertempat di salah satu warung kopi di Desa Pabuaran.
seorang pendamping yakni Bapak I Wayan Dharma Eka yang berasal dari Provinsi Bali.
´Kesulitan ya.. bahasa sih ya. Sekarang gini, saya orang Bali terus saya harus berkomunikasi sama orang Sunda yang ngomong Bahasa Indonesia aja terbatas. Dan itu ngga cuma terjadi di satu dua keluarga tapi banyak. Susah juga kan itu. Jadi dari dulu tiap saya mau ke desa saya selalu ajak orang kecamatan atau minimal orang desa ya istilahnya jadi penerjemah
JLWXODK7DSLNDORVHNDUDQJVD\DQJHUWLODKVHGLNLW´63
Meskipun terlihat sederhana, namun kendala akan penguasaan bahasa setempat menjadi faktor yang dapat menghambat terjalinnya komunikasi yang baik anatara pendamping dengan masyarakat dampingan. Terlebih lagi pendamping harus mampu membangun kedekatan emosional dengan masyarakat dampingan melalui komunikasi yang dilakukan secara intens. Maka bila bahasa yang menjadi pintu dari komunikasi tak dikuasai maka komunikasi pun sulit untuk berjalan dengann baik.
Selanjutnya faktor penghambat yang dikelompokan sebagai faktor penghambat yang bersumber dari luar diri pendamping, antara lain: Pertama, kondisi geografis Kecamatan Sukamakmur. Diakui oleh seluruh pendamping bahwa kondisi geografis Kecamatan Sukamakmur yang dikelilingi oleh gunung dan perbukitan berakibat pada sulitnya akses pendamping dalam menjangkau wilayah-wilayah dampingan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh salah seorang pendamping, Bapak Hasan Fatullah berikut ini.
´Sebenarnya jalan untuk sampai Kecamatan Sukamakmurnya aja itu udah bagus ya kalau sekarang. Beda sama waktu tahun 2012 pertama kita disini. Tapi kan masyarakat dampingan itu ngga semua rumahnya di pinggir jalan. Kaya itu tuh mas liat gunung itu (menunjuk salah satu gunung), disana ada
63Hasil wawancara dengan Bapak I Wayan Dharma Eka selaku pendamping Program Keluarga Harapan di Desa Sukamulya, pada tanggal 17 Mei 2017 bertempat di kediaman beliau.
kampung bojongterong, saya juga ngedampingin wilayah yang disana itu. Jalannya harus nyebrangin kali, motor kan ngga bisa tuh lewat ya mau ngga mau kalo mau kesana motor harus saya tinggal sisanya saya jalan kaki. Kasian motor juga sih haha disini biasanya tiap habis kunjungan ke KPM pasti ada aja bagian motor yang rusak, paling sering sih ban ya karena emang kontour jalannya itu masih batu-batu besar dan tajem-WDMHP´64
Kondisi geografis menjadi faktor paling menghambat bagi pendamping dalam menjalankan tugasnya. Sebab memang masih banyak kampung-kampung di setiap desa yang berjauhan dengan desa lainnya serta tak sedikit kampung yang berada di tengah gunung sehingga akses untuk kesana terbilang sulit. Hal senada juga disampaikan oleh Ibu Sekarwartini selaku pendamping yang mendampingi Desa Cibadak,
³'L GHVD GDPSLQJDQ VD\D DGD VDWX NDPSXQJ QDPDQ\D .DPSXQJ Gunungsangar, itu kampung ada diatas gunung jadi kalo mau kesana saya harus jalan kaki dulu kurang lebih lima jam baru nyampe. Jangankan kondisi jalan yang bagus gitu ya, listrik aja baru ada disana tuh awal tahun kemarin (tahun 2017). Berat ya tapi kan emang udah tugas kita jadi ya mau ngga mau harus dijalani. Saya kadang sampe harus ditemenin sama suami karena ngga berani ya haha (tertawa) namanya jalan kaki sampe lima jam
GLKXWDQJLWXNDQ´65
Kedua pernyataan diatas tak hanya dikeluhkan oleh pendamping dari kedua desa tersebut, namun hampir seluruh pendamping di sepuluh desa mengeluhkan hal yang sama. Meskipun terdapat satu desa dengan keluhan mengenai kondisi geografis ini tak begitu buruk seperti desa lainnya. Desa tersebut adalah Desa Sukamulya yang didampingi oleh Bapak I Wayan Dharma Eka. Beliau menuturkan bahwa kondisi geografis pemukiman masyarakat di desanya cenderung terpusat dan
64Hasil wawancara dengan Bapak Hasan Fatullah selaku pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Pabuaran, pada tanggal 17 Mei 2017 bertempat di rumah salah satu KPM di Desa Pabuaran.
65 Hasil wawancara dengan Ibu Sekarwartini selaku pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Cibadak pada tanggal 12 Mei 2017 bertempat di Pos PAUD Desa Cibadak.
tak jauh dari jalan utama yang menghubungkan desa satu dengan desa lainnya sehingga tak ada masalah serius yang beliau hadapi terkait dengan kondisi geografis desa dampingannya.66 Berbeda dengan apa yang terjadi di Desa Pabuaran, Cibadak, Sukaharja, dan Sukawangi yang memiliki kondisi pemukiman masyarakat yang saling berjauhan.
Kondisi geografis wilayah serta diperparah dengan tidak tersedianya infrastruktur jalan yang memadai menjadikan pendamping harus mengeluarkan tenaga serta biaya eksstra untuk melakukan kunjungan terhadap masyarakat penerima manfaat. Kondisi beberapa kampung yang berada di beberapa desa yang masih terisolir mau tak mau menjadi penyebab dari dikuranginya intensitas pertemuan dengan masyarakat penerima manfaat yang menjadi masyarakat dampingannya. Hal ini diungkapkan oleh Bapak Hasan Fatullah sebagai berikut: ³<DNDORMDXKJLWXSDOLQJMXJDVD\DVHEXODQVHNDOLNHVDQDDWDXPDODKWLJDEXODQ sekali. Karena memang aksesnya susah ya jadi nunggu kalo udah bener-bener
urgent dulu baru kLWDNH.30´67
Selain kondisi geografis di Kecamatan Sukamkmur yang menyebaabkan sulitnya akses bagi pendamping dalam menjangkau wilayah-wilayah dampingan, terdapat pula faktor lainnya yakni: rendahnya tingkat pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat serta kultur masyarakat di Kecamatan Sukamakmur. Kedua faktor ini sangat berpengaruh selama masa-masa awal kegiatan pendampingan dilakukan.
66Hasil wawancara dengan Bapak I Wayan Dharma Eka selaku pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) pada tanggal 13 Mei 2017 bertempat di kediaman beliau.
67Hasil wawancara dengan Bapak Hasan Fatullah selaku pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Pabuaran pada tanggal 13 Mei 2017, bertempat di rumah salah satu KPM di Desa Pabuaran.
Rendahnya tingkat pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat berakibat pada minimnya pemahaman serta informasi yang mereka miliki. Hal ini berdampak pada penolakan yang terjadi pada tahun pertama kegiatan berjalan.
³.DORGXOX\DVHULQJ\DQJND\DJLWXNRQIOLNDSDODJLZDNWXDZDODZDONLWD disini ya. Biasanya masyarakat itu susah dikasih taunya diawal jadi ketika ada masalah cenderung malah jadi konflik. Misal diawal udah dikasih tau kalo ini bantuan bersyarat yang cuma masyarakat dengan kategori tertentu aja yang bisa terima dana ini. Tapi ketika ada pencairan ya ada aja yang ngga terima. Malah pernah dulu itu kita sampe dibawain golok sama salah satu jagoannya gitu ya. Kebanyakan konflik itu adanya jelang pencairan. Masyarakat udah dikasih tau tapi ya susah, yang diterima uangnya aja tapi
LQIRUPDVL\DQJGLNDVLKWDXVHEHOXPQ\DNDEXUHQWDKNHPDQD´68
Lebih lanjut lagi dijelaskan, kultur masyarakat yang cenderung keras menjadikan upaya-upaya pendekatan yang dilakukan oleh pendamping pada masa awal program berjalan lebih sulit untuk dilakukan. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibu Sekarwartini, sebagai berikut:
³0DDI-maaf ya kalau orang luar Sukamakmur bilang orang Sukamakmur teh orang girang. Orang girang tuh maksudnya keras. Susah gitu ya. Saya kan tinggalnya disini ya di Citeureup sini jadi dulu sebelum pendampingan disini sempat cari-cari informasi dulu dan ternyata bener kejadian. Kalau
GLELODQJVXVDKPDKVHEHQDUQ\DUHODWLI\D7DSL\DFXNXSVXOLWPHPDQJ´69
Hambatan ini dirasakan sangat berpengaruh pada kinerja pendamping pada masa-masa awal kegiatan berjalan yakni di tahun 2012. Namun laambat laun dengan hambatan ini berhasil untuk diatasi dengan edukasi yang diberikan oleh pendamping sejak lima tahun lalu. Meskipun memang diakui oleh pendamping mengubah kultur masyarakt serta cara pikir masyarakat bukan merupakan persoalan yang mudah.
68Ibid.
69Hasil wawancara dengan Ibu Sekarwartini selaku pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Cibadak pada tanggal 12 Mei 2017 bertempat di Pos PAUD Desa Sukamakmur.