• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Pembahasan

2. Faktor pendukung bermain game online

Dari jawaban yang dikemukakan oleh responden Sius diketahui bahwa, kondisi yang mendukung ia untuk bermain game online yaitu kondisi handphone yang dimiliki karena bisa menampung game dengan ukuran besar seperti game Free Fire dan Pubg. Selain itu juga atas dasar ajakan teman. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Kondisi yang mendukung saya untuk bermain game online yaitu kondisi handphone yang saya miliki. Dimana spek hp saya ini bisa menampung game dengan ukuran besar seperti game free fire dan game pubg. Selain itu atas dasar ajakan teman” (S/FP-1, 143-147).

Sama halnya dengan responden Fandi, ia mengatakan bahwa kondisi yang mendukung dirinya untuk bermain game online adalah kondisi handphone yang ia miliki, yang bisa menampung game Pubg Mobile. Selain itu juga atas dasar ajakan teman. Hal ini dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“kondisi yang mendukung saya bermain game yaitu spek hp yang saya miliki dengan RAM yang besar yang dapat menampung game Pubg Mobile. selain itu karena ajakan teman.” (F/FP-1, 148-151) Peneliti juga memperoleh data dari hasil wawancara dengan informan Sius dan informan Fandi bahwa adanya kesamaan terhadap hasil wawancara yang telah dilakukan dengan subjek. Informan Sius dan Informan Fandi mengatakan bahwa kondisi yang mendukung subjek Sius dan Subjek Fandi dalam bermain game online yaitu spesifik handphone yang dimiliki dan ajakan teman. Hal ini dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

72

“Kondisi yang mendukung Sius untuk bermain game adalah spek hp yang dia punya dimana bisa menampung game yang ukuran besar seperti Game free fire dan game pubg. Karena kan kalau dia punya handphone mempunyai ram kecil sama saja bohong dia main game karena akan loading dan tidak bisa menampung game. Selain itu juga karena ajakan teman.” (INS/FP-1, 120-125)

“Kondisi yang mendukung Fandi untuk bermain game yaitu spek hp yang dia punya yang bisa menampung game pubg. Selain itu karena ajakan teman.” (INF/FP-1, 100-102)

Faktor kedua yang membuat responden Sius dan Fandi bermain game online yaitu karena adanya game yang disukai. Responden Sius mengatakan game online yang ia sukai adalah game Free Fire. Game Free Fire ini sangat mudah dimainkan dengan cara menembak musuh, semakin banyak menembak musuh maka semakin banyak bonus yang didapatkan dan level akan semakin naik. Selain itu game Free Fire juga menyediakan Game Play dan fitur-fitur yang menarik berupa senjata, tas, baju, topi, dan sudah menyediakan diskon untuk pembelian skin sehingga harga terjangkau dibandikan dengan game Pubg dan Boom Beach. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Game online yang paling saya suka itu adalah game Free Fire (ff).

Alasannya karena terdapat gameplay serta fitur-fitur yang menarik seperti senjata, tas, pakaian, topi dan baju bahkan banyak diskon skin senjata yang harganya terjangkau dibandingkan game pubg dan Boom Beach. Saya pernah bermain game pub dan boom Beach tapi rasanya cepat bosan dan malas mungkin karena game free fire yang lebih mudah untuk dimainkan game ini dimainkan dengan cara tembak-tembakan, semakin banyak kita menembak musuh maka bonus yang kita dapat semakin banyak dan level akan naik.”

(S/FP-2, 149-159)

73

Sedangkan, responden Fandi mengatakan game online yang paling ia sukai adalah game Pubg Mobile. Alasan Fandi menyukai game Pubg Mobile ini karena memiliki kualitas gambar yang bagus, dimainkan oleh orang luar negeri sehingga mempunyai kesempatan untuk bermain bersama sekalian melatih Berbahasa Inggris dan ia merasa senang karena sejauh ini cara dia berbahasa Inggris sudah bagus. Hal ini dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Game online yang paling saya sukai itu cuman Pubg Mobile saja adik. Tidak ada game yang lain. Karena game Pubg ini mempunyai kualitas gambar yang bagus menurut saya, dimainkan orang luar negeri sehingga saya dapat kesempatan untuk main dengan mereka to sekaligus saya latih berbahasa inggris begitu. Saya rasa senang e, karena dengan main game ini saya rasa saya punya Bahasa Inggris sudah sedikit meningkat walaupun belum begitu sempurna.” (F/FP-2,153-161 )

Peneliti juga memperoleh data dari hasil wawancara dengan informan Sius dan informan Fandi bahwa adanya kesamaan terhadap hasil wawancara yang telah dilakukan dengan subjek. Informan Sius mengatakan bahwa game online yang Sius sukai adalah game Free Fire. Ia sering bermain game tersebut dan menurut ia game itu menarik. Hal ini dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Kalau saya lihat dia orang yang paling suka game Free Fire.

Soalnya itu game yang sering dia main. Mungkin menarik menurut dia makanya dia lebih memilih itu game.” (INS/FP-2, 127-129).

Sedangkan informan Fandi mengatakan bahwa, game online yang Fandi sukai adalah game Pubg Mobile. Game ini memiliki senjata yang menarik yang

74

bisa membuat pemain merasa senang dengan desain senjata yang ada. Selain itu cara bermainnya juga tidak sulit dan dalam game ini juga sudah menyediakan bonus-bonus senjata dan baju sehingga tidak usah membeli lagi.

Hal ini dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Game online yang paling dia suka itu game Pubg Mobile. Game ini punya senjata yang menarik yang bisa membuat pemain merasa senang dengan desain senjata yang ada. Dia punya cara main juga tidak terlalu sulit yang bisa memudahkan para pemain untuk bermain game tersebut. Di game pubg juga ini setau saya sudah menyediakan bonus-bonus seperti senjatanya kita perlu beli bisa pakai yang gratis saja, bajunya juga begitu.” (INF/FP-2, 104-111).

Faktor ketiga yaitu terdapat banyak hal yang menarik dari game online yang membuat kedua subjek kecanduan dan sulit untuk berhenti jika sudah masuk dalam game. Responden Sius mengatakan yang menarik dari game Free Fire yaitu fitur yang terdapat dalam game seperti senjata yang bisa digunakan untuk membunuh musuh sehingga ia bisa menang dalam permainan tersebut.

Selain fitur yang menarik, di dalam game tresebut ia juga bisa melatih konsentrasinya agar bisa memenangkan permainan yang bisa membuat levelnya naik dengan cepat. Hal ini dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Yang menarik dari game online itu sendiri yang pertama fiturnya.

Fitur yang menarik itu adalah senjata dimana kalau kita membunuh pasukan musuh kerajaan lain maka kerajaan saya akan semakin naik levelnya dan semakin kuat, serta pasukan kerajaan saya pun semakin bertambah banyak. Selain itu melatih kosentrasi karena jika kita sudah dalam game pasti kita harus berkonsentrasi untuk menjaga kerajaan kita dari serangan musuh agar bisa menang dalam pertempuran, dan dari game inilah konsentrasi saya terlatih untuk

75

lebih fokus pada suatu tujuan, tujuannya itu untuk menang dalam game play.” (S/FP-3, 161-172)

Sama halnya dengan responden Fandi, ia mengatakan yang menarik dari game Pubg Mobile adalah fitur yang terdapat di dalam game. Fitur yang dimaksud adalah senjata yang digunakan untuk melawan musuh dan juga bisa dijadikan sebagai suatu hiasan yang membuat profile game menjadi menarik.

Selain itu yang menarik dari game Pubg Mobile ini yaitu dapat mengasah kemampuan ia dalam berbicara Bahasa Inggris, karena game ini banyak dimainkan oleh orang luar negeri juga. Hal ini dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Bagi saya yang menarik dari game online, terlebih khusus game yang saya mainkan ini yaitu game Pubg adalah fitur- fitur yang ada dalam game. Fitur yang dimaksud disini adalah senjata yang ada dalam game tersebut yang membuat game saya itu menarik untuk dilihat. Dan juga daya tarik untuk bermainnya itu semakin meningkat karena bisa dilihat oleh orang lain yang ada dalam satu game tersebut, dan juga dalam game saya bisa mengasah kemampuan saya dalam Berbahasa Inggris, karena yang main ini game juga kebanyakan orang luar negeri.” (F/FP-3, 163-172) Peneliti juga memperoleh data dari hasil wawancara dengan informan Sius dan informan Fandi bahwa adanya kesamaan terhadap hasil wawancara yang telah dilakukan dengan subjek. Informan Sius mengatakan faktor yang mendorong Sius untuk bermain game Free Fire yaitu fitur atau senjata yang terdapat dalam game tersebut yang bisa digunakan untuk melawan musuh, apabila ia berhasil melawan musuh maka level ia semakin meningkat sehingga membuat dia ketagihan untuk terus bermain. Selain itu juga dalam game ia bisa

76

melatih konsentrasinya agar tujuan yang ia inginkan bisa tercapai. Tujuan tersebut adalah untuk mengalah musuh-musuh yang ada dalam game. Hal ini dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Yang saya lihat kalau mereka lagi main game itu dia punya senjatanya e menurut saya walaupun saya juga tidak main game, tapi saya sering lihat dia main makanya saya bilang dia punya senjata yang menarik, bagus. Selain itu juga ia bisa melatih konsentrasinya agar bisa menang dalam melawan musuh sehingga mencapai tujuan yang ia inginkan yaitu menang dalam bermain.”

(INS/FP-3, 132-138)

Sama halnya dengan informan Fandi, ia mengatakan faktor yang mendorong Fandi untuk bermain game Pubg Mobile yaitu adanya senjata yang terdapat dalam game tersebut yang digunakan untuk membunuh musuh, selain itu juga di dalam game ia bisa belajar Bahasa Inggris. Hal ini dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Dalam game itu yang menariknya adalah fitur yag terdapat dalam game itu sendiri. Fitur yang dimaksud adalah senjata yang ada di game yang bisa membuat orang tu tertarik untuk mainnya dan tidak merasa bosan. Selain itu di game Pubg ia bisa mengasah kemampuannya dalam berbicara menggunakanBahasa Inggris.”

(INF/FP-3, 121-126)

Faktor keempat yaitu adanya dana atau uang yang dimiliki sehingga bisa digunakan untuk memenuhi semua kebutuhan dalam game. Responden Sius mengatakan uang yang ia gunakan dalam bermain game online senilai dua ratus ribu rupiah sampai tiga ratus ribu rupiah. Uang ini digunakan untuk membeli skin yang ada dalam game Free Fire dan uang tersebut dipakai dalam jangka waktu seminggu ataupun sebulan tergantung kapan skin tersebut

77

dikeluarkan oleh admin game. Ia juga mengatakan bahwa uang tersebut ia dapatkan dari orang tau yang dikasih untuk jatah bulanan dan terdakang juga ia menipu orang tua terkait uang kuliah agar ia bisa membeli skin. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Biasanya dua ratus sampai tiga ratus ribu rupiah. Ini bisa dalam seminggu Bisa juga dalam sebulan ya tergantung kapan skin itu keluar di dalam game tersebut” (S/FP-4, 175-179)

“Uang yang saya gunakan untuk membeli skin tersebut yaitu dari orang tua yang mereka kasih untuk jatah bulanan dan terkadang saya harus menipu dengan kuliah agar saya bisa pakai untuk membeli skin” (S/FP-4, 179-183)

Peneliti juga memperoleh data dari hasil wawancara dengan informan Sius bahwa adanya kesamaan terhadap hasil wawancara yang telah dilakukan dengan subjek. Informan Sius mengatakan bahwa mengenai dana tentu harus ada sebagai keperluan game. Dana yang dibutuhkan oleh Sius senilai dua ratus ribu rupiah dan dipakai untuk membeli skin. Uang tersebut dipakai dengan jangka waktu yang tidak tepat kadang sebulan sekali targantung kapan skin tersebut keluar dalam game. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Oke, kalau soal uang itu pasti harus ada untuk keperluan game.

Kalau saya lihat-lihat dari kae Sius ini dia pernah beli skin itu harganya mahal. dia pernah cerita di saya kalau dia baru beli skin harganya dua ratus ribu. Soalnya dia kasih tunjuk di saya juga begitu. Tapi biasanya tergantung kapan itu skin keluar di game jadi tidak setiap hari juga dia beli mungkin sebulan sekali. Tidak tentu pokoknya tunggu skin keluar baru dia beli itupun kalau menarik menurut dia.” (INS/FP-4, 141-149).

78

Responden Fandi mengatakan bahwa dana yang ia butuhkan untuk bermain game online senilai seratus tujuh puluh lima ribu rupiah dalam sebulan.

Dana ini dipakai untuk membeli kuota selama sebulan. Dalam sebulan Fandi membeli kuota sebanyak tiga kali dengan kelipatan lima puluh tujuh ribu rupiah. Uang tersebut ia dapatkan dari orang tua sebagai uang bulanan. Ia juga mengatakan bahwa untuk membeli skin di dalam game, ia masih memakai yang gratis karena bagi dia harga skin terlalu mahal, jadi dia memilih menggunakan yang gratis saja. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Dana yang saya butuhkan itu dalam satu bulan bisa sampai seratus tujuh puluh lima ribu rupiah karena dalam satu bulan saya membeli kuota sebanyak tiga kali dengan kelipatan lima puluh tujuh ribu rupiah.” (F/FP-4, 175-178).

“Uang tersebut saya dapat dari orang tua saya dan itu merupakan uang makan dan uang jajan saya dalam sebulan. Uang makan saya dalam sebulan sebelum mengenal game online sebesar empat ratus ribu rupiah. Akan tetapi setelah saya mengenal game, uang tersebut sangat kurang bagi saya.” (F/FP-4, 178-183)

Informan Fandi mengatakan, dalam bermain game online tentunya membutuhkan uang untuk membeli kuota. Uang yang digunakan Fandi untuk membeli kuota kurang lebih seratus ribu keatas tidak mencapai dua ratus ribu karena dia hanya membeli kuota saja untuk perlengkapan game ia masih menggunakan yang gratis. Hal ini dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

79

“Uang yang dipakai Fandi untuk membeli kuota dalam bermain game kurang lebih seratus ribuan keatas tidak mencapai dua ratus ribu. Uang tersebut paling untuk membeli kuota saja, kalau yang upgrade dalam game masih pakai yang gratis” (INF/FP-3, 128-132) Faktor kelima yaitu adanya sensasi yang terdapat dalam permainan game online itu sendiri. Responden Sius mengatakan, sensasi dari permainan game Free Fire yaitu seperti berada dalam game itu sendiri, seperti nyata.

Dalam arti ia seolah-olah sedang berada secara langsung dalam game tersebut dan melakukan aksi tembak-tembakan secara langsung yang membuat ia kecanduan untuk terus bermain game. Apabila ia berhasil melawan musuh, maka ia sangat merasa senang dan tidak ingin keluar dari game. Hal ini dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Sensasi dari permainan game online ini yaitu kita seperti berada dalam game itu sendiri seperti nyata ketika kita sedang memainkannya dan rasanya sangat menantang dan ketika kita sudah berhasil membunuh musuh maka perasaan yang muncul itu adalah perasaan senang, bahagia pengennya tidak usah keluar dari game dan mau untuk menang terus”. (S/FP-5, 185-191)

Sedangkan menurut responden Fandi, sensasi yang ia dapatkan dari permainan game online yaitu jika ia berhasil memenangkan permainan tersebut maka ia merasa bahwa ia memiliki potensi dan prestasi dalam game tersebut.

Hal ini dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Sensasi yang saya dapatkan dari permainan game online tersebut yaitu jika saya berhasil memenangkan permainan maka saya merasa bahwa saya memiliki potensi dan prestasi dalam game tersebut.”

(F/FP-5, 191-194).

80

Responden Sius pernah mencoba mengatasi keinginannya untuk tidak bermain game online pada tahun 2019. Percobaan pertama yang ia lakukan yaitu mengurangi durasi bermain game online, yang awalnya enam jam dalam sehari bahkan lebih, berubah menjadi empat jam dalam sehari. Hal ini di dukung dengan muncul niat dari dalam dirinya untuk fokus dalam pekuliahan.

Namun, hal tersebut tidak pernah berhasil karena ia merasa bahwa ada sesuatu yang kurang jika ia tidak bermain game. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Pernah mencoba tahun 2019, tapi susah untuk melepaskan secara serentak. Untuk melepaskannya butuh proses. Proses yang dimaksud disini yaitu perlu tahap misalnya dengan kebiasaan saya bermain game online dalam sehari 6 jam, maka saya akan pelan-pelan mengurangi durasi tersebut, mungkin bisa dikurangi menjadi 4 jam perharinya. Dan untuk sekarang mau fokus juga dengan tugas kuliah.” (S/FP-6, 194-201)

Sama halnya dengan responden Fandi, ia mengatakan bahwa ia pernah mencoba mengatasi keinginanya untuk tidak bermain game online lagi.

Percobaan tersebut ia lakukan selama tiga kali dengan cara menghapus game yang ada di handphone. Namun, hal tersebut tidak pernah berhasil karena ia merasa bahwa ada sesuatu yang kurang jika ia tidak bermain game. Apa lagi jika ia melihat teman-temannya sedang bermain game. Sekarang ini, hal yang ia lakukan yaitu mulai mencoba untuk mengurangi durasi bermain game yang biasanya 5-6 jam perhari, sekarang hanya 2-4 jam perhari. Hal tersebut juga

81

didukung karena ia ingin fokus dengan tugas akhir. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Kalau ini tentunya pernah. Ketika saya menyadari saya kecanduan game online, saya mempunyai niat untuk tidak bermain game lagi.”

(F/FP-6, 201-203).

“Saya sudah pernah mencoba untuk menghapus game pubg ini sebanyak tiga kali percobaan dek. Namun semuanya itu tidak ada yang berhasil. Setelah menghapus game, mungkin itu bisanya cuman 3 jam setelah itu saya mendownload lagi. Karena saya rasa ada yang kurang begitu e.” (F/FP-6, 203-208).

“Sekarang saya mulai mencoba untuk mengurangi durasi permainan game online yang biasanya 5-6 jam perhari, sekarang saya sedang berusaha untuk bermain dengan durasi 2-4 jam saja perhari. Soalnya mengingat ada yang harus saya fokuskan dan kerjakan yaitu tugas akhir dek.” (F/FP-6, 212-216).

Peneliti juga memperoleh data dari hasil wawancara dengan informan Sius dan informan Fandi bahwa adanya kesamaan terhadap hasil wawancara yang telah dilakukan dengan subjek. Informan Sius mengatakan bahwa Sius pernah mengatasi keinginannya untuk tidak bermain game lagi pada tahun 2019 semenjak ia keluar dari rumah sakit. Dimana ia bisa sudah merasakan akibat dari pola makan dan pola tidur yang tidak teratur, namun hal ini hanya berlaku pada saat ia keluar dari rumah sakit karena kenyataannya sampai sekarang ini dia masih aktif bermain game. Selain itu juga hal yang membuat dia mempunyai keinginan untuk mengatasi keinginannay untuk tidak bermain game yaitu ingin fokus kuliah karena ia melihat teman-teman seangkatannya sudah pada selesai semua. Namun, sampai sekarang dia masih aktif juga dalam

82

game dan tidak bisa melepaskannya. Hal ini dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Iya pernah e, pas keluar dari rumah sakit itu dia sempat bilang untuk tidak main lagi karena dia sudah tau akibatnya kalau kurang tidur, pola makan tidak teratur. Tapi saya tidak yakin pas dia omong ta, saya hanya bilang bagus sudah kalau kae punya pikiran begitu.

Setelah saya lihat-lihat habis dia keluar dari rumah sakit itu dia tetap main game akhirnya saya tanya, kae bilang kemarin tidak mau main game lagi. Terus dia jawab susah no. Susah untuk keluar dari dunia game secara serentak. Mungkin pelan-pelan nanti.” (INS/FP-6, 153-162).

“Satu lagi dia pernah bilang mau berhenti main karena ingin fokus kuliah, soalnya dia lihat dia punya teman banyak sudah wisuda.

Tapi yaa kenyataanya sampai sekarang juga tetap dia lebih fokus ke game. Mungkin karena sudah terlalu asik dengan dunia game, dunia dimana dia mencari hiburan.” (INS/FP-6, 164-169 ).

Sama halnya dengan informan Fandi, ia mengatakan bahwa Fandi pernah mengatasi keinginannya untuk tidak bermain game online lagi. Dimana Fandi pernah menghapus game di handphone, namun dia mendownload ulang karena ia tidak bisa lepas dari game. Untuk sekarang ini ia sedang mencoba mengurangi durasi mainnya setiap hari karena ia juga ingin fokus dengan tugas akhir. Hal ini daat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Pernah adik, dan ini sangat lucu menurut saya e. Dimana waktu itu kami lagi duduk rame-rame sambil main game dan dia ini datang bergabung. Nah kami heran kenapa dia tumben tidak pegang hp.

Ternyata dia ini ada mencoba tidak bermain game dengan cara menghapus game pubg yang ada di dia punya hp ini. Nah disitu kami hanya senyum sa pas dia bilang begitu. Tapi anehnya dia download lagi, katanya susah untuk jauh dari game, ya namanya juga orang sudah kecanduan pasti sulit to.” (INF/FP-6, 135-143).

“Untuk sekarang ni, dia katanya mau fokus dengan tugas akhir dulu,

“Untuk sekarang ni, dia katanya mau fokus dengan tugas akhir dulu,

Dokumen terkait