• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Pembahasan

1. Sejarah mengenal game online dan menjadi gamers

Dari hasil wawancara dapat dinyatakan bahwa subjek Sius mulai mengenal game online sejak pertengahan tahun 2017. Saat itu, game yang masih terkenal yaitu Game Boom Beach. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Pertama kali saya mengenal game sekitar pertengahan Tahun 2017. Dimana pada saat itu lagi terkenalnya game Boom beach”

(S/SM-1, 1-4)

Sama halnya dengan Fandi yang mengalami kecanduan game online. Awal mula ia mengenal game online sejak tahun 2019 yang lalu di bulan Oktober.

Sudah mencapai satu tahun tiga bulan. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Pertama kali saya mengenal game online tahun 2019 sekitar bulan Oktober berarti sudah satu tahun 3 bulan saya mengenal game online” (F/SM-1, 2-4)

Peneliti juga memperoleh data dari hasil wawancara dengan informan Sius dan informan Fandi bahwa adanya kesamaan terhadap hasil wawancara yang telah dilakukan dengan subjek. Infroman Sius mengatakan bahwa pertama kali Sius mengenal game online sejak tahun 2017. Pada saat itu saya melihat Sius sedang duduk di teras rumah dan sayapun bertanya hal apa yang sedang ia

52

lakukan dan dia menjawab ia sedang bermain game online yang bernama Boom Beach. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Sudah lama. Pada saat itu Sius pulang libur dan saya melihat ia sedang duduk di teras rumah dan saya sempat bertanya sedang buat apa lalu dia menjawab bermain game.” (INS/SM-1, 14-17).

“Ada aktivitas baru sekarang yaitu bermain game. Kalau tidak salah pada saat itu masih tenar-tenarnya main game Boom Beach”

(INS/SM-1, 17-19).

“Berarti tahun 2017 mulai dia main game.” (INS/SM-1, 20).

Informan Fandi juga mengatakan bahwa pertama kali Fandi mengenal game online sejak tahun 2019. Pada saat itu semua anak-anak kos kumpul disuatu kamar dan semua pada bermain game online kecuali si Fandi. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Pertama kali Fandi mengenal game online sejak tahun 2019”

(INF/SM-1, 14)

Proses awal responden Sius menjadi gamers online dikarenakan banyaknya teman-teman dari Sius yang bermain game boom beach. Lalu teman-teman tersebut mengajak ia untuk mendownload game yang sedang dimainkan oleh teman-temannya. Hingga pada akhirnya Sius bersedia untuk mendownload game boom beach dan setelah selesai mendownload, teman responden mengajarkan cara bermain game tersebut. Sius mencoba untuk mulai bermain game tersebut dan ternyata sangat mudah dan disitu Sius sempat mengatakan ke temannya bahwa ternyata main game itu sangat seru dan ada pantasnya setiap kali kalian bermain game, kalian merasa asik sendiri. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

53

“Saya punya teman banyak yang main itu game bom beach. Terus saya punya teman ini ajak, bro ayo download ini game, pasti nanti kau akan ketagihan kalau sudah main. Akhirnya saya download dan setelah download itu saya punya teman ajar cara mainnya, saya coba dan ternyata gampang juga dan pas itu saya sempat bilang ternyata seru juga e pantasan kamu asik sendiri sekali kalau sudah main game” (S/SM-2, 10-18)

Keadaan tersebut juga diperkuat karena lingkungan sekitar kos responden Sius hampir semua penghuni kos yang terdiri dari tujuh kamar kos semuanya pada bermain game online, dan dari situlah Sius merasa terpengaruh dan mencoba untuk bermain game online. Berangkat dari situ, Sius merasa bahwa banyak waktu kosong yang dimiliki ketika pulang dari kampus dan Sius memiliki tipe orang yang tidak suka jalan-jalan oleh karena itu sehabis dari kampus, Sius langsung balik ke kosannya.

Responden Sius mengatakan pada intinya awal mula ia bermain game online hanya untuk mencoba-coba saja dan karena adanya teman-teman yang suka bermain game online. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Banyak waktu kosong, pulang kampus langsung balik kos, saya juga tipe orang yang tidak suka jalan” (S/SM-2, 35-37)

“Pada intinya juga awal itu saya mau sekedar coba-coba saja maksudnya cuman iseng saja karena terpengaruh lingkungan kos dan teman-teman tapi lam kelamamaan jadi kecanduan” (S/SM-2, 38-42).

Sama halnya dengan responden Fandi, proses awal menjadi gamers online dikarenakan ajakan dari teman dan terpengaruh dari lingkungan kos dengan mana semua penghuni kos tersebut adalah para gamers yang setiap harinya pada sibuk bermain game online. Hal ini membuat Fandi merasa

54

tersingkirkan karena tidak ada satupun orang yang berbicara dengannya. Bisa dikatakan bahwa relasi pertemanan mereka hanya berada dalam game saja.

Agar tidak tersingkirkan dari teman-temannya, Fandi mencoba mendowload game yang ditawarkan oleh salah satu temannya. Game tersebut adalah game pubg mobile. Setelah saya bermain game tersebut relasi pertemanan kami menjadi bagus dan lebih akrab dari sebelumnya. Pada akhirnya saya bermain game setiap hari dan mulai kecanduan. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Dipengeruh oleh lingkungan sekitar kos. Dimana di saya punya kos itu anak-Anak semuanya main game” (F/SM-2, 7-9)

“Jadi pas awal-awal masuk kos itu saya menjadi orang yang tersingkirkan dari mereka. Dalam arti mereka punya relasi pertemanan itu hanya di game. Kalau mau cerita-cirita berarti harus login dalam game” (F/SM-2, 9-13)

“Jadi ada satu dari mereka suruh saya untuk download game, dan game itu namanya Pubg Mobile. Saya download game tersebut, dan saya mulai mencoba-coba untuk masuk dalam itu game” (F/SM-2, 19-22)

“Ternyata, ketika saya sudah login di game tersebut relasi pertemanan kami itu menjadi lebih akrab dan setiap hari kami berkomunikasi melalui game. Yang biasanya saya hanya sebatas lewat dan duduk diam dengan mereka, tetapi hari itu juga relasi kami menjadi akrab lewat game. Seiring berjalannya waktu, saya menjadi suka dengan game itu dan setiap hari saya main game”

(F/SM-2, 22-28)

Peneliti juga memperoleh data dari hasil wawancara dengan informan Sius dan informan Fandi bahwa adanya kesamaan terhadap hasil wawancara yang telah dilakukan dengan subjek. Informan Sius mengatakan bahwa Sius mulai mengenal game online karena adanya ajakan dari teman yang dimana setiap hari mereka bermain game tanpa merespon si Sius. Setelah ajakan

55

tersebut, Sius mulai bermain game yang awalnya itu hanya sekedar mencoba-coba tapi lama kelamaan akan menjadi ketagihan. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Siapa su yang kasihtau main tu game? Terus dia bilang teman kos no. Mereka e main game terus jarang respon kalau saya omong dengan mereka. Akhirnya sap teman ajak dan mau su kaup kae ini ka no langsung download.” (INS/SM-2, 26-30).

“Awalnya e saya hanya iseng-iseng saja tapi ketagihan juga main ini barang e. Jadi mungkin awalnya seperti itu dia mulai main game e sil.” (INS/SM-2, 30-32).

Informan Fandi mengatakan bahwa awal mula Fandi mengenal game online karena adanya ajakan dari kakak tetangga kamar dengannya dan disitu ia mulai mendownload game dan mencoba memainkan game tersebut hingga pada akhirnya ia menjadi kecanduan. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Nah, saya lanjut sambung cerita yang tadi saja e, dimana itu hari kami lagi duduk sama-sama di kos, dan disitu kami semua main game hanya dia saja yang tidak. Jadi kami asik-asik saja main dan dia nonton dan disitu tidak ada yang omong dengan dia soalnya kami fokus omong yang berkaitan dalam game karena kami lagi main. Nah, dia ini omong kamu ni saya duduk baru tidak ada yang respon ni. Setelah istirahat Sebentar dari main game itu, jadinya kakak satu yang sebelah kamar tu omong, kau main game juga ko.

Download su. Dari pada kau jadi penonton ni dan kau omong sendiri kami tidak jawab. Nah dari situ tau dia pikir apa makanya dia bilang ia saya juga mau coba main. Akhirnya dia download game dan akhirnya dia juga main. Nah dari situ dia main terus dan akhirnya dia kecanduan juga e.” (INF/SM-2, 18-31).

Game online yang pertama dimaikan oleh responden Sius yaitu game Boom Beach. Game ini sangat terkenal di kalangan mereka sehingga begitu banyak orang yang bermain game tersebut. Game ini mengandalkan strategi untuk menjaga kerajaan yang telah dibangun dari level terendah sampai level

56

terakhir, yang menarik dari game ini adalah jika pemain bisa mengalahkan musuh maka kerajaan pemenang semakin besar dan level akan naik. Hal ini dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Game online yang pertama saya main itu enu, game Boom beach.

Dimana Game boom beach ini dulu masih tenar-tenarnya, banyak juga orang yang main ini game” (S/SM-3, 44-46).

Berbeda dengan responden Fandi, game online yang pertama kali dimainkan oleh responden Fandi yaitu game Pubg Mobile, yang menarik dari game ini yaitu senjata-senjata yang dimiliki dalam game dan dalam game ini ia dapat melakukan aksi peperangan dengan lawan dan pastinya seru. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Game online yang pertama kali saya mainkan itu, game pubg Mobile. Yang menarik dari game ini yaitu senjata-senjata yang dimiliki dalam game dan disini saya secara pribadi bisa melakukan aksi peperangan dengan lawan dan pastinya seru” (F/SM-3, 34-38) Peneliti juga memperoleh data dari hasil wawancara dengan informan Sius dan informan Fandi bahwa adanya kesamaan terhadap hasil wawancara yang telah dilakukan dengan subjek. Informan Sius mengatakan bahwa game online yang pertama kali dimainkan oleh Sius adalah game boom beach dimana game tersebut sangat banyak diminati oleh orang-orang pada tahun 2017.

Sedangkan informan Fandi mengatakan bahwa game online yang pertama kali dimainkan oleh Fandi adalah game pubg mobile dikarenakan teman-teman Fandi pada saat itu sedang bermain game pubg mobile maka dari itu Fandi juga ikutan mendownload game tersebut. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

57

“Game online yang pertama dia main setau saya itu boom beach.

Dimana itu game hari lagi tenar-tenarnya banyak juga orang yang main itu game. Itu game dulu yang mainnya pakai pedang dan kita harus bisa kasih runtuh semacam kerajaannya musuh. Kalau game-game yang sekarangkan kebanyakan sudah pake senjata untuk tembak musuhnya.” (INS/SM-3, 34-40).

“Kalau itu nah game pubg mobile. Soalnya kami juga main itu game makanya dia ikut download game yang sama. Game ini juga menarik to, baru bagus dia punya kualitas gambarnya jelas jadi banyak yang minat tambah dia punya senjata-senjata juga banyak yang gratis tanpa harus dia beli. Kalau diantara kami sih ada yang pakai beli tapi untuk Fandi sendiri dia pakai yang gratis. Karena yang gratis juga sudah lumayan bagus dan menarik.” (INF/SM-3, 33-40).

Responden Sius mengatakan bahwa yang mengajak pertama kali ia bermain game online adalah teman kos yang bernama Ozi. Saat itu, ia mendengar teman-temannya sangat ribut hampir setiap harinya, karena penasaran iapun bergabung hanya menonton dan mengganggu mereka hingga pada akhirnya ia mendownload game tersebut dan mereka mulai bermain bersama. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Teman saya yang bernama Ozi mengajak untuk bermain game tersebut dan menyuruh saya untuk mendownload game. Akhirnya sayapun mendownload dan coba memainkannya sekalian diajarkan oleh teman saya yang bernama Ozi, dan pada akhirnya kamipun sering bermain bersama yang sering di dunia game itu MABAR”

(S/SM-4, 67-74).

Sama halnya dengan responden Fandi, yang mengajak ia pertama kali bermain game online adalah teman kos yang mana semuanya adalah gamers.

Maka salah satu dari teman-temannya itu mengajak ia untuk mendownload

58

game agar tidak tersingkirkan dari mereka. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Baik, yang mengajak saya pertama kali untuk bermain game online yaitu teman kos saya. Seperti yang sudah saya cerita tadi diawal, di kos saya itu semuanya adalah pemain game online. Jadi, salah satu teman saya ini mengajak saya menginstal game agar tidak tersingkirkan dari mereka. Lalu saya menginstal game Pubg”

(F/SM-4, 49-54)

Peneliti juga memperoleh data dari hasil wawancara dengan informan Sius dan informan Fandi bahwa adanya kesamaan terhadap hasil wawancara yang telah dilakukan dengan subjek. Informan Sius mengatakan yang mengajak Sius pertama kali bermain game online adalah teman kos. Dimana ia sebelum mengenal game, ia tidak pernah direspon sama teman-temannya karena mereka asik bermain game. hal tersebut membuat temannya menyuruh ia untuk mendownload game boom beach. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Yang ajak dia itu ada teman kos. Dimana dulu tu dia sering omong dengan dia punya teman, tapi tidak direspon karena dia lagi asik main game. Nah mungkin karena dia punya teman ini merasa tergangu makanya dia suruh sudah kae sius untuk download game boom beach.” (INS/SM-4, 42-46)

Sama halnya dengan informan Fandi, ia mengatakan bahwa yang mengajak Fandi pertama kali bermain game online adalah kakak sebelah kamarnya selain itu juga dipengaruh oleh teman-teman kos dimana waktu itu Fandi belum mengenal game online dan ketika sedang kumpul bersama teman-teman kos, Fandi merasa tersingkirkan karena semuanya pada bercerita lewat

59

gamei. Hal tersebut membuat Fandi mempunyai keinginan untuk bermain game online. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Yang ajak tu ada kae di sebelah kamar ni, dia yang ajak Fandi untuk main game. selain itu juga pengaruh dari kami anak-anak kos to. Dimana dia waktu itu belum kenal game jadi kalau dia kumpul dengan kami nah dia bengong sendiri merasa tersingkirkan dia bilang makanya dia memberanikan diri untuk download game. Tapi e kelihatannya dia sekarang sudah kecanduan.” (INF/SM-4, 42-48) Durasi waktu yang digunakan responden Sius untuk bermain game online adalah enam jam per hari bahkan bisa lebih dari itu. Namun, ia bermainnya tidak secara blok dalam arti ketika ia merasa capeh maka ia akan berhenti setelah itu baru melanjutkan lagi. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Hampir setiap hari enu, dengan durasi 6 jam perhari bahkan bisa lebih dari itu. Tapi saya bermainnya itu tidak sistem blok tapi saya mainnya itu secara terpisah-pisah begitu” (S/SM-5, 75-79).

Sama halnya dengan responden Fandi, durasi waktu yang ia pakai untuk bermain game online yaitu 5-6 jam perhari bahkan lebih, sistem bermain tidak secara blok akan tetapi secara terpisah-pisah dalam arti jika ia capeh, ia akan berhenti setelah itu baru dilanjutkan lagi. Namun, untuk saat ini durasi waktu yang ia pakai untuk bermain game sudah mulai berkurang yakni 4-5 jam perhari. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Dalam sehari durasi yang saya gunakan untuk bermain game yaitu 5-6 jam perhari bahkan lebih. Saya mainnya itu tidak secara blok sih” (F/SM-5, 64-66)

60

“Tapi sekarang itu sudah mulai berkurang sih kadang dalam sehari cuman 2-4 jam saja saya bermain game” (F/SM-5, 78-80)

Peneliti juga memperoleh data dari hasil wawancara dengan informan Sius dan informan Fandi bahwa adanya kesamaan terhadap hasil wawancara yang telah dilakukan dengan subjek. Informan Sius mengatakan bahwa hampir setiap hari Sius bermain game online dengan durasi waktu enam jam per hari dan adanya waktunya juga untuk ia istirahat walaupun hanya sebentar setelah itu ia melanjutkannya lagi. Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan hasil wawancara sebagai berikut:

“Dia sering main game ee, setiap hari saja ta dia main game. Tapi ada juga istirahatnya biarpun hanya sebentar. Setelah istirahat itu nanti dia lanjut lagi sudah. Kadang juga malam dia begadang hanya untuk main game saja. Kalau ada sudah dengar suara teria-teriak itu berarti mereka lagi main game online. Kalau saya hitung ada 6 jam e. Soalnya sering.” (INS/SM-5, 48-53).

Begitu pula dengan informan Fandi, ia mengatakan bahwa durasi yang Fandi gunakan untuk bermain game online dalam sehari yaitu 5-6 jam perhari bahkan lebih dan ia memaikan game online ini tidak secara blok. Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan hasil wawancara sebagai berikut:

“Hampir setiap hari dek, kalau saya hitung bisa capai 5-6 jam dalam sehari bahkan lebih. Soalnya kami sering duduk kumpul main game sama-sama. Kadang ju sampai begang, tapi untuk game pubg ini kan sudah ditentukan memang oleh admin game durasi waktu yang bisa dipakai dalam main ini game. kalau dalam sehari tu durasinya hanya sampai 6 jam. Apabila sudah lewat maka kita tidak bisa masuk lagi ke dalam game tersebut. Server otomatis menolak.”

(INF/SM-5, 50-58).

61

“Jadi dia mainnya itu tidak secara blok misalnya dia harus duduk sampai 6 jam main tu game. dia main itu seperti contohnya 2 jam terlebih dahulu setelah itu dia istirahat cas hp atau apakah setelah itu baru main lagi.” (INF/SM-5, 58-61).

Game online yang pernah dimainkan oleh responden Sius adalah game Boom Beach, game Free Fire, dan game Pubg. Game Free Fire dan Pubg merupakan game yang berkontenkan perang dengan menggunakan senjata, sedangkan game Boom Beach lebih kepada taktik dan perang dengan menggunakan pedang. Game-game tersebut hampir sama akan tetapi yang membedakannya adalah alat perang yang digunakan. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

“Game online yang pernah saya main itu ada 3 game. pertama game Boom Beach, kedua game Free Fire dan ketiga itu game Pubg.

Kalau dari game pubg dan free fire nya itu sama yaitu battle royal dimana game ini bentuknya perang menggunakan senjata, kalau boom beach berbentuk taktik dan perang menggunakan pedang layaknya tapi kalau dari segi game hampir sama yaitu berbentuk game perang hanya yang membedakan adalah alat perang yang digunakan” (S/SM-6, 84-93)

Sama halnya dengan respon Fandi, ia mengatakan bahwa ada tiga jenis game yang pernah ia mainkan diantaranya ada game Pubg Mobile, Free Fire, dan Mobile Legend. Game Pubg dan Free Fire sama-sama berkontekan perang, akan tetapi menurutnya game pubglah yang mempunyai kualitas gambar yang bagus. Sedangkan untuk game mobile legend memakai tenaga dalam untuk melawan musuh. Hal ini dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

62

“Game online yang sudah pernah saya mainkan itu ada Pubg mobile, Free Fire dan Mobile Legend. Kalau game Pubg sama Free fire itu sama-sama berkontenkan perang tapi menurut saya lebih bagus yang pubg soalnya kualitas gambarnya itu jelas. Itu menurut saya soalnya pandangan setiap orang itukan berbeda. Kalau yang Mobile Legend itu pakai tenaga dalam sih yaa intinya saya tidak terlalu mengenal kedua game tersebut.” (F/SM-6, 82-92).

Peneliti juga memperoleh data dari hasil wawancara dengan informan Sius dan informan Fandi bahwa adanya kesamaan terhadap hasil wawancara yang telah dilakukan dengan subjek. Informan Sius mengatakan game online yang pernah dimainkan oleh Sius ada tiga game diantaranya game Boom Beach, game Free Fire dan game Pubg. Dari ketiga game tersebut mempunya ketertarika masing-masing yaitu game Free Fire dimainkan dengan cara tembakk-tembakan menggunakan senjata sama halnya dengan game Pubg yang ditembak itu adalah musuh (orang). Sedangkan game Boom Beach menggunakan pedang dan yang ditembak itu sebuah kerajaan. Jadi, jika kita berhasil merobohkan sebuah kerajaan-kerajaan yang terdapat dalam game maka level akan naik. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil kutipan wawancara sebgai berikut:

“Yang saya lihat di dia punya hp sekarang ini ada game Free fire dan game pubg. Tambah dengan game pertama dia main dulu tu game Boom Beach berarti ada tiga.” (INS/SM-6, 55-57).

“Dari ketiga game ini masing-masing punya ketertarikan secara garis besarnya itu kalau game free fire mainnya itu seperti tembakk-tembak pakai senjata ini sama dengan game pubg tembakk-tembaknya pakai senjata dan yang kita tembak itu musuh (orang). Tapi kalau game Boom Beach itu dia pakai pedang dan yang kita tembak itu semacam kerajaan kalau misalnya kita bisa kasih rubuh berarti level

“Dari ketiga game ini masing-masing punya ketertarikan secara garis besarnya itu kalau game free fire mainnya itu seperti tembakk-tembak pakai senjata ini sama dengan game pubg tembakk-tembaknya pakai senjata dan yang kita tembak itu musuh (orang). Tapi kalau game Boom Beach itu dia pakai pedang dan yang kita tembak itu semacam kerajaan kalau misalnya kita bisa kasih rubuh berarti level

Dokumen terkait