BAB IV. SOLIDARITAS SISWA KELAS VI SDK SANTA MARIA
C. Penelitian tentang hubungan dan pengaruh pendidikan
1. Faktor pendukung solidaritas siswa kelas VI kepada
Solidaritas siswa kepada sesamanya yang miskin bertumbuh dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan siswa dalam relasinya dengan sesama dan
lingkungan. Sifat belaskasih, murah hati dan inisiatif dalam menolong sesamanya tampak dalam diri siswa ketika berhadapan dengan sesamanya yang miskin atau menderita. Indikator-indikator solidaritas ini tampak dalam hidup siswa karena beberapa faktor pendukung. Faktor-faktor tersebut adalah:
a.Materi pelajaran agama yang diintegrasikan dengan kehidupan nyata
Siswa SDK Santa Maria Tulungagung menerima Pelajaran Agama Katolik, Pelajaran Agama yang berpijak akan iman akan Yesus Kristus. Sebagaimana dijelaskan dalam silabus PAK SD (2007:9) bahwa agama amat penting dalam kehidupan umat manusia :
Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari bahwa peran agama amat penting bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan, baik, di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Pelajaran Agama Katolik yang diberikan kepada siswa merupakan suatu materi yang dintegrasikan juga dalam kehidupan nyata siswa. Tugas-tugas pelajaran agama yang terkait dengan bertumbuhnya kepedulian siswa kepada sesama mengajak siswa untuk berhadapan langsung dengan keadaan sesamanya. Tugas-tugas tersebut misalnya menggali pengalaman tentang kehidupan yang harmonis dalam masyarakat seperti yang dialami oleh siswa, sehingga siswa juga memiliki cita-cita dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan damai. Observasi tentang hidup yang tidak adil, misalnya siswa mengamati apakah ketidakadilan terjadi di dalam sekolah, sehingga siswa mengetahui akibat ketidakadilan dan berani menjadi pembela keadilan. Membuat
suatu rencana konkret dalam membantu sesama yang menderita di lingkungan sekolah. Mampu mesharingkan pengalaman saling membantu dalam suatu kegiatan sosial. Materi pelajaran agama bukan sekedar melulu untuk mengembangkan kognitif siswa, melainkan materi menjadi pemahaman siswa dalam mewujudkan sikap yang peduli kepada sesama.
b.Peranan guru dalam proses penanaman nilai solidaritas
Guru sangat berperan dalam mendidik dan membantu siswa untuk berkembang, demikian pula dalam membantu siswa menumbuhkan rasa solidaritas. Pertama-tama para guru terlebih dahulu memiliki semangat solidaritas sehingga bersama para guru para siswa belajar dan dibimbing.
Penanaman nilai merupakan sebuah proses, demikian pula nilai solidaritas yang ditanamkan dalam diri siswa. Proses tersebut menyangkut bagaimana seorang guru memiliki peran dalam membantu siswa bertumbuh dalam sebuah nilai. Hasil wawancara (lampiran 5) dengan beberapa guru menunjukkan bahwa para guru sungguh berperan sekali dalam membantu siswa untuk belajar. Bentuk belajar menurut A. De Block juga menyangkut belajar bermasyarakat, yang bertujuan untuk mengembangkan hidup bersama dengan konsep solidaritas, penghargaan dan kerukunan, berelasi dan sopan santun (Winkel, 1996:74). Penghayatan siswa akan sebuah nilai sangat dipengaruhi oleh peran guru dalam menghayati sebuah nilai (Winkel, 1996:195). Hasil wawancara dengan para guru menunjukkan bahwa para guru selalu memberi contoh bagaimana guru juga mencintai orang miskin; misalnya dengan kunjungan kepada keluarga para pemulung dan memberi bimbingan belajar
bagi anak-anak keluarga pemulung; selain itu guru juga selalu memberikan dorongan atau motivasi misalnya dengan membacakan suatu kisah tentang penderitaan orang lain. Guru sebagai inspirator dalam memberikan semangat kepada setiap siswa (Winkel, 1996:197). Penanaman nilai bagi siswa berlangsung sebuah proses dengan berbagai faktor yang mendukung, di antaranya peran guru yang sungguh menjadi pendorong dan teladan bagi siswa dalam bertumbuh rasa solidaritasnya bagi orang miskin.
c.Sekolah memberikan kondisi untuk menciptakan berbagai kegiatan sosial
Sekolah Dasar Katolik Santa Maria menyelenggarakan pendidikan formal dengan ditunjang oleh kegiatan-kegiatan yang bersifat non formal. Kegiatan-kegiatan tersebut termasuk dalam program sekolah. Siswa sambil belajar juga telah terbiasa dengan waktu-waktu tertentu melayani orang miskin. Pengenalan pelayanan kepada orang miskin atau keterlibatan siswa dalam pelayanan pada masyarakat dikenalkan sejak siswa kelas IV; misalnya dengan kunjungan ke orang sakit, membantu posyandu, live in, pelayanan warung murah, maupun kegiatan-kegiatan dalam penggalangan dana. Perjumpaan langsung dengan keadaan orang miskin membuat siswa tumbuh dalam dirinya belaskasih, kemurahan hati juga sikap mau berbagi.
d.Kerjasama antara orangtua dengan sekolah
Pendidikan berlangsung berkat kerjasama antara pihak sekolah dengan pihak orang tua. Program sekolah selalu disosialisasikan kepada wali murid agar para orang tua mengetahui seluruh program yang berlangsung dalam satu tahun pengajaran. Komunikaasi yang terjalin antara sekolah yaitu, kepala sekolah, guru
dengan wali murid menjadi sarana untuk bekerjasama. Wali murid dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan sekolah, misalnya dalam bekerjasama untuk menggalang dana saat bazar berlangsung. Komunikasi yang baik memungkinkan pihak orangtua mengetahui tujuan-tujuan kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah, sehingga dengan demikian orang tua juga mendukung kegitan-kegiatan yang dilakukan siswa di sekolah. Contoh konkret dukungan orang tua dalam kegiatan sosial sekolah misalnya, orang tua selalu memberi bekal kepada anaknya bila saatnya mengunjungi orang sakit, dalam hal ini orang tua mendukung anaknya secara materi dan moral untuk bertumbuh rasa solidaritasnya kepada orang miskin.
e.Penanaman nilai dalam keluarga
”Dari semua faktor penentu kepribadian, keluargalah yang paling penting. Keluarga adalah kelompok sosial pertama dengan siapa anak diidentifikasikan; anak lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kelompok keluarga...” (Elisabeth B. Hurlock, 1999:257). Hasil wawancara dengan seorang guru BP menerangkan, bahwa guru ini mengamati ada anak-anak yang sungguh memiliki antusias yang tinggi bila ada kegiatan sosial sekolah. Hal ini tidak lepas dari nilai yang dianut dalam keluarganya. Jika orangtuanya memiliki kepedulian kepada sesamanya, maka anaknya pun akan mewarisi dan belajar menghayati nilai yang diajarkan dalam keluarga, demikian pula dengan nilai hidup yang lainnya. Nilai-nilai yang ditanamkan dalam keluarga bisa berkembang dengan dukungan lingkungan lainnya, misalnya lingkungan sekolah. Sehingga nilai dalam keluarga mendapat peneguhan dalam pendidikan sekolah dalam setiap aspek perkembangan siswa.