OPTIMALISASI PENERAPAN POLITIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM TERHADAP POTENSI KONFLIK TAMBANG EMAS ILEGAL DI KABUPATEN SIJUNJUNG
2. Faktor Penyebab Aktivitas Tambang Emas Ilegal
Ada beberapa factor yang menyebabkan masyarakat masih menjadikan tambang emas sebagai primadona, factor yang paling mendasar tentu saja factor ekonomi. Keterbatasan lapangan pekerjaan dan kesempatan berusaha yang sesuai dengan keahlian dan kemampuan masyarakat setempat yang memiliki pendidikan dan keterampilan yang tidak memadai dengan penghasilan yang menjanjikan, di topang oleh keberadaan pihak ketiga sebagai penyandang dana (cukong) dan backing (oknum aparat), plus di tunjang lagi oleh keinginan ‘kaya’ dalam waktu pendek sehingga banyak masyarakat yang berahli propesi dari petani ke penambang emas. Dengan hanya sebagai pekerja kasar saja ditambang emas, masyarakat sudah bisa mendapatkan penghasilan yang tinggi, tidak bisa dinafikan juga bahwa semenjak usaha tambang emas illegal ini menjamur maka tingkat perekonomian masyarakat
81. http://www.merdeka.com/peristiwa/anggota-tni-ad-diduga-terlibat-penambangan-emas-liar-di-sumbar.html
82. Dari wawancara dengan Ketua DPRD Kab Sijunjung, di dapatkan keterangan bahwa banyak pihak yang terlibat dalam lingkaran tambang emas illegal di Kab Sijunjung, mulai dari oknum aparat, PNS/birokrat daerah, anggota dewan dan pihak lainnya dan banyak juga kepentingan yang bermain dalam rantai tambang emas illegal tersebut
83. Biasanya meraka akan menyewa perjamnya eskavator tersebut sekitar Rp 500.000-600.000/jam
84. Adapun yang peneliti temukan dilapangan perjanjian sewa menyewa lahan tambang tidak secara tertulis dan kebanyakan secara lisan dan saling kepercayaan saja. Pembagian hasil tambang bisa dilihat dari surat perjanjian yang peneliti dapatkan di lapangan antara pemilik lahan dengan investor.
juga semakin meningkat. Dari beberapa masyarakat penambang yang peneliti temuai, mereka menyatakan bahwa rata-rata penghasilan mereka kalau lagi ‘untung’ dan mendapatkan lokasi yang ada kandungan emasnya, maka mereka bisa mendapatkan 5-8 juta satu minggu85. Akan tetapi juga tidak sedikit penambang yang terlilit
hutang pada juragan tambang, bahkan ada pekerja tambang yang meninggal tertimbun tanah saat tambangnya beroperasi dan pemilik lokasi tambang yang dijadikan tersangka karena terjadinya kecelakaan tersebut. Namun sangat disayangkan, rendahnya pemahamanan akan resiko dari aktivitas pertambangan tersebut, baik dari resiko kecelakaan kerja, kesehatan, konflik social, kerusakan lingkungan, pelanggaran aturan hukum dan bencana ekologis lainnya tidak menjadi perhatian dalam aktivitas tambang emas illegal ini, hanya segelintir orang yang melakukan reklamasi pasca tambang, sehingga tanah pertanian produktif berubah menajadi lubang ‘raksasa’ yang menganga ditinggalkan oleh pemiliknya dan pemerintahan daerah tidak punya ‘kuasa’ untuk mengajak masyarakat untuk mereklamasi lahan tambang mereka ini86
Faktor berikutnya adalah factor social. Di Kabupaten Sijunjung keberadaan tambang emas sudah berlangsung sejak lama87. Aktivitas tambang emas di Kabupaten Sijunjung dimulai dengan cara yang sangat sederhana, dengan
cara ‘mandulang’ dan ‘manyolom’ dilanjutkan dengan mesin dompeng dengan 10/12PK dan menggunakan mesin dompeng besar dan pada saat sekarang ini sudah menggunakan eskavator dan kompresor untuk mencari emas bawah air. Aktivitas tambang emas ini awalnya dilakukan disepanjang aliran sungai dan pada saat sekarang ini dilakukan di lokasi daratan yang berupa lahan perkebunan dan pertanian
Faktor terakhir adalah lemahnya penegakan aturan hukum. Pemerintah telah mengakomodir kegiatan pertambangan yang dilakukan oleh masyarakat dengan mengeluarkan ijin pertambangan rakyat (IPR) yng dilakukan di sebuah wilayah pertambangan, yang termuat dalam Undang-Undang No. 4 tahunn2009 tentang Minerba. Undang-undang ini di dukung oleh PP No. 23 tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara. Untuk Kabupaten Sijunjung sendiri aturan pertambangan rakyat diatur dengan Peraturan Bupati Nomor 23 Tahun 2010 tentang Prosedur dan Mekanisme Pengurusan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) dan Izin Pertambangan Rakyat (IPR). Di samping itu, Pemda Sijunjung juga mengeluarkan Perda No. 3 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Pertambangan Mineral Dan Batubara. Akan tetapi aturan tersebut tidak berjalan dengan optimal. Banyak masyarakat yang tidak mau mengurus izin tambangnya dengan alasan prosedurnya yang rumit dan memerlukan biaya yang tidak sedikit, baik resmi maupun yang tidak resmi88 dan mereka mengurus izin pertambangan rakyat tersebut harus ke propinsi89
. Dan semenjak tahun
2012 Kabupaten Sijunjung tidak lagi mengeluarkan IPR. Sehingga hamper seluruhnya tambang emas
85. Wawancara dengan Iyek, penambang yang bekerja sebagai operator dompeng. Peneliti melihat kehidupan Iyek ini memang jauh berubah tingkat kehidupannya, dari yang dahulunya Cuma punya rumah sederhana, hanya punya motor Yamaha Jupiter, setelah menjadi operator dan beruntung mendapatkan lokasi yang ada kandungan emasnya, sekarang kehidupannya langsung berubah, sudah punya rumah yang lebih besar dan sudah dapat juga untuk membeli mobil. Tapi juga tidak sedikit penliti lihat para pekerja tambang yang tidak ‘beruntung’ dan masih ‘miskin’ karena tidak menemukan lokasi tambang yang mengandung emas, malahan banyak yang terjerat hutang dengan pemilik modal dan berhutang di kedai-kedai86. Ketua DPRD Kab Sijunjung menyatakan belum adanya Perda Reklamasi Pasca Tambang menjadi persoalan untuk melakukan upaya reklamasi pasca tambang. Hal senada juga dikatakan oleh Sekretaris Dinas Pertambangan dan Mineral Kab Sijunjung
87. Peneliti sudah mengetahui aktivitas tambang emas di Nagari Koto Tuo Kec IV Nagari semenjak peneliti mulai memasuki bangku Sekolah Dasar, perkiraan tahun 1987. Peneliti masih ingat banyak masyarakat di Nagari yang ‘mendulang omeh’ dengan wadah berupa kayu yang dibuat berbentuk kuali dan dinamakan ‘dulang/jaeh’. Para bapak-bapak melakukan aktivitas ‘manyolom’ di sepanjang aliran sungai Batang Palangki. Awal tahun 1990-an masyarakat sudah melakukan aktivitas tambang emas dengan mesin dompeng dan awal tahun 2000an masyarakat sudah melakukan aktivitas tambang emas dengan eskavator dan alat berat lainnya
88. Salah satu informan peneliti mengatakan untuk mengurus izin pertambangan mereka butuh biaya yang tidak sedikit dan mereka lebih banyak mengeluarkan biaya yang tidak resmi alias duit untuk membayar oknum tertentu untuk pengurusan izin tambang. Kondisi ini juga diperparah dengan pengurusan izin pertambangan harus samapai pada propinsi, karena kabupaten hanya memberikan rekomendasi. Kondisi ini yang membuat masyarakat engan untuk mengurus izin pertambangan rakyat, hanya yang memiliki dana yang banyak yang mampu untuk mengurus izin tersebut, sementara di banyak lokasi tidak ditemukan atau sedikit kandungan emasnya 89. Kabid Pertambangan Umum Dinas Petambangan dan Energi (Distamben) Kabupaten Sijunjung, Benni Mapanta, mengatakan,
terakhir masa berlaku izin tambang itu tersisa 5 perusahaan. Namun, tanggal 11 Maret, izin ke limanya juga berakhir. “Pemkab tidak memperpanjang izin perusahaan itu,” kata Benni. Lihat http://www.zamrudtv.com/filezam/sumbar/mediasumbar. php?module=detailsumbar&id=7126