• Tidak ada hasil yang ditemukan

Neoinstitutionalism Sosiologis dan Historis

Dalam dokumen full proseding JILID 2 (Halaman 102-111)

POLITIK NAGARI: PEMBALIKAN DEMOKRASI DAN EKSISTENSI LEMBAGA NAGARI DI SUMATERA BARAT (RENTANG TAHUN 1979-2015)

2. Neoinstitutionalism Sosiologis dan Historis

Saat ini banyak penelitian neoinstitutionalism mengkaji pengaruh besar institusi terhadap perilaku manusia melalui aturan dan norma yang dibangun oleh institusi politik.104 Studi terkini tentang neoinstitutionalism

menurut Miller (2011: 23), Rhodes ([eds.], 2006: 746-747) mulai berkembang sekitar pertengahan akhir 1990-an, dan menjadi salah satu pendekatan yang dominan dalam bidang ilmu politik. Kajian klasik Johan P. Olsen dalam artikelnya di journal The American Political Science yang berjudul ‘Garbage Cans New Institutionalism and The Study of Politics (2001: 95 (1): 193) menegaskan bahwa institusi politik memainkan suatu peran yang lebih otonom dalam membentuk prilaku politik. Sehingga Miller ([eds.], 2011: 23) menyatakan, secara garis besar gambaran

neoinstitusionalism telah mengkombinasikan minat dan perhatian scholars tradisionalis dalam mempelajari aturan- aturan dan struktur formal institusional dengan penelitian dari scholarbehavioralis dalam mempelajari tindakan aktor politik individual. Miller ([eds.], 2011: 22) juga melengkapi analisisnya bahwa neoinstitutionalism berusaha mengeksplorasi bagaimana struktur, aturan, norma dan kebudayaan institusi menghambat pilihan-pilihan individu dan tindakan individu ketika mereka menjadi bagian dari institusi politik105.

Marsh & Stoker ([eds.],2002: 109) dengan tegas mempertahankan pendekatan institusional dalam studi ilmu pemerintahan dan politik serta berusaha memisahkan unsur-unsur utama analisis institusional tradisonal. Kajian tradisional ini sering kali bersifat deskriptif dan normatif dalam menguraikan bagaimana institusi politik seharusnya berfungsi yang diposisikan berlawanan dengan kajian empiris mengenai bagaimana sesuatu itu sebenarnya bekerja. Ketika Johan P. Olsen menerbitkan artikelnya dengan judul “Garbage Cans New Institutionalism and The Study of Politics” (2001: 95,1: 193) dalam journal The American Political Science, menegaskan bahwa ilmuan politik perlu menemukan kembali analisis institusional untuk memahami lebih baik perilaku para aktor politik dalam institusi politik. Dengan kata lain, mengkaji perilaku politik aktor tanpa mempelajari hambatan institusional terhadap perilaku aktor akan memberikan pemahaman yang tidak lengkap kepada scholars yang ingin meneliti realitas politik. Sehingga Rhodes et al., (2006: 3) mengarisbawahi bahwa, mempelajari pendekatan institusi akan memberikan kemungkinan kepada para scholars ilmu politik untuk menemukan lebih banyak kompleksitas politik.

Sebagai catatan penting dalam teori neoinstitusionalis ini diingatkan oleh Marsh & Stoker (2002), ketika struktur politik membentuk perilaku politik dan terikat secara normatif dan historis, neoinstitutionalism harus berhati hati untuk tidak menyamakan antara institusi dengan organisasi politik. Karena institusi menurut Marsh & Stoker (2002: 121) adalah suatu pola perilaku yang berulang dan stabil. Ketika neoinstitutionalism terkonsentrasi dengan kebiasaan informal dan struktur organisasional, maka kata Mars & Stoker (2002: 121) perlu diberi perhatian kepada cara-cara institusi mewujudkan nilai dan relasi kekuasaan, karena neoinstitutionalism secara metodologi lebih tertarik untuk menganalisis model teoritis tentang bagaimana institusi mempengaruhi perilaku dan bukan hanya sekedar metode deskriptif induktif untuk menghasilkan kesimpulan.

Ada tiga pilar dalam perspektif neoinstitutionalism menurut Baswedan (2007); Schmidt (2010); Turner (2011)yaitu: (i) pilar regulatif (regulative pillar) yang berkerja pada konteks aturan (rule setting), monitoring, dan sanksi hal ini berkaitan dengan kapasitas untuk menegakkan aturan, serta memberikan reward and punishment

dan cara penegakannya melalui mekanisme informal (folkways) dan formal (polisi dan pengeadilan). Meskipun ia bekerja melalui represi dan pembatasan (constraint), namun disadari bahwa kelembagaan dapat memberikan batasan sekaligus kesempatan (empower) terhadap aktor.

Aktor yang berada dalam konteks ini dipandang akan memaksimalkan keuntungan. Karena itulah kelembagaan ini disebut pula dengan kelembagaan regulatif (regualtive institution) dan kelembagaan pilihan

104. Seperti yang ditegaskan oleh R.A.W. Rhodes (dalam D. Marsh and G. Stoker [eds.], 2002: 42-57), (dalam R.A.W.Rhodes [eds.], 2006: 91-92), (dalam Ishiyama [eds.], 2011: 22-23) sekitar pertengahan 1980-an banyak ilmuan politik mulai mempertanyakan apakah disiplin ini harus mengabaikan perhatian tradisionalis dalam mengkaji institusi politik, karena ada kekuatiran bahwa behavioralism

akan mengaburkan analisis mereka tentang institusi. Oleh karena itu, munculah apa yang disebut sebagai gerakan post- behavioralism

dalam ilmu politik, yang dirancang untuk membawa kajian institusi ini kembali ke dalam ilmu politik. Alasan yang mendasarinya adalah kajian institusi politik adalah sentral bagi identitas displin ilmu politik.

105. Miller (dalam Ishiyama [eds.], 2011) menekankan bahwa neoinstitutionalism metodologi post-behavioral yang paling banyak berpengaruh pada saat sekarang ini dikalangan scholar ilmu politik.

rasional (rational choice instituion); (ii) pilar normatif (normative pillar) dengan tokohnya Schmidt (2010), dalam pandangan Schmidt norma akan menghasilkan preskripsi, bersifat evaluatif, dan menegaskan tanggung jawab dalam kehidupan sosial, dan dalam pilar ini dicakup nilai (value) dan norma. Norma berguna untuk memberi pedoman pada aktor apa tujuannya (goal dan objectives), serta bagaimana cara mencapainya. Karena itu, bagian ini sering pula disebut dengan kelembagaan normatif (normatif institution) dan kelembagaan historis (historical instituionalism), inilah pula yang sering disebut sebagai teori kelembagaan yang asli; (iii) pilar kultural-kognitif

(cultural-cognitive pillar), inti dari pilar ini adalah bahwa manusia berperilaku sangat ditentukan oleh bagaimana ia memaknai (meaning) dunia dan lingkungannya, manusia akan mengalami sedimentasi makna dan kristalisasi makna dalam bentuk objektif. Aktor (individu dan organisasi) akan mengalami proses interpretatif internal yang dibentuk oleh kerangka kultural eksternal, dalam memaknai lingkungan sebagai situation secara kolektif. Dalam konteks ini, diyakini aktor memiliki makna yang sangat variatif, sehingga kreativitas aktor dihargai, bagian ini sering disebut dengan kelembagaan sosial (social institution).

Teori kelembagaan yang diterapkan pada politik menurut Amenta dan Ramsey (2010:18) menempatkan dua bentuk analisis yang berbeda yaitu di lihat dari pengaruh lembaga atas kebijakan politik yang dibuat, serta tindakan politik dengan bentuk varian analisis lembaga dapat menghambat pada proses politik, dan lembaga juga dapat membatasi beberapa bentuk tindakan politik. Bentuk lain dari teori kelembagaan yang lebih khas adalah institusionalisme sosiologis, berdasarkan perspektif ini lembaga yang konstitutif akan membangun sebuah model untuk lembaga lembaga politik. Di mana sifat-sifat konstitutif lembaga akan membangkitkan kembali struktur budaya masyarakat yang selama ini terabaikan dalam analisisnya.

Teori institusionalis sosiologis yang terpengaruh dari “komunitas epistemik”106 pada penelitian studi kebijakan

menurut Edwin Amenta & Kelly M. Ramsey (2010: 16), institusionalisme sosiologis berfokus pada pencarian legitimasi dalam organisasi politik dan cenderung berpijak pada proses imitasi kebijakan dan difusi bentuk lembaga dan kebijakan. Berdasarkan paradigma ini, Ramsey (2010) kemudian mengusulkan bahwa pendekatan normatif dan lembaga kognitif sebagai bagian dari analisis neoinstitutionalism sosiologis merupakan sebuah basis epistemologis dalam perumusan-perumusan kebijakan politik (neoinstitutionalism historis). Jadi intinya, pendekatan sosiologis memandang aturan dan norma dan struktur institusi bukan sebagai secara rasional melekat dan didikte dengan azaz efiensi melainkan dikonstruksi secara budaya, dan bahkan praktek birokrasi sekalipun harus dijelaskan dalam konteks budaya. Dalam pendekatan institusionalis sosiologis menurut Amenta & Ramsey (2010: 20) ketika adanya turut campur negara dalam penetapan sebuah kebijakan maka akan terciptanya stabilitas politik negara. Amenta & Ramsey (2010: 21) mengatakan seringkali sulit untuk membedakan antara institusionalisme sosiologi dengan institusionalisme politik dalam sebuah riset penelitian. Alasannya menurut Miller ( 2011: 26) pendekatan normatif dalam mempelajari institusi politik cenderung mengaburkan garis batas antara institusi dan kebudayaan. Cabang institusionalis ini mungkin paling sedikit pengaruhnya dikalangan ilmuan politik kontemporer meskipun banyak yang menggunakan budaya institusi dalam berbagai riset yang ada. 107

Institusionalisme historis yang dikemukan oleh Hall & Taylor (1996: 938) menegaskan bahwa ada prosedur formal atau informal, norma, dan konveksi-konveksi yang terikat dalam sturktur-struktur organisasi dari politik ataupun ekonomi politik. Menurut Hall & Taylor (1996: 939); Ramsey (2010), institusionalisme historis berbeda dari institusionalism sosiologis. Scholars iniberpendapat, institusionalisme historis merupakan sebuah pendekatan yang khas terutama dalam “penyelidikan politik”. Fokus analisis dari neoinstitutionalism historis berusaha penjelasan secara configurational proses dan keterlibatan lembaga-lembaga politik serta proses terbentuknya kebijakan politik yang baru.108 Dan, menurut Amenta & Ramsey (2010: 22-25) penjelasan configurational mereka biasanya 106. berakar dari teori organisasi, antropologi dan kajian budaya. Aliran ini berusaha menekankan gagasan budaya institusional Miller (dalam Ishiyama [eds.], 2011: 26). Sedangkan Hall & Taylor (1996: 936) mengemukakan norma, struktur institusi bukan sebagai secara rasional melekat atau didikte oleh asas-asas efisiensi, tetapi dikonstruksi secara budaya.

107. Powel dan DiMaggo (Miller dalam Ishiyama [eds.], 2011: 26) Kajian pelopor dalam bidang ini dilakukan oleh sosiolog di Universitas Stanford.

108. Meskipun institusionalisme historis memusatkan perhatian pada analisis insititusional tetapi Hall & Taylor (1996: 942) jarang menganggap bahwa insititusi adalah satu-satu kekuatan kausal dalam politik. Misalnya institusionalisme historis mengakui pentingnya

melibatkan interaksi politik dari satu lembaga dengan lembaga lainnya, serta interaksi lembaga-lembaga politik pada tingkat pusat dan daerah. Bagi Miller (2011: 26) institusionalisme historis yang menjadi minat uatamanya adalah konstruksi dan adaptasi institusi. Miller (2011: 26) menguraikan bahwa institusionalisme historis tidak hanya menganalisis satu institusi atau pada proses pada kurun waktu tertentu, melainkan cenderung memandang politik seperangkat proses yang kompleks.

Terkait dengan interaksi lembaga politik pada tingkat pusat dan daerah, ada sesuatu yang menarik dalam artikel yang ditulis oleh Jesse C. Ribot (2007, 50 (1): 43-49) pada journal Development dengan judul artikel ‘Representation, Citizenship And The Public Domain In Democratic Decentralization’ dalam analisisnya, Ribot (2007) menguraikan reformasi desentralisasi banyak negara berkembang, lebih pada memberdayakan pemerintah daerah perwakilan yang terpilih dengan cara transfer kekuasaan keberbagai institusi lokal, termasuk ke lembaga swasta, otoritas adat dan organisasi non-pemerintah seperti kasus yang terjadi di Afrika, Burkima Faso, Nigeria, Mali, Mozambi dan Indonesia. Menariknya, Ribot (2007) menguraikan meskipun janji demokrasi desentraliasasi adalah untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan dan untuk mempromosikan demokrasi lokal, tetapi dalam riset beberapa tahun terakhir yang ditelitinya ternyata telah muncul kembali tuntutan untuk membangkitkan kembali kewenangan asli lembaga lokal dan lembaga adat, dan ada bentuk pilihan kelembagaan lokal dengan fragmentasi atau difusi keuasaan publik antara lembaga lokal baru. Selain itu, Ribot (2007) menggunakan konsep “pengakuan” untuk mengeksplorasi efek pilihan institusional pada representasi, legitimasi, kewarganegaraan. Meminjam pendapatnya Ribot (2007) bahwa ternyata pemerintah memilih antara pilihan kebijakan berdasarkan utilitas politik.

Baswedan (2007) juga menguraikan dalam disertasinya yang berjudul ‘Regional Autonomy And Patterns Of Democracy In Indonesia’. Menggunakan kasus Indonesia, studi ini mengamati efek dari desentralisasi kebijakan, belajar tentang hubungan antara otonomi daerah dan demokrasi serta menyelidiki bagaimana desain otonomi daerah di Indonesia. Baswedan menemukan, bahwa pelaksanaan daerah otonomi tidak langsung meningkatkan partisipasi politik lokal, semangat otonomi daerah hanya mengalihkan fokus perhatian dari nasional ke isu-isu politik regional, dengan menggunakan metodologi kuantitatif Baswedan menganalisis lebih jauh hubungan antara Otonomi Daerah dengan institusionalisme pada kasus pelaksanaan politik lokal di Indonesia.

Walaupun bidang kajian sama-sama mengeksplorasi bagaimana struktur dan norma serta kebudayaan institusi menghambat pilihan-pilihan individu ketika mereka menjadi bagian dari institusi politik dan dilihat dari prespektif

behavioral, tetapi letak pembeda dari penelitian ini adalah perspektif neoinstitutionalism yang akan peneliti gunakan adalah metodologi postpositivis dengan model analisis bertingkat, yaitu melihat model pembalikan demokrasi pada tingkatan lokal nagari dengan analisis institusi pada pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten serta nagari.

ide dalam menciptakan perubahan politik disamping ada pengaruh indikator ekonomi dan budaya dalam mengambil keputusan politik.

METODE PENELITIAN

Metodepenelitianpostpositive

eksploratif Postpositive dirancangsebagai

alatbantubagipenelitiagardapat

menganalisisdatasecara

konseptualdansifatnyasangat

padat

JenisdanSumber Data

DataPrimer:

wawancaramendalam(indepth

interview) denganpihakͲpihak terkait

DataSekunder:

sepertisumberdariarsip, dokumenpribadi,dokumen resmi,majalahilmiah,dan seterusnya Unitanalisis adalahlembaga danPemilihan Informandilakukan secarapurposive samplingdan Teknik Pengumpulan Data 1. Wawancara berdasarkan kriteriainforman yangdipilih 2. Observasi 3. Dokumentasi LokasiPenelitian: 1. Perwakilannagari yang berada di LuhakTanahdatar 2. Perwakilannagari Yang berada di Luhak Limapuluh Koto 3. Perwakilannagari yang berada di luhakAgam 4. Perwakilannagari yang berada di wilayah rantau dari

ValiditasdanReliabilitasData:

mengͲtriangulasisumberͲsumberdatayangberbeda yang peneliti dapatkan dilapangandengan membangun justifikasidaritemaͲtemayangada;(2)menerapkanmember chekingdengantujuanuntukmemngetahuiakurasihasil penelitian yang dilakukan; (3) menganalisis dan mendeskripsikandatayangsudahdidapatkandilapangan;(4) mengklarifikasidataͲdatayangbiasyangterjadiselamapeneliti dilapangan;(5)melakukantanyajawabdengansesamarekan

AnalisisData:

Datayangdiperolehdianalisissesuaidenganprinsipmetodepostpositiveeksploratif. Disampingperolehandatadari pelaporan“on the spot”,datayangbanyaktersebutjugaharusdireduksidenganjalanmembuatabstraksisebagaisebuahrangkuman yanginti.Hubungantersebutdipaparkansebagaiproposisisebagaimanadidalampenelitiankualitatiflainnyamelaluisebuahtulisan yangbersifatdeskriptifdankonseptual.AnalisisdilakukanberdasarkanpandanganͲpandanganinforman(emik)yangsudahdivalidasi denganmenggunakanmetodetriangulasi.Kesimpulandarianalisisyangdilakukanterkaitpadagabungandatayangdidapatdari

1 2 3 4 5 6

TEMUAN DAN PEMBAHASAN

Setting politik lokal dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia diwarnai dengan problematika eksistensi lembaga dan kearifan lokal yang tadinya pernah terkenal sebelum perlakuan dan penyeragaman atas undang- undang desa pada tahun 1975 (UU No 5 tahun 1979 tentang Desa), ketika dihadapkan pada keharusan untuk menjaga keseimbangan antara pelaksanaan fungsi standar pemerintahan dalam konteks negara kesatuan dengan akomodasi terhadap otoritas-otoritas adat seperti nagari di Sumatera Barat, katamanggungan di Kalimantan dan lain-lain. Ada sebuah usaha untuk menjaga “fungsi keseimbangan” inilah menurut Purwo Santoso (2003: 240-241) yang membuat pemerintah paling bawah (baca: desa/nagari/subak) menjadi “berwajah ganda”. Pada satu sisi desa atau nagari adalah institusi kemasyarakatan yang diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat, berhak mengatur dan mengurus dirinya sendiri, termasuk pengelolaan konflik (inilah sebuah jati diri desa atau nagari dan lain-lain). Dalam konotasi ini, desa/nagari/subak/gampong dan lain-lain adalah suatu masyarakat hukum adat yang secara entitas sosial-politik bukan hanya berhak, namun juga mampu mengatur dan mengurus kepentingannya sendiri. Di sini desa/nagari/subak/gampong relatif lebih independen dan tidak banyak dibebani oleh kepentingan negara (baca: pemerintah pusat dan provinsi), tetapi pada sisi lain akhirnya desa/nagari/gampong/ subak dan lain-lain menjadi bagian dari rantai birokrasi pemerintahan moderen.

Khusus untuk nagari di Sumatera Barat, rantai birokrasi moderen yang dibentuk oleh negara (baca: pemerintah pusat) adalah membentuk lembaga- lembaga nagari yang tugas dan fungsinya seperti miniatur ”negara kecil” yaitu eksekutif yang di pimpin oleh Wali Nagari, legislatif oleh Badan Musyawarah Nagari (BMN) dan yudikatif (peradilan) oleh Kerapatan Adat Nagari (KAN) (lihat Perda No 2 Tahun 2007 Tentang Pemerintahan

Nagari), yang terjadi proses desentralisasi dan demokratisasi lokal di Sumatera Barat berlangsung penuh dengan polemik, mulai dari UU No. 5/1979 tentang Pemerintahan Desa109 sampai dengan No UU 6 Tahun 2014

tentang desa. Sehingga menurut Franz & Benda-Beckman (2007: 419-420) masyarakat Sumatera Barat pada akhirnya menerima bentuk intervensi dari pemerintah pusat dengan cara menghilangkan identitas politik lokal dan self-governing community yang sudah lama berbasis pada nagari110, di mana campur tangan pemerintah pusat

dan pemerintah daerah akhirnya merusak peranan lembaga-lembaga nagari, termasuk merusak hubungan antara pemimpin lokal dan warga masyarakat. Perubahan dari nagari ke desa merupakan bentuk marginalisasi serta penghilangan identitas lokal,111 karena menurut Franz & Benda-Beckman (2007: 422-424) ketika membagi nagari

menjadi desa ternyata telah memberi pengaruh pada efek ekonomi, sosial dan kultural. Bahkan menurut Tengku Rika (2010), jauh lebih rusak kondisi pada rentang tahun 1979 sampai dengan 1999 adalah ketika struktur dan legitimasi kepemimpinan kepala desa telah mengambil alih kepemimpinan formal dari “tali tigo sapilin” dan

“tigo tungku sajarangan” yaitu ninik mamak sebagai penghulu nagari, alim ulama dan cerdik pandai. Selain itu, pemerintah desa terbukti tidak mampu menciptakan bentuk demokrasi yang komunitarian pada masyarakat nagari,serta menurut Hasbi et al (1990: 30) dan Mochtar Naim (1990: 48,60) negara tidak pernah memberikan kompensasi finansial bagi perangkat desa.

Merujuk pendapatnya Sri Zulchariyah (2008: 78) “dari masa kolonial sampai masa kemerdekaan orde baru secara keseluruhan terlihat gambaran kecenderungan akan proses pemudaran dan pelemahan akan sistem nagari”. Secara teoritik dari analisis peneliti, nagari112 memang bukan lembaga seperti yang dikatakan oleh Weber

sebagai lembaga yang mempunyai monopoli penggunaan sarana-sarana kekerasan secara absah. Walaupun secara teoritis nagari merupakan organisasi yang mempunyai pemerintahan sendiri, secara otonom dan berbasis pada masyarakat (self-governing community) serta berdasarkan analisis Benda-Beckmann (1979) mempunyai perangkat pemerintahan demokratis yang merupakan kesatuan holistik dari berbagai perangkat tatanan sosial-budaya,tetapi menurut Sutoro Eko (2003), ada eforia bagi masyarakat Sumatera Barat ketika ada pergantian rezim dari orde baru ke reformasi yang kemudian disusul dengan kebangkitan desentralisasi dan demokrasi lokal. Makna desentralisasi telah membuat “kembali” batas-batas sosial dan politis di Sumatera Barat. Di mana ketika pemerintah provinsi agak mulai surut legitimasi kekuasaannya,113 sementara pemerintah kabupaten dengan penuh ”percaya diri” lebih

menekankan otonomi mereka dalam berhadapan dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat, dengan otonomi yang sama memberikan kabupaten untuk merancang kembali hubungan mereka dengan nagari, dan mendefinisikan model demokrasi yang pas untuk nagariserta batas-batas otoritas antara pemerintah dengan komunitas masyarakat adat nagari114. Sehingga, nagari sebagai basis kehidupan masyarakat akar rumput (grass- 109. Pada tahun 1970-an, Pemerintah Indonesia mulai meyeragamkan pluralitas hukum, mengkonsolidasi peraturan memusat dan

membakukan perbedaan dalam pemerintahan lokal daerah. Model desa Jawa sebagai unit pemerintahan lokal paling rendah menjadi patokan seluruh Indonesia di bawah UU No. 5/1979. Di Sumatera Barat, ini dilaksanakan secara efektif pada tahun 1983. 110. Intervensi yang dimaksudkan disini adalah penyeragaman pemerintahan nagari menjadi pemerintahan desa dengan merujuk pada

UU No 5 tahun 1979, dan mengganti jorong sebagai wilayah administratif dibawah nagari menjadi desa, dengan tujuan untuk mendapatkan dana bantuan desa (bandes).

111. Berubahnya Nagari menjadi Desa, mengakibatkan terjadinya pergeseran kekuasaan dan kepemimpinan lokal dari pemerintahan Nagari ke pemerintahan Desa, di mana pemerintahan desa merupakan lembaga yang menjalankan fungsi-fungsi pemerintahan terendah dalam wilayah Indonesia dan nagari dialihkan fungsi dan perannya pada lembaga yang hanya mengurusi masalah adat. Bahkan jauh lebih rusak adalah struktur dan legitimasi kepemimpinan kepala desa telah mengambil alih kepemimpinan formal dari “tali tigo sapilin” dan “tigo tungku sajarangan”yaitu ninik mamak sebagai penghulu nagari, alim ulama dan cerdik pandai. 112. Pengertian nagari di sini dalam Peraturan Daerah Sumatera Barat No. 9 Tahun 2000 jo Perda No 2/2007 Tentang pemerintahan

Nagari.

113. Setelah jatuhnya rezin Soeharto Indonesia mengalami proses besar-besaran, yaitu merundingkan kembali batas-batas administratif, politis, dan sosial. Sebuah lembaga legislasi meletakan dasar bagi proses perundingan ini, dengan melonggarkan batas-batas antara negara pusat dan daerah-daerah, dan menggeser kekuasaan ke tingkat-tingkat adminsitratif yang lebih rendah, terutama kabupaten- kabupaten. Ada dua konsekuensi yang terjadi yaitu menyangkut reorganisasi pemerintahan desa melalui UU No 7 tahun 1979 dan adanya pertimbangan kembali terhadap identitas minangkabau dalam pemerintahan Indonesia yang lebih besar. Lihat Benda- Beckmann (dalam Nordholt & Klinken [eds.], 2007: 417-418) untuk bahasan lebih lanjut.

114. Batas-batas teritorial desa yang dirubah menjadi batas-batas teritorial nagari kemudian memaksa penduduk di pedesaan mendefenisikan kembali hubungan-hubungan internal desa serta memperbaiki kembali hubungan sosial dan ekonomi ketika masih

roots) mempunyai dua wilayah yang berbeda yaitu: (i)wilayah internal nagari yaitu relasi hubungan antara pemerintah nagari dengan lembaga-lembaga nagari serta masyarakat; (ii) adalah wilayah eksternal nagari, yaitu wilayah hubungan antara nagari dengan pemerintah supra nagari (baca: pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dalam konteks formasi negara sentralistik) (Sutoro Eko,2003: 257)

Dua wilayah ini, merupakan titik masuk dan akhirnya akan menjadi masalah yang krusial bagi negara (baca: pemerintah pusat dan provinsi, kabupaten), yaitu negara ingin mewujudkan pembaharuan terhadap instusi nagari dan itu harus sejalan dengan reformasi politik maupun pembaharuan pemerintahan (governance reform)( (Sutoro Eko,2003: 257-258). Tetapi ketika semuanya itu tidak terwujud menurut peneliti akhirnya akan menjadi potensi konflik antara negara dengan nagari.

Ada dua “celah kosong” terkait dengan konsolidasi demokrasi pertama; proses konsolidasi demokrasi ternyata membutuhkan pembalikan demokrasi menurut temuan peneliti ada sebuah proses habituasi norma-norma, budaya

dan kelembagaan, intermediasi negara dengan masyarakat lokal, yang tercemin dalam bentuk kebijakan (baca: Perda yang mengatur tentang Nagari pada masing masing kabupaten) yang menjadi salah satu pendekatan untuk melihat demokratisasi. Kedua; peneliti kemudian mensandingkan dengan temuan yang didapat oleh Tengku Rika dan Roni Ekha (2011: 211-219) yang dipublikasikan pada International Journal of Administrative Sciences and Organization yang berjudul ’The state Versus Local Elite Conflict in A Transitional Phase of Democracy’ mengutarakan bahwa ada peluang bagi negara (baca: pemerintah pusat dan pemerintah daerah) untuk menghalangi kepentingan kelompok lokal di nagari, serta gerakan perlawanan masyarakat lokal dalam menentang intervensi negara pada lembaga-lembaga lokal nagari, tetapi tidak dijelaskan lebih lanjut oleh Tengku Rika dan Roni Ekha (2011) tentang peluang seperti apa yang menghalangi kepentingan kelompok lokal di nagari oleh negara, dan inilah yang akan peneliti lanjutkan melalui eksplorasinya bahwa adanya sebuah Pembalikan demokrasi. Berdasarkan pada temuan dan analisis data, peneliti mengambil sudut pandang yang berbeda bahwa adanya penguatan institusionalisasi elemen-elemen demokrasi seperti Bamus dan KAN, karena asumsi awal peneliti ketika sebuah negara demokrasi yang pelembagaan politiknya mengalami kekacauan, maka akan berdampak pada buruknya stabilitas negara dan salah satu syarat yang mengurangi dampak di atas adalah di perkuatnya pelembagan politik dan pemerintahan di tingkat lokal salah satunya yaitu desa atau nagari.

Dalam dokumen full proseding JILID 2 (Halaman 102-111)