ANTARA DAKWAH DAN POLITIK
TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan penelitian ini sesuai dengan rumusan masalah penelitian yaitu:
a) Mendeskripsikan kiprah Lembaga Dakwah Kampus dalam kegiatan internal Universitas Andalas. b) Mendeskripsikan kiprah Lembaga Dakwah Kampus dalam kegiatan eksternal Universitas Andalas. D. KERANGKA TEORI
1. Teori Struktuasi
Selama bertahun-tahun ilmuan sosial mengemukakan perdebatan struktur-agensi sebagai isu teoritis terpenting ilmu tentang manusia. Persoalan struktur33-agensi di studi ilmu politik berkembang lebih lamban dibandingkan
ilmu sosial lainnya. Dewasa ini beberapa sarjana meyepakati kajian struktur-agensi dianggap bagian inti mempelajari ilmu politik.34 Karena itu, dalam studi politik interaksi sosial antara lembaga dengan individu merupakan hubungan
yang tidak bisa dipisahkan meskipun selalu tumpang tindih antara struktur dan agensi atau oposisi binner .
Pendekatan ini mengarah pada penyidikan, pendeskripsian dan penyingkapan hal-hal yang berhubungan dengan subjek dan objek sistem. Selanjutnya pendekatan ini melihat suatu hubungan timbal balik—struktualisme yang tidak setengah-setengah—antara subjek dan objek.35 Sosiolog Amerika mengistilahkan persoalan ini dengan
makro-mikro, mikro adalah aktor/agen sedangkan makro sesuatu yang berhubungan dengan struktur.36 Meminjam
istilah Burns, agensi meliputi individu atau kelompok terorganisir, organisasi, dan bangsa, sedangkan Touraine memandang kelas sosial sebagai aktor—kolektivitas merupakan agen—maka tidak dapat disamakan agen dengan fenomena tingkat mikro. Lagi pula, konsep struktur biasanya mengacu struktur sosial berskala besar—konsep berada dalam struktur mikro seperti orang yang terlibat interaksi individual.37
Setelah itu, sarjana sosial lain mengartikan integrasi struktur-agensi sebagai sesuatu yang bersifat positivisme. Sebab peran struktur pendekatan ini memberikan posisi kepada agensi sebagai bagian yang minoritas dari kekuasaan struktur yang mengikat.38 Pendekatan ini memosisikan objektivitas terpengaruh oleh subjek, sehingga fakta sosial
bukanlah fakta alam yang dianggap sebagai objek murni. Dialektika struktur-agensi yang selanjutnya dikritik Giddens merupakan perdebatan klasik yang menegaskan struktur-agensi terbentuk menjadi suatu kesatuan.39
Giddens meletakkan posisi seimbang antara struktur dan agensi yang tarik menarik (opisisi biner).40Giddens
menegaskan untuk memahami hubungan ini ada tiga bentuk masyarakat dalam memahami persoalan ini: budaya kesukuan, masyarakat kelas dan kapitalisme industri.41 Pada penelitian ini, penulis berada pada dua konsepsi
yakni kesukuaan dan kelas—tetapi penelitan ini jamak dengan kegiatan ADK, makanya penulis memosisikan analisis Giddens ini tranformasi penelitian sebagai bagian masyarakat kelas.42
33. Pengenalan istilah struktur pada awalnya dipromosikan Levis- Straus pada antropologis struktural dan struktualisme. Selain itu, Sausurre juga memerkenalkan istilah struktur, Levis- Straus maupun Sausurre menampilan istilah struktualisme sebagai sesuatu yang ia tapsirkan pada pengaruh bahasa pada lingkungan sosial, untuk lebih jauh lihat, Anthonny Giddens, Social Theory To Day (Terj. Yudi Santoso), Jakarta: Pustaka Pelajar, 2015, hlm 333-336
34. David Marsh dan Gerry Stoker, Teori dan Metode dalam Ilmu Politik, ( Terj. Helmi Mahadi dan Shoifullah), Bandung: Nusa Media, 2012, hlm. 325
35. Arizal Mutahir. Intelektual Kolektif Priere Bourdieu. Jakarta: Kreasi Wacana, 2011, hlm .44
36. Akhyar Yusuf Lubis, Postmoderenisme Teori dan Metode. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2014, hal 100 37. George Ritzer – Douglas J. Goodman. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana 2004.
38. Op.Cit, David Marsh dan Gerry Stoker, hlm 134 39. Op.Cit, Akhyar Yusuf Lubis, hlm. 334
40. Anthonny Giddens, Teori Sturktuasi(dasar-dasar pembentukan struktur sosial masyarakat), terj. Maufur dan Daryatno, Jakarta; Pustaka Pelajar,2010, hal. xxxvi
41. Ibid, hlm xxx
42. Pada penelitian ini Aktivis Dakwah Kampus (ADK) merupakan bagian dari kelompok mahasiswa yang bisa dianalisis dengan ciri khas manusia, pada penelitian ini ADK adalah bagian dari “masyarakat kelas”
Margarert S. Archer mengkritik dialektika Giddens yang mempertemukan struktur dengan agensi. Peleburan sentral (central conflation) struktur-agensi yang menolak oposisi biner menjadikan analisis Giddens beku dan kaku.43
Apabila struktur-agensi dileburkan menjadi satu kesatuaan menyebabkan ciri khas struktur-agensi tidak terlihat jelas. Makanya, Archer memahami struktur agensi dengan pendekatan morfogenetik yang membandingkan siklus tiga bagian terhadap waktu.
Selain itu, sarjana lain seperti Hay (1996) dan Jessop (1990) menyatakan hubungan struktur tidak seperti dua sisi mata uang, tetapi Hay (1996) dan Jessop (1990) memandang pertemuanan berhadap-hadapan antara struktur dan agensi, sebagai hubungan yang dapat diakses aktor—makanya—peran strategi-relasional menentukan bisa tidaknya aktor mengakses struktur. Dalam pendekatan ini struktur titik awal yang memberikan kemiringan yang diakses aktor tertentu, tetapi strategi struktur, meskipun cara yang ditempuhnya berbeda dengan hubungan strategi-relasional, dua sisi mata uang yang telah dikemukakan sebelumnya. 44. Sedangkan pada penelitian penulis
menggunakan teori Bourdieu yang membahas tentang habitus, modal dan arena sebagai berikut:
a) Habitus
Habitus berasal dari bahasa latin yang mengacu kepada kondisi atau penampakan yang diarahkan kepada tubuh. Perwujudan habitus karya Bourdieu, pertama, habitus hanya ada dikepala aktor. Kedua, habitus pergerakan yang berada didalam aktor, cara berbicara, berpenampilan yang tidak berbentuk abstrak tetapi terintegrasi dengan diri aktor. Ketiga, cara pandang aktor baik laki-laki atau perempuan yang disimbolkan pada sesuatu yang mencirikan identitasnya.45
Konsep habitus merupakan konsep lama yang digunakan Aristoteles dan Thomas Aquinas, Hegel, Husserl, Durkheim, Marcel Maus46. Habitus perspektif Bourdieu merupakan sintesis antara agen/subjek dengan struktur/
objek. Pendekatan struktualis Bourdieu mengambarkan pendekatan struktualisme sebagai Tuhan Bapa, sehingga logika yang digunakan Bourdieu agensi selalu menjadi boneka yang digerakkan oleh Tuhan Bapa. Pendekatan yang digunakan Bourdieu menjelaskan habitus merupakan sesuatu yang telah terbatinkan, pendekatan Bourdieu memahami struktur lebih mendominasi dibandingkan pendekatan Giddens yang lebih menonjolkan aktor pada dinamika oposisi biner struktur-agensi .47
Bourdieu menggunakan habitus sebagai pertentangan objektifitas dengan subjektifitas. Bourdieu mengkritik kedua aliran tersebut untuk mensintesiskan antara struktur dan agensi, yakni habitus permainan doxa: sebagai sesuatu yang tidak bisa dipertentangkan. Bourdieu mencoba menggabungkan tradisi marxis (empiris) dengan tradisi rasional. Sehingga antara ide habitus bertemu dengan subjektivitisme dan objektivitisme.48
b) Kapital (Modal)
Setelah habitus istilah kapital merupakan kelanjutan pemikiran Bourdieu, misalnya, keberadaan modal pendidikan—kemampuan yang dimiliki seseorang atas jenjang pendidikan yang dilaluinya. Modal ekonomi (uang), kelebihan ekonomi yang dimiliki seseorang seperti berbentuk kepemilikan harta. Selain itu juga ada modal budaya merupakan keseluruhan kualifikasi intelektual yang diproduksi secara formal maupun warisan keluarga.49 Seterusnya
modal simbolik, kekuasan yang dimiliki seseorang yang harganya sama dengan sesuatu yang didapatkan secara fisik atau ekonomi seperti rumah diperumahan mewah, mobil dengan supirnya dan kantor di pusat perdagangan. Modal menjadi energi sosial yang di ranah perjuangan dan membuahkan modal memproduksi serta mereproduksi, dengan ciri-ciri sebagai berikut:
43. Op.Cit, David Marsh dan Gerry Stoker, hal. 336 44. Ibid, hlm. 338-339
45. Richard Jenkins, Membaca Pikiran Piere Bourdieu. Diterj. Nurhadi, Jakarta: Kreasi Wacana,1992, hlm. 108
46. Piere Bourdieu, Choses Dites Uraian dan Pemikiran, diterj. Ninik Rochani Sjams. Jakarta: Kreasi Wacana, 1987, hlm 16 47. Ibid, hlm.122
48. Ibid, hlm.115
49. Reza AA Wattimena. 2012. Berpikir Kritis bersama Pierre Bourdieu. (online). (dhttp://rumahfilsafat.com/2012/04/14/sosiologi- kritis-dan-sosiologi-reflektif-pemikiran-pierre-bourdieu/) , diakes 14 September 2015
a. Modal terakumulasi melalui investasi b. Modal bisa diberikan melalui warisan
c. Modal dalam memberikan keuntungan kepada pemiliknya sesuai dengan penempatannya.50 c) Arena
Arena adalah ruang khusus masyarakat sebagai wadah perjuangan mendapatkan kepentingan. Dalam hal ini, arena banyak jenisnya seperti, pendidikan, bisnis, hukum, ekonomi seniman, dan politik. Ayub Sektiyanto mengemukakan arena merupakan ruang yang terstruktur dengan aturan keberfungsiannya yang khas namun tidak secara kaku terpisah dari arena-arena lainnya pada dunia sosial.51 Arena membentuk habitus yang sesuai
dengan struktur dan cara kerjanya, namun habitus membentuk dan mengubah arena sesuai dengan strukturnya. Otonomisasi relatif arena ini mensyaratkan agensi yang menempati pelbagai posisi yang tersedia dalam arena apapun terlibat dalam usaha perjuangan memerebutkan sumber daya atau modal yang diperlukan guna memperoleh akses terhadap kekuasaan dan posisi dalam sebuah arena.
METODE
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain etnografi. Menurut Bogdan dan Taylor penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.52 Penelitian kualitatif merupakan instrumen atau alat mendapatkan data.
Hal ini terjadi karena hanya manusialah yang mampu memahami kaitan kenyataan-kenyataan di lapangan.53
Pendekatan etnografi merupakan pendeskripsikan kebudayaan dengan tujuan utamanya adalah memahami pandangan hidup suatu masyarakat.54 Penelitian ini berbasis pengumpulan dan analisis data. Sehingga data
bersumber pada wawancara dan observasi lapangan.55 Selain itu perolehan data mengandalkan sumber-sumber
lain yang meliputi berbagai jenis dokumen seperti catatan harian, biografi, peristiwa sejarah, buku, koran dan bebagai dokumen lainnya.56 Agar penelitian ini berjalan secara sistematis, terarah dan efektif maka digunakan
metode “ Alur Penelitian Maju Bertahap “ yang didasarkan lima prinsip yaitu teknik tunggal, identifikasi tugas, maju bertahap, penelitian orisional dan Problem-Solving.57
Menurut Creswell, secara umum prosedur penelitian etnografi adalah sebagai berikut:58 Pertama, menentukan
masalah penelitian ini adalah paling cocok didekati dengan studi etnogafi. Seperti telah kita bahas di atas bahwa etnografi menggambarkan suatu kelompok budaya dengan mengekloprasi kepercayaan, bahasa dan perilaku (etnografi realis); atau juga mengkritisi isu-isu mengenai kekuasaan, perlawanan dan dominansi (etnografi kritis).
50. Lebih lengkapnya lihat, Haryatmoko, Menyingkap kepalsuan Budaya Penguasa. Landasan teoritis menurut Pierre Bourdieu, basis No.11-12 Tahun ke 52, November-Desember 2003, hlm. 11, dalam, Op.cit, Arizal Mutahir, hlm. 68
51. Ibid.
52. Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitat.,Bandung, PT. Remaja Rosdakarya. 1996. hlm, 4. 53. Ibid, hlm. 5
54. James .P Sparadeley, Metode Etnografi, (Terj. Misbah Zulfa Elizabeth), Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006, hln. 3-5
55. Dalam hal ini, metode etnografi selalu menggunakan hal yang dikatakan oleh orang-orang yang diamati dalam uoaya mendeskripsian suatu kebudayaan. Kebudayaan, baik yang implisit mauoun eksplisit selalu terungkap dalam perkataan berupa komnetar sederhana maupun wawancara panjang. Ibid.
56. Penelitian dengan metode etnografi biasanya menggunakan Participan Observation. Penelitian inipun menggunakan teknik observasi dalam mengumpuljan data. Namun, penelitian seperti itu memakan waktu lama, sehingga menggunakan metode wawancara etnografi dan pengumpulana data tidak menggunakan teknik formal, teknik pengumpulan utama tetap digunakan.
57. Yang dimaksud oleh Spardley dalam alur penelitian maju bertahap adalah (1) teknik tunggal dimaksudkan agar sang peneliti pemula berkonsentrasi dan menguasai satu teknik penelitian saja—meski dapat dilakuakan bersamaan dalam satu penelitian etnografi—diantara pelbagai teknik penelitian yang ada (wawancara, etnografi, observasi partisipasi, membuat peta geneologis dan sebagainya). Oleh karena itu penelitian ini mengutamakan penggunakan teknik wawancara etnografi. Namun untuk mengimbangi ata wawancara yang dapat peneliti juga melakukan teknik observasi (2) Identfkasi tugas berati peneliti harus lebih khusus lagi mengenali langkah-langkah pokok wawancara etnografi. (3) Setiap langkah pokok diatas sebaiknya dijalankan secara berurutan atau maju bertahap, kemudian. (4) Proses mempelajari wawancara etnografi ini dilakukan melalaui penelitiaan sungguhan. Terakhir, (5) bahwa kegiatan dan hasil penelitiaan tersebut setidaknya memberikan input-input postif dalam menyelesaikan masalah.
Kedua, mengidentifikasi dan menentukan lokasi dari kelompok budaya yang akan diteliti. Kelompok sebaiknya gabungan orang-orang yang telah bersama dalam waktu yang panjang karena disini yang akan diteliti adalah pola perilaku, pikiran dan kepercayaan yang dianut secara bersama.
Ketiga, pilihlah tema kultural atau isu yang dipelajari dari suatu kelompok budaya. Keempat, tentukan tipe etnografi yang cocok digunakan untuk mempelajari konsep budaya. Apakah etnografi realis ataukah etnografi kritis?. Keempat, kumpulkan informasi dari lapangan mengenai kehidupan kelompok tersebut. Data yang dikumpulkan bisa berupa pengamatan, pengukuran, survei, wawancara, analisis konten, audio visual, pemetaan dan penelitian jaringan. Setelah data terkumpul data tersebut dipilah-pilah dan dianalisa. Kelima, tulisan tentang gambaran atau potret menyeluruh dari kelompok budaya tersebut baik dari sudut pandang partisipan maupun dari sudut pandang peneliti itu sendiri.