BAB IV HASIL PENELITIAN
4.3 Analisis Bivariat
4.3.3 Hubungan Lingkungan Kerja Dengan Kecelakaan
Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi.
Hubungan lingkungan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja di PT.
Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.11 Hubungan Lingkungan Kerja dengan Kecelakaan Kerja di PT.
Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi.
Lingkungan Kerja
Kecelakaan Kerja Total P
Ya Tidak
N % N % N %
Tidak Kondusif 19 59,4 13 40,6 32 100,0 0,011
Kondusif 9 25,7 26 74,3 35 100,0
Berdasarkan pada table 4.11, diketahui bahwa 19 orang (59,4%) pada kategori lingkungan kerja tidak kondusif perna mengalami kecelakaan kerja, pada lingkungan kerja kondusif sebanyak 9 orang (25,7%) sedangkan pada kategori lingkungan kerja tidak kondusif yang tidak mengalami kecelakaan kerja sebanyak 13 orang (40,6%) dan 26 orang (74,3%) pada lingkungan kerja kondusif. Hasil uji Chi-Square menunjukan ada hubungan yang bermakna antara lingkungan kerja dengan kecelakaan kerja. (Pvalue 0,011).
BAB V PEMBAHASAN
Dalam pembahasan ini akan difokuskan akan hal-hal yang berkaitan dengan tujuan penelitian. Pada bab sebelumnya bahwa tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan terjadinya kecelakaan kerja pada pekerja di PT. Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi.
Berdasarkan hasil uji chi-square bahwa faktor yang berhubungan dengan kecelakaan kerja adalah pengetahuan, sikap, kepatuhan terhadap prosedur, sosialisasi K3, pengawasan dan lingkungan kerja.
5.1 Kecelakaan Kerja
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.4 dapat dilihat bahwa kecelakaan kerja di PT. Sumber Karindo Sakti adalah sebanyak 28 kasus. Jenis kecelakaan kerja yang sering terjadi seperti kaki tertimpa kayu sebanyak 6 pekerja, mata terkena debu kayu sebanyak 9 pekerja, tertusuk serpihan kayu sebanyak 7, terjepit mesin press sebanyak 3 pekerja dan ujung tangan terkena mesin potong sebanyak 3 pekerja. Walapun kejadian kecelakaan kerja yang terjadi masih dalam kategori ringan tetapi hal ini tetap menjadi perhatian bagi perusaha karena kejadian yang kecil jika tidak diidentifikasi maka akan jadi lebih berat. Berdasarkan penelitian Bird (1998) dalam Siregar (2014) suatu kejadian kecelakan fatal, biasanya didahului dengan adanya 10 kali kecelakaan ringan. Dan 10 kecelakan ringan itupun sebelumnya juga didahului oleh adanya 30 kecelakaan yang mengakibatkan rusaknya peralatan. Sedangkan 30 kecelakan yang berakibat
Kecelakaan ringan yang terjadi disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor pekerja, faktor manajemen dan faktor lingkungan kerja. Penelitian tersebut sesuai dengan teori dari ILO yang menyatakan bahwa penyebab kecelakaan kerja adalah faktor pekerja, faktor manajemen dan faktor lingkungan kerja (Siregar, 2014).
Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat pekerja yang memiliki pengetahuan rendah lebih banyak yang pernah mengalami kecelakaan kerja daripada pekerja yang memiliki pengetahuan tinggi, pekerja yang memiliki sikap negatif dalam bekerja lebih banyak yang pernah mengalami kecelakaan kerja daripada pekerja yang memiliki sikap positif dalam bekerja, pekerja yang tidak patuh terhadap prosedur saat bekerja lebih banyak yang pernah mengalami kecelakaan kerja daripada pekerja yang patuh terhadap prosedur saat bekerja.
Pekerja yang menjawab rendahnya sosialisasi K3 lebih banyak yang pernah mengalami kecelakaan kerja daripada pekerja yang menjawab tingginya sosialisasi K3, pekerja yang menjawab rendahnya pengawasan lebih banyak yang pernah mengalami kecelakaan kerja daripada pekerja yang menjawab tingginya pengawasan. Pekerja yang menjawab tidak kondusifnya lingkungan kerja lebih banyak yang pernah mengalami kecelakaan kerja daripada pekerja yang menjawab kondusifnya lingkungan kerja
5.2 Hubungan Faktor Pekerja dengan Kecelakaan Kerja di PT. Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi
5.2.1 Hubungan Pengetahuan Dengan Kecelakaan Kerja
Menurut pendapat pardede (2017) yang mengutip pendapat Green, menyatakan bahwa pengetahuan merupakan salah satu faktor penting dalam memotivasi seseorang dalam bertindak. Menurut Siregar (2014) dalam ILO, pengetahuan yaitu pemahaman pekerja mengenai tipe-tipe risiko yang terdapat di tempat kerja, sumber pajanan dan faktor-faktor berbahaya yang berpotensi menyebabkan terjadinya kerusakan atau cedera, sesuai dengan tugasnya. Semakin rendahnya pengetahuan seseorang, maka akan semakin tinggi tindakan tidak aman yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Semakin positif perilaku yang dilakukan akan mampu menghindari kejadian yang tidak diinginkan (Siregar, 2014).
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.6 dari 28 orang responden yang pernah mengalami kecelakaan kerja, dapat dilihat bahwa pekerja yang termasuk dalam kategori pengetahuan rendah lebih banyak yang pernah mengalami kecelakaan kerja daripada pekerja yang termasuk dalam kategori pengetahuan tinggi. Berdasarkan hasil uji chi-square pearson di atas, diperoleh nilai P Value=
0,035≤ 0,05, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang nyata antara pengetahuan dengan kecelakaan kerja. Dengan demikian, hipotesis terbukti dengan ditemukannya hubungan bermakna antara pengetahuan dengan kecelakaan kerja.
Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa pengetahuan pekerja yang rendah cenderung mengakibatkan kecelakaan kerja, salah satu yang menjadi penyebab kecelakaan tersebut adalaha rendahnya pengetahuan pekerja akan pentingnya penggunaan APD untuk mencegah kecelakaan kerja. Pekerja merasa penggunaan APD tidak terlalu penting dan dapat mengganggu pekerjaan para pekerja, sehingga pekerja tidak menggunakan APD seperti sarung tangan pada saat bekerja dan hanya menggunakan masker saja pada sebagian pekerja.
Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Rudyarti (2017) dimana terdapat hubungan antara pengetahuan K3 dengan kecelakaan kerja pada pekerja pengrajin pisau batik di PT X dengan nilai P 0,026.
Menurut pendapat Rudyarti (2017) dalam Pusat Kesehatan Kerja, mengungkapkan bahwa masalah penyebab kecelakaan yang paling besar yaitu faktor manusia karena kurangnya pengetahuan, kurangnya ketrampilan, kurangnya kesadaran dari pimpinan dan tenaga kerja untuk melaksanakan peraturan perundangan K3.
Menurut pendapat Siregar (2014) yang mengutip pendapat Westerman dan Donoghue, menyatakan bahwa cara pengembangan pengetahuan dan sikap yang diperlukan seseorang untuk melaksanakan tugas atau pekerjaannya secara memadai adalah dengan melakukan pelatihan yang rutin. Akan tetapi sebaiknya perusahan memberikan test terkait materi pelatihan sebelum dan sesudah dilakukan pelatihan kepada seluruh pekerjan hal ini dimaksudkan agar perusahaan dapat mengukur apakah pelatihan yang dilakukan efektif atau
5.2.2 Hubungan Sikap Dengan Kecelakaan Kerja
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.7 dari 28 orang responden yang pernah mengalami kecelakaan kerja, dapat dilihat bahwa pekerja yang termasuk dalam kategori sikap negatif banyak yang pernah mengalami kecelakaan kerja dari pada pekerja dengan sikap positif. Berdasarkan hasil uji chi-square pearson di atas, diperoleh nilai P Value= 0,021≤ 0,05, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sikap dengan kecelakaan kerja. Dengan demikian, hipotesis terbukti dengan ditemukannya hubungan bermakna antara sikap dengan kecelakaan kerja.
Dari hasil penelitian dari 67 pekerja terdapat 28 pekerja yang pernah mengalami kecelakaan kerja dan pekerja dengan sikap negatif yang perna mengalami kecelakaan kerja sebanyak 21 orang pekerja, ini menandakan bahwa semakin negatif sikap maka kecenderungan kecelakaan kerja yang terjadi akan semakin tinggi dan juga sebaliknya jika pekerja bersikap positif maka kejadian risiko kecelakaan kerja juga akan berkurang. Pada hasil penelitian diketahui bahwa sikap yang paling banyak tanggapan negatif yaitu sikap pekerja terhadap penggunaan APD sewaktu bekerja, pekerja merasa tidak nyaman bekerja menggunakan APD dan merasa terganggu menggunakan APD.
Menurut pendapat Ruhyandi dan Chandra (2008), kecelakaan bukan hanya disebabkan oleh mesin tapi disebabkan oleh manusia itu sendiri (unsafe act).
Menurut pendapat Ruhyandi dan Chandra (2008) yang mengutip pendapat Ismani, menerangkan bahwa dalam bersikap dapat diajarkan melalui beberapa cara
meyakinkan seseorang dengan mempunyai dasar kognitif, hal ini terlepas dari aspek emosional dari perilaku seseorang ; menetapkan melalui peraturan-peraturan dan lain-lain.
Oleh karena itu untuk meningkatkan sikap yang baik kepada para pekerja dalam penggunaan APD dalam melakukan pekerjaan, perlu adanya teladan ataupun contoh sehingga pekerja termotivasi untuk menggunakan APD dengan benar dan lengkap. Membuat peraturan yang mewajibkan ataupun memaksa penggunaan APD di tempat kerja juga perlu di terapkan agar pekerja terdorong menggunakan APD dengan lengkap karena adanya peraturan yang mewajibkan APD tersebut, sehingga pekerja terus memakai APD dan lama kelamaan akan terbiasa dan merasa nyaman dalam menggunakan APD.
5.2.3 Hubungan Kepatuhan Terhadap Prosedur Dengan Kecelakaan Kerja Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.8 dapat dilihat bahwa responden yang tidak patuh lebih banyak daripada responden yang patuh. Responden yang tidak patuh terhadap prosedur lebih banyak mengalami kecelakaan kerja dari pada pekerja yang patuh . Hasil uji chi square menunjukkan bahwa ada hubungan antara kepatuhan dengan kecelakaan kerja pengan Pvalue<0,034. Dengan demikian, hipotesis terbukti dengan ditemukannya hubungan bermakna antara kepatuhan terhadap prosedur dengan kecelakaan kerja.
Menurut hasil penelitian dapat kita lihat bahwa banyak pekerja yang tidak mengikuti prosedur kerja, pekerja sering bercakap – cakap saat sedang bekerja sehingga tidak fokus saat bekerja sedangkan, mesin yang digunakan cukup
berbahaya seperti mesin pemotong kayu dan mesin press. Sehingga kecelakaan seperti terkena mesin pemotong ataupun terjepit mesin press kayu sering terjadi.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Siregar (2014) hasil uji chi-square menunjukkan bahwa adanya hubungan antara kepatuhan terhadap prosedur dengan kecelakaan kerja dimana P value 0,000. Dan juga sejalan dengan penelitian Pardede (2017), yang menunjukan adanya hubungan yang nyata antaraa kepatuhan terhadap prosedur dengan kecelakaan kerja di PT. Hari Sawit Jaya.
Menurut penelitian Arifin (2005) kepatuhan menjalankan prosedur berhubungan dengan terjadinya kecelakaan kerja. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tidak patuh responden maka akan semakin tinggi kecelakaan kerja, dan sebaliknya semakin semakin patuh responden maka akan semakin rendah kecelakaan kerja.
Upaya yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk meningakatkan kepatuhan terhadap prosedur adalah dengan dilaksanakannya pelatihan/training kepada pekerja yang ada untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan pekerja agar bekerja dengan aman dan pengawasan yan rutin serta sanksi yang tegas bila pekerja tidak mematuhi prosedur kerja yang berlaku di perusahaan.
5.3 Hubungan Faktor Manajemen dengan Kecelakaan Kerja di PT.
Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi
5.3.1 Hubungan Sosialisasi K3 Dengan Kecelakaan Kerja
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.9 dari 28 orang responden yang pernah mengalami kecelakaan kerja, dapat dilihat bahwa pekerja yang menjawab rendahnya sosialisasi K3 lebih banyak yang pernah mengalami kecelakaan kerja.
Berdasarkan hasil uji chi-square pearson di atas, diperoleh nilai P Value= 0,041≤
0,05, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sosialisasi K3 dengan kecelakaan. Penelitian ini sejalan dengan penelitian pardede (2017) pada pabrik kelapa sawit PT. Hari Sawit Jaya, pekerja dengan sosialisasi rendah lebih sering mengalami kecelakan kerja, P value = 0.019.
Menurut pendapat ruhyandi dan Chandra (2008), dengan diberikannya penyuluhan pekerja akan lebih memahami dan dapat berperilaku sehat, baik di dalam tempat kerja maupun di luar tempat kerja. Kepuasan kerja meningkat ketika mereka meyadari bahwa perusahaan peduli dengan kesehatan dan keselamatan mereka.
Melihat dari penelitian yang dilakukan pada pekerja, sosilasisasi PT.
Sumber Karindo Sakti yang diberikan kepada pekerja masih sangat kurang, ini bisa dilihat dari tingginya kecelakaan kerja yang dialami pekerja. Tidak adanya job safety analysis (JSA) menjadi kendala utama yang menyebabkan tingginya risiko kecelakaan yang terjadi, karena tidak adanya JSA, pekerja tidak menyadari risiko apa yang terjadi d tempat kerja. Untuk menghindari kecelakaan kerja yang lebih banyak dapat dilakukan sosialisasi secara berkala, terutama membuat JSA
ditempat kerja agar pekerja memahami bahaya dan risiko apa yang ada ditempat kerja, memasang intruksi penggunaan alat dan intruksi kerja.
5.3.2 Hubungan Faktor Pengawasan dengan Kecelakaan Kerja
Menurut pendapat Siregar (2014) yang mengutip pendapat J.M Black, dalam menyatakan bahwa supervise atau pengawasan adalah suatu pekerjaan yang berarti mengarahkan yaitu memberi tugas, menyediakan intruksi, pelatihan dan nasihat kepada individu juga termasuk mendengarkan dan memecahkan masalah yang berhubungan dengan pekerjaan serta menanggapi keluhan bawahan.
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.10 dari 28 orang responden yang pernah mengalami kecelakaan kerja, dapat dilihat bahwa pekerja yang termasuk dalam kategori pengawasan rendah lebih banyak yang pernah mengalami kecelakaan kerja dari pada pekerja dalam kategori pengawasan tinggi.
Berdasarkan hasil uji chi-square pearson di atas, diperoleh nilai P Value= 0,041≤
0,05, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengawasan dengan kecelakaan kerja. Dengan demikian, hipotesis terbukti dengan ditemukannya hubungan bermakna antara pengawasan dengan kecelakaan kerja.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Siregar (2014) hasil uji chi-square menunjukkan bahwa adanya hubungan antara pengawasan dengan kecelakaan kerja dimana P value 0,020. Pengawasan yang dilakukan mandor pada PT.
Sumber Karindo Sakti masih belum berjalan dengan baik pengawas kurang memperhatikan kelengkapan penggunaan APD pada pekerja, hal ini terjadi karena mandor yand ada di area pabrik kurang displin dan tegas dalam
pihak managemen harus melakukan evaluasi dan mengadakan pembicaraan dan juga pelatihan kepada mandor agar bekerja dengan lebih displin dan tegas dalam mengawasi pekerja dalam bekerja.
5.4 Hubungan Lingkungan Kerja dengan Kecelakaan Kerja di PT.
Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.11 dari 28 orang responden yang pernah mengalami kecelakaan kerja, dapat dilihat bahwa pekerja yang menjawab tidak kondusifnya lingkungan kerja lebih banyak yang pernah mengalami kecelakaan kerja daripada pekerja yang menjawab lingkungan kondusif.
Berdasarkan hasil uji chi-square pearson di atas, diperoleh nilai P Value= 0,011≤
0,05, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara lingkungan kerja dengan kecelakaan kerja. Dengan demikian, hipotesis terbukti dengan ditemukannya hubungan bermakna antara lingkungan kerja dengan kecelakaan kerja.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Saragih (2014), pada karyawan PT.
Global di Desa Simanabun Kecamatan Silau Kahean Kabupaten Simalungun Tahun 2013.hasil uji chi-square menunjukkan bahwa adanya hubungan antara pengawasan dengan kecelakaan kerja dimana P value 0,019.
Menurut penelitian Afini dkk (2012), menyatakan, suhu di tempat kerja yang panas dapat menjadi faktor risiko terjadinya kecelakaan di tempat kerja.
Karena suhu yang dirasa tidak nyaman akan mempengaruhi kondisi fisik pekerja.
Menurut Afini, dkk (2012), yang mengutip pendapat Suma’mur, menyatakan bahwa suhu panas berakibat menurunkan potensi kerja pekerja,mengurangi
kelincahan, memperpanjang waktu reaksi dan memperlambat waktu pengambilan keputusan, mengganggu kecermatan kerja otak, mengganggu koordinasi syaraf perasa dan motoris, serta memudahkan emosi untuk dirangsang memungkinkan terjadinya kecelakaan kerja.
Lingkungan kerja di PT. Sumber Karindo Sakti sudah cukup bagus dengan kondisi pabrik yang cukup bersih. Sampah kayu, sampah sisa gergaji dan pemotongan secaa berkala di angkut ke tempat pembuangan setiap harinya.
Namun, ventilasi dan pencahayaan masih kurang dalam menerangi pekerja saat bekerja dengan memakai mesin, sehingga kecelakaan kerja sering terjadi di pabrik produksi. Selain itu kondisi pabrik yang lembab dan panas juga daapat menyebabkan kejadian kecelakaan kerja, karan suhu yang panas membuat tubuh tidak nyaman dalam bekerja, mengurangi kelincahan, memperlambat waktu pengambilan keputusan, mengganggu kecermatan kerja otak, mengganggu koordinasi syaraf perasa dan motoris, serta memudahkan emosi, sehingga pekerja tidak dapat berkonsentrasi dan dapat menyebabkan kejadian kecelakaan kerja.
Lingkungan kerja yang kondusif dapat mencegah terjadinya kecelakaan kerja serta dapat menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman bagi semua pekerja yang ada. Sebaliknya lingkungan kerja yang tidak kondusif akan mendorong meningkatnya kecelakaan kerja. Upaya yang dapat dilakukan oleh pihak perusahaan dan manajemen untuk mengendalikan kecelakaan kerja salah satunya adalah dengan mengontrol lingkungan kerja secara berkala, membuat ventilasi yang sesuai dengan luas ruangan sehingga suhu tempat kerja tidak terlalu
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraiakan pada bab sebelumnya, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut.
1. Ada hubungan antara variabel faktor pekerja (pengetahuan, sikap, dan kepatuhan terhadap prosedur) dengan kecelakaan kerja pada pekerja PT.
Sumber Karindo Sakti.
2. Ada hubungan antara variabel faktor manajemen (sosialisasi K3, dan pengawasan) dengan kecelakaan kerja pada pekerja PT. Sumber Karindo Sakti.
3. Ada hubungan antara variabel faktor lingkungan kerja dengan kecelakaan kerja pada pekerja PT. Sumber Karindo Sakti.
6.2 Saran
1. Memberikan sosialisasi tentang pentingnya penggunaan APD yang lengkap untuk menghindari dan memperkecil resiko kecelakaan kerja yang bisa terjadi, termasuk memberikan brefing setiap pagi tentang cara kerja, bahaya dan risiko ditempat kerja. Memberikan arahan kepada mandor/ asisten pabrik agar lebih displin dan tegas dalam mengawasi pekerja.
2. Menambah luas ventilasi atau memasang beberapa exhaust fan agar udara mengalir dan suhu pabrik tidak panas dan sesuai dengan suhu lingkungan kerja.
DAFTAR PUSTAKA
Anizar. 2009. Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Industri. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Arifin, Z. 2005. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kecelakaan Kerja Pada Karyawan Tetap Dan Karyawan Subkonraktor Di PT.
Bukaka Teknik Utama Cileungsi Bogor Tahun 2005. Depok : Skripsi UI.
BPJS. Jumlah Kecelakaan Kerja di Indonesia Masih Tinggi.
http://www.bpjsketenagakerjaan.go.id/berita/5769/Jumlah-kecelakaan-kerja-di-Indonesiamasih-tinggi.html. Diakses 10 November 2017.
Charles A, Chaozong W, Emanuel O, and Godwin Y. 2016. Safety and Health Perceptions in Work-related Transport Activities in Ghanaian Industries. Safety and health at work xxx. 1-8.
Depkes RI. 1992. Undang-Undang Kesehatan RI Pasal 23 Tentang Kesehatan Kerja . Jakarta.
Hadiguna, R. A., 2009. Manajemen Pabrik: Pendekatan Sistem untuk Efisiensi dan Efektivitas. Bumi Aksara, Jakarta.
Handayani, E.E, dkk. 2010. Hubungan Antara Penggunaan Alat Pelindungdiri, Umur Dan Masa Kerja Dengan Kecelakaankerja Pada Pekerja Bagian Rustic di PT. Borneomelintang Buana Eksport,Yogyakarta. Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta;2010.
Henni, Y. 2011. Improving Our Safety Culture. Jakarta : Gramedia.
Hiperkes. 2008. Keselamatan Kerja. Diakses dari http://hiperkes.wordpress.com pada tanggal 18 oktober 2010
ILO. Encyclopedia of Occupational Health and Safety. Volume 1-4. 4th edition.
Stellman, Jeanne Mager (ed). Geneva 1998. Diakses dari http://www.ilo.org/safework_bookshelf pada tanggal 18 oktober 2017 Notoatmodjo, S. 2007.Kesehatan Masyarakat, Ilmu dan Seni. Jakarta: penerbit
rineka cipta.
Oktiani, E. 2017. Sertifikasi Legalitas Kayu Bikin Tren Export Meningkat.
https://ekbis.sindonews.com/read/1176191/34/sertifikasi-legalitas-kayu-bikin-tren-ekspor-meningkat-1485951640. Diakses 15 Oktober 2017.
Pardede, S. 2017. Faktor Yang Berhubungan Degan Kecelakaan Kerja Pada
Peraturan Mentri Tenaga Kerja RI Nomor: 03/MEN/1998 Tentang Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan.
Rajagukguk, J. 2009. Gambaran Kecelakaan Kerja Pada Pekerja Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit PTPN IV Kebun Bah Jambi Tahun 2006-2008. Skripsi Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (USU).
Ramli, S, 2009. System Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, paduan penerapan berdasarkan OHSAS18001 dan permenaker 05/1996.
Rudyarti, E. 2017. Hubungan Pengetahuan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Dan Sikap Penggunaan Alat Pelindung Diri Dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Pada Pengrajin Pisau Batik di PT. X . Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health. Vol. 2, No. 1, Oktober 2017.
Universitas Darussalam Gontor.
http://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/JIHOH. Diakses 16 Maret 2018.
Ruhyandi Dan Evi Candra. 2008. Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Perilaku Kepatuhan Penggunaan APD Pada Karyawan Bagian Press Shop di PT. Almasindo Kabupaten Bandung Barat Tahun 2008. Ilmu Kesehatan Masyarakat Stikes Jendral Ahmad Yani Cimahi. Cimahi; 2008.
http://stikesayani.ac.id/publikasi/e-journal/filesx/2009/200904/200904-004.pdf. Diakses 16 maret 2018.
Salawati, L. 2009. Hubungan Perilaku, Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan Terjadinya Kecelakaan Kerja di Laboratorium Patologi Klinik Rumah Sakit Umum Dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh Tahun 2009. Tesis. Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara, Medan; 2009.
http://www.academia.edu/download/40814511/09E02292.pdf. Diakses 10 november 2017
Saragih, F., 2014. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tindakan Tidak Aman Pada Pekerja Lapangan PT. TELKOM Cabang Sidikalang Kabupaten Dairi Tahun 2014. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, Medan; 2014.
Sari, U.F. Pengaruh Lingkungan Kerja Dan Kemampuan Terhadap Kinerja Karyawan PT. Darmasindo Inti Karet Tebing Tinggi. Skripsi. Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Medan; 2016.
Sarwono, P. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.
Silalahi B.N.B dan R.B.Silalahi. 1995. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta
Siregar, S. 2014. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kecelakaan RIngan Di PT. Aqua Golden Mississippi Bekasi Tahun 2014. Jakarta : Skripsi UINSH.
Suardi, R. 2007. Sistem Manajemen dan Kesehatan dan Keselamatan Kerja.Jakarta : PPM.
Sucipto, C.D. 2014. Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta : Gramedia Suma’mur, P.K. 1987. Keselamatan Kerjadan Pencegahan Kecelakaan, Haji
Masagung, Jakarta.
Suma’mur, P.K. 1996. Hygiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Cetakan Pertama CV. Haji Mas Agung. Jakarta
Suma’mur, P.K. 2009. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (HIPERKES). Agung Seto. Jakarta.
Undang-Undang RI Nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
Undang-Undang RI Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenaga kerjaan.
Wibisono, B.2013. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecelakaan Kerja Pada Pekerja Tambang Pasir Gali di Desa Pegiringan Kabupaten Pemalang Tahun 2013. Jurnal Fakultas Kesehatan, Universitas Dian Nuswantoro Semarang;2013.
http://mahasiswa.dinus.ac.id/docs/skripsi/abstrak/13981.pdf. Diakses 10 November 2017.
Yuniarti, R. 2006. Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kecelakaan Kerja Di PT. Indo Bharat Rayon Purwakarta Tahun 2006. Depok : Skripsi UI.
Yustini, C.N. 2009. Gambaran Kecelakaan Kerja di PT SOCFINDO Kebun Seunagan Kabupaten Nagan Raya. Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Universitas Sumatera Utara, Medan.
Lampiran 1
KUESIONER PENELITIAN
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KECELAKAAN KERJA PADA PEKERJA DI PT. SUMBER KARINDO SAKTI TEBING TINGGI
A. Identitas Responden 1. Nama :
2. Usia/TTL :
B. Pengalaman Kecelakaan Kerja
3. Dalam 6 bulan terakhir pada saat bekerja apakah anda pernah mengalami kejadian yang mengganggu proses kerja?
a. Iya b.. Tidak
(Jika tidak pernah lanjut ke pertanyaan C)
4. Apabila pernah, jenis kejadian apa yang anda alami?
a) Tertusuk kayu
b) Kemasukan debu kayu c) Tertimpa kayu
d) Terkena mesin potong
e) Lain-lain, sebutkan _____________________