• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.2 Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah pekerja sebanyak 67 pekerja yang dihitung menggunakan rumus mencari sampel slovin.

N = 200 / 1 + 200(0.1)2 = 66.66 Dimana :

 n: jumlah sampel

 N: jumlah populasi

 e: batas toleransi kesalahan (error tolerance)

teknik pengambilan sampel dengan cara sample random sampling 3.4 Metode Pengumpulan Data

3.4.1 Data Primer

Data primer diperoleh dari hasil pengisian kuesioner yang dibagikan kepada karyawan lapangan yang meliputi data pekerja ( usia, lama, kerja, pengetahuan, sikap, kepatuhan terhadap prosedur), manajemen ( kebijakan manjemen termaksud reward dan punishment, sosialisasi k3 dan pengawasan) serta lingkungan kerja, dan kecelakaan kerja yang dialami pekerja.

3.4.2 Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari perusahaan yang meliputi data kecelakaan kerja yang terjadi dalam 6 bulan terakhir pedoman K3 serta pengambilan dokumen penerapan program K3 yang sedang berjalan.

3.5 Definisi Opersional

1. Kecelakaan kerja adalah kejadian yang dialami oleh responden yang menimbulkan luka/cidera selama 6 bulan terakhir saat melakukan pekerjaan.

2. Usia adalah lama waktu hidup pekerja yang dihitung dalam tahun.

3. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui oleh pekerja lapangan kerja tentang kecelakaan kerja, kebijakan K3 dan SOP.

4. Sikap adalah respon dari pekerja/responden tentang kecelakaan kerja, SOP, kebijakan K3.

5. Kepatuhan terhadap prosedur adalah tindakan pekerja untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan peraturan atau prosedur kerja yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

6. Sosialisasi K3 adalah pemberian informasi, pemberian petunjuk mengenai keselamatan dan kesehatan kerja melalui media cetak di tempat kerja.

7. Pengawasan adalah tindak pemantauan yang dilakukan oleh pihak manajemen agar pekerja melakukan pekerjaan sesuai dengan peraturan atau prosedur kerja yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

8. Lingkungan kerja adalah kondisi lingkungan kerja yang berpotensi menyebabkan kecelakaan kerja seperti housekeeping, ventilasi, pencahayaan, dan kebisingan.

3.6 Aspek Pengukuran

Aspek pengukuran dalam penelitian ini berdasarkan masing-masing variabel penelitian, yaitu :

1. Kecelakaan Kerja

0 = Apabila responden menjawab ya; maka dikategorikan pernah

1 = Apabila responden menjawab tidak; maka dikategorikan tidak pernah Keterangan : pernah = sudah menjalani/mengalami

2. Pengetahuan

0 = Jika jawaban responden tidak pada aspek pengukuran pengetahuan 1 = Jika jawaban responden iya pada aspek pengukuran pengetahuan Keterangan : Rendah bila ≤ nilai mean (4,3)

Tinggi bila > nilai mean (4,3) 3. Sikap

0 = Bila jawaban responden tidak pada aspek pengukuransikap 1 = Bila jawaban responden iya pada aspekengukuran sikap Keterangan : Negatif bila ≤ nilai mean (4,1)

Positif bila > nilai mean (4,1) 4. Kepatuhan terhadap prosedur

0 = Bila jawaban responden tidak pada aspek pengukuran kepatuhan 1 = Bila jawaban responden iya pada aspek pengukuran kepatuhan Keterangan : Tidak patuh bila ≤ nilai mean (2)

Patuh bila > nilai mean (2)

5. Sosialisasi K3

0 = Bila jawaban responden tidak pada aspek pengukuran sosialisasi 1= Bila jawaban responden iya pada aspek pengukuran sosialisasi Keterangan : Rendah bila ≤ nilai mean (5,3)

Tinggi bila > nilai mean (5,3) 6. Pengawasan

0 = Bila jawaban responden tidak pada aspek pengukuran pengawasan 1 = Bila jawaban responden iya pada aspek pengukuran pengawasan Keterangan : Rendah bila ≤ nilai mean (3,2)

Tinggi bila > nilai mean (3,2) 7. Lingkungan kerja

0 = Bila jawaban responden tidak pada aspek pengukuran lingkungan kerja 1 = Bila jawaban responden ya pada aspek pengukuran lingkungan kerja Keterangan : Tidak kondusif bila ≤ nilai mean (3,2)

Kondusif > nilai mean (3,2) 3.7 Teknik Analisa Data

3.7.1 Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan secara manual dan komputer dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Editing (Pemeriksaan Data)

Editing dilakukan untuk memeriksa kelengkapan jawaban atas pertanyaan. Editing meliputi hasil wawancara dan kuesioner atau pengamatan dari lapangan. Secara

umum editing merupakan kegiatan untuk pengecekan kembali serta perbaikan isian formulir atau kuesioner tersebut, yaitu :

a. Apakah lengkap jawaban atau tulisan dari masing-masing pertanyaan.

b. Apakah jawabannya relevan dan relevan dengan pertanyaan yang ada.

2. Coding (Pemberian Kode)

Setelah semua kuesioner yang diedit, selanjutnya adalah dilakukan pemberian “kode” sesuai dengan kategorinya yakni mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan.

3. Data Entry (Entri Data)

Data yang akan dimaksukkan adalah jawaban-jawaban dari masing responden yang telah diubah dalam bentuk “kode” (angka atau huruf) kemudian dimasukkan ke dalam program attau software yang digunakan yaitu SPSS for Windows.

4. Data Cleaning (Pembersihan Data)

Apabila semua data dari setiap responden telah selesai dimasukkan, maka perlu diperiksa kembali untuk melihat kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan dan sebagainya dan proses pembetulan atau koreksi ini disebut dengan pembersihan data (data cleaning).

5. Tabulating (Tabulasi)

Tahap ini dilakukan untuk mempermudah analisis data dan pengolahan data serta pengambilan kesimpulan dan dimasukkan dalam distribusi frekuensi.

3.7.2 Analisis Data 1) Univariat

Analisis univariat dilakukan terhadap variabel penelitian untuk memberikan gambaran umum terhadap data hasil penelitian. Penggambaran tersebut mengenai gambaran distribusi frekuensi dan presentasi dari setiap variabel yang diamati kemudian disajikan dalam bentuk tulisan, tabel. Variabel yang diteliti adalah variabel dependen dan independen. Variabel independen yang diuji adalah faktor pekerja (usia, lama kerja, pengetahuan, sikap, kepatuhan terhadap prosedur), faktor manajemen (kebijakan manajemen (reward and punishment), sosialisasi K3, pengawasan), dan faktor lingkungan (housekeeping), sedangkan variabel dependen adalah kecelakaan kerja.

2) Bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk medapatkan informasi ada tidaknya hubungan variabel independen dengan variabel dependen. Analisis bivariat dalam penelitian ini dengan uji Chi Square dengan melihat hubungan antara variabel kategorik independen dengan variabel kategorik dependen. Tingkat kepercayaan pada penelitian ini sebesar 95% dengan nilai α 0,05. Jika Pvalue> 0,05, maka Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti tidak ada hubungan antara kedua variabel.

Sebaliknya jika P value ≤ 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima berarti terdapat hubungan antara kedua variabel (Siregar, 2014).

BABA IV HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Wilayah Penelitian 4.1.1 Profil Perusahaan

PT. Sumber Karindo Sakti adalah suatu perusahaan yang bergerak dibidang woodworking (perkayuan) dan sawmilling (penggergajian) yang terletak di JL. Pagurawan KM. 11 kota Tebing Tinggi. PT. Sumber Karindo Sakti berlokasi didaerah yang jauh dari perkotaan sehingga suasana di perusahaan aman, tenang, dan terhindar dari hiruk – pikuk keramaian lalu lintas. PT. Sumber Karindo Sakti merupakan salah satu perusahaan wood working dan sawmilling yang terbesar di sumatera utara..

PT. Sumber Karindo Sakti didirikan oleh 3 pemilik saham yaitu: PT. PP Berdikari, PT. Karya Kayoe – Kayoe Indonesia, PT. Gemah Karya Pratama Nusantara. PT. Sumber Karindo Sakti mengolah kayu pinus dan kayu karet menjadi produk moulding, fingerjoint, laminated board, dan furniture component. Produksi pertama dilakukan pada april 1998. Pasar utama produk kayu ini adalah dieksport ke Jepang.

4.1.2 Gambaran Umum Proses Produksi

Kegiatan di pabrik pada saat ini adalah dalam tahap produksi. Bahan baku pabrik yaitu kayu pinus dan kayu karet yan disuplai oleh PTP, hutan rakyat, Sucofindo, dan Lonsum untuk kayu karet. Detail proses pengolahan yaitu :

1. Penyediaan bahan baku; Penyediaan bahan baku diperolehdari

berbagai pemasok yang berasal dari PTP, samosir, Aceh, Sucofindo, Lonsum, dan tarutung berupa log – log kayu.

2. Pembelahan; Log kedusian dibelah dengan ketebalan tertentu menjadi balok – balok kayu.

3. Pemilihan; Balok – balok kayu yang telah dibelah kemudian dipilih sesuai dengan kualitasnya.

4. Pembelahan; kayu yang telah di pilih kemudian dibelah sesuai dengan ukuran yang di dibutuhkan.

5. Pengawetan; kayu yang telah dibelah selanjutnya diawetkan dengan larutan kimia.

6. Pengeringan; setelahproses pengawetan selanjutnya kayu dikeringkan 7. Pengetaman s2s; kayu selanjutnya diketam dikedua sisinya.

8. Pembelahan; selanjutnya kayu dibelah lagi untuk penyeragaman.

9. Pengetaman S4S; kayu diketam keempat sisinya agar menghasilkan kayu yang halus diempat sisinya.

10. Pemilihan; kayu dipilih sesuai dengan kualitasnya.

11. Pengemasan; proses akhir dari prosuksi kayu adalah pengemasan kayu untuk dipasarkan.

4.2 Analisis Univariat

4.2.1 Gambaran Umum Faktor Pekerja di PT. Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi

Distribusi responden pada faktor pekerja di PT. Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi dapat dilihat pada table 4.1. berikut.

Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Faktor Pekerja di PT. Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi

3. Kepatuhan Terhadap SOP

Tidak Patuh 34 50,7

Patuh 33 49,3

Total 67 100,0

Berdasarkan tabel 4.1, dapat diketahui bahwa responden pada kategori pengetahuan yang pengetahuan rendah berjumlah 39 orang (58,2%) dan yang termasuk dalam kategori pengetahuan tinggi berjumlah 28 orang (41,8%). Pada kategori sikap respon negatif lebih banyak yaitu berjumlah 38 orang (56,7%) dan yang termasuk dalam kategori sikap positif berjumlah 29 orang (43,3%). Respon kepatuhan pada tabel 4.2. dapat diketahui bahwa responden yang termasuk dalam kategori tidak patuh lebih banyak yaitu berjumlah 34 orang (50,7%) dan yang termasuk dalam kategori patuh berjumlah 33 orang (49,3%).

4.2.2 Gambaran Umum Faktor Manajemen di PT. Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi

Distribusi responden pada faktor manajemen di PT. Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi dapat dilihat pada table 4.2 berikut.

Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Faktor Manajemen di PT.

Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi

No. Faktor Manajemen Jumlah Presentase

1. Sosialisasi K3

ada 32 47,8

Tidak ada 35 52,2

Total 67 100,

2. Pengawasan

ada 32 47,8

Tidak ada 35 52,8

Total 67 100

Berdasarkan tabel 4.2, dapat dilihat bahwa responden yang menjawab sosialisasi K3 rendah sebanyak 32 orang (47,8%) dan responden yang menjawab sosialisasi K3 tinggi sebanyak 35 orang (52,2%). pada tabel 4.3. dapat dilihat bahwa lebih banyak responden yang menjawab rendahnya pengawasan yaitu sebanyak 32 orang (47,8%), dan responden yang menjawab pengawasan tinggi sebanyak 35 orang (52,2%).

4.2.3 Gambaran Umum Lingkungan Kerja di PT. Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi

Distribusi responden pada faktor lingkungan kerja di PT. Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi dapat dilihat pada tabel 4.3. berikut.

Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Lingkungan Kerja di PT.

Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi

No. Lingkungan Kerja Jumlah Presentase

Tidak Kondusif 32 47,8

Kondusif 35 52,2

Total 67 100,0

Berdasarkan tabel 4.3, dapat dilihat bahwa responden yang menjawab bahwa lingkungan kerja tidak kondusif sebanyak 32 orang (47,8%) dan responden yang menjawab lingkungan kerja kondusif sebanyak 35 orang (52,2%).

4.2.4 Gambaran Umum Kecelakaan Kerja di PT. Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi

Distribusi kecelakaan kerja di PT. Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi dapat dilihat dari tabel 4.4. berikut.

Tabel 4.4 Distribusi Kecelakaan Kerja di PT. Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi

No. Kecelakaan Kerja Jumlah Presentase

1. Ya 28 41,8

2. Tidak 39 58,2

Total 67 100,0

Berdasarkan tabel 4.4, diketahui bahwa responden yang tidak mengalami kecelakaan kerja dalam 6 bulan terakhir sebanyak 39 orang (58,2%) dan yang mengalami kecelakaan kerja dalam 6 bulan terakhir sebanyak 28 orang (41,8%).

Tabel 4.5 Distribusi Responden Berdasarkan usia Pekerja di PT. Sumber

Berdasarkan tabel 4.5, dapat diketahui bahwa responden yang memiliki usia dibawah atu samam dengan 43 tahun sebanyak 32 orang (47,8%) dan yang memiliki usia diatas 43 tahun sebanyak 35 orang ( 52,2%), usia 43 tahun diambil dari nilai median usia seluruh pekerja.

4.3 Analisis Bivariat

4.3.1 Hubungan Faktor Pekerja dengan Kecelakaan Kerja di PT. Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi

Hubungan faktor pekerja dengan kejadian kecelakaan kerja di PT. Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.6 Hubungan Faktor Pengetahuan dengan Kecelakaan Kerja di PT.Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi

Faktor Pekerja Kecelakaan

Berdasarkan pada table 4.6, diketahui bahwa 21 orang (53,8%) yang berpengetahuan rendah pernah mengalami kecelakaan kerja, berpengetahuan tinggi sebanyak 7 orang (25,0%) sedangkan yang berpengetahuan rendah tidak mengalami kecelakaan kerja sebanyak 18 orang (46,2%) dan 21 orang (75,0%) pada responden berpengetahuan tinggi. Hasil uji Chi-Square menunjukan ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kecelakaan kerja. (Pvalue 0,035).

Tabel 4.7 Hubungan Faktor sikap dengan Kecelakaan Kerja di PT. Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi

Berdasarkan pada table 4.7, diketahui pekerja yang perna mengalami kecelakaan kerja pada kategori sikap negative sebanyak 21 orang (55,3%) dan pada kategori sikap positif sebanyak 7 orang ( 24,1%) sedangkan pekerja yang tidak mengalami kecelakaan kerja pada kategori sikap negatif sebanyak 17 orang (44,7%) dan sikap positif sebanyak 22 orang (75,9). Hasil uji Chi-Square menunjukan ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan kecelakaan kerja.

(Pvalue 0,021).

Tabel 4.8 Hubungan Faktor kepatuhan dengan Kecelakaan Kerja di PT.

Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi

Faktor Pekerja Kecelakaan

Kerja

Total p

Ya Tidak

N % n % n %

Kepatuahan

Tidak Patuh 19 55,9 15 44,1 34 100,0 0,034

Patuh 9 27,3 24 72,7 33 100,0

Berdasarkan pada table 4.8, diketahui bahwa 19 orang (55,9%) pada kategori tidak patuh perna mengalami kecelakaan kerja dan kategori patuh sebanyak 9 orang (27,3%) sedangkan pada kategori tidak patuh yang tidak mengalami kecelakaan kerja sebanyak 15 orang (44,1 %) dan 24 orang (72,7 %) pada kategori patuh. Hasil uji Chi-Square menunjukan ada hubungan yang bermakna antara kepatuhan terhadap prosedur dengan kecelakaan kerja. (Pvalue 0,034).

4.3.2 Hubungan Faktor manajemen dengan Kecelakaan Kerja di PT.

Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi

Hubungan faktor manajemen dengan kejadian kecelakaan kerja di PT.

Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.9 Hubungan Faktor Sosialisasi K3 dengan Kecelakaan Kerja di PT.

Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi

Faktor Manajemen Kecelakaan Kerja Total P

Ya Tidak

N % N % N %

Sosialisasi K3

Ada 18 56,3 14 43,8 32 100,0 0,041

Tidak ada 10 28,6 25 71,4 35 100,0

Berdasarkan tabel 4.9, diketahui bahwa pekerja yang mengalami kecelakaan kerja sebanyak 18 orang (56,3%) pada kategori sosialisasi k3 rendah dan pada kategori sosialisasi tinggi sebanyak 10 orang (28,6%) sedangkan pada kategori sosialisasi rendah yang tidak mengalami kecelakaan kerja sebanyak 14 orang (43,8%) sebanyak 25 orang (71,4%) pada kategori sosialisai tinggi. Hasil uji Chi-Square menunjukan ada hubungan yang bermakna antara sosialisasi K3 dengan kecelakaan kerja. (Pvalue 0,041).

Tabel 4.10 Hubungan Faktor Pengawasan dengan Kecelakaan Kerja di PT.Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi

Faktor Manajemen Kecelakaan Kerja Total P Value

Ya Tidak

N % N % N %

Pengawasan

Ada 17 56,3 15 43,8 32 100,0 0,041

Tidak ada 10 28,6 25 71,4 35 100,0

Berdasarkan pada table 4.9, diketahui bahwa 17 orang (56,3%) pada kategori rendah perna mengalami kecelakaan kerja, pengawasan tinggi sebanyak 10 orang (28,6%) sedangkan yang pengawasan rendah tidak mengalami kecelakaan kerja sebanyak 15 orang (43,8%) dan 25 orang (71,4%) pada responden berpengetahuan tinggi. Hasil uji Chi-Square menunjukan ada hubungan yang bermakna antara pengawasan dengan kecelakaan kerja. (Pvalue 0,41).

4.3.3 Hubungan Lingkungan Kerja dengan Kecelakaan Kerja di PT.

Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi.

Hubungan lingkungan kerja dengan kejadian kecelakaan kerja di PT.

Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.11 Hubungan Lingkungan Kerja dengan Kecelakaan Kerja di PT.

Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi.

Lingkungan Kerja

Kecelakaan Kerja Total P

Ya Tidak

N % N % N %

Tidak Kondusif 19 59,4 13 40,6 32 100,0 0,011

Kondusif 9 25,7 26 74,3 35 100,0

Berdasarkan pada table 4.11, diketahui bahwa 19 orang (59,4%) pada kategori lingkungan kerja tidak kondusif perna mengalami kecelakaan kerja, pada lingkungan kerja kondusif sebanyak 9 orang (25,7%) sedangkan pada kategori lingkungan kerja tidak kondusif yang tidak mengalami kecelakaan kerja sebanyak 13 orang (40,6%) dan 26 orang (74,3%) pada lingkungan kerja kondusif. Hasil uji Chi-Square menunjukan ada hubungan yang bermakna antara lingkungan kerja dengan kecelakaan kerja. (Pvalue 0,011).

BAB V PEMBAHASAN

Dalam pembahasan ini akan difokuskan akan hal-hal yang berkaitan dengan tujuan penelitian. Pada bab sebelumnya bahwa tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan terjadinya kecelakaan kerja pada pekerja di PT. Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi.

Berdasarkan hasil uji chi-square bahwa faktor yang berhubungan dengan kecelakaan kerja adalah pengetahuan, sikap, kepatuhan terhadap prosedur, sosialisasi K3, pengawasan dan lingkungan kerja.

5.1 Kecelakaan Kerja

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.4 dapat dilihat bahwa kecelakaan kerja di PT. Sumber Karindo Sakti adalah sebanyak 28 kasus. Jenis kecelakaan kerja yang sering terjadi seperti kaki tertimpa kayu sebanyak 6 pekerja, mata terkena debu kayu sebanyak 9 pekerja, tertusuk serpihan kayu sebanyak 7, terjepit mesin press sebanyak 3 pekerja dan ujung tangan terkena mesin potong sebanyak 3 pekerja. Walapun kejadian kecelakaan kerja yang terjadi masih dalam kategori ringan tetapi hal ini tetap menjadi perhatian bagi perusaha karena kejadian yang kecil jika tidak diidentifikasi maka akan jadi lebih berat. Berdasarkan penelitian Bird (1998) dalam Siregar (2014) suatu kejadian kecelakan fatal, biasanya didahului dengan adanya 10 kali kecelakaan ringan. Dan 10 kecelakan ringan itupun sebelumnya juga didahului oleh adanya 30 kecelakaan yang mengakibatkan rusaknya peralatan. Sedangkan 30 kecelakan yang berakibat

Kecelakaan ringan yang terjadi disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor pekerja, faktor manajemen dan faktor lingkungan kerja. Penelitian tersebut sesuai dengan teori dari ILO yang menyatakan bahwa penyebab kecelakaan kerja adalah faktor pekerja, faktor manajemen dan faktor lingkungan kerja (Siregar, 2014).

Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat pekerja yang memiliki pengetahuan rendah lebih banyak yang pernah mengalami kecelakaan kerja daripada pekerja yang memiliki pengetahuan tinggi, pekerja yang memiliki sikap negatif dalam bekerja lebih banyak yang pernah mengalami kecelakaan kerja daripada pekerja yang memiliki sikap positif dalam bekerja, pekerja yang tidak patuh terhadap prosedur saat bekerja lebih banyak yang pernah mengalami kecelakaan kerja daripada pekerja yang patuh terhadap prosedur saat bekerja.

Pekerja yang menjawab rendahnya sosialisasi K3 lebih banyak yang pernah mengalami kecelakaan kerja daripada pekerja yang menjawab tingginya sosialisasi K3, pekerja yang menjawab rendahnya pengawasan lebih banyak yang pernah mengalami kecelakaan kerja daripada pekerja yang menjawab tingginya pengawasan. Pekerja yang menjawab tidak kondusifnya lingkungan kerja lebih banyak yang pernah mengalami kecelakaan kerja daripada pekerja yang menjawab kondusifnya lingkungan kerja

5.2 Hubungan Faktor Pekerja dengan Kecelakaan Kerja di PT. Sumber Karindo Sakti Tebing Tinggi

5.2.1 Hubungan Pengetahuan Dengan Kecelakaan Kerja

Menurut pendapat pardede (2017) yang mengutip pendapat Green, menyatakan bahwa pengetahuan merupakan salah satu faktor penting dalam memotivasi seseorang dalam bertindak. Menurut Siregar (2014) dalam ILO, pengetahuan yaitu pemahaman pekerja mengenai tipe-tipe risiko yang terdapat di tempat kerja, sumber pajanan dan faktor-faktor berbahaya yang berpotensi menyebabkan terjadinya kerusakan atau cedera, sesuai dengan tugasnya. Semakin rendahnya pengetahuan seseorang, maka akan semakin tinggi tindakan tidak aman yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Semakin positif perilaku yang dilakukan akan mampu menghindari kejadian yang tidak diinginkan (Siregar, 2014).

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.6 dari 28 orang responden yang pernah mengalami kecelakaan kerja, dapat dilihat bahwa pekerja yang termasuk dalam kategori pengetahuan rendah lebih banyak yang pernah mengalami kecelakaan kerja daripada pekerja yang termasuk dalam kategori pengetahuan tinggi. Berdasarkan hasil uji chi-square pearson di atas, diperoleh nilai P Value=

0,035≤ 0,05, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang nyata antara pengetahuan dengan kecelakaan kerja. Dengan demikian, hipotesis terbukti dengan ditemukannya hubungan bermakna antara pengetahuan dengan kecelakaan kerja.

Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa pengetahuan pekerja yang rendah cenderung mengakibatkan kecelakaan kerja, salah satu yang menjadi penyebab kecelakaan tersebut adalaha rendahnya pengetahuan pekerja akan pentingnya penggunaan APD untuk mencegah kecelakaan kerja. Pekerja merasa penggunaan APD tidak terlalu penting dan dapat mengganggu pekerjaan para pekerja, sehingga pekerja tidak menggunakan APD seperti sarung tangan pada saat bekerja dan hanya menggunakan masker saja pada sebagian pekerja.

Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Rudyarti (2017) dimana terdapat hubungan antara pengetahuan K3 dengan kecelakaan kerja pada pekerja pengrajin pisau batik di PT X dengan nilai P 0,026.

Menurut pendapat Rudyarti (2017) dalam Pusat Kesehatan Kerja, mengungkapkan bahwa masalah penyebab kecelakaan yang paling besar yaitu faktor manusia karena kurangnya pengetahuan, kurangnya ketrampilan, kurangnya kesadaran dari pimpinan dan tenaga kerja untuk melaksanakan peraturan perundangan K3.

Menurut pendapat Siregar (2014) yang mengutip pendapat Westerman dan Donoghue, menyatakan bahwa cara pengembangan pengetahuan dan sikap yang diperlukan seseorang untuk melaksanakan tugas atau pekerjaannya secara memadai adalah dengan melakukan pelatihan yang rutin. Akan tetapi sebaiknya perusahan memberikan test terkait materi pelatihan sebelum dan sesudah dilakukan pelatihan kepada seluruh pekerjan hal ini dimaksudkan agar perusahaan dapat mengukur apakah pelatihan yang dilakukan efektif atau

5.2.2 Hubungan Sikap Dengan Kecelakaan Kerja

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.7 dari 28 orang responden yang pernah mengalami kecelakaan kerja, dapat dilihat bahwa pekerja yang termasuk dalam kategori sikap negatif banyak yang pernah mengalami kecelakaan kerja dari pada pekerja dengan sikap positif. Berdasarkan hasil uji chi-square pearson di atas, diperoleh nilai P Value= 0,021≤ 0,05, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sikap dengan kecelakaan kerja. Dengan demikian, hipotesis terbukti dengan ditemukannya hubungan bermakna antara sikap dengan kecelakaan kerja.

Dari hasil penelitian dari 67 pekerja terdapat 28 pekerja yang pernah mengalami kecelakaan kerja dan pekerja dengan sikap negatif yang perna mengalami kecelakaan kerja sebanyak 21 orang pekerja, ini menandakan bahwa semakin negatif sikap maka kecenderungan kecelakaan kerja yang terjadi akan semakin tinggi dan juga sebaliknya jika pekerja bersikap positif maka kejadian risiko kecelakaan kerja juga akan berkurang. Pada hasil penelitian diketahui bahwa sikap yang paling banyak tanggapan negatif yaitu sikap pekerja terhadap penggunaan APD sewaktu bekerja, pekerja merasa tidak nyaman bekerja menggunakan APD dan merasa terganggu menggunakan APD.

Menurut pendapat Ruhyandi dan Chandra (2008), kecelakaan bukan hanya disebabkan oleh mesin tapi disebabkan oleh manusia itu sendiri (unsafe act).

Menurut pendapat Ruhyandi dan Chandra (2008) yang mengutip pendapat Ismani, menerangkan bahwa dalam bersikap dapat diajarkan melalui beberapa cara

meyakinkan seseorang dengan mempunyai dasar kognitif, hal ini terlepas dari aspek emosional dari perilaku seseorang ; menetapkan melalui peraturan-peraturan dan lain-lain.

Oleh karena itu untuk meningkatkan sikap yang baik kepada para pekerja dalam penggunaan APD dalam melakukan pekerjaan, perlu adanya teladan ataupun contoh sehingga pekerja termotivasi untuk menggunakan APD dengan benar dan lengkap. Membuat peraturan yang mewajibkan ataupun memaksa penggunaan APD di tempat kerja juga perlu di terapkan agar pekerja terdorong menggunakan APD dengan lengkap karena adanya peraturan yang mewajibkan APD tersebut, sehingga pekerja terus memakai APD dan lama kelamaan akan terbiasa dan merasa nyaman dalam menggunakan APD.

5.2.3 Hubungan Kepatuhan Terhadap Prosedur Dengan Kecelakaan Kerja Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.8 dapat dilihat bahwa responden

5.2.3 Hubungan Kepatuhan Terhadap Prosedur Dengan Kecelakaan Kerja Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.8 dapat dilihat bahwa responden

Dokumen terkait