• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Penyebab terjadinya Kekerasan terhadap Sesama Warga

BAB I PENDAHULUAN

D. Faktor Penyebab terjadinya Kekerasan terhadap Sesama Warga

Lingkungan sosial masyarakat yang kompleks cenderung memberikan pengaruh perilaku kejahatan kekerasan, akan tetapi pada dasarnya juga ditentukan oleh factor biologis. Dalam mekanisme syaraf dan fisiologi hormone steroid dan

peptide adalah hormon yang penting dalam memulai, menjalankan, dan menghadapi

kejahatan kekerasan.46

Dalam ilmu kriminologi, terjadinya sebuah kejahatan dapat disebabkan oleh aspek biologis. Terdapat dua fakta penting tentang pentingnya aspek biologis yakni awal kemunculan perilaku agresif sebagai karakteristik yang ada pada beberapa individu dan perbedaan individu dalam terkena pengaruh berbahaya lingkungan.47 Ada fakta yang menyatakan bahwa hormone memainkan peran yang penting dalam menentukan perilaku kriminal. Hormon sangat diketahui mempengaruhi banyak perilaku manusia dan dampak yang kompleks dimediasi oleh banyak variabel baik biologis maupun sosial.

Ada yang berpendapat, tindakan kriminal disebabkan oleh faktor hereditas atau pembawaan. Salah satu teori semacam ini dikemukakan oleh Cesare Lambroso (1836-1909), seorang dokter dan kriminolog berkebangsaan Italia. Menurut pendapat Cesare Lambroso, “Ορανγ-orang yang memiliki ciri-ciri tubuh tertentu cenderung menjadi penjahat. Beberapa ciri tubuh yang dimaksud adalah jidat sempit, bentuk kepala dan dagu terkesan kasar atau keras, alis bersambung dan daun telinga menjorok ke luar. Pendapat lain menyatakan, kecenderungan menjadi kriminal tersebut secara genetis disebabkan karena adanya kelebihan kromosom Y (lelaki).”48

46 Muzakky,

“Κεϕαηαταν Κεκερασαν”, http://zakysme.blogdetik. com/files /2008/ 10/img_0342.jpg, diakses tanggal 11 Januari 2008.

47 Ibid.

48 G. Th, . Kempe diterjemahkan oleh R.A. Koesnoen, Pengantar tentang Kriminologi,

(Jakarta: Ghalia Indonesia, 1982), hlm. 58.

Secara biologis, perilaku kriminal dapat disebabkan oleh kerusakan tertentu pada otak, lemah mental dan perubahan atau kemunduran fungsi otak karena usia tua. Yang terakhir ini mungkin dapat menjelaskan seringnya terjadi kasus perkosaan terhadap anak-anak di bawah umur oleh pelaku-pelaku lanjut usia. Perilaku kriminal juga dapat disebabkan latar belakang keluarga yang patologis, misalnya, keluarga retak. Atau karena kepribadian yang patologis, misalnya, membunuh karena mengalami delusi atau halusinasi tertentu.

Secara biologis, perilaku kriminal dapat disebabkan oleh kerusakan tertentu pada otak, lemah mental dan perubahan atau kemunduran fungsi otak karena usia tua. Yang terakhir ini mungkin dapat menjelaskan seringnya terjadi kasus perkosaan terhadap anak-anak di bawah umur oleh pelaku-pelaku lanjut usia. Perilaku kriminal juga dapat disebabkan latar belakang keluarga yang patologis, misalnya keluarga retak. Atau karena kepribadian yang patologis, misalnya membunuh karena mengalami halusinasi (khayalan) tertentu.

Di sisi lain, perilaku kriminal juga dapat merupakan buah patologi sosial atau penyakit masyarakat. Wujudnya dapat bermacam-macam seperti keluarga yang mempunyai norma atau nilainya sendiri yang tidak sejalan dengan norma masyarakat. Kemudian kejahatan sebagai profesi yang biasanya dengan mengkhususkan diri pada salah satu jenis kejahatan dan menjadi sangat ahli serta kejahatan terorganisasi seperti mafia.

Dari penjelasan di atas dapat disebutkan bahwa salah satu faktor yang dapat menjadi pemicu terjadinya perkelahian antar warga adalah karena kebiasaan para remaja mendapat rintangan di masa kecilnya, sehingga tindak kekerasan bukan merupakan hal yang aneh bagi mereka. Para remaja ini terbiasa dengan tindak kekerasan yang pernah diterima pada masa kecil, sehingga setiap ada perbuatan yang

tidak disenanginya, maka si remaja akan meresponnya dengan tindak kekerasan juga, yang akhirnya akan berujung pada perkelahian.

Ekspresi meningkatnya emosi ini dapat berupa sikap bingung, agresivitas yang meningkat dan rasa superior (merasa hebat) yang terkadang dikompensasikan dalam bentuk tindakan yang negatif seperti pasif dalam segala hal, apatis, agresif secara fisik dan verbal, menarik diri dan lain-lain.

Jika dianalisis yang lebih mendalam, sebab-sebab perilaku kriminalitas sebenarnya dapat dibedakan sebagai berikut.49

1. Penyebab primer yakni kondisi yang tanpa kehadirannya maka perilaku kriminalitas tak akan muncul. Jadi sejenis conditio sine qua non. Misalnya, kemiskinan dan kekumuhan yang dialami suatu masyarakat. Jika kurang dikendalikan oleh agama atau nilai-nilai moral akan mudah menggelincirkannya ke perbuatan kriminal.

2. Kedua, penyebab yang menyiapkan yakni kondisi yang mendahului dan membuka jalan bagi kemungkinan terjadinya gangguan tertentu dan kondisi-kondisi tertentu di masa mendatang. Misalnya, anak yang ditolak oleh orang tuanya mungkin menjadi lebih rentan terhadap tekanan hidup sesudah dewasa dibandingkan orang-orang yang memiliki dasar rasa aman yang lebih baik.

3. Penyebab pencetus yakni kondisi yang tak tertahankan bagi individu dan mencetuskan tindakan a-sosial.

Misalnya, seseorang yang di-PHK dari tempat kerjanya akan mudah menjadi reaktif atau emosional sehingga menjadi faktor signifikan pemicu tindak kejahatan. Atau seorang pria setengah baya akibat bisnis yang telah lama ditekuninya

49 Zubaidi. Kriminalitas dan Sistem Penanggulangannya, makalah, 2003.

mengalami kebangkrutan membuatnya jadi frustasi sehingga gampang diajak berbuat kriminal.

Kenyataan menunjukkan bahwa rutan/Lapas belum sepenuhnya mampu menunjukkan fungsi yang ideal. Berbagai aspek dan kondisi dalam rutan/Lapas sangat potensial menimbulkan pelanggaran hak asasi manusia antara lain : Over kapasitas, Kualitas Penghuni yang berubah dari kejahatan konvensionall menjadi kejahatan trasnasional, Terbatasnya Kualitas dan Kuantitas Sumber Daya. 50

Pendapat yang bersamaan juga disebutkan bahwa berbagai faktor pencetus, antara lain :

a. Over kapasitas dan perbandingan jumlah petugas dan penghuni yang sangat tinggi.

1) pola perlakuan : cenderung top down, mass treatment, dan security

approach.

2) kurangnya pengawasan dan pengendalian : segala kejadian dalam rutan/lapas tidak terpantau dan terkendalikan setiap waktu secara maksimal, dan atau tidak terpantau seluruhnya.

b. Pemahaman terhadap uraian tugas dan nilai-nilai HAM tidak merata: pelaksanaan tugas cenderung berdasarkan kebiasaan, dan kurang respect terhadap kebutuhan narapidana.

50 Direktorat Registrasi dan Statistik, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Departemen

c. Kesejahteraan petugas dan keinginan narapidana yang kuat untuk mendapatkan kebebasan/kelonggaran, menimbulkan kecenderungan tumbuhnya hubungan pribadi yang berlebihan dan memungkinkan terjadinya suap : perbedaan perlakuan, persaingan tidak sehat, dan kecemburuan sosial.

d. Sistuasi dan kondisi yang monoton dan berlangsung lama, mengakibatkan rasa bosan dan stress yang berkelanjutan : perilaku apatis, malas, tidak patuh, dan lain-lain.

1. Over Kapasitas Penghuni RUTAN

Penyebab utama aksi kekerasan yang kerap terjadi di dalam Rutan/Lapas

adalah over capacity atau kelebihan daya tampung. Akibatnya lembaga syok terapi inipun tak lagi kondusif dan berfungsi normal. Penghuni LP di seluruh Indonesia saat ini mencapai 130.832, dengan rincian 54.307 warga binaan pemasyarakatan dan 76.525 napi. Jumlah tersebut sangat tak seimbang dengan kapasitas penjara yang hanya 81.384.51

Perbandingan jumlah Penghuni dalam rutan/Lapas dan rutan dengan kapasitas hunian sangat tidak seimbang.

Jumlah Lapas : 209 UPT

Jumlah Rutan : 190 UPT

51 Aries Setiawan, LP di Indonesia Over Capacity 45%, http://news.okezone .com/index.

php/ReadStory/2008/01/04/1/72751/lp-di-indonesia-over-capacity-45

Jumlah keseluruhan Penghuni : 130.420 orang

Kapasitas hunian : 81.384 orang

Over kapasitas : 49.036 orang

Sedangkan bagi Rutan Klas I Medan, data warga binaan pemasyarakatannya adalah sebagai berikut: Warga binaan pemasyarakatan di dalam Rutan dapat dikelompokan dalam 5 (lima) golongan atau kategori, yaitu :

a. AI, yaitu warga binaan pemasyarakatan tingkat Penyidikan (Pasal 24 KUHAP),

b. AII, yaitu warga binaan pemasyarakatan tingkat Penuntutan (Pasal 25 KUHAP),

c. AIII, yaitu warga binaan pemasyarakatan tingkat Pemeriksaan Pengadilan Negeri (Pasal 26 KUHAP),

d. AIV, yaitu warga binaan pemasyarakatan tingkat Pemeriksaan Pengadilan Tinggi (Pasal 27 KUHAP),

e. AV, yaitu warga binaan pemasyarakatan tingkat Pemeriksaan Mahkamah Agung (Pasal 28 KUHAP).

Narapidana yang telah mendapatkan putusan hakim yang memiliki kekuatan hukum yang tetap, dibagi dalam beberapa golongan sesuai dengan lama dan jenis pidananya, yaitu :

b. BIIa, yaitu narapidana yang dipidana 3 bulan satu hari sampai dengan 1 tahun,

c. BIIb, yaitu narapidana yang dipidana 3 bulan ke bawah, d. BIII, yaitu narapidana yang dipidana dengan pidana kurungan,

e. BIIIs, yaitu narapidana yang menjalani pidana kurungan sebagai pengganti denda.

Data penghuni Rutan Klas I Tanjung Gusta Medan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Penggolongan Pemuda Dewasa Dewasa Jumlah Muda Tahanan A I 5 28 49 82 A II 18 298 394 710 A III 23 303 258 584 A IV 2 20 25 47 A V 0 3 4 7 Jumlah 48 652 730 1430 Narapidana B I 1 396 443 840 B II a 2 91 92 185 B II b 0 0 1 1 B III s 0 0 15 15 Jumlah 3 487 551 1041 Jumlah Total 51 1139 1281 2471

Tabel 2.1. Data Penghuni Rutan Klas I Tanjung Gusta Medan Sumber : Unit Regristrasi Rutan Tanjung Gusta, Medan, 26 Februari 2009

Berdasarkan data di atas, maka total jumlah penghuni Rutan Klas I Tanjung Gusta Medan pada tanggal 26 Februari 2009 adalah 2471 orang (terdiri dari 1430 orang warga binaan pemasyarakatan dan 1041 orang narapidana ). Dengan kapasitas

850 orang maka Rutan Klas I Tanjung Gusta Medan telah mengalami over kapasitas ± 300 % Μασαλαη τερσεβυτ τελαη διαντισιπασι δενγαν αδανψα

pembangunan Rutan Labuhan Deli. yang dibuat bertingkat dan dilakukan pemindahan narapidana ke RUTAN yang lain seperti ke Siborong-borong dan beberapa RUTAN lainnya.

2. Perubahan Kualitas Narapidana

Sebab lain yang mengakibatkan terjadinya kekerasan adalah perubahan kualitas narapidana dari pelaku kejahatan konvensional menjadi kejahatan transnasional. Hingga bulan Maret 2008, narapidana dan warga binaan pemasyarakatan kejahatan transnasional di Indonesia berkembang sejumlah:

a. kejahatan narkotik : 37.000 orang b. kejahatan illegal loging : 213 orang c. kejahatan terorisme : 141 orang d. kejahatan korupsi : 915 orang

Permasalahan utama dalam kenyataannya adalah narapidana sudah mendapat stigma buruk dari masyarakat sehingga sering muncul bahwa narapidana itu sampah masyarakat dan pemerintah sendiri kurang adanya sosialisasi pemahaman makna narapidana itu sendiri. Padahal dalam pembinaan narapidana dalam memberikan keterampilan, harmonisasi pola hubungan antara pihak narapidana dengan pihak pemerintah, sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pembinaan narapidana dalam 57

memberikan keterampilan di lembaga permasyarakatan, selain dukungaan penuh dari komponen-komponen pendukung seperti masyarakat dan pihak Rutan itu sendiri.

Dan juga sistem pemasyarakatan yang dianut oleh Pemerintah mempunyai tujuan meningkatkan kesadaran bersama. Pola pembinaan keterampilan narapidana akan eksistensinya sebagai manusia melalui tahap perenungan akan ego, motivasi ideal secara kolektif dan kesadaran indvidu yang didukung kesadaran kolektif.52

3. Tidak Seimbangnya Perbandingan Antara Jumlah Petugas

Pemasyarakatan Dengan Jumlah Penghuni

Terbatasnya sumber daya manusia dalam institusi pemasyarakatan berbanding jumlah warga binaan pemasyarakatan di seluruh Indonesia adalah 24.130 petugas berbanding 130.420 WBP. Dengan komposisi sebagai berikut:

a. Petugas Pengamanan = 50% dari Jumlah petugas = 50% x 24.130

= 12.065 orang b. Petugas pengamanan = 4 ploeg

= 12.065 : 4 = 3.017 orang c. Perbandingan = 3.017 : 130.420

= 1 : 43

52 Ghali Zakaria, Loc.Cit.

Ketidakseimbangan ini juga terjadi di Rutan/Lapas Klas I Medan. Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah pegawai Rutan Klas I Medan adalah sebagai berikut: No Jenis Kelamin J u m l a h 1. 2. P r i a W a n i t a 173 Orang 14 Orang Jumlah 187 Orang

Tabel 2.2. Pegawai Rumah Tahanan Negara Kelas I Medan Berdasarkan Jenis Kelamin

Sumber : Kepegawaian Rutan Tanjung Gusta,Medan, 28 Februari 2009.

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa petugas Rumah Tahanan Negara Klas I Medan masih didominasi oleh petugas pria, yaitu sebanyak 173 orang. Sedangkan petugas wanita hanya berjumlah 14 orang saja. Hal ini dapat dimaklumi karena Rumah Tahanan Negara Klas I Medan dihuni oleh pria dewasa, yang secara fisik lebih kuat daripada wanita, sehingga memerlukan lebih banyak petugas pria untuk keamanan.

Akibat yang ditimbulkan dari keadaan ini adalah tidak optimalnya pemenuhan hak mutlak narapidana, antara lain:

a. Fasilitas hunian, tidak seimbangnya jumlah napi dengan jumlah sel/kamar pada Rutan/Lapas dapat menyebabkan penempatan yang tidak terpisah antara warga binaan pemasyarakatan dengan narapidana.

b. Sanitasi dan kesehatan, kesulitan mendapatkan air bersih pada Rutan/Lapas yang terletak jauh dari sumber mata air, ventilasi yang buruk, sulitnya mendapatkan

bahan makanan tertentu seperti protein hewani pada Rutan/Lapas di daerah yang sulit dijangkau (kesulitan dalam hal distribusi bahan makanan), kurangnya tenaga medis dan obat-obatan, dan lain-lain.

c. Kurangnya pengawasan terhadap perilaku kekerasan/penyiksaan penghuni, keberadaan narapidana dalam rutan/lapas yang relative lama, menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan spesifik, seperti terbentuknya kelompok-kelompok narapidana, tumbuhnya sikap superior dan inferior di kalangan narapidana yang cenderung mengakibatkan terjadinya pelecehan dan penindasan.53

53

Manfred Nowak, Hasil Laporan Pelapor Khusus PBB, Penyiksaan Dan Perlakuan Atau

Penghukuman Lain Yang Kejam, Tidak Manusiawi, Atau Merendahkan Martabat Manusia Dalam Institusi Pemasyarakatan, November 2007, hlm. 2.

Dokumen terkait