• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK

B. Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dibawah Umur Yang

1. Pengertian Perlindungan Anak

Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang tahun 23 tahun 2002, memberikan definisi tentang Perlindungan Anak yaitu :

“segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya

52Imroatul Jamilah, Faktor-Faktor Penyebab Pengajuan Dispensasi Nikah Di Pengadilan Agama Gresik Tahun 2012, Jurnal Studi Hukum Islam, Vol.5 No. 2, 2016. Hal 7-9

53Livi Agustri Milala, Op.Cit. Hal. 73-74

50

agar dapat hidup, tumbuh berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi” .54

Perlindungan hukum bagi anak dapat diartikan sebagai upaya perlindungan hukum terhadap berbagai kebebasan dan hak asasi anak fundamental rights and freedoms of childrenserta berbagai kepentingan yang berhubungan dengan kesejahteraan anak. Jadi masalah perlindungan hukum bagi anak mencakup lingkup yang sangat luas. Maka lingkup perlindungan hukum bagi anak-anak mencakup:

1) Perlindungan terhadap kebebasan anak;

2) Perlindungan terhadap hak asasi anak; dan

3) Perlindungan hukum terhadap semua kepentingan anak yang berkaitan dengan kesejahteraan.

Komitmen yuridis negara untuk melindungi warga negaranya sebagaimana disebutkan dalam alinea ke IV UUD 1945, selanjutnya dijabarkan Bab XA tentang Hak Asasi Manusia (HAM). Khusus untuk perlindungan terhadap anak, Pasal 283 ayat (2) UUD 1945 menyatakan:

"Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.55

Anak ditempatkan pada posisi yang mulia sebagai amanah Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki peran strategis dalam menjamin kelangsungan ekstensi negara ini. Melalui UU Nomor 23 tahun 2002 jaminan hak anak dilindungi, bahkan dibentuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang memiliki

54Pasal 1 ayat (2) UU Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia 297, TLN 5606)

55Waluyadi, Hukum Perlindungan Anak, Bandung : Mandar Maju, 2009. Hal 1

tanggung jawab untuk meningkatkan efektivitas perlindungan anak. 56 2. Hak Dan Kewajiban Anak

a. Hak Anak

Hak-hak anak ditentukan dalam pasal 4 sampai dengan pasal 18 UU 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pasal 2 UU 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, mengatakan bahwa penyelenggaraan perlindungan anak berasaskan Pancasila dan UUD 1945 serta prinsip-prinsip konvensi Hak-Hak Anak, yang meliputi:

1) Non diskriminasi;

2) Kepentingan yang terbaik bagi anak;

3) Hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan; dan 4) Penghargaan terhadap pendapat anak;

Pengertian asas kepentingan yang terbaik bagi anak adalah bahwa dalam suatu tindakan yang menyangkut anak yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, badan legislatif dan badan yudikatif, maka kepentingan yang terbaik bagi anak harus menjadi pertimbangan utama.

Pengertian asas untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan adalah bahwa hak-hak asasi yang mendasar bagi anak wajib dilindungi oleh negara, pemerintah, masyarakat, keluarga dan orang tua.Artinya, pihak-pihak tersebut, wajib mewujudkan dan tidak meniadakan hak-hak yang dimaksud (hak hidup, hak kelangsungan hidup dan hak berkembang.

Pengertian asas penghargaan terhadap pendapat anak adalah adanya penghormatan atas hak untuk mengambil keputusan, terutama terhadap hal yang

56M Nasir Djamil, Anak Bukan Untuk Dihukum, Jakarta : Sinar Grafika, 2015. Hal. 9

52

berkaitan dengan kehidupannya.Perlindungan terhadap anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup.tumbuh, berkembang, dan partisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera (Pasal 3 UU No 23 Tahun 2002).57

b. Kewajban Anak

Kewajiban anak ditentukan dalam pasal 19 dalam UU 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Setiap anak berkewajiban untuk :58

1) menghormati orangtua, wali, dan guru;

2) mencintai keluarga, masyarakat, dan menyayangi teman;

3) mencintai tanah air, bangsa dan Negara

4) menunaikan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya; dan 5) melaksanakan etika dan akhlak yang mulia;

Menurut Setya Wahyudi, anak melakukan kewajiban bukan semata-mata sebagai beban, tetapi justru dengan melakukan kewajiban-kewajiban menjadikan anak berpredikat anak yang baik. Anak yang baik tidak hanya meminta hak-haknya saja tetapi akan melakukan kewajiban-kewajibannya.59

57Waluyadi, Op.Cit. Hal 16

58Pasal 19 UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, TLN 4235)

59M Nasir Djamil, Op.Cit. Hal 21

3. Kewajiban dan Tanggung Jawab Orangtua dan Keluarga Terhadap Anak

Kewajiban dan tanggung jawab orangtua dan keluarga terhadap anak dijelaskan didalam Pasal 26 ayat (1) UU Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang mengatakan orangtua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk :

a) mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak;

b) menumbuh kembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya;

c) mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak, dan;

d) memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti pada anak;

Pada ayat (2) dikatakan dalam hal orang tidak ada, atau tidak diketahui keberadaannya, atau karena suatu sebab tidak dapat melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya, kewajiban dan tanggung jawabnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat beralih kepada keluarga, yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pada konteks hak anak diatas jika dikaitkan dengan Pasal 26 ayat 1 poin c Undang-Undang Perlindungan Anak yang menyebutkan bahwa orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak. Pada prespektif hak anak pencantuman kalimat tersebut merupakan keharusan yang harus menjadi perhatian bersama, hal ini disebabkan anak-anak yang terpaksa kawin dalam usia yang masih tergolong anak dilihat dari

54

aspek hak anak, mereka akan terampas hak-haknya sebagaimana tercantum dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 18 Undang-Undang Perlindungan Anak seperti hak bermain, hak pendidikan, hak untuk tumbuh berkembang sesuai dengan usianya dan pada akhirnya adanya keterpaksaan untuk menjadi orang dewasa mini.60

4. Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dibawah Umur Yang Melakukan Perkawinan

Pada dasarnya perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya dua hal, yaitu hak-hak anak dan kesejahteraan anak.Apapun perbuatan yang dilakukan oleh orang tua atau para pihak yang terlibat dengan anak harus memperhatikan dua tujuan tersebut.Kepentingan terbaik bagi anak harus didahulukan.61

Hak anak merupakan berbagai kebutuhan dasar yang seharusnya diperoleh anak untuk menjamin kelangsungan hidup, tumbuh kembang dan perlindungan dari segala bentuk perlakuan salah, eksploitasi, dan penelantaraan terhadap anak,baik yang mencakup hak sipil, ekonomi dan sosial budaya. Hak-hak anak yang terdapat didalam UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, meliputi: 62

a) Hak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat

60Mulia Sixtrianti, Op.Cit. Hal 9

61Ali Imron, Perlindungan Dan Kesejahteraan Anak Dalam Perkawinan Dibawah Umur, Jurnal, Vol. 13, No. 2 November 2013 : 253-257. Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Walisongo Semarang, Hal.266

62Ibid. Hal. 266-267

perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera (pasal 4).

b) Hak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasaanya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9 ayat 1).

c) Hak untuk beritirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasaanya demi pengembangan diri (pasal 11).

d) Setiap anak selama dalam pengasuhan orangtua, wali, atau pihak lain maupun yang bertanggungjawab atas pengasuhan berhak mendapat perlindungan dari perlakuan diskriminasi, eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual, penelantaraan, kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan, ketidakadilan, dan perlakuan salah lainnya (pasal 13 ayat 1).

Memperhatikan uraian berikut nampak jelas bahwa hak-hak tersebut tidak akan didapat oleh si anak, jika melakukan perkawinan dibawah umur yang berpotensi menimbulkan berbagai hal yang bisa berdampak buruk terhadap calon mempelai dan juga terhadap anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan dibawah umur tersebut. 63Selain itu, setiap anak selama dalam pengasuhan orangtua, wali, atau pihak lain maupun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan (Pasal 13 ayat (1) UU 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak), yakni :64

63Ibid. Hal 267

64Prof. Abdussalam dan Adri Desasfuryanto, Hukum Perlindungan Anak, Penerbit PTIK, Jakarta : 2014. Hal. 33

56

1. Diskriminasi, misalnya perlakuan yang membeda-bedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya, bahasa, status hukum anak, urusan kelahiran anak, dan kondisi fisik dan atau mental.

2. Eksploitasi baik ekonomi maupun seksual, misalnya tindakan atas perbuatan memperalat, memanfaatkan atau memeras anak untuk memperoleh keuntungan pribadi, keluarga atau golongan.

3. Penelantaran, misalnya tindakan atau perbuatan mengabaikan dengan sengaja kewajiban untuk memelihara, merawat atau mengurus anak sebagaimana mestinya.

4. Kekejaman, kekerasan dan penganiayaan, misalnya tindakan atau perbuatan secara zalim, keji, bengis atau tidak menaruh belas kasihan kepada anak. Perlakuan kekerasan danpenganiayaan misalnya perbuatan melukai dan atau mencederai anak dan tidak semata-mata fisik, tetapi juga mental dan sosial.

5. Ketidakadilan, misalnya tindakan keberpihakan antara anak yang satu dengan lainnya atau kesewenangwenangan terhadap anak.

6. Perlakuan salah lainnya, misalnya tindakan pelecehan atau perbuatan tidak senonoh kepada anak.

Dalam hal orang tua, wali atau pengasuh anak melakukan segala bentuk perlakuan, maka pelaku dikenakan pemberatan hukuman ayat(2).

Jika kita lihat dalam pasal 26 ayat (1) UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, terdapat ketentuan bahwa orangtua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk : mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak, menumbuh kembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat dan

minatnya, dan terlebih lagi adalah bahwa orang tua berkewajiban untu mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak. Melihat dari segala ketentuan ini bisa dikatakan bahwa jika orang tua yang telah membiarkan atau bahkan memaksakan kepada anak-anaknya untuk menikah dalam usia muda dan terlebih usianya belum mencukupi sebagaimana yang ditentukan dalam batas usia boleh menikah dalam ketentuan Undang-undang No. 1 tahun 1974 Pasal 7 ayat (1) maka orang tua telah melakukan pelanggaran hak anak yaitu bahwa orang tua telah melalaikan kewajiban untuk mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak seperti yang tercantum dalam Pasal 26 ayat (1) huruf a di atas. Selain itu juga orang tua telah melakukan pelanggaran hak anak karena tidak berusaha untuk mencegahterjadinya perkawinan pada usia anak-anak seperti ketentuan dalam Pasal 26 ayat (1) huruf c UU ini. 65

Sehingga setiap orang termasuk orang tua yang dengan sengaja maupun tidak sengaja telah melakukan tindakan diskriminasi terhadap anak yang mana mengakibatkan anak mengalami kerugian baik materiil maupun moril sehingga fungsi sosialnya atau penelantaran terhadap anak yang mengakibatkan anak mengalami sakit mau penderitaan baik fisik, mental maupun sosial dipidana dengan Pidana penjara paling lama lima (5) tahun dan/atau denda paling banyak sebesar Rp. 100.000.000.00 (seratus juta rupiah) kepada pelakunya. Sehingga diharapkan di masa yang akan datang dengan adanya uluran ini. Hak-hak dari pada anak dapat terjamin dan terlaksana dengan baik dan perkawinan di bawah umur yang masih terjadi di pelosok-pelosok daerah negeri ini dapat diminimalisirkan dan pada akhirnya dapat dihilangkan budaya perkawinan

65Sunendi, Sanksi Pidana Bagi Praktek Perkawinan Dibawah Umur, Skripsi, Fakultas Syari’ah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2009. Hal. 107

58

dibawah dalam usia muda, karena selain perkawinan itu menghilangkan hak-hak dari seorang anak, perkawinan itu pun juga melanggar daripada ketentuan yang tertuang didalam UU Perlindungan Anak.66

Berdasarkan hasil wawancara dengan Hakim di Pengadilan Agama Medan, menyatakan bahwaperan orangtua dalam UU Perlindungan Anak khususnya mengenai pencegahan perkawinan dini, yakni dimaksudkan agar dilindunginya hak-hak si anak. Harus menempuh pendidikan terlebih dahulu sebelum menikah, tidak boleh adanya intervensi dari orangtua atau ancaman kekerasan yang mendorong si anak untuk menikah sementara usianya belum mencapai 18 tahun seperti yang diatur dalam UU Perlindungan Anak. Dan agar si anak melaksanakan perkawinan setelah mereka sudah matang dalam hal pola pikir danusia. Namun disisi lain yang terjadi dilapangan, orangtua dianggap lalai dalam melindungi anaknya, banyak anak yang terjebak didalam pergaulan bebas, sehingga di usia yang masih belia sudah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka orangtua pun harus mengambil sikap yaitu menikahkan anaknya meskipun si anak masih dibawah umur dan meminta dispensasi kepada pengadilan, karena tidak ingin anaknya masuk kedalam lembah perzinahan.67

Dalam hal mengabulkan permohonan dispensasi nikah, pertimbangan hukum oleh para hakim yaitu melaksanakan apa yang telah diamanatkan oleh UU Perkawinan, tentu juga harus melihat maksud dan tujuan permohonan pemohon, mempertimbangkan kemudharatan yang akan timbul jika tidak dikabulkan, dan

66Rahmat Efendy Al Amin Siregar & Hikmatul Sadami, Tinjauan Analisis Mengenai Ancaman Pidana Bagi Persetubuhan Anak Dibawah Umur Dalam Hubungan Perkawinan, Jurnal Legitimasi, Vol, VI No. 1, Januari-Juni 2017. Hal 16-17

67Hasil Wawancara dengan Hakim Pengadilan Agama Medan, Pada tanggal 11 desember 2018, pukul 16:00 WIB

mempertimbangkan kemampuan serta kesanggupan pihak laki-laki untuk dapat menafkahi pihak wanita jika dispensasi tersebut dikabulkan. UU Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan merupakan suatu perlindungan hukum bagi si pemohon.

Bukan berarti ingin mengenyampingkan UU Perlindungan Anak akan tetapi banyak pertimbangan hakim secara sosiologis untuk mengabulkan dispensasi tersebut, misalnya saja pihak wanita sudah hamil, maka tidak mungkin untuk tidak diberikannya izin untuk menikah. Namun jika permohonan dispensasi nikah itu ditolak, biasanya hakim mempertimbangkan usia si anak misalnya 12 tahun kebawah, bukan karena hamil, dan alasan administrasi. Jika ditolak, kemungkinan si anak akan menikah secara sah sesuai agamanya masing-masing, tapi tidak dapat dicatatkan karena tidak memiliki izin. Maka harus menunggu usia nya mencapai 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi wanita untuk dilakukannya pencatatan perkawinan.68

Berdasarkan Putusan MK Nomor 22/PUU-XV/2017 yang diumumkan pada tanggal 13 desember 2018 MK memerintahkan pembentuk undang-undang (UU) dalam jangka waktu paling lama 3 tahun melakukan perubahan terhadap UU Perkawinan, khususnya berkenaan dengan batas minimal usia perkawinan bagi perempuan. MK mengabulkan sebagian uji materi pasal 7 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan terkait batas usia perkawinan untuk laki-laki 19 tahun dan perempuan 16 tahun. Dalam putusannya, frasa “usia 16 tahun” dalam pasal 7 ayat (1) UU perkawinan bertentangan dengan UUD Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Namun, Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan masih tetap dinyatakan berlaku hingga adanya perubahan.Mahkamah Konstitusi

68Hasil Wawancara dengan Hakim Pengadilan Agama Medan, Pada tanggal 11 desember 2018, pukul 16:00 WIB

60

menilai perbedaan batas usia perkawinan antara laki-laki dan perempuan menimbulkan diskriminasi atas dasar jenis kelamin atau genderyang berdampak tidak terpenuhinya hak anak perempuan sebagai bagian hak asasi manusia (HAM) yang dijamin konstitusi. Karena itu, dalil permohonan beralasan menurut hukum untuk sebagian.69

Langkah ini merupakan suatu bentuk perlindungan hukum terhadap anak dibawah umur agar tidak melakukan perkawinan sebelum mencapai batas usia minimum perkawinan yang terdapat didalam Undang-Undang. Maka diharapkan agar putusan MK ini dapat cepat terealisasi mengingat tingginya angka perkawinan dibawah umur yang kian meningkat setiap tahun.

69 https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5c12412a42765/pembentuk-uu-diperintahkan-rombak-batas-usia-perkawinan Diakses pada tanggal 9 januari 2018 pukul 12:39

BAB IV

PERTIMBANGAN HUKUM OLEH HAKIM DALAM MENGABULKAN PERMOHONAN DISPENSASI NIKAH PADA PENETAPAN NOMOR

95/Pdt.P/2017/PA.Mdn

A. Kasus Posisi

Berdasarkan surat yang terdaftar di kepaniteraan Pengadilan Agama Medan dengan nomor perkara 95/Pdt.P/2017/PA.Mdn tertanggal 26 September 2017, diajukan olehMSN, umur 44 tahun, agama Islam, warganegara Indonesia, pekerjaan Instalatur Listrik, bertempat tinggal di Jalan Mawar Gang Sejahtera No.

59 Lingkungan VIII, Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Medan Polonia, Kota Medan bertindak sebagai ayah kandung untuk dan atas nama RAN, umur 16 tahun, pekerjaan Pelajar, bertempat tinggal di Jalan Jalan Mawar Gang Sejahtera No. 59 Lingkungan VIII, Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Medan Polonia, Kota Medan, selanjutnya disebut Pemohon, mengajukan permohonan dispensasi kawin untuk anak kandungnya dengan alasan-alasan sebagai berikut :

1. Pemohon adalah ayah kandung dari RAN, hasil perkawinannya dengan S 2. Anak kandung Pemohon tersebut bermaksud akan menikahdengan seorang

perempuan bernama MR, berumur16 tahun, agama Islam, pekerjaan Pelajar, tempat kediaman di JalanKarya Jaya No. 12 Lingkungan I, Kelurahan Pangkalan Mansyur,Kecamatan Medan Johor, Kota Medan 3. Oleh karena anak kandung Pemohon dengan MR tersebut sudah sangat

dekat dan akrab sehingga Pemohonsangat merasa khawatir akan dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan baik ditinjau dari hukum Islam atau kehidupan masyarakat pada umumnya.

62

4. Karena antara mereka berdua telah 6 bulan berpacaran bahkankedua orang tua mereka sudah menyetujuinya serta menjelaskan bahwarencana perkawinannya adalah atas kemauannya sendiri bukan karenadipaksa oleh Pemohon.

5. Berdasarkan kesaksian dari SBM, selaku ibu dari RAN memberikan keterangan, bahwa anaknya tidak lagi bersekolah sejak sekitar 5 bulan yang lalu, demikian juga calon istrinya yang juga tidak bersekolah sejak 5 bulan yang lalu. Anaknya itu seharusnya sudah duduk dibangku kelas 3 SMA, demikian juga calon istrinya. Bahkan ia sering melihat mereka berdua-duaan dan anaknya sering kali berkunjung kerumah calon istrinya.

Sehingga sulit orangtua untuk menjaga agar tidak terjadi hal-hal yang dilarang agama. Sehingga perlu untuk segera menikahkan keduanya.

Oleh karenaalasan-alasan itu, yang melatarbelakangi Pemohon untuk mengajukan suatu penetapan dispensasi terhadap anak kandungnya tersebut yang saat ini masihberusia 17 tahun dimana menurut ketentuan hukum yang berlaku,calon suami yang belum mencapai usia 19 tahun maka harusterlebih dahulu mendapat dispensasi Pengadilan Agama untuk melangsungkan pernikahan.

B. Pertimbangan Hukum

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman Pasal 5 Ayat (1), yaitu hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.70

Pada perkara nomor 95/Pdt.P/2017/PA.Mdn tertanggal 26 september 2017 yang telah terdaftar di Kepaniteraan Pengadilan Agama Medan telah memenuhi syarat-syarat materiil dan formil yang sesuai dengan prosedur permohonan yang berlaku di Pengadilan Agama, maka hal-hal yang jadi pertimbangan oleh hakim, yakni :

1. Maksud dan tujuan permohonan pemohon

2. Dalam hal pengajuan perkara, pemohon sudah benar mengajukan ke Pengadilan Agama Medan dimana tempat tinggal anak tersebut (in casu).

Dan mengetahui hukum yang berlaku di Indonesia bahwa seorang baru boleh menikah harus sudah berusia 21 tahun, dan dalam halbelum mencapai usia 21 tahun harus ada izin dari orang tua dan orang tuabaru boleh memberikan izin jika anak laki-laki berusia minimal 19 tahun dananak perempuan minimal 16 tahun, ketentuan ini hanya dapat disimpangiapabila ada dispensasi dari pengadilan.

3. Majelis hakim telah mempertimbangkan dan meneliti permohonan pemohon akankah menimbulkan mudarat apabila perkawinan ditunda sampai anak tersebut dewasa

4. Pemohon dipersidangan tetap pada permohonannya

70Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157, TLN Nomor 5076)

64

5. Pemohon dapat menghadirkan saksi-saksi sebagaimana diperintahkan oleh hakim

6. Dalam keterangan Pemohon dan saksi, serta pengakuan anak pemohon telah ditemukan fakta, bahwa :

- Anak pemohon masih di bawah usia yang dibolehkan menikah tanpa izin pengadilan (berusia 16 tahun 5 bulan);

- Anak pemohon sudah tidak bersekolah sejak 5 bulan lalu;

- Anak pemohon tinggal bersama orang tua kandung;

- Keinginan untuk menikah berasal dari anak Pemohon sendiri;

- Calon istri juga menginginkan dilaksanakan perkawinan secepatnya;

- Antara anak pemohon dengan calon istrinya sudah 6 bulan lebihberpacaran;

- Orang tua calon istri anak pemohon juga menyetujui perkawinantersebut;

- Pemohon tidak sanggup mencegah anaknya yang terlalu dekatdengan calon istri;

7. Berdasarkan fakta anak pemohon sudah tidaksekolah lagi sejak 5 bulan lalu dan tidak sekolahnya anak Pemohon adalahatas kemauan anak tersebut bukan karena himpitan ekonomi, merupakanfakta.Dispensasi bukan untukmenghindarkan Pemohon dari tanggungjawab memelihara dan memberikesempatan untuk tumbuh kembang kepada anak sebagaimana diaturdalam ketentuan pasal 26 ayat 1 huruf (a) dan huruf (b) Undang-UndangNomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

8. Berdasarkan fakta anak pemohon telahberpacaran dengan calon istrinya dan hal itu diketahui oleh orang tua calonistri dan Pemohon sedangkan permohonan dispensasi nikah ini barudiajukan Pemohon setelah 6 bulan lebih masa berpacaran anak Pemohondengan calon istrinya juga merupakan fakta yang dapat ditarik dari padanyapersangkaan hakim bahwa Pemohon telah berusaha mencegahperkawinan di usia muda (perkawinan anak-anak), namun karena doronganyang lebih kuat dari anak Pemohon dan melihat kondisi anak Pemohon dancalon istrinya menyebabkan Pemohon mengajukan permohonan dispensasinikah bagi anaknya dengan demikian Pemohon telah berusaha memenuhiketentuan pasal 26 ayat 1 huruf (c) Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

9. Didalam persidangan Pemohon telah menyatakankesanggupannya untuk mengawal dan membimbing kedua anak tersebutsetelah menikah, maka ketentuan pasal 9 Undang-Undang Nomor 4 tahun1979 tidak terabaikan.

10. Berdasarkan fakta keinginan pelaksanaanperkawinan ini berasal dari anak Pemohon dan tidak ada fakta yang dapatmencurigakan bahwa tujuan perkawinan ini untuk memperoleh keuntunganbagi Pemohon atau ayah dari calon istri Pemohon atau pihak lain, makapemberian izin untuk menikah (dispensasi) kepada anak Pemohon tidakbertentangan dengan ketentuan pasal 3 ayat 2 Konvensi Internasionaltentang hak-hak anak (the Convention on the Rights of the Child) yangtelah disetujui Persatuan Bangsa-Bangsa tanggal 20 November 1989 yangtelah diratifikasi oleh Negara Republik Indonesia dengan Undang-UndangNomor 10 tahun 2012

66

11. Berdasarkan pasal 6 ayat 6 Undang-UndangNomor 1 tahun 1974 pemberian dispensasi nikah dapat diberikansepanjang hukum

11. Berdasarkan pasal 6 ayat 6 Undang-UndangNomor 1 tahun 1974 pemberian dispensasi nikah dapat diberikansepanjang hukum