• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Faktor Petugas Kesehatan

Menurut Hungu (2007) jenis kelamin (seks) adalah perbedaan antara perempuan dengan laki-laki secara biologis sejak seseorang lahir. Seorang laki-laki pada dasarnya mempunyai sifat yang tegas dalam menjalankan suatu program. Sedangkan seorang perempuan memiliki sifat atau

naluri keibuan yang sangat dibutuhkan bagi petugas kesehatan terutama petugas MTBS pada saat memeriksa balita.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan kinerja petugas kesehatan (Mulyaningsih, 2013). Hasil penelitian ini didukung oleh pendapat ahli yang menyatakan bahwa secara umum tidak ada perbedaan yang signifikan antara jenis kelamin perempuan dengan jenis kelamin laki-laki dalam kepuasaan kerja. Perempuan dan laki-laki juga tidak ada perbedaan yang konsisten dalam kemampuan memecahkan masalah, keterampilan analisis, dorongan kompetitif, motivasi dan sosiabilitas dan kemampuan belajar (Rival dan Mulyadi, 2010). b. Pelatihan Petugas

Pelatihan menurut Sihula (dalam Hasibuan, 2008) adalah suatu proses pendidikan pendek dengan menggunakan prosedur sistematik dan terorganisir sehingga karyawan operasional belajar pengetahuan teknik pengerjaan dan keahlian untuk tujuan tertentu. Sedangkan menurut Azwar (2002), tujuan pelatihan adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan karyawan sehingga lebih percaya diri dalam menyelenggarakan tugas selanjutnya.

Pelatihan merupakan usaha untuk menghilangkan terjadinya kesenjangan (gap) antara unsur-unsur yang dimiliki

oleh seorang tenaga kerja dengan unsur-unsur yang dikehendaki organisasi. Usaha tersebut dilakukan melalui peningkatan kemampuan kerja yang dimiliki tenaga kerja dengan cara menambah pengetahuan dan keterampilannya (Notoatmodjo, 2003).

Kementrian Kesehatan (2012) menegakan bahwa pelatihan kesehatan dilakukan melalui pelatihan teknis program dan teknis fungsional secara berjenjang disemua tingkat administrasi untuk menunjang profesionalisme. Dengan demikian, dalam kaitannya dengan peningkatan mutu kualitas pelayanan kesehatan, pelatihan berperan penting untuk peningkatan kualitas.

Penelitian Ivantika (2001) di Bandung menyatakan bahwa petugas yang telah mendapatkan pelatihan sebelumnya, memiliki peluang 1,353 kali lebih besar untuk mendapat cakupan program yang lebih tinggi dibandingakn dengan petugas yang tidak mendapat pelatihan. Berbeda dengan penelitian Sonara (2005), Pudjiastuti (2002) menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara pelatihan yang pernah diikuti petugas kesehatan dengan dengan cakupan yang harus dicapai, dalam hal ini cakupan penemuan pneumonia balita. Hal ini kemungkinan disebabkan karena selam ini pelatihan yang dilaksanakan hanya untuk memenuhi tuntutan

program semata tanpa mempertimbangkan perencanaan proses belajar mengajar dengan matang serta asas manfaat yang diperoleh. Disamping itu adanya kendala operasional untuk menerapkan hasil penelitian tersebut di lapangan menyebabkan keterampilan yang telah diperolah petugas lama-kelamaan menjadi minimal kembali (Sonara, 2005).

Dalam program P2 ISPA, pelatihan yang diberikan kepada petugas kesehatan di puskesmas meliputi pelatihan tatalaksana penderita ISPA (terintegrasi dengan pelatihan MTBS) dan pelatihan manajemen program P2 ISPA (Kemenkes, 2012). c. Pendidikan

Pendidikan adalah tugas untuk meningkatkan pengetahuan, wawasan, pengertian dan keterampilan dari para personil sehingga mereka lebih dapat berkualitas (Notoatmodjo, 2003). Dengan pendidikan, seseorang diharapkan menjadi pribadi yang cerdas, kreatif, terampil, disiplin, beretos kerja profesional, bertanggung jawab, dan produktif.

Pengembangan dan peningkatan tenaga kesehatan dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan (Kemenkes,2010) karena menurut Flippo (dalam Hasibuan 2008), pendidikan berhubungan dengan peningkatan pengetahuan umum dan pemahaman atas lingkungan kita secara menyeluruh. Lingkungan disini adalah pelayanan kesehatan yang diartikan

sebagai proses dalam pemberian pelayanan kesehatan. Pernyataan lainnya Hersey dan Blanchard (dalam Sinora, 2005) yang mengungkapkan bahwa pendidikan formal dan non-formal dapat mempengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan dan berperilaku.

Namun demikian, penelitian Ivantika (2001), Sinora (2005) dan Dharoh, dkk (2014) menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara pendidikan petugas dengan cakupan penemuan penderita pneumonia. Selain itu hasil penelitian Duhri, dkk (2013) menyebutkan bahwa petugas P2TB yang memiliki jenjang pendidikan yang tinggi belum tetntu memilki kinerja yang baik.

d. Lama Kerja

Masa kerja seseorang dalam organisasi perlu diketahui karena masa kerja dapat merupakan salah satu indikator tentang kecenderungan petugas tersebut dari berbagai segi kehidupan organisasional, misalnya dikaitkan dengan produktivitas kerja (siagian, 2002). Menurut wahyudi (2006) pengalaman seorang tenaga kerja utuk melakukan suatu pekerjaan tertentu dinyatakan dalam lamanya melaksanakan pekerjaan tersebut.

Pada umumnya, semakin lama orang bekerja maka pengalaman bekerjanya akan bertmbah luas, sehingga orang tersebut akan menjadi semakin terampil dalam melaksanakan

pekerjaannya. Dengan demikian, produktivitasnya diharapkan juga akan semakin tinggi. Tetapi lamanya masa kerja tersebut di satu sisi akan menimbulkan kebosanan dan kejenuhan, yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerjanya.

Hal ini tentu saja tergantung pada kepribadian dan motivasi masing-masing individu. Pada individu yang memilki dedikasi dan etos kerja yang tinggi, maka status lama kerja justru akan meningkatkan kualitas pekerjaanya, yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas pelayanan.

Penelitian Ivantika (2001) menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara lama kerja pengelola P2 ISPA dengan cakupan penemuan penderita pneumonia. Berbeda dengan penelitian Sonara (2005) tidak ada hubungan yang bermakana antara lama masa kerja petugas pelaksana MTBS dengan cakupan penemuan penderita pneumonia.

e. Pengetahuan petugas

Pengatahuan adalah hasil dari tahu yang terjadi melalui proses sensoris khususnya mata dan telinga terhadap objek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku terbuka (overt behavior). Perilaku yang didasari pengetahuan umumnya bersifat langgeng. Proses adopsi perilaku, menurut Rogers dalam Notoatmodjo, sebelum

seseorang mengadopsi sesuatu, di dalam diri orang tersebut terjadi suatu proses yang berurutan yaitu (Notoatmodjo, 2003):

1) Awareness (kesadaran), individu menyadari adanya stimulus.

2) Interest (tertarik), individu mulai tertarik kepada stimulus. 3) Evaluation (menimbang-nimbang), individu

menimbang-nimbang tentang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Pada tahap ini subjek memiliki sikap yang lebih baik.

4) Trial (mencoba), individu sudah mulai mencoba perilaku baru.

5) Adoption, individu telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, sikap dan kesadarannya terhadap stimulus.

Tingkatan pengetahuan di dalam domain kognitif, mencakup 6 tingkatan, yaitu:

a) Tahu (know): Tahu dapat diperhatikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.

b) Memahami (comprehension): diartikan sebagai kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat mengintepretasikan materi tersebut secara benar.

c) Aplikasi (application): diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya (real).

d) Analisis (analysis) adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.

e) Sintesis (synthesis): suatu kemampuan untuk menyusun formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan dan dapat meringkas, dapat menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.

f) Evaluasi (evaluation): berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek, penilaian didasarkan pada kriteria tertentu (Notoatmodjo, 2007)

Dalam program P2 ISPA, petugas kesehatan harus memiliki pengetahuan tentang tatalaksana kasus penderita ISPA dan tentang kebijakan program P2 ISPA, sehingga diharapkan petugas mampu memberikan pelayanan yang baik.

Menurut Wawan (2010), peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh dari pengetahuan formal saja, tetapi dapat diperoleh melalui pendidikan informal seperti mengikuti

pelatihan, membaca buku pedoman atau media elektronik. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Adnan (2013) bahwa pengetahuan berhubungan dengan keterampilan petugas dalam tatalaksana pneumonia balita. Hasil penelitian ini juga didukung dengan hasil penelitian Duhri, dkk (2013) yang menyebutkan bahwa pengetahuan memiliki kontribusi dalam peningkatan kinerja petugas P2TB.

Dokumen terkait