BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
G. Prosedur Pengumpulan dan Perekaman Data
Deskripsi real yang dilakukan peneliti dalam tahapan penelitian, dan dilakukan sebelum peneliti melakukan wawancara.
2. Wawancara
Penulis melakukan wawancara kepada Ibu Nurul Hasanah dan Ibu Rita tentang dampak kekerasan dalam rumah tangga bagi anak. Dan juga melakukan wawancara kepada Bapak Hayatul Maqi selaku Majlis Hakim di Pengadilan Agama Rangkabitung tentang perlindungan hukum bagi istri terhadap tindak kekerasan dalam rumah tangga setelah melakukan observasi lapangan.
3. Studi Pustaka
Peneliti mencari, mengumpulkan, dan menganalisa bahan-bahan atau teori yang mendukung perlindungan hukum bagi istri terhadap kekerasan dalam rumah tangga.
H. Analisis Data
Teknis analisa data yang digunakan penulis dalam meneliti adalah menggunakan metode deskriptif analisa, yaitu menggambarkan dan menjelaskan secara jelas dan rinci terhadap apa yang dilihat penulis.
Dalam penelitan kualitatif, data diperoleh dari berbagai sumber, dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam-macam (Triangulasi), dan dilakukan secara terus menerus sampai datanya penuh. Dengan pengamatan yang terus menerus tersebut mengakibatkan variasi data tinggi sekali. Data yang diperoleh pada umumnya adalah data kualitatif (walaupun tidak menilak data kuantitatif), sehingga teknik analisis data yang digunakan belum ada polanya yang jelas. Oleh karena itu, sering mengalami kesulitan dalam melakukan analisis. (Sugiyono, 2019:318)
I. Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data
Penelitian kualitatif menghasilkan data deskriptif, dan metode Triangulasi lebih menjadi fokus bahasan. Hal itu terkait dengan penggunaan Triangulasi sebagai teknik pemeriksaan data yang paling banyak digunakan didalam penelitian ini. Triangulasi yaitu merupakan pendekatan multimetode yang dilakukan peneliti pada saat pengumpulan data.
47 BAB IV
TEMUAN-TEMUAN PENELITIAN (CULTURAL THEME)
A. Deskripsi Data
1. Pengadilan Agama Rangkabitung
Pengadilan Agama Rangkabitung di bentuk berdasarkan Staatsbland 1882 Nomor 152 tetang pembentukan pengadilan agama di Jawa dan Madura tanggal 19 Januari dengan nama Raad Agama / Penghulu Landraad.
Pengadilan Agama Rangkasbitung terletak di Kabupaten Lebak, berdiri sekitar +48 Tahun yang lalu. Dengan menempati gedung yang disewa di Kampong Sawah Rangkasbitung, Pengadilan Agama Rangkabitung secara operasional menjalankan tugasnya.
Pada tahun 1979 lokasi kantor pindah ke Jl. Raya Leuwidamar No. 40 dengan status tanah hibah atau pelepasan hak dari K.Moh. Ujer seluas 640 M2. Gedung Pengadilan Agama Rangkasbitung dibangun ditanah seluas 640 M2 dengan luas bangunan +350 M2.
Pada tahun 1983 dilakukan rehabilitasi atau perluasan bangunan 100 M2 dengan biaya Rp. 12.405.000,00. pada tahun anggaran 2007 Pengadilan Agama Rangkasbitung telah membeli tanah untuk gedung kantor seluas 5000 M2 yang terletak dijalan Sudirman, Narimbang Rangkasbitung, yang anggarannya dititpkan kepada PTA Banten. Dan saat ini kamtor Pengadilan Agama Rangkasbitung telah berpindah lokasi yaitu dijalan
Jendral Sudirman KM 3 Narimbang Mulya, Rangkasbitung, Lebak Banten sejak bukan November 2011.
Dasar hukum pembentukan Pengadilan Agama Rangkasbitung secara tertulis tidak diketahui hanya disebutkan bahwa kompetensi relative Pengadilan Agama di Jawa Barat dan Madura antara lain dalam Pasal 1 Staatblaad 1882 No. 152 Jo.
Staatblaad 1937 No. 116,610, bahwa di tempat-tempat yang ada Pengadilan Negeri harus ada Pengadilan Agama, yang daerah hukumnya sama dengan daerah hukum Pengadilan Negeri.
Nama Pengadilan Agama digunakan sebagaimana istilah yang ditentukan oleh Pemerintah dengan beberapa kali perubahan seperti Raad Agama atau Penghulu Landraad sampai dibakukannya nama Pengadilan Agama. Sedangkan nama
“Rangkasbitung” diambil dari nama Ibukota Kabupaten Lebak yang semula pada dasarnya kesultanan Banten tahun 1813 disebut wilayah Banten Kidul dengan Ibukota Cilangkahan.
Kondisi Geografi
Posisi : 60 18" - 70 00" LS dan 1050 25" - 1060 30"
Wilayah : 285,996 Ha, dengan 23 Daerah/ kecamatan dengan jumlah desa / kelurahan sebanyak 104Desa.
Batas Wilayah : Utara : Kabupaten Seran
Timur : Kabupaten Tangerang, Bogor dan Sukabumi Barat : KabupatenPandeglang.Selatan : Samudra Indonesia;
2. Visi dan Misi Pengadilan Agama Rangkasbitung
• Visi
“Terwujdnya Badan Peradilan Agama Indonesia Yang Agung”
Yang bertujuan tercapainya pelayanan prima kepada masyarakay pencari keadilan, tersedianya sarana dan prasarana yang memadai serta didukung oleh SDM Profesional, terciptanya peradilan agama yang mandiri dan independen serta bebas dari campur tangan pihak lain dalam proses peradilan, tercapainya kualitas pelayanan hukum kepada masyarakat yang didasari pada asas peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan dan terwujudnya sistem peradilan yang cepat, efektif, efisien, dan informasi yang mudah diserap, peningkatan tertib administrasi perkara.
• Misi a. Menjaga Kemandirian Badan Peradilan;
b. Memberikan Pelayanan Hukumyang Berkeadilan Kepada Pencari Keadilan;
c. Meningkatkan Kualitas Kepemimpinan Badan Peradilan;
d. Meningkatkan Kredibilitas Badan Peradilan;
3. Struktur organisasi pengadilan agama rangkasbitung
Struktur organisasi Pengadilan Agama Rangkasbitung terdiri dari dua bagian, yaitu jabatan secara struktural dan jabatan secara fungsional. Jabatan struktural terdiri dari Ketua, Wakil ketua, Panitera / Sekretaris, Panitera Muda Gugatan, Panitera Muda Permohonan, Panitera Muda Hukum, kaur ortala dan kepegawaian, urusan umum, kaum perencanaan dan keuangan, sedangkan fungsional terdiri majlis hakim, panitera pengganti dan jurusita pengganti.
Table 4.1
Nama dan Jabatan Pegawai Pengadilan Agama Rangkasbitung
No Jabatan Nama
1 Ketua H. Abdul Majid, S.H.I.,M.H
2 Wakil Ketua M.Isna
Wahyudi,S.H.I.,M.S.I
3 Panitera Hidayat, S.H
4 Panmud Permohonan Sarmanah,S.H
5 Staff Panmud
Permohonan Surgi
6 Panmud Gugatan Syahrul, S.H.,M.H 7 Staff Panmud Gugattan Lisnawati, S.H
8 Staff Panmud Hukum Muhammad Yunus, S.H.I 9 Sekretaris Ahmad Sofyan, S.H.,M.M
10 Kasubag Perencanaan
dan Pelaporan Dedi Supriadi, S.H.,M.M
11 Kasubag Umum dan
Keuangan Nurdin, S.H.I.,M.H
12 Staff Kasubag Umum dan Keuangan
Kepegawaian dan Ortala Helmy Ziaul Fuad, S.H.I
15 Bendahara dan
Pengeluaran Diding Awaludin, S.H 16
20 Diding Awaludin, S.H
21 Harriyono, S.H.I
22 SyahruL, S.H.,M.H
23 H. Asmadih Mahmud, S.Lc
24 Siti Adini, S.H.I.,M.H
25 LisnawatI, S.H
26 Muhammad Yunus, S.H.I
27 Nur Ardi, S.H
28 Evi Firmansyah, S.H
29 Rendhi Renaldhi, S.H
30 Nengceu Siti R. S.H.I
31
Jurusita
Rafiudin
32 Asep Saepudin, S.H
33 Surgi
B. Hasill Penelitian
Kekerasan dalam rumah tangga dapat diartikan sebagai ungkapan perasaan marah dan bermusuhan yang mengakibatkan hilangnya kontrol diri dimana individu bisa berprilaku menyerang atau melakukan suatu tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri, orang lain dan lingkungan dalam organisasi terkecil dalam masyarakat yang terbentuk karena adanya perkawinan. kekerasan dalam rumah tangga sering dilakukan bersama dengan salah satu bentuk tindak pidana, misalnya penganiayaan, pengancaman dan seterusnya sesuai yang telah diatur dalam perundang-undangan yang berlaku. (Moerti Hadiati Soeroso,2018:76)
Sebagai langkah awal dan untuk mendapatkan jawaban mengenai pertanyaan penulis mengenai dampak kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak dan mengetahui apakah masih ada perlindungan hukum bagi korban kekerasan dalam rumah tangga di Pengadilan Agama Rangkasbitung, maka penulis melakukan observasi. Kunjungan lapangan yang penulis lakukan pada tanggal 14 Juni 2021 bertepatan pada hari senin.
1. Dampak kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak
Setelah melakukan wawancara dengan Ibu Nurul Hasanah dan Ibu Rita bahwa dampak kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak sangat mempengaruhi psikis anak tersebut.
Ibu Nurul Hasanah memaparkan: Bagi anak-anak yang jadi saksi kekerasan dalam keluarga, juga dapat mengalami trauma berupa gangguan fisik, mental dan emosional. Pengalaman melihat kekerasan dalam rumah tangga pada anak dapat menimbulkan berbagai persoalan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek seperti: ancaman terhadap keselamatan hidup anak, merusak struktur keluarga, munculnya berbagai gangguan mental. Sedangkan dalam jangka panjang memunculkan potensi anak terlibat dalam perilaku kekerasan dan pelecehan di masa depan, baik sebagai pelaku maupun korbannya.
Maksud dari pemaparan Ibu Nurul bahwasannya, anak-anak yang menjadi saksi kekerasan yang dialami ibunya oleh ayahnya memiliki dua dampak yaitu jangka pendek dan jangka Panjang.
Sepanjang dia menyaksikan ibunya mengalami kekerasan dia akan memiliki rasa trauma yang disebabkan oleh kasus KDRT.
Pada kenyataannya kasus-kasus trauma yang ada dan dihadapi oleh orangtua, psikolog, terapis dan pemerhanti masalah anak saat ini, juga mencakup pada trauma anak di bidang pendidikan.
Pada anak-anak di perkotaan, sering dijumpai kasus dimana anak mengalami trauma, untuk mengikuti pembelajaran matematika, fisika, bahasa Inggris bahkan untuk belajar membaca Al-Qur’an.
Perlakuan yang kasar dilihat anak dalam proses belajar mengajar, kemampuan yang lambat dalam menerima materi, bahkan ejekan atau penghinaan yang diterima anak dari teman sekelas akibat mendapat nilai buruk atau tidak bisa menjawab pertanyaan. Hal ini juga mendorong kasus trauma yang terjadi pada anak. Sehingga, trauma tidak dapat dilihat sebagai persoalan yang sederhana dan sporadis terjadi pada orang-orang tertentu saja.
Sedangkan menurut pemaparan Ibu Rita: Pengalaman menyaksikan dan mengalami KDRT adalah suatu peristiwa traumatis karena kekerasan dilakukan oleh orang-orang yang terdekat bagi anak, keluarga yang semestinya memberikan rasa aman, justru menampilkan dan memberikan kekerasan yang menciptakan rasa takut serta kemarahan. Pengalaman traumatis anak menyaksikan dan mengalami KDRT sering ditemukan sebagai prediktor munculnya problem psikologis di masa depan, seperti: penelantaran dan pelecehan secara fisik dan psikologis pada anak.
2. Perlindungan hukum bagi istri terhadap tindak kekerasan dalam rumah tangga
Setelah melakukan wawancara Bapak Hayatul Maqi selaku Majlis Hakim di Pengadilan Agama Rangkabitung tentang perlindungan hukum bagi istri terhadap tindak kekerasan dalam rumah tangga. Berikut pemaparannya:
Mengatakan bahwa peranan seorang hakim dalam melindungi hak hak perempuan adalah memberikan keadilan kepada korban maupun terdakwa dalam hal kasus tersebut telah diperiksa oleh pengadilan. Dalam memberikan putusan yang memberikan keadilan, maka hakim memiliki pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
a. Apakah kejahatan tersebut dilakukan oleh terdakwa dengan memanfaatkan kelemahan perempuan seperti kelemahan fisik, pengetahuan, ekonomi, maupun status sosial perempuan,
b. Apakah perbuatan tersebut sudah merupakan kebiasaan atau mata pencaharian bagi terdakwa,
c. Sampai sejauhmana trauma dan harapan masa depan korban terganggu karena perbuatan terdakwa,
d. Apakah ada indikasi penyesalan dari terdakwa atau apakah terdakwa membahayakan bagi korban
Seorang hakim harus memberikan rasa keadilan, bukan hanya untuk terdakwa, tetapi juga untuk korban. Agar dapat memberi keadilan pada kedua belah pihak, sesuai ketentuan UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, hakim
sebagai penegak hukum dan keadilan wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat dan dalam mempertimbangkan berat ringannya pidana, hakim wajib memperhatikan pula sifat-sifat yang baik dan jahat dari tertuduh.
Hal ini sulit, diperlukan adanya kepekaan nilai keadilan dalam masyarakat mengingat nilai-nilai yang berkembang di masyarakat mengalami perubahan seiring berjalannya waktu.
Dalam memberikan keadilan bagi korban dan terdakwa, hakim juga melihat unsur penyesalan dari terdakwa, sehingga hakim tidak semata-mata berpatokan kepada tuntutan jaksa dan ancaman pidana yang ada pada KUHP tetapi dengan memperhatikan sikap, kelakuan terdakwa selama pemeriksaan, apakah terdakwa sudah berlaku baik atau tidak, apakah ada penyesalan atau tidak sehingga penjatuhan putusan tidak semata mata untuk menghukum tetapi memberi pelajaran agar tidak mengulangi lagi perbuatannya. Dari paparan sebagaimana tersebut di atas, secara yuridis formal, UU No. 23 tahun 2004 memang telah memberi perlindungan kepada korban tindak kekerasan fisik dalam rumah tangga
C. Pembahasan
Pada bagian ini penulis akan menjelaskan hasil dari penelitian yang dilakukan yaitu, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan fakta sosial yang bersifat universal karena dapat terjadi dalam sebuah rumah tangga tanpa pembedaan budaya, agama, suku bangsa, dan umur pelaku maupun korbannya. Karena itu, ia dapat
terjadi dalam rumah tangga keluarga sederhana, miskin dan terbelakang maupun rumah tangga keluarga kaya, terdidik, terkenal, dan terpandang. Tindak kekerasan ini dapat dilakukan oleh suami atau istri terhadap pasangan masing-masing, atau terhadap anak-anak, anggota keluarga yang lain, dan terhadap pembantu mereka secara berlainan maupun bersamaan. Perilaku merusak ini berpotensi kuat menggoyahkan sendi-sendi kehidupan rumah tangga dengan sederetan akibat di belakangnya, termasuk yang terburuk seperti tercerai-berainya suatu rumah tangga.
Dampak kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak yang bisa terlihat adalah risiko luka fisik bagi mereka yang mengalaminya. Kekerasan fisik ini meliputi memar, luka terbuka, patah tulang, terkilir, kelelahan kronis, nafas pendek, gemetar tanpa sadar, ketegangan otot, dan lain sebagainya.
Perlindungan hukum bagi istri terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga di Pengadilan Agama Rangkasbitung sudah cukup maksimal, terdapat perlindungan hukum dan fisik yang dilakukan instansi negara terhadap korban maupun terhadap pelaku.
BAB V
KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan dari uraian yang penulis paparkan di bab-bab sebelumnya, berkaitan dengan Perlindungan Hukum Bagi Istri terhadap Tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Pengadilan Agama Rangkasbitung dapat diambil kesimpulannya bahwa :
1. Dampak kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak mengakibatkan trauma pada jiwa seorang anak tidak dapat dilihat dengan kasat mata bahkan cenderung menjadi bentuk yang abstrak sesuai dengan fenomena-fenomena yang muncul dari perilaku anak yang mengalami trauma.
2. Perlindungan hukum bagi istri terhadap kekerasan dalam rumah tangga di Pengadilan Agama Rangkasbitung sudah cukup melindungi korban maupun pelaku yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada.
3. Landasan mengenai tinjauan hukum kekerasan dalam rumah tangga adalah kitab Undang-undang 1945 dan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
B. IMPLIKASI
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Perlindungan hukum sangat penting bagi korban terkhusus istri dalam tindak kekerasan dalam rumah tangga. Dimana korban merasa masih ada yang mau mendengarkan dan melindunginya. Hal ini mengandung implikasi
bahwa kedepannya harus diadakan sosialisasi terhadap masyarakat sekitar tentang perlindungan hukum bagi korban terhadap Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
C. SARAN
1. Mengingat perlindungan hukum bagi istri di Pengaddilan Agama Rangkasbitung sudah cukup maksimal, namun alangkah baiknya Pengadilan Agama Rangkasbitung juga lebih memperhatikan korbannya terlebih dahulu, apakah ada dampak yang sangat besar bagi istri atas kekerasan yang diterima atau tidak.
2. Kepada korban kekerasan dalam rumah tangga di Rangkasbitung agar mau lebih terbuka kepada orang sekitar untuk melaporkan kepada pihak berwajib terhadap kekerasan yang dialaminya.
NOMOR 895/Pdt.G/2020/PA.Rks.
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA
Pengadilan Agama Rangkasbitung yang memeriksa dan mengadili perkara Perdata Agama pada tingkat pertama, dalam persidangan Majelis Hakim, telah menjatuhkan putusan dalam perkara Cerai Gugat antara:
PENGGUGAT, NIK: 3604245506880003, Usia 32 Tahun, agama Islam, pekerjaan Asisten Rumah Tangga, pendidikan terkahir SD, bertempat tinggal di KABUPATEN LEBAK. Selanjutnya disebut sebagai Penggugat;
melawan
TERGUGAT, Usia 38 Tahun, agama Islam, pekerjaan Buruh Harian Lepas, pendidikan terakhir SD, bertempat tinggal di KABUPATEN SERANG. Selanjutnya disebut sebagai Tergugat;
Pengadilan Agama tersebut;
Telah mempelajari berkas perkara;
Telah mendengar keterangan Penggugat;
Telah memeriksa bukti-bukti di persidangan;
DUDUK PERKARA
Bahwa Penggugat berdasarkan surat gugatannya tertanggal 19 Oktober 2020, yang telah terdaftar di Kepaniteraan Pengadilan Agama Rangkasbitung dengan Nomor Register 895/Pdt.G/2020/PA.Rks. tanggal 19 Oktober 2020 mengajukan hal-hal sebagai berikut:
Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kecamatan XXXXXXXXXX, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, sebagaimana terbukti dalam Kutipan Akta Nikah Nomor: 259/131/II/2005 tanggal 13 Februari 2005;
2. Bahwa, setelah menikah Penggugat dan Tergugat hidup berumah tangga terakhir tinggal di kediaman milik bersama di Kampung KABUPATEN SERANG;
3. Bahwa, selama pernikahan antara Penggugat dengan Tergugat telah berhubungan sebagaimana layaknya suami istri dan dikaruniai 2 (dua) orang anak masing-masing bernama:
a. Amelia Putri, Perempuan, lahir di Serang, pada tanggal 04 September 2006;
b. Jenita Rahma Wati, Perempuan, lahir di Serang, pada tanggal 16 April 2015;
4. Bahwa, semula rumah tangga Penggugat dengan Tergugat berjalan rukun dan harmonis, namun sejak bulan September 2017 rumah tangga mulai goyah terjadi perselisihan dan pertengkaran yang disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
a. Tergugat kurang bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dibantu oleh Penggugat berjualan makanan di rumah;
b. Tergugat memiliki sifat Tempramental seperti ketika sedang marah Tergugat suka menendang, mencengkik, dan membakar tangan Penggugat dengan Rokok;
c. Tergugat sudah menjatohkan Talak kepada Penggugat di luar Pengadilan Agama Rangkasbitung tertanggal 31 Desember 2017;
Penggugat dengan Tergugat telah berpisah Rumah, yang pergi dari kediaman milik bersama adalah Penggugat serta sejak saat itu sampai sekarang Tergugat tidak pernah memberikan nafkah lahir dan bathin serta sudah tidak ada komunikasi yang baik;
6. Bahwa, Penggugat telah berusaha mempertahankan rumah tangga dengan cara musyawarah kekeluargaan namun usaha tersebut tidak berhasil;
7. Bahwa, rumah tangga tersebut sudah sulit untuk dibina menjadi suatu rumah tangga yang baik dan harmonis kembali, sehingga tujuan perkawinan untuk membentuk suatu rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah sudah tidak mungkin tercapai lagi;
8. Bahwa Penggugat bersedia membayar biaya perkara sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
Berdasarkan alasan-alasan tersebut diatas, Penggugat mohon kepada Ketua Pengadilan Agama Rangkasbitung Cq. Majelis Hakim yang ditunjuk untuk memeriksa dan mengadili perkara ini, menjatuhkan putusan sebagai berikut :
1. Mengabulkan gugatan Penggugat;
2. Menjatuhkan talak satu bai'n sughra Tergugat (TERGUGAT) terhadap Penggugat (PENGGUGAT);
3. Menetapkan biaya perkara menurut hukum;
Dan apabila Majelis Hakim berpendapat lain mohon keputusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono);
Bahwa pada hari persidangan yang telah ditetapkan Penggugat hadir di persidangan, sedangkan pihak Tergugat tidak pernah hadir dan tidak menyuruh orang lain untuk hadir di persidangan sebagai wakil atau kuasanya, meskipun berdasarkan Relaas Panggilan dari Pengadilan Agama Rangkasbitung, yang dibacakan di persidangan ternyata Tergugat telah
Bahwa berhubung pihak Tergugat tidak pernah hadir di persidangan sehingga perdamaian melalui prosedur mediasi sebagaimana diatur dalam Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 1 tahun 2016 tidak dapat dilaksanakan, namun demikian Majelis Hakim telah berusaha untuk mendamaikan dengan cara menasehati Penggugat agar rukun kembali dalam satu rumah tangga dan mengurungkan niatnya untuk bercerai, akan tetapi usaha tersebut tidak berhasil dan Penggugat menyatakan tetap pada gugatannya tersebut;
Bahwa dalam sidang yang tertutup untuk umum dibacakanlah surat gugatan Penggugat yang terhadap isi dan maksudnya tetap dipertahankan oleh Penggugat dengan memberikan penjelasan secukupnya di persidangan;
Bahwa atas gugatan Penggugat tersebut, tidak dapat didengarkan jawaban dari Tergugat karena tidak pernah hadir di persidangan;
Bahwa untuk menguatkan dalil gugatannya, Penggugat telah menyerahkan alat bukti tertulis berupa:
1. Fotokopi Surat Keterangan Domisili, yang dikeluarkan oleh Kepala Desa Pabuaran Kecamatan Rangkasbitung Kabupaten Lebak. Bukti surat tersebut telah diberi meterai cukup dan telah dinazegelen Kantor Pos serta telah dicocokkan dengan aslinya yang ternyata sesuai, lalu oleh Ketua Majelis diberi tanda P.1.;
2. Fotokopi Kutipan Akta Nikah Penggugat dan Tergugat, yang dikeluarkan oleh Kantor Urusan Agama Kecamatan XXXXXXXXXX Kabupaten Lebak. Bukti surat tersebut telah diberi meterai cukup dan telah dinazegelen Kantor Pos serta telah dicocokkan dengan aslinya yang ternyata sesuai, lalu oleh Ketua Majelis diberi tanda P.2.;
pada pokoknya sebagai berikut:
I. M. Husin bin Inung, Umur 71 tahun, Agama Islam, Pekerjaan Petani, bertempat tinggal di Kampung Cibuah Pabuaran, RT.020, RW.007, Desa Cibuah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak. hubungan sebagai Tetangga Penggugat;
- Bahwa, saksi mengenal Penggugat dan Tergugat sebagai suami isteri yang sah dan sudah dikaruniai 2 (dua) orang anak;
- Bahwa, saksi mengetahui setelah menikah Penggugat dan Tergugat tinggal di Kampung Pamonggor Sangiang Pamarayan Serang;
- Bahwa, saksi mengetahui keadaan rumah tangga Penggugat dan Tergugat pada awalnya rukun dan harmonis, akan tetapi kurang lebih saat ini sudah tidak rukun lagi sering terjadi pertengkaran;
- Bahwa, saksi pernah melihat Penggugat dan Tergugat bertengkar;
- Bahwa, saksi mengetahui yang menjadi penyebab ketidak harmonisan rumah tangga Penggugat dan Tergugat karena Tergugat kurang memberi nafkah kepada Penggugat, Tergugat sering berkata kasar bahkan pernah memukul Penggugat;
- Bahwa, saksi mengetahui antara Penggugat dan Tergugat sudah pisah rumah sejak Akhir 2017 yang lalu sampai dengan sekarang sudah tidak bersatu lagi;
- Bahwa, baik saksi maupun pihak keluarga sudah berusaha merukunkan Penggugat dan Tergugat akan tetapi tidak berhasil;
II. M. Husin bin Inung, Umur 71 tahun, Agama Islam, Pekerjaan Petani, bertempat tinggal di Kampung Cibuah Pabuaran, RT.020, RW.007, Desa Cibuah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak. hubungan sebagai Tetangga Penggugat;
- Bahwa, saksi mengetahui rumah tangga Penggugat dan Tergugat sudah tidak lagi harmonis, sering terjadi perselisihan dan pertengkaran yang mengakibatkan antara Penggugat dan Tergugat pisah rumah sejak Akhir 2017 yang lalu sampai dengan sekarang dan selama berpisah antara Penggugat dan Tergugat tidak pernah bersatu lagi;
- Bahwa, saksi pernah melihat Penggugat dan Tergugat bertengkar;
- Bahwa, saksi mengetahui penyebab perselisihan dan pertengkaran Penggugat dan Tergugat disebabkan karena Tergugat kurang memberi nafkah kepada Penggugat, Tergugat sering berkata kasar bahkan pernah memukul Penggugat;
- Bahwa, pihak keluarga sudah ada upaya mendamaikan dan merukunkan Penggugat dan Tergugat akan tetapi tidak berhasil;
Bahwa atas bukti tertulis dan keterangan kedua orang saksi tersebut, Penggugat menyatakan tidak keberatan dan membenarkannya, sedangkan Tergugat tidak dapat didengar tanggapannya karena tidak hadir;
Bahwa selanjutnya Penggugat menyatakan dalam kesimpulannya tidak ada lagi bukti yang akan diajukan lagi dalam persidangan ini dan tetap pada gugatannya serta memohon agar Pengadilan Agama Rangkasbitung menjatuhkan putusannya;
Bahwa untuk meringkas putusan ini ditunjuk Berita Acara Sidang yang merupakan hal-hal yang tak terpisahkan dari kesempurnaan putusan
Bahwa untuk meringkas putusan ini ditunjuk Berita Acara Sidang yang merupakan hal-hal yang tak terpisahkan dari kesempurnaan putusan