• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PEMBAHASAN

A. Faktor Utama Penyebab Terjadinya Perceraian Orang Tua

Perceraian merupakan pecahnya hubungan antara suami dan isteri yang berdampak pada pecahnya sebuah keluarga. Perceraian dapat disebabkan karena berbagai masalah rumah tangga yang muncul dalam keluarga. Masalah tersebut bisa karena banyak faktor.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pernyebab perceraian orang tua yang terjadi pada subjek dalam penelitian ini adalah adanya faktor ketidakharmonisan keluarga, adanya pria idaman lain, masalah keuangan dan kurangnya komunikasi serta kebiasan buruk dari salah satu orang tua.

1. Ekonomi

Pada pembahasan faktor dari perceraian yang terjadi pada korban perceraian peneliti menganalisis salah satu faktor terjadinya perceraian ini pelaku merasa bahwa kurang tertanamnya faktor agama pada suami-istri dengan demikian kata-kata perceraian sangat mudah diungkapan dengan adanya faktor menyebabkan pasanagan suami istri tersebut terus terjadi perselisihan dan akhirnya menyebabkan perceraian.

Perceraian akan selalu berdampak pada perkembangan anak diantaranya sikap sosial anak. Hal ini diperkuat dengan Inpres Nomor 1 tahun 1991 Pasal 156 bahwa kaitannya dengan akibat perceraian salah satunya adalah anak-anaknya.

Suami memiliki kewajiban untuk menafkahi istri baik nafkah lahir dan batin. Apabila nafkah tidak diperhatikan oleh suami, maka akan mengancam mahligai rumah tangga. Oleh karena itu, suami mesti memperhatikan nafkah kepada istri.

Perceraian disebabkan oleh ekonomi kerap sekali terjadi, di dalam Undang- Undang bahwa suami wajib memberikan nafkah, kiswah, dan tempat tinggal bagi istri, kemudian suami wajib memberikan biaya perawatan dan pengobatan bagi istri apabila ia sakit. Penulis di atas sudah memaparkan bahwa salah satu kewajiban suami adalah memberikan nafkah baik lahir

37

ataupun batin kepada istri. Banyak faktor menyebabkan runtuhnya mahligai rumah tangga, jika ekonomi sebagai penyebabkan ada 2 kemungkinan. Pertama, istri bersikap qana‟ah terhadap suaminya. Kedua, suami yang bermalas-malasan dalam mencari nafkah.

Salah satu menandakan istri yang baik adalah menerima suami apa adanya. Ketika suami sudah berusaha semaksimal mungkin dalam mencari nafkah, maka istri bersikap bijak dan menghargai usaha dari suami karena sudah berjuang semaksimal mungkin dalam mencari nafkah untuk istri dan anak-anaknya.

Menurut kacamata Islam, bahwa suami dilarang bermalas-malasan dalam mencari nafkah, karena suami mempunyai tanggungan yaitu ibu, istri dan anak-anak. Tidak dibenarkan jika suami bermalas-malasan dalam mencari nafkah bahkan sekalipun berdalih beribadah kepada tuhannya. Islam tidak membenarkan meminta-minta tanpa mencucurkan keringatnya padahal sejatinya ia mampu untuk bekerja.

ر ْم َج لا ُلُك ْ ْ أَي ا َمَّن َ

أ َك َف ، ٍر ْقَف ِرْيَغ ْنِم َلَأ َس ْنَم

26

Artinya: “Orang yang meminta-minta, padahal tidak begitu mengajatkan, sama halnya seperti orang yang memungut bara api.”

Tingkat ekonomi menunjukan tinggi rendahnya kedudukan sosial seseorang dan kemampuan ekonomi dalam keluarga. Tinggi rendahnya kemampuan ekonomi seseorang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dalam suatu keluarga.

Kondisi demikian memang tidak bisa dipungkiri, sebab hal tersebut juga mempengaruhi kebahagiaan dan kesejahteraan dalam keluarga, karena dapat menimbulkan percekcokan atau perselisihan dalam keluarga yang bisa mengarah ke perceraian.

Perhatian orang tua kepada anak merupakan hal yang sangat penting. Dengan tidak memperhatikan anak, menyebabkan anak tidak ada semangatnya. Terlebih pada anak-anak yang menginjak usia remaja, mereka beresiko mengalami kegagalan akademik, kenakalan remaja dan penyalahgunaan narkoba.

38

Disinilah peran mantan suami dan istri dalam mengesampingkan permasalahan antara keduanya baik yang terjadi sebelum dan sesudah perceraian. Dengan berusaha melindungi, mengasuh, memperhatikan, membimbing, dan membina anaknya.

Perceraian tersebut juga dapat disebabkan suaminya yang masih menganggur atau bermata pencaharian tidak layak, oleh sebab itu istri merasa tidak tahan karena tidak diberi nafkah lahir batin oleh suami atau diberi hanya pas-pasan. Secara ekonomi keluarga yang baru bercerai akan mengalami perubahan keuangan (kebutuhan hidup), dimana sang istri tidak lagi mendapatkan nafkah dari mantan suami, sehingga sang istri akan berusaha memenuhi kebutuhan anak dengan sendirinya (meskipun mantan suami wajib memberi nafkah anak sampai anak mandiri).

Apabila keuangan atau ekonomi dalam keluarga mengalami kekurangan, maka yang terjadi adalah pertengkaran atau perselisihan antara suami dan istri. Antara istri dan suami sudah merasa kalau perkawinannya tersebut sudah tidak berjalan dengan baik dan tidak berjalan dengan yang diharapkan maka terjadi perceraian. Perceraian disebabkan oleh ekonomi kerap sekali terjadi, di dalam Undang- Undang bahwa suami wajib memberikan nafkah, kiswah, dan tempat tinggal bagi.

2. Perselisihan

Faktor perselisihan ini juga menempati peringkat pertama sebagai faktor penyebab perceraian di Keluarga sama dengan faktor ekonomi. Kebanyakan responden menjawab bahwa perselisihan yang terjadi diawali dengan hal yang sepele, sebuah pertengkaran-pertengkaran kecil seperti anak minta uang jajan, istri menasehati suami agar bekerja dan anak minta uang saku.

Pertengkaran yang awal mulanya dari hal kecil bisa berbuntut besar karena pertengkaran terus menerus terjadi.

Dari hasil wawancara dengan responden ZT perselisihan yang terjadi lebih dikarenakan kedua belah pihak, misalnya oleh karena watak kedua belah pihak yang sukar untuk ditemukan.

Antara suami istri bertahan dengan ego masing-masing maka menimbulkan ketidaknyamanan dan ketegangan-ketegangan

39

dalam rumah tangga yang menyebabkan perceraian tidak dapat terhindarkan. Kebanyakan perselisihan yang timbul disebabkan oleh suami, misalnya perlakukan suami yang terlalu semena-mena terhadap istri. Hingga teramat berat bagi istri untuk bertahan sebagai istri.

Menurut pendapat penulis, perselisihan yang hanya disebabkan hal sepele harusnya dapat dijadikan sebagai bumbu-bumbu dalam rumah tangga untuk mempererat rasa kasih sayang.

Di dalam rumah tangga harus ada rasa saling menghormati.

Seorang istri harus taat dan patuh kepada suami sebagai kepala rumah tangga. Akan tetapi walaupun seorang suami sebagai kepala rumah tangga juga harus menghormati istrinya dan tidak boleh bersikap semena-mena terhadap istri. Apabila selalu timbul perselisihan dalam rumah tangga ada baiknya suami istri harus mengintrospeksi diri agar dapat mengetahui kesalahan masing-masing. Dan dapat menemukan solusi dari masalah yang diperselisihkan terus menerus. Sikap menghormati dan menyayangi itu perlu dalam rumah tangga karena hal tersebut dapat menghindarkan dari perselisihan yang bisa berujung pada perceraian. perbuatan yang menyakitkan hati dan menyengsarakan itu.

Dalam hubungan rumah tangga, perselisihan atau pertengkaran merupakan hal yang biasa. Masalah keuangan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam memicu timbulnya perselisihan dalam rumah tangga, serta adanya pebedaan pendapat antara suami istri. Kadang perselisihan tersebut disertai dengan pemukulan dan penyiksaan fisik.

Dengan adanya perceraian, tentu membawa dampak terhadap pasangan suami dan istri dan juga anak-anaknya. Tetapi dampak yang paling pahit dirasakan adalah dampak yang dialami oleh sang anak. Karena sebuah keluarga bagi anak adalah merupakan suatu sumber kebahagiaan dan kedamaian. Dimana mereka mendapatkan perlindungan, kasih sayang, perhatian dan lainnya. Dampak yang dialami oleh anak tersebut berupa dampak psikologis dan dampak ekonomis. Dampak psikologis itu

40

mencakup perubahan sikap, stabilitas emosional, dan responsibilitas (tanggung jawab).

Apabila keuangan atau ekonomi dalam keluarga mengalami kekurangan, maka yang terjadi adalah pertengkaran atau perselisihan antara suami dan istri. Antara istri dan suami sudah merasa kalau perkawinannya tersebut sudah tidak berjalan dengan baik dan tidak berjalan dengan yang diharapkan maka terjadi perceraian.faktor ekonomi yang tidak terpenuhi Hal tersebutlah yang akhirnya menyebabkan terjadinya perselisihan dan istri selalu mununtut untuk dipenuhi kemudian terjadi perselisihan. Karena perselisihan tersebut tidak dapat diselesaikan secaramusyawarah keluarga maka berujung pada perceraian kedua belah pihak.

Faktor penyebab perceraiannya adalah karena faktor perselisihan dalam hubungan rumah tangga. Masalah ekonomi itulah yang menyebabkan terjadinya persoalan yang pada akhirnya menimbulkan tekanan, perselisihan antara suami dan istri. Karena perempuan selalu menuntut untuk selalu terpenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga ia terus memaksa suami untuk memenuhinya. Padahal suami lagi ada permasalahan ekonomi.

Karena merasa ditekan terus, akhirnya suami dan istri terjadi percek-cokan atau pertengkaran, karena tidak ada yang mau mengalah dan instropeksi akhirnya perselisihan tersebut berujung pada pemukulan dan penganiayaan atau penyiksaan terhadap istrinya tersebut.

B. Dampak Psikologis Remaja Akibat Perceraian Orangtua Di Dusun Karang Daye Desa Penujak Lombok Tengah.

Perceraian tidak hanya menimbulkan gangguan emosional bagi pasangan yang bercerai tetapi juga anak-anak remaja akan terkena dampaknya. Dampak perceraian terhadap anak akan lebih berat dibandingkan pada orangtua. Terkadang anak remaja akan merasa terperangkap di tengah-tengah saat orangtua bercerai. Rasa marah, takut, cemas akan perpisahan, sedih dan malu merupakan reaksi-reaksi bagi kebanyakan remaja dari dampak perceraian.

Perceraian yang terjadi pada suatu keluarga memberikan dampak yang mempengaruhi jiwa dan kondisi anak. Anak yang mengalami

41

hambatan dalam pemenuhannya terkait rasa cinta dan memiliki orangtua harus mengahadapi kenyataan bahwa orangtuanya telah bercerai. Anak mendapat gambaran buruk tentang kehidupan berkeluarga. Dalam perasaan anak, perceraian adalah suatu kekurangan yang memalukan. Perceraian hampir selalu membuat anak bersedih, pemarah, dan lemah jiwanya, intinya anak berada dalam dilema dan merasakan berbagai masalah secara psikologis.

Problem psikologis (psychological problems) mengacu kepada kategori besar masalah dalam pendidikan atau bimbingan, yang meliputi kelainan perkembangan, kegagalan dalam pelaksanaan tugas perkembangan, terhambatnya pemenuhan kebutuhan atau masalah toleransi frustasi, masalah penyesuaian dan kesulitan mengelola diri, dan berbagai mekanisme pertahanan beserta perilaku ikutannya.39

Problem psikologis juga diartikan sebagai gangguan dalam cara berfikir (cognitive), kemauan, emosi, perilaku (psychomotor).

Dari berbagai penelitian dapat dikatakan bahwa problema psikologis adalah kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak normal, baik yang berhubungan dengan fisik, maupun dengan mental. Gangguan tersebut dibagi ke dalam dua golongan yaitu: gangguan saraf (neurosis), dan gangguan jiwa (psikosis).

Adapula anak-anak yang orang tuanya bercerai sering hidup menderita, khususnya dalam hal keuangan serta secara emosional kehilangan rasa aman. Anak-anak mengalami kesulitan ekonomi yang berada di bawah pengasuhan ibu yang berasal dari strata bawah.

Kenyataannya keluarga-keluarga yang berpenghasilan menengah ke bawah (rendah) mempunyai tingkat perceraian lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga menengah ke atas (kaya).

Pada masa ini remaja mulai mengembangkan kematangan tingkah laku, belajar mengendalikan implulsivitas dan membuat keputusan-keputusan awal yang berkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai. selaras dengan pernyataan Subjek LD yang mampu menerima kenyataan dengan keadaan orang tua yang telah bercerai dan tidak membuatnya putus asa dalam menjalani kehidupan kedepan karena

39 Laura A. king, Psikologi Umum, (Jakarta: Salemba Humanika, 2010), hlm.

284-285.

42

subjek memiliki harapan dan keinginan untuk membuat orang tua bangga dengan keberhasilan yang dia raih nanti. Peristiwa perceraian itu menimbulkan berbagai akibat terhadap orangtua dan anak.

Perceraian juga dapat menimbulkan stres dan trauma untuk memulai hubungan baru dengan lawan jenis.40

Dampak positif yang muncul berupa menjadi lebih mandiri.

Hal ini anak tidak tergantung dari orang tua karena mereka dituntut untuk bisa berbuat tanpa pendampingan dari orang tua. Dampak menjadi terlatih juga muncul pada responden dimana pada observasi remaja dalam melakukan sesuatu salah satu contoh berupa mengerjakan pekerjaan rumah menjadi terlatih. Dampak menjadi cepat bangkit jika mengalami keterpurukan, responden lebih banyak mengalami hal tersebut.

Dampak negative yang muncul meliputi merasa malu dengan perceraian orang tua, Merasa mudah marah jika orang lain tidak sesuai dengan keinginan saya, Merasa sulit fokus terhadap sesuatu, merasa kehilangan rasa hormat terhadap orang tua dan mudah menyalahkan orang tua, melakukan sesuatu yang salah, sering tidak peka terhadap lingkungan, tidak memiliki etika dalam bermasyarakat, tidak memiliki tujuan hidup, ingin menang sendiri, merasa tidak aman dengan lingkungan sekitar karena tidak ada orang tua yang melindungi secara utuh. Dampak negatif mendapatkan angka yang bervariasi sehingga hal ini menunjukkan, perceraian dipastikan memuncul- kan dampak prikologis negatif pada anak.

Dampak terhadap anak bila pasangan suami istri sudah mempunyai anak yaitu dampak psikologisnya, apabila anak tersebut masih kecil maka tidak baik terhadap perkembangan jiwa si anak, misalnya dalam bergaul dengan teman sebayanya anak merasa malu, minder dan sebagainya. Setelah terjadinya perceraian tentu saja membawa dampak yang sangat besar terhadap mantan suami, bekas istri, dan anak-anak mereka. Secara otomatis setelah perceraian perubahan yang terjadi adalah perubahan status dari mantan pasangan yang pernah hidup bersama sebagai suami istri, meskipun ada

40 Dagun, S. M. (2002). Psikologi Keluarga. Jakarta: Rineka Cipta.

43

perubahan status bagi orang tua tetapi hal tersebut tidak berlaku terhadap anak, karena tidak adanya istilah mantan anak.

Setelah terjadinya perceraian tentu saja membawa dampak yang sangat besar terhadap mantan suami, bekas istri, dan anak-anak mereka. Secara otomatis setelah perceraian perubahan yang terjadi adalah perubahan status dari mantan pasangan yang pernah hidup bersama sebagai suami istri, meskipun ada perubahan status bagi orang tua tetapi hal tersebut tidak berlaku terhadap anak, karena tidak adanya istilah mantan anak.

Remaja dalam keluarga yang bercerai kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya, sehingga mereka merasa tidak aman, mudah marah, sering merasa tertekan , bersikap kejam atau saling mengganggu orang lain yang usianya lebih muda atau terhadap binatang (hewan), menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan, dan merasa kehilangan tempat berlindung karena dampak perceraian.

Perubahan dari sikap dan perilaku remaja yang sebelum perceraian orang tuanya seperti halnya sifat pemalu, pemarah, pendiam, pemalas dan nakal, ternyata tidak selalu disebabkan dari perceraian orang tuanya, tetapi bisa juga sebelum perceraian anak tersebut sudah bersifat pendiam, pemarah, pemalu, pemalas dan nakal, hanya saja setelah perceraian sikap anak tersebut menjadi sulit terkontrol.

Remaja yang orang tuanya bercerai akan mengalami kebingungan dalam mengambil keputusan, apakah akan mengikuti ayah atau ibu. Mereka cenderung mengalami frustasi karena kebutuhan dasarnya, seperti perasaan ingin disayangi, dilindungi rasa aman dan dihargai, bersamaan dengan peristiwa perceraian orang tuanya. Keluarga yang tidak harmonis, tidak stabil atau berantakan (broken home) merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak yang tidak sehat. Secara psikologi setelah perceraian orang tua akan merasa bersalah terhadap anak-anak mereka, sehingga mereka memanjakannya. Akibatnya anak merasa bahwa orang tuanya adalah merasa milik mereka sendiri dan sulit membuatnya untuk berbagi. Hal tersebut terlihat ketika salah satu anggota ingin membuat anggota baru, maka anak tersebut akan menolak dan menentang keras

44

hal tersebut karena ia merasa apabila orang tuanya menikah lagi, ia akan merasa tersisihkan dan tidak dipedulikan lagi.

Selain perubahan kebutuhan hidup atau keuangan, perceraian tersebut membawa dampak terhadap pendidikan anak. Anak tersebut akan terganggu dalam proses pembelajarannya. Misalnya, anak yang biasanya dalam belajar dirumah dibantu, diarahkan, didorong semangatnya untuk belajar oleh kedua orang tuannya, setelah terjadi perceraian kedua orang tuanya, maka secara otomatis anak tersebut hanya ada satu orang saja yang mengarahkan atau menemani belajar, sehingga anak tersebut tidak semangat dan malas belajar. Apalagi ditambah dengan kesibukan dari ayah atau ibu yang hidup bersama dengannya. Akhirnya anak tersebut tidak terkontrol lagi dalam hal prestasi belajarnya. Selain itu biaya pendidikan yang seharusnya ditanggung oleh kedua orang tuanya setelah terjadinya perceraian maka mengenai biaya pendidikan tersebut akan merasa kesulitan.

Karena yang biasanya biaya berasal dari kedua orang tuanya sekarang hanya satu orang saja. Selain itu apabila orang tua yang diikuti anak tersebut berasal dari keluarga kalangan menengah kebawah.

Permasalahan yang tidak terselesaikan baik sebelum dan sesudah perceraian akan lebih memperburuk hubungan antar keduannya, sehingga mereka akan semakin menjelek-jelekan satu sama lain. Hal tersebut akan membuat sang anak mengalami luka batin. Luka batin tersebut meliputi perasaan kecewa, takut, rasa tidak aman dan frustasi yang berkapanjangan. Kemungkinan anak akan menunjukan perasaan tersebut dengan perubahan sikap, cenderung untuk menyerang dan stres.

C. Penerapan Analisis Transaksional Dalam Menangani Dampak

Dokumen terkait