BAB VI: KESIMPULAN DAN SARAN
2.1 Pengertian Konversi Lahan
Pengertian konversi lahan menurut beberapa ahli dan peneliti sebelumnya
diantaranya Sanggono (1993) berpendapat bahwa Konversi lahan adalah perubahan
penggunaan lahan tertentu menjadi penggunaan lahan lainnya. Karena luas lahan
yang tidak berubah, maka penambahan guna lahan tertentu akan berakibat pada
berkurangnya guna lahan yang lainnya. Pendapat lain menyebutkan alih guna, alih
fungsi, atau konversi lahan secara umum menyangkut transformasi dalam
pengalokasian sumber daya alam dari satu penggunaan ke penggunaan lain
(Kustiawan,1997).
Sanggono (1993) menambahkan konversi penggunaan lahan dapat mengacu
pada 2 (dua) hal, antara lain penggunaan lahan sebelumnya dan rencana tata ruang.
Penggunaan lahan yang mengacu pada penggunaan lahan sebelumnya adalah suatu
penggunaan baru atas lahan yang berbeda dengan penggunaan lahan sebelumnya,
sedangkan konversi yang mengacu pada tata ruang adalah penggunaan baru atas
2.1.1 Konversi lahan pertanian
Pengertian konversi atau alih fungsi lahan secara umum menyangkut
transformasi dalam pengalokasian sumberdaya lahan dari satu penggunaan ke
penggunaan lainnya. Ini tidak terlepas dari situasi ekonomi secara keseluruhan. Di
negara-negara yang sedang berkembang konversi lahan tersebut umumnya
dirangsang oleh transformasi struktur ekonomi yang semula bertumpu pada sektor
pertanian ke sektor ekonomi yang lebih bersifat industrial. Proses transformasi
ekonomi tersebut selanjutnya merangsang terjadinya migrasi penduduk ke
daerah-daerah pusat kegiatan bisnis sehingga lahan pertanian yang lokasinya mendekati
pusat kegiatan bisnis dikonversi untuk pembangunan kompleks perumahan. Proses
konversi lahan tersebut dalam kaitannya dengan transformasi struktur ekonomi dapat
dilihat pada Gambar 2.1.
Gambar 2.1 Proses konversi lahan pertanian Sumber: Kustiawan, 1997
Secara umum pergeseran atau transformasi struktur ekonomi merupakan ciri
dari suatu daerah atau negara yang sedang berkembang. Berdasarkan hal tersebut
maka konversi lahan pertanian dapat dikatakan sebagai suatu fenomena pembangunan
yang pasti terjadi selama proses pembangunan masih berlangsung. Begitu pula
Transformasi ekonomi dari pertanian ke industri Migrasi penduduk ke pusat ekonomi atau bisnis (pusat Kota) Jumlah penduduk di Kota meningkat Terjadinya Konversi lahan
selama jumlah penduduk terus mengalami peningkatan dan tekanan penduduk
terhadap lahan terus meningkat maka konversi lahan pertanian sangat sulit dihindari
(Kustiawan, 1997).
Menurut Irawan (2005) konversi lahan pertanian pada dasarnya terjadi akibat
adanya persaingan dalam pemanfaatan lahan pertanian dengan non pertanian.
Sedangkan persaingan dalam pemanfaatan lahan tersebut muncul akibat adanya tiga
fenomena ekonomi dan sosial yaitu: (1) keterbatasan sumberdaya lahan; (2)
pertumbuhan penduduk; dan (3) pertumbuhan ekonomi. Sama halnya yang
diungkapkan Nasoetion (2003) bahwa secara empiris lahan pertanian merupakan
lahan yang paling rentan terhadap alih fungsi, terutama sawah. Hal tersebut
disebabkan oleh; pertama pembangunan kegiatan non pertanian lebih mudah
dilakukan pada lahan sawah yang relatif datar dibanding lahan kering; kedua
infrastruktur ekonomi lebih memadai; dan ketiga lahan persawahan lebih dekat ke
daerah konsumen atau daerah kota yang lebih padat penduduknya.
Konversi lahan sawah adalah suatu proses yang disengaja oleh manusia, bukan
suatu proses alami. Kita ketahui bahwa percetakan sawah dilakukan dengan biaya
tinggi, namun ironisnya konversi lahan tersebut sulit dihindari dan terjadi setelah
system produksi pada lahan sawah tersebut berjalan dengan baik. Konversi lahan
merupakan konsekuensi logis dari peningkatan aktivitas dan jumlah penduduk serta
wajar terjadi, namun pada kenyataannya konversi lahan menjadi masalah karena
terjadi di atas lahan pertanian yang masih produktif (Anwar, 1993).
Irawan (2005) mengemukakan bahwa konversi tanah lebih besar terjadi pada
tanah sawah dibandingkan dengan tanah kering karena dipengaruhi oleh tiga faktor,
yaitu: (1) pembangunan kegiatan non pertanian seperti kompleks perumahan,
pertokoan, perkantoran, dan kawasan industri lebih mudah dilakukan pada tanah
sawah yang lebih datar dibandingkan dengan tanah kering; (2) akibat pembangunan
masa lalu yang terfokus pada upaya peningkatan produk padi maka infrastruktur
ekonomi lebih tersedia di daerah persawahan daripada daerah tanah kering; (3) daerah
persawahan secara umum lebih mendekati daerah konsumen atau daerah perkotaan
yang relatif padat penduduk dibandingkan daerah tanah kering yang sebagian besar
terdapat di wilayah perbukitan dan pegunungan.
Ditinjau menurut prosesnya, konversi lahan sawah dapat pula terjadi: (1) secara
gradual; (2) seketika (instan). Alih fungsi secara gradual lazimnya disebabkan fungsi
sawah tidak optimal. Umumnya hal seperti ini terjadi akibat degradasi mutu irigasi
atau usaha tani padi di lokasi tersebut tidak dapat berkembang karena kurang
menguntungkan. Alih fungsi secara instant pada umumnya berlangsung di wilayah
sekitar urban, yakni berubah menjadi lokasi pemukiman atau kawasan industri
(Sumaryanto dkk, 1995).
Pola konversi lahan sawah dapat dipilah menjadi dua, yaitu sistematis dan
kawasan pemukiman (real estate), jalan raya, kompleks perkantoran, dan sebagainya
mengakibatkan terbentuknya pola konversi yang sistematis. Lahan sawah yang
dikonversi pada umumnya mencakup suatu hamparan yang cukup luas dan
terkonsolidasi. Konversi lahan sawah yang dilakukan sendiri oleh pemilik lahan
sawah umumnya bersifat sporadis. Luas lahan sawah yang terkonversi kecil-kecil dan
terpencar. Proses konversi lahan sawah bersifat progresif, artinya, lahan sawah di
sekitar lokasi yang telah terkonversi, dalam waktu yang relatif pendek cenderung
berkonversi pula dengan luas yang cenderung meningkat. Secara empiris progresifitas
konversi lahan dengan pola sistematis cenderung lebih tinggi daripada pola yang
sporadis (Direktorat Pangan dan Pertanian 2006).
2.1.2 Faktor yang mempengaruhi konversi lahan pertanian
Menurut Irawan (2005) Konversi lahan pertanian pada dasarnya terjadi akibat
adanya persaingan dalam pemanfaatan lahan pertanian dengan non pertanian.
Sedangkan persaingan dalam pemanfaatan lahan tersebut muncul akibat adanya tiga
fenomena ekonomi dan sosial yaitu: (1) keterbatasan sumberdaya lahan; (2)
pertumbuhan penduduk; dan (3) pertumbuhan ekonomi.
Kuantitas atau ketersediaan lahan disetiap daerah relatif tetap atau terbatas
walaupun secara kualitas sumberdaya lahan dapat ditingkatkan. Pada kondisi
keterbatasan tersebut maka peningkatan kebutuhan lahan untuk memproduksi
komoditas tertentu akan mengurangi ketersediaan lahan yang dapat digunakan untuk
mendorong permintaan lahan di luar sektor pertanian dengan laju lebih besar
dibanding permintaan lahan disektor pertanian, maka pertumbuhan ekonomi
cenderung mengurangi kuantitas lahan yang dapat digunakan untuk kegiatan
pertanian. Pengurangan kuantitas lahan yang dialokasikan untuk kegiatan pertanian
tersebut berlangsung melalui konversi lahan pertanian, yaitu perubahan pemanfaatan
lahan yang semula digunakan untuk kegiatan pertanian ke pemanfaatan lahan di luar
pertanian seperti kompleks perumahan, kawasan perdagangan, kawasan industri, dan
seterusnya (Irawan 2004).
Konversi lahan sawah ke penggunaan non sawah menurut Pakpahan, et all.
(1993) mencakup: (1) konversi lahan sawah ke penggunaan non sawah yang meliputi
konversi ke penggunaan tambak, perkebunan, lahan kering tanaman pangan; (2)
konversi lahan sawah ke penggunaan non pertanian, yang meliputi konversi ke
penggunaan prasarana, pemukiman, industri dan pariwisata.
Selanjutnya Pakpahan (1993) membagi faktor yang mempengaruhi konversi dalam
kaitannya dengan petani yakni faktor tidak langsung dan faktor langsung. Faktor
tidak langsung antara lain perubahan struktur ekonomi, pertumbuhan penduduk, arus
urbanisasi dan konsistensi implementasi rencana tata ruang. Sedangkan faktor
langsung dipengaruhi oleh pertumbuhan pembangunan sarana transportasi,
pertumbuhan kebutuhan lahan untuk industri, pertumbuhan sarana pemukiman dan
sebaran lahan sawah. Faktor langsung dipengaruhi oleh faktor tidak langsung, seperti
pertumbuhan penduduk akan menyebabkan pertumbuhan pemukiman, perubahan
pembangunan sarana transportasi dan lahan untuk industri, serta peningkatan arus
urbanisasi akan meningkatkan tekanan penduduk atas lahan di pinggiran kota. Alih
fungsi lahan menjadi isu penting karena sebagian besar terjadi pada lahan pertanian
produktif dan adanya indikasi pemusatan penguasaan lahan di satu pihak dan proses
fragmentasi lahan dipihak lain.
Konversi lahan tersebut umumnya dirangsang oleh transformasi struktur ekonomi
yang semula bertumpu pada sektor pertanian ke sektor ekonomi yang lebih bersifat
industrial khususnya di negara-negara yang sedang berkembang. Proses transformasi
ekonomi tersebut selanjutnya merangsang terjadinya migrasi penduduk ke
daerah-daerah pusat kegiatan bisnis sehingga lahan pertanian yang lokasinya mendekati
pusat kegiatan bisnis dikonversi untuk pembangunan kompleks perumahan. Secara
umum pergeseran atau transformasi struktur ekonomi merupakan ciri dari suatu
daerah atau negara yang sedang berkembang. Berdasarkan hal tersebut maka konversi
lahan pertanian dapat dikatakan sebagai suatu fenomena pembangunan yang pasti
terjadi selama proses pembangunan masih berlangsung. Begitu pula selama jumlah
penduduk terus mengalami peningkatan dan tekanan penduduk terhadap lahan terus
meningkat maka konversi lahan pertanian sangat sulit dihindari (Kustiawan, 1997).
Dalam penelitiannya Kustiawan (1997) menjelaskan bahwa faktor yang
mempengaruhi perubahan lahan pertanian adalah perkembangan kawasan terbangun,
laju pertumbuhan penduduk perkotaan dan laju perubahan PDRB. Hal ini sejalan
dengan Arsyad (1999) yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi diartikan
memandang apakah kenaikan tersebut lebih besar atau lebih kecil dari tingkat
pertumbuhan penduduk atau apakah perubahan struktur ekonomi terjadi atau tidak.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dapat dikatakan sebagai ukuran
produktifitas wilayah yang paling umum diterima secara luas sebagai standar ukuran
pembangunan dalam skala wilayah. Oleh karenanya walaupun memiliki berbagai
kelemahan PDRB dinilai sebagai tolak ukur pembangunan yang paling operasional
dalam skala negara di dunia. Lebih lanjut Suhartanto (2008) dan Witjaksono (2006),
menyatakan alasan ekonomi senantiasa melatar-belakangi dan menjadi faktor
pendorong terjadinya konversi lahan pertanian antara lainn: (1) nilai land rent yang
diperoleh dari usaha pertanian senantiasa lebih rendah dibanding nilai land rent untuk
sektor non pertanian (perumahan, jasa, industri, infrastrukur jalan); (2) kesejahteraan
petani yang masih tertinggal; (3) kepentingan pemerintah daerah diera otonomi
daerah khususnya terkait penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD), ada anggapan
sektor pertanian tidak memberikan keuntungan yang signifikan; dan (4) lemahnya
fungsi kontrol dan pemberlakuan peraturan oleh lembaga terkait.
Menurut Lutfi (1997) dalam konteks pengembangan sumber daya alam, alih
fungsi lahan pertanian ke non pertanian adalah suatu proses yang bersifat irrefersible
atau tidak dapat balik. Proses alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian merupakan
suatu proses yang melibatkan preferensi individu dan preferensi masyarakat dalam
alokasi pemanfaatan tanah. Studi pada beberapa penelitian telah menghasilkan
faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan lahan pertanian ke non pertanian. Faktor-faktor-faktor
pertanian yang terjadi dan permasalahan terjadinya perubahan lahan pertanian
tersebut.
Saefulhakim (1996) menerangkan tentang peranan karakteristik wilayah dalam
menentukan laju konversi lahan pertanian, dapat diuraikan sebagai berikut: (1)
produktivitas lahan yang tinggi sangat menentukan perkembangan perumahan,
sementara lahan-lahan yang kurang produktif kurang diminati dalam pengembangan
perumahan; (2) areal perumahan berkembang pada daerah-daerah pertanian yang
mempunyai jarak yang dekat dengan ibukota provinsi. Perkembangan perumahan ini
berbanding lurus dengan panjang dan kualitas jalan yang ada di wilayah
pertanianyang bersangkutan; (3) jumlah penduduk (bukan kepadatan penduduk)
berkorelasi nyata positif dengan luas areal sawah yang berarti bahwa pertanian pada
dasarnya merupakan culture-basic farming system dalam rangka pemenuhan
kebutuhan pangan lokal; (4) laju konversi lahan berkaitan erat dengan fragmentasi
kepemilikan lahan pertanian, semakin tinggi laju alih guna lahan pertanian ke non
pertanian; dan (5) laju konversi lahan pertanian sangat ditentukan oleh tingkat
pengkotaan (spatial urbanization) yang mencirikan bahwa konversi lahan pertanian
sangat erat kaitannya dengan proses urbanisasi dan/atau transformasi struktur
perekonomian wilayah ke arah industrialisasi.
Saefulhakim dan Nasution (1995) memaparkan beberapa faktor yang berperan
1. Perkembangan standar tuntutan hidup. Hal ini berhubungan dengan nilai
land rent yang mampu memberikan perkembangan standar tuntutan hidup
sang petani.
2. Fluktuasi harga pertanian. Menyangkut aspek fluktuasi harga-harga
komoditas yang dapat dihasilkan dari pembudidayaan sawah (misalnya
padi dan palawija).
3. Struktur biaya produksi pertanian. Biaya produksi dan aktivitas budidaya
lahan sawah yang semakin mahal akan cenderung memperkuat proses
konversi lahan. Salah satu faktor pendorong meningkatnya biaya produksi
ini adalah berkaitan dengan skala usaha.
4. Teknologi. Terhambatnya perkembangan teknologi intensifikasi pada
penggunaan lahan yang memiliki tingkat permintaan yang terus
meningkat akan mengakibatkan proses ekstensifikasi yang lebih dominan.
Proses ekstensifikasi dari penggunaan lahan akan terus mendorong proses
konversi lahan.
5. Aksesibilitas. Perubahan sarana dan prasarana transportasi yang
berimplikasi terhadap meningkatnya aksesibilitas lokal, akan lebih
mendorong perkembangan penggunaan lahan pertanian ke non pertanian.
6. Resiko dan ketidakpastian. Aktivitas pertanian dengan tingkat resiko
ketidakpastian yang tinggi akan menurunkan nilai harapan dari tingkat
produksi, harga dan keuntungan. Hal ini menimbulkan nilai land rent
mempunyai resiko dan ketidakpastian yang lebih tinggi akan cenderung
dikonversikan ke penggunaan lain yang tingkat resiko dan ketidakpastian
lebih rendah.
7. Lahan sebagai aset. Pandangan ini (walaupun tanpa pemanfaatan) lebih
memperumit permasalahan sebagai akibat potensi produksi, kelangkaan
dan aksesibilitasnya sama sekali tidak melibatkan usaha manusia secara
pribadi (milik pribadi penguasa lahan). Sistem kepemilikan atas dasar
keperansertaan untuk saat ini “tidak ada”, maka fenomena spekulan lahan
yang mengkonversikan lahan pertanian ke penggunaan lain yang tidak
jelas peruntukannya.