BAB VI: KESIMPULAN DAN SARAN
2.2 Urban Sprawl dan Perluasan Kota
2.2.1 Pengertian urban sprawl
Pengaruh struktur ruang terhadap keberlanjutan perkotaan telah menjadi
perhatian serius di kota-kota di dunia dalam beberapa dekade terakhir. Studi-studi
terhadap kota - kota di Amerika Utara yang banyak dikategorikan sebagai “tidak
berlanjut” (unsustainable) telah mempersalahkan pola ruang semrawut (sprawling)
yang dicirikan antara lain oleh pola penggunaan lahan melompat (leapfrog), tata guna
lahan terpencar dan tingkat kepadatan rendah (Gilham,2002 dalam Hakim, 2010).
Proses perluasan/perembetan kawasan terbangun kota ke arah luar sebagai
sebagai urban sprawl (Pontoh dan Kustiawan 2009), dimana akan membentuk pola
ruang menyebar berserakan karena penggunaan lahan yang tak terencana. Urban
sprawl berpengaruh terhadap struktur tata ruang dapat dilihat dari 3 (tiga) struktur
yaitu struktur fisik, kependudukan dan ekonomi.
Pengaruh urban sprawl dari struktur fisik adalah terjadinya pola penyebaran
permukiman yang semakin meluas/melebar ke samping kiri kanan jalur transportasi,
denga kata lain terjadi pemusatan fasilitas umum perkotaan di nodes; bagian wilayah
tertentu. Dari struktur kependudukan adalah terjadinya pola penyebaran penduduk
diperlihaylan dengan penyebaran lahan terbangun (permukiman) yang semakin
melebar ke samping kiri kanan jalan arteri. Sedangkan dari struktur ekonomi,
pengaruh urban sprawl adalah terjadinya perubahan pola kegiatan ekonomi penduduk
yang bekerja di sektor pertanian dan meningkatnya penduduk yang bekerja di sektor
non pertanian (pedagang, buruh industri dan jasa).
2.2.2 Faktor penyebab urban sprawl
Urban Sprawl berkaitan dengan proses perluasan kota. Secara garis besar, ada
3 (tiga) macam proses perluasan kekotaan yaitu (Yunus, 2002):
1. Perembetan Konsentris (Concentric Development/Low Density
Continous Development), yaitu perembetan areal kekotaan berjala
Gambar 2.2 Perembetan Konsentris Sumber: Yunus, 2002
2. Perembetan Memanjang (ribbon development/linear development/axial
development), yaitu perembetan areal kekotaan yang tidak merata di
semua bagian sisi-sisi luar daripada daerah kota utama, perembetan paling
cepat terlihat di sepanjang jalur transportasi yang ada, khususnya yang
bersifat menjari dari pusat kota (Gambar 2.3).
Gambar 2.3 Perembetan Memanjang Sumber: Yunus, 2002
3. Perembetan yang meloncat (leap frog development/checkerboard
development), yaitu perembetan lahan kekotaannya terjadi berpencar
Gambar 2.4 Perembetan yang Meloncat Sumber: Yunus, 2002
Selain proses perluasan di atas, Pontoh dan Kustiawan (2009) menambahkan
faktor penyebab proses urban sprawl lainnya yaitu:
1. Kebijakan perencanaan dari pemerintah, terutama kebijakan
pembangunan transportasi dan perumahan.
a. Pembangunan jalan besar antar kota sehingga mendorong munculnya
lokasi pemukiman baru.
b. Pemberian subsidi bagi perumahan yang tidak memandang lokasi
sehingga banyak real estate dibangun secara lompat katak.
2. Spekulasi tanah karena pengaruh pembangunan lompat katak tadi dimana
mereka menunggu harga tanah naik terlebih dahulu baru mulai
melakukan pembangunan.
3. Peraturan guna lahan yang ketat di kota sehingga mengundang para
investor mencari tanah di luar kota.
2.2.3 Perkembangan kota
Menurut Bintarto (1977) dalam Muhyi (2004), ada tiga jenis perkembangan
arah kota, sebagai berikut:
1. Tampak bahwa daya tarik dari luar kota adalah pada daerah dimana
kegiatan ekonomi banyak menonjol yaitu sekitar pelabuhan impor ekspor
dan sekitar hinterland yang subur. Harga tanah di sekitar jalur ini akan
lebih tinggi dari pada harga tanah di sekitar pegunungan seperti
ditunjukkan pada Gambar 2.5.
Gambar 2.5 Bentuk Arah Perkembangan Kota dengan Pelabuhan Impor Ekspor dan Sekitar Hinterland
Sumber: Bintarto, 1977
2. Kota yang mempunyai pusat-pusat industri dan kota dagang, mempunyai
daya tarik di sektor-sektor tersebut di samping itu daerah-daerah di sekitar
pusat rekreasi tidak kalah menarik. Daerah sekitar pegunungan dan laut
merupakan daerah lemah. Namun tidak berarti bahwa daerah ini tidak
mampu menarik penduduk untuk bermukim. Murahnya harga tanah,
Gambar 2.6 Bentuk Arah Perkembangan Kota dengan Pusat-pusat Industri Dagang Sumber: Bintarto, 1977
3. Perkembangan kota ke segala arah, akan semakin mempercepat
perkembangan kota, dengan didukung oleh potensi masing - masing
wilayah. Hal ini akan menjadikannya sebagai kota besar atau kota
metropoitan. Selanjutnya, kecenderungan yang ada akan semakin
berkembangnya kota - kota satelit yang akan mendukung kota besar.
(Gambar 2.7).
Gambar 2.7 Bentuk Arah Perkembangan Kota dengan Berbagai Pusat Aktivitas dan Kegiatan
Perkembangan kawasan perkotaan dapat didlihat melalui perkembangan
kepadatan dan populasi penduduknya, serta semkin meluasnya kawasan perkotaan
hingga melewati batas administrasi suatu kota. Selain perluasan secara fisik, yang
paling mencolok adalah perbuhan bentuk pemanfaatan lahan/penggunaan lahan.
2.2.4 Penelitian terdahulu
Sutarti (1999) dalam penelitiannya mengenai analisis faktor-faktor yang
mempengaruhi konversi lahan sawah di Kabupaten Serang dengan menggunakan
analisis regresi diduga faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya konversi lahan
sawah yaitu pertumbuhan penduduk, kontribusi PDRB non tanaman pangan,
produktivitas lahan sawah, jarak lokasi ke pusat pertumbuhan ekonomi dan kawasan
industri. Melalui uji-t diperoleh bahwa pertumbuhan penduduk, kontribusi PDRB non
tanaman pangan, jarak lokasi dari pusat pertumbuhan ekonomi dan kawasan industri
berpengaruh nyata terhadapa model, sedangkan produktivitas lahan sawah tidak
berpengaruh nyata pada tingkat kepercayaan 99%.
Alih fungsi lahan pertanian di Kabupaten Karawang pada tahun 2001-2010
dipengaruhi berbagai faktor. Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi penurunan
lahan sawah di Kabupaten Karawang adalah laju pertambahan jumlah penduduk,
jumlah industri, produktivitas padi sawah, proporsi luas lahan sawah terhadap luas
wilayah, dan kebijakan tata ruang wilayah. Variabel-variabel independen yang
berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan luas lahan sawah, yaitu jumlah
pada taraf α= 10 persen. Sedangkan variabel kebijakan pemerintah, laju pertumbuhan
penduduk, dan produktivitas lahan tidak berpengaruh nyata terhadap penurunan luas
lahan sawah (Puspasari, 2012).
Sumaryanto, dkk (2006) dalam penelitiannya mengenai dampak negatif
konversi lahan pertanian di Jawa menunjukkan bahwa sebagian besar lahan sawah
yang terkonversi berubah fungsi menjadi lahan pemukiman, kawasan industri dan
prasarana (jalan raya).
Pada umumnya, laju konversi lahan sawah yang tertinggi terjadi pada
hamparan sawah di sekitar perkotaan. Oleh karena berbagai aturan dan
perundang-undangan yang ditujukan untuk mengendalikan konversi lahan sawah tidak efektif,
maka konversi lahan sawah terkesan tidak pandang bulu; menimpa lahan-lahan sawah
produktif dengan fasilitas irigasi yang baik. Mengingat bahwa dimasa mendatang
peluang untuk memperluas areal panen semakin terbatas, maka konversi lahan sawah
untuk jangka panjang sangat berpotensi mengancam ketahanan pangan nasional baik
secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung hal itu bersumber dari
degradasi luas panen, secara tidak langsung disebabkan menurunnya produktivitas
hamparan lahan sawah disekitarnya.
Konversi lahan sawah menyebabkan hilangnya mata pencaharian sebagian
anggota masyarakat setempat, khususnya petani dan buruh tani. Oleh karena sebagian
dari mereka tidak dapat menjangkau kesempatan kerja dan usaha yang baru maka
konversi lahan sawah diduga juga mengakibatkan terjadinya peningkatan kemiskinan