BAB II LANDASAN TEORI
B. Menarche
2. Faktor Yang Mempengaruhi Menarche
a. Genetik
Usia menarche terpengaruh oleh hereditas seseorang tetapi faktor genetik secara spesifik belum diketahui secara pasti. Bukti bahwa hereditas mempengaruhi usia menarche dapat dilihat dari study yang
memperlihatkan bahwa adanya kecenderungan untuk usia menarche ibu
untuk memprediksi usia menarche anak perempuannya. (Pantsiotou S et
all, 2008).
b. Etnis / perbedaan ras
Pada penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa gadis berkulit hitam (afrika) lebih cepat 3 bulan mengalami
menarche dibandingkan dengan gadis berkulit putih dengan tahap perkembangan payudara dan pengembangan rambut kemaluan yang sama (Freedman DS, et all dalam Karapanou, et all. 2010).
c. Lemak tubuh, gizi dan aktivitas fisik
Pada gadis yang memiliki kadar lemak ada subkutan dan BMI yang tinggi di usia pubertas (5-9 tahun) akan memungkinkan terjadinya
menarche dini (<12 tahun) (Freedman DS, et all dalam Karapanou, et all. 2010). Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Rah, Jee H dkk (2009) juga mendapatkan hasil bahwa remaja yang lebih tinggi dan lebih berat dengan massa lemak tubuh yang lebih besar cenderung mencapai
menarche di usia muda. Sedangkan penelitian lain menyebutkan juga bahwa sesorang yang kehilangan berat badan akibat diet juga dapat
mempengaruhi seseorang mengalami menarche (Gaudineau, 2010).
Selain itu, dalam penelitian yang dilakukan oleh Kazeem; Leila; Jelyani dan Nouri (2013), peningkatan massa lemak tubuh dapat menjadi pesan yang signifikan untuk pengeluaran sekresi leptin, merangsang
hipotalamus dan akhirnya mengakibatkan pengeluaran sekresi berlebih GnRH. Pengeluaran GnRH ini merangsang axis hipofisis-ovarian dan memulai percepatan pubertas. Menurut Permadi (2011) yang disampaikan pada Simposium Jakarta Infertility, Saat penyimpanan lemak memadai, leptin merangsang pelepasan GnRH. Aksi ini umumnya terjadi secara tidak langsung melalui neurohormon lain. Leptin dan reseptornya juga ditemukan di hipofisis. Masih belum jelas apakah estrogen memiliki peran fisiologis dalam pelepasan leptin dari penyimpanan lemak. Reseptor-reseptor leptin telah dilokalisasi dalam overium dan endometrium yang mengimplikasikan aksi-aksi langsung tambahan pada jaringan-jaringan tersebut. Bukti lain bahwa leptin berperan dalam sistem reproduksi berasal dari uji coba yang dilakukan pada tikus betina yang diinjeksikan leptin memungkinkan mereka untuk ovulasi, dan hamil lebih dari tikus betina yang tidak diinjeksikan leptin. Pemulihan kesuburan tersebut berkaitan dengan peningkatan tingkat serum LH pada wanita (Kaplowitz, 2008).
Mengenai asupan gizi, kualitas asupan makanan yang masuk pada anak perempuan juga mempengaruhi pubertas seseorang. Bila terjadi peningkatan asupan makanan, maka energi seseorang juga akan ikut
mengalami peningkatan dan ini akan berkaitan dengan adanya menarche
dini (Berkey CS et all dalam Karapanou, et all. 2010). Hal ini juga sudah terbukti dari penelitian yang dilakukan oleh Fidin, Muda & Hiswani (2014) dimana hasil penelitian yang dilakukan tersebut ada hubungan
yang bermakna antara status gizi dengan usia menarche pada siswi Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Sumbul tahun 2014.
Aktifitas fisik juga dapat mempengaruhi usia menarche seseorang.
Sebuah studi cross sectional yang dilakukan dalam sekelompok
perempuan di universitas Kolombia menunjukkan usia menarche
berkaitan dengan aktivitas fisik sedikitnya 2 jam setiap harinya. Berbeda dengan yang terjadi pada atlet (kecuali atlet renang), dibandingkan pada populasi umum, seorang atlet yang berlatih secara intens akan mengalami penundaan pubertas (Chavarro J, et all. 2004).
d. Tinggi badan
Pada penelitian yang dilakukan oleh Amaliah, Sari & Rosha tahun 2012, dapat dilihat bahwa pada responden yang memiliki tinggi badan
normal memiliki rata–rata usia menarche lebih cepat dibandingkan
dengan responden dengan status tinggi badan pendek.
e. Musim
Dibeberapa negara yang memiliki musim dingin, angka kejadian
menarche lebih tinggi dibandingkan musim yang lain. Hal ini telah diteliti oleh Rah, Jee H dkk tahun 2009 di Bangladesh dimana peneliti menemukan pada bulan Desember dan Januari serta Agustus dan
September setengah dari remaja perempuan mencapai menarche selama
f. Pengaruh lingkungan
Lingkugan yang dapat mempengaruhi yaitu :
1) Faktor sosial ekonomi
Faktor tempat tinggal di desa atau di kota, ukuran keluarga,
pendapatan keluarga, tingkat pendidikan orangtua dapat
mempengaruhi usia menarche. Gadis dari keluarga dengan status
sosial ekonomi tinggi akan mengalami usia menarche yang lebih dini
dibandingkan anak perempuan dari keluarga dengan status ekonomi yang lebih rendah (Wronka I, Pawlinska Chmara R. 2005). Sedangkan gadis yang dibesarkan di lingkungan perkotaan memiliki usia
menarche yang lebih awal dari mereka yang dibesarkan di lingkungan pedesaan (Padez C, 2003).
2) Faktor kehadiran keluarga
Adanya ayah biologis dan saudara laki–laki dapat
dikaitkan dengan menarche dini, sedangkan kehadiran dari saudara
perempuan, terutama kakak perempuan dalam keluarga juga dapat
dikaitkan dengan tertundanya menarche pada anak perempuan.
Prevalensi menarche dini bahkan lebih tinggi ketika adanya kehadiran
ayah tiri dikombinasikan dengan lingkungan keluarga yang banyak memiliki stresor dan keluarga dengan ibu yang memiliki gangguan mood (Karapanou, et all. 2010).
g. Penyakit
Adanya penekanan akibat penyakit tertentu dapat mengakibatkan penundaan onset pubertas yang akan mempengaruhi pula pada kejadian
menarche. Penyakit yang bisa mempengaruhi menarche seseorang yaitu penyakit akut, kronis, atau adanya supresi hipotalamus hipofisis-gonadal (Tahirovie HF dalam Karapanou, et all., 2010)
h. Terpapar media massa
Salah satu faktor yang mempengaruhi menarche disebabkan oleh
rangsangan-rangsangan kuat dari luar, salah satunya adalah melalui keterpaparan media informasi, baik cetak maupun elektronik (Kartono, 2006). Keterpaparan media informasi dengan kecepatan usia pubertas remaja yang secara tidak langsung menyebabkan percepatan usia
menarche remaja putri. Para perempuan atau remaja putri yang
mengalami menarche dini memperlihatkan minat yang lebih kuat ketika
menonton tayangan yang mengandung unsur-unsur seksual pada film,
televisi, dan majalah dibandingkan dengan para remaja yang menarche
dalam rentang usia normal (Santrock, 2007).
Dalam buku fisiologi manusia (Sherwood, 2012), Sebelum seorang wanita mengalami mensutruasi pertama, sistem reproduksi wanita inaktif dari lahir hingga terjadi proses pubertas yaitu ketika aktivitas GnRH di hipotalamus meningkat untuk pertama kalinya. GnRH mulai merangsang pelepasan
merangsang aktivitas ovarium. Sekresi estrogen oleh ovarium yang aktif memicu pertumbuhan dan pematangan saluran reproduksi wanita serta perkembangan karakteristik seks sekunder wanita. Efek lain dari estrogen adalah mendorong pengendapan lemak di lokasi-lokasi strategi (payudara, bokong, dan paha) sehingga menghasilkan ciri khas seorang wanita yaitu tubuh yang berlekuk. Peningkatan estrogen pada masa pubertas juga menyebabkan penutupan lempeng epifisis, menghentikan pertambahan tinggi lebih lanjut. Tiga perubahan pubertas lain pada wanita (pertumbuhan rambut ketiak dan pubis, lonjakan pertumbuhan masa pubertas dan timbulnya libido) berkaitan dengan lonjakan sekresi androgen adrenal saat pubertas.
Pada awal menstruasi pada anak, sebagian besar menstruasi terjadi tidak reguler, tidak dapat diprediksi, tidak nyeri dan tidak mengandung telur. Setelah satu tahun atau lebih, berkembang menjadi suatu irama hipofisis-hipotalamus dan ovarium memproduksi estrogen siklik yang adekuat untuk mematangkan ovum (Bobak, 2005).
C. Media Massa