• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran keterpaparan Media Massa Berkonten Pornografi Pada Usia Menarche

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Gambaran keterpaparan Media Massa Berkonten Pornografi Pada Usia Menarche"

Copied!
157
0
0

Teks penuh

(1)

BERKONTEN PORNOGRAFI PADA USIA

MENARCHE

DI WILAYAH KECAMATAN

PANCORAN MAS - DEPOK

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Mengikuti Ujian

Gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep)

OLEH :

ULFAH FATHU RAHMAH 1112104000020

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

vi

SYARIF HIDAYATULLAH STATE ISLAMIC UNIVERSITY JAKARTA Undergraduate Thesis, Juny 2016

Ulfah Fathu Rahmah, NIM: 1112104000020

Overview of Mass Media Exposure Contain Pornography on Age Menarche xx + 104 pages + 21 tables + 2 charts + 26 appendix

ABSTRACT

Recently, children have a tendency to accelerate in age of menarche. Many factors contribut this situation. One of factor is mass media exposure that containing pornography. Pornography content that was meant in this reasearch specifically a sexuality content, and a content that related with having sex explicitly as well as implicity. The purpose of this study to see an overview of mass media contamination contain pornography and age of menarche at elementary school students. The type of research was descriptive with cross-sectional design. This research was applied purposive sampling and snowball

method with the number of respondents was 106 elementary school students 4-6 years in the District Pancoran Mas - Depok. The result showed 100% of girls

(7)

vii

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA Skripsi, Juni 2016

Ulfah Fathu Rahmah, NIM: 1112104000020

Gambaran keterpaparan Media Massa Berkonten Pornografi Pada Usia

Menarche

xx + 104 halaman + 21 tabel + 2 bagan + 26 lampiran

ABSTRAK

Usia menarche saat ini memiliki kecenderungan mengalami percepatan

dan salah satu faktornya yaitu keterpaparan media massa berkonten pornografi. Konten pornografi yang dimaksud dalam penelitian ini yakni konten yg bersifat seksualitas, dan materi yang berhubungan dengan hubungan seks baik secara eksplisit maupun inplisit.Tujuan dari penelitian ini untuk melihat gambaran

keterpaparan media massa berkonten pornografi pada usia menarche pada siswi

SD. Penelitian ini berjenis deskriptif dengan desain cross-sectional, menggunakan

metode purposive sampling dan snowball dengan jumlah responden sebanyak 106

siswa kelas 4-6 SD di wilayah Kecamatan Pancoran Mas – Depok. Hasil

penelitian menunjukkan 100% anak terpapar media berkonten pornografi dengan tingkat keterpaparan berat sebanyak 72,6%. Mayoritas anak memiliki usia

menarche dini yakni 65,1% dengan rata-rata usia menarche anak sebanyak 11,21 tahun. Jika dilihat dari tingkat keterpaparan dan usia menarche, sebagian besar

anak yang terpapar berat merupakan anak dengan menarche dini yakni sebanyak

49,1%. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar anak mengalami menarche dini

dan seluruh anak terpapar konten pornografi dengan tingkat keterpaparan berat. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan baik orangtua, sekolah maupun lembaga kesehatan untuk memberikan pendidikan seks lebih dini untuk mencegah anak mencari tahu hal tersebut dari media massa tanpa pengawasan dan bagi orangtua dapat membentengi anak dengan etika, norma dan

religiusitas agar anak dapat menghindari paparan pornografi.

(8)

viii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Ulfah Fathu Rahmah

Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta, 24 November 1993

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat : Jalan Duren Rt 01 Rw 09 No.25 Rangkapan Jaya Baru,

Pancoran mas – Depok 16434

Telepon/Hp : +6285781316143

Email : [email protected]

Riwayat Pendidikan :

1. TK Wisanggeni 1999 – 2000

2. SDIT Darul Abidin 2000 – 2006

3. SMP Negeri 2 Depok 2006 – 2009

4. SMA Negeri 3 Depok 2009 – 2012

5. S-1 Ilmu Keperawatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2012 – sekarang

Pengalaman Organisasi :

1. Anggota PRAMUKA SMP Negeri 2 Depok 2007 - 2009

2. Anggota Magang Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) 2013 – 2014

Jurusan Program Studi Ilmu Keperawatan

3. Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Keilmuan 2014 – 2015

(9)

ix

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb

Segala puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya. Shalawat serta salam tak lupa kita disampaikan kepada Rasul kita Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Gambaran Keterpaparan Media Massa

Berkonten Pornografi Pada Usia Menarche di Wilayah Kecamatan Pancoran Mas –

Depok”.

Skripsi ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta,

serta untuk menerapkan dan mengembangkan teori – teori yang penulis peroleh

selama kuliah. Selama proses pendidikan dan penyusunan skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Ucapan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada yang terhormat :

1. Prof. Dr. Arif Sumantri, M.Kes Selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu

(10)

x

2. Ibu Maulina Handayani, S.Kp., MSc selaku Ketua Program Studi dan Ibu

Ernawati, S.Kp, M.Kep, Sp. KMB selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Ibu Yenita Agus, SKp., Mkep., Sp.Mat., PhD selaku dosen pembimbing I yang

telah memberikan bimbingan, saran dan motivasi serta selalu sabar membimbing penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini

4. Ibu Ns. Mardiyanti, M.Kep., MDS selaku pembimbing II yang telah

membimbing dan selalu sabar dalam mengarahkan penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

5. Ibu Ns. Puspita Palupi, S.Kep.,Sp.Kmat selaku pembimbing akademik yang telah

memberi motivasi dan masukkan selama proses perkuliahan.

6. Seluruh dosen Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) maupun dosen tamu

yang telah memberikan ilmu dan pengalamannya selama masa perkuliahan.

7. Seluruh Staff karyawan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membantu

penulis selama perkuliahan.

8. Kedua Orangtua saya (Ayah Nanan Suhanan dan Ibu Dadah Suciati) dan adik

saya (Nadia Magfira Rahmah) yang selalu memberikan saya kasih sayang, do‟a,

motivasi, dan dukungan baik moril maupun materi yang tidak pernah habis dari mulai saya dilahirkan hingga sekarang.

9. Seluruh kepala SD Negeri Mampang 1, SD Negeri Mampang 2, SD Negeri

(11)

xi

10. Seluruh adik – adik siswi SD Negeri Mampang 1, SD Negeri Mampang 2, SD Negeri Parung Bingung, dan SD Negeri Parung Bingung 2 kota Depok yang telah berpartisipasi dalam penelitian ini.

11. Teman – teman satu bimbingan, teman – teman terdekat saya dan teman – teman

seluruh angkatan 2012 yang telah memberikan semangat, dan telah berjuang bersama – sama dalam menggapai cita – cita.

Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca dan bagi penulis sendiri. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan dan kelemahan. Oleh karen itu penulis berharap adanya saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak. Semoga rahmat Allah SWT selalu tercurahkan kepada kita semua.

Ciputat, Juni 2016

(12)

xii DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN ... ii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ...iii

LEMBAR PENGESAHAN ... iv

LEMBAR PENGESAHANSIDANG UJIAN SKRIPSI ... v

ABSTRACT ... vi

ABSTRAK ... vii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR SINGKATAN ... xvi

DAFTAR TABEL ... xvii

C. Pertanyaan Penelitian ... 8

D. Tujuan Penelitian ... 9

1. Tujuan Umum ... 9

2. Tujuan Khusus ... 9

E. Manfaat Penelitian ... 10

1. Bagi Instansi Pendidikan ... 10

2. Bagi Peneliti ... 11

3. Bagi Pengguna ... 11

4. Bagi Lembaga Kesehatan ... 12

F. Ruang Lingkup Penelitian ... 12

BAB IILANDASAN TEORI ... 13

A. Remaja ... 13

(13)

xiii

2. Tahap perkembangan remaja ... 13

B. Menarche ... 16

1. Definisi Menarche ... 16

2. Faktor Yang Mempengaruhi Menarche ... 16

C. Media Massa ... 22

1. Definisi ... 22

2. Jenis media massa ... 23

3. Fungsi media sebagai komunikasi massa ... 30

4. Waktu yang diperbolehkan menggunakan media massa bagi anak ... 32

5. Dampak media terhadap kesehatan ... 33

D. Pornografi ... 36

1. Definisi ... 36

2. Proses masuknya pornografi pada anak / remaja ... 37

3. Media yang mengandung unsur pornografi dan berpengaruh bagi anak : ... 39

4. Tingkat keterpaparan media massa pornografi ... 44

E. Kerangka Teori ... 45

BAB IIIKERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ... 46

A. Kerangka Konsep ... 46

B. Definisi Operasional ... 47

BAB IVMETODE PENELITIAN ... 49

A. Desain Penelitian ... 49

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 49

C. Populasi dan Sampel ... 50

1. Populasi ... 50

2. Sampel ... 50

3. Besar sampel ... 51

4. Kriteria sampel ... 52

D. Instrumen Penelitian ... 52

1. Demografi ... 53

(14)

xiv

3. Usia Menarche... 54

E. Uji Validitas dan Reliabilitas ... 55

F. Langkah Pengumpulan Data ... 58

1. Tahap persiapan ... 58

2. Keterpaparan media pornografi baik visual, audio visual dan audio ... 61

3. Tingkat keterpaparan media pornografi ... 61

4. Usia menarche ... 61

I. Etika Penelitian ... 61

1. Prinsip kebaikan (Principle of Beneficience) ... 61

2. Prinsip untuk menghormati martabat manusia ... 62

3. The Prinsiple Of Justice ... 62

4. Informed Consent ... 63

BAB VHASIL PENELITIAN... 64

A. Gambaran Tempat Penelitian ... 64

B. Gambaran Karakteristik ... 65

1. Gambaran suku bangsa ... 65

2. Gambaran Usia ... 66

3. Gambaran kelas ... 66

4. Gambaran asal sekolah ... 67

5. Gambaran nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) ... 68

C. Hasil Analisis Univariat ... 68

(15)

xv

2. Gambaran Keterpaparan Media Massa Berkonten Pornografi ... 70

3. Gambaran Tingkat Keterpaparan Media Massa Berkonten Pornografi... 72

4. Gambaran Indeks Massa Tubuh (IMT)terhadap Usia Menarche ... 75

5. Gambaran Indeks Massa Tubuh (IMT), tingkat keterpaparan dan usia menarche .. 76

6. Gambaran kelas dan tingkat keterpaparan terhadap usia menarche ... 78

BAB VIPEMBAHASAN ... 80

A. Karakteristik Responden ... 80

1. Gambaran nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) ... 81

B. Analisa Univariat ... 83

1. Usia menarche ... 83

2. Gambaran keterpaparan media massa berkonten pornografi ... 85

3. Gambaran tingkat keterpaparan ... 90

4. Gambaran Indeks Massa Tubuh (IMT) terhadap usia menarche ... 95

5. Gambaran Indeks Massa Tubuh (IMT), tingkat keterpaparan dan usia ... 97

6. Gambaran kelas dan tingkat keterpaparan terhadap usia menarche ... 98

C. Keterbatasan Penelitian ... 99

BAB VIIKESIMPULAN DAN SARAN ... 100

A. Kesimpulan ... 100

B. Saran ... 102

DAFTAR PUSTAKA ... 105

(16)

xvi

DAFTAR SINGKATAN

BKKBN : Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana

BMI : Body Mass Index

FSH : Follicle Stimulating Hormone

GnRH : Gonadotropin Releasing Hormone

IMT : Indeks Massa Tubuh

IP : Internet Protocol

LH : Luteinizing Hormone

PFC : prefrontal cortex RISKESDAS : Riset Kesehatan Dasar

SD : Sekolah Dasar

SMP : Sekolah Menengah Pertama

(17)

xvii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3. 1 Definisi Operasional 47

Tabel 5. 1 Distribusi Suku Bangsa Anak Sekolah Dasar di Wilayah Pancoran Mas

Kota Depok Tahun 2016 (n = 106) 65

Tabel 5. 2 Distribusi Usia Anak Sekolah Dasar di Wilayah Pancoran Mas Kota

Depok Tahun 2016 (n=106) 66

Tabel 5. 3 Distribusi Kelas Anak Sekolah Dasar di Wilayah Pancoran Mas Kota

Depok Tahun 2016 (n=106) 66

Tabel 5. 4 Distribusi Asal Sekolah di Wilayah Pancoran Mas Kota Depok Tahun

2016 (n=106) 67

Tabel 5. 5 Distribusi Indeks Massa Tubuh (IMT) di Wilayah Pancoran Mas Kota

Depok Tahun 2016 (n=106) 68

Tabel 5. 6 Distribusi Frekuensi Usia Menarche di Wilayah Pancoran Mas Kota

Depok Tahun 2016 (n=106) 69

Tabel 5. 7 Rata - Rata Usia Menarche Responden 69

Tabel 5. 8 Distribusi Frekuensi Kelas dan Usia Menarche di Wilayah Pancoran Mas

Kota Depok Tahun 2016 (n=106) 69

Tabel 5. 9 Distribusi Frekuensi Keterpaparan Media Massa Berkonten Pornografi di

Wilayah Pancoran Mas Kota Depok Tahun 2016 (n=106) 70

Tabel 5. 10 Distribusi Frekuensi Keterpaparan Media Audio Berkonten Pornografi di

(18)

xviii

Tabel 5. 11 Distribusi Frekuensi Keterpaparan Media Audio Visual Berkonten

Pornografi di Wilayah Pancoran Mas Kota Depok Tahun 2016 (n=106) 71 Tabel 5. 12 Distribusi Frekuensi Keterpaparan Media Visual Berkonten Pornografi di

Wilayah Pancoran Mas Kota Depok Tahun 2016 (n=106) 72

Tabel 5. 13 Distribusi Tingkat Keterpaparan Media Massa Pornografi di Wilayah

Pancoran Mas Kota Depok Tahun 2016 (n=106) 72

Tabel 5. 14 Distribusi Tingkat Keterpaparan Media Massa Audio Berkonten

Pornografi di Wilayah Pancoran Mas Kota Depok Tahun 2016 (n=106) 73 Tabel 5. 15 Distribusi Tingkat Keterpaparan Media Massa Audio Visual Berkonten

Pornografi di Wilayah Pancoran Mas Kota Depok Tahun 2016 (n=106) 73 Tabel 5. 16 Distribusi Tingkat Keterpaparan Media Massa Visual Berkonten

Pornografi di Wilayah Pancoran Mas Kota Depok Tahun 2016 (n=106) 74 Tabel 5. 17 Distribusi Tingkat Keterpaparan Media Massa Berkonten Pornografi dan

Usia Menarche di Wilayah Pancoran Mas Kota Depok Tahun 2016

(n=106) 74

Tabel 5. 18 Distribusi Indeks Massa Tubuh (IMT) dan Usia Menarche di Wilayah

Pancoran Mas Kota Depok Tahun 2016 (n=106) 75

Tabel 5. 19 Distribusi Indeks Massa Tubuh (IMT), Tingkat Keterpaparan dan Usia Menarche di Wilayah Pancoran Mas Kota Depok Tahun 2016 (n=106) 76 Tabel 5. 20 Distribusi Kelas, Tingkat Keterpaparan dan Usia Menarche di Wilayah

(19)

xix

DAFTAR BAGAN

(20)

xx

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Perizinan penelitian

Lampiran 2 Informed Consent

Lampiran 3 Kuesioner

Lampiran 4 Surat jugment expert

Lampiran 5 Hasil Uji Validitas dan Uji Reliabilitas

(21)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Remaja merupakan periode pertumbuhan manusia dan perkembangan yang terjadi setelah masa kanak-kanak dan sebelum dewasa dengan rentang usia antara 10 tahun hingga 19 tahun (World Health Organization, 2011). Pada masa remaja inilah banyak terjadi perubahan dalam diri manusia, baik secara sosial, mental maupun pertumbuhan secara fisiologis tubuh. Salah satu perubahan fisiologis yang cukup bermakna pada masa ini yakni terjadinya masa pubertas dimana para remaja mengalami perubahan struktur tubuh dan telah aktifnya sistem reproduksi pada remaja yang ditandai dengan adanya mimpi basah pada laki–laki dan menarche pada perempuan.

Perubahan dalam sistem reproduksi perempuan yang ditandai dengan

menarche yaitu suatu kejadian menstruasi pertama kali yang dialami remaja putri yang merupakan pergantian fase kehidupan dari masa kanak-kanak menjadi masa usia remaja (Proverawati & Misaroh, 2009). Sebelum terjadinya

menarche tersebut, para remaja putri juga mengalami perubahan pada sistem reproduksinya baik yang tidak terlihat (internal) maupun yang dapat terlihat (eksternal). Menurut Manuaba (2007), umumnya rentang usia terjadinya

menarche pada remaja yaitu umur 12-13 tahun. Namun beberapa tahun ini,

(22)

Perubahan dalam rentang usia menarche ini memiliki perbedaan di setiap belahan dunia dan ada kecenderungan mengalami perubahan dalam rentang waktu tertentu. Ini bisa dilihat dari negara Amerika Serikat (AS), pada sebelum tahun 1900 usia rata–rata menarche adalah lebih dari 14 tahun namun pada

tahun 1994 usia menarche berubah menjadi 12,43 tahun. Sedangkan pada

negara–negara mediterania seperti Yunani dan Spanyol, usia menarche di

negara tersebut yaitu 12,27 tahun dan 12,34 tahun. Namun, jika dilihat dari usia

menarche di wilayah Asia saat ini juga berusia sekitar 12 tahun. Ini tampak dari usia menarche di negara Hongkong dan Jepang yaitu 12,38 tahun dan 12,34 tahun (Karapanou & Papadimitriou, 2010).

Menurut hasil RISKESDAS (2010), remaja di Indonesia yang mengalami

menarche paling banyak berada pada usia 13-14 tahun dengan presentase sebanyak 37,5% dan usia dibawah 13 tahun sebesar 22,5%. Sedangkan pada usia diatas 14 tahun memiliki presentase sebanyak 32,2%. Tidak jauh berbeda pada provinsi Jawa Barat, umur pertama haid paling banyak berada pada rentang umur 13-14 tahun sebanyak 38,1% dan namun usia dibawah 13 tahun sebesar 23%. Hasil ini mengindikasikan bahwa presentase remaja putri yang

mengalami menarche dibawah usia 13 tahun di Jawa Barat lebih besar

sebanyak 0,5% dari rata rata presentase se Indonesia.

Adanya perubahan pada usia menarche dari waktu ke waktu dapat

berdampak pada kehidupan remaja putri terutama dalam hal kesehatan.

Menurut WHO (2011), menarche yang semakin dini atau semakin muda

(23)

sehingga memungkinkan remaja untuk hamil dan menjadi seorang ibu semakin besar. Remaja yang hamil di usia muda ini menurut teori memiliki resiko yang cukup tinggi terutama bagi anak yang dikandungnya. Menurut Leveno (2009), dikatakan bahwa 80% kehamilan yang terjadi pada wanita yang berusia lebih muda melahirkan anak dengan Down Sindrom.

Selain itu, menurut Steingraber (2007), menarche dini akan mengalami paparan estrogen yang meningkat seumur hidup. Paparan estrogen yang meningkat ini akan meningkatkan resiko seorang wanita mengalami kanker payudara. Pada penelitian lain menyebutkan bahwa ada keterkaitan antara

menarche dini dengan peningkatan resiko tekanan psikososial seperti depresi, gangguan makan, inisiasi seksual dini, dan penyalahgunaan zat.

Dampak yang ditimbulkan dari menarche dini tersebut dapat dicegah

dengan mengetahui dan menghindari faktor yang menyebabkan kejadian tersebut timbul. Dari hasil penelitian Beatrice, Odongkara Mpora et all (2014) di Uganda, mengatakan bahwa komposisi tubuh dan lingkar pinggul berkorelasi

negatif terhadap usia menarche. Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Cho,

Geum Joon et all (2010) di Korea juga berkesimpulan bahwa usia menarche

ibu, Body Mass Index, usia saat lahir dan gizi mempengaruhi usia menarche

pada anak perempuan di Korea.

Selain faktor yang telah disebutkan, ada pula faktor media massa yang telah diteliti oleh Brown, Halpern dan L‟Engle tahun 2005 juga mempengaruhi

dalam adanya perbedaan usia menarche pada remaja. Faktor ketepaparan media

(24)

faktor keterpaparan media masa tidak berpengaruh terhadap usia menarche. Penelitian ini justru mengungkapkan bahwa yang mempengaruhi terhadap usia

menarche yaitu faktor keturunan. Karena terdapat perbedaan hasil penelitian yang sebelumnya, untuk itu perlu dilakukan penelitian kembali untuk meninjau kembali hasil penelitian yang dilakukan. Menurut West & Turner tahun 2008,

media merupakan saluran–saluran atau cara pengiriman bagi pesan–pesan

massa. Sedangkan dalam buku pengantar Komunikasi (2008), yang dimaksud dengan media massa dapat berupa surat kabar, video, CD, Komputer, TV, radio dan media baru berupa teknologi berbasis komputer dan gadget.

Media massa saat ini sangat mudah diakses oleh semua kalangan umur,

begitu juga dengan anak–anak. Di dunia, 99,5% anak–anak berusia 6-14 tahun

sudah terpapar tayangan televisi dan disusul dengan penggunaan radio dan DVD sebesar 95% dan 92% serta masih banyak lagi media massa lainnya yang sudah digunakan anak usia ini pada tahun 2007 (Colmar, Bruton, 2015). Sebanyak 17% anak di dunia menggunakan TV, 6% Musik, 10% Internet, 6% radio dan untuk keperluan tertentu sebanyak 8% menggunaan media massa selama lebih dari 2 jam.

Pada hasil survey yang terdapat pada Broadcasting Standards Authority

(25)

televisi, sebanyak 9% anak melihat hal–hal yang tidak pantas, kemudian disusul oleh tontonan seks sebanyak 8%, hubungan seks 6% dan ciuman sebanyak 5% pada tahun 2007. Hasil survey yang sama pada penelitian yang sama, mereka juga meneliti konten yang dilihat anak pada internet dan hasilnya yaitu konten seksual berada pada urutan pertama yang diikuti oleh konten lainnya yaitu area beresiko pada internet, kekerasan, kata - kata kasar, konten untuk orang dewasa, konten menyeramkan, media sosial dan lainnya. Pada konten seksual pada internet, yang paling banyak dilihat anak yaitu hubungan seks, hal yang tak pantas, seks dan ciuman.

Keterpaparan media massa pada anak–anak yang saat ini jumlahnya

meningkat, mengakibatkan berbagai masalah terjadi pada anak. Masalah yang timbul ini dapat mempengaruhi kesehatan fisik, gangguan psikologis dan penurunan prestasi akademik anak, obesitas pada anak, konsumsi rokok,

penggunaan obat obatan terlarang, serta perilaku seksual (Common Sense

Media, 2008).

Keterpaparan anak terhadap media massa terutama konten seksual

mengakibatkan masalah kesehatan fisik berupa berubahnya usia menarche anak

saat ini. Konten seksual yang dilihat oleh anak akan menstimulasi anak dan

remaja untuk pembentukkan Gonadotropin Releasing Hormone yang

merangsang hipofisis anterior yang menghasilkan Follicle Stimulating

(26)

mengakibatkan kejadian menarche lebih awal pada anak dan remaja (Guyton & Hall, 2007). Pernyataan ini sejalan dengan hasil penelitian Brown, Halpern &

L‟Engle tahun (2005) yang mengatakan bahwa gadis remaja memasuki

pubertas lebih awal dari remaja seusianya karena tertarik untuk melihat, mendengar tentang seks dan kegiatan seks.

Masalah keterpaparan media massa terhadap usia menarche diperlukan

perhatian yang cukup serius karena fenomena ini terjadi pada Sekolah Dasar Negeri Rangkapan Jaya Baru Depok. Dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti, dari 15 siswi yang dilakukan studi pendahuluan oleh peneliti, semua siswi sudah terpapar media televisi, internet dan gadget lainnya. Dari media yang digunakan oleh para siswi ini, mereka menggunakannya untuk berbagai keperluan seperti untuk mengerjakan tugas sekolah atau untuk hiburan.

Dari 15 siswi yang dilakukan studi pendahuluan, terdapat 8 siswi dengan

rentang usia 10-12 tahun yang sudah mengalami menarche dengan tingkat

keterpaparan terhadap media yang lebih banyak, sedangkan 7 siswi lainnya

belum mengalami menarche dengan tingkat keterpaparan media yang beragam.

Dari ke 8 siswi yang sudah mengalami menarche, semua telah menonton

tayangan yang berkonten berkonten cinta. Selain itu, anak yang sudah

mengalami menarche tersebut juga senang mendengarkan lagu lagu yang

bertemakan cinta. Contohnya tontonan televisi yang paling digemari para siswi yaitu drama dan sinetron “anak jalanan” yang mempertontonkan kisah

(27)

penggunaan internet, kebanyakan mereka menggunakannya untuk mencari lagu lagu dewasa yang cenderung bernuansa percintaan dan melihat video yang beragam tema.

Berdasarkan adanya adanya kecenderungan keterpaparan media massa pada anak dan remaja semakin meningkat yang didapat dilihat dengan adanya fenomena yang terjadi serta adanya perubahan usia menarche pada anak dan remaja saat ini yang telah di sebutkan diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai gambaran keterpaparan media massa berkonten

pornografi pada usia menarche di wilayah kecamatan Pancoran Mas–Depok.

B. Rumusan Masalah

Usia menarche saat ini sudah mengalami perubahan menjadi semakin

muda. Hal ini berdampak pada semakin cepatnya remaja putri bersinggungan dengan aktivitas seksual serta beresiko mengalami kanker payudara. Selain itu, keterpaparan media massa lebih dini saat ini pada anak berdampak pada semakin beragamnya informasi yang didapatkan anak dan remaja termasuk mengenai konten seksual yang dapat menstimulasi pematangan pubertas yang

lebih dini. Pubertas yang lebih dini ini, akan menyebabkan usia menarche juga

semakin cepat. Penelitian yang meneliti hubungan antara keterpaparan media

massa dengan usia menarche ini masih jarang dilakukan. Selain itu, dari studi

pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti juga menunjukkan bahwa anak yang

sudah menarche di kelas 4–6 SD sudah menonton tayangan yang berkonten

(28)

tersebut, maka masalah dari penelitian ini adalah gambaran keterpaparan media

massa berkonten pornografi pada usia menarche.

C. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana gambaran karakteristik meliputi suku bangsa, dan nilai Indeks

Massa Tubuh pada siswi yang mengalami menarche di SD Negeri wilayah

Kecamatan Pancoran Mas – Depok ?

2. Bagaimana gambaran usia menarche yang terjadi pada siswi di SD Negeri

wilayah Kecamatan Pancoran Mas - Depok ?

3. Bagaimana gambaran keterpaparan media massa berkonten pornografi serta

tingkat keterpaparannya pada siswi yang mengalami menarche di SD Negeri

wilayah Kecamatan Pancoran Mas - Depok ?

4. Bagaimana gambaran keterpaparan media massa berkonten pornografi

berdasarkan media yang digunakan pada siswi yang mengalami menarche di

SD Negeri wilayah Kecamatan Pancoran Mas - Depok ?

5. Bagaimana gambaran tingkat keterpaparan media massa berkonten pornografi

berdasarkan media yang digunakan pada siswi yang mengalami menarche di

SD Negeri wilayah Kecamatan Pancoran Mas - Depok ?

6. Bagaimana gambaran nilai Indeks Massa Tubuh terhadap usia menarche pada

siswi yang mengalami menarche di SD Negeri wilayah Kecamatan Pancoran

Mas - Depok ?

7. Bagaimana gambaran nilai Indeks Massa Tubuh dan tingkat keterpaparan

(29)

mengalami menarche di SD Negeri wilayah Kecamatan Pancoran Mas - Depok ?

8. Bagaimana gambaran kelas, nilai Indeks Massa Tubuh dan tingkat

keterpaparan media massa berkonten pornografi terhadap usia menarche pada

siswi yang mengalami menarche di SD Negeri wilayah Kecamatan Pancoran

Mas - Depok ?

D. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran keterpaparan

media massa berkonten pornografi pada usia menarche di wilayah kecamatan

Pancoran Mas kota Depok.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui gambaran karakteristik meliputi suku bangsa, dan nilai IMT

pada siswi yang mengalami menarche di wilayah Kecamatan Pancoran

Mas – Depok.

b. Mengetahui gambaran usia menarche yang terjadi pada siswi di wilayah

Kecamatan Pancoran Mas – Depok.

c. Mengetahui gambaran keterpaparan media massa berkonten pornografi

serta tingkat keterpaparannya pada siswi yang mengalami menarche di

(30)

d. Mengetahui gambaran keterpaparan media massa berkonten pornografi

berdasarkan media yang digunakan pada siswi yang mengalami menarche

di wilayah Kecamatan Pancoran Mas – Depok.

e. Mengetahui gambaran tingkat keterpaparan media massa berkonten

pornografi berdasarkan media yang digunakan pada siswi yang

mengalami menarche di wilayah Kecamatan Pancoran Mas – Depok.

f. Mengetahui gambaran nilai IMT terhadap usia menarche pada siswi yang

mengalami menarche di wilayah Kecamatan Pancoran Mas – Depok.

g. Mengetahui gambaran nilai IMT dan tingkat keterpaparan media massa

berkonten pornografi terhadap usia menarche pada siswi yang mengalami

menarche di wilayah Kecamatan Pancoran Mas – Depok.

h. Mengetahui gambaran kelas, dan tingkat keterpaparan media massa

berkonten pornografi terhadap usia menarche pada siswi yang mengalami

menarche di wilayah Kecamatan Pancoran Mas – Depok.

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi Instansi Pendidikan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam bidang ilmu keperawatan mengenai gambaran keterpaparan media massa

berkonten pornografi pada usia menarche dan dapat dijadikan sumber

(31)

2. Bagi Peneliti

Menambah ilmu pengetahuan peneliti mengenai gambaran

keterpaparan media massa berkonten pornografi pada usia menarche dan

sebagai pengalaman dalam melakukan penelitian kesehatan.

3. Bagi Pengguna

a. Sekolah

Memberikan masukan kepada SD Negeri di wilayah Kecamatan Pancoran Mas kota Depok untuk memberikan edukasi mengenai reproduksi anak dan remaja yang dapat diberikan sejak dini.

b. Bagi Orangtua

Memberikan informasi mengenai gambaran keterpaparan media

massa berkonten pornografi pada usia menarche, sehingga orangtua

mampu mengkontrol konten yang dilihat anak di media massa. Selain memberikan informasi, manfaat penelitian ini juga untuk meningkatkan pendidikan seks sejak dini pada anak di rumah untuk mencegah anak untuk mencari tahu mengenai seks melalui media massa.

c. Bagi Siswa

(32)

4. Bagi Lembaga Kesehatan

Memberikan informasi mengenai usia menarche saat ini serta

memicu lembaga kesehatan untuk meningkatkan upaya pendidikan kesehatan mengenai pubertas dan faktor yang mempengaruhinya pada anak maupun remaja dan orangtua.

F. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran keterpaparan media

massa berkonten pornografi pada usia menarche di wilayah kecamatan

Pancoran Mas – Depok. Populasi pada penelitian ini yaitu siswi kelas 4 - 6 SD

Negeri di wilayah kecamatan Pancoran Mas–Depok yang sudah menarche.

Penelitian ini dilakukan menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif

(33)

13 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Remaja 1. Definisi

Istilah remaja atau adolesence berasal dari bahasa Latin,

“adolescentia”. Remaja atau adolesens adalah periode perkembangan selama

dimana individu mengalami perubahan dari masa kanak–kanak menuju masa

dewasa yang biasanya berkisar pada rentang usia 13–20 tahun. Remaja

biasanya menunjukkan maturasi psikologis individu, ketika pubertas menunjukkan titik dimana reproduksi mungkin dapat terjadi (Potter & Perry, 2005).

Sedangkan menurut WHO (2014), remaja merupakan penduduk dalam rentang usia 10 -19 tahun. Di Indonesia, remaja didefinisikan menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014 adalah penduduk

dalam rentang usia 10–18 tahun dan menurut Badan Kependudukan dan

Keluarga Berencana (BKKBN) rentang usia remaja adalah 10–24 tahun dan belum menikah.

2. Tahap perkembangan remaja

(34)

a. Remaja awal (10–14 tahun)

Umumnya pada tahap ini dimulainya suatu perubahan fisik, yang biasanya diawali dengan percepatan pertumbuhan dan segera diikuti oleh pengembangan organ seks dan karakteristik seksual sekunder. Pada perubahan eksternal ini seringkali sangat jelas dan dapat menjadi sumber kecemasan serta kegembiraan atau kebanggaan bagi individu yang tubuhnya sedang mengalami transformasi. Sedangkan pada perubahan internal individu, meskipun kurang jelas, namun terjadi perubahan yang bermakna. Ini ditandai dengan adanya penelitian terbaru mengenai syaraf yang menunjukkan bahwa pada masa remaja awal ini, otak mengalami ledakan spektakuler listrik dan perkembangan fisiologis. Jumlah sel-sel otak hampir bisa dua kali lipat dalam setahun, sementara jaringan saraf secara radikal reorganisasi, yang berdampak pada kemampuan emosional, fisik dan mental.

(35)

impulsif dan menjadi tidak kritis dalam pemikiran mereka berlangsung lebih lama dari pada anak perempuan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa anak perempuan matang lebih awal dari anak laki-laki.

b. Remaja Akhir (15–19 tahun)

Masa remaja akhir meliputi bagian dari akhir masa remaja, rentang usianya yaitu 15–19 tahun. Perubahan fisik mayor biasanya terjadi pada tahapan ini, meskipun tubuh masih berkembang. Otak terus untuk mengembangkan dan mereorganisasi sendiri dan meningkatkan kapasitas untuk analisis dan pemikiran reflektif. Pendapat rekan atau teman kelompok masih cenderung penting di awal tahapan ini, namun terus berkurang seiring dengan keterpaparan remaja terhadap lebih banyak kejelasan dan keyakinan dalam identitas dan pendapat mereka sendiri.

Pada umumnya dari awal sampai pertengahan masa remaja, sebagai individu, para remaja melakukan percobaan dengan “perilaku orang

dewasa”. Hal ini menurun pada akhir masa remaja, karena remaja sudah

mulai berkembang kemampuannya dalam mengevaluasi risiko dan membuat keputusan secara sadar. Sisi lain dari perkembangan otak yang cepat yang terjadi selama masa remaja dapat menjadi hal yang merugikan. Hal ini akibat penggunaan obat-obatan berlebihan dan alkohol pada remaja.

(36)

dan risiko ini sering diperbesar oleh diskriminasi dan pelecehan berbasis gender. Anak perempuan sangat rentan terhadap gangguan seperti anoreksia dan bulimia makan, kerentanan ini akibat dari kecemasan mendalam atas gambaran tubuh yang didorong oleh budaya dan stereotip media kecantikan yang feminin.

B. Menarche

1. Definisi Menarche

Menarche adalah menstruasi pertama kali yang dialami remaja putri yang merupakan pergantian fase kehidupan dari masa kanak-kanak menjadi masa usia remaja (Proverawati & Misaroh, 2009). Menarche ini terjadi akibat adanya peningkatan yang mencolok dari sekresi estrogen yang biasanya terjadi antara usia 8–11 tahun. Selain itu, peningkatan jumlah dan variasi sekresi gonadotropin dan estrogen akan mengalami perkembangan yang

menjadi suatu pola yang siklik minimal setahun sebelum menarche dan

kebanyakan di Amerika Utara anak mengalami menarche pada usia 13 tahun

(Bobak, 2005). Sedangkan menurut Manuaba (2007), menarche umumnya

terjadi pada usia 12–13 tahun.

2. Faktor Yang Mempengaruhi Menarche

a. Genetik

(37)

memperlihatkan bahwa adanya kecenderungan untuk usia menarche ibu

untuk memprediksi usia menarche anak perempuannya. (Pantsiotou S et

all, 2008).

b. Etnis / perbedaan ras

Pada penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa gadis berkulit hitam (afrika) lebih cepat 3 bulan mengalami

menarche dibandingkan dengan gadis berkulit putih dengan tahap perkembangan payudara dan pengembangan rambut kemaluan yang sama (Freedman DS, et all dalam Karapanou, et all. 2010).

c. Lemak tubuh, gizi dan aktivitas fisik

Pada gadis yang memiliki kadar lemak ada subkutan dan BMI yang tinggi di usia pubertas (5-9 tahun) akan memungkinkan terjadinya

menarche dini (<12 tahun) (Freedman DS, et all dalam Karapanou, et all. 2010). Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Rah, Jee H dkk (2009) juga mendapatkan hasil bahwa remaja yang lebih tinggi dan lebih berat dengan massa lemak tubuh yang lebih besar cenderung mencapai

menarche di usia muda. Sedangkan penelitian lain menyebutkan juga bahwa sesorang yang kehilangan berat badan akibat diet juga dapat

mempengaruhi seseorang mengalami menarche (Gaudineau, 2010).

(38)

hipotalamus dan akhirnya mengakibatkan pengeluaran sekresi berlebih GnRH. Pengeluaran GnRH ini merangsang axis hipofisis-ovarian dan memulai percepatan pubertas. Menurut Permadi (2011) yang disampaikan pada Simposium Jakarta Infertility, Saat penyimpanan lemak memadai, leptin merangsang pelepasan GnRH. Aksi ini umumnya terjadi secara tidak langsung melalui neurohormon lain. Leptin dan reseptornya juga ditemukan di hipofisis. Masih belum jelas apakah estrogen memiliki peran fisiologis dalam pelepasan leptin dari penyimpanan lemak. Reseptor-reseptor leptin telah dilokalisasi dalam overium dan endometrium yang mengimplikasikan aksi-aksi langsung tambahan pada jaringan-jaringan tersebut. Bukti lain bahwa leptin berperan dalam sistem reproduksi berasal dari uji coba yang dilakukan pada tikus betina yang diinjeksikan leptin memungkinkan mereka untuk ovulasi, dan hamil lebih dari tikus betina yang tidak diinjeksikan leptin. Pemulihan kesuburan tersebut berkaitan dengan peningkatan tingkat serum LH pada wanita (Kaplowitz, 2008).

Mengenai asupan gizi, kualitas asupan makanan yang masuk pada anak perempuan juga mempengaruhi pubertas seseorang. Bila terjadi peningkatan asupan makanan, maka energi seseorang juga akan ikut

mengalami peningkatan dan ini akan berkaitan dengan adanya menarche

(39)

yang bermakna antara status gizi dengan usia menarche pada siswi Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Sumbul tahun 2014.

Aktifitas fisik juga dapat mempengaruhi usia menarche seseorang.

Sebuah studi cross sectional yang dilakukan dalam sekelompok

perempuan di universitas Kolombia menunjukkan usia menarche

berkaitan dengan aktivitas fisik sedikitnya 2 jam setiap harinya. Berbeda dengan yang terjadi pada atlet (kecuali atlet renang), dibandingkan pada populasi umum, seorang atlet yang berlatih secara intens akan mengalami penundaan pubertas (Chavarro J, et all. 2004).

d. Tinggi badan

Pada penelitian yang dilakukan oleh Amaliah, Sari & Rosha tahun 2012, dapat dilihat bahwa pada responden yang memiliki tinggi badan

normal memiliki rata–rata usia menarche lebih cepat dibandingkan

dengan responden dengan status tinggi badan pendek.

e. Musim

Dibeberapa negara yang memiliki musim dingin, angka kejadian

menarche lebih tinggi dibandingkan musim yang lain. Hal ini telah diteliti oleh Rah, Jee H dkk tahun 2009 di Bangladesh dimana peneliti menemukan pada bulan Desember dan Januari serta Agustus dan

September setengah dari remaja perempuan mencapai menarche selama

(40)

f. Pengaruh lingkungan

Lingkugan yang dapat mempengaruhi yaitu :

1) Faktor sosial ekonomi

Faktor tempat tinggal di desa atau di kota, ukuran keluarga,

pendapatan keluarga, tingkat pendidikan orangtua dapat

mempengaruhi usia menarche. Gadis dari keluarga dengan status

sosial ekonomi tinggi akan mengalami usia menarche yang lebih dini

dibandingkan anak perempuan dari keluarga dengan status ekonomi yang lebih rendah (Wronka I, Pawlinska Chmara R. 2005). Sedangkan gadis yang dibesarkan di lingkungan perkotaan memiliki usia

menarche yang lebih awal dari mereka yang dibesarkan di lingkungan pedesaan (Padez C, 2003).

2) Faktor kehadiran keluarga

Adanya ayah biologis dan saudara laki–laki dapat

dikaitkan dengan menarche dini, sedangkan kehadiran dari saudara

perempuan, terutama kakak perempuan dalam keluarga juga dapat

dikaitkan dengan tertundanya menarche pada anak perempuan.

Prevalensi menarche dini bahkan lebih tinggi ketika adanya kehadiran

(41)

g. Penyakit

Adanya penekanan akibat penyakit tertentu dapat mengakibatkan penundaan onset pubertas yang akan mempengaruhi pula pada kejadian

menarche. Penyakit yang bisa mempengaruhi menarche seseorang yaitu penyakit akut, kronis, atau adanya supresi hipotalamus hipofisis-gonadal (Tahirovie HF dalam Karapanou, et all., 2010)

h. Terpapar media massa

Salah satu faktor yang mempengaruhi menarche disebabkan oleh

rangsangan-rangsangan kuat dari luar, salah satunya adalah melalui keterpaparan media informasi, baik cetak maupun elektronik (Kartono, 2006). Keterpaparan media informasi dengan kecepatan usia pubertas remaja yang secara tidak langsung menyebabkan percepatan usia

menarche remaja putri. Para perempuan atau remaja putri yang

mengalami menarche dini memperlihatkan minat yang lebih kuat ketika

menonton tayangan yang mengandung unsur-unsur seksual pada film,

televisi, dan majalah dibandingkan dengan para remaja yang menarche

dalam rentang usia normal (Santrock, 2007).

Dalam buku fisiologi manusia (Sherwood, 2012), Sebelum seorang wanita mengalami mensutruasi pertama, sistem reproduksi wanita inaktif dari lahir hingga terjadi proses pubertas yaitu ketika aktivitas GnRH di hipotalamus meningkat untuk pertama kalinya. GnRH mulai merangsang pelepasan

(42)

merangsang aktivitas ovarium. Sekresi estrogen oleh ovarium yang aktif memicu pertumbuhan dan pematangan saluran reproduksi wanita serta perkembangan karakteristik seks sekunder wanita. Efek lain dari estrogen adalah mendorong pengendapan lemak di lokasi-lokasi strategi (payudara, bokong, dan paha) sehingga menghasilkan ciri khas seorang wanita yaitu tubuh yang berlekuk. Peningkatan estrogen pada masa pubertas juga menyebabkan penutupan lempeng epifisis, menghentikan pertambahan tinggi lebih lanjut. Tiga perubahan pubertas lain pada wanita (pertumbuhan rambut ketiak dan pubis, lonjakan pertumbuhan masa pubertas dan timbulnya libido) berkaitan dengan lonjakan sekresi androgen adrenal saat pubertas.

Pada awal menstruasi pada anak, sebagian besar menstruasi terjadi tidak reguler, tidak dapat diprediksi, tidak nyeri dan tidak mengandung telur. Setelah satu tahun atau lebih, berkembang menjadi suatu irama hipofisis-hipotalamus dan ovarium memproduksi estrogen siklik yang adekuat untuk mematangkan ovum (Bobak, 2005).

C. Media Massa 1. Definisi

(43)

Besar Bahasa Indonesia ialah sarana dan saluran resmi sebagai alat komunikasi untuk menyebarkan berita dan pesan kepada masyarakat luas atau alat yang menjadi perantara antara sumber informasi yang terpusat dalam suatu lembaga media massa kepada audiensi dengan jumlah yang banyak (Sugono, 2008).

Pengertian yang hampir sama juga diungkapkan oleh DeFleur dan Dennis dalam Kurtz (2008), bahwa komunikasi massa adalah proses dimana komunikator secara profesional menggunakan media untuk menyebarkan pesan secara luas, cepat dan meneruskan makna komunikasi tersebut ke khalayak yang lebih luas dan beragam dalam upaya untuk mempengaruhi mereka dengan berbagai cara. Jika menurut Cangara (2005), media massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber kepada penerima informasi dengan menggunakan alat-alat komunikasi seperti surat kabar, film, radio dan televisi.

2. Jenis media massa

Beberapa jenis media massa, yaitu :

a. Media Cetak

1) Koran

(44)

kejadian sehari-hari di masyarakat. Koran merupakan platform penting dari komunikasi massa saat media elektronik gagal untuk mencapai sudut pandang dunia yang berbeda. Hal ini memainkan peran penting dalam memberikan informasi secara langsung otentik, membangun opini, memperbarui pengetahuan pembaca, dan berfungsi sebagai platform yang baik bagi pengiklan untuk mempromosikan produk mereka (Garia, 2012).

Koran atau surat kabar memiliki karakteristik yang khas. Karakterstik tersbut yaitu (Ardianto, 2007) :

a) Publisitas (penyebaran pada publik atau khalayak)

b) Periodesitas (keteraturan terbitnya, bisa dalam harian, mingguan atau dwi mingguan)

c) Universalitas (keseluruhan isi yng beraneka ragam dan dari

seluruh dunia)

d) Aktualitas (fakta yang disajikan surat kabar dalam bentuk brita atau artikel bersifat terbaru dan masih hangat dibicarakan).

e) Terdokumentasikan

2) Majalah

(45)

dua mingguan, dua bulanan, triwulanan, setengah tahunan, atau tahunan. Majalah ini adalah forum terbaik untuk pengiklan karena mereka memiliki kedekatan yang lebih ke pembaca.

Majalah memiliki karakteristik–karakteristik tertentu yang menjadi ciri khas majalah. Karakteritik tersebut meliputi (Ardianto, 2007) :

a) Penyajian lebih dalam

b) Nilai aktualitas lebih lama

c) Gambar / foto lebih banyak

d) Cover sebagai daya tarik

3) Buklet dan Brosur

Booklet dan brosur adalah bagian dari literatur promosi suatu produk, atau organisasi. Ada dua jenis buku dan brosur (Garia, 2012) :

a) Pre-buying promotion: Biasanya di mall dan toko-toko, sastra promosi didistribusikan gratis untuk semua

b) Post-buying promotion: Booklet dan brosur ini biasanya diberikan dengan produk untuk pengalaman pelanggan yang lebih baik dan mudah pembelian pasca penggunaan.

4) Baliho / billboard

(46)

warna mereka berani, menarik perhatian berita utama, kreativitas, desain, efek khusus, dll.

b. Media Elektronik

Media elektronik adalah jenis media yang mengharuskan pengguna untuk memanfaatkan koneksi listrik untuk mengaksesnya. Hal ini juga dikenal sebagai 'Broadcast Media'. Ini termasuk televisi, radio, dan media baru seperti Internet, komputer, telepon, dan semacamnya.

1) Televisi

Menurut Morissan (2009), terdapat jenis–jenis program acara

televisi dibagi menjadi 2, yaitu :

a) Program Informasi

Program informasi adalah segala jenis siaran yang tujuannya untuk memberikan tambahan pengetahuan (informasi) kepada banyak orang. Program ini dibagi menjadi 2 bagian besar yaitu :

i. Hard News adalah segala informasi penting dan/atau menarik yang harus segera disiarkan oleh media penyiaran karena sifatnya yang harus segera ditayangkan agar dapat diketahui banyak orang secepatnya.

(47)

b) Program Hiburan

Program hiburan adalah segala bentuk siaran yang bertujuan untuk menghibur pemirsanya dalam bentuk musik, lagu, cerita dan permainan. Program yang termasuk dalam kategori hiburan yakni :

i. Game show (permainan)

ii. Program musik, dapat ditampilkan baik berbentuk videoklip

atau konser.

iii. Performance (pertunjukkan)

iv. Program drama.

2) Radio

Radio memiliki jangkauan yang signifikan. Sejumlah besar orang menggunakan radio setiap minggu dalam perjalanan mereka untuk bekerja. Namun saat ini radio kehilangan popularitasnya dengan adanya booming televisi. Tapi sampai sekarang, radio tetap menjadi salah satu sarana favorit komunikasi elektronik (Garia, 2012). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kekuatan siaran radio. Faktor tersebut yaitu (Ardianto, 2007) :

a) Daya langsung yang berkaitan dengan proses penyusunan dan penyampaian pesan pada pendengarnya yang relatif cepat.

(48)

pendengar untuk mendengarkan siaran radio yang berada di luar negeri sekalipun.

c) Daya tarik yang disebabkan karena sifatnya yang serba hidup berkat tiga unsur yang ada padanya, yaitu musik, kata–kata dan efek suara.

c. New Age Media

Dengan munculnya internet, kita sekarang menikmati manfaat dari media massa berteknologi tinggi, yang tidak hanya lebih cepat dari media massa zaman terdahulu, tetapi juga memiliki informasi yang lebih luas lagi. Ponsel, komputer, dan internet sering disebut sebagai media baru. Internet telah membuka beberapa peluang baru untuk komunikasi massa yang meliputi e-mail, website, podcast, e-forum, e-buku, blogging, TV Internet dan banyak lainnya, yang sedang booming saat ini. Internet juga telah mulai jejaring sosial yang mampu berkomunikasi secara bersama sama (Garia, 2012).

1) Ponsel

(49)

2) Komputer

Kami hampir mendapatkan informasi tentang segala sesuatu dengan bantuan komputer. Ini telah menambahkan kecepatan dan multimedia untuk informasi yang sebelumnya hanya tersedia dalam format cetak. Juga, siapa pun dapat menyuarakan pendapat mereka melalui komputer. Komputer telah menambahkan sebuah terobosan baru dalam media massa dengan menggabungkan kecerdasan manusia dengan teknologi canggih (Garia, 2012).

3) Internet

Internet adalah kumpulan jaringan dari jaringan-jaringan komputer dunia yang terdiri dari jutaan unit–unit kecil, seperti jaringan

pendidikan, jaringan bisnis, jaringan pemerintahan dan lain–lain, yang

(50)

Layanan utama internet sebagai media yaitu (Yuhefizar, 2008) :

a) Menyebarkan dan memperoleh infomasi, umumnya disajikan

dalam bentuk website, informasi dapat berupa teks, grafik, suara, video atau dalam bentuk file yang dapat di download.

b) Berkomunikasi, baik melalui media chatting berbasis teks (IRC), grafik (yahoo messenger), maupun berkomunikasi suara (Skype), layaknya menggunakan telepon kabel.

c) Berkirim surat (email)

d) Bertukar data, salah satunya dengan menggunakan aplikasi FTP, website, maupun koneksi peer to peer

e) Remote Login, mampu mengeksekusi komputer dari jauh (telnet).

3. Fungsi media sebagai komunikasi massa

Fungsi komunikasi massa menurut Dominick (2001) dalam Ardianto tahun 2007 terdiri dari :

a. Surveillance (pengawasan)

Fungsi pengawasan komunikasi massa dibagi dalam bentuk utama : 1) Warning or beware surveillance (Pengawasan peringatan)

(51)

2) Instrumental surveillance (pengawasan instrumental)

Fungsi ini adalah penyampaian atau penyebaran informasi yang memiliki kegunaan atau dapat membantu khalayak dalam kehidupan sehari hari.

b. Interpretation (penafsiran)

Fungsi penafsiran hampir mirip dengan fungsi pengawasan. Media massa tidak hanya mengirim fakta dan data, tetapi juga memberikan penafsiran terhadap kejadian–kejadian penting. Organisasi atau industri

media memilih dan memutuskan peristiwa–peristiwa yang dimuat atau

ditayangkan. Tujuan penafsiran media ingin mengajak para pembaca atau pemirsa untuk memperluas wawasan dan membahasnya lebih lanjut dalam komunikasi antarpersonal atau komunikasi kelompok.

c. Linkage (pertalian)

Media massa dapat menyatukan anggota masyarakat yang beragam,

sehingga membentuk linkage (pertalian) berdasarkan kepentingan dan

minat yang sama tentang sesuatu. Kelompok–kelompok yang memiliki

kepentingan yang sama tetapi terpisah secara geografis dipertalikan atau dihubungkan oleh media.

d. Transmission of values (penyebaran nilai–nilai)

(52)

dan dibaca di media massa. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa banyak remaja belajar tentang perilaku berpacaran dari menonton film dan acara televisi yang menceritakan mengenai pacaran, termasuk pacaran yang bebas. Beberapa pengamat memperingatkan kemungkinan terjadinya disfungsi jika televisi menjadikan salurannya terutama untuk sosialisasi (penyebaran nilai – nilai).

e. Entertainment (Hiburan)

Televisi merupakan media massa yang mengutamakan sajian hiburan. Begitupun radio siaran dan majalah yang juga banyak memuat acara hiburan. Fungsi dari media massa sebagai fungsi menghibur yaitu untuk mengurangi ketegangan pikiran khalayak, karena dengan membaca berita – berita ringan atau melihat tayangan hiburan di televisi dapat membuat pikiran segar kembali.

4. Waktu yang diperbolehkan menggunakan media massa bagi anak

Menurut American Academy of Pediatrics pada jurnal yang dirilis

tahun 2014, merekomendasikan bagi para orangtua untuk membatasi “screen

time” pada anak. “Screen time” didefinisikan sebagai waktu yang dihabiskan

untuk menggunakan atau menonton televisi, komputer, ponsel dan perangkat elektronik lainnya. Untuk waktu hiburan harus dibatasi jumlah total “screen time” yaitu <1 sampai 2 jam per hari bagi anak. Sedangkan bagi anak–anak

berusia dibawah 2 tahun, tidak ada “screen time” dan perlu adanya

(53)

5. Dampak media terhadap kesehatan

Strasburger, Jordan, dan Donnerstein (2010) membagi dampak media terhadap kesehatan sesuai dari dampak kesehatan yang dialami anak. Dampak tersebut meliputi :

a. Kekerasan dan agresi

Pada usia 18 tahun, diperkirakan remaja rata-rata akan melihat 200.000 tindak kekerasan di televisi. Sebagian besar kekerasan di televisi dan di film disajikan dalam tayangan “glamor fashion”, dan di program

anak-anak dalam bentuk humor. Selain itu anak yang berusia 10–14 tahun

juga sering melihat kekerasan kebanyakan dari film, video musik dan musik rap yang meningkatkan tingkat kekerasan. Sebuah analisis baru-baru ini juga mengungkapkan bahwa setengah dari video game semua berisi kekerasan, termasuk permainan yang dinilai sesuai untuk anak-anak berusia 10 tahun keatas. Banyaknya keterpaparan kekerasan di media massa ini secara berulang dapat menyebabkan kecemasan dan ketakutan.

b. Seks

(54)

seks yang konsisten yang normatif dan bebas. Selain itu, media memainkan peran penting dalam memberikan informasi seksual kepada remaja dalam membentuk keyakinan mereka tentang bagaimana pria dan wanita berperilaku romantis dalam hubungan.

c. Rokok dan zat adiktif

Studi terbaru mengungkapkan bahwa penyalahgunaan zat dan rokok digambarkan dalam berbagai judul film yang dibuat di Amerika Serikat dan merokok jarang dikaitkan dengan hasil kesehatan negatif. Selain itu, penelitian juga telah mengungkapkan bahwa paparan film yang memiliki adegan merokok diprediksi menyebabkan seseorang merokok 1-8 tahun kemudian dan pemirsa yang terkena paparan film yang memiliki adegan merokok ini yang mengidentifikasi dengan alur cerita dan secara karakter lebih mungkin untuk meningkatkan niat mereka untuk merokok.

d. Obesitas

Menurut hasil penelitian, penggunaan media berkontribusi dengan

epidemi obesitas di dunia. Salah satu penyebabnya yaitu pemasaran junk

food dan makanan cepat saji dimedia massa. Jumlah konten terkait

(55)

Selain dari pengaruh iklan, makan bersamaan dengan menonton TV juga dapat menyebabkan konsumsi makanan yang lebih banyak. Bagi

anak–anak yang tidak mendapatkan waktu tidur yang cukup akibat

menggunakan media massa, akan memungkinkan mereka untuk terlibat dalam aktifitas fisik yang lebih kecil.

e. Gangguan kesehatan lainnya

Menonton tv secara sering (berat) memiliki keterkaitan juga terhadap hiperkolesterolemia, hipertensi, peningkatan prevalensi asma, gangguan tidur, gangguan mood, distress psikologis dan depresi.

Berbeda dengan Rosen dkk (2014), mereka membagi dampak kesehatan akibat media ini sesuai dengan media yang digunakan oleh anak. Berikut pembagiannya :

a. Dampak “screen time” pada kesehatan

Beberapa studi telah membuktikan bahwa screen time akan

mempengaruhi status kesehatan anak. Waktu anak dalam menonton tv, video, dan menggunakan komputer secara lerlebihan menurut penelitian yang di lakukan di Norwegia dapat menyebabkan nyeri punggung dan sakit kepala pada anak (Torsheim et al., 2010).

b. Dampak televisi pada kesehatan

(56)

kulitas tidur anak menjadi buruk. Selain itu, konten televisi juga menjadi penyebab masalah perilaku termasuk agresi pada anak (Strasburger, Jordan, & Donnerstein, 2010). Sedangkan penilitian lain menunjukkan bahwa dampak negatif konten kekerasan menyebabkan anak menjadi antisosial, dan kurang perhatian di negara Kanada (Fitzpatrick, Pagani & Barnett, 2012).

c. Dampak penggunaan internet

Di Amerika, telah ditelati bahwa pada anak-anak yang menggunakann internet 90 menit sebelum tidur malam, juga akan mengakibatkan tidur malam yang buruk dan tidak berkualitas (Foley et al, 2013).

D. Pornografi 1. Definisi

Menurut Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun

(57)

a. Penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu birahi.

b. Bahan bacaan yang sengaja dan semata–mata dirancang untuk

membangkitkan nafsu birahi/seks.

(Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam Soebagijo, 2008)

2. Proses masuknya pornografi pada anak / remaja

Menurut Nadesul (2011), pada masa remaja, otak depan seseorang

atau prefrontal cortex (PFC) belum mengalami perkembangan yang

sepenuhnya. Fungsi dari PFC ini yaitu bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan, menentukan prioritas, menimbang resiko, kemampuan penilaian, dan analisis. Gunawan dalam buku Nadesul (2011) juga berpendapat bahwa bagi anak, menstimulasi anak sangat mudah. Ini terjadi karena anak dominan belajar dengan melihat ketimbang rangsang berpikir. Itu pula yang membuat anak sulit membedakan antara fakta dan fantasi serta tindakan yang boleh dan tidak boleh.

(58)

Selain itu, rasa ingin tahu pada anak juga merupakan salah satu faktor yang penting dalam proses masuknya pornografi pada anak. Biasanya dalam masa perubahan anak, seseorang akan mencari informasi yang banyak untuk membantu mengurangi rasa keingintahuannya tentang apa yang terjadi atau mungkin terjadi. Salah satunya yang berhubungan dengan seksualitas. Rasa ingin tahu mereka timbul karena kebanyakan dari mereka melihat sesuatu yang bersifat seksualitas di berbagai media. Ketika mereka sudah memiliki rasa ingin tahu, mereka akan dengan sengaja mencari informasi mengenai seks dari televisi, majalah dan internet sebagai sumber utama remaja untuk mencari informasi mengenai seksualitas. Rasa ingin tahu inilah yang menjadikan percepatan pematangan pubertas pada remaja. (Brown, Carolyn, & L‟Engle, 2005).

Meskipun anak–anak melihat yang bukan merupakan film dewasa,

(59)

gonadotropin-releasing hormone (GnRH) yang merangsang hipofisis anterior

dengan sistem portal sehingga kelenjar pituitari yang menghasilkan FSH

(follicle Stimulating Hormone) dan LH (Luteinzing Hormone) mengirimkan sinyal melalui gonadotropin (hormon yang merangsang kelenjar seks) menuju ovarium untuk menghasilkan hormon esterogen. Estrogen dengan konsentrasi rendah sudah mampu merangsang pertumbuhan payudara karena organ ini mempunyai reseptor untuk estrogen, khususnya pada glandulanya. Estrogen juga menimbulkan kematangan organ reproduksi dan perubahan organ-organ seks sekunder, diantaranya distribusi rambut, deposit jaringan lemak, dan akhirnya perkembangan endometrium di dalam uterus. Rangsangan estrogen yang cukup lama terhadap endometrium akhirnyaa perdarahan lucut pertama yang disebut menarche (Guyton & Hall, 2007).

3. Media yang mengandung unsur pornografi dan berpengaruh bagi anak :

a. Media audio (dengar)

Menurut Armando (2004), media massa yang termasuk dalam media audio (dengar) yaitu siaran radio, kaset CD, telepon dan media audio lain yang dapat diakses di internet.

1) Lagu–lagu yang mengandung lirik mesum, lagu–lagu yang

mengandung bunyi–bunyian atau suara-suara yang dapat diasosiasikan

dengan kegiatan seksual

(60)

3) Jasa pelayanan seks melalui telefon dan sebagainya

Pada pengaruhnya bagi anak, pesan seksual dalam musik dan acara khusus musik lebih banyak besifat implisit atau tersirat daripada konten seksual secara eksplisit.

b. Media audio-visual (pandang-dengar)

Program televisi, film layar lebar, video, laser disc, VCD, DVD, game komputer atau ragam media audio visual lain yg dapat diakses di internet merupakan media yang termasuk dalam media audio-visual

(Armando, 2004). Berikut penjabaran dari media – media tersebut :

1) Film- film yang mengandung adegan seks atau menampilkan artis

yang tampil dengan berpakaian minim, atau tidak (atau seolah–olah tidak) berpakaian

2) Adegan pertunjukkan musik dimana penyanyi, dan pengiringnya hadir

dengan tampilan dan gerak yang membangkitkan syahwat penonton.

(61)

Sedangkan video game adalah umum pada anak anak, baik online maupun menggunakan telepon seluler atau komputer. Pada video game,

bahkan yang digunakan oleh anak–anak, sering mengandung konten

seksual dan kekerasan. Video game seringkali sangat menyamakan (stereotip) dalam penggambaran peran gender dan mungkin berisi konten seksual secara eksplisit. Selain itu, pada video game juga sering menggambarkan gender perempuan dalam bentuk gambar yang memakai pakaian yang terbuka (Brown, Halpern, & L‟Engle, 2005).

Pada tayangan televisi, juga terdapat banyak konten yang mengandung pornografi. Tayangan ini dibagi berdasarkan genre dalam tayangannya, diantaranya yaitu :

1) Drama

(62)

2) Komedi

Merupakan program televisi yang bersifat menghibur. Pada acara televisi, komedi terbagi enjadi 2, yaitu komedi saja dan situasi komedi. Program komedi terutama acara komedi untuk kalangan

umum (tidak untuk anak–anak), menunjukkan bahwa dampak dari

lelucon bisa sangat kuat karena komedi dapat memotivasi pemirsanya untuk memproses konten (karena menghibur) dengan mengganggu proses pengawasan secara kritis dari suatu pesan dari konten tersebut. Konten yang dianggap lucu ini sering dianggap bahwa pesan yang ada hanya bersifat lelucon. Namun seiring waktu, isi pesan dalam humor ini tersimpan (Gottfred, Sarah & Bleakley 2013).

3) Gaya hidup dan infotainment

Pada progam acara ini, terdapat konten yang bersifat gaya

hidup seseoraang, infotainment dan program berbelanja. Pada program

televisi ini, menampilkan karakter wanita yang memakai pakaian minim dan modis. Pada acara ini pula, diagambarkan hubungan asmara antar artis. Hal ini memicu anak untuk mudah mengikuti artis idolanya (Brown, Halpern, & L‟Engle, 2005).

4) Animasi dan anak–anak

(63)

animasi kartun yang memiliki unsur konten seksual walaupun secara implisit.

c. Media visual (pandang)

Media visual merupakan media yang berupa koran, majalah, tabloid, buku (karya sastra novel populer, buku non fiksi) komik, iklan bilboard, lukisan, foto, atau bahkan media permainan (Armando, 2004). Dalam buku Armando (2004) juga dijelaskan bahwa konten pada media visual berupa :

1) Berita, cerita, atau artikel yang menggambarkan aktivitas seks secara terperinci atau yang memang dibuat dengan cara yang sedemikian rupa untuk merangsang hasrat seksual pembaca.

2) Gambar, foto adegan seks atau artis yang tampil dengan gaya yang dapat membangkitkan daya tarik seksual

3) Iklan di media cetak yang menampilkan artis dengan gaya yang

menonjolkan daya tarik seksual

4) Fiksi atau komik yang mengisahkan atau menggambarkan adegan seks

dengan cara yang sedemikian rupa sehingga membangkitkan hasrat seksual.

Dari hasil penelitian Aryani tahun 2012, siswi yang dilakukan penelitian memperlihatkan bahwa tayangan sinetron yang menampilkan

anak–anak berperan sebagai orang dewasa, film tentang seks (blue films),

(64)

dan rangsangan dari laki–laki, serta pengamatan langsung terhadap

perbuatan seksual akan mempercepat usia menarche.

4. Tingkat keterpaparan media massa pornografi (Kinsey 1965 dalam Soebagijo,

2008)

a. Pornografi Ringan

Pornografi ringan yaitu pornografi yang menghadirkan materi berupa adegan pegangan tangan, pelukan, ciuman bibir dan juga adegan

yang mengesankan terjadinya hubungan seks (sexually suggestive scenes)

dan seks simulasi (simulated sex).

b. Pornografi Berat

Pornografi Berat yaitu materi orang dewasa dan materi seks

eksplisit seperti menampilkan gambar–gambar alat kelamin, perabaan

(65)

E. Kerangka Teori

Sumber : Modifikasi Guyton (2007), Karapanou et all (2010), Morris (2010) dan Strasburger; Jordan & Donnerstein (2010)

Bagan 2. 1 Kerangka Teori Faktor yang mempengaruhi usia

menarche: 1. Genetik

2. Etnis

(66)

46 BAB III

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep

Konsep merupakan abstraksi yang dibentuk oleh generalisasi dari hal–hal

khusus. Konsep baru dapat diamati atau diukur melalui variabel yang membentuknya. Variabel adalah lambang atau simbol yang menunjukkan nilai dari konsep dan merupakan sesuatu yang bervariasi (Wasis,2008). Kerangka

konsep (conseptual framework) adalah model pendahuluan dari sebuah masalah

penelitian, dan merupakan refleksi dari hubungan variabel – variabel yang diteliti.

Pada penelitian ini variabel yang akan diteliti yaitu keteraparan media

massa dan usia menarche. Sehingga kerangka konsep dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut :

Keteraparan Media Massa Berkonten Pornografi

Usia menarche

 Tidak Terpapar  Menarche dini

 Terpapar Ringan  Menarche normal

 Terpapar Berat

(67)

B. Definisi Operasional

Tabel 3. 1 Definisi Operasional

No Variabel Definisi Cara Ukur Alat

Tidak terpapar : jika tidak ada jawaban dari sub pertanyaan menjawab pernah

(Kementrian Sosial dan Yayasan Kita dan Buah Hati, 2015)

Nominal

Kuesioner Terpapar Pornografi Ringan : Pornografi yang menampilkan pegangan tangan, pelukan, ciuman bibir dan adegan yang mengesankan terjadinya hubungan seks (sexually suggestive scenes) dan seks simulasi (simulated sex)

Terpapar Ringan jika responden menjawab pernah pada salah satu pernyataan nomor 1-3, 5-14, dan 17-21

Terpapar Pornografi Berat : Pornografi yang menampilkan materi orang dewasa dan materi seks eksplisit seperti perabaan dada / alat kelamin, oral seks, menampilkan alat genital dan aktivitas seksual (penetrasi)

Terpapar Berat : jika responden menjawab pernah pada salah satu pernyataan nomor 4, 15, 16 dan 22

(Kinsey 1965 dalam Soebagijo, 2008)

Ordinal

Kuisioner Menarche dini : < 12 tahun

Menarche normal : 12-13 tahun (Manuaba, 2007)

Gambar

Gambaran Tempat Penelitian .................................................................................
Gambaran Keterpaparan Media Massa Berkonten Pornografi ...............................
Tabel 5. 18 Distribusi Indeks Massa Tubuh (IMT) dan Usia Menarche di Wilayah
Menambah ilmu pengetahuan peneliti mengenai gambaran keterpaparan media massa berkonten pornografi pada usia menarche dan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Karya Tulis Akhir dengan judul “Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Usia Menarche pada Remaja Putri Usia 9-14 tahun di SD Muhammadiyah 9 Malang dan SMP Muhammadiyah

Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara status gizi (p=0,97) dan paparan media massa (p=0,409) dengan usia menarche pada siswi SMP Negeri 1

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui fenomena atau gambaran masalah tidur yang terjadi pada remaja saat ini. Manfaat dari penelitian ini adalah

Tidak terdapat hubungan antara akses media massa dengan pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja khususnya pada siswa SMK yang dapat terjadi karena remaja tidak

Pada Gambar 3 diatas dapat dilihat bahwa pengaruh kombinasi antara top soil dan kompos terhadap pertumbuhan tinggi semai jabon memiliki kecenderungan semakin meningkat

Berdasarkan hasil perhitungan paparan media massa tentang tontonan dan bacaan untuk orang dewasa yang dilakukan terhadap responden yang kemudian dihubungan dengan usia

Tidak terdapat hubungan antara akses media massa dengan pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja khususnya pada siswa SMK yang dapat terjadi karena remaja tidak

Tidak dapat dipungkiri bahwa konstruksi sosial akan selalu membersamai dalam setiap pemberitaan media massa, terlebih pada fenomena yang saat ini tengah terjadi yaitu