• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Indeks Massa Tubuh (IMT), tingkat keterpaparan dan usia

BAB VI PEMBAHASAN

B. Analisa Univariat

5. Gambaran Indeks Massa Tubuh (IMT), tingkat keterpaparan dan usia

menarche

Tabel 5. 19

Distribusi Indeks Massa Tubuh (IMT), Tingkat Keterpaparan dan Usia

Menarche di Wilayah Pancoran Mas Kota Depok Tahun 2016 (n=106)

Indeks Massa Tubuh (IMT) Tingkat Keterpaparan

Usia Menarche Total N

(%) Normal Dini N Persen (%) N Persen (%) Normal Berat 16 33,3 23 47,9 39 81,3 Ringan 4 8,3 5 10,4 9 18,8 Gemuk Berat 8 19,5 20 48,8 28 68,3 Ringan 4 9,8 9 22,0 13 31,7 Obesitas Berat 1 5,9 9 52,9 10 58,8 Ringan 4 23,5 3 17,6 7 41,2

Tabel 5.19. menunjukkan bahwa tidak ada anak dengan nilai IMT sangat kurus dan kurus. Pada nilai IMT normal dengan tingkat keterpaparan

berat, sebanyak 16 anak (33,3%) mengalami menarche normal sedangkan 23

tingkat keterpaparan ringan sebanyak 4 anak (8,3%) mengalami menarche

normal sedangkan 5 anak (10,4%) mengalami menarche dini.

Tidak berbeda dengan nilai IMT gemuk. Pada anak dengan kegemukan dan terpapar berat, hanya 8 anak (19,5%) yang mengalami

menarche normal sedangkan 20 anak (48,8%) lainnya mengalami menarche

dini. Sama halnya dengan anak dengan keterpaparan berat, anak kegemukan

dengan keterpaparan ringan pun lebih banyak anak yang mengalami menarche

dini yaitu sebanyak 9 anak (22,0%) dibandingkan anak dengan menarche

normal yaitu sebanyak 4 anak (9,8%).

Pada anak obesitas dengan keteraparan berat, jumlah anak yang

mengalami menarche normal yaitu 1 anak (5,9%) dan pada anak yang

mengalami menarche dini sebanyak 9 anak (52,9%). Jika pada anak obesitas

dengan tingkat paparan ringan jumlah anak dengan menarche dini lebih

banyak, pada anak obesitas dan tingkat paparan berat jauh lebih sedikit yaitu 3

anak (17,6%) yang mengalami menarche dini dibanding anak dengan

menarche normal yaitu 4 anak (23,5%).

Jika dilihat dari data pada tabel 5.18. dapat disimpulkan bahwa pada tingkatan IMT yang sama dengan ketepaparan yang berbeda akan

menghasilkan jumlah anak pada usia menarche yang berbeda pula. Selain itu,

berat akan menghasilkan jumlah anak yang lebih banyak mengalami

menarche dini dibanding terpapar ringan.

6. Gambaran kelas dan tingkat keterpaparan terhadap usia menarche

Tabel 5. 20

Distribusi Kelas, Tingkat Keterpaparan dan Usia Menarche di Wilayah Pancoran Mas Kota Depok Tahun 2016 (n=106)

Kelas Tingkat

Keterpaparan

Usia Menarche Total N

(%) Normal Dini N Persen (%) n Persen (%) Kelas 4 Ringan 0 0 2 33,3 2 33,3 Berat 0 0 4 66,7 4 66,7 Kelas 5 Ringan 1 7,7 3 23,1 4 30,8 Berat 1 7,7 8 61,5 9 69,2 Kelas 6 Ringan 11 12,6 12 13,8 23 26,4 Berat 24 27,6 40 46,0 64 73,6

Tabel 5.20. memperlihatkan persebaran anak dengan usia menarche

dini dan normal berdasarkan tingkatan kelas dan tingkat keterpaparannya. Untuk anak kelas 4, baik terpapar ringan maupaun terpapar berat, seluruh

anak mengalami menarche dini yaitu 2 anak (33,3%) pada keterpaparan

ringan dan 4 anak (66,7%) pada keterpaparan berat. Pada anak kelas 5 yang

terpapar ringan, 1 anak (7,7%) mengalami menarche normal sedangkan 3

anak lainnya (23,1%) mengalami menarche dini. Pada tingkat kelas yang

sama namun dengan keterpaparan berat, sebanyak 1 anak (7,7%) juga

mengalami menarche normal sedangkan 8 anak (61,5%) lainnya. Hasil yang

cukup berbeda terjadi pada anak kelas 6 dengan tingkat keterpaparan ringan,

dimana pada kategori tersebut, jumlah anak dengan menarche normal dan

menarche normal dan 12 anak (13,8%) dengan menarche dini. Namun pada anak kelas 6 dengan tingkat keterpaparan berat, merupakan kategori yang

paling banyak terjadi menarche dini yaitu sebanyak 40 anak (46,0%) dan anak

dengan menarche normal sebanyak 24 anak (27,6%).

Dari tabel tersebut, dapat disimpulkan bahwa anak dengan tingkat kelas terbesar dan tingkat keterpaparan berat memiliki jumlah yang paling besar terjadi menarche dini. Selain itu, semakin anak dengan kelas yang

cenderung lebih rendah, maka cenderung mengalami menarche dini yang

dibuktikan dengan jumlah anak dengan menarche normal semakin kelas

rendah, semakin sedikit bahkan tidak ada pada anak kelas 4. Dapat disimpulkan juga bahwa dari segala kategori yang ada pada tabel tersebut,

jumah anak dengan menarche dini jauh lebih banyak dibandingkan anak

80 BAB VI

PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan dipaparkan mengenai hasil penelitian dan keterbatasan penelitian yang muncul. Interpretasi hasil akan membahas mengenai hasil penelitian yang dikaitkan dengan teori yang ada sedangkan keterbatasan penelitian akan menguraikan beberapa hambatan dan kekurangan yang ada pada proses penelitian maupun dalam hasil penelitian.

A. Karakteristik Responden

Pada penelitian ini, peneliti juga melihat distribusi usia responden pada saat melakukan penelitian. Anak yang berusia 12 tahun (67%) merupakan usia terbanyak yang menjadi responden penelitian ini. Banyaknya usia ini dikarenakan pada usia tersebut, anak yang sudah mengalami

menarche jauh lebih banyak dibandingkan dengan anak pada usia lain

Untuk persebaran kelas responden, sebanyak 87 anak dari 106 anak (82,1%) yang menjadi responden pada penelitian ini merupakan anak yang berada pada kelas 6 (enam). Ketidak merataan kelas ini disebabkan karena

sebagian besar anak yang sudah mengalami menarche sudah mencapai

tingkat kelas ini. Pada tingkat kelas lainnya, anak yang mengalami menarche

masih menjadi minoritas dibandingkan anak perempuan yang belum

mengalami menarche.

Responden-responden yang diteliti tersebut merupakan responden yang tersebar di 4 (empat) sekolah dasar negeri yang ada di wilayah

kecamatan Pancoran Mas dan Sekolah Dasar Negeri Mampang 1 yang merupakan sekolah yang paling banyak menyumbang responden yaitu sebanyak 47 anak (44,3%). Hal ini terjadi karena SD Negeri ini merupakan SD yang paling besar diantara ke-empat SD Negeri lain yang menjadi tempat penelitian. SD ini memiliki jumlah kelas yang lebih banyak dibandingkan 4 sekolah lainnya, untuk itu jumlah murid pun juga lebih banyak dibandingkan sekolah yang menjadi tempat penelitian lain.

Dalam gambaran suku bangsa, dalam penelitian ini seluruh responden memiliki ras asli Indonesia yang merupakan ras Asia dengan 33 anak (31%) bersuku sunda yang merupakan suku terbanyak dibanding suku lainnya. Hal ini tidak dapat di bandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Karapanou, dan Papadimitriou (2010) karena pada penelitian ini memperlihatkan bahwa anak yang memiliki ras kulit hitam rata-rata lebih

cepat mengalami menarche yaitu 3 bulan dibandingkan anak dengan kulit

putih dengan tahap perkembangan payudara dan pengambangan rambut kemaluan yang sama.

1. Gambaran nilai Indeks Massa Tubuh (IMT)

Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan sebagian besar anak 48 anak (45,3 %) memiliki nilai IMT yang masih normal. Sedangkan 41 anak-anak (38,7%) mengalami kegemukan dan 17 anak (16%) mengalami obesitas namun tidak ada anak yang tergolong kurus maupun sangat kurus. Jika anak yang memiliki angka diatas normal digabungkan, maka lebih dari setengah jumlah responden (58 anak) memiliki nilai IMT yang diatas normal.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Harapan tahun 2014, dengan rentang kelas yang sama dengan rentang kelas yang diteliti oleh penelitian ini, sebanyak 23 anak (51%) memiliki nilai IMT normal, 9 anak (20%) gemuk dan 13 anak (29%) kurus. Perbedaan adanya anak yang tergolong kurus pada penelitian tersebut terjadi karena adanya perbedaan jumlah responden yang diteliti. Pada penelitian yang dilakukan oleh Harapan (2014) hanya 45 responden yang diteliti sedangkan pada penelitian ini berjumlah 106 responden. Selain itu faktor lokasi penelitian juga mempengaruhi dari hasil penelitian. Pada penelitian yang dilakukan peneliti dilakukan di kota Depok yang merupakan suatu daerah perkotaan, sedangkan pada penelitian Harapan dilakukan di daerah kabupaten Magetan yang masih tergolong pedesaan. Perbedaan lokasi ini mempengaruhi nilai IMT anak dikarenakan masalah gizi memiliki etiologi yang tidak saja dipengaruhi oleh tingkat asupan gizi dan kesehatan individu saja, tetapi juga berkaitan dengan sosial ekonomi masyarakatnya (Jahari et all, 2000) dimana pada masyarakat pedesaan dan perkotaan memiliki sosial ekonomi yang berbeda.

Pada Roses dan Shapouri (2008), seseorang yang memiliki kategori IMT kegemukan atau obesitas terjadi akibat ketidak seimbangan masukan dan keluaran kalori dari tubuh serta penurunan aktifitas fisik

(sedentary life style) yang menyebabkan penumpukkan lemak di sejumlah bagian tubuh. Pada orang tersebut, didapatkan asupan energi melebihi dari yang dibutuhkan, maka jaringan adiposa meningkat disertai dengan peningkatan kadar leptin dalam peredaran darah dan pada sebagian besar

penderita obesitas terjadi resistensi leptin, sehingga tingginya kadar leptin tidak menyebabkan penurunan nafsu makan (Jeffrey, 2009). Sehingga dapat disimpulkan bahwa sesorang yang mengalami kegemukan atau obesitas cenderung menyebabkan penumpukkan lemak.

Penumpukkan lemak yang terjadi pada anak dengan IMT diatas normal ini, menyebabkan kelanjar adiposa mensekresikan leptin yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak dengan IMT normal. Leptin ini mempengaruhi kadar neuropeptida Y yang mempengaruhi GnRH dan GnRh inilah yang mensekresikan juga mengubah kadar sekresi LH. Selain itu, leptin juga berpengaruh pada maturasi oosit yang merangsang pematangan ovum yang dihasilkan oleh ovarium (Prayitno, 2014).

B. Analisa Univariat

1. Usia menarche

Pada peneltian ini, sebagian besar responden mengalami

menarche dini yaitu sebanyak 69 anak (65,1%) dari 106 anak yang menjadi responden peneliti. 37 anak (34,9%) lainnya tidak mengalami

menarche dini atau dikatakan responden mengalami menarche normal.

Menurut Manuaba (2007), seseorang dikatakan menarche

normal jika seseorang mengalami menstruasi pada usia 12-13 tahun. Sehingga, jika seseorang mengalami menstruasi sebelum usia 12 tahun

maka orang tersebut dikatakan mengalami menarche dini dan apabila

seseorang mengalami menstruasi diatas usia 13 tahun, maka orang tersebut

Pada penelitian ini, rata–rata anak yang mengalami menarche

yaitu 11,21 tahun. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Karapanou dan Papadimitrou (2010) yang mengungkapkan bahwa adanya

kecenderungan perubahan usia menarche dalam rentang waktu tertentu.

Kecenderungan tersebut dapat dilihat dari adanya hasil Riset Kesehatan

Dasar pada tahun 2010 bahwa rata – rata anak Indonesia mengalami

menarche pada usia 13-14 tahun sedangkan pada penelitian ini rata–rata 11,21 tahun.

Penelitian ini juga tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fidin, Muda dan Hiswani tahun 2014, pada penelitian

Fidin, Muda dan Hiswani rata–rata usia menarche mencapai 13,67 tahun.

Begitu pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Kisswardhani tahun 2014, rata–rata usia menarche pada penelitian tersebut yaitu berusia 12,95 tahun. Perbedaan hasil ini terjadi karena lokasi penelitian yang dilakukan berbeda secara karakteristik. Pada penelitian yang dilakukan oleh Fidini, Muda dan Hiswani (2014) dilakukan di daerah Sumbul, dan pada penelitian Kisswardhani (2014) dilakukan di daerah Batang. Sedangkan pada penelitian ini dilakukan di kota Depok.

Selain adanya perbedaan karakteristik dalam lokasi penelitian, perbedaan pada tahun dilakukan penelitian juga turut andil dalam perbedaan hasil yang didapatkan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya. Perbedaan tahun dilakukan penelitian tersebut erat kaitannya

dengan kecenderungan perubahan usia menarche pada rentang waktu

Papadimitriou tahun 2010 mengungkapkan bahwa pada negara Amerika Serikat (AS) pada tahun 1900 usia rata–rata menarche yaitu lebih dari 14 tahun namun pada tahun 1994 berubah menajdi 12,43 tahun. Pada daerah Asia juga terdapat kecenderungan perubahan tersebut dimana usia

menarche saat ini mencapai 12 tahun untuk orang Asia (Karapanou & Papadimitriou, 2010).

a. Gambaran kelas dan usia menarche

Pada penelitian ini, ada anak kelas 4 yang memiliki usia

menarche normal. Hal ini terjadi karena anak kelas 4 rata–rata memiliki usia yang belum mencapa usia normal menarche yaitu usia

menarche berada pada umur 12–13 tahun (Manuaba, 2007). Berbeda

pada anak di kelas 6, pada kelas ini baik jumlah anak pada menarche

dini maupun menarche normal merupakan angka yang paling besar

dibandingkan dengan kelas yang lain yaitu 35 anak (33%) pada

menarche normal dan 52 anak (49,1%) pada menarche dini. Angka ini terjadi karena jumlah anak yang emngalami menarche pada kelas 6 jauh lebih banyak dibandingkan dengan kelas lain pada penelitian ini, sehingga persebaran jumlahnya pun tidak merata.

2. Gambaran keterpaparan media massa berkonten pornografi

Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukkan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi

Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2008 tentang pornografi). Saat ini, banyak anak yang sudah mengalami keterpaparan pornografi. Frekuensi keterpaparan pornografi tersebut dapat dilihat pada penelitian ini yaitu seluruh responden sebanyak 106 respnden yang dilakukan penelitian sudah mengalami keterpaparan media massa berkonten pornografi.

Pada penelitian lain, jumlah anak yang mengalami keterpaparan dan tidak terpapar hampir seimbang yaitu terpapar sebanyak 28 anak (47,5%) sedangkan yang tidak terpapar sebanyak 31 anak (52,5%) (Kissswardhani, 2014). Perbedaan hasil ini terjadi karena terdapat perbedaan isi konten dalam penelitian. Pada penelitian ini, konten dari kuesioner mengenai keterpaparan bukan hanya berdasarkan intensitas, namun lebih fokus terhadap konten pornografi yang ada pada media massa. Berbeda dari penelitian Kisswardhani, hasil pada penelitian Mariani dan Bachtiar (2010) terlihat lebih selaras dengan penelitian ini. Dalam penelitian Mariani dan Bachtiar, 90,6% dari 1415 siswa sudah mengalami keterpaparan materi pornografi. Dari banyaknya jumlah kelas yang diteliti pada penelitian tersebut, 8 (delapan) kelas diantaranya seluruh siswa sudah mengalami keterpaparan materi pornografi.

Untuk itu, dari beberapa penelitian yang telah dipaparkan, dapat

disimpulkan bahwa anak–anak saat ini sudah banyak yang mengalami

keterpaparn konten pornografi.

a. Gambaran keterpaparan media audio berkonten pornografi

Pada penelitian ini, hanya 1 anak yang tidak mengalami keterpaparan media audio, sedangkan 105 anak lainnya sudah terpapar

konten pornografi pada media audio. Media audio merupakan media berupa radio, kaset CD, telepon, dan media lain yang dapat diakses diinternet (Armando, 2004).

Angka kejadian penggunaan media audio pada anak di dunia sebanyak 52% anak di dunia mendengarkan musik secara umum setiap harinya dan 25% anak mendengarkan radio setiap harinya (Broadcasting Standards Authority, 2015). Pada anak dengan rentang

9–14 tahun, mereka mendengarkan acara yang berhubungan dengan

seksual hanya 6% sedangkan mendengarkan lagu orang dewasa dalam radio hanya 3% anak.

Konten pornografi yang dapat didengarkan anak pada media audio yaitu konten pornografi berupa lagu yang mengandung lirik cinta, mesum atau bunyi dan suara yang diisyaratkan sebagai kegiatan seksual, program radio yang membicarakan mengenai hubungan percintaan dan obrolan percintaan di telefon (Armando, 2004). Untuk itu dapat disimpulkan bahwa anak yang menjadi responden pada penelitian ini hampir seluruhnya pernah mendengarkan salah satu atau lebih dari satu konten pornografi dalam lagu, program radio ataupun percintaan melalui telepon tersebut.

b. Gambaran kerterpaparan media audio visual berkonten pornografi

Program televisi, film layar lebar, video, laser disc, VCD, DVD, game komputer atau ragam media audio-visual yang dapat diakses melalui internet lain merupakan tempat penyebaran informasi pada media audio visual. Dari penelitian yang dilakukan, seluruh anak (106

anak) mengalami keterpaparan konten pornografi pada media audio-visual ini.Hal ini terjadi karena media audio–visual memiliki ragam yang banyak dibandingkan jenis media lain. Selain itu, pada saat ini jenis media inilah yang paling mudah diakses oleh anak.

Jenis konten pornografi yang dapat dilihat pada jenis media ini beragam. Menurut Sherman & Dominick dalam Bragg & Buckingham (2002), anak sering menemukan konten pornografi dalam video klip lagu seperti berciuman, memeluk, dan beradegan mesra. Selain itu, lirik dalam lagu sebagian besar bertemakan seksualitas. Di Indonesia sendiri, video klip musik memang tidak se-vulgar dan se-sensual video klip luar negeri. Namun hal–hal yang bersifat mesra, ciuman pipi, dan romantis masih bisa dilihat oleh anak sedangkan pada ciuman bibir dan konten seksual yang lebih eksplisit akan di sensor oleh Lembaga Sensor Indonesia.

Pada media jenis ini, anak juga paling sering menggunakan televisi dari banyaknya media lain. Dalam tayangan televisi, genre drama merupakan genre yang paling beresiko untuk menyampaikan pesan yang bersifat seksual yaitu sebesar 3 kali lipat (Gottfred, Sarah & Bleakley, 2013). Begitu pula dengan genre komedi untuk umum, karena komedi dapat memproses konten dengan mengganggu proses pengawasan secara kritis anak sehingga humor tersebut tersimpan dengan baik dalam otak mereka (Gottfred, Sarah & Bleakley, 2013). Selain itu, dalam animasi juga terdapat unsur seksual walaupun hanya

secara implisit dan tidak memiliki dampak yang signifikan dalam penyebaran konten seksual (Brown, Halpern, & L‟Engle, 2005).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Putri (2009)

menggambarkan bahwa sebanyak 121 anak (69,9%) mengalami keterpaparan sedangkan 52 anak tidak terpapar konten pornografi media ini. Penelitian tersebut menilai keterpaparan tersebut hanya berdasarkan anak pernah menonton film/DVD/VCD orang dewasa dan frekuensi menonton televisi lebih dari jam 9 malam sebanyak 3 kali atau lebih dalam seminggu. Dalam penelitan ini, penilaian keterpaparan bukan hanya dilihat dari 2 aspek yang diteliti oleh penelitian Putri saja, tapi dilihat dari aspek lain seperti genre dalam televisi yang ditonton yang berhubungan dengan seksualitas dan pornografi, serta konten yang terkandung dalam media tersebut. Hal ini lah yang menjadi ketimpangan dalam penelitian yang dilakukan oleh Putri dan penelitian ini sehingga hasil dalam penelitian ini seluruh anak menjadi terpapar audio - visual.

Dari teori yang ada dan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa seluruh anak dalam penelitian ini sudah terpapar salah satu atau lebih konten pornografi dalam media ini. Hal ini dikarenakan banyaknya bentuk konten pornografi yang dapat dilihat oleh anak pada media ini.

c. Gambaran keterpaparan media visual berkonten pornografi

Penelitian ini memperlihatkan bahwa hampir seluruh anak yaitu 97 anak dari 106 (91,5%) terpapar media visual. Media visual ini

meliputi koran, majalah, tabloid, buku, komik, iklan bilboard, lukisan, foto dan media lain yang bersifat media cetak yang hanya memperlihatkan gambar. dengan kata lain, responden dalam penlitian ini banyak yang membaca bacaan untuk orang dewasa.

Sejalan dengan hasil penelitian peneliti, penelitian yang dilakukan oleh Putri tahun 2009, sebanyak 168 anak (97,1%) anak telah terpapar media cetak (visual) sedangan 5 anak lainnya (2,9%) tidak mengalami keterpaparan media visual. Pada penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Kita dan Buah Hati dalam Kementrian Sosial (2015) juga mengungkapkan bahwa 24% anak yang terpapar pornografi mengaku melihat hal tersebut dari media komik. Media komik ini lah yang merupakan media yang paling banyak memaparkan pornografi pada anak dalam penelitian yang dilakukan oleh yayasan tersebut.

Dengan hasil tersebut, dapat dikatakan bahwa sebagian besar anak sudah mengalami keterpaparan media visual berkonten pornografi yaitu berupa berita, cerita tentang aktivitas seksual, foto, gambar, adegan, iklan media cetak dan komik yang menggambarkan daya tarik seksual dan merangsang hasrat.

3. Gambaran tingkat keterpaparan

Hasil penelitian dari penellitian yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan sebagian besar anak mengalami keterpaparan berat yaitu sebanyak 77 anak (72,6%) sedangakan 29 anak lainnya (27,4%) mengalami keterpaparan ringan.

Hal ini hampir sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mariani dan Bachtiar tahun 2010 yang mengungkapkan bahwa sebagian besar siswa (48,6%) mengalami keterpaparan media pornografi pada kategori kedua dan diurutan kedua ditempati oleh keterpaparan kategori pertama yaitu sebanyak 36,3% siswa dan anak lainnya berada pada kategori ketiga dan keempat. Perbedaan hasil dan penelitian Mariani dan Bachtiar dengan penelitian yang dilakukan dengan peneliti yaitu dalam pengkategorian dalam tingkatan keterpaparan pornografi. Dalam penelitian tahun 2010 tersebut, pengelempokkan tingkatan keterpaparan berdasarkan intensitas anak terpaparar materi pornografi. Intensitas yang dimaksud dalam penelitian tersebut yaitu berapa kali seorang anak melihat konten

pornografi tersebut. Berbeda dalam pengelompokkan tingkatan

keterpaparan penelitian ini. Pada penelitian ini pengelompokkan tingkat keterpaparan berdasarkan konten yang dilihat oleh anak. tidak berdasarkan berapa kali seorang anak menonton konten pornografi.

a. Gambaran tingkat keterpaparan media massa berkonten pornografi

pada media audio

Peneltian ini menunjukkan bahwa anak yang terpapar konten pornografi media ini semua hanya mengalami keterpaparan ringan yaitu 105 anak (99,1%) sedangkan 1 anak lainnya tidak terpapar pornografi pada media ini. Hal ini terjadi karena pada media audio tidak ada konten yang bersifat keterpaparan berat yakni konten yang secara eksplisit memaparkan materi seksual.

Pada media ini, yang ditampilkan sebagai konten pornografi ringan yaitu mendengarkan musik orang dewasa, telfon atau komunikasi dengan lawan jenis yang disukai dan mendengarkan acara radio mengenai cerita cinta. Hal tersebut digolongkan menjadi konten pornografi ringan karena hanya menghadirkan materi yang mengesankan hubungan percintaan dan mengesankan hubungan seks dan stimulasi seks saja (Kinsey, 1965 dalam Soebagijo, 2008).

Dari pemaparan diatas dan hasil penelitian yang dilakukan, maka peneliti berkesimpulan bahwa tingkat keterpaparan media audio pada penelitian ini hanya bersifat ringan karena tidak ada konten yang secara eksplisit menggambarkan hubungan seks. Namun kesimpulan ini belum dapat di sejajarkan pada penelitian ini karena belum ada

penelitian sebelumnya yang menjabarkan gambaran tingkat

keterpaparan berdasarkan media audio saja.

b. Gambaran tingkat keterpaparan media massa berkonten pornografi

pada media audio-visual

Penelitian ini menunjukkan bahwa 74 anak (69,8%) mengalami keterpaparan berat pada media ini. Hal ini terjadi karena sebagian besar konten yang bersifat pornografi berat sebagian besar berada pada media ini yaitu tontonan video orang dewasa, film orang dewasa dan menonton diatas jam 9 malam. Konten tersebut dikatakan konten bersifat pornografi berat karena dapat menampilkan gambar, video atau adegan aktivitas seksual secara eksplisit. Untuk tontonan diatas jam 9 diakatakan keterpaparan berat diakarenakan diatas jam 9 malam

merupakan jam malam anak dimana segala tontonan dalam terlevisi lebih bersifat dewasa dan tidak menutup kemungkinan ada film ada tontonan yang bersfiat pornografi berat diatayangkan. Walaupun dalam televisi komersial di Indonesia kemungkinannya kecil karena ada Lembaga Sensor Indonesia yang menyaring konten tersebut, tetapi

Dokumen terkait