• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Wajah

2.1.2 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan

Wajah setiap individu terhadap individu lainnya memiliki tipe yang sangat bervariasi, hal ini disebabkan oleh struktur kranial terhadap pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan wajah pada setiap individu berbeda yang akan membuat ukuran dari wajah tiap individu juga berbeda. Pertumbuhan wajah seseorang memiliki hubungan terhadap jarak VDO yang merupakan tinggi sepertiga wajah bawah. Oleh karena itu, pertumbuhan wajah yang normal dapat dijadikan alat bantu dalam proses penentuan jarak VDO, sedangkan jika terjadi gangguan pada pertumbuhan wajah maka tidak dapat membantu penentuan jarak VDO. Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan wajah yaitu genetik, jenis kelamin, nutrisi, hormon, dan ras.14,15,16

2.1.2.1 Genetik

Genetik memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap ukuran sehingga laju pertumbuhan dan onset pertumbuhan pada seseorang akan berbeda. Konstitusi genetik seorang individu disebut sebagai genom, yang diwarisi bukan dari satu, tetapi dari kedua orang tuanya. Konversi informasi genetik yang dikodekan dalam genom seseorang menjadi protein atau molekul pengatur, seperti asam mikroribonukleat yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan seseorang.15,16,17

2.1.2.2 Jenis Kelamin

Pada laki-laki pertumbuhan tulang kranium lebih besar dibandingkan perempuan yang akan mempengaruhi ukuran wajah. Pada laki-laki pertumbuhan dan perkembangan tulang dipengaruhi oleh hormon androgen yang membuat ukuran tulang menjadi lebih besar daripada tulang perempuan dan membuat ukuran wajah lebih besar pada laki-laki dan perempuan. Menurut Riveiro PF bahwa tinggi wajah pria lebih besar dari pada wanita.16,18,19

2.1.2.3 Nutrisi

Nutrisi merupakan salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh pada tumbuh kembang tulang yang normal. Nutrisi yang kurang memadai mengakibatkan tumbuh kembang menjadi tidak maksimal. Komponen nutrisi yang memadai sangat diperlukan saat pembentukan kolagen dan deposisi mineral untuk mencegah kecacatan struktural.20 Salah satu nutrisi yang penting bagi pertumbuhan tulang adalah protein. Sintesis protein yang normal diperlukan untuk perkembangan jaringan lunak dan jaringan keras termasuk tulang. Kekurangan protein akan menyebabkan perubahan pada timbunan asam amino yang akan menghambat reaksi sintesis protein dalam pembentukan matriks organik tulang. Selain itu, mineral seperti vitamin D, kalsium dan fosfor juga diperlukan dalam pengendapan matriks tulang pada saat proses mineralisasi tulang dalam proses pertumbuhan dan pembentukan masa tulang.21 Matriks organik pada tulang terdiri dari 90-95 % serat kolagen yang disekresikan oleh osteoblas. Pembentukan kolagen juga dipengaruhi protein, vitamin C, serta mineral, seperti zat besi, tembaga, dan seng.16,18,22,23

Kekurangan asam folat pada masa kehamilan dapat menyebabkan adanya kecacatan pada daerah wajah. Nutrisi yang adekuat menyebabkan bentuk kepala yang bulat, sedangkan jika nutrisi tidak adekuat menyebabkan kepala menjadi lonjong serta periode pertumbuhan menjadi lama yang menyebabkan terjadinya disproporsi hubungan bentuk kepala dan wajah.18,22

2.1.2.4 Hormon

Tubuh manusia menghasilkan hormon untuk sistem regulasinya.

Pertumbuhan post-natal paling dipengaruhi oleh konsentrasi hormon pertumbuhan (somatotropin) berupa molekul protein kecil yang mengandung 1988 asam amino.

Hormon somatrotopin berpengaruh terhadap peningkatan perpanjangan tulang dengan menstimulasi maturasi dan pembelahan sel kondrosit dalam epifiseal, dengan demikian terdapat pelebaran epifiseal yang menghasilkan lebih banyak zat tulang rawan untuk pembentukan tulang.21 Selain itu, hormon somatotropin juga mempengaruhi penambahan protein tubuh, menghambat karbohidrat, dan

menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi. Hormon somatotropin akan mempengaruhi proses metabolisme tubuh, yaitu meningkatkan kecepatan sintesis protein dalam sel tubuh, menurunkan kecepatan penggunaan karbohidrat serta meningkatkan metabolisme lemak untuk dijadikan energi. Hormon somatotropin akan membentuk zat somatromedin pada hati dan ginjal yang akan berpengaruh dalam peningkatan pertumbuhan tulang, yaitu untuk pengendapan kondritotin sulfat dan kolagen.13,22,24 Salah satu hormon yang mensintesis hormon somatroopin adalah hormon tiroid. Kekurangan hormon tiroid pada saat bayi dan anak-anak akan menyebabkan hipotiroidisme yang mengalami keterlambatan pertumbuhan tulang dan berakibat pada kekerdilan, sedangkan sekresi yang terus-menerus akan menyebakan hipertiroidisme dan berakibat menjadi gigantisme. Produksi hormon yang sedikit selama masa pertumbuhan menyebabkan pemendekan dari basis kranium dan keterlambatan pembentukan wajah bagian tengah.13,15,22

2.1.2.5 Ras

Perbedaan pertumbuhan pada manusia juga dipengaruhi oleh ras, tetapi juga perbedaan ras ini berhubungan dengan faktor genetik, nutrisi, serta lingkungan.

Standar ukuran wajah yang sekarang ini dipakai adalah dari ras Kaukasoid karena memiliki ukuran wajah rata-rata atau sedang (Mesoprosopic). Pada orang-orang dengan ras Negroid rata-rata memiliki ukuran wajah yang lebih panjang (Leptoprosopic), sedangkan di Indonesia yang merupakan ras Mongoloid memiliki ukuran wajah yang lebih lebar (Euryprosopic).16,18

2.1.2.6 Pola Makanan

Fungsi mastikasi memiliki kontribusi penting pada pertumbuhan dan perkembangan tulang rahang serta kompleks kraniofasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berkurangnya fungsi mastikasi dapat mempengaruhi ukuran dan massa tulang. Dewasa ini, manusia cenderung menyantap makanan-makanan lunak sehingga kurang merangsang pertumbuhan tulang. Tekstur makanan yang lebih lunak akan mengakibatkan berkurangnya daya oklusal setiap satu kali gerakan

kunyah serta berkurangnya jumlah chewing cycle per unit. Pada proses mastikasi makanan dengan tekstur yang lebih kasar akan meningkatkan chewing cycle yang dapat menstimulasi osteoblas untuk merangsang pertumbuhan pada sendi-sendi di ujung rahang yang merupakan titik pertumbuhan dan perkembangan rahang. Pada penelitian Lieberman, dkk menyatakan bahwa makanan yang terlalu lunak akan mengurangi fungsi mastikasi dan dapat mengakibatkan berkurangnya pertumbuhan fasial terutama pada bagian sepertiga wajah bawah.25

2.1.3 Tipe Wajah

Penampilan wajah yang harmonis dapat diperoleh jika proporsi wajah seseorang seimbang baik tinggi wajah maupun lebar wajah. Tidak ada satu pun komponen wajah yang dapat berdiri sendiri ataupun tidak berintegrasi dengan komponen lainnya, karena setiap perubahan yang terjadi pada salah satu bagian/komponen wajah akan mempengaruhi atau memberikan efek yang nyata pada bagian wajah lainnya secara keseluruhan dan akan mempengaruhi penampilan wajah.

Jarak tinggi dan lebar wajah juga akan mempengaruhi tipe wajah.3,14

Tipe wajah dapat diidentifikasi dengan melakukan pengukuran indeks morfologi wajah. Martin dan Saller (1957) mengklasifikasikan tipe indeks morfologi wajah dengan melakukan perhitungan hasil pengukuran pada tinggi wajah total (Nasion-Menton) dibagi dengan lebar wajah (Zigomatikus-Zigomatikus). Klasifikasi indeks morfologi wajah terdiri atas hypereuryprosopic dengan indeks X-78,9;

euryprosopic dengan indeks 79.0-83,9; mesoprosopic dengan indeks 84,0-87,9;

leptoprosopic dengan indeks 88,0-92,9; dan hyperleptoprosopic dengan indeks 93,0-x. Namun, secara umum tipe wajah rata-rata yang dimiliki manusia adalah euryprosopic, mesoprosopic dan leptoprosopic. Namun, belum ada penelitian yang menyatakan bahwa tipe wajah seseorang memiliki hubungan terhadap jarak VDO.15,26

2.1.3.1 Tipe Wajah Euryprosopic (Brachyfacial)

Tipe wajah euryprosopic atau wajah pendek memiliki rentang indeks 79,0-83,9. Karakteristik tipe wajah euryprosopic adalah tulang pipi lebar, datar dan kurang protrusif sehingga membuat bentuk tulang pipi terlihat jelas berbentuk persegi. Karakter wajah seperti ini membuat tulang zigomatikus lebih menonjol dibandingkan tipe wajah leptoprosopic. Tipe wajah euryprosopic memiliki lengkung maksila dan palatum yang lebar dan dangkal. Tipe wajah seperti ini biasanya terdapat pada ras Aborigin dan Negroid.15,26

2.1.3.2 Tipe Wajah Mesoprosopic (Mesofacial)

Tipe wajah mesoprosopic atau disebut juga tipe wajah rata-rata memiliki rentang indeks 84,0-87,9. Karakteristik tipe wajah mesoprosopic adalah kepala lonjong dan bentuk wajah terlihat oval dengan tulang zigomatikus tidak terlalu menonjol, serta bentuk hidung, dahi, dan lengkung rahang tidak selebar tipe wajah euryprosopic dan tidak sesempit tipe wajah leptoprosopic. Tipe wajah seperti ini kebanyakan dimiliki oleh ras Mongoloid, seperti suku Batak, Minang, Jawa, Bugis, dan Melayu.15, 26

2.1.3.3 Tipe Wajah Leptoprosopic (Dolichofacial)

Tipe wajah leptoprosopic atau wajah tinggi memiliki rentang indeks 88,0-92,9. Karakteristik tipe wajah leptoprosopic adalah bentuk wajah tinggi dan sempit, bentuk dan sudut bidang rahang atas yang sempit, tulang zigomatikus kurang menonjol, serta bentuk wajah seperti segitiga. Tipe wajah ini biasanya dimiliki orang-orang dengan ras Kaukasoid.15,26

Gambar 2. Tipe Wajah: a. Euryprosopic, b. Mesoprosopic, c. Leptoprosopic26