• Tidak ada hasil yang ditemukan

NILAI KONVERSI JARAK VERTIKAL DIMENSI OKLUSI DENGAN LIMA JARAK LANDMARK WAJAH PADA SUKU BATAK TOBA DI MEDAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "NILAI KONVERSI JARAK VERTIKAL DIMENSI OKLUSI DENGAN LIMA JARAK LANDMARK WAJAH PADA SUKU BATAK TOBA DI MEDAN"

Copied!
144
0
0

Teks penuh

(1)

WAJAH PADA SUKU BATAK TOBA DI MEDAN

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi

DEBORA LOVELISA HINSON SIMBOLON NIM. 160600179

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2020

(2)

Tahun 2020

Debora Lovelisa Hinson Simbolon

Nilai Konversi Jarak Vertikal Dimensi Oklusi Dengan Lima Jarak Landmark Wajah Pada Suku Batak Toba di Medan

xvi + 95 halaman

Jarak Vertikal Dimensi Oklusi (VDO) merupakan tinggi sepertiga wajah bawah ketika gigi-geligi maksila dan mandibula dalam oklusi interkuspal maksimum. Jarak VDO dipengaruhi oleh pertumbuhan tulang rahang dan kepala, erupsi dan oklusi gigi geligi, serta posisi TMJ menghasilkan keseimbangan biomekanik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jarak VDO dihubungkan dengan jarak rima oris ke pupil (RO-Pu), jarak outer canthus mata kiri ke inner canthus mata kanan (OC-IC), jarak outer canthus mata kiri ke rima oris (OC-RO), jarak outer canthus mata kiri ke meatus auditori eksternus telinga kiri (E-E), dan panjang telinga kiri (EH) dengan demikian diperoleh kekuatan hubungan, nilai konversi, dan persamaan regresi terhadap VDO pada suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle usia 19-24 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional. Hasil penelitian diperoleh jarak VDO, RO-Pu, OC-IC, OC-RO, E-E, EH usia 19-24 tahun pada laki-laki (72,96±3,75 mm, 74,69±4,03 mm, 73,39±3,28 mm, 75,66±4,02 mm, 80,13±2,96 mm, 59,07±3,24 mm) dan perempuan (65,24±5,12 mm, 68,54±5,40 mm, 68,03±4,48 mm, 68,78±4,76 mm, 75,43±4,76 mm, 58,12±5,04 mm). Kekuatan hubungan laki-laki (0,723; 0,476;

0,689; 0,435; 0,398) dan perempuan (0,650; 0,458; 0,615; 0,437; 0,414). Nilai konversi laki-laki (72,97±2,71 mm, 72,96±2,16 mm, 72,94±2,58 mm, 72,98±1,98 mm, 72,98±1,90 mm) dan perempuan (65,24±3,33 mm, 65,23±2,70 mm, 65,26±3,15

(3)

[19,373+0,669(E-E)], [38,254+0,588(EH)]} dan perempuan {[23,017+0,616(RO- Pu)], [24,210+0,603(OC-IC)], [21,795+0,632(OC-RO)], [22,534+0,566(E-E)], [34,910+0,522(EH)]}. Kesimpulan penelitian ini adalah jarak RO-Pu dan OC-RO memiliki hubungan paling kuat dengan jarak VDO pada suku Batak Toba oklusi Klas I Angle usia 19-24 tahun.

Daftar rujukan: 52 (2003-2019)

(4)

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan tim penguji skripsi

Medan, 27 Desember 2019 Pembimbing Tanda tangan

Rehulina Ginting, drg., M.Si NIP: 19511018 198003 2 001

(5)

Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan tim penguji Pada tanggal 27 Desember 2019

TIM PENGUJI

KETUA : Rehulina Ginting, drg., M.Si ANGGOTA : 1. Minasari, drg., MM

2. Yendriwati, drg., M.Kes., Sp.OF

(6)

v

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa memberikan berkat, anugerah, dan kekuatan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada yang teristimewa orang tua penulis yang tercinta yaitu Papi Nelson Simbolon dan Mami Hinne Seminar Nababan atas segala kasih sayang, doa, bimbingan, semangat, penghiburan, serta dukungan baik moril maupun materil yang selama ini diberikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Penulis juga sangat berterimakasih Rehulina Ginting, drg., M.Si selaku dosen pembimbing dan kepada Minasari, drg., MM dan Yendriwati, drg., M.Kes., Sp.OF selaku penguji yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga, serta pikirannya dengan sabar dalam memberikan bimbingan, saran, dan motivasi untuk penyelesaian skripsi ini. Pada kesempatan ini, penulis dengan segala kerendahan hati dan dengan tulus mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Trelia Boel, drg., M.Kes, Sp.RKG(K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

2. Dr. Ameta Primasari, drg., MDSc., M.Kes., Sp.PMM selaku ketua Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Filia Dana Tyasingsih, drg., M.Kes, dan Atika Resti Fitri, drg., M.Sc selaku staf pengajar Departemen Biologi Oral FKG USU, dan Ibu Ngaisah serta Kak Dani Irma Suryani selaku staf pegawai Departemen Biologi Oral yang telah membantu dalam hal administrasi penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

4. Cut Nurliza, drg., M.Kes., Sp.KG (K) selaku dosen pembimbing akademik yang senantiasa membimbing dan mengarahkan penulis selama menjalani pendidikan akademis.

5. Maya Fitria, S.K.M., M.Kes yang telah memberikan waktu dan bimbingan dalam rancangan penelitian dan pengolahan data.

(7)

vi

penghiburan, serta dukungan yang selama ini diberikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.

7. Kelompok KMK Welfare: Kak Monica E. Manurung, Aprilian Agatha Siregar, Lea K. Sembiring, Adelia N. Tarigan, dan Kak Rikha Sagala atas doa dan dukungan selama pengerjaan skripsi.

8. Sahabat-sahabat penulis: Aditya Yudistira, Dirga Immanuel, Kevin, Rizky A, Reinhart, Claudia Chandra, Pricilia Arieta, Permata S, Gelin Sinulingga, Anindya R, M. Ilham, Adelia Putri, Kimberly Claudya, Tiya W. A. Lubis, Nadya Nabilla, Dienda Yunidra, Aulia D. Z, Nabila Az-Zahra, Dalila R. Siregar, Aisyah P. Harun, David C. P. M. Rajagukguk, Natannayel Malau, Nadine Grace Modily, Kak Febe M.

N. Napitupulu, Kak Grace Cyntia P. Barus, dan seluruh teman-teman FKG USU angkatan 2016 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu, memberikan semangat dan doa kepada penulis.

9. Teman-teman yang melaksanakan penulisan skripsi di Departemen Biologi Oral: Erlin K. Buaya, Juli H. Dalimunthe, Dirnie Alifa R, Sri Ayu Winda M, Kartika N. Sembiring, Riri Ramadani, Miftahul Jannah, Nursafitri Siregar, Winanda Abrigita E. K, dan Riqky M. Sitepu atas dukungan dan bantuannya selama pengerjaan skripsi.

Penulis menerima dengan terbuka berbagai kritik dan saran yang membangun untuk menghasilkan karya yang lebih baik di kemudian hari. Akhir kata, penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat menjadi sumbangan buah pikiran yang berguna bagi fakultas, pengembangan ilmu kedokteran gigi dan masyarakat.

Medan, 27 Desember 2019 Penulis,

(Debora Lovelisa Hinson Simbolon) NIM: 160600179

(8)

vii

Halaman

HALAMAN JUDUL ...

HALAMAN PERSETUJUAN ...

HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI ...

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan Penelitian ... 4

1.3.1 Tujuan Umum ... 4

1.3.2 Tujuan Khusus ... 4

1.4 Hipotesa Penelitian... 5

1.5 Manfaat Penelitian ... 5

1.5.1 Manfaat Teoritis ... 5

1.5.2 Manfaat Praktis ... 5

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1 Wajah ... 6

2.1.1 Pertumbuhan dan Perkembangan Wajah ... 6

2.1.2 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Tulang Wajah ... 8

2.1.2.1 Genetik ... 8

2.1.2.2 Jenis Kelamin ... 8

2.1.2.3 Nutrisi ... 9

2.1.2.4 Hormon ... 9

2.1.2.5 Ras ... 10

(9)

viii

2.1.3.2 Tipe Wajah Mesoprosopic (Mesofacial) ... 12

2.1.3.3 Tipe Wajah Leptoprosopic (Dolichofacial) ... 12

2.2 Tulang Wajah ... 13

2.2.1 Komponen Tulang pada Wajah Atas ... 14

2.2.2 Komponen Tulang pada Wajah Tengah ... 15

2.2.3 Komponen Tulang pada Wajah Bawah... 15

2.2.3.1 Ramus Mandibula ... 16

2.2.3.2 Sudut Gonial Mandibula ... 17

2.2.3.3 Oklusi Gigi Geligi ... 18

2.3 Vertikal Dimensi ... 21

2.3.1 Vertikal Dimensi Oklusi ... 21

2.3.2 Vertikal Dimensi Istirahat ... 22

2.4 Perubahan VDO ... 23

2.4.1 Pengaruh Perubahan VDO terhadap Keseimbangan Orofasial ... 24

2.4.1.1 Efek Peningkatan VDO ... 24

2.4.1.2 Efek Penurunan VDO ... 24

2.4.2 Pengaruh Perubahan VDO terhadap Biomekanik Sendi Temporomandibula ... 26

2.5 Cara Penentuan VDO ... 28

2.5.1 Metode Pra-Ekstraksi ... 29

2.5.1.1 Foto Wajah ... 29

2.5.1.2 Siluet Wajah ... 29

2.5.1.3 Radiografi ... 30

2.5.1.4 Model Artikulasi ... 30

2.5.1.5 Model Swensons ... 30

2.5.2 Metode Post-Ekstraksi ... 31

2.5.2.1 Konsep Sepertiga Wajah ... 31

2.5.2.2 Metode Niswonger ... 31

2.5.2.3 Elektromiografi ... 32

2.5.2.4 Pengukuran Kekuatan Gigitan dengan Alat Bimeter ... 32

2.5.2.5 Metode Willis ... 32

2.5.2.6 Metode Silverman’s Closest Speaking Space ... 33

2.5.2.7 Metode Penelanan ... 33

2.5.2.8 Pengukuran Panjang Jari ... 33

2.5.2.9 Pengukuran Jarak Landmark Wajah ... 34

2.6 Nilai Korelasi dan Nilai Konversi Jarak VDO dengan Jarak Landmark Wajah ... 39

2.7 Suku Batak Toba ... 42

2.8 Landasan Teori ... 43

2.9 Kerangka Teori... 45

2.10 Kerangka Konsep ... 46

(10)

ix

3.2.1 Tempat Penelitian ... 47

3.2.2 Waktu Penelitian ... 47

3.3 Populasi dan Sampel ... 47

3.3.1 Populasi ... 47

3.3.2 Sampel ... 47

3.3.2.1 Besar Sampel ... 48

3.4 Kriteria Pemilihan Sampel ... 49

3.4.1 Kriteria Inklusi ... 49

3.4.2 Kriteria Eksklusi... 49

3.5 Variabel Penelitian ... 50

3.5.1 Variabel Bebas ... 50

3.5.2 Variabel Terikat ... 50

3.5.3 Variabel Terkendali ... 50

3.5.4 Variabel Tidak Terkendali ... 51

3.6 Definisi Operasional... 53

3.7 Alat dan Bahan Penelitian ... 54

3.8 Cara Penelitian ... 54

3.8.1 Pemilihan Subjek ... 54

3.8.2 Pengukuran VDO dan Jarak Landmark Wajah ... 55

3.8.2.1 Pengukuran Jarak VDO ... 55

3.8.2.2 Pengukuran Jarak Landmark Wajah ... 56

3.8.2.2.1 Jarak Rima Oris kiri ke Pupil Mata Kiri (RO-Pu)... 56

3.8.2.2.2 Jarak Outer Canthus Mata Kiri ke Inner Canthus Mata Kanan (OC-IC) ... 57

3.8.2.2.3 Jarak Outer Canthus Mata Kiri ke Rima Oris Kiri (OC-RO) .... 57

3.8.2.2.4 Jarak Outer Canthus Mata Kiri ke Meatus Auditori Eksternus (E-E)58 3.8.2.2.5 Jarak Panjang Telinga Kiri (EH) ... 59

3.9 Analisa Data ... 60

3.10 Contoh Cara Perhitungan ... 60

3.11 Alur Penelitian ... 61

BAB 4 HASIL PENELITIAN ... 62

4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Umum Subjek Penelitian ... 63

4.2 Nilai Rerata Jarak VDO Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Usia 19-24 Tahun di Kota Medan ... 64 4.2.1 Nilai Rerata Jarak VDO Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I

(11)

x

4.3 Nilai Rerata Lima Jarak Landmark Pada Suku Batak Toba Oklusi

Klas I Angle Usia 19-24 Tahun di Kota Medan ... 65 4.3.1 Nilai Rerata Lima Jarak Landmark Pada Suku Batak Toba Oklusi

Klas I Angle Berdasarkan Usia ... 65 4.3.2 Nilai Rerata Lima Jarak Landmark Pada Suku Batak Toba Oklusi

Klas I Angle Berdasarkan Jenis Kelamin... 67 4.4 Kekuatan Hubungan atau Nilai Koefisien Korelasi Pearson (r) Antara

Jarak VDO dengan Lima Jarak Landmark Wajah Pada Suku Batak

Toba Oklusi Klas I Angle Usia 19-24 Tahun di Kota Medan... 67 4.4.1 Kekuatan Hubungan atau Nilai Koefisien Korelasi Pearson (r)

Antara Jarak VDO dengan Lima Jarak Landmark Wajah Pada

Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Berdasarkan Jenis Kelamin 68 4.5 Nilai Konversi Jarak VDO dan Lima Jarak Landmark Wajah Pada

Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Usia 19-24 Tahun di Kota Medan 69 4.5.1 Nilai Konversi Jarak VDO dan RO-Pu Pada Suku Batak Toba

Oklusi Klas I Angle Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin ... 69 4.5.2 Nilai Konversi Jarak VDO dan OC-IC Pada Suku Batak Toba

Oklusi Klas I Angle Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin ... 70 4.5.3 Nilai Konversi Jarak VDO dan OC-RO Pada Suku Batak Toba

Oklusi Klas I Angle Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin ... 71 4.5.4 Nilai Konversi Jarak VDO dan E-E Pada Suku Batak Toba Oklusi

Klas I Angle Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin ... 72 4.5.5 Nilai Konversi Jarak VDO dan EH Pada Suku Batak Toba Oklusi

Klas I Angle Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin ... 73 4.5.6 Perbandingan Nilai Jarak VDO yang Diukur dan Nilai Konversi

Jarak VDO Dengan Lima Jarak Landmark Wajah Pada Suku

Batak Toba Oklusi Klas I Angle Berdasarkan Jenis Kelamin ... 74 4.6 Analisis Regresi Antara Jarak VDO dengan Lima Jarak Landmark

Wajah Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Berdasarkan

Jenis Kelamin ... 75 BAB 5 PEMBAHASAN ... 77 5.1 Karakteristik Umum Subjek yang Diteliti... 78 5.2 Nilai Rerata Jarak VDO Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle

Usia 19-24 Tahun di Kota Medan ... 78 5.2.1 Nilai Rerata Jarak VDO Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I

(12)

xi

5.3 Nilai Rerata Lima Jarak Landmark Pada Suku Batak Toba Oklusi

Klas I Angle Usia 19-24 Tahun di Kota Medan ... 82

5.3.1 Nilai Rerata Lima Jarak Landmark Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Berdasarkan Usia ... 82

5.3.2 Nilai Rerata Lima Jarak Landmark Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Berdasarkan Jenis Kelamin... 83

5.4 Kekuatan Hubungan atau Nilai Koefisien Korelasi Pearson (r) Antara Jarak VDO dengan Lima Jarak Landmark Wajah Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Berdasarkan Jenis Kelamin ... 85

5.5 Nilai Konversi Jarak VDO dan Lima Jarak Landmark Wajah Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin di Kota Medan ... 86

5.6 Perbandingan Nilai Jarak VDO yang Diukur dan Nilai Konversi Jarak VDO Dengan Lima Jarak Landmark Wajah Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Berdasarkan Jenis Kelamin ... 87

5.7 Analisi Regresi Antara Jarak VDO dengan Lima Jarak Landmark Wajah Pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle Berdasarkan Jenis Kelamin ... 88

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN... 90

6.1 Kesimpulan ... 90

6.2 Saran ... 91

DAFTAR PUSTAKA ... 92 LAMPIRAN

(13)

xii

Tabel Halaman

1. Distribusi frekuensi karakteristik umum subjek penelitian ... 63 2. Nilai rerata jarak VDO pada suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle usia

19-24 tahun... 64 3. Nilai rerata jarak VDO pada suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle

berdasarkan jenis kelamin ... 65 4. Nilai rerata lima jarak landmark wajah pada suku Batak Toba Oklusi

Klas I Angle usia 19-24 tahun ... 66 5. Nilai rerata lima jarak landmark wajah pada suku Batak Toba Oklusi

Klas I Angle berdasarkan jenis kelamin... 67 6. Nilai Koefisien Korelasi Pearson (r) antara jarak VDO dan lima

jarak landmark wajah suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle pada usia

19-24 tahun ... 68 7. Nilai Koefisien Korelasi Pearson (r) antara jarak VDO dan lima jarak

landmark wajah suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle berdasarkan

jenis kelamin ... 69 8. Nilai konversi jarak VDO dengan jarak RO-Pu pada suku Batak Toba

Oklusi Klas I Angle kelompok usia 19-24 tahun dan jenis kelamin ... 70 9. Nilai konversi jarak VDO dengan jarak OC-IC pada suku Batak Toba

Oklusi Klas I Angle kelompok usia 19-24 tahun dan jenis kelamin ... 71 10. Nilai konversi jarak VDO dengan jarak OC-RO pada suku Batak Toba

Oklusi Klas I Angle kelompok usia 19-24 tahun dan jenis kelamin ... 72 11. Nilai konversi jarak VDO dengan jarak E-E pada suku Batak Toba

Oklusi Klas I Angle kelompok usia 19-24 tahun dan jenis kelamin ... 73 12. Nilai konversi jarak VDO dengan jarak EH pada suku Batak Toba

Oklusi Klas I Angle kelompok usia 19-24 tahun dan jenis kelamin ... 74

(14)

xiii

jenis kelamin ... 75 14. Analisis regresi antara jarak VDO dengan lima jarak landmark wajah

suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle berdasarkan jenis kelamin ... 76

(15)

xiv

Gambar Halaman

1. Embriologi perkembangan wajah ... 7

2. Tipe wajah : a. Euryprosopic, b. Mesoprosopic, c. Leptoprosopic ... 12

3. Anatomi tulang wajah ... 13

4. Pembagian tinggi wajah secara vertikal ... 14

5. A. Gambaran radiogradi ramus pendek dan B. Gambaran klinis tinggi wajah bawah panjang ... 17

6. A. Gambaran radiografi ramus panjang dan B. Gambaran klinis tinggi wajah bawah pendek ... 17

7. Perbedaan tinggi wajah bagian bawah dipengaruhi besar sudut gonial .... 18

8. A. Posisi TMJ pada oklusi Klas I Angle dan B. Posisi TMJ pada oklusi klas III Angle... 19

9. Oklusi Klas I Angle ... 20

10. Oklusi Klas II Angle ... 20

11. Oklusi Klas III Angle ... 21

12. Pengukuran jarak VDO ... 22

13. Perbedaan VDO dan VDI... 22

14. Vertikal Dimensi Normal (A), Bertambah (B), Berkurang (C) ... 23

15. Perpanjangan garis kurva spee melewati jalur kondilus ... 24

16. Pandangan lateral sendi temporomandibula... 27

17. Metode siluet wajah ... 29

18. Metode Niswonger ... 31

19. Metode Willis ... 32

20. Metode Silverman’s closest speaking space ... 33

21. Titik landmark wajah ... 34

22. Lima belas jarak landmark wajah untuk penentuan jarak VDO ... 38

(16)

xv

25. Pengukuran jarak RO-Pu... 56

26. Pengukuran jarak OC-IC ... 57

27. Pengukuran jarak OC-RO ... 58

28. Pengukuran jarak E-E ... 59

29. Pengukuran jarak EH ... 59

(17)

xvi Lampiran

1. Skema Alur Pikir 2. Ethical Clearance 3. Prosedur Penelitian 4. Kuesioner Penelitian

5. Lembar Penjelasan Kepada Subjek Penelitian

6. Surat Pernyataan Persetujuan Subjek Penelitian Setelah Penjelasan (Informed Consent)

7. Data Penelitian 8. Uji Statistik

(18)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

The Glossary of Prosthodontic Terms (2017) mendefinisikan dimensi vertikal merupakan jarak vertikal yang diukur antara dua titik anatomis (biasanya satu titik di ujung hidung dan titik lainnya di dagu), satu pada jaringan lunak yang tidak bergerak (maksila) dan satu lagi pada jaringan lunak yang bergerak (mandibula).1 Titik anatomis yang digunakan, yaitu titik Nasal dan titik Gnation. Pada umumnya, terdapat dua jenis dimensi vertikal, yaitu Vertikal Dimensi Oklusi (VDO) dan Vertikal Dimensi Istirahat (VDI). VDO adalah tinggi sepertiga wajah bawah pada saat mulut dikatupkan dan gigi geligi pada maksila dan mandibula berada dalam oklusi interkuspal maksimum, sedangkan VDI adalah jarak vertikal wajah bagian bawah pada saat gigi geligi tidak berkontak atau ketika mandibula dalam posisi isirahat fisiologis.2,3,4

Jarak VDO dipengaruhi oleh pertumbuhan tulang rahang dan kepala, erupsi dan oklusi gigi geligi, serta posisi TMJ memberikan keseimbangan biomekanik orofasial dan TMJ yang baik terhadap fungsi mastikasi, fonetik, dan estetik. Namun, pada kondisi atrisi gigi geligi, edentulus penuh, bahkan kecelakaan yang mengenai daerah sepertiga wajah bawah akan terjadi kehilangan jarak VDO normal sehingga perlu dilakukan penentuan jarak VDO yang tepat dalam rekontruksi sepertiga wajah bagian bawah, tetapi dalam penentuan jarak VDO seringkali menemukan kesulitan akibatnya dapat terjadi kesalahan menjadi lebih tinggi atau lebih rendah.2,3,5

Jarak VDO yang lebih tinggi dapat menimbulkan gangguan pada orofasial dan TMJ. Gangguan orofasial yang terjadi akibat jarak VDO lebih tinggi adalah mulut terasa penuh sehingga sulit untuk menutup mulut, kesulitan menelan dan berbicara, otot-otot di sekitar mulut menjadi tegang bahkan terjadi kelelahan otot sehingga pasien merasa tidak nyaman dan akan mengubah penampilan wajah pasien

(19)

menjadi lebih panjang atau dolichofacial serta dapat mengubah posisi kondilus mandibula menjadi lebih ke anterior pada fossa glenoidalis mengakibatkan gangguan TMJ.Sedangkan, jarak VDO yang lebih rendah dapat menyebabkan kekuatan gigitan berkurang sehingga menurunkan efisiensi pengunyahan makanan, cheek biting, tonus otot wajah melemah, sudut mulut turun hingga terjadi angular cheiliti, mengubah penampilan wajah pasien menjadi lebih pendek atau brachyfacial, terjadi gangguan TMJ, bahkan obstruksi tuba eustachius karena elevasi palatum lunak dan lidah.2,6,7,8

Penentuan jarak VDO yang tidak tepat akan mempengaruhi kualitas hidup seseorang sehingga memerlukan penentuan jarak VDO yang tepat.5 Terdapat beberapa metode yang digunakan untuk menentukan VDO yang terdiri dari metode pra-ekstraksi dan metode post-ekstraksi. Metode pra-ekstraksi yang digunakan untuk menentukan jarak VDO, yaitu foto wajah, siluet wajah, radiografi sefalometri, model artikulasi, dan metode Swensons. Metode post-ektraksi yang dapat digunakan, yaitu metode Niswonger, elektromiografi, bimeter, Willis, closest speaking space, penelanan, dan panjang jari. Dalam penelitian ini dilakukan dengan metode jarak landmark wajah karena wajah relatif tidak berubah sepanjang hidup, tidak invasif, sederhana, berisiko rendah, tidak memerlukan alat khusus, murah, serta tidak terpapar radiasi sehingga dapat direkomendasikan untuk praktik sehari-hari sebagai pedoman dalam rekontruksi tinggi sepertiga wajah bagian bawah.2,3,5-9

Beberapa penelitian menyatakan terdapat 14 jarak landmark wajah yang dapat dihubungkan dengan VDO.3 Namun, ada beberapa penelitan yang menyatakan cukup menggunakan 5 jarak landmark wajah yang paling sering dikorelasikan dengan jarak VDO, yaitu jarak rima oris ke pupil mata (RO-Pu), jarak outer canthus mata ke rima oris (OC-RO), jarak outer canthus mata satu ke inner canthus mata lainnya (OC-IC), jarak outer canthus mata ke meatus auditori eksternus (E-E), dan panjang telinga (EH). Berdasarkan penelitian Basnet, dkk (2014) mengenai hubungan pengukuran wajah dan jarak VDO pada laki-laki dan perempuan usia 19- 46 tahun pada ras Aryan dan Mongoloid di Nepal menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan dan positif pada semua parameter yang diukur, yaitu jarak VDO dengan jarak RO-Pu (r = 0,557), jarak OC-IC (r = 0,499), jarak E-E (r = 0,395), dan

(20)

jarak EH (r = 0,378).2 Pada penelitian Alhajj, dkk (2016) mengenai hubungan antara jarak VDO dengan jarak OC-RO (r = 0,296) pada mahasiswa di Yaman juga menunjukkan ada hubungan yang signifikan dan positif diantara keduanya.5 Penelitian Akhma, dkk (2017) pada populasi Sunda menyatakan bahwa jarak RO-Pu memiliki korelasi yang kuat pada laki-laki (r = 0,697) maupun perempuan (r = 0,688).10

Terdapat penelitian mengenai persamaan regresi jarak VDO melalui jarak landmark wajah. Berdasarkan penelitian Majeed, dkk (2018) pada subpopulasi Arab Saudi, jarak VDO dapat diperoleh dari hasil konversi jarak landmark wajah. Majeed meneliti mengenai hubungan jarak VDO dengan 14 dimensi jarak wajah pada laki- laki dan perempuan usia 20-40 tahun ada hubungan yang signifikan dan positif pada 5 dari 14 jarak landmark wajah, yaitu jarak RO-Pu, OC-IC, OC-RO, E-E, dan EH.

Persamaan regresi yang didapatkan untuk subpopulasi Arab Saudi laki-laki VDO = [27.07 + 0.655 (RO-Pu)], VDO = [20.323 + 0.675 (OC-RO)], VDO = [42.12 + 0.402 (OC-IC)], VDO = [45.31 + 0.354 (E-E)] dan perempuan VDO = [34.91 + 0.347 (RO-Pu], VDO = [24.22 + 0.471 (OC-RO)], VDO = [45.63 + 0.207 (OC-IC)], VDO = [39.54 + 0.263 (E-E)], VDO = [42.72 + 0.238 (EH)].3

Berdasarkan uraian diatas bahwa terdapat hubungan yang signifikan dan positif antara jarak VDO terhadap 5 jarak landmark wajah serta terdapat penelitian yang telah dilakukan mengenai pengukuran jarak VDO dengan mengkonversikan jarak VDO terhadap lima jarak landmark wajah. Pertumbuhan tulang wajah manusia pada umumnya akan berhenti pada usia 18 tahun, sedangkan pada usia 25 tahun diduga mulai terjadi atrisi akibat pemakaian pada gigi geliginya sehingga pengukuran VDO dilakukan pada usia 19-24 tahun. Penelitian tentang konversi jarak VDO dengan jarak landmark wajah belum pernah dilakukan di Medan, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang nilai konversi VDO dengan jarak lima landmark wajah pada Suku Batak Toba usia 19-24 tahun dengan Oklusi Klas I Angle.

(21)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka timbul permasalahan sebagai berikut : 1. Apakah ada perbedaan nilai rerata jarak VDO dan lima jarak landmark wajah (RO-Pu, OC-RO, OC-IC, E-E, dan EH) pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle usia 19-24 tahun berdasarkan usia dan jenis kelamin?

2. Berapakah nilai kekuatan hubungan (Koefisien Korelasi Pearson = r) antara jarak VDO dengan lima jarak landmark wajah (RO-Pu, OC-RO, OC-IC, E-E, dan EH) pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle usia 19-24 tahun berdasarkan jenis kelamin?

3. Apakah ada perbedaan nilai konversi jarak VDO dengan lima jarak landmark wajah (RO-Pu, OC-RO, OC-IC, E-E, dan EH) pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle usia 19-24 tahun berdasarkan usia dan jenis kelamin?

4. Bagaimanakah persamaan regresi jarak VDO dengan lima jarak landmark wajah (RO-Pu, OC-RO, OC-IC, E-E, dan EH) pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle usia 19-24 tahun berdasarkan jenis kelamin?

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan/korelasi yang paling kuat antara jarak VDO dengan lima jarak landmark wajah (RO-Pu, OC-RO, OC-IC, E-E, dan EH) pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle usia 19-24 tahun.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mendapatkan perbedaan nilai rerata jarak VDO dan lima jarak landmark wajah (RO-Pu, OC-RO, OC-IC, E-E, dan EH) pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle usia 19-24 tahun berdasarkan usia dan jenis kelamin.

2. Mendapatkan nilai kekuatan hubungan atau Koefisien Korelasi Pearson (r) antara VDO dengan lima jarak landmark wajah (RO-Pu, OC-RO, OC-IC, E-E, dan EH) pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle usia 19-24 tahun berdasarkan jenis kelamin.

(22)

3. Mendapatkan perbedaan nilai konversi jarak VDO dengan lima jarak landmark wajah (RO-Pu, OC-RO, OC-IC, E-E, dan EH) pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle usia 19-24 tahun berdasarkan usia dan jenis kelamin.

4. Mendapatkan persamaan regresi jarak VDO dengan lima jarak landmark wajah (RO-Pu, OC-RO, OC-IC, E-E, dan EH) pada Suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle usia 19-24 tahun berdasarkan jenis kelamin.

1.4 Hipotesa Penelitian

H0 = Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada jarak VDO dan jarak landmark wajah (RO-Pu, OC-RO, OC-IC, E-E, dan EH) pada suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle usia 19-24 tahun berdasarkan usia dan jenis kelamin (p-value >

0,05).

H0 = Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jarak VDO terhadap jarak landmark wajah (RO-Pu, OC-RO, OC-IC, E-E, dan EH) pada suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle usia 19-24 tahun berdasarkan jenis kelamin (p-value > 0,05).

1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Teoritis

Untuk perkembangan ilmu pengetahuan di bidang kedokteran gigi khususnya bidang Biologi Oral yang dihubungkan dengan bidang Orthodonsia, Prostodonsia, Pedodonsia, dan Konservasi untuk mengetahui jarak landmark wajah (RO-Pu, OC- RO, OC-IC, E-E, dan EH) mana yang paling kuat hubungannya dengan jarak VDO pada suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle usia 19-24 tahun.

1.5.2 Manfaat Praktis

Untuk membantu praktisi dalam penentuan jarak VDO yang tepat saat rekonstruksi wajah dengan menggunakan nilai konversi jarak landmark wajah pada suku Batak Toba Oklusi Klas I Angle usia 19-24 tahun.

(23)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Wajah

Kepala merupakan bagian superior tubuh yang terdiri dari otak beserta lapisan pelindungnya berupa kranium, telinga, dan wajah. Wajah manusia merupakan bagian anterior kepala mulai dari dahi sampai dagu dan dari satu telinga ke telinga lain, termasuk alis, pelipis, mata, hidung, pipi, maksila, mandibula, dan gigi geligi.11

2.1.1 Pertumbuhan dan Perkembangan Wajah

Wajah berasal dari 5 tonjolan pada lengkung brankial yang mengelilingi stomodeum yang terdiri dari tonjolan frontonasalis, sepasang tonjolan maksila, dan sepasang tonjolan mandibula. Perkembangan wajah manusia terjadi dimulai dari minggu ke-4 intrauterine (IU) atau prenatal, yaitu stomodeum yang terbentuk di antara lengkung faring pertama. Sekitar minggu ke-5 IU saat perkembangan janin, wajah mulai terbentuk dimulai dengan nasal placodes yang akan menjadi pit nasal.

Pada minggu ke-6 dan ke-7 IU mulai terjadi perkembangan prosesus nasalis medial dan prosesus maksilaris yang akan menyatu membentuk bibir atas. Pada minggu ke-8 dan ke-9 IU mulai terjadi perkembangan palatum dari prosesus palatinus lateral.

Kemudian pada minggu ke-10 IU terjadi pembentukan mandibula dan sudah banyak tulang telah terbentuk yang selanjutnya terjadi pertumbuhan kartilago kondilus, kartilago koronoid, dan kartilago simfisis (Gambar 1). Perkembangan wajah selama di dalam kandungan bersama dengan bagian tubuh lainnya akan terus berlanjut bahkan setelah lahir sampai mencapai usia pertumbuhan yang maksimal.12

(24)

Pertumbuhan wajah memiliki pola seperti pola pertumbuhan badan. Proses pertumbuhan wajah mulai dari anak-anak sampai dewasa akan mengalami perubahan proporsi. Pada saat lahir, ukuran kepala manusia seperempat dari tinggi total tubuh, namun semakin dewasa ukuran kepala menjadi seperdelapan dari tinggi total tubuh.

Pada anak-anak usia muda dikarakteristikkan dengan wajah yang terlihat lebar karena basis kranium yang lebar dan tinggi vertikal wajah yang pendek. Laju pertumbuhan wajah berlangsung cepat pada awal masa kelahiran dan akan melambat sampai usia pra-pubertas (perempuan 6-7 tahun, laki-laki 7-9 tahun). Laju pertumbuhan wajah akan meningkat kembali pada masa pubertas (perempuan usia 11-13 tahun, laki-laki usia 14-16 tahun) hingga mencapai puncak pada usia pradewasa dan menjadi lambat sampai mencapai dewasa. Pertumbuhan secara fisik akan berhenti pada usia 18 tahun pada laki-laki, sedangkan pada anak perempuan pertumbuhan berhenti 2 tahun lebih cepat.13

Gambar 1. Embriologi perkembangan wajah12

5 minggu

8 minggu

6 minggu

10 minggu

(25)

2.1.2 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Tulang Wajah

Wajah setiap individu terhadap individu lainnya memiliki tipe yang sangat bervariasi, hal ini disebabkan oleh struktur kranial terhadap pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan wajah pada setiap individu berbeda yang akan membuat ukuran dari wajah tiap individu juga berbeda. Pertumbuhan wajah seseorang memiliki hubungan terhadap jarak VDO yang merupakan tinggi sepertiga wajah bawah. Oleh karena itu, pertumbuhan wajah yang normal dapat dijadikan alat bantu dalam proses penentuan jarak VDO, sedangkan jika terjadi gangguan pada pertumbuhan wajah maka tidak dapat membantu penentuan jarak VDO. Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan wajah yaitu genetik, jenis kelamin, nutrisi, hormon, dan ras.14,15,16

2.1.2.1 Genetik

Genetik memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap ukuran sehingga laju pertumbuhan dan onset pertumbuhan pada seseorang akan berbeda. Konstitusi genetik seorang individu disebut sebagai genom, yang diwarisi bukan dari satu, tetapi dari kedua orang tuanya. Konversi informasi genetik yang dikodekan dalam genom seseorang menjadi protein atau molekul pengatur, seperti asam mikroribonukleat yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan seseorang.15,16,17

2.1.2.2 Jenis Kelamin

Pada laki-laki pertumbuhan tulang kranium lebih besar dibandingkan perempuan yang akan mempengaruhi ukuran wajah. Pada laki-laki pertumbuhan dan perkembangan tulang dipengaruhi oleh hormon androgen yang membuat ukuran tulang menjadi lebih besar daripada tulang perempuan dan membuat ukuran wajah lebih besar pada laki-laki dan perempuan. Menurut Riveiro PF bahwa tinggi wajah pria lebih besar dari pada wanita.16,18,19

(26)

2.1.2.3 Nutrisi

Nutrisi merupakan salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh pada tumbuh kembang tulang yang normal. Nutrisi yang kurang memadai mengakibatkan tumbuh kembang menjadi tidak maksimal. Komponen nutrisi yang memadai sangat diperlukan saat pembentukan kolagen dan deposisi mineral untuk mencegah kecacatan struktural.20 Salah satu nutrisi yang penting bagi pertumbuhan tulang adalah protein. Sintesis protein yang normal diperlukan untuk perkembangan jaringan lunak dan jaringan keras termasuk tulang. Kekurangan protein akan menyebabkan perubahan pada timbunan asam amino yang akan menghambat reaksi sintesis protein dalam pembentukan matriks organik tulang. Selain itu, mineral seperti vitamin D, kalsium dan fosfor juga diperlukan dalam pengendapan matriks tulang pada saat proses mineralisasi tulang dalam proses pertumbuhan dan pembentukan masa tulang.21 Matriks organik pada tulang terdiri dari 90-95 % serat kolagen yang disekresikan oleh osteoblas. Pembentukan kolagen juga dipengaruhi protein, vitamin C, serta mineral, seperti zat besi, tembaga, dan seng.16,18,22,23

Kekurangan asam folat pada masa kehamilan dapat menyebabkan adanya kecacatan pada daerah wajah. Nutrisi yang adekuat menyebabkan bentuk kepala yang bulat, sedangkan jika nutrisi tidak adekuat menyebabkan kepala menjadi lonjong serta periode pertumbuhan menjadi lama yang menyebabkan terjadinya disproporsi hubungan bentuk kepala dan wajah.18,22

2.1.2.4 Hormon

Tubuh manusia menghasilkan hormon untuk sistem regulasinya.

Pertumbuhan post-natal paling dipengaruhi oleh konsentrasi hormon pertumbuhan (somatotropin) berupa molekul protein kecil yang mengandung 1988 asam amino.

Hormon somatrotopin berpengaruh terhadap peningkatan perpanjangan tulang dengan menstimulasi maturasi dan pembelahan sel kondrosit dalam epifiseal, dengan demikian terdapat pelebaran epifiseal yang menghasilkan lebih banyak zat tulang rawan untuk pembentukan tulang.21 Selain itu, hormon somatotropin juga mempengaruhi penambahan protein tubuh, menghambat karbohidrat, dan

(27)

menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi. Hormon somatotropin akan mempengaruhi proses metabolisme tubuh, yaitu meningkatkan kecepatan sintesis protein dalam sel tubuh, menurunkan kecepatan penggunaan karbohidrat serta meningkatkan metabolisme lemak untuk dijadikan energi. Hormon somatotropin akan membentuk zat somatromedin pada hati dan ginjal yang akan berpengaruh dalam peningkatan pertumbuhan tulang, yaitu untuk pengendapan kondritotin sulfat dan kolagen.13,22,24 Salah satu hormon yang mensintesis hormon somatroopin adalah hormon tiroid. Kekurangan hormon tiroid pada saat bayi dan anak-anak akan menyebabkan hipotiroidisme yang mengalami keterlambatan pertumbuhan tulang dan berakibat pada kekerdilan, sedangkan sekresi yang terus-menerus akan menyebakan hipertiroidisme dan berakibat menjadi gigantisme. Produksi hormon yang sedikit selama masa pertumbuhan menyebabkan pemendekan dari basis kranium dan keterlambatan pembentukan wajah bagian tengah.13,15,22

2.1.2.5 Ras

Perbedaan pertumbuhan pada manusia juga dipengaruhi oleh ras, tetapi juga perbedaan ras ini berhubungan dengan faktor genetik, nutrisi, serta lingkungan.

Standar ukuran wajah yang sekarang ini dipakai adalah dari ras Kaukasoid karena memiliki ukuran wajah rata-rata atau sedang (Mesoprosopic). Pada orang-orang dengan ras Negroid rata-rata memiliki ukuran wajah yang lebih panjang (Leptoprosopic), sedangkan di Indonesia yang merupakan ras Mongoloid memiliki ukuran wajah yang lebih lebar (Euryprosopic).16,18

2.1.2.6 Pola Makanan

Fungsi mastikasi memiliki kontribusi penting pada pertumbuhan dan perkembangan tulang rahang serta kompleks kraniofasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berkurangnya fungsi mastikasi dapat mempengaruhi ukuran dan massa tulang. Dewasa ini, manusia cenderung menyantap makanan-makanan lunak sehingga kurang merangsang pertumbuhan tulang. Tekstur makanan yang lebih lunak akan mengakibatkan berkurangnya daya oklusal setiap satu kali gerakan

(28)

kunyah serta berkurangnya jumlah chewing cycle per unit. Pada proses mastikasi makanan dengan tekstur yang lebih kasar akan meningkatkan chewing cycle yang dapat menstimulasi osteoblas untuk merangsang pertumbuhan pada sendi-sendi di ujung rahang yang merupakan titik pertumbuhan dan perkembangan rahang. Pada penelitian Lieberman, dkk menyatakan bahwa makanan yang terlalu lunak akan mengurangi fungsi mastikasi dan dapat mengakibatkan berkurangnya pertumbuhan fasial terutama pada bagian sepertiga wajah bawah.25

2.1.3 Tipe Wajah

Penampilan wajah yang harmonis dapat diperoleh jika proporsi wajah seseorang seimbang baik tinggi wajah maupun lebar wajah. Tidak ada satu pun komponen wajah yang dapat berdiri sendiri ataupun tidak berintegrasi dengan komponen lainnya, karena setiap perubahan yang terjadi pada salah satu bagian/komponen wajah akan mempengaruhi atau memberikan efek yang nyata pada bagian wajah lainnya secara keseluruhan dan akan mempengaruhi penampilan wajah.

Jarak tinggi dan lebar wajah juga akan mempengaruhi tipe wajah.3,14

Tipe wajah dapat diidentifikasi dengan melakukan pengukuran indeks morfologi wajah. Martin dan Saller (1957) mengklasifikasikan tipe indeks morfologi wajah dengan melakukan perhitungan hasil pengukuran pada tinggi wajah total (Nasion-Menton) dibagi dengan lebar wajah (Zigomatikus-Zigomatikus). Klasifikasi indeks morfologi wajah terdiri atas hypereuryprosopic dengan indeks X-78,9;

euryprosopic dengan indeks 79.0-83,9; mesoprosopic dengan indeks 84,0-87,9;

leptoprosopic dengan indeks 88,0-92,9; dan hyperleptoprosopic dengan indeks 93,0- x. Namun, secara umum tipe wajah rata-rata yang dimiliki manusia adalah euryprosopic, mesoprosopic dan leptoprosopic. Namun, belum ada penelitian yang menyatakan bahwa tipe wajah seseorang memiliki hubungan terhadap jarak VDO.15,26

(29)

2.1.3.1 Tipe Wajah Euryprosopic (Brachyfacial)

Tipe wajah euryprosopic atau wajah pendek memiliki rentang indeks 79,0- 83,9. Karakteristik tipe wajah euryprosopic adalah tulang pipi lebar, datar dan kurang protrusif sehingga membuat bentuk tulang pipi terlihat jelas berbentuk persegi. Karakter wajah seperti ini membuat tulang zigomatikus lebih menonjol dibandingkan tipe wajah leptoprosopic. Tipe wajah euryprosopic memiliki lengkung maksila dan palatum yang lebar dan dangkal. Tipe wajah seperti ini biasanya terdapat pada ras Aborigin dan Negroid.15,26

2.1.3.2 Tipe Wajah Mesoprosopic (Mesofacial)

Tipe wajah mesoprosopic atau disebut juga tipe wajah rata-rata memiliki rentang indeks 84,0-87,9. Karakteristik tipe wajah mesoprosopic adalah kepala lonjong dan bentuk wajah terlihat oval dengan tulang zigomatikus tidak terlalu menonjol, serta bentuk hidung, dahi, dan lengkung rahang tidak selebar tipe wajah euryprosopic dan tidak sesempit tipe wajah leptoprosopic. Tipe wajah seperti ini kebanyakan dimiliki oleh ras Mongoloid, seperti suku Batak, Minang, Jawa, Bugis, dan Melayu.15, 26

2.1.3.3 Tipe Wajah Leptoprosopic (Dolichofacial)

Tipe wajah leptoprosopic atau wajah tinggi memiliki rentang indeks 88,0- 92,9. Karakteristik tipe wajah leptoprosopic adalah bentuk wajah tinggi dan sempit, bentuk dan sudut bidang rahang atas yang sempit, tulang zigomatikus kurang menonjol, serta bentuk wajah seperti segitiga. Tipe wajah ini biasanya dimiliki orang-orang dengan ras Kaukasoid.15,26

Gambar 2. Tipe Wajah: a. Euryprosopic, b. Mesoprosopic, c. Leptoprosopic26

(30)

2.2 Tulang Wajah

Bentuk dasar wajah manusia ditentukan oleh tulang-tulang yang berada di bawahnya.11 Komponen tulang kepala manusia terdiri dari os neurocranium dan os viscerocranium. Os neurocranium merupakan bagian tulang kepala yang berfungsi untuk melindungi otak, sedangkan os viscerocranium merupakan tulang yang membentuk wajah manusia. Os neurocranium terdiri dari 8 tulang, yaitu 4 tulang tunggal berpusat pada garis tengah (tulang frontal, spenoid, etmoid, oksipital) dan 2 tulang berpasangan bilateral (tulang parietal dan temporal). Os viscerocranium terdiri dari 14 tulang, yaitu 6 tulang berpasangan (tulang zigomatikus, lakrimalis, nasal, nasal konka inferior, maksila, palatinus) dan 2 tulang tunggal (tulang vomer dan mandibula). Tulang-tulang pada daerah kepala dan wajah manusia tumbuh bersamaan secara proporsional.11,27,28

Tulang palatinus Tulang lakrimalis

Tulang zigomatikus

Tulang nasal Maksila

Mandibula

Etmoid Vomer Nasal konka

inferior

Tulang Frontal

Gambar 3. Anatomi Tulang Wajah27

(31)

Berdasarkan tinggi wajah manusia dapat dibagi menjadi tiga proporsi yang sama besar. Leonardo da Vinci dan Durer pada zaman Renaisance, mengemukakan bahwa proporsi tinggi wajah adalah sama dibagi menjadi tiga bagian, yaitu jarak dari garis rambut (trichion) ke pangkal hidung (glabella), pangkal hidung ke dasar hidung (Septum Nasalis), dan dari dasar hidung ke dagu (Menton) harus sama dengan ratio proporsi tiggi wajah yang ideal 1/3:1/3:1/3. Sepertiga wajah bawah juga dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sepertiga atas dari Septum Nasalis ke stomion, sepertiga tengah dari stomion ke lipatan labiomental, dan sepertiga bawah dari lipatan labiomental ke menton. Tinggi sepertiga wajah bagian bawah menggambarkan jarak vertikal dimensi.16,18,29

2.2.1 Komponen Tulang pada Wajah Atas

Pada area sepertiga wajah bagian atas merupakan area dahi mulai dari trichion hingga ke glabella. Pada area sepertiga wajah atas strukturnya didukung oleh tulang frontal yang membentuk tulang dahi, alis mata, dan glabella (Gambar 1).

Tulang frontal akan berartikulasi di inferior dengan tulang nasal dan zigomatikus yang akan mendukung struktur sepertiga wajah tengah.11,27

Gambar 4. Pembagian tinggi wajah secara vertikal29

Trichion Glabella Septum Nasalis Menton

(32)

2.2.2 Komponen Tulang pada Wajah Tengah

Pada area sepertiga wajah bagian tengah dimulai dari glabella hingga sub nasal. Pada area sepertiga wajah tengah merupakan area mata, pipi, dan hidung yang strukturnya didukung oleh tulang frontal, spenoid, etmoid, lakrimalis, zigomatikus, nasal, nasal konka inferior, vomer, dan maksila. Pada tulang wajah bagian tengah terdapat kedua orbita mata yang memiliki lima permukaan dinding yang membatasinya, yaitu dinding superior, dinding posterior, dinding lateral, dinding medial, dan dinding inferior. Dinding superior orbita mata dibentuk oleh tulang frontal, dinding posterior dibentuk oleh tulang spenoid, serta dinding inferior orbita mata dibentuk oleh tulang maksila. Dinding medial orbita mata dibentuk oleh tulang lakrimal, sphenoid, dan maksila merupakan area inner canthus mata. Dinding lateral orbita mata dibentuk oleh tulang zigomatikus yang merupakan area outer canthus mata (Gambar 1).11,27,28

Pada area sepertiga wajah tengah terdapat hidung manusia yang terdiri dari tulang nasal pada bagian atas serta tulang vomer dan nasal konka inferior pada bagian bawah. Tulang nasal akan membentuk batang hidung, sedangkan tulang vomer pada hidung bersama dengan tulang etmoid dan maksila akan membentuk septum nasalis yang merupakan area sub nasal.30 Pada aspek lateral wajah terdapat tulang temporal yang merupakan komponen utama basis tulang kranial yang memiliki lima permukaan, yaitu pars skuamosa, pars zigomatikus, pars mastoid, pars timpanika, dan pars petrosa. Pada pars timpanika terdapat meatus auditori externus pada telinga, sedangkan pars skuamosa pada tulang temporal berhubungan dengan fossa mandibularis pada TMJ.27,30

2.2.3 Komponen Tulang pada Wajah Bawah

Pada sepertiga wajah bagian bawah yang merupakan jarak vertikal dimensi terdiri dari tulang maksila, tulang mandibula, serta gigi geligi pada maksila dan mandibula (pada gambar berapa). Tulang maksila merupakan tulang penyusun wajah yang paling besar setelah mandibula. Tulang maksila memiliki empat prosesus, yaitu prosesus nasofrontalis, prosesus zigomatikus, prosesus palatinus maksilaris, serta

(33)

prosesus alveolaris. Prosesus alveolaris pada maksila merupakan tempat perlekatan gigi geligi rahang atas.27,28 Tulang mandibula merupakan tulang terbesar dan terkuat pada wajah yang dilekatkan oleh ligamen dan otot pada tulang temporal sehingga mandibula merupakan satu-satunya tulang wajah yang dapat bergerak dan memiliki fungsi vital dalam pengunyahan, berbicara, serta ekspresi wajah.21,28 Mandibula terdiri dari sebuah korpus yang berbentuk tapal kuda dan sepasang ramus. Korpus mandibula bertemu dengan ramus masing-masing sisi pada angulus mandibula. Pada bagian atas korpus mandibula terdapat prosesus alveolaris sebagai tempat melekatnya gigi geligi rahang bawah (Gambar 1).27,30

2.2.3.1 Ramus Mandibula

Selama pertumbuhan dan perkembangan ramus mandibula, gigi geligi akan bererupsi untuk mempertahankan oklusi. Perbedaan panjang ramus mandibula akan memiliki dampak signifikan terhadap tinggi wajah bawah atau vertikal dimensi.

Perbedaan panjang ramus mandibula terutama dipengaruhi oleh variasi genetik.

Seseorang yang memiliki ramus mandibula pendek dengan erupsi gigi posterior normal akan mengalami peningkatan tinggi wajah anterior dan terjadi open bite anterior. Pada umumnya, orang dengan ramus mandibula pendek menunjukkan tinggi sepertiga wajah bagian bawah lebih panjang jika dibandingkan dengan tinggi sepertiga wajah bagian tengah (Gambar 5). Pada orang yang memiliki ramus mandibula panjang dengan erupsi gigi posterior normal akan memiliki tampilan wajah yang berkebalikan dengan orang yang ramus pendek. Pada umumnya, orang dengan ramus panjang menunjukkan tinggi sepertiga wajah bagian bawah sangat pendek dibandingkan dengan wajah bagian tengah (Gambar 6).31

(34)

2.2.3.2 Sudut Gonial Mandibula

Seseorang yang memiliki sudut gonial yang datar cenderung akan memiliki bentuk wajah seperti orang dengan ramus panjang, yaitu wajah berbentuk persegi dan wajah bagian bawah lebih pendek dibandingkan dengan wajah bagian tengah, sedangkan orang yang memiliki sudut gonial lebih curam akan memiliki bentuk wajah seperti orang dengan ramus pendek, yaitu wajah bagian bawah lebih panjang dibandingkan dengan wajah bagian tengah (Gambar 7). Beberapa penelitan menyatakan bahwa sudut gonial dapat dipengaruhi oleh kekuatan otot masseter.

Gambar 6. A. Gambaran radiografi ramus panjang dan B. Gambaran klinis tinggi wajah bawah pendek31

Gambar 5. A. Gambaran radiografi ramus pendek dan B. Gambaran klinis tinggi wajah bawah panjang 31

A. B.

A. B.

(35)

Semakin kuat dan semakin berkembang otot masseter, maka sudut gonialnya akan semakin curam.31

2.2.3.3 Oklusi Gigi Geligi

Oklusi merupakan hubungan statis antara gigi atas dan gigi bawah selama posisi interkuspasi dimana ada pertemuan tonjol gigi atas dan bawah yang terjadi secara maksimal. Terdapat dua jenis oklusi, yaitu oklusi ideal dan oklusi normal.

Oklusi ideal adalah keadaan beroklusinya seluruh gigi dengan dua gigi di lengkung antagonisnya dan didasarkan pada bentuk gigi yang tidak mengalami keausan.

Oklusi normal adalah suatu hubungan yang harmonis antara gigi geligi pada rahang yang sama dan rahang yang berlawanan dimana gigi geligi dalam kontak yang sebesar-besarnya (maksimal) dan kondilus berada dalam fosa glenoidalis. Namun, gigi geligi pasti akan mengalami keausan akibat dari pemakaian, maka oklusi ideal sangat jarang dijumpai pada individu yang kondisi gigi geligi belum pernah diperbaiki, biasanya dijumpai pada gigi tiruan lengkap. Pada oklusi normal masih memungkinkan adanya beberapa variasi yang secara fungsi maupun estetik masih dapat diterima.15,16

Pada tahun 1899, Edward Angle memperkenalkan tentang klasifikasi oklusi menurut Angle dan sampai saat ini digunakan dalam penilaian oklusi, yaitu oklusi Klas I Angle, Klas II Angle, dan Klas III Angle. Molar pertama rahang atas digunakan sebagai kunci oklusi.15,16 Hubungan molar juga dapat mempengaruhi tinggi wajah bawah. Pada oklusi Klas I Angle, posisi kondilus mandibula berada

Gambar 7. Perbedaan tinggi wajah bagian bawah dipengaruhi besar sudut gonial31

Sudut gonial normal Sudut gonial rata Sudut gonial curam

(36)

pada posisi yang ideal, yaitu di sentral fossa glenoidalis (Gambar 8), sedangkan pada oklusi Klas II Angle dan Klas III Angle posisi kondilus mandibula pada fossa glenoidalis tidak berada pada posisi yang ideal. Penelitian Qamar, dkk menunjukkan bahwa pada orang dengan oklusi Klas II Angle memiliki tinggi wajah yang lebih pendek dibandingkan orang dengan oklusi Klas I Angle. Pada orang dengan oklusi Klas II Angle terjadi perpindahan posisi kondilus mandibula menjadi lebih ke posterior pada fossa glenoidalis. Pada oklusi Klas II Angle juga terjadi rotasi pertumbuhan mandibula berlawanan arah jarum jam yang akan mengarahkan mandibula tumbuh ke atas sehingga tinggi wajah cenderung menjadi lebih pendek.15,18

Pada orang dengan oklusi Klas III Angle memiliki tinggi wajah yang lebih tinggi dibandingkan orang dengan oklusi Klas I Angle. Pada orang dengan oklusi Klas III Angle, posisi kondilus mandibula menjadi lebih ke anterior dari sentral fossa glenoidalis (Gambar 8). Pada Oklusi Klas III Angle juga terjadi rotasi pertumbuhan mandibula searah jarum jam yang akan mengarahkan mandibula tumbuh lebih kebawah sehingga tinggi wajah cenderung menjadi lebih tinggi.18

Gambar 8. A. Posisi TMJ pada oklusi klas I Angle, B. Posisi TMJ pada oklusi klas III Angle18

B.

A.

(37)

a. Oklusi Klas I Angle (Neutro Oklusi)

Oklusi Klas I Angle merupakan oklusi yang ditandai dengan cusp mesio bukal molar pertama permanen rahang atas berada tepat pada groove pada bagian bukal molar pertama permanen rahang bawah dan gigi geligi tersusun dalam garis oklusi (Gambar 9).15,16

b. Oklusi Klas II Angle (Disto Oklusi)

Oklusi Klas II Angle merupakan relasi posterior dari mandibula terhadap maksila, dimana cusp mesio bukal molar pertama permanen rahang atas berada lebih ke mesial dari groove bukal gigi molar pertama permanen rahang bawah (Gambar 10).15,16

Gambar 9. Oklusi Klas I Angle15

Gambar 10. Oklusi Klas II Angle15

(38)

c. Oklusi Klas III Angle (Mesio Oklusi)

Oklusi Klas III Angle merupakan relasi anterior dari mandibula terhadap maksila, dimana cusp mesio bukal molar pertama permanen rahang atas berada lebih ke distal dari groove bukal molar pertama permanen rahang bawah (Gambar 11).15

2.3 Vertikal Dimensi

The Glossary of Prosthodontic Terms (2017) mendefinisikan vertikal dimensi sebagai jarak yang diukur pada dua titik anatomis atau titik yang ditandai (biasanya satu pada ujung hidung dan titik yang lain pada dagu), satu pada jaringan tidak bergerak dan satu lagi pada jaringan yang bergerak. Vertikal dimensi ada dua jenis, yaitu Vertikal Dimensi Oklusi (VDO) dan Vertikal Dimensi Istirahat (VDI). Vertikal dimensi yang normal sangat penting untuk posisi kondilus pada TMJ, pergerakan mandibula pada saat fungsi mastikasi, fonetik, serta estetik wajah karena merupakan tinggi sepertiga wajah bawah.1,2,4

2.3.1 Vertikal Dimensi Oklusi

Vertikal Dimensi Oklusi (VDO) merupakan tinggi sepertiga wajah bagian bawah yang diukur dari dua titik anatomis pada maksila dan mandibula ketika mulut dikatupkan dan gigi geligi dalam posisi interkuspasi maksimum. Berdasarkan teori terdapat dua metode pengukuran jarak VDO, yaitu jarak antara titik paling menonjol

Gambar 11. Oklusi Klas III Angle15

(39)

pada hidung (Nasal) ke titik paling menonjol pada dagu (Gnation) dan jarak antara dasar hidung (Septum Nasalis) ke dasar mandibula (Menton) (Gambar 12).1,2,4,5

2.3.2 Vertikal Dimensi Istirahat

Vertikal Dimensi Instirahat (VDI) merupakan jarak vertikal wajah yang diukur dari dua titik anatomis yaitu Sub Nasal dan Menton ketika mandibula pada posisi istirahat fisiologis (Gambar 13). Dalam keadaan normal, gigi geligi tidak berkontak saat posisi istirahat fisiologis. Ruang yang terbentuk antara gigi geligi pada posisi istirahat ini disebut Freeway Space.1,2,4

Gambar 13. Perbedaan VDO dan VDI (OVD = VDO = Dimensi Vertikal Oklusi; RVD = VDI = Dimensi Vertikal Istirahat)4

Gambar 12. Pengukuran jarak VDO : A. Nasal-Gnation dan B. Septum Nasalis- Menton6

A B

(40)

2.4 Perubahan VDO

Perubahan jarak VDO pada seseorang dapat menjadi lebih tinggi atau lebih rendah. Perubahan jarak VDO ini dapat mempengaruhi keseimbangan orofasial dan TMJ. Bertambahnya jarak VDO dapat disebabkan karena adanya perubahan pada gigi geligi setelah perawatan orthodonti ataupun perawatan prostodonti, seperti pembuatan gigi tiruan yang terlalu tinggi melebihi tinggi VDO yang normal.

Berkurangngya jarak VDO dapat disebabkan karena adanya kebiasaan bruxism menyebabkan atrisi pada permukaan insisal dan oklusal gigi, kehilangan gigi terlalu lama akibat karies maupun karena kecelakaan, serta dapat disebabkan karena perawatan prostodonti yang kurang tepat, seperti pembuatan gigi tiruan yang inadekuat atau tidak stabil menyebabkan linggir alveolar resorpsi sehingga jarak VDO menjadi lebih rendah dari normal.8

Vertikal dimensi terutama VDO berperan dalam mempertahankan oklusi gigi geligi untuk fungsi pengunyahan, berbicara, serta estetika. Pada kondisi gigi geligi lengkap dan sudah erupsi sempurna, khususnya pada rahang bawah, permukaan dataran oklusal dalam arah sagital (antero-posterior) mulai dari tepi insisal Insisivus Sentralis, tonjol bukal Premolar, sampai Molar dua mandibula jika diteruskan hingga ke permukaan anterior ramus mandibula dan perbatasan anterior kondilus mandibula akan terletak pada satu lingkaran yang sama dengan jari-jari 6,5-7 cm pada dataran mid orbital. Hubungan garis dataran oklusal ini disebut sebagai kurva spee, dimana jarak kurva spee yang normal memiliki kedalaman yang tidak melebihi 1,5 cm.

A B C

Gambar 14. Vertikal Dimensi : Normal (A), Bertambah (B), Berkurang (C)6

(41)

Fungsi pengunyahan yang optimal tidak hanya dipengaruhi oleh VDO, tetapi juga dipengaruhi oleh keberadaan kurva spee yang normal. Pada kondisi gigi geligi lengkap dengan oklusi normal dan jarak vertikal dimensi normal, tidak ada karies, tidak ada gigi yang dicabut atau hilang serta memiliki kedalaman kurva spee yang normal, maka oklusi dan fungsi pengunyahan serta pergerakan kondilus pada TMJ yang baik dapat dicapai (Gambar 15).32

2.4.1 Pengaruh Perubahan VDO terhadap Keseimbangan Orofasial 2.4.1.1 Efek Peningkatan VDO

Jarak VDO yang bertambah akan memberikan beberapa efek terhadap individu menjadi merasa tidak nyaman, trauma membran mukus akibat sering kontak dengan gigi, gigi berbunyi horse sound atau clattering, wajah seolah memanjang karena pada saat posisi istirahat bibir terbuka dan ketika ingin menutup mulut membuat otot-otot wajah menjadi tegang, serta dapat terjadi kehilangan freeway space. Hilangnya freeway space juga dapat menimbulkan kelelahan otot pada satu atau beberapa otot pengunyahan, trauma yang disebabkan oleh tekanan konstan pada

Gambar 15. Perpanjangan garis kurva Spee melewati jalur kondilus 32

(42)

membran mukosa, bahkan terganggunya kemampuan individu untuk mencari posisi yang nyaman. Jarak VDO yang meningkat juga dapat menyebabkan resorpsi tulang alveolar karena tekanan yang konstan ke jaringan pendukung gigi.6,7,8

2.4.1.2 Efek Penurunan VDO

Pada umumnya, tulang manusia akan mengalami dua proses utama, yaitu pembentukan/remodeling dan penghancuran/resorpsi dipengaruhi oleh sel osteoblas dan osteoklas yang seharusnya seimbang sehingga akan mempertahankan struktur tulang. Proses remodeling pada tulang terutama tulang rahang baik maksila dan mandibula dipengaruhi oleh tekanan mekanis saat proses pengunyahan. Pada pasien yang masih memiliki gigi geligi lengkap maka fungsi pengunyahan terjadi secara normal yang akan merangsang sel osteoblas untuk mengimbangi sel osteoklas pada kedua tulang rahang. Namun, pada kondisi kehilangan gigi geligi (edentulus), maka tekanan pengunyahan pada daerah gigi yang hilang akan berkurang sehingga kurang merangsang sel osteoblas dan mengakibatkan sel osteoklas lebih banyak daripada sel osteoblas. Kondisi ini akan menyebabkan resorpsi tulang secara terus-menerus tanpa diimbangi dengan remodeling tulang, dimana jika terus berlanjut akan mengakibatkan atrofi pada tulang rahang. Kondisi atrofi pada kedua tulang rahang ini akan menyebabkan vertikal dimensi menjadi berkurang. Sebuah penelitian menyatakan bahwa atrofi pada tulang alveolar maksila empat kali lebih kecil daripada tulang alveolar mandibula. Hal tersebut dikarenakan area permukaan lebih luas, memiliki tulang kortikal tipis, serta struktur tulang trabekuler lebih tebal pada maksila yang memungkinkan distribusi tekanan pengunyahan lebih merata.33

Jarak VDO yang berkurang juga dapat menimbulkan efek, seperti inefisiensi, cheek biting, mengganggu penampilan wajah yang menjadi lebih brachyfacial, angular cheilitis, nyeri pada TMJ, bahkan sindrom costen. Inefisiensi disebabkan oleh tekanan yang diberikan pada gigi yang berkontak berkurang secara signifikan dengan penutupan berlebihan karena otot pengunyahan pada perlekatan menjadi lebih berdekatan. Pada beberapa kasus, kehilangan tonus otot sebagai akibat dari berkurangnya ketinggian dimensi vertikal akan menyebabkan pipi yang merupakan

(43)

jaringan lunak cenderung terperangkap di antara gigi selama pengunyahan sehingga menyebabkan pipi tergigit (cheek biting). Efek umum dari over clossure pada ekspresi wajah meningkat seiring bertambahnya usia. Ada perkiraan bahwa jarak hidung ke dagu menjadi lebih dekat, jaringan lunak disekitarnya menjadi turun atau melorot dan garis-garis pada wajah semakin dalam. Bibir kehilangan kesempurnaan bentuknya dan batas vermillion berkurang menjadi lebih tipis dan akan menyebabkan volume bibir menjadi berkurang.6,7,8

Relasi vertikal yang berkurang menghasilkan lipatan di sudut mulut di luar batas vermillion dan lipatan dalam yang terbentuk membuat air liur tertampung di daerah tersebut yang akan menyebabkan infeksi dan rasa sakit (angular cheilitis).

Trauma di daerah fossa tempromandibular dapat dikaitkan dengan berkurangnya hubungan vertikal dengan gejala-gejala gangguan sendi temporomandibula (TMJ) seperti rasa sakit, ketidaknyamanan, bunyi kliking, sakit kepala, dan neuralgia.6,7,8

Pada tahun 1934, Costen mendaftarkan sejumlah gejala yang diyakini disebabkan oleh penutupan rahang bawah yang berlebihan setelah kehilangan gigi, yaitu sindrom costen. Gejala-gejala yang terkait dengan sindrom tersebut adalah gangguan pendengaran, sensasi pengap di telinga, tubrukan saraf auriculotemporal dan saraf chorda tympani menyebabkan rasa sakit dan sensasi terbakar di tenggorokan, lidah dan sinus.6,7,8

2.4.2 Pengaruh Perubahan VDO terhadap Biomekanik Sendi Temporomandibula

Sendi temporomandibula (TMJ) merupakan salah satu bagian dari sistem stomatognati. TMJ adalah sendi yang paling kompleks dan berfungsi menghubungkan rahang atas dan rahang bawah dalam pergerakan mandibula, yakni membuka dan menutup mulut seperti sebuah engsel, bergeser kedepan dan kebelakang dari sisi yang satu ke sisi yang lainnya, serta memiliki peranan penting dalam proses pengunyahan, penelanan, dan bicara. TMJ merupakan sendi compound yang terdiri dari tiga tulang, yaitu kondilus mandibularis, fossa glenoidalis, serta diskus artikularis. Kondilus mandibularis merupakan tulang posterior mandibula

(44)

yang permukaannya berartikulasi dengan fossa glenoidalis dan eminensia artikularis (Gambar 16). Fossa glenoidalis merupakan bagian inferior dari pars skuamosa berbentuk cekungan pada tulang temporal. Diskus artikularis merupakan tulang non- osifikasi yang terdiri dari jaringan konektif fibrous avaskular yang mengandung kapiler darah di bagian perifer dan serat saraf.1,34,35

Perubahan VDO akibat dari pembuatan gigi tiruan yang terlalu tinggi, kebiasaan bruxism, atrisi, kecelakaan, bahkan kehilangan gigi asli yang tidak segera diganti dapat menyebabkan kelainan dan perubahan pada TMJ. Kelainan TMJ dapat berupa nyeri sendi, nyeri otot, nyeri kepala, nyeri telinga, telinga berdengung, dan bunyi pada sendi seperti kliking dan krepitasi. Bunyi kliking pada TMJ berkaitan dengan perubahan posisi kondilus dalam fossa glenoidalis. Beberapa penelitian tomografi menunjukkan bahwa pasien yang mengalami kliking memiliki letak kondilus yang retroposisi.9,20,35

Kehilangan gigi dianggap sebagai faktor predisposisi terjadinya arthritis TMJ karena menyebabkan tekanan lebih besar terjadi pada sendi akibat perubahan jarak

Gambar 16. Pandangan lateral sendi temporomandibula (FG) = Fossa glenoidalis, (DA) = Diskus Artikularis, (KM) = Kondilus Mandibularis.34

(45)

vertikal dimensi. Pengurangan jarak vertikal dimensi menyebabkan dislokasi diskus ke anterior. Dislokasi diskus ke anterior menyebabkan saat gerakan membuka mulut, kondilus bergerak ke depan mendorong diskus ke anterior sehingga terjadi lipatan dari diskus. Pada keadaan tertentu dimana diskus tidak dapat terdorong lagi, kondilus akan melompati lipatan tersebut dan terus bergerak ke bawah permukaan diskus.

Lompatan ini akan menimbulkan bunyi klik pada pergerakan sendi.9

Pada pasien yang kehilangan gigi posterior akan mengubah posisi mengunyah makanan dengan menggunakan gigi anterior. Ketika mengunyah makanan dengan menggunakan gigi anterior, maka pasien akan memajukan rahang bawahnya sehingga menyebabkan posisi gigi anterior mandibula menjadi lebih prognati terhadap maksila atau menjadi lebih edge to edge (Pseudo Klas III).36 Posisi edge to edge dimana insisal anterior gigi rahang atas bertemu dengan insisal anterior rahang bawah lama kelamaan akan membuat insisial gigi atrisi dan vertikal dimensi menjadi turun. Kondisi ini akan menyebabkan pola gerak fungsional sendi temporomandibula berubah sehingga terjadi peningkatan tekanan biomekanik pada struktur sendi temporomandibula. Tekanan biomekanik yang berlebihan dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan penipisan pada diskus. Tekanan yang berlebihan yang terus menerus pada akhirnya menyebabkan perforasi dan keausan sampai dapat terjadi fraktur pada diskus yang dapat mendorong terjadinya perubahan pada permukaan artikular. Pada pemeriksaan radiografi panoramik kondisi flattening pada eminensia artikularis akan tampak jelas.37,38

2.5 Cara Penentuan VDO

Penentuan dimensi vertikal yang optimal bertujuan untuk rehabilitasi, menjaga keharmonisan estetika wajah, fonetik, fungsi mastikasi, memberikan kenyamanan pada TMJ, otot pengunyahan dan mempertahankan linggir yang tersisa.

Terdapat banyak metode yang dapat digunakan untuk menentukan VDO, yaitu metode pra-ekstraksi dan metode post-ekstraksi. Metode pra ekstraksi yang dapat digunakan, yaitu foto wajah, siluet wajah, radiografi sefalometri, model artikulasi, dan metode Swenson. Metode post-ekstraksi yang dapat digunakan, yaitu konsep

(46)

sepertiga wajah, metode Niswonger, elektromiografi, metode Willis, pengukuran kekuatan gigitan, metode penelanan, fonetik, dan panjang jari. Meskipun semua metode tersebut telah terbukti bermanfaat, namun tidak ada metode yang dinilai secara ilmiah lebih akurat daripada yang lain. Telah disarankan bahwa untuk meningkatkan akurasi prosedur penentuan VDO dapat mengkombinasikan beberapa metode.2,6,7,8

2.5.1 Metode Pra-Ekstraksi 2.5.1.1 Foto wajah

Foto wajah dibuat sebelum ekstraksi yang diambil dengan posisi oklusi maksimum karena pasien dapat dengan mudah mempertahankan posisi ini selama prosedur fotografi. Foto-foto harus diperbesar dengan ukuran sebenarnya dari pasien dan jarak antara landmark anatomi harus diukur dan dibandingkan dengan pasien untuk menghindari kesalahan. Pengukuran dicatat sehingga bisa digunakan nanti.

Saat mengukur relasi rahang, pengukuran dari foto profil digunakan untuk menentukan dimensi vertikal oklusi. Namun, metode ini memiliki kekurangan yaitu angulasi dari foto mungkin dapat berbeda dengan postur pasien yang sebenarnya.6,7,8

2.5.1.2 Siluet wajah

Siluet wajah yang akurat dibuat dengan karton atau dikontour dengan kawat menggunakan foto pasien. Siluet ini dapat digunakan sebagai templat/contoh. Siluet diambil dari foto yang sudah ada sebelumnya yang menunjukkan dimensi vertikal saat istirahat. Kemudian diposisikan di wajah pasien sambil merekam dimensi vertikal saat oklusi. Dagu harus minimal 2 mm di atas batas bawah siluet (Gambar 17).6,8

Gambar

Gambar 1. Embriologi perkembangan wajah 12
Gambar 2. Tipe Wajah: a. Euryprosopic, b. Mesoprosopic,        c. Leptoprosopic 26
Gambar 3. Anatomi Tulang Wajah 27
Gambar 4. Pembagian tinggi wajah secara vertikal 29
+7

Referensi

Dokumen terkait