• Tidak ada hasil yang ditemukan

7. Badan Air

5.5 Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Penggunaan dan Penutupan Lahan

Perubahan penutupan lahan yang terjadi di lokasi penelitian dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Secara umum, faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu faktor alam dan faktor manusia.

5.5.1 Faktor Alam

Faktor alam yang mempengaruhi perubahan penutupan lahan di suatu wilayah biasanya berupa bencana alam. Bencana alam juga bisa terjadi karena faktor manusia atau bencana yang terjadi karena faktor alam. Di tiga kecamatan ini, jarang terjadi bencana alam yang benar-benar terjadi karena alam seperti gempa bumi atau letusan gunung berapi. Bencana alam yang biasanya terjadi di lokasi ini berupa banjir, longsor, atau kebakaran yang disebabkan oleh perilaku manusia. Terjadinya bencana tersebut dapat menyebabkan perubahan penutupan lahan di lokasi yang terkena bencana.

Seperti yang terjadi pada tanggal 4 Februari 2007, longsor menimpa Megamendung yang disebabkan karena ambrolnya tebing di Megamendung akibat hujan deras yang melanda kawasan puncak. Kemudian pada tanggal 17 januari 2010 kontur tanah yang gembur mengakibatkan rumpun pohon bambu seluas 500 meter persegi pada ketinggian 50 meter menimpa pemukiman di Desa Tugu, Kecamatan Cisarua. Hal ini juga diakibatkan oleh hujan deras yang terjadi di kawasan puncak (Pos Kota, 2010). Selain longsor, pada tanggal 12 Februari 2010 lalu, banjir bandang melanda Kecamatan Cisarua (Desa Cisarua, Desa Citeko, Desa Cilember dan Leuwimalang), Kecamatan Megamendung (Desa Megamendung, Cipayung Girang, Desa Kuta dan Sukaresmi). Banjir bandang di lokasi tersebut disebabkan oleh meluapnya sejumlah anak sungai Ciliwung termasuk Sungai Cibeureum akibat hujan deras di daerah puncak. Hal ini mengakibatkan ratusan rumah rusak dan terbawa arus (Andri, 2010). Bencana alam banjir, longsor, dan kebakaran kemungkinan akan mengubah berbagai tipe penutupan lahan menjadi lahan terbuka dan semak belukar.

Sebenarnya bencana alam yang terjadi di lokasi penelitian seperti banjir disebabkan karena pola DAS itu sendiri. Karakterisitik DAS Ciliwung Hulu

mempunyai bentuk daerah hulu dan tengah dengan kelerengan terjal. Sedangkan daerah tengah sampai hilir sangat datar dan luas. Bentuk DAS seperti ini begitu hujan jatuh maka air hujan dari daerah hulu langsung mengalir ke bawah dengan waktu konsentrasi yang singkat. Sehingga banjir bandang sering terjadi di lokasi ini, ditambah lagi adanya perubahan penutupan lahan di sekitar DAS.

Selain perubahan yang terjadi akibat bencana alam, terdapat pula mekanisme alam atau proses suksesi alam yang dapat merubah suatu penutupan lahan menjadi penutupan lahan yang lain. Misalnya, pada lahan kosong yang sudah tidak digarap oleh manusia mendorong tumbuhnya semak belukar ataupun tanaman perdu lainnya, sehingga yang awalnya lahan tersebut merupakan lahan kosong/lahan terbuka berubah menjadi lahan dengan hamparan semak belukar. Lahan budidaya seperti lahan pertanian ataupun perkebunan, apabila tidak digarap dalam waktu yang lama akan berubah menjadi semak belukar.

5.5.2 Faktor Manusia

Manusia merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap perubahan penutupan lahan pada suatu kawasan. Peningkatan jumlah penduduk dari tahun ke tahun mendorong penduduk untuk melakukan perubahan-perubahan dalam kehidupannya termasuk perubahan dalam mengelola sumberdaya alam yang ada yang berdampak pada perubahan penutupan lahan yang ada. Faktor dari manusia yang dapat mempengaruhi perubahan penutupan lahan diantaranya adalah pertumbuhan penduduk, mata pencaharian, aksesibilitas dan fasilitas, serta kebijakan pemerintah.

5.5.2.1Pertumbuhan Penduduk

Meningkatnya jumlah dan kepadatan penduduk di suatu wilayah akan diikuti dengan meningkatnya kebutuhan akan lahan, sehingga akan terjadi konversi lahan di kawasan yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi. Periode 1997 – 2009 di tiga kecamatan ini mengalami peningkatan jumlah penduduk tiap tahunnya, yaitu dari 221.309 jiwa di tahun 1997, menjadi 230.510 jiwa (2000), 293.379 jiwa (2007), 293.560 jiwa (2008), dan akhirnya meningkat menjadi 295.307 jiwa di tahun 2009. Tingginya peningkatan tersebut akan mengakibatkan manusia membuka lahan baru yang digunakan sebagai pemukiman ataupun lahan

pertanian. Pada kawasan DAS Ciliwung Hulu telah terbukti bahwa dari tahun 2002 sampai tahun 2009 luas yang mengalami peningkatan paling tinggi yaitu pemukiman. Hal ini menunjukkan adanya pertumbuhan penduduk yang terus berkembang yang menyebabkan penutupan lahan lain berubah menjadi pemukiman. Pertumbuhan penduduk juga menyebabkan meningkatnya lahan pertanian. Lahan pertanian yang terdesak oleh pemukiman yang biasanya terjadi di wilayah perkotaan juga dapat mendorong penduduk untuk membuka lahan baru untuk dijadikan lahan pertanian.

5.5.2.2Mata Pencaharian

Mata pencaharian di wilayah Kecamatan Ciawi, Megamendung, dan Kecamatan Cisarua sebagian besar di bidang pertanian dan jasa rata-rata 5.468 jiwa dan 7.856 jiwa (BPS tahun 2000), baik itu pertanian lahan basah, pertanian lahan kering, maupun perkebunan. Semakin banyak penduduk yang bekerja di bidang pertanian dan jasa, maka kebutuhan lahan untuk budidaya dan area komersil semakin meningkat dan kegiatan konversi lahan pun akan terus terjadi. Pada penelitian ini telah terbukti bahwa selain konversi lahan menjadi pemukiman, perubahan lahan juga banyak yang menjadi sawah, ladang, dan perkebunan.

5.5.2.3Aksesibilitas dan Fasilitas

Aksesibilitas dan fasilitas merupakan hal yang penting dalam kehidupan manusia karena menyangkut kenyamanan hidup manusia pada lokasi tertentu. Kecamatan Cisarua dan Megamendung merupakan kawasan pusat pemukiman, kegiatan pariwisata, jasa, dan perdagangan. Aksesibilitas dan fasilitas di lokasi ini lebih lengkap dari Kecamatan Ciawi. Badan Pusat Statistik tahun 2010 mencatat bangunan permanaen, semi permanen, dan tidak permanen yang ada di Kecamatan Megamendung dan Kecamatan Cisarua adalah sebanyak 23.536 bangunan dan 19.492 bangunan. Jumlah bangunan tersebut lebih banyak dibandingkan dengan Kecamatan Ciawi. Tempat rekreasi dan wisata pun banyak yang terletak di dua kecamatan ini, seperti Taman Safari Indonesia, Wisata Agro Gunung Mas, Telaga Warna, Panorama Alam Riung Gunung, Curug Cilember, dan Taman Bunga Melrimba. Pada tahun 2002, wisatawan yang berkunjung ke

Wisata Agro Gunung Mas sebanyak 69.798 jiwa sedangkan pada tahun 2009 meningkat menjadi 275.222 jiwa. Di Panorama Alam Riung Gunung wisatawan yang berkunjung sebanyak 5.480 jiwa namun pada tahun 2009 meningkat menjadi 12.990 jiwa. Dengan bertambahnya wisatawan yang datang ke tempat rekreasi tersebut, maka akan terus menambah fasilitas, sarana dan prasarana, serta kemudahan dalam aksesibilitas. Data tersebut menunjukkan bahwa di wilayah ini akan mengalami perkembangan pembangunan yang lebih pesat dan lebih banyak mengalami perubahan penutupan lahan bila dibandingkan dengan kecamatan lainnya.

5.5.2.4Kebijakan Pemerintah

Kebijakan pemerintah baik yang berasal dari pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat memiliki peranan yang penting dalam rangka pengelolaan sumberdaya alam. Kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya alam berpengaruh langsung terhadap perubahan penutupan lahan pada wilayah tersebut. Kebijakan yang paling berpengaruh terhadap perubahan penutupan lahan yaitu kebijakan mengenai tata ruang wilayah.

Kebijakan mengenai tata ruang wilayah memberikan arahan pembangunan dan pola tata ruang di wilayah tersebut. Perubahan-perubahan tata ruang dalam rangka pembangunan di wilayah Kecamatan Ciawi, Megamendung, dan Kecamatan Cisarua harus berpedoman pada kebijakan-kebijakan yang berlaku. Kebijakan pemerintah mengenai tata ruang yang berlaku di kawasan Kecamatan Ciawi, Megamendung, dan Kecamatan Cisarua adalah Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 114 tahun 1999 Tentang Penataan Ruang Kawasan Bogor-Puncak-Cianjur dan Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 1997 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Apabila semua pihak menjalankan peraturan tersebut tentu akan memberikan dampak positif terhadap penutupan lahan.

Bagian terpenting dari DAS Ciliwung Hulu adalah hutan. Secara konsepsional yuridis dirumuskan di dalam Pasal 1 Ayat (1) Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Menurut Undang-undang tersebut, Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungan,

yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Sedangkan kawasan hutan lebih lanjut dijabarkan dalam Keputusan Menteri Kehutanan No. 70/Kpts-II/2001 tentang Penetapan Kawasan Hutan, perubahan status dan fungsi kawasan hutan, yaitu wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap. Berpedoman pada undang– undang tersebut, maka di kawasan hutan tidak semestinya terdapat area pemukiman karena akan mengurangi fungsi hutan. Namun dalam pelaksanaannya masih ada pihak yang membangun pemukiman di sekitar hutan bahkan masih ada yang tidak memiliki IMB. Di Kecamatan Cisarua terdapat 1046 unit villa dan hanya 804 unit yang memiliki IMB, di Kecamatan Megamendung terdapat 669 unit villa dan hanya 36 unit yang memiliki IMB, dan di Kecamatan Ciawi ada 6 unit villa yang dibangun di tanah milik negara (Syartinilia, 2004). Hal ini dapat disebabkan karena masih lemahnya hukum yang berlaku di kawasan ini.