INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011
4.1 Karakteristik Biofisik .1Letak Geografis
Lokasi penelitian terdiri dari Kecamatan Ciawi, Megamendung, dan Cisarua, Kabupaten Bogor yang terletak antara 6⁰37’10” LS sampai dengan 6⁰46’15” LS dan 106⁰49’48” BT sampai dengan E107⁰0’25” BT. Luas wilayah penelitian adalah 18.468 Ha. Selain berada di sistem DAS Ciliwung Hulu, wilayah ini juga berada pada kawasan Bopunjur dan merupakan daerah pegunungan dengan elevasi antara 362 m sampai 3000 m dpl. Batas dari lokasi penelitian adalah sebagai berikut:
• Sebelah barat berbatasan dengan DAS Cisadane, • Sebelah timur berbatasan dengan Sub Das Cikeas,
• Sebelah utara berbatasan dengan DAS Ciliwung Tengah, dan • Sebelah selatan berbatasan dengan DAS Cisadane Hulu. 4.1.2 Iklim
Lokasi penelitian (Kecamatan Ciawi, Megamendung, dan Cisarua) mempunyai curah hujan rata-rata sebesar 2929 – 4956 mm/ tahun. Perbedaan bulan basah dan kering sangat mencolok yaitu 10.9 bulan basah per tahun dan hanya 0.6 bulan kering per tahun. Tipe iklim DAS Ciliwung Hulu menurut sistem klasifikasi Smith dan Ferguson (1951) yang didasarkan pada besarnya curah hujan, yaitu Bulan Basah (>200 mm) dan Bulan Kering (<100 mm) adalah termasuk ke dalam Type A (Abdurachman, 2009)
Data iklim lainnya seperti suhu udara untuk periode tahun 2009-2010 diperoleh dari Badan Meteorologi dan Geofisika Balai Besar Wilayah II Stasiun Klimatologi Darmaga Bogor. Suhu udara untuk wilayah Ciawi diwakili oleh Darmaga, sedangkan suhu udara untuk wilayah Cisarua dan Megamendung diwakili oleh wilayah Citeko.
Tabel 7. Data Iklim Lokasi Penelitian pada Tahun 2009-2010
Bulan
Darmaga (Ciawi) Citeko (Cisarua, Megamendung)
2009 2010 2009 2010 Suhu (⁰C) CH (mm/bln) Suhu (⁰C) CH (mm/bln) Suhu (⁰C) CH (mm/bln) Suhu (⁰C) CH (mm/bln) Januari 25,0 360,8 25,3 252 20,1 594,2 20,6 416 Februari 25,1 305,3 25,9 461 19,5 534,1 21,3 531 Maret 25,8 261,1 26,0 415 21,0 386,4 21,5 471 April 26,2 259,9 27,1 43 21,8 220,6 22,5 82 Mei 26,1 570,6 26,7 331 21,7 368,7 22,4 289 Juni 26,1 338,1 25,9 303 21,7 128,4 21,4 255 Juli 25,8 131,1 25,8 270 21,2 87,2 21,3 137 Agustus 26,3 33,1 25,8 478 21,3 14,9 21,3 305 September 26,6 156,8 25,3 601 21,9 64,6 21,2 374 Oktober 26,0 415,8 25,4 436 21,8 356,1 21,3 425 November 26,3 407,0 25,0 284 21,6 308,6 21,5 286 Desember 26,1 258,2 25,5 177 21,4 229,9 20,7 291 Sumber: Stasiun Klimatologi Darmaga Bogor, 2010
Tabel 8. Data Hari Hujan Lokasi Penelitian pada Tahun 2009
Bulan Ciawi Cisarua Megamendung
Januari 25 26 26 Februari 23 13 13 Maret 13 25 25 April 14 21 21 Mei 22 17 17 Juni 11 12 12 Juli 5 16 16 Agustus 7 11 11 September 8 10 10 Oktober 18 18 18 November 22 25 25 Desember 22 16 16 Rata-rata 15,83 18 17,5
No. Tahun Besarnya Debit Sungai (liter/detik) Maksimum Minimum 1 2002 16.197,17 6.238,08 2 2003 7.599,25 4.983,58 3 2004 13.740,75 8.454,58 4 2005 13.574,50 6.914,42 5 2006 10.039,83 4.093,42 6 2007 13.748,92 7.506,67 7 2008 30.673,58 18.694,17 8 2009 29.097,00 15.963,83
Sumber: Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Bogor, 2011
Tabel 9. Debit Maksimum dan Minimum Sungai Ciliwung di Bendungan Katulampa
4.1.3 Hidrologi
Lokasi penelitian yang berada pada DAS Ciliwung Hulu merupakan sistem DAS dengan sungai utama adalah Sungai Ciliwung. Sungai ini mengalir dari arah selatan ke utara. Mata air dari Sungai Ciliwung berdasar dari Danau Telaga Warna yang terletak pada ketinggian 1433 m dpl. Kawasan Danau Telaga Warna juga dijadikan obyek wisata yang lahannya merupakan milik negara dan dikelola oleh Departemen Kehutanan dengan luas danau 1 ha dan area penyangga 5 ha.
Intensitas curah hujan memiliki korelasi yang positif terhadap terjadinya peningkatan aliran limpasan (run off), yang dapat meningkatkan volume serta fluktuasi debit sungai.
Gambar 7. Danau Telaga Warna, salah satu sumber mata air di DAS Ciliwung Hulu
Sumber: Syartinilia, 2004
Berikut peta drainase yang dihasilkan dari penggabungan informasi mengenai kondisi drainase dari peta tanah DAS Ciliwung Hulu dengan peta tanah Kabupaten Bogor (Gambar 8) (Syartinilia, 2004).
Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa adanya fluktuasi debit sungai yang sangat besar. Hal ini merupakan salah satu indikator yang menunjukkan bahwa di lokasi penelitian telah mengalami kerusakan sehingga selalu menimbulkan ancaman banjir pada setiap tahunnya, khususnya pada musim penghujan.
Sumber: Syartinilia, 2004 4.1.4 Kemiringan Lahan
Berdasarkan bentuk lerengnya, kemiringan lahan di lokasi penelitian bervariasi antara bentuk datar, landai, agak curam, curam sampai dengan sangat curam. Pembagian lokasi penelitian berdasarkan kemiringan lahan dan bentuk wilayah diklasifikasikan ke dalam bentuk kelas lereng seperti dapat dilihat pada Gambar 9 dan Tabel 10.
Tabel 10. Kondisi Kemiringan Lahan Lokasi Penelitian
No. Kelas Kemiringan (%) Luas (Ha)
1 0 - 8 3.809,07 2 8 - 15 3.627,54 3 15 – 25 3.261,96 4 25 - 40 2.924,1 5 40 - 55 1.999,08 6 > 55 2.844,36 Sumber: Syartinilia, 2004
4.1.5 Tanah dan Geologi
Pada lokasi penelitian dijumpai 4 ordo tanah, yaitu Entisol, Inceptisol, Ultisol, dan Andisol. Keempat ordo tanah ini dijabarkan lebih detil menjadi 5 jenis tanah dengan luas yang bervariasi di lokasi penelitian (Tabel 11). Jenis tanah yang mendominasi adalah Latosol, Andosol, dan Regosol. Jenis tanah Latosol (Gambar 10) pada umumnya berbahan induk batuan vulkanik yang bersifat intermedier, bersolum dalam, pH agak tinggi dengan kepekaan erosi rendah. Jenis tanah latosol dan asosiasinya memiliki sifat tanah yang baik yaitu tekstur liat berdebu hingga lempung berliat, stuktur granular dan remah, kedalaman efektif umumnya >90 cm, dan agak tahan terhadap erosi, serta pH tanah yang agak netral dan kandungan bahan organik yang rendah atau sedang. Jenis tanah Regosol dan Andosol umumnya agak peka terhadap erosi, kedalaman efektifnya bervariasi, kandungan hara dan bahan organik relatif tinggi.
Tabel 11. Jenis Tanah di Lokasi Penelitian
No. Jenis Tanah Luas
Hektar %
1 Andosol Coklat Kekuningan 5.522,37 30,65
2 Asosiasi Latosol Coklat Kemerahan dan Latosol Coklat 4.788,27 26,06 3 Komplek Regosol Kelabu dan Litosol 366,16 1,99
4 Latosol Coklat 7.122,44 38,76
5 Latosol Coklat Kemerahan 576,65 3,14
Sumber: Peta tanah semi detail DAS Ciliwung Hulu skala 1 : 50.000, Puslitnak dan agroklimat, 1992.
Lokasi penelitian dibangun oleh formasi geologi vulkanik, yaitu komplek utama Gunung Salak dan Komplek Gunung Pangrango. Deskripsi litologi lokasi ini adalah tufa glas litnik kristal: tufa pumice, breksi pumice, dan batu pasiran tufa, sedangkan kondisi fisiografi lokasi ini merupakan daerah pegunungan dan berbukit. Bahan induk tanah yang terdapat di lokasi ini berupa tufa vulkanik tua dan merupakan bahan dasar pembentuk jenis tanah Latosol. Adanya pencampuran Berdasarkan sifat erodibilitas, tanah Latosol tergolong peka, sedangkan erodibilitas tanah Andosol dan Regosol masing-masing tergolong peka dan sangat peka. Potensi erosi di lokasi penelitian relatif tinggi, sehingga limpasan air hujan yang masuk ke dalam sungai akan mengakibatkan sedimentasi yang tinggi.
Sumber: Syartinilia, 2004
bahan vulkanik tua dan yang lebih muda memungkinkan terbentuknya jenis tanah lain yang berasosiasi dengan Latosol yaitu Regosol dan Andosol (Abdurrachman, 2009).
4.1.6 Kawasan Lindung dan Non-lindung
Kecamatan Ciawi, Megamendung dan Cisarua merupakan area resapan air hujan. Untuk menjaga fungsi tersebut, maka seluas 15.556,8 ha merupakan kawasan lindung (84,2%) dan sisanya seluas 2.910,3 ha merupakan kawasan non-lindung (15,8%) (Syartinilia, 2004) (Gambar 11).
Sumber: Syartinilia, 2004
2. Perkebunan
Tipe pemanfaatan lahan jenis ini didominasi oleh perkebunan teh. Perkebunan tersebut dikelola oleh PT. Gunung Mas dan PT. Ciliwung. Saat ini perkebunan telah menjadi obyek wisata, seperti Riung Gunung dan Agrowisata Paralayang.
1. Hutan
Hutan yang berada di lokasi penelitian terbagi menjadi dua, yaitu hutan lindung yang berstatus milik negara dan hutan produksi yang didominasi oleh tanaman pinus dan banyak dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.
4.1.7 Penutupan Lahan
Kepemilikan lahan di lokasi penelitian digolongkan menjadi tiga, yaitu hak milik, lahan negara, dan hak guna usaha. Lahan hak milik merupakan lahan milik masyarakat yang tinggal di sekitar DAS Ciliwung Hulu di luar lahan negara dan lahan hak guna usaha. Biasanya digunakan untuk pemukiman, sawah, ladang, perkebunan, tempat rekreasi. Lahan negara merupakan lahan yang dikelola oleh pemerintah, seperti Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumberdaya Alam seperti Cagar Alam Telaga Warna, dan PT. Perhutani untuk kawasan lindung dan kawasan hutan produksi. Sedangkan Pemda setempat seperti Balai Pengelolaan Sumberdaya Air, Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah mengelola lahan dalam bentuk situ dan badan sungai. Sedangkan lahan hak guna usaha digunakan oleh PT. Gunung Mas dan PT. Ciliwung untuk areal perkebunan (tempat rekreasi Riung Gunung). Tipe penutupan lahan saat ini secara garis besar terbagi dalam 7 tipe penutupan lahan yaitu:
5. Ladang
Tipe penutupan lahan ini umumnya menempati daerah yang agak tinggi. Termasuk usaha pertanian tanaman pangan lahan kering yang dirotasikan dengan padi gogo atau tanaman sayuran. Tanaman yang umum diusahakan adalah jagung, ubi jalar, kacang tanah, kedelai, singkong, tanaman sayuran.
3. Semak belukar
Tipe penutupan lahan ini merupakan bagian sebelum punggung bukit yang belum ditanami sehingga ditumbuhi tanaman liar, rumput-rumputan, alang-alang, dan tanaman paku-pakuan.
4. Sawah
Pemanfaatan lahan jenis ini memegang peranan sangat penting dan banyak dijumpai bercampur dengan areal pemukiman. Sebagian besar sawahnya menggunakan sistem pengairan baik teknis ataupun sederhana (95%), dan sisanya menggunakan sistem pengairan tadah hujan (5%) (Balai Pengelolaan DAS Ciliwung-Citarum, 2003).
No. Kecamatan Permanen Semi Permanen Tidak Permanen Jumlah 1 Ciawi 12.599 1.905 1.801 16.305 2 Cisarua 20.826 2.506 204 23.536 3 Megamendung 12.847 4.443 2.202 19.492 Jumlah 46.272 8.854 4.207 59.333 7. Badan Air
Lokasi penelitian yang terdiri dari Kecamatan Ciawi, Megamendung, dan Cisarua merupakan kecamatan yang terletak di sistem DAS Ciliwung Hulu dengan sungai utama yaitu Sungai Ciliwung. Sungai ini mengalir dari utara hingga ke selatan. Mata airnya berdasar di Telaga Warna. yang terletak pada ketinggian 1433 m dpl.
Sumber: Kecamatan Ciawi, Cisarua, Megamendung dalam Angka, 2010
Tabel 12. Jumlah Bangunan Menurut Jenisnya di Lokasi Penelitian Tahun 2009 6. Pemukiman
Tipe pemukiman di DAS Ciliwung Hulu merupakan tipe pemukiman pedesaan yang digabung dengan sistem pertanian atau perkebunan. Tempat tinggal cenderung menyebar dan memusat. Dari tahun ke tahun, jumlah pemukiman di kawasan ini cenderung meningkat pesat, terutama ke arah berkembangnya kawasan wisata. Selain sebagai tempat tinggal (hunian), pemukiman di kawasan ini juga berfungsi sebagai tempat peristirahatan yang hanya dihuni pada saat tertentu saja.
4.2Karakteristik Sosial Ekonomi dan Kependudukan 4.2.1 Sosial Ekonomi
Kegiatan ekonomi masyarakat di wilayah ini sangat beragam dan terus mengalami pergeseran. Pergeseran kegiatan ekonomi masyarakat dari sektor pertanian ke sektor industri, perdagangan, dan jasa telah terjadi secara nyata di ketiga kecamatan ini. Kegiatan ekonomi masyarakat di bidang pertanian, dimana kegiatan usahanya tergantung pada lahan sudah semakin terbatas. Demikian pula jika melihat perkembangan tingginya alih fungsi (konversi) lahan dan alih pemilikan lahan pada wilayah ini, ada kecenderungan yang sangat kuat bahwa kegiatan ekonomi berbasis lahan tidak dapat dipertahankan lagi. Semenjak timbulnya arus komersialisasi lahan, banyak masyarakat petani lokal yang tergiur melepaskan sebagian atau seluruh lahan miliknya kepada orang kota yang bermodal kuat. Pada kondisi ini sebagian masyarakat mencari pekerjaan di sektor non-pertanian seperti menjadi tukang ojek sepeda motor, penjaga villa peristirahatan milik orang kota, karyawan rumah makan, padang golf, dan sebagainya.
Tingkat Pendidikan penduduk di lokasi penelitian relatif rendah, karena didominasi oleh belum sekolah-tidak tamat SD-Tamat SD. Berdasarkan data tahun 2009, di Cisarua jumlah penduduk yang belum sekolah-tidak tamat SD-Tamat SD mencapai 54,6% dari jumlah penduduknya, dan di Megamendung mencapai 67,4%. Sementara yang mampu tamat hingga jenjang perguruan tinggi hanya 1% untuk Kecamatan Cisarua dan 0,64% untuk Kecamatan Megamendung. Sementara selebihnya merupakan tamatan SLTP, SLTA, dan akademi (Tabel 13).
Tabel 13. Tingkat Pendidikan di Lokasi Penelitian Tahun 2009
No. Tingkat Pendidikan Cisarua Megamendung
1 Belum sekolah-tidak tamat SD-Tamat SD 60.585 61.532
2 Tamat SLTP 23.383 16.714
3 Tamat SLTA 24.825 11.456
4 Tamat Akademi 999 896
5 Tamat Universitas 1.110 585
Total 110.902 91.183
Kecamatan 1997 2000 2007 2008 2009
Ciawi 71.323 71.167 92.510 92.642 93.749 Cisarua 75.517 86.525 109.800 109.882 110.040 Megamendung 74.469 72.818 91.069 91.036 91.518
Total 221.309 230.510 293.379 293.560 295.307
Jumlah penduduk di Kecamatan Ciawi mengalami penurunan pada tahun 2000, namun pada tahun 2007-2009 jumlah penduduknya terus meningkat. Hal yang serupa juga dialami oleh Kecamatan Megamendung yang mengalami penurunan pada tahun 2000 dan mengalami peningkatan sampai tahun 2009. Berbeda dengan Kecamatan Cisarua yang terus mengalami penningkatan jumlah penduduk dari tahun 1997-2009. Namun secara keseluruhan, jumlah penduduk di tiga kecamatan ini mengalami peningkatan dari tahun 1997-2009 (Gambar 12). Sumber: Kabupaten Bogor dalam Angka, 1997, 2000, 2007, 2010
Tabel 14. Jumlah Penduduk di Lokasi Penelitian Tahun 1997-2009 4.2.2 Kependudukan
Jumlah penduduk di lokasi penelitian pada tahun 1997-2009 mengalami perubahan. Pada tahun 1997-2009 jumlah penduduk terbanyak setiap tahunnya terdapat di Kecamatan Cisarua (Tabel 14).
4.2.3 Pariwisata
Sektor pariwisata di lokasi penelitian berkembang cukup baik, hal ini dapat terlihat dari jumlah wisatawan pada tahun 2009 mencapai 1.195.448 yang terdiri dari 1.180.772 wisatawan nusantara dan 14.676 wisatawan mancanegara (Tabel 15). Keadaan ini didukung oleh kondisi lokasi penelitian yang memiliki suhu udara yang nyaman serta pemandangan alam pegunungan yang indah yang mampu menarik perhatian wisatawan untuk datang ke lokasi ini.
Tabel 15. Obyek Wisata dan Jumlah Wisatawan di Lokasi Penelitian tahun 2009
Obyek Wisata Jenis Wisatawan Jumlah
Nusantara Mancanegara
Taman Safari Indonesia 632.205 7.687 639.892 Wisata Agro Gunung Mas 273.093 2.129 275.222 Telaga Warna 14.511 520 15.031 Panorama Alam Riung Gunung 12.960 30 12.990 Curug Cilember 187.203 4.300 191.503 Taman Bunga Melrimba 60.800 10 60.810
Jumlah 1.180.772 14.676 1.195.448
Sumber: Kabupaten Bogor dalam Angka, 2010
4.3Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Dalam Perda Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Tahun 2005-2025 (Gambar 13), RTRW merupakan perencanaan tata ruang yang mencakup struktur ruang dan pola ruang. Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat pemukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional. Sedangkan pola ruang merupakan distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya. RTRW ini disusun agar mampu mendukung proses pengendalian pemanfaatan ruang, yakni upaya untuk mewujudkan tertib tata ruang sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Dalam Perda tentang RTRW tahun 2005-2025 dijelaskan bahwa:
1. kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya buatan.
2. kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan/atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap. 3. kawasan budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama
untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya buatan.
4. kawasan pemukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal/lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.
5.1Penutupan Lahan Tahun 2009
Peta penutupan lahan dihasilkan melalui metode Maximum Likelihood dari klasifikasi terbimbing yang dilakukan dengan arahan (supervised) (Gambar 14). Kriteria pengelompokkan kelas ditetapkan berdasarkan penciri kelas yang diperoleh dari analisis melalui pembuatan training area yang telah dibuat pada proses sebelumnya.
Seperti penelitian yang telah dilakukan sebelumnya (Syartinilia, 2004), kelas penutupan lahan terdiri dari tujuh kelas kategori penutupan lahan, yaitu hutan, perkebunan, semak belukar, sawah, ladang, pemukiman, dan badan air. Namun pada penelitian ini ditambahkan satu kelas yang tidak terklasifikasi sebagai penutupan lahan yaitu awan. Kelas ini tidak mengandung informasi mengenai penutupan lahan, namun pada proses pengolahannya kelas ini tetap dilibatkan karena akan berpengaruh pada proses serta hasil klasifikasi. Kelas hasil klasifikasi diberi label (nama kelas) sesuai dengan penutupan lahan dimana piksel-piksel dalam kelas tersebut tersebar.
Tujuh kelas penutupan lahan tersebut memiliki nilai rata-rata keterpisahan sebesar 1.999,82 serta keterpisahan terendah sebesar 1.996,25. Nilai keterpisahan terendah tersebut terdapat di antara kelas penutupan lahan yang memiliki kemiripan yaitu sawah dan ladang. Hal ini dapat disebabkan oleh penggunaan sawah dan ladang dalam satu lahan dalam satu periode tertentu. Pada citra LANDSAT ETM+ yang direkam pada tanggal 22 Desember 2002 (musim hujan) lahan sedang digunakan sebagai sawah, sedangkan pada citra AVNIR-2 yang direkam pada tanggal 19 Juli 2009 penggunaan lahan tersebut berupa ladang (Juli-Oktober). Kemudian pada saat dilakukan ground check pada tanggal 24 Maret dan 9 April 2011, lahan tersebut sedang dimanfaatkan sebagai sawah. Walaupun terdapat nilai keterpisahan terendah antara sawah dan ladang, namun dengan nilai rata-rata keterpisahan sebesar 1.999,82 memiliki makna bahwa kelas-kelas tersebut dapat dipisahkan dengan sangat baik. Matrik nilai keterpisahan antar kelas hasil klasifikasi terbimbing disajikan dalam Tabel 16.
Tabel 16. Matrik nilai keterpisahan antar kelas penutupan lahan hasil klasifikasi terbimbing Penutupan Lahan 1 2 3 4 5 6 7 1. Hutan 0 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2. Perkebunan 2000 0 2000 2000 2000 2000 2000 3. Semak belukar 2000 2000 0 1999.98 2000 2000 2000 4. Sawah 2000 2000 1999.98 0 1996.25 2000 2000 5. Ladang 2000 2000 2000 2000 0 2000 1999.98 6. Pemukiman 2000 2000 2000 2000 2000 0 2000 7. Badan air 2000 2000 2000 2000 1999.98 2000 0
Xmin = 1996,25 Xmaks = 2000 Xrata-rata = 1999,82
Berdasarkan Peta Penutupan Lahan Kawasan Puncak tahun 2009 (Gambar 14), dapat diketahui bahwa penutupan lahan yang terluas di lokasi ini adalah hutan yaitu sebesar 5.041,29 Ha atau sekitar 27,29% dari total luas lokasi penelitian. Selain badan air (353,97 Ha), perkebunan memiliki luas yang paling kecil jika dibandingkan dengan kelas penutupan lahan lain yaitu sebesar 1.380,07 Ha atau hanya 7,47% dari luas total. Gambaran lebih jelas mengenai luas masing-masing kelas pada peta penutupan lahan disajikan pada Tabel 17.
Tabel 17. Luas Hasil Klasifikasi Penutupan Lahan 2009
No. Penutupan Lahan Luas (ha) Luas (%)
1 Hutan 5.041,29 27,29 2 Perkebunan 1.380,07 7,47 3 Semak belukar 1.536,98 8,32 4 Sawah 2.743,81 14,86 5 Ladang 3.931,23 21,29 6 Pemukiman 3.366,77 18,23 7 Air 353,97 1,92
8 Awan (No data) 114,68 0,62
Gambar 14. Peta Penutupan Lahan Tahun 2009 (AVNIR-2 19 Juli 2009 Resolusi 10x10 m) Kec. Megamendung
Kec. Ciawi
Di antara kelas-kelas penutupan lahan yang terdapat pada peta penutupan lahan, terdapat kelas yang mewakili penutupan awan dan bayangan awan yaitu sebesar 114,68 ha (0,62%). Penutupan awan menyebabkan informasi mengenai tipe penutupan lahan hilang sebesar 0,62%. Penutupan tipe ini tidak dimasukkan ke dalam kelas klasifikasi penutupan lahan tahun 2009 karena tidak mengandung informasi mengenai penutupan lahan, tetapi dalam proses pengklasifikasiannya tetap dilibatkan karena akan berpengaruh pada hasil klasifikasi.
Hasil klasifikasi dievaluasi menggunakan matrik kesalahan (confusion matrix) atau matrik kontingensi yang dibuat melalui proses klasifikasi piksel yang diwakili oleh titik pada training area. Matriks akurasi dapat dilihat pada Tabel 18.
Tabel 18. Pendugaan Akurasi dari Penggunaan dan Penutupan Lahan Tahun 2009
Kelas
Data Acuan Total
Baris UA (%) 1 2 3 4 5 6 7 1 70 3 0 0 0 0 0 73 95,89 2 0 116 0 0 0 0 0 116 100,00 3 0 0 98 0 0 0 0 98 100,00 4 0 0 0 71 1 7 0 79 89,87 5 0 0 1 0 116 2 24 143 81,12 6 0 0 0 19 0 93 0 112 83,04 7 0 0 0 0 0 0 62 62 100,00 Total Kolom 70 119 99 90 117 102 86 683 PA (%) 100 97,48 98,99 78,89 99,15 91,18 72,09 OverallAccuracy (%) 91,67 KappaAccuracy (%) 90,22
Ket : 1 = Hutan; 2 = Perkebunan ; 3 = Semak belukar; 4 = Sawah; 5 = Ladang; 6 = Pemukiman; 7 = Badan air UA = User’s Accuracy; PA = Producer’s Accuracy
Matrik kesalahan tersebut memberikan informasi mengenai penyimpangan klasifikasi yang berupa kelebihan jumlah piksel dari kelas yang lain atau emisi (omission) dan kekurangan jumlah piksel pada masing-masing kelas atau komisi (comission). Kesalahan emisi (omission error) dikenal juga dengan istilah akurasi pembuat (producer’s accuracy) yaitu akurasi yang diperoleh dengan membagi piksel yang benar dengan jumlah total piksel dari data acuan per kelas.
Dari Tabel 18 dapat dilihat bahwa nilai akurasi pembuat terendah terdapat pada kelas penutupan lahan badan air sebesar 72,09%, sedangkan nilai akurasi tertinggi sebesar 100% terdapat pada kelas penutupan lahan hutan. Akurasi lainnya adalah akurasi pengguna (user’s accuracy), yaitu akurasi yang diperoleh dengan membagi jumlah piksel yang benar dengan total piksel yang dikelaskan ke dalam kelas tersebut, akurasi ini dikenal juga dengan istilah kesalahan komisi (comission error). Nilai akurasi pengguna terendah terdapat pada kelas penutupan lahan ladang yaitu sebesar 81,12%, sedangkan nilai akurasi pengguna tertinggi terdapat pada kelas penutupan lahan perkebunan dan semak belukar belukar yaitu sebesar 100%.
Besarnya akurasi hasil klasifikasi keseluruhan dapat diukur menggunakan akurasi umum (overall accuracy) dan akurasi kappa. Akurasi umum adalah akurasi yang dihitung berdasarkan jumlah piksel yang dikelaskan dengan benar pada seluruh kelas, dibagi dengan jumlah total piksel yang digunakan. Akurasi ini akan menghasilkan pengukuran yang cenderung over estimate karena dalam proses perhitungannya, akurasi umum hanya melibatkan piksel-piksel yang dikelaskan dengan benar saja. Untuk saat ini selain akurasi umum, evaluasi hasil klasifikasi sangat disarankan menggunakan akurasi kappa. Piksel-piksel yang terlibat dalam perhitungan akurasi kappa adalah seluruh piksel yang digunakan sebagai acuan untuk pengukuran akurasi hasil klasifikasi, sehingga jika dibandingkan dengan akurasi umum, perhitungan akurasi kappa akan lebih akurat dalam mengevaluasi hasil klasifikasi. Nilai akurasi umum hasil klasifikasi terbimbing dalam penelitian ini adalah sebesar 91,67%, sedangkan akurasi kappa yang diperoleh sebesar 90,22%.
5.2Perbandingan Luas Penutupan Lahan Tahun 2002 dan Tahun 2009
Perbandingan luas penutupan lahan dilakukan antara peta penutupan lahan tahun 2002 (LANDSAT ETM+2002/12/22) (Syartinilia, 2004) (Gambar 3 dan Tabel 4) dengan peta penutupan lahan tahun 2009 (AVNIR-2 19 Juli 2009) (Gambar 14 dan Tabel 17) yang diperoleh dari hasil klasifikasi dengan metode terbimbing. Peta tahun 2009 dengan resolusi 10 x 10 meter yang dihasilkan dari metode klasifikasi terbimbing memiliki akurasi lebih besar jika dibandingkan dengan peta
tahun 2002 dengan resolusi 30 x 30 meter yang juga dihasilkan dari metode klasifikasi terbimbing. Perbandingan ini dilakukan untuk mendapat gambaran mengenai perubahan luas yang terjadi dari kelas-kelas penutupan lahan hasil klasifikasi citra AVNIR-2. Perbandingan luas penutupan lahan tahun 2002 dengan penutupan lahan tahun 2009 disajikan pada Gambar 15.
Gambar 15. Diagram perbandingan luas penutupan lahan tahun 2002-2009
Berdasarkan hasil klasifikasi citra AVNIR-2 tahun 2009 resolusi 10 x 10 meter, lokasi penelitian mengalami perubahan penutupan lahan pada setiap tipe penutupan lahannya. Dalam kurun waktu 2002-2009 telah terjadi peningkatan dan penurunan luas wilayah penutupan lahan yang terdapat di wilayah tersebut. Berdasarkan Gambar 15 hampir semua tipe penutupan lahan mengalami peningkatan luas, seperti hutan, perkebunan, sawah, pemukiman, dan badan air. Sedangkan penutupan lahan semak belukar dan ladang mengalami penurunan luas penutupan lahan.
Dari semua tipe penutupan lahan, yang mengalami peningkatan luas paling tinggi yaitu pemukiman yang semula (tahun 2002) memiliki luas 1.196,3 ha kemudian pada tahun 2009 meningkat menjadi 3.366,77 ha atau meningkat sebesar 2170,47 ha (11,75%) dengan laju peningkatan sebesar 1,68% per tahun (Tabel 19). Hal ini dapat disebabkan oleh peningkatan jumlah penduduk dan kepadatan penduduk yang mengakibatkan meningkatnya kebutuhan akan lahan.
Selain itu, ketiga lokasi ini merupakan kawasan wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan dari luar kota, lokal, maupun internasional. Keadaan ini mendorong masyarakat untuk terus membangun area komersial seperti area perdagangan, villa, hotel, dan lain-lain. Oleh sebab itu, konversi lahan oleh masyarakat di tiga kecamatan ini terus-menerus dilakukan.