• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

AFDI PRATAMA

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2013

11 Perbedaan jenis dan pola distribusi karbohidrat kelenjar parotis dan mandibularis setiap hewan sangat terkait dengan perbedaan jenis dan pola makan masing-masing hewan (Pinkstaff 1981). Musang luak adalah hewan omnivora yang dapat memakan berbagai jenis pakan seperti buah-buahan, serangga dan daging (Jothish 2011) meskipun hewan ini digolongkan ke dalam karnivora (Schreiber et al. 1989). Perbedaan diet seperti ini juga terjadi pada beberapa contoh karnivora lain seperti rubah dan panda raksasa yang memiliki pola diet berbeda dengan karnivora umumnya (Redaksi Ensiklopedi Indonesia 1992).

Karakteristik morfologi dari suatu organ tentunya harus didukung dengan penelitian mengenai fisiologi dari organ tersebut, dalam hal ini adalah kelenjar parotis dan mandibularis. Analisis biokimia air ludah musang luak sekiranya menjadi penting untuk mengungkap keterkaitan antara morfologi dan fisiologi kelenjar parotis dan mandibularis musang luak.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Kelenjar parotis musang luak berukuran relatif lebih besar dibandingkan kelenjar mandibularis dan tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin. Kelenjar parotis musang luak merupakan kelenjar serous murni sedangkan kelenjar mandibularis musang luak merupakan kelenjar campuran. Asinar mukus pada kelenjar mandibularis mengandung karbohidrat asam dan netral sedangkan asinar serous pada kedua kelenjar mengandung karbohidrat netral. Perbedaan ini diduga berkaitan dengan jenis pakan dan pola makan musang luak.

Saran

Disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai persebaran glikokonjugat menggunakan histokimia lektin dan melakukan penelitian analisis biokimia pada sekreta ludah tiap kelenjar ludah musang luak.

DAFTAR PUSTAKA

Adnyane IKM, Novelina S, Wresdiyati T, Winarto A, Agungpriyono S. 2007. Sel penghasil lisozim terdeteksi pada kelenjar ludah sapi dengan teknik imunohistokimia. Jurnal Veteriner. 8(1): 10-15.

Adnyane IKM, Zuki AB, Noordin MM, Agungpriyono S. 2010. Histological study of the parotid and mandibular glands of barking deer (Muntiacus muntjak) with special reference to the distribution of carbohydrate content. Anatomia Histologia Embryologia. 39: 516-520.

Adnyane IKM. 2003. Profil Kelenjar Parotis dan Submandibularis Hewan Mammalia dengan Tinjauan Khusus pada Kandungan Glikokonjugat dan Lisozim [Tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

12

Adnyane IKM. 2009. Morfologi kelenjar ludah kambing, kucing dan babi dengan tinjauan khusus pada distribusi dan kandungan karbohidrat. Jurnal Kedokteran Hewan. 3(2): 190-195.

Aspinall V, O’Reilly M. 2004. Introduction to Veterinary Anatomy and Physiology. Edinburgh (GB): Buttenworth Heinemann.

Bacha WJ, Bacha LM. 2000. Color Atlas of Veterinary Histology. 2nd Edition. Maryland (US): Lippincott Williams & Wilkins.

Baker N, Kelvin L. 2008. Wild Animals of Singapore: A Photographic Guide to Mammals, Reptiles, Amphibians, and Freshwater Fishes. Singapore (SG): Vertebrate Study Group, Nature Society.

Corlett RT. 2011. Vertebrate carnivores and predation in the oriental (Indomalayan) region. The Raffles Bulletin of Zoology. 59(2): 325-360.

Cunningham J. 1997. Textbook of Veterinary Physiology. St. Louis (US): W.B. Saunders Company.

Dellmann HD, Brown EM. 1981. Textbook of Veterinary Histology. Philadelpia (US): Lea and Febiger.

Duckworth JW, Salter RE, Khounboline K. 1999. Wildlife in Lao PDR 1999 Status Report. Vientiane (LA): International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Dyce KM, Sack WO, Wensing GJG. 2002. Textbook of Veterinary Anatomy. 2nd Edition. Philadelpia (US): W.B. Saunders Company.

Getty R. 1975. The Anatomy of The Domestic Animals. Philadelpia (US): W.B. Saunders Company.

Habel RE, Biberstein EL. 1957. Fundamentals of The Histology of Domestic Animals. New York (US): Comstock Publishing Associates.

Hildebrand M, Goslow GE. 2001. Analysis of Vertebrate Structure. 5th Edition. New York (US): John Wiley & Sons, Inc.

Humason GL. 1967. Animal Tissue Techniques. San Fransisco (US): W.H. Freeman and Company.

Hume ID, Warner AC. 1980. Evolution of microbial digestion in mammals di dalam Digestive Physiology and Metabolism in Ruminants. 1st Edition. USA (US): Avi Publishing.

International Committee on Veterinary Gross Anatomical Nomenclature [ICVGAN]. 2005. Nomina Anatomica Veterinaria. 5th Edition. Hannover (DE): Editorial Committee.

Jothish PS. 2011. Diet of the common palm civet (Paradoxurus hermaphroditus) in a rural habitat in Kerala, India, and its possible role in seed dispersal. Small Carnivore Conservation. 45: 14–17.

Kent GC, Miller L. 1997. Comparative Anatomy of the Veterbrates. Dubuque (US): Wm. C. Brown Publisher.

13 Kiernan JA. 1990. Histological & Histochemical Methods: Theory and Practice.

Oxford (GB): Pergamon Press.

Kimura J. 2005. Observation of the salivary glands of northern smooth-tailed tree shrew (Dendrogale murina) and common tree shrew (Tupaia glis) di dalam Mysterious Arboreal Tupai. Kyoto (JP): Primate Research Institute.

Kusumastuti A. 2012. Morfologi Esofagus dan Lambung Musang Luak (Paradoxurus hermaphroditus) [Skripsi]. Bogor (ID): Insitut Pertanian Bogor. Meijaard E, Sheil D, Nasi R, Augeri D, Rosenbaum B, Iskandar D, Setyawati T,

Lammertink M, Rachmatika I, Wong A, Soehartono T, Stanley S, O’Brien T. 2006. Hutan Pasca Pemanenan: Melindungi Satwa Liar dalam Kegiatan Hutan Produksi di Kalimantan. Bogor (ID): Center for International Forestry Research.

Mohammadpour AA. 2009. Investigations on the shape and size of molar and zygomatic salivary glands in short hair domestic cat. Bulgarian Journal of Veterinary Medicine. 12(4): 221-225.

Nagato T, Tandler B. 1986. Ultrastructure of dog parotid gland. Journal Submicroscopic Cytology. 18: 67–74.

Novelina S. 2010. Dinamika Perubahan Morfofungsi Gonad dan Kelenjar Mandibularis Walet Linchi (Collocalia linchi) Selama Masa Berbiak dan Bersarang [Disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Onishi N. 2010. From dung to coffee brew with no aftertaste [terhubung berkala]. http://www.nytimes.com (4 Juli 2012).

Parks HF. 1961. On the fine structure of the parotid gland of mouse and rat. American Journal of Anatomy. 108: 303-329.

Phillips CJ, Tandler B. 1996. Salivary glands, cellular evolution, and adaptive radiation in mammals. European Journal of Morphology. 34(3): 155-161. Pinkstaff CA. 1981. Histochemical characterization of salivary glands secretion in

saliva and salivation. Advance in Physiology. 28: 141-261.

Redaksi Ensiklopedi Indonesia. 1992. Ensiklopedi Indonesia Seri Fauna: Mamalia 2. Jakarta (ID): Ichtiar Baru–Van Hoeve.

Samuelson DA. 2007. Textbook of Veterinary Histology. Missouri (US): Saunders Elsevier.

Schreiber A, Wirth R, Riffel M, Rompaey HV. 1989. Weasels, Civets, Mongooses, and their Relatives An Action Plan for the Conservation of Mustelids and Viverrids. Switzerland (CH): International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Shackleford JM, Wilborn WH. 1969. Ultrastructure of bovine parotid gland. Journal of Morphology. 127: 453-474.

Smith BJ. 1999. Canine anatomy. Philadelpia (US): Lippincott William & Wilkins.

14

Su S, Sale J. 2007. Niche differentiation between common palm civet Paradoxurus hermaphroditus and small Indian civet Viverricula indica in regenerating degraded forest, Myanmar. Small Carnivore Conservation. 36: 30-34.

Tandler B, Gresik EW, Nagato T, Phillips CJ. 2001. Secretion by striated ducts of mammalian major salivary glands: review from ultrastructural, functional and evolutionary perspective. The Anatomical Record. 264: 121-145.

Vaughan TA. 1978. Mammalogy. Philadelpia (US): W.B Saunders Company Zainuddin N, Agungpriyono S, Wresdiyati T, Adnyane IKM, Sari DK. 2000.

Studi histologi dan histokimia kelenjar submandibularis dan kelenjar parotis tupai (Tupaia glis) dengan tinjauan khusus pada jenis dan distribusi karbohidrat. Jurnal Primatologi Indonesia. 3: 9-16.

15

Lampiran 1 Pewarnaan hematoksilin eosin

Pewarnaan hematoksilin eosin merupakan pewarnaan standar untuk mengetahui struktur umum sel maupun jaringan dalam suatu organ. Tahapan pewarnaan hematoksilin eosin adalah sebagai berikut:

1. Proses deparafinisasi dengan menggunakan larutan xylol I, II, dan III masing-masing selama 3-5 menit.

2. Proses rehidrasi dengan menggunakan alkohol bertingkat konsentrasi 100% (III, II, dan I), 96%, 90%, 80%, dan 70% masing-masing selama 3-5 menit.

3. Preparat direndam dalam air keran selama 10 menit kemudian dibersihkan dengan cara direndam dalam aquadest selama 5 menit. 4. Preparat diwarnai dengan haematoksilin selama 30-45 detik kemudian

direndam di dalam air keran selama beberapa saat.

5. Warna yang dihasilkan dikrontrol di bawah mikroskop. Jika warna ungu yang dihasilkan kurang kontras, maka preparat dicelupkan kembali ke dalam pewarna haematoksilin selama 3-5 detik. Namun jika warnanya terlalu ungu maka preparat dapat dicelupkan dalam pemucat haematoksilin 1-2 kali (0.5% HCl dalam 70% alkohol).

6. Preparat kembali direndam di dalam air keran selama 10 menit lalu direndam di dalam aquadest selama 5 menit.

7. Preparat diwarnai dengan eosin selama 30-45 detik.

8. Preparat di dehidrasi dengan alkohol bertingkat dimulai dengan konsentrasi 70%, 80%, 90%, 96%, dan 100% (I, II, dan III) masing- masing 2-4 kali celup.

9. Preparat dijernihkan dengan larutan xylol I, II, dan III masing-masing selama 5 menit.

10.Proses mounting dilakukan dengan penutupan preparat dengan cover glass menggunakan entellan®.

Hasil: inti berwarna biru hingga ungu, sitoplasma, kolagen, keratin dan eritrosit berwarna merah.

16

Lampiran 2 Pewarnaan alcian blue pH 2.5

Pewarnaan AB bertujuan untuk mendeteksi karbohidrat asam pada jaringan. Pewarna AB dengan pH 2.5 dapat mewarnai mukosubstan sulfat dan nonsulfat. Menurut Kiernan (1990) prosedur pewarnaan AB adalah sebagai berikut:

1. Proses deparafinisasi dengan menggunakan larutan xylol I, II, dan III masing-masing selama 3-5 menit.

2. Proses rehidrasi dengan menggunakan alkohol bertingkat konsentrasi 100% (III, II, dan I), 95%, 90%, 80%, dan 70% masing-masing selama 3-5 menit.

3. Preparat direndam dalam air keran selama 10 menit kemudian dibersihkan dengan cara direndam dalam aquadest selama 5 menit. 4. Penurunan pH dengan merendamkan preparat ke dalam larutan asam

asetat 3% pada suhu kamar selama 5 menit.

5. Preparat diwarnai dengan alcian blue pH 2.5 selama 30 menit.

6. Preparat dicuci dengan asam asetat 3% pada suhu kamar selama 3x @ 5 menit, lalu dibilas dengan aquadest selama 3x @ 5 menit.

7. Preparat dicelupkan dalam counterstain (nuclear fast red). Intensitas warna dikontrol di bawah mikroskop.

8. Preparat dicuci dengan aquadest pada suhu kamar selama 3x @ 5 menit. 9. Preparat didehidrasi dan clearing pada rak khusus pewarnaan AB-PAS

dan kemudian ditutup dengan kaca penutup.

Hasil: Positif AB = mukopolisakarida asam berwarna biru kehijauan dan inti berwarna merah.

17

Lampiran 3 Pewarnaan periodic acid Schiff

Pewarnaan PAS digunakan untuk mendeteksi karbohidrat netral, gula heksosa, dan asam sialit. Prosedur pewarnaan PAS adalah sebagai berikut:

1. Proses deparafinisasi dengan menggunakan larutan xylol I, II, dan III masing-masing selama 3-5 menit.

2. Proses rehidrasi dengan menggunakan alkohol bertingkat konsentrasi 100% (III, II, dan I), 95%, 90%, 80%, dan 70% masing-masing selama 3-5 menit.

3. Preparat direndam dalam air keran selama 10 menit kemudian dibersihkan dengan cara direndam dalam aquadest selama 5 menit. 4. Preparat dioksidasi di dalam larutan 0.5-1 periodic acid selama 5 menit

pada suhu kamar. Kemudian dibilas dengan aquadest selama 5 menit dan aquabidest selama 2x @ 5 menit.

5. Preparat direndam di dalam Schiff’s reagen selama 15-30 menit.

6. Preparat direndam dalam air sulfit selama 3x @ 5 menit dan kemudian dibilas dengan aquadest selama 3x @ 5 menit.

7. Preparat dicelupkan dalam counterstain (mayer hematoksilin). Intensitas warna dikontrol di bawah mikroskop.

8. Preparat dicuci dengan air mengalir selama 10-60 menit lalu dibilas dengan aquadest selama 2x @ menit.

9. Preparat didehidrasi dan clearing pada rak khusus pewarnaan AB-PAS dan kemudian ditutup dengan kaca penutup.

Hasil: Glikogen, selulosa, mucin, koloid thyroid, matriks kartilago, kitin, retikula, fibrin dan kolagen berwarna merah magenta.

18

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 12 November 1991 dari pasangan Bapak Ade Suprijatna dan Ibu Nofliwati. Penulis merupakan putra pertama dari dua bersaudara.

Pendidikan formal penulis dimulai dari SD Muhammadiyah Bojonggede, diselesaikan pada tahun 2002. Kemudian dilanjutkan ke SMP Negeri 73 Jakarta dan lulus pada tahun 2005. Pendidikan selanjutnya diteruskan di SMA Negeri 6 Kota Bogor dan lulus pada tahun 2008. Pada tahun yang sama, Penulis melanjutkan pendidikan ke IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan mayor yang dipilih Penulis adalah Kedokteran Hewan pada Fakultas Kedokteran Hewan.

Selama masa perkuliahan, penulis berpartisipasi aktif sebagai asisten mata kuliah Anatomi Veteriner I, Anatomi Veteriner II, Histologi Veteriner II, Parasitologi Veteriner (Ektoparasit) dan Patologi Sistemik II. Selain itu Penulis juga aktif pada beberapa organisasi kemahasiswaan diantaranya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Hewan, Himpunan Minat Profesi Satwaliar dan Komunitas Seni Steril FKH IPB. Dalam Rangka menyelesaikan tugas akhir, Penulis melakukan penelitian dan menyusun skripsi dengan judul,

“Morfologi Kelenjar Parotis dan Mandibularis Musang Luak (Paradoxurus hermaphroditus).

Dokumen terkait