PENGALAMAN FANATISME INFORMAN
3.2. Fangirl dan Fanboy
Dalam dunia K-Popers, ada penggemar pria yang biasa disebut sebagai fanboy dan penggemar wanita yang disebut dengan fangirl. Untuk Indonesia sendiri, K-Popers di dominasi oleh para fangirl. Terlebih di awal-awal K-Pop memasuki pasar Indonesia, tidak jarang ditemukan para pria yang memandang K-Pop dengan negatif bahkan sampai melontarkan komentar-komentar ejekan baik di sosial media atau pun di kehidupan nyata. Namun seiring perkembangan musik K-Pop yang pesat dan mendunia, mulai banyak ditemukan para fanboy, tidak terkecuali di Indonesia sendiri. Meskipun masih cukup banyak para pria yang tidak menyukai musik dan idol K-Pop, namun para fanboy di Indonesia dapat dikatakan mulai bertambah. Hal ini dapat di buktikan dengan banyaknya fanbase yang anggotanya diisi oleh mayoritas kaum lelaki seperti ONCE Medan. Bahkan beberapa selebriti Indonesia sendiri pun mengumumkan diri sebagai seorang fanboy dari idol K-Pop. Contohnya seperti Boy William, Jeffri Nichol dan Angga Yunanda. Tampaknya para pria sudah mulai terbuka terhadap pengaruh musik K-Pop di Indonesia. Pada umumnya para fanboy ini mengidolakan idol K-K-Pop wanita, dan ara fangirl mengidolakan idol K-Pop pria. Namun tidak jarang juga ditemukan bahwa ada pria yang menjadi fanboy dari idol K-Pop pria, dan begitu pula sebaliknya dengan fangirl.
Dalam kegiatan idoling, fangirl ataupun fanboy memiliki pola kegiatan yang hampir sama. Banyak kegiatan idoling yang dilakukan oleh fangirl dan dilakukan oleh pata fanboy. Contohnya seperti berbelanja merchandise. Anggapan selama ini yang mengatakan bahwa fangirl lebih boros jika terkait dengan
kegiatan idoling, ternyata tidak sepenuhnya benar. Peneliti menemukan bahwa para fanboy juga memiliki sikap belanja impulsif dalam kegiatan idoling mereka.
Mereka juga dapat bersikap boros terhadap idolanya. Baik fangirl atau fanboy sama-sama gemar melakukan kegiatan belanja berbagai merchandise idola mereka. Barang-barang yang biasa dibeli oleh para fangirl dan fanboy ini adalah seperti album, lighstcik, photocard, poster dan berbagai spesial package idolanya.
Mereka juga sama-sama memiliki ketertarikan untuk menyaksikan konser idola.
Peneliti menemukan bahwa fangirl dan fanboy ini beberapa kali pergi menonton konser idolanya sampai ke luar negeri, dan tidak keberatan meskipun harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit.
Baik fanboy atau pun fangirl sama-sama bersemangat mendukung idolanya dengan cara voting dan streaming. Mereka bahkan sampai meminjam ponsel milik orang-orang sekitarnya demi bisa mendukung idolanya. Bagi keduanya streaming dan voting adalah hal wajib tidak tertulis yang harus dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai fans. Bahkan ketika seorang fans tidak memiliki modal ekonomi untuk mendukung idola melalui pembelian merchandise, cara paling mudah yang dapat dilakukan oleh mereka adalah dengan streaming dan voting. Kesamaan lain antara fanboy dan fangirl adalah cara mereka untuk menunjukkan rasa sayang kepada idola melalui momen perayaan ulangtahun. Para fanboy dan fangirl ini sama-sama bersemangat dalam mengadakan perayaan ulangtahun idolanya. Bahkan dalam beberapa kesempatan, ide perayaan tersebut di gagas oleh para fanboy. Para pria juga tidak kalah
bersemangat dengan wanita jika menyangkut hal-hal idolanya. Semangat ini dapat dilihat juga dari ada beberapa fanboy yang menjadi admin dalam fanbase K-Pop.
K-Pop membawa beberapa perubahan yang sama bagi para K-Popers baik itu fangirl ataupun fanboy. Peneliti menemukan, selain menjadi lebih boros dalam hal pengeluaran materi, para fangirl dan fanboy ini memiliki pergaulan yang lebih luas, terlebih bagi mereka yang sebelumnya terkesan tertutup dan sulit dalam bergaul dengan orang-orang baru. Melalui K-Pop mereka berhasil mengubah kepribadiannya. Mendapat teman baru dan lebih aktif dalam berbagai kegiatan adalah salah satu dampak positif yang didapatkan dari hobi idoling. Bahkan teman-teman mereka tidak hany terbatas pada fanbase saja. Namun mereka juga mendapat teman yang berasal dari luar kota bahkan luar negeri. Teman baru ini mereka dapatkan dalam berbagai kesempatan seperti grup chat atau pun saat menghadiri konser.
Namun selain beberapa kesamaan anatara fangirl dan juga fanboy yang sudah peneliti sebutkan diatas, mereka juga memiliki perbedaan dalam pengalaman fanatisme mereka. Yang pertama adalah paham bias is mine. Dimana para K-Popers dengan pemikiran ini akan menganggap bahwa idola adalah milik mereka. Karena itu lah ada fans yang menangis bahkan membenci idola ketika biasnya tersebut diberitakan berkencan dengan seseorang. Atau dapat juga kita temui para K-Popers yang menyebut idola mereka sebagai pacar atau suami.
Peneliti melihat bahwa hal seperti ini banyak dilakukan oleh para fangirl.
Sedangkan untuk fanboy sendiri, mereka masih merasa risih dan malu untuk menyebut idolanya sebagai pacar atau istri. Meskioun tetap ada fanboy yang
melakukan hal tersebut, namun persentasenya pastilah sangat kecil jika dibandingkan dengan fangirl. Kepada peneliti, para fanboy ini mengaku adalah tidak wajar untuk memanggil idol sebagai pacar atau istri. Hal ini menunjukkan ketidakmampuan seorang fans membedakan antara kehidupan nyata dan khayalan.
Peneliti juga menemukan bahwa banyak dari para fangirl yang pernah menangis karena mendengar berita kencan idolanya. Namun dari antara para fanboy yang peneliti temua, tidak ada yang mengaku pernah menangis hanya karena idolnya diberitakan berkencan.
Perbedaan lainnya yang dapat peneliti lihat adalah pada budaya ngeship.
Yaitu suatu kebiasaan dimana para fans menjodohkan idolanya dengan idol lain yang mereka sukai. Kebiasaan ini banyak dilakukan oleh mereka para fangirl, namun sangat jarang dilakukan oleh para fanboy. Para famboy yang peneliti temui mengaku tidak pernah ngeship idolanya dengan idol lain. Karena bagi mereka, itu adalah kehidupan pribadi idola yang tidak bisa dicampuri oleh para fans. Biarlah para idol berkencan dengan siapa saja yang mereka inginkan.
Perbedaan diantara keduanya juga terlihat dalam hal konformitas. Para fangirl cenderung merubah sikap atau perilaku mereka setelah menjadi seorang K-Popers. Contohnya seperti bergaya dengan style Korea, menyukai makanan Korea dan berbicara dengan bahasa Korea. Fangirl yang peneliti temui banyak meniru gaya idolnya seperti gaya berpakaian dan merubah warna rambut yang sama dengan idolanya, serta menggunakan bahasa Korea dalam percakapan sehari-hari.
Namun hal ini sangat jarang dilakukan oleh para fanboy. Kepada peneliti, mereka mengaku bahwa tidak pernah merubah penampilan dengan Koreaan style. Mereka
juga tidak menjadi penikmat makanan Korea hanya karena status seorang K-Popers. Bahkan mereka tidak pernah menggunakan bahasa Korea dalam kehidupan sehari-sehari, kecuali saat berada dalam suatu event K-Pop. Menjadi seorang K-Popers tidak serta merta menjadikan para para fanboy ini menjadi konsumen produk-produk budaya Korea. Jal ini sangat berbeda dengan para fangirl yang sebagian besar mengaku manjadi konsumen dari produk budaya Korea.
“pasti lah (menyukai produk budaya Korea). Setelah jadi K-Popers kan, apa lagi nonton drakor (drama Korea) juga, kaya makanannya, minumnya, jadi suka juga kan. Kaya tteokbokki kan, seminggu kayanya harus (makan) pasti. Pernah juga nyoba yang soju itu loh. Skincare juga sekarang kan nyari nya yang brand Korea lah. Trus apa lagi ya. ngomong tuh pasti ada Korea Korea nya. Tau kan. Kaya annyeong, sharangeo, apa lagi kalo lagi sama anak ARMY kan, pasti lah ala ala Korea seringnya.” Ucap Sifa, yang merupakan salah satu anggota fanbase ARMYELS Medan.”
Fangirl dan Fanboy yang peneliti temui juga memiliki perbedaan dalam hal mengelola emosi, khusunya dalam media sosial. Peneliti melihat bahwa para fangirl cenderung mudah terpancing emosi saat ada orang yang menjelekkan idolanya. Karena itu lah para fangirl ini pernah atau sering terlibat fanwar baik itu dengan Popers yang berbeda fandom atau pun dengan mereka yang non K-Popers. Hal ini sering mengakibatkan munculnya perilaku agresif verbal di sosial media oleh para K-Popers. Dan diantara para fangirl yang peneliti temui, semua pernah terlibat fanwar di sosial media, yang bahkan sampai merusak hubungan di dunia nyata. Namun hal ini tidak dialami oleh para fanboy yang peneliti wawancara. Mereka mengaku tidak pernah terlibat fanwar selama menjadi
K-Popers. Meskipun sering menerima komentar tidak enak karena hobinya tersebut, mereka lebih memilih untuk mengabaikannya dan menganggap wajar jika ada yang tidak menyukai K-Pop. Mereka tidak ingin terlibat dalam sebuah perkelahian atau perdebatan yang menurutnya tidak penting. Hal ini lah yang membuat para fanboy ini tetap dapat bergaul dan beteman dengan mereka yang non K-Popers.
Sedangkan para fangirl cenderung memiliki kesulitan untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan K-Popers.