• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGALAMAN FANATISME INFORMAN

3.1. Informan Sebagai K-Popers

3.1.3. Informan III (Admin Fanbase ONCE Medan)

Informan ketiga adalah seorang admin dari Fanbase ONCE Medan, bernama Vanderic Vierri. Pria berusia 21 tahun ini adalah seorang mahasiswa di salah satu universitas swasta di Kota Medan. Selain berstatus mahasiswa, Van juga sedang merintis suatu usaha yang dikelola bersama-sama dengan teman-temannya. Sudah terhitung dua tahun sejak Van menjadi seorang ONCE, tepatnya pada bulan April 2018. Di tahun yang sama pula, Van begrabung dengan fanbase ONCE Medan. Untuk bias sendiri, Van sangat mengidolakan Nayeon TWICE. Sejak pertama kali memutuskan menjadi ONCE, pilihan biasnya belum pernah berubah.

 Awal Menjadi K-Popers

Menjadi seorang K-Popers adalah kejadian tidak terduga bagi Van. Karena diakui, semula dia bukanlah orang yang suka mendengarkan musik K-Pop.

Namun memiliki adik perempuan yang merupakan seorang K-Popers, menjadi pembuka jalan bagi Van untuk mengenal dan menyukai K-Pop. Adik Van yang merupakan seorang K-Popers, tepatnya fans dari BTS, sering memutar dan menonton berbagi lagu dan video tentang BTS. Namun tidak hany BTS, sang adik juga kerap memutar lagu-lagu dari artis K-Pop lainnya.

Karena hal ini, akhirnya Van mulai terbiasa dengan lagu-lagu K-Pop. Van pun mulai mencari musik K-Pop dan memutarnya sendiri. Ini lah menjadi awal mula Van menjadi seorang K-Popers.

“kan saya punya adik perempuan, yang umurnya itu lima tahun dibawah saya, nah itu, adik saya itu suka K-Pop, dia demennya sama BTS sih dulu, kemaren. Kan sering puter-puter (musik dan video K-Pop) di rumah. Nah jadi dari dia mulai tau K-Pop itu apa. Oh ada, ada budaya yang seperti ini. Dari Korea. Nah mulai, sering dengerin dia, dengerin K-Pop, di rumah gitu ato di mobil pas lagi perjalanan, nah jadi setelah tau K-Pop itu apa, ternyata kecantolnya sama grup yang namanya TWICE.”

 Alasan Menyukai TWICE

Setelah mengenal dan mulai meyukai musik K-Pop, Van sendiri sebenarnya mendengarkan banyak musik K-Pop. Mulai dari boyband hingga girlband. Namun dari sekian banyak lagu-lagu K-Pop yang dia dengarkan, musik TWICE lebih menarik perhatiannya. Menurut Van, lagu-lagu TWICE sangat playfull dan cheerfull. Musik mereka memiliki melodi yang menyenangkan. Dikatakan oleh Van, mendengarkan musik TWICE terkadang dapat memperbaiki suasana hatinya. Ketika dia sedang berada dalam mood yang kurang baik, dengan mendengarkan musik TWICE bisa mengembalikan suasana hatinya menjadi lebih baik. Selain itu, Van yang mengaku memiliki

kepribadian yang cukup tertutup mengatakan bahwa dia menyukai musik dengan irama-irama yang riang, karena dapat membangkitkan semangatnya.

Alasan lain yang membuat Van jatuh hati kepada TWICE adalah karena semua member TWICE sangat cantik. Jadi sejak mendengarkan lagu-lagu mereka, Van mulai mencari tahu lebih dalam tentang TWICE. Dia mulai mengikuti setiap informasi masing-masing member, dan sering menonton berbagai video mereka seperti variety show dan documenter lainnya.

“setelah tau K-Pop itu apa, nah ternyata kecantolnya sama TWICE. Nah itulah grup pertama yang saya demen, dan saya ikuti secara per membernya. Maksudnya, member-membernya ngapain aja. Kenapa bisa jadi TWICE itu, gini, sebenernya saya pas pertama kali kenal (K-Pop) itu, saya denger banyak. Baik itu boygroup, atau girlgroup saya denger banyak. Nah jadi pas saya denger TWICE, itu lagunya menurut saya itu agak, saya sebenernya orangnya cenderung introvert, agak pendiem orangnya. Jadi kalo pas saya lagi pas denger lagu TWICE gitu, yang kesannya dulu sangat-sangat cheerful, agak playful gitu, nah saya suka sih sama lagunya. Makanya saya jadi. Oh ini grup nya memang enak. Jadi pelan-pelan denger lebih banyak, baca-baca berita tentang mereka, liat-liat variety show tentang mereka, nah itu sih sebenernya kenapa jadi suka ke TWICE.

Lagu-lagu nya itu pas dengernya, eh jadi enak moodnya, dapet feel gitu, jadi enak moodnya. Trus membernya cantik-cantik pula.”

 Masuk Fandom

Pada saat awal-awal menjadi ONCE, Van tidak mengetahui bahwa ada grup ONCE di kota Medan. Dia tidak mengetahui bahwa ada grup persatuan para penggemar TWICE se kota Medan. Lalu seorang teman kuliah yang juga seorang ONCE mulai memperkenalkan Van denga komunitas tersebut.

Awalnya teman dekat Van tersebut mengundang atau memasukkan Van ke

dalam grup chat ONCE Medan tanpa memberitahunya terlebih dahulu.

Karena hal tiba-tiba tersebut, Van pun sempat terkejut di awal. Namun setelah diyakinkan oleh sang teman, akhirnya Van pun setuju dan mau mencoba untuk masuk ke dalam fanbase tersebut. Karena kepribadiannya yang cukup tertutup, awalnya Van memiliki kesulitan untuk bersosialisasi dalam komunitas. Pada masa-masa awal, dia hanya banyak terdiam dan menyimak apa yang dibicarakan di grup. Dia juga belum berani menampilkan diri karena merasa masih K-Popers baru yang belum memiliki banyak pengalaman. Namun seiring berjalannya waktu, dengan bantuan teman-teman ONCE Medan, Van dapat menyesuaikan diri dengan baik.

“jadi awalnya itu saya masuk, sebenernya saya gatau ada ONCE Medan ini, Cuma teman saya yang di kuliah ini, masukkan saya ke grup nya, tanpa ada bilang, Van ada grup ni, mau gak masuk, gak ada bilang gitu. Jadi asal masukkan aja. masih baru juga kan di K-Pop, belum tau tentang TWICE, jadi gak bisa bilang sesuatu yang memang, istilahnya berbobot lah.

Itu sih. Setelah saya ikutin hitungan sebulan, dua bulan, baru aku bisa nyesuaikan diri ke dalamnya.”

 Menjadi Admin Fanbase

Van bukanlah founder atau owner dari fanbase ONCE Medan. Namun saat ini Van adalah admin yang bertanggung jawab untuk mengurus fanbase tersebut. Saat Van bergabung dalam fanbase tersebut, anggota yang berada di dalamnya sekitar 40 sampai 50 orang. Dan seperti kebanyakan fanbase pada

umumnya, tidak semua anggota memiliki keaktifan yang sama. bahkan diakui oleh Van, jika dalam suatu fanbase¸ persentase anggota yang aktif tidak pernah mencapai 50%. Lalu dengan keadaan seperti itu, admin yang juga merupakan founder dari ONCE Medan yang pada saat itu ingin istirahat dari kegiatan fanbase karena alasan kuliah, harus mencari orang yang dapat bertanggung jawab atas komunitas tersebut. Founder yang juga cukup dengan Van pun memutuskan untuk mencalonkan Van menjadi admin dari fanbase mereka. Hal ini dilakukan karena Van cukup aktif dalam berbagai kegiatan komunitas mereka. Van sering membantu setiap kali ada event yang diselenggarakan oleh ONCE Medan. Selain itu, menurut Van, alasan lain dirinya dipercaya menjadi seorang admin adalah karena pengalamannya dalam suatu organisasi. Saat duduk di bangku sekolah menengah atas, Van pernah menjabat menjadi seorang ketua OSIS. Hal ini membuat dirinya memiliki kemampuan memimpin suatu organisasi atau komunitas. Yang mana sangat sesuai untuk kualifikasi admin suatu komunitas penggemar. Lalu setelah dicalonkan oleh founder, hal ini pun dibahas bersama-sama dengan semua anggota fanbase ONCE Medan. Dan semua anggota dalam grup tersebut pun setuju Van menjadi admin yang bertanggung jawab atas ONCE Medan. Setelah resmi menjadi admin, Van pun memilih admin-admin lain yang akan membantunya bekerja selama dia menjadi penanggung jawab atas ONCE Medan. Kriteria yang ditetapkan oleh Van adalah mereka yang dirasa cukup aktif dan mampu bekerja sama dengan baik dalam satu tim.

“setelah owner nya, yang buat, mulai sibuk sama kuliahnya, akhirnya di turunkan lah ke aku gitu, sebagai yang megang

sementara. Sama owner nya ini sendiri aku udah lumayan deket.

Nah jadi selelum saya jadi yang handle ONCE Medan sekarang juga, saya udah banyak bantu-bantu sebenernya. Dan itu (saat) owner udah mulai sibuk sama kuliah, membernya ( ONCE Medan) itu baru 40-50. Itu juga yang aktif itu Cuma sekitar 20.

Kita tau lah ya kan, namanya grup-grup yang begitu. Jadi disitu saya udah bantu banyak, tambah lagi saya ada pengalaman-pengalaman organisasi, saya di sekolah itu pernah jadi ketua OSIS. Jadi istilahnya saya tau lah, bagaimana cara mengatur orang. Nah jadi dari situ, kita bahas kira-kira siapa yang enak, terakhir kan semuanya setuju saya yang pegang. Lagian emang diambil keputusannya sama satu grup itu. Nah jadi saya yang pilih, kamu, kamu bisa bantu aku gak. Nah aku cari lagi orang-orangnya (admin lainnya).”

Alasan lain yang membuat Van mau menerima tugas sebagai seorang admin adalah karena akan sangat disayangkan jika fanbase ini terhenti hanya karena tidak ada yang mengurus. Pada saat itu juga TWICE sedang naik daun, dan fanbase ONCE Medan sendiri mengalami peningkatan jumlah member yang cukup pesat. Karena setiap harinya ada member baru yang masuk, jadi sangat disayangkan jika fanbase tersebut tidak diurus dengan baik.

 Pemahaman Tentang TWICE

Pada masa-masa awal menjadi K-Popers, Van tidak terlalu paham tentang TWICE. Pemahamannya tentang masih sangat sedikit. Namun karena dia sangat menyukai girlband asuhan JYP Entertainment tersebut, dia sangat sering mencari informasi terkait mereka. Contohnya seperti tahun debut, single pertama yang dibawakan oleh TWICE, berbagai video variety show mereka, dan hal-hal lain terkait dengan TWICE. Menurut Van, saat ini pemahaman tentang idolanya tersebut sudah dapat dikatakan mencapai 80%.

“ awalnya enggak (tidak paham tentang TWICE), Cuma karna itu lah tadi, karna karna sering cari tahu, sering nonton variety show, jadi akhirnya tahu sih. Untuk sekarang sih bisa dibilang ya, mungkin 80% lah saya tahu, maksudnya, semuanya itu (pemahaman tentang BTS).”

 Perubahan Setelah Menjadi K-Popers

Bagi Van, menjadi seorang K-Popers yang tergabung dalam suatu fanbase membawa beberapa perubahan dalam hidupnya. Setelah dia bergabung dengan ONCE Medan, perubahan paling besar yang dirasakan oleh Van adalah dalam hal pergaulan. Dia yang sebelumnya merupakan pribadi yang cukup tertutup dan tidak pandai bergaul, manjadi lebih supel. Dulu Van hanya memiliki beberapa teman yang hanya terbatas di ruang lingkup kampus saja.

Namun setelah menjadi ONCE dan tergabung dalam fanbase, Van mendapat banyak teman baru. Van sendiri menjadi pribadi yang mudah akrab dengan orang lain. Hal tersebut di sebabkan oleh teman-teman ONCE lain yang selalu berusaha mencoba dekat dengannya. Hingga pada akhirnya dia pun mulai terbiasa dengan kehadiran orang-orang baru disekitarnya dan secara tidak langsung melatih kemampuan komunikasinya.

Van tidak hanya mendapatkan teman-teman baru yang berasal dari ONCE Medan saja. Statusnya sebagai seorang admin fanbase membuatnya mendapatkan teman dari fanbase-fanbase lain di kota Medan. Terlebih saat ada acara K-Pop yang mengumpulkan berbagai fanbase se kota Medan, pada kesempatan ini lah Van dapat bertemu dengan orang-orang diluar dari komunitas ONCE Medan. Van sangat senang karena hobinya ini dapat

memberikan dampak positif baginya, yaitu memperluas pergaulan. Van bersyukur karena melalui status sebagai seorang ONCE, dapat membantunya untuk pelan-pelan menjadi pribadi yang terbuka kepada orang lain.

“untuk perbedaanya (setelah mengenal TWICE) lebih ke pergaulan sih. Sebelumnya itu, tuh saya orangnya agak pendiam, bahkan gak mencoba untuk cari temen-temen baru gitu. Jadi yang saya kenal tuh yang di sekolah sama yang di kuliah, udah itu aja cukup. Gak usah banyak-banyak. Dan setelah kita tahy TWICE, fandom lagi kan, tambah lagi. Ada temen-temen lagi admin-admin dari fandom yang lain. Nah itu sih. Perbedaanya lebih ke, pertama itu sih lebih ke pergaulan sih. Itu yang paling saya rasakan.”

 Membeli Merchandise dan Menonton Konser

Van termasuk salah seorang fans yang rajin membeli berbagai merchandise TWICE. Beberapa merchandise yang dimiliki oleh Van seperti album, lightstick, dan berbagai photocard dari member-member TWICE.

Bahkan setiap TWICE melakukan comeback, Van selalu membeli album mereka. Van sendiri bahkan memiliki dua lightstick TWICE. Hal ini dilakukan karena menurut Van, sebagi seorang fans yang baik, memang ada baiknya jika mendukung idola dengan cara membeli album ataupun berbagai merchandise lainnya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk dukungan atas kerja keras dari idolanya. Van juga sudah pernah menonton konser TWICE sebanyak dua kali. Tepatnya pada tahun 2018 saat TWICE mengunjungi

Jakarta, dan pada tahun 2019 saat TWICE menggelar konser di Malaysia.

Kegiatan menonton konser ini dilakukan bersama-sama beberapa teman dari ONCE Medan.

“aku sih, kalau namanya beli album, ato merchandise, itu sih, menurut aku ya, sebagai memang fans yang baik, ya wajar lah dilakukan. Ya aku pribadi memang, album tuh selalu beli kalau comeback, ya gak banyak memang. Kalau konser udah dua kali sih. Kemarij di Jakarta dua tahun lalu, dan tahun lalu itu di Malaysia. Dan itu memang, perginya juga rame-rame, bareng-bareng temen-temen di fandom semua.”

 Fanboying di Kantor

Fanboying adalah kegiatan menyukai seorang idola K-Pop yang dilakukan oleh pria. Orang yang melakukan fanboying biasanya disebut sebagai fanboy.

Van termasuk salah satu fans yang melakukan fanboying di kantor. Dia turut membawa TWICE ke dalam kehidupan pekerjaannya. Di kantor, meja kerjanya yang dilapisi kaca selalu ditempel dengan foto-foto TWICE. Bahkan saat TWICE melakukan comeback, Van akan membawa album baru tersebut ke kantornya sembari menawarkan teman-teman kantor untuk mendengarkan lagu baru TWICE. Hal tersebut dilakukan dengan harapan, teman-temannya akan menyukai TWICE, dan dapat bergabung menjadi fans TWICE. Hal ini merupakan salah satu cara yang dilakukan Van untuk menunjukkan statusnya sebagai seorang ONCE. Van tidak terlalu sering melakukan fanboying di sosial media, seperti postingan sosial media, yang banyak dilakukan oleh para K-Popers. Karena Van sendiri adalah orang yang jarang bermain sosial

media. Karena hal tersebut lah, dia berusaha melakukan fanboying secara langsung.

“soalnya di kantor, kantor aku sendiri, kan mejanya meja kaca, ya di bawahnya ku selipkan juga foto-foto TWICE sih. Jadi ya menurut ku, selagi gak merugikan orang ya gak masalah. Dan kadang bahkan kalo aku beli album baru, itu sering ku bawa juga ke kantor, ku tawarin nih ke temen-temen ku, apa lagi yang cewe-cewe kan, yang seumuran. Eh ini, TWICE ada album baru nih, kau tengok lah ini, jadi nanti mereka buka, oh cantik-cantik, gini-gini. Harapan ku sih mereka suka, trus mana tau tertarik kan, mau join juga, penasaran. Kalo sosmed, aku jarang. Karna aku sendiri emang jarang pake sosmed. Jadi jarang sih aku kaya posting-posting gitu, jarang.”

 Tanggapan Lingkungan dan Orangtua

Menjadi seorang K-Popers di lingkungan yang masih banyak orang tidak menyukai K-Pop membuat Van beberapa kali menerima kritikan dari orang sekitarnya. Menurut Van, beberapa kali teman-temannya menyampaikan keberatan denga hobinya tersebut. Menurut teman-temannya, tidak wajar bagi seorang pria menyukai K-Pop. Itu adalah hal cukup memalukan. Namun kritikan tersebut di sampaikan kepada Van dengan cara yang baik, sehingga Van sendiri pun dapat menerimanya. Van tidak merasa terganggu dengan pandangan teman-temannya. Dia juga tidak pernah merasa sakit hati. Karena baginya, setiap orang memiliki pendapat yang berbeda-beda. Jadi wajar saja jika ada dari orang sekitarnya yang tidak menyukai K-Pop. Dia pun tidak bisa memaksa semua temannya untuk menyukai K-Pop. Van juga selalu menerapkan pola piker, bahwa orang-orang tidak menyukai hobinya tersebut

hanya tidak suka kepada K-Pop saja, bukan kepada dirinya. Jadi itu sama sekali tidak membuat dirinya sakit hati.

“ya kalo di katain, pernah sih. Kalo itu pasti pernah. Ada beberapa kawan-kawan juga, apa lagi yang cewe ya, ada yang ngomong, aku sih gak suka kalo cowo suka-suka K-Pop gitu.

Aku tanggepinnya sih, bukan karna mereka bilang aku buruk sih, aku tanggapannya berarti mereka belum ada rasa suka ke K-Pop itu. Ke K-Pop ya, bukan ke aku nya. Jadi aku gak pernah merasa tersinggung sih. Cuma aku emang belum pernah ketemu sama orang yang benar-benar anti K-Pop gitu, belum pernah.

Mereka (teman-teman) Cuma risih aja sama cowo yang suka K-Pop, gitu.”

Berbeda dengan respon dari teman-temannya yang sering merasa risih atau atau tidak suka dengan hobi fanboying nya, orangtua Van sendiri tidak merasa keberatan dengan hobinya tersebut. Van mengaku tidak pernah dilarang untuk menyukai idol K-Pop. Terlebih orangtua Van memang sudah terbiasa memiliki anak seorang K-Popers, mengingat adik kecilnya yang juga seorang pecinta K-Pop. Bahkan sang adik pernah menularkan hobi nya tersebut kepada ibu mereka. Menurut Van, sang ibu pernah menjadi fans dari idol K-Pop bernama WANNAONE, sebelum grup tersebut bubar. Van dan sang adik bahkan sering mendengarkan musik K-Pop bersama orangtua mereka. Sang ayah yang bukan merupakan K-Popers sampai hafal beberapa bait lagu K-Pop jika diputar di rumah.

“tanggapan orangtua, sebenenya mereka gak melarang. Mereka istilahnya hanya penasaran aja. Kok bisa sih suka begituan, gitu aja sih. Cuma gak pernah bilang, oh itu buruk, atau itu gak boleh, gak penah. Jadi begitu aku terjun ke K-Pop pun, sebenernya orangtua udaj gak asing sama K-Pop, karna kan tadi dah ku bilang juga, adikku kan juga sering puter-puter lagu K-Pop tuh. Kalo nonton youtube, nontonnya juga variety show

K-Pop. Jadi kalo di keluarga ku sih, udah wajar sih. Gak ada istilahnya bilang, oh K-Pop itu buruk, atau K-Pop itu gimana.

Justru dulu tuh sempat, mama ku sendiri di kenalin sama adikku, ke WANNAONE, dan kecantol gitu. Jadi ibu sendiri juga udah pernah ngalamin hal yang sama. Kalo bapak. Kalo lagu di putarin, di nyanyikan reff nya sama-sama. Cukup diterima lah, kalo keluarga ku ya. Selagi suka ya suka, udah gitu aja.”

Untuk pengeluaran materi yang dihabiskan Van selama menjadi seorang ONCE sendiri tidak mendapat larangan keras dari orangtua. Meskipun sempat disindir beberapa kali karena terus menerus membeli merchandise TWICE, namun orangtuanya tidak pernah memberikan larangan keras untuk tidak belanja berbagai merchandise tersebut. Bagi orangtua Van, selagi uang yang dipakai tersebut adalah uang sendiri dan tidak memberatkan orangtua, maka tidak jadi masalah. Namun di awal-awal menjadi ONCE, Van semat takut membeli merchandise karena harganya yang mahal. Karena hal tersebut lah, di awal-awal masa fanboying Van selalu berbohong tentang harga merchandise yang dia beli. Saat harga satu album bisa mencapai 500.000, Van akangan mengatakan kepada orangtuanya bahwa dia membeli album tersebut dengan keadaan second dan hanya dihargai 150.000. Namun seiring berjalannya waktu, orangtua Van dapat mengetahui harga berbagai merchandise yang dibeli melalui internet.

“kalo aku beli merchandise atau album-album gitu, pandangannya, aku gatau sih, Cuma menurut aku sih, gak negatif cuma gak positif juga. Cuma sekedar bilang, ha beli terus, jajan terus. Gitu aja sih. Kemaren aku ke konser juga, orangtua juga tau. Selagi kita mempergunakan uang kita sendiri, uang pribadi, gak memberatkan orangtua, orangtua aku sih fine fine aja. Pas pertama-tama itu masih takut-takut. Jadi

masih ngakal-ngakalin harganya. Nanti belinya 500.000 bilangnya Cuma 150.000. ato bilang beli second gitu.”

 Memajang Album di Café

Berbeda dengan fans K-Pop kebanyakan yang akan menyimpan dan merawat album-album idol merek dengan baik di dalam kamar, Van justru memajang semua album TWICE miliknya di sebuah cafe kopi langganan mereka. Cafe tersebut bernama Halifax Coffee Corridor yang terletak di Jl.

Yose Rizal No.43, Kota Medan. Di cafe ini lah Van dan para anggota ONCE Medan mengadakan berbagai acara mereka. ONCE Medan sudah menjadi langganan tetap di tempat ini, karena setiap kali ONCE Medan mengadakan event, mereka akan menyelenggarakannya di cafe tersebut. Selain iyu, salah satu member ONCE Medan juga ada yang bekerja di temoat tersebut. Karena itu lah Van dan anggota ONCE Medan sudah kenal dan cukup dekat dengan pemilik cafe. Karena hubungan yang terjalin baik ini, pemilik cafe pun tidak keberatan saat Van ingin memajang album-album miliknya di etalase cafe.

Hal ini dilakukan Van sebagai salah satu aksi untuk mempromosikan TWICE kepada orang-orang yang datang ke tempat tersebut. Van berharap dengan

Hal ini dilakukan Van sebagai salah satu aksi untuk mempromosikan TWICE kepada orang-orang yang datang ke tempat tersebut. Van berharap dengan