• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Konsep Teoretik

2.1.5 Fenomena Covid-19

Virus covid-19 menyebabkan penyakit flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS-CoV) dan Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS-(MERS-CoV). Virus covid-19 ialah zoonotic yang artinya ditularkan antara hewan dan manusia.

Berdasarkan Kementerian Kesehatan Indonesia, perkembangan kasus covid-19 di Wuhan berawal pada tanggal 30 Desember 2019 dimana Wuhan Municipal Health Committee mengeluarkan pernyataan “urgent notice on the treatment of pneumonia of unknown cause” (Hanoatubun, 2020). Menurut Muaz, dkk (2020) Penyebaran virus covid-19 sangat cepat bahkan sampai ke lintas negara. Penyebaran virus covid-19 yang

19

telah meluas ke berbagai belahan dunia membawa dampak pada pendidikan di Indonesia.

Covid-19 merupakan sekumpulan virus yang dapat menginfeksi sistem pernapasan. Dampak dari virus tersebut dapat menyebabkan infeksi pernapasan ringan, infeksi pernapasan berat seperti pneumonia, dan lebih lanjut lagi menyebabkan kematian yang selalu bertambah di setiap harinya. Akibat dari virus covid-19 ini tidak hanya menimbulkan gejala dan penyakit fisik saja, tetapi berpengaruh besar terhadap kesejahteraan masyarakat Indonesia yang didalamnya mencakup kesehatan mental. Tekanan selama pandemi berlangsung dapat menyebabkan beberapa gangguan diantaranya ketakutan dan kecemasan yang berlebihan terhadap diri sendiri maupun orang-orang terdekat, perubahan pola tidur dan pola makan, rasa tertekan dan sulit berkonsentrasi, bosan dan stress karena terus-menerus berada di rumah, terutama anak-anak (Ilpaj & Nurwati, 2020).

Covid-19 menurut Agung (2020) merupakan varian dari virus-virus yang pernah melanda dunia seperti SARS, flu burung, flu babi, dan MERS namun mudah menular. Dengan waktu yang sangat cepat virus ini sudah menyebar ke seluruh negara di dunia.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa covid-19 merupakan virus yang dapat menular dengan cepat. Virus tersebut dapat menginfeksi saluran pernapasan ringan, infeksi saluran pernapasan berat, bahkan dapat menyebabkan kematian.

2.1.5.2 Fenomena Covid-19

Wulandari, dkk (2015) fenomena merupakan rangkaian peristiwa yang luar biasa dalam kehidupan di dunia. Fenomena dapat terjadi secara tidak terduga dan tampak mustahil dalam pandangan manusia.

Fenomena covid-19 memicu timbulnya berbagai analisis tentang dampak yang terjadi dan respon yang harus disiapkan untuk menghadapi peristiwa ini. Agung (2020) menyebutkan pandemi covid-19 menyebar secara cepat dan luas sehingga mengakibatkan perubahan signifikan

20

pada berbagai aspek kehidupan masyarakat. Pandemi covid-19 telah menyebarkan ketakutan, kecemasan, dan kepanikan secara cepat di seluruh dunia.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa fenomena covid-19 merupakan peristiwa yang terjadi secara tidak terduga dan menyebabkan berbagai ketakutan di berbagai aspek masyarakat.

21 2.2 Kajian Penelitian Relevan

Berdasarkan penelitian yang sejenis dengan topik penelitian yang akan dilaksanakan, ada penelitian-penelitian terdahulu yang telah dilaksanakan. Berikut beberapa penelitian terkait yang akan dijadikan kajian pustaka dalam penelitian ini disajikan dalam tabel 1.

Tabel 1. Kajian Penelitian Relevan

No Nama Peneliti Tahun Kajian Utama Relevansi

Persamaan Perbedaan

1 Dewi Wulandari dan

Hartono

2018 Mengkaji respons estetis anak usia 6-11 tahun terhadap pertunjukan Kesenian Barongan Sindhung Riwut di kabupaten Blora. Bentuk respons estetis diuraikan melalui tiga sub pokok bahasan yaitu: karakteristik penonton anak usia 6-11 tahun, proses berapresiasi anak terhadap Kesenian

Hasil penelitian Dewi Wulandari dan Hartono memepertegas penelitian yang akan saya lakukan karena menggunakan metode pada penelitian saya anak mengungkapkan respons dari peristiwa yang dialami dalam bentuk gambar

22 Barongan Sindhung Riwut, dan bentuk respons estetis penonton melalui serakan.

2 Bakti Sutopo, Agoes

Hendriyanto, dan Arif Mustofa

2019 Mengkaji respons estetis generasi muda terhadap Pertunjukan Seni Kethek Ogleng pada kegiatan road show di objek wisata kabupaten Pacitan. Bentuk respons estetis diuraikan melalui gerakan.

Penelitian yang dilakukan oleh Bakti Sutopo, Agoes

Hendriyanto, dan Arif Mustofa mendukung penelitian yang akan saya lakukan karena menggunakan metode

penelitian kualitatif dan sama-sama mengkaji respons estetis

Penelitian Bakti Sutopo, Agoes Hendriyanto, dan Arif Mustofa meneliti generasi muda dengan usia maksimal 15-30 tahun, penelitian saya meneliti anak-anak dengan usia 9-12 tahun. Penelitian tersebut mengapresiasi terhadap kesenian dengan melihat gerak dan aktivitas generasi muda saat melihat kesenian sedangkan pada penelitian saya anak

mengungkapkan respons dari peristiwa yang dialami dalam bentuk gambar

23 3 Muhammad

Rosyid

2016 Peningkatan kreativitas menggambar ilustrasi

menggunakan metode inkuiri terbimbing pada siswa kelas IV di SDN Ngancar

Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Rosyid

mendukung penelitian yang akan saya lakukan karena menggambar ilustrasi anak, pada penelitian saya menggambar dilakukan untuk

2019 Menganalisis karya gambar ilustrasi teknik arsir siswa kelas VIII SMP Swasta Tunas Karya Batang Kuis

Penelitian yang dilakukan oleh Taqiyyah Ulfah dan

Dwi Budiwiwaramulja mendukung penelitian yang akan saya lakukan karena sama-sama menganalisis gambar dinilai sesuai dengan ketepatan proporsi,

penempatan, konsep, karakter, dan konsistensi.

Pada penelitian saya gambar tidak dinilai tetapi lebih menekankan makna dari peristiwa yang dialami anak

24 5 Anik Rahmawati 2014 Pembelajaran menggambar

ilustrasi kartun siswa kelas VIII E SMP Negeri 1 Keling kecamatan Keling kabupaten Jepara dengan tema

lingkungan sekolah. Dalam menggambar ilustrasi kriteria gambar yang dinilai adalah sesuai dengan tema, kebersihan karya, Teknik pewarnaan, dan hasil karya.

Penelitian yang dilakukan oleh Anik Rahmawati mendukung penelitian yang akan saya lakukan karena sama-sama menunjukkan hasil karya anak gambar ilustrasi dan

memberikan respons terhadap suatu hal

Penelitian Anik Rahmawati meneliti hasil karya gambar ilustrasi dengan kriteria penilaian yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah berdasarkan aspek kesesuaian tema, ide, kebersihan karya, teknik pewarnaan, dan hasil karya untuk mengevaluasi

pembelajaran. Penelitian yang saya lakukan tidak

mengevaluasi hasil karya namun lebih menekankan makna dari peristiwa yang dialami anak

25 2.3 Kerangka Berpikir

Anak-anak di desa Jatisari memiliki daya ketertarikan rendah terhadap pendidikan seni. Padahal pendidikan seni sangat penting bagi anak-anak untuk menuangkan apa yang dilihat dan dirasakan dalam lingkungannya melalui karya-karya seni.

Rendahnya daya kreativitas anak-anak terhadap seni menggambar semakin didukung dengan adanya virus covid-19 yang membuat anak-anak semakin bermalas-malasan.

Adanya fenomena covid-19 memicu berbagai respon yang terjadi dalam menghadapi pandemi tersebut.

Dari permasalahan yang ada maka peneliti akan menganalisis respons estetis terhadap fenomena covid-19 pada anak-anak di desa Jatisari Nalumsari Jepara.

Berikut adalah skema alur kerangka berpikir pada penelitian ini yaitu:

Gambar 1. Bagan Kerangka Berpikir Fenomena Covid-19

Anak

Gambar Anak

Respons Estetis Hasil

Proses

Respons Karya

Stimulus

26 2.4 Kerangka Teori

Kerangka teori merupakan keterkaitan antara teori yang digunakan sebagai dasar penelitian yang disajikan dalam bentuk bagan sebagai berikut.

Gambar 2. Bagan Kerangka Teori

Berdasarkan bagan diatas penggunaan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori estetika. Estetika merupakan ilmu yang

Respons Estetis Karya Gambar Anak Ilustrasi dalam Fenomena Covid-19 di Desa Jatisari Jepara

Teori Estetika

Menurut Djelantik (2004) estetika adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan

dengan keindahan, mempelajari kebenaran keindahan dari segala aspek, dan

mengungkapkan secara umum

27

mempelajari tentang keindahan. Keindahan yang dimaksudkan adalah keindahan karya seni yang dapat dilihat oleh panca indra. Dari keindahan tersebut terjadi respons. Respons merupakan tanggapan seseorang terhadap suatu karya seni. Proses terjadinya respons diawali dengan melihat, menerima, menanggapi, dan menanggapi subjek yang diamati. Setiap orang memiliki respons yang berbeda-beda. Apalagi seorang anak yang memiliki karakteristik berbeda-beda pula. Karakteristik merupakan kualitas mental dan akhlak seseorang yang membedakan dirinya dengan individu lain. Dari karakter yang berbeda-beda anak mampu merespons suatu karya melalui gambar ilustrasi. Gambar ilustrasi ialah gambar yang memiliki tema atau peristiwa tertentu yang fungsinya memberikan penjelasan.

28 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Menentukan tempat penelitian merupakan hal yang sangat penting sebelum penelitian dilakukan. Pemilihan tempat dilakukan untuk mengetahui kondisi tempat penelitian. Penelitian ini dilakukan di desa Jatisari, kecamatan Nalumsari, kabupaten Jepara. Adapun waktu penelitian direncanakan pada bulan maret tahun 2021.

3.2 Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitiatif. Mekarisce (2020) penelitian kualitataif merupakan proses mengeksplorasi dan memahami perilaku yang dilakukan oleh kelompok atau individu dan menggambarkan terjadinya permasalahan dalam bidang sosial maupun kemanusian. Penelitian ini akan mengamati terjadinya perubahan-perubahan akibat adanya fenomena covid-19 yang sulit untuk dipahami secara memuaskan.

Penelitian kualitatif ini dilaksanakan menggunakan beberapa informan untuk memahami respons yang terjadi berkaitan dengan penyakit, kesehatan, pendidikan, ekonomi, maupun perubahan perilaku yang terjadi akibat fenomena covid-19. Dengan adanya informasi yang luas dan berbeda-beda dari masing-masing anak, peneliti dapat menggali informasi secara intens mengenai respons anak-anak terhadap fenomena covid-19 yang sedang terjadi.

Karakteristik penelitian kualitatif yaitu dilakukan dalam kondisi alamiah dan peneliti langsung ke sumber data, menyajikan data dalam bentuk kata-kata atau gambar, tidak menekankan pada angka-angka, mengutamakan poses disbanding produk, melakukan analisis data secara induktif, dan lebih menekankan makna dari data yang diamati (Sugiyono, 2013). Maka penelitian dilakukan secara mendalam dan sangat hati-hati,

29

mencatat fenomena yang ditemui, melakukan analisis berbagai dokumen yang didapatkan, dan menyusun sebuah laporan secara detail.

Dalam penelitian kualitatif instrumennya adalah orang dan isntrumen kuncinya adalah peneliti maka peneliti harus memiliki wawasan dan pemahaman teori untuk mendapatkan pandangan yang luas tentang apa yang akan dikaji. Peneliti harus memiliki kemampuan dalam bertanya, menganalisis, mendokumentasikan, dan menjadikan objek yang diteliti menjadi jelas dan bermakna. Karena data merupakan komponen yang sangat penting, sebab data inilah yang akan digunakan untuk sumber menganalisis data yang kemudian ditarik menjadi sebuah kesimpulan.

Sehingga data yang diperoleh dalam penelitian ini harus memenuhi syarat keabsahan data. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respon estetis fenomena covid-19 dalam karya gambar ilustrasi pada anak-anak di desa Jatisari Nalumsari Jepara.

Pada penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian fenomenologi. Kurniadi (2011) menjelaskan bahwa penelitian fenomenologi mengungkap suatu fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi oleh individu. Penelitian ini dilakukan secara alami tanpa batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji.

Tahapan penelitian fenomenologi menurut Creswell (2013) ada empat langkah yaitu menentukan masalah, menetukan pradigma penelitian, pendumpulan data, dan analisis data.

Berdasarkan uraian diatas, untuk mendesain fenomenologi dapat digambarkan dalam bentuk bagan seperti berikut.

30

Gambar 3. Bagan Penelitian Fenomenologi Menentukan Masalah

Proses respons estetis karya gambar anak ilustrasi

Pengalaman menggambar ilustrasi selama pandemi covid-19

Kontruksi anak dalam

Hasil respons estetis karya gambar anak ilustrasi

31

Dari gambar tersebut dapat diketahui bahwa dalam penelitian fenomenologi tahap awal yang digunakan untuk menyusun deskripsi adalah menentukan masalah. Tipe yang tepat adalah memahami pengalaman yang sama individu atau kelompok. Selanjutnya menentukan paradigma penelitian yaitu pengalaman menggambar ilustrasi selama pandemi covid-19. Mengetahui bagaimana konstruksi anak dalam menggambar ilustrasi.

Dari rumusan masalah dianalisis dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Setelah dianalisis selanjutnya data disimpulkan dan menjadi hasil penelitian.

3.3 Peranan Peneliti

Peranan peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai instrumen dan pengumpul data. Saat pertama kali memasuki lingkungan penelitian, peneliti sebagai penghubung antara informan dengan obyek yang akan diteliti. Saat penelitian berlangsung, peneliti berperan sebagai pendamping informan untukmemudahkan peneliti memperoleh data melalui observasi dan wawancara kepada informan serta memperoleh dokumentasi baik hasil karya maupun foto selama kegiatan penelitian berlangsung. Peneliti bertanggung jawab penuh dengan segala penelitian yang dilakukan, seorang peneliti harus mampu menjadi perencana, pelaksana, pengumpul data, penganalisis, dan menjadi pelapor hasil penelitian yang telah dilakukan.

3.4 Data dan Sumber Data 3.4.1 Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif.

Menurut Trianto (2011) data kualitatif merupakan data yang berupa kata-kata bukan angka. Dalam penelitian ini data kualitatif yang dibutuhkan adalah data hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi yang meliputi dokumentasi arsip hasil karya dan dokumentasi foto kegiatan. Selain itu dapat menggunakan data tertulis yang diperoleh dari para ahli dan penelitian-penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini.

32 3.4.2 Sumber Data

Dalam penelitian kualitatif, penentuan sampel sumber data masih bersifat sementara. Sampel sumber data diambil dari seseorang yang memiliki power terhadap kondisi yang akan diteliti, sehingga dapat menunjukkan bagaimana peneliti akan memperoleh data. Menurut Sugiono (2010) sumber data dibagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder.

Sumber data primer adalah sumber data yang dalam memperolehnya dilakukan secara langsung dari sumber asli dan tidak melalui media perantara. Dalam penelitian ini data primernya yaitu arsip hasil karya ilustrasi gambar dan anak-anak sekolah dasar kelas tinggi di desa Jatisari Kecamatan Nalumsari Kabupaten Jepara.

Penelitian ini dilakukan terhadap anak-anak sekolah dasar kelas tinggi sebanyak 5 orang dengan subjek penelitian memiliki alas an yang unik dan dengan 5 anak tersebut penilit sudah mendapatkan hasil penelitian yang relevan. Adapun sampel sumber data primer yang digunakan untuk penelitian adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Sumber Data Anak-anak SD Kelas Tinggi Desa Jatisari

Sedangkan data sekunder merupakan data yang sudah ada dan telah dikumpulkan oleh lembaga atau organisasi penyelidik sebelumnya.

Artinya sumber data yang diperoleh peneliti dilakukan secara tidak langsung dan melalui media perantara atau telah diperoleh oleh pihak lain.

No Nama Kelas

33

Dalam penelitian ini data sekundernya adalah orang tua, teman, keluarga, dan data pendukung lainnya.

3.5 Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data merupakan langkah utama dalam penelitian untuk mendapatkan data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Metode pengumpulan data ada empat yaitu: observasi, wawancara, dokumentasi, dan gabungan/triangulasi (Sugiyono, 2016). Mengacu pada pendapat tersebut, metode pengumpulan data yang akan dilakukan adalah sebagai berikut

3.5.1 Observasi

Observasi atau pengamatan adalah alat penting untuk mengumpulkan data penelitian kualitataif. Cresewell (2015) menyatakan pengamatan berarti memeperhatikan fenomena di lapangan dengan menggunakan lima indra peneliti yaitu penglihatan, penciuman, pendengaran, sentuhan, dan perasa. pengamatan sering kali dilakukan dengan menggunakan instrument atau perangkat dan merekamnya.

Pengamatan tersebut bertujuan untuk penelitian dan pertanyaan penelitian untuk menyaksikan lingkungan fisik, aktivitas, partisispan, interaksi, percakapan, dan perilaku selama proses penelitian berlangsung. Pengamat yang baik memerlukan keterampilan untuk menanagani berbagai persoalan, seperti potensi kebohongan dari narasumber yang diwawancarai, manajemen kesan, dan potensi ketersingkiran sang peneliti dalam lingkungan yang asing (Hammersley & Atkinson, 1995).

Dalam penelitian ini observasi dilakukan untuk mengetahui keadaan awal dilapangan. Observasi diawali dengan melakukan pengamatan secara langsung tentang keadaan anak-anak berkaitan dengan pendidikan seni dan pemahaman tentang fenomena covid-19 yang ada di masyarakat.

Keadaan yang diamati adalah karakteristik anak, pemahaman anak-anak mengenai ilustrasi gambar, tingkat sekolah dasar kelas tinggi.

Sehingga dapat dijadikan pertimbangan dalam proses penelitian yang akan dilakukan.

34

Pada saat penelitian berlangsung observasi dilakukan ketika anak-anak membahas fenomena covid-19 dengan teman-temannya dan pada saat menggambar ilustrasi tentang fenomena covid-19 yang sedang dialami. Anak-anak akan menuangkan pemikirannya melalui gambar ilustrasi, ekspresi wajah, dan cara mereka berbicara atau berpendapat bersama teman-temannya sesama responden.

3.5.2 Wawancara

Wawancara merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa wawancara (inter-view) adalah suatu kejadian atau suatu proses interaksi antara pewawancara (interviewer) dan sumber informasi atau orang yang diwawancarai (interviewee) melalui komunikasi langsung.

Dapat pula dikatakan bahwa wawancara merupakan percakapan tatap muka (face to face) antara pewawancara dengan sumber informasi, di mana pewawancara bertanya langsung tentang sesuatu objek yang diteliti dan telah dirancang sebelumnya (Yusuf, 2015).

Wawancara ialah pertemuan dua orang untuk tanya jawab dan bertukar informasi untuk menemukan makna pada pembahasan tertentu.

Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dapat berlangsung dengan baik apabila situasi saat wawancara menyenangkan dan dapat saling percaya anatara pewawancara dan narasumber. Pewawancara hendaknya mengupayakan terciptanya suasana yang menyenangkan sehingga narasumber dapat percaya terhadap pewawancara. Wawancara dapat dilakukan di rumah, di sekolah, atau ditempat lain yang memungkinkan wawancara dapat berjalan dengan aman dan teratur.

Dalam peenlitian ini wawancara bertujuan untuk mengumpulkan data mengenai respons anak-anak tentang fenomena covid-19 yang dituangkan melalui gambar ilustrasi. Wawancara dilakukan kepada anak-anak untuk mengetahui pendapat mereka mengenai fenomena covid-19.

35

Hamzah (2020) mengemukakan bentuk-bentuk wawancara yang dapat digunakan dalam memperoleh data. Yaitu wawancara terstruktur, wawancara semi terstruktur, dan wawancara tak terstruktur.

1. Wawancara terstruktur

Wawancara terstruktur digunakan apabila peneliti telah mengetahui informasi yang akan diperoleh secara pasti. Selain membawa instrument yang telah disiapkan sebagai pedoman wawancara, peneliti juga dapat menggunakan alat bantu seperti tape recorder, gambar, brosur, dan lain-lain.

2. Wawancara semi terstruktur

Wawancara semi terstruktur dalam pelaksanaannya lebih bersifat bebas. Wawancara ini digunakan untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka. Peneliti meminta narasumber untuk memberikan pendapat dan ide-idenya.

3. Wawancara tak terstruktur

Wawancara tak terstruktur digunakan saat penelitian yang lebih mendalam tentang subjek penelitian. Wawancara ini bersifat lebih bebas karena tidak menggunakan pedoman wawancara, namun hanya menggunakan garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.

Berdasarkan uraian di atas, maka bentuk wawancara yang digunakan oleh peneliti adalah bentuk wawancara tak terstruktur. Wawancara digunakan untuk mengetahui respons anak terhadap fenomena covid-19 secara mendalam. Wawancara dilakukan kepada anak-anak sekolah dasar kelas tinggi di desa Jatisari kecamatan Nalumsari kabupaten Jepara. Anak-anak diminta untuk menyampaikan pemikirannya mengenai fenomena covid-19 yang telah dituangkan dalam bentuk karya gambar ilustrasi.

3.5.3 Dokumentasi

Dokumen adalah catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen dapat berupa tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari

36

seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan seperti catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), biografi, peraturan, dan kebijakan.

Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni berupa gambar, patung, film, dan lain-lain. Studi dokumen merupakan pelengkap dalam penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif (Sugiyono, 2010).

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah terjadi dalam bentuk tulisan, gambar, atau karya-karya dari seseorang. Dokumen merupakan pelengkap dari hasil observasi dan wawancara dalam penelitian kualitiatif. Hasil penelitian akan dipercaya jika didukung oleh dokumen yang didapatkan peneliti. Dalam penelitian ini dokumentasi dapat berupa karya gambar ilustrasi anak dan foto kegiatan saat anak-anak menggambar ilustrasi.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teknik analisis kualitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan hasil observasi, wawancara, pendapat responden, dan dokumentasi. Data tersebut dianalisis secara deskriptif kualitatif.

3.6 Keabsahan Data

Keabsahan data merupakan hal yang sangat penting dilakukan untuk untuk mengetahui ketepatan antara data yang diperoleh pada penelitian dengan data yang dilaporkan oleh peneliti. Data tersebut dapat dikatakan valid apabila data yang diperoleh pada saat penelitian sama dengan data yang dilaporkan oleh peneliti.

Menurut Sugiyono (2010) uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi uji credibility (validitas internal), transferability (validitas eksternal), dependability (reliabilitas), dan confirmability (obyektivitas).

3.6.1 Uji Kredibilitas

Teknik kebasahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kredibilitas triangulasi. Menurut Sugiyono (2013) triangulasi dalam pengujian kredibilitas diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai

37

sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Sehingga terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan triangulasi waktu.

Triangulasi sumber dilakukan untuk menguji kredibilitas data dengan cara mengecek data yang diperoleh melalui beberapa sumber.

Untuk menguji kredibilitas data tentang respons estetis anak-anak terhadap fenomena covid-19 maka sumber data berasal dari perkataan, karya gambar ilustrasi, dan ekspresi anak-anak ketika melihat video yang berkaitan dengan covid-19.

Triangulasi teknik pengumpulan data untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Untuk menguji kredibilitas data tentang respons estetis anak-anak terhadap fenomena covid-19 maka teknik yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Triangulasi waktu digunakan untuk menguji kredibilitas data, dilakukan dengan mempertimbangkan waktu, karena waktu dapat mempengaruhi kredibilitas data. Maka untuk menguji kredibilats data dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan teknik lain dalam waktu yang berbeda. Untuk menguji kredibilitas data tentang respons estetis anak-anak terhadap fenomena covid-19 maka waktu yang digunakan adalah pagi, siang, dan sore.

3.6.2 Uji Transferabilitas

Transferabilitas merupakan validitas eksternal dalam penelitian kualitatif untuk menunjukkan ketepatan atau dapat diterapkannya hasil penelitian ke populasi di mana sampel tersebut diambil. Nilai transfer berkaitan dengan pertanyaan yang mana hasil penelitian dapat digunakan dalam situasi lain. Bagi peneliti, hasil penelitian tersebut dapat digunakan dalam konsteks dan situasi sosial lain (Sugiyono, 2010). Oleh sebab itu

Transferabilitas merupakan validitas eksternal dalam penelitian kualitatif untuk menunjukkan ketepatan atau dapat diterapkannya hasil penelitian ke populasi di mana sampel tersebut diambil. Nilai transfer berkaitan dengan pertanyaan yang mana hasil penelitian dapat digunakan dalam situasi lain. Bagi peneliti, hasil penelitian tersebut dapat digunakan dalam konsteks dan situasi sosial lain (Sugiyono, 2010). Oleh sebab itu

Dokumen terkait