• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.7 Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun data secara sistematis. Data diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan,

39

dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, sehingga dapat membuat kesimpulan yang mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain (Sugiyono, 2013).

Analisis data kualitatif berdasarkan data yang diperoleh sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan, dan setelah selesai di lapangan.

3.7.1 Analisis sebelum di Lapangan

Analisis dilakukan peneliti sebelum memasuki lapangan terhadap data hasil studi pendahuluan yang akan digunakan untuk fokus penelitian.

Namun fokus penelitian tersebut masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti masuk ke lapangan.

Berdasarkan keadaan di desa Jatisari Nalumsari Jepara peneliti menemukan bahwa tingkat ketertarikan anak-anak terhadap pendidikan seni sangat rendah. Membuat peneliti tertarik untuk membangkitkan kreativitas seni menggambar ilustrasi. Sebab sejak ada fenomena covid-19 anak-anak memiliki pandangan yang begitu luas namun tidak dapat menuangkannya ke dalam bentuk yang lebih indah.

3.7.2 Analisis di Lapangan

Miles dan Huberman (1984) mengatakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan secara terus menerus sampai tuntas. Adapun langkah-langkah aktivitas dalam analisis data adalah sebagai berikut:

a. Data reduction (reduksi data)

Reduksi data artinya merangkum, memilih hal-hal penting, dan memfokuskan pada hal-hal yang sesuai dengan tema yang diteliti. Data yang telah di reduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya.

Dalam mereduksi data, peneliti akan dipandu untuk menemukan. Jika dalam melakukan penelitian menemukan

40

sesuatu yang asing, tidak dikenal, dan belum memiliki pola justru itulah yang dapat dijadikan bahan penelitian dalam melakukan reduksi data.

b. Data display (penyajian data)

Setelah mereduksi data, langkah selanjutnya adalah mendisplay data. Dalam penelitian kualitataif penyajian data dapat disajikan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, dan sejenisnya. Dengan mendisplay data akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi di lapangan dan merencanakan langkah penelitian selanjutnya.

c. Conclusion drawing/verification

Langkah terakhir dalam analsiis data kualtiataif adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan yang bersifat sementara akan berubah bila tidak ada bukti-bukti yang mendukung. Namun apabila ada bukti-bukti yang valid dan konsisten makan kesimpulan yang ditemukan merupakan kesimpulan yang dapat dipercaya.

41

Berikut adalah skema alur analisis data menurut Miles dan Huberman (1984):

Gambar 4. Bagan Alur Analisis Data Data di

Lapangan:

Mengumpulkan data

Reduksi Data:

Memilih data penting, membuat

kategori, membuang yang

tidak dipakai

Data Display:

Menyajikan ke dalam pola

Conclusion/

Verification:

Menarik kesimpulan

42 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Latar Penelitian

Latar penelitian mendeskripsikan tentang kondisi geografis daerah penelitian, kondisi ekonomi, kondisi sosial, dan kondisi pendidikan sebagai gambaran umum penelitian.

4.1.1 Kondisi Geografis Daerah Penelitian

Berdasarkan letak geografis, wilayah Desa Jatisari berada di sebelah Timur Ibu Kota Kabupaten Jepara. Desa Jatisari merupakan salah satu desa di Kecamatan Nalumsari dengan luas wilayah 1.292.678,75 m2, dengan jarak tempuh ke Ibu Kota Kecamatan Nalumsari 5 Km dan ke Ibu Kota Kabupaten 30 Km serta dapat ditempuh dengan kendaraan ± 60 menit. Desa ini berbatasan dengan Desa Buaran di sebelah Utara, Desa Gemiring Kidul di sebelah Selatan, Desa Gemiring lor di sebelah Timur dan Desa Singorojo di sebelah Barat.

Luas lahan yang ada terbagi dalam beberapa peruntukkan, dan dapat dikelompokkan ke dalam beberapa bidang yaitu fasilitas umum, permukiman, pertanian, kegiatan ekonomi dan lain-lain. Secara administratif wilayah Desa Jatisari terdiri dari 10 RT dan 2 RW dengan jumlah KK 530. Secara topografi Desa Jatisari merupakan wilayah dataran rendah, dengan kondisi topografi yang demikian, Desa Jatisari memiliki variasi ketinggian antara 5 m sampai dengan 20 m dari permukaan laut.

43

Gambar 5. Peta Lokasi Penelitian

4.1.2 Kondisi Ekonomi Daerah Penelitian

Secara umum kondisi perekonomian Desa Jatisari ditopang oleh beberapa mata pencaharian warga masyarakat dan dapat teridentifikasi ke dalam beberapa bidang mata pencaharian, seperti : petani, buruh tani, peternak, pedagang, wirausaha, Karyawan swasta, PNS/TNI, Pensiunan, Tukang Bangunan, Tukang Kayu/Ukir, Sopir, dll. Jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 3. Mata Pencaharian Penduduk desa Jatisari

Jenis Pekerjaan Laki-laki Perempuan

Petani 56 orang 3 orang

Buruh Tani 4 orang 13 orang

Buruh Migran 0 orang 4 orang

Pegawai Negeri Sipil 7 orang 3 orang

Pengrajin 35 orang 3 orang

Pedagang Kelontong 4 orang 1 orang

44

Peternak 13 orang 2 orang

Perawat Swasta 0 orang 2 orang

TNI 1 orang 0 orang

Guru Swasta 1 orang 9 orang

Pedagang Keliling 0 orang 3 orang

Tukang Kayu 7 orang 0 orang

Tukang Batu 10 orang 0 orang

Karyawan Perusahaan Swasta 17 orang 59 orang

Wiraswasta 23 orang 8 orang

Pelajar 117 orang 167 orang

Ibu Rumah Tangga 0 orang 123 orang

Perangkat Desa 7 orang 0 orang

Dukun/Paranormal/Supranatural 2 orang 0 orang

Tukang Rias 0 orang 2 orang

Tukang Sumur 3 orang 0 orang

Karyawan Honorer 23 orang 109 orang

Wartawan 1 orang 0 orang

Tukang Cukur 1 orang 0 orang

Pemuka Agama 6 orang 0 orang

Satpam/Security 2 orang 0 orang

Jumlah Total Penduduk Bekerja 851ang

4.1.3 Kondisi Sosial Daerah Penelitian

Berdasarkan data administrasi Pemerintahan Desa, jumlah penduduk yang tercatat secara administrasi berjumlah 1.827 jiwa pada Tahun 2019, meningkat menjadi 1.928 jiwa pada Tahun 2020 dengan rincian penduduk yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 912 jiwa pada Tahun 2019, meningkat menjadi 917 jiwa pada Tahun 2020, sedangkan penduduk yang berjenis kelamin perempuan berjumlah 915 jiwa pada Tahun 2019, meningkat menjadi 1013 jiwa pada Tahun 2020, secara rinci dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4. Jumlah Penduduk desa Jatisari

Jenis Kelamin Jumlah Penduduk (Jiwa)

Laki-laki 917

Perempuan 1.013

Jumlah 1.930

45

Agar dapat mendeskripsikan lebih lengkap tentang informasi keadaan kependudukan di Desa Jatisari, maka dilakukan identifikasi jumlah penduduk dengan menitikberatkan pada klasifikasi usia dan jenis kelamin, sehingga akan diperoleh gambaran tentang kependudukan desa yang lebih komprehensif. Untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan deskripsi tentang jumlah penduduk di Desa Jatisari berdasarkan usia dan jenis kelamin secara detail dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 5: Penduduk desa Jatisari berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin

No. Kelompok Usia (Tahun) Lk Pr Jumlah Prosentase (%)

4.1.4 Kondisi Pendidikan Daerah Penelitian

Dalam rangka memajukan pendidikan, Desa Jatisari akan secara bertahap merencanakan dan menganggarkan bidang pendidikan baik melalui ADD, swadaya masyarakat dan sumber-sumber dana yang sah lainnya, guna mendukung program pemerintah yang termuat dalam RPJM Daerah Kabupaten Jepara.

46

Untuk melihat taraf/tingkat pendidikan penduduk Desa Jatisari, jumlah angka putus sekolah serta jumlah sekolah dan siswa menurut jenjang pendidikan, dapat dilihat di tabel di bawah ini:

Tabel 6. Tingkat Pendidikan Penduduk desa Jatisari

No Keterangan Jumlah Penduduk

Laki-laki Perempuan

4.2 Deskripsi dan Pembahasan Hasil Analisis Data

Dalam deskripsi dan dan pembahasan hasil analisis data akan menguraiakan mengenai hasil penelitian dan pembahasan dari hasil penelitian tersebut.

4.2.1 Hasil Penelitian

Pembahasan pada bagian ini akan membahas mengenai hasil penelitian proses respons estetis karya gambar ilustrasi anak dan hasil respons estetis karya gambar ilustrasi anak dalam fenomena covid-19 di desa Jatisari, Nalumsari, Jepara.

Penelitian diawali dengan melakukan observasi terhadap apa yang sedang dilakukan anak-anak selama pandemi covid-19, melakukan wawancara ringan terkait apa yang dialami, dilihat, dan dirasakan dengan adanya pandemi tersebut, mememinta anak-anak untuk menggambar ilustrasi untuk menggmbarkan sebuah fenomena covid-19 di lingkungannya, selanjutnya mewawancarai anak mengenai gambar ilustrasi yang telah dibuatnya. Setelah data tersebut terkumpul maka data dianalisis dengan cara merangkum, memilih data-data penting dan memfokuskan pada hal-hal yang berkaitan dengan tema penelitian agar

47

dapat memberikan pandangan yang jelas. Langkah selanjutnya data disajikan dalam bentuk uraian singkat, gambar, dan dokumentasi penelitian untuk mempermudah dalam memahami keadaan yang terjadi di lapangan. Setelah data tersaji maka peneliti dapat menarik kesimpulan dan memperoleh hasil penelitian.

4.2.1.1 Proses Respons Estetis Karya Gambar Ilustrasi Anak

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di desa Jatisari, kecamatan Nalumsari, kabupaten Jepara mengenai proses respons estetis karya gambar ilustrasi anak dengan melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi maka peneliti akan memaparkan hasil penelitian sebagai berikut.

Setelah peneliti melakukan observasi dan wawancara dengan anak-anak di desa Jatisari mengenai fenomena covid-19, fenomena tersebut berpengaruh dalam kehidupan anak-anak terutama dalam hal pendidikan. Selama pandemi covid-19 jam belajar di sekolah menjadi berkurang dan memaksa pembelajaran dilakukan secara daring/online sehingga anak-anak kurang memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.

48

Gambar 6. Observasi dengan MS

MS mengatakan “Sekolah hanya dilaksanakan 2 kali dalam seminggu hari senin dan kamis, itu saja waktunya hanya sebentar, berangkat pukul 08.00 WIB pukul 09.30 WIB sudah pulang kadang pukul 09.00 WIB”

Namun di sisi lain anak-anak sudah dapat memahami dampak covid-19 dan cara mengantisipasinya. Mereka telah mengurangi aktifitas seperti biasa yang dapat menimbulkan tertularnya virus covid-19.

49

Gambar 7. Observasi dengan NS

“Saya kalau pergi selalu pakai masker mbak, setelah pulang langsung cuci tangan. Saya takut kalau membawa virus yang menular kepada keluarga apalagi nenek saya sudah tua. Saya selalu mengingatkan nenek saya untuk selalu di rumah saja, kalaupun keluar juga saya ingatkan untuk memakai masker, ibu saya sudah membelikan masker untuk nenek saya” kata NS.

Dari observasi dan wawancara tersebut peneliti meminta anak-anak untuk menggambar ilustrasi tentang apa yang dilihat, dirasakan, dan dialaminya selama pandemi covid-19. Anak-anak sangat antusias saat menggambar karena mereka dapat mencurahkan pemikirannya melalui gambar ilustrasi.

1. Tahap persiapan

Langkah pertama dalam proses respons estetis karya gambar ilustrasi adalah mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk menggambar. Alat dan bahan tersebut berupa kertas buffalo A4, pensil 2B, penghapus, penggaris, rautan pensil,

50

dan krayon. Berikut adalah alat dan bahan yang telah disediakan oleh peneliti.

Gambar 8. Alat dan Bahan Menggambar Ilustrasi 2. Tahap menentukan tema atau gagasan

Langkah yang kedua yakni menentukan tema atau gagasan.

Tema dalam penelitian ini adalah fenomena covid-19 yang dilihat, dirasakan, dan dialami anak di lingkungannya. Anak memiliki ide yang berbeda-beda dari apa yang telah dialaminya.

3. Tahap membuat sketsa

Langkah ketiga ialah membuat sketsa gambar. Anak-anak bebas membuat sketsa gambar sesuai dengan gagasan yang telah ditemukan pada tahap kedua.

51

Gambar 9. Proses Menggambar ARF

“Saya itu beberapa minggu yang lalu malam-malam lapar mbak. Karena saya sangat suka nasi goreng, saya mengajak bapak untuk pergi beli nasi goreng. Di perjalanan saya sudah membayangkan nikmatnya makan nasi goreng. Eh ternyata sampai disana warung nasi gorengnya tutup. Katanya sejak pandemi covid-19 memang warung itu lebih sering tutup. Saya jadi benci gara-gara corona saya tidak bisa makan makanan kesukaan saya”

52

Gambar 10. Proses Menggambar NS

“Saya menggambar buku sama hp mbak, sekarang sekolahnya pakai hp”.

53

Gambar 11. Proses Menggambar RM

“Saya menggambar semua yang saya alami mbak, corona itu tidak enak, tidak bisa hidup tenang seperti dulu.”

Gambar 12. Proses Menggambar MS

54

“Saya menggambar tempat sampah saja mbak, virus itu harus dibuang”.

Gambar 13. Proses Menggambar AAK

“Anak-anak selama covid masih banyak yang bermain diluar mbak. Padahal seharusnya mereka di rumah saja, kalau bermain ya bermain yang bisa dilakukan di dalam rumah”

4. Tahap pewarnaan

Langkah yang terakhir dalam membuat gambar ilustrasi adalah proses mewarnai menggunakan krayon. Dalam tahap pewarnaan anak-anak bebas berkreasi dan memilih warna apa saja sesuai yang diinginkan.

55

Gambar 14. Proses Mewarnai RM

“Warna yang saya pakai warna seadanya saja mbak, tergantung warna krayonnya. Warna kesukaan saya merah muda mbak, tapi tidak saya gunakan karena tidak pantas”

Gambar 15. Proses Mewarnai ARF

56

“Sebenarnya saya ingin mewarnai dengan warna lain, tetapi terpaksa menggunakan warna krayon seadanya”

Gambar 16. Proses Mewarnai MS

“Warna yang saya pakai adalah warna yang ada saja, namun ada warna oren yang merupakan warna kesukaan saya”

57

Gambar 17. Proses Mewarnai NS

“Saya memasukkan warna kesukaan saya yaitu biru muda”

Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa anak-anak mampu melakukan proses respons estetis dengan menggambar mengenai fenomena covid-19 yang sedang dilihat, dirasakan, dan dialaminya. Walaupun dengan tema yang sama tetapi anak-anak mampu memberikan gagasan yang sangat berbeda-beda. Anak-anak mampu membuat sketsa sesuai dengan apa yang ingin digambar, mereka mewarnai dengan krayon sesuai warna kesukaannya, sesuai warna obyek di kehidupan nyata, dan mewarnai dengan warna krayon seadanya.

4.2.1.2 Hasil Respons Estetis Karya Gambar Ilustrasi Anak

Dari penelitian yang telah dilakukan di desa Jatisari kecamatan Nalumsari kabupaten Jepara mengenai respons estetis karya gambar ilustrasi anak dalam fenomena covid-19 didapatkan hasil sebagai berikut.

58

Gambar 18. Gambar Ilustrasi Karya ARF Karya: ARF

Kelas: V

Menurut ARF covid-19 ialah virus yang menular, virus yang jahat, dan virus yang dapat mengambil nyawa seseorang sehingga ia takut dengan virus tersebut. ARF merasa takut tertular, takut jika sekolah akan ditutup untuk selamanya, takut kalau tertular virus tersebut, dan takut jika uang orang tua akan semakin habis hanya untuk membeli masker dan handsanitizer.

Selama pandemi covid-19 ARF sangat takut untuk keluar rumah karena jika keluar rumah kemungkinan besar akan ketemu virus yang tidak terlihat itu. Jadi selama pandemi covid-19 ia selalu mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker, makan makanan yang sehat, menjauhi kerumunan, dan selalu berdoa kepada Allah SWT.

Jika ada yang menyebut tentang covid-19 ARF merasa gelisah, pusing, terbayang-bayang dengan orang-orang yang sedang terpapar virus covid-19, dan berpikir jika peralatan kesehatan akan habis dan pasien-pasien tidak tertolong.

ARF adalah orang yang tidak terlalu suka menggambar, namun selama pandemi covid-19 ia pernah menggambar baik itu tugas dari sekolah maupun keingunan pribadi. Gambar yang pernah dibuat oleh ARF

59

selama pandemi covid-19 ialah gambar sabun cuci tangan, handsanitizer, masker, rumah, dan tempat tidur.

Dalam penelitian ini ARF menggambar sebuah warung makan nasi goreng yang tutup, pohon, kran air, sabun cuci tangan, handsanitizer, dan matahari. Warung makan nasi goreng tutup dikarenakan adanya pandemi covid-19. Nasi goreng adalah makanan kesukaannya. Ia sangat benci dengan corona karena ia kecewa sudah berniat untuk membeli nasi goreng dan membayangkan nikmatnya nasi goreng langganannya namun ternyata tidak bisa membeli karena warungnya tutup. Dalam gambar karya ARF terdapat beberapa warna yang dipadukan sesuai dengan gambar yang dibuatnya.

Gambar 19. Gambar Ilustrasi Karya AAK Karya: AAK

Kelas: V

Menurut AAK covid-19 ialah virus berbahaya yang dapat menular dan dapat membuat seseorang sakit. Virus tersebut berkaitan dengan masker, cuci tangan menggunakan sabun, jaga jarak, memakai face shield, dan menghindari kerumunan. Ia merasa takut dengan virus yang berbahaya dan menular itu, selain takut tertular AAK sangat takut jika sekolahnya gak akan masuk lagi. Selama pandemi covid-19 AAK hanya dirumah saja menonton televisi, bermain di dalam rumah, mengaji, dan

60

sholat. Ia merasa sedih sejak adanya pandemic tersebut, perasaannya tidak pernah senang sebab yang biasanya bermain menjadi tidak bisa bermain.

Saat mendegar kata covid-19 ia merasa gelisah dan takut terpapar virus berbahaya tersebut. Namun ia dapat menghadapi dengan selalu mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan tidak berjabat tangan.

AAK suka menggambar, namun selama pandemi covid-19 ia tidak pernah menggambar. Dalam penelitian ini yang ia gambarkan adalah rumah, orang sedang di rumah saja, bola, anak sedang bermain bola, virus covid-19. Ia menyatakan bahwa dalam gambar itu terdapat dua hal yang bertolak belakang. Sesorang bermain bola diluar rumah adalah hal yang menyalahi aturan protokol kesehatan. Yang seharusnya dilakukan anak-anak adalah bermain namun tetap di dalam rumah. Hal tersebut sedang ia alami saat ia selalu berada di rumah saja namun teman-temannya tetap bermain diluar rumah.

Gambar ilustrasi tersebut diwarnai dengan warna kesukaannya yaitu biru muda, selain itu diwarnai sesuai dengan warna krayon yang ada.

Gambar 20. Gambar Ilustrasi Karya MS Karya: MS

Kelas: V

61

Menurut MS covid-19 ialah virus atau penyakit menular yang berbahaya. Virus tersebut hal-hal yang berkaitan dengan masker, menjaga jarak, mencuci tangan. Ia tidak merasa takut dengan adanya covid-19 karena hal tersebut bisa diantisipasi dengan memakai masker dan cuci tangan. Bahkan ia merasa suka dengan adanya pandemi covid-19 karena sekolahnya diliburkan. Walaupun ia tidak mendapat uang saku, namun ia tetap bisa meminta jajan di warung ibunya.

Saat mendengar kata covid-19 ia merasa biasa saja namun tetap melakukan kegiatan sesuai protokol kesehatan yakni di rumah saja, jaga jarak, dan mencuci tangan. Tetapi ia merasa sekarang banyak masyarakat yang menyepelekan hal itu.

MS tidak suka menggambar, karena ia bingung harus menggambar apa. Namun selama pandemi covid-19 ia pernah menggambar, yang ia gambar adalah pohon dan kapal. Dalam penelitian ini ia menggambar tempat sampah, virus corona, pohon, dan awan. MS memilih warna-warna sesuai dengan warna yang ia lihat di dunia nyata. Kusuma (2017) menyatakan color moment ialah representasi dari warna yang dapat mengkarakteristikkan warna gambar tersebut sehingga MS mampu memberikan warna hijau pada daun dan warna biru pada tempat sampah yang ia lihat saat menggambar. Virus corona diberikan warna merah karena ia menganggap virus tersebut adalah virus jahat yang identik dengan warna merah. Menurutnya virus corona adalah virus yang harus dibuang, jika virus tersebut dibuang ke tempat sampah maka tidak akan lagi membaur dengan orang-orang. Jika virus sudah tidak ada lagi di lingkungan maka tidak aka nada yang tertular dan pandemic covid-19 akan segera berakhir. Ia menggambar hal tersebut karena terinspirasi dengan kehidupannya di lingkungan sekitar. Objek yang ia tersebut hanyalah sebuah bayangan sebab virus corona tidak terlihat dan tidak bisa secara nyata dimasukkan ke dalam tempat sampah.

62

Gambar 21. Gambar Ilustrasi Karya NS Karya: NS

Kelas: IV

NS mengatakan covid-19 merupakan virus dari China, ia mengetahui karena menonton televisi. Virus tersebut menjadikan seseorang tidak boleh keluar rumah, harus memakai masker, jika pergi kemanapun harus selalu mencuci tangan dan memakai handsanitizer. Ia sangat takut dengan adanya virus tersebut, ia takut tertular kemudian harus dirawat di rumah sakit dan disuntik. Ia merasa takut jika virus tersebut akan masuk ke desa sehingga ia mengajak ibunya pergi ke toko untuk membeli masker yang pada saat itu harganya masih sangat mahal.

Saat pandemi covid-19 ia hanya di rumah saja, kalau pergi harus memakai masker, ia pernah mengalami hal yang tidak disukainya yaitu saat penyemprotan disiinfektan di rumahnya karena ia tidak menyukai bau disinfektan tersebut. Saat mendengar kata covid-19 ia merasa bosan karena setiap pembahasan yang ia dengar dan ia lihat selalu membicarakan tentang virus yang tak terlihat tersebut. Ia juga sebal karena tidak bisa pergi kemana-kemana karena tempat wisata ditutup. Ia begitu memikirkan keluarganya yang masih ada anak kecil dan neneknya yang sudah tua. Ia takut jika virus tersebut tak kunjung selesai dan

63

sekolahnya tidak masuk-masuk, karena ia sangat tidak suka suasana sekolah selama pandemi covid-19.

NS adalah anak yang suka menggambar, selama pandemi covid-19 ia sudah menggambar masker, handsanitizer, gambar diri sendiri saat memakai masker. Namun dalam penelitian ini ia memilih menggambar tumpukan buku, lampu belajar, pensil, tempat pensil, penghapus, handphone, dan handsanitizer. Ia memiliki gagasan tersebut karena situasi tersebut sedang dialaminya. Saat ini ia sedang menjalankan sekolah online yang sangat tidak ia sukai.menurutnya sekolah online membuat materi tidak bisa diserap dengan sempurna, kadang ia tidak paham dengan penjelan guru yang hanya disampaikan melalui handphone. Selain itu saat ia sekolah online dirumah ia diharuskan untuk menjaga adiknya juga, jadi ia tidak bisa fokus dengan pembelajaran. Sekolah online membuatnya lebih ribet dari sekolah biasnya karena ia tidak bisa mengobrol dan berdiskusi dengan teman-temannya, gak bisa jajan di kantin sekolahan.

Pemilihan warna-warna terang dalam menggambar sesuai dengan pendapat Pratiwi (2013) bahwa warna cerah dihubungkan dengan perasaan positif dan warna gelap dihubungkan dengan perasaan negative, gambar NS menunjukkan pembelajaran yang bersifat positif dan memunculkan semangat dalam mewarnai.

Gambar ilustrasi yang ia buat diwarnai dengan warna kesukaanya,

Gambar ilustrasi yang ia buat diwarnai dengan warna kesukaanya,

Dokumen terkait