BAB I PENDAHULUAN
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian adalah sebagai berikut:
1. Menganalisis proses respons estetis karya gambar ilustrasi anak dalam fenomena covid-19 di desa Jatisari Jepara
2. Mengetahui hasil respons estetis karya gambar ilustrasi anak dalam fenomena covid-19 di desa Jatisari Jepara
4 1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoretis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kejelasan teoretis mengenai fenomena yang dialami anak-anak terhadap karya yang dihasilkan
b. Dapat memperkaya ilmu pengetahuan dalam penelitian pendidikan selanjutnya
2. Manfaat Praktis a. Bagi Siswa
1) Mempermudah siswa dalam memahami fenomena covid-19 2) Meningkatkan kreativitas siswa dalam menggambar ilustrasi b. Bagi Guru
1) Membantu guru dalam kegiatan menganalisis karya siswa 2) Menjadi motivasi guru untuk memanfaatkan karya siswa sebagai
media pembelajaran
3) Menambah wawasan guru untuk memahami fenomena covid-19 c. Bagi Peneliti
Manfaat bagi peneliti adalah dengan adanya penelitian ini dapat menambah pengetahuan mengenai fenomena covid-19 dari karya ilustrasi gambar yang telah dibuat
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang dilakukan untuk mendeskripsikan respons anak-anak terhadap fenomena covid-19. Peneliti akan melakukan penelitian pada 5 orang anak di desa Jatisari yaitu anak-anak usia sekolah dasar kelas tinggi. Pada penelitian ini peneliti akan mengkaji respons estetis anak-anak usia sekolah dasar kelas tinggi terhadap fenomena covid-19 melalui gambar ilustrasi yang akan dibuat oleh anak-anak. Penelitian dilaksanakan di desa Jatisari, kecamatan Nalumsari, kabupaten Jepara.
5 1.6 Definisi Operasional
Sesuai dengan judul penelitian “Respons Estetis Karya Gambar Ilustrasi Anak dalam Fenomena Covid-19 di Desa Jatisari Jepara” maka definisi operasionalnya dapat dikemukakan sebagai berikut:
1.6.1 Respons Estetis
Respons estetis merupakan kegiatan seseorang untuk menanggapi sebuah karya yang memiliki keindahan. Karya tersebut dapat dilihat dan diamati oleh panca indra sehingga membangkitkan seseorang untuk menanggapi karya tersebut. Dari respon estetis anak-anak memiliki pengalaman apresiasi terhadap karya seni. Dari pengalaman tersebut kemudian diungkapkan kembali apa yang telah diapresiasi baik melalui gambar, gerak, maupun ekspresi.
1.6.2 Fenomena Covid-19
Covid-19 merupakan virus yang dapat mengakibatkan gejala demam, batuk, sakit kepala, hilangnya indra perasa dan pencium, serta menurunnya imunitas tubuh. Virus tersebut juga dapat menyebar dengan cepat melalui kontak fisik. Dampak virus covid-19 sangat mengerikan.
Dampak yang dapat dilihat setelah adanya virus tersebut adalah hilangnya nyawa, penurunan dan pelambatan ekonomi, aktivitas pendidikan yang terganggu, perekonomian yang menurun, dan perubahan perilaku di masyarakat. Adanya fenomena covid-19 menimbulkan berbagai respons dari anak-anak yang sering kali tidak dapat diwujudkan. Respons tersebut dapat dituangkan melalui karya gambar ilustrasi sehingga pandangan anak terhadap fenomena covid-19 dapat dilihat dalam bentuk gambar ilustrasi.
1.6.3 Gambar Ilustrasi Anak
Gambar ilustrasi adalah gambar yang dibuat oleh anak-anak berdasarkan ide dan perasaan yang dialami untuk memberikan informasi tertentu dengan media penggambaran yang dapat terlihat oleh indra penglihatan dalam penyampaiannya. Gambar ilustrasi anak dapat membantu memperjelas peristiwa, isi buku, karangan, cerita, dan sebagainya. Gambar ilustrasi anak bertujuan untuk menggali pemikiran
6
anak, menarik perhatian pembaca, memperjelas makna tulisan, menciptakan kesan bermakna, dan dapat memperlihatkan keunikan.
7 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Konsep Teoretik
Konsep teoretik merupakan identifikasi pustaka-pustaka yang terkait dengan topik atau tema penelitian sebagai acuan berpikir untuk melaksanakan penelitian.
Konsep teori yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu:
2.1.1 Estetika
Susanto (2011) Estetika merupakan hal yang berkaitan dengan rasa dan keindahan. Sependapat dengan Djelantik (2004) bahwa ilmu estetika adalah suatu ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keindahan, mempelajari aspek dari apa yang disebut keindahan. Estetika merupakan cabang filsafat yang membahas dan mempelajari seni, keindahan, dan tanggapan manusia terhadap seni tersebut. Maruto (2014) Estetika dikenal memiliki dua pendekatan. Pertama, langsung meneliti objek-objek, benda-benda, alam indah, serta karya seni. Kedua, menyoroti situasi kontemplasi rasa indah yang sedang dialami subjek, yang kemudian melahirkan pengalaman estetika. Estetika melahirkan berbagai pengertian yang sangat variatif, bergantung pada situasi, kondisi, dan posisinya berada.
Secara umum estetika dalam bahasa yunani ialah Aeshesia yang membawa maksud hal-hal yang dapat diserap oleh panca indra atau lebih khusus lagi kepekaan manusia. Pamungkas (2015) Hakekat estetika adalah keindahan alam karya seni yang bermuara pada penciptaan karya seni tersebut.
Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa estetika ialah segala hal yang berkaitan dengan keindahan baik benda-benda, alam, maupun karya seni yang dapat diserap oleh panca indra.
Dalam menggambar respons estetis secara umum meliputi garis, warna, dan obyek lebih dominan. Garis pada gambar anak digunakan
8
untuk membentuk ide. Warna dapat memberikan kesan keindahan dan memberikan makna tertentu. Obyek atau bentuk dalam gambar anak meliputi benda alam dan benda buatan (Kurniawan, 2012). Dari uraian tersebut peneliti menggunakan unsur garis, warna, dan obyek untuk melakukan penelitian terhadap gambar yang dibuat anak-anak pada saat merespons fenomena covid-19.
2.1.2 Karakteristik Anak
Anak-anak yang berada di sekolah dasar memiliki beberapa rentang usia. Masa usia dini merupakan masa perkembangan anak yang pendek namun merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupan anak. Oleh sebab itu pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong supaya berkembang secara optimal. Menurut Rismayhanti (2011) karakteristik anak kelas rendah pertumbuhan fisiknya mulai mencapai kematangan, mereka mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya.
Mereka dapa melompat dengan dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk memegang pensil maupun memegang gunting. Selain itu di sisi sosial anak dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelamin, telah mulai berkompetisi dengan teman sebayanya, memiliki sahabat, dan mampu berbagi.
Karakteristik anak sekolah dasar usia 6-12 mencakup perkembangan fisik, perkembangan kognitif, perkembangan psikososial. Perkembangan fisik mencakup pertumbuhan biologis seperti pertumbuhan otak, otot, dan tulang. Perkembangan kognitif mencakup perubahan dalam perkembangan pola berpikir. Perkembangan psikososial berkaitan dengan perkembangan dan perubahan emosi individu.
Karakteristik anak sekolah dasar menurut Mulyani dan Sumantri (2011) yaitu: (1) secara ilmiah anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan tertarik pada dunia sekitar yang mengelilingi diri mereka sendiri, (2) anak senang bermain dan lebih suka bergembira, (3) anak suka mengatur dan dirinya untuk menangani berbagai hal, mengeksplorasi situasi dan
9
mencoba usaha-usaha baru, (4) anak terdorong untuk berprestasi, (5) anak belajar secara efektif ketika mereka puas dengan situasi yang terjadi, (6) anak belajar dengan cara bekerja, mengobservasi, berinisiatif, dan mengajar anak-anak lainnya.
Dari uraian yang telah dikemukakan mengenai karakteristik anak dapat disimpulkan bahwa anak-anak memiliki karakteristik yang berbeda.
Karakteristik anak tersebut meliputi perkembangan fisik, perkembangan kognitif, dan perkembangan psikososial.
2.1.3 Menggambar
2.1.3.1 Pengertian Menggambar
Menggambar ialah proses membuat gambar. Menurut Pamadhi dan S., Evan (2019) kegiatan menggambar dilakukan dengan cara mencoret, menggores, menorehkan benda tajam ke benda lain dan memberi warna, sehingga dapat menghasilkan gambar. Menggambar dapat dilakukan dengan kesadaran penuh berupa maksud dan tujuan tertentu ataupun menggambar tanpa arti. Dari kegiatan menggambar tersebut anak-anak akan merasa senang dan puas karena menggambar dapat menjadi cara berkomunikasi kepada orang lain. Anak akan lebih senang lagi jika gambar yang dibuatnya ditanggapi dengan menanyakan tentang makna dan arti dari gambar yang telah dihasilkan tersebut.
Farokhi dan Masoud (2011) menyatakan bahwa menggambar adalah komunikasi langsung dari alam bawah sadar dan tidak bisa disamarkan.
Dalam hal ini ketika anak menggambar akan muncul ide tersendiri secara alami dari alam bawah sadar, informasi yang ditunagkan dalam gambar merupakan kedalam jiwa yang disampaikan melalui goresan-goresan. Gambar merupakan sebuah mimpi di atas kertas, dimana anak memunculkan keinginannya baik secara sadar atau tidak. Gambar juga merupakan kenyataan dari pikiran anak yang pada peristiwa tertentu mendorong anak untuk menggambar (Davido, 2012).
Dari uraian yang telah dikemukakan para ahli mengenai pengertian menggambar disimpulkan bahwa menggambar merupakan kegiatan
10
mencoret, menggores, dan memberi warna yang dilakakukan untuk menghasilkan sebuah gambar. Menggambar dapat dilakukan dengan kesadaran penuh dan dapat juga dilakukan di alam bawah sadar untuk memunculkan ide-ide secara alami.
2.1.3.2 Manfaat Menggambar
Pamadhi dan S., Evan (2019) mengemukakan manfaat gambar bagi anak sebagai berikut:
a. Menggambar sebagai alat bercerita
Ketika seorang anak menggambar, cerita dalam gambar yang dibuat merupakan bukti bahwa kegiatan menggambar berfungsi untuk mengungkapkan peristiwa yang sedang dialami, dengan menggambar anak merasa bahwa apa yang dipikirkannya akan diperhatikan orang lain dan dengan bangga dapat menyampaikan pendapat dari gambar yang telah dibuatnya.
b. Menggambar sebagai media mencurahkan perasaan
Menggambar dapat menghubungkan sebuah peristiwa dengan gambar sebagai ungkapan perasaan. Hubungan tersebut akan semakin jelas jika pikiran anak mulai berkembang dari berpikir khusus menuju berpikir nyata dan global.
c. Menggambar sebagai alat bermain
Ketika menggambar anak akan berlatih untuk berfantasi.
Fantasi yang muncul adalah bentuk yang terkadang aneh dilihat orang tua, atau bentuk sederhana seperti lingkungan sekitar anak. Selain itu juga muncul gambar yang digunakan untuk bermain-main.
d. Menggambar melatih ingatan
Anak mulai dapat menyatakan kesedihan, kesalahan, dan harapannya melalui gambar. Karena gambar merupakan ungkapan Bahasa rupa bagi anak. Kejadian ini juga melatih anak unuk mengungkapkan pengalaman yang terjadi.
e. Menggambar melatih berpikir menyeluruh
11
Ketika menggambar anak ingin mengungkapkan seluruh peristiwa dalam satu gambar dan ingin memperlihatkan seluruh isisnya seolah-olah tidak mempunyai dinding luar atau terlihat seluruh isis dibalik dinding digolongkan sebagai gambar tembus pandang.
f. Menggambar sebagai media sublimasi perasaan
Menggambar dapat mendiidk anak untuk mengajarkan cara berbicara. Mengarahkan anak untuk kegiatan membaca, berbicara, dan bercerita yang dialihkan kepada gambar.
Kegiatan tersebut digunakan untuk meredakan spontinitas yang menghambat berbicara. Pada sebagian anak gambar yang dihasilkan tidak berwujud, namun hanya berupa goresan yang penuh dengan warna-warna.
g. Menggambar melatih keseimbangan
Pikiran dan perasaan anak kadangkala bertumpuk menjadi satu. Apa yang dipikirkan sama denga napa yang dibayangkan.
Dengan menggambar, anak mampu menyeimbangkan perasaan dan pikirannya yang tidak dapat muncul.
h. Menggambar mengembangkan kecakapan emosional
Kegiatan menggambar dapat menampung ide dan melatih menyeimbangkan perasaan secara spontan. Hamper setiap gambar anak mengalamimkesimbangan baik ditata secara simetris maupun asimetris. Keseimbangan tersebut disebabkan oleh perasaan dasar anak yang masih murni dan belum bnayk berpikir untuk Menyusun. Sebab semakin anak berpikir untuk menentukan letak bentuk dalam bidang gambar maka semakin pula berkurang kesimbangannya.
i. Menggambar melatih kreativitas anak
Anak memiliki kebiasaan untuk mencari perhatian kepada orang lain. Hal ini juga tampak dalam menggambar. Usaha untuk mencari perhatian orang lain dilakukan oleh anak dengan cara
12
membuat sesuatu yang berbeda daripada yang lain. Anak akan membuat gambar yang berbeda dari gambar yang sudah pernah dibuat. Maka muncullah ide kreatif untuk menciptakan bentuk-bentuk lain ketika menggambar.
j. Menggambar melatih ketelitian melalui pengamatan langsung Proses menggambar merupakan hasil pengamatan terhadap benda-benda yang ada di lingkungan sekitar tempat tinggal.
Anak mampu mewujudkan bentuk secara detail walaupun sebagian belum menunjukkan bentuk yang sempurna. Dengan meminta anak untuk emngamati lingkungan sekitar termasuk salah satu cara melatih ketelitian pengamatan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa manfaat menggambar bagi anak-anak diantaranya (1) menggambar sebagai media untuk menyampaikan perasaan yang sedang dialami, (2) menggambar membantu meningkatkan kreativitas anak, (3) menggambar dapat meningkatkan daya ingat anak dan (4) menggambar sebagai alat untuk bermain.
2.1.3.3 Gaya Menggambar Anak
Dalam membuat ilustrasi gambar perlu memahami gaya anak-anak dalam menggambar, menurut Lowenfeld (1970) gaya menggambar anak terbagi dalam beberapa periode yaitu:
a. Periode coreng mencoreng (scribbling period)
Periode ini merupakan pengalaman dari aktivitas motorik anak yang diwujudkan dalam bentuk goresan tebal dan tipis dengan arah yang belum terkendali dan tidak memeprdulikan unsur warna. Berlaku saat anak berusia 2 sampai 4 tahun.
Pada periode ini terbagi dalam tiga tahap yaitu corengan tidak beraturan, corengan terkendali, dan corengan bernama.
13
b. Periode prabagan (pre schematic period)
Periode ini sangat penting karena dalam lingkup yang lebih luas anak akan mendapapatkan kesempatan mencipta, menjelajah, bereksperimen, dan memperoleh banyak hal baru yang berkaitan dengan perkembangan jiwa, rasa, dan emosi nya.
Berlaku saat anak berusia 4 sampai 7 tahun.
c. Periode bagan (schematic period)
Pada periode ini anak mulai menggambar obyek dalam hubungan yang lebih logis dengan obyek lainnya. Anak sudah dapat menampakkan adanya hubungan obyek ruang walaupun kesadaran konsep runag tiga dimensi masih belum berkembang.
Adanya garis dasar yang merupakan tempat benda-benda, munculnya cara menggambar obyek tegak lurus dengan garis dasar, dan mampu menyertakan benda di dalam suatu ruang yang sebenarnya tidak kelihatan. Berlaku saat anak berusia 7 sampai 9 tahun.
d. Periode awal realisme (early realism)
Pada periode ini visual anak mulai berkembang dan lebih memperhatikan detail. Berlaku saat anak berusia 9 sampai 12 tahun.
e. Periode naturalistic semu (pseudo naturalistic)
Periode ini merupakan akhir dari aktivitas spontan anak menjadi kritis terhadap karyanya sendiri. Anak tidak lagi menggambar apa yang diketahuinya tetapi ia menggambar apa yang dilihatnya. Berbagai perubahan sangat cepat terjadi pada fisik dan kejiwaanya. Berlaku saat anak berusia 12 sampai 14 tahun.
Tumbuh minat terhadap naturalisme, terlebih pada anak yang memiliki tipe visual. Anak akan menyadari bahwa ruang memiliki kualitias tiga dimensi.
14 f. Periode pengambil keputusan
Pada periode ini anak akan bersikap kritis terhadap diri sendiri, intropeksi, idealistik, dan mulai memikirkan hubungan dirinya dengan masyarakat sekitar. Berlaku saat anak yang sudah memasuki masa remaja yaitu berusia 14 sampai 17 tahun.
Di usia tersebut seni rupa menjadi produk dari usaha yang serius, karena pada periode ini dianggap tepat untuk mengajarkan desain sebagai bahan integral dari fungsi dan kegunaan obyek.
Pemanfaatan dan pengolahan berbagai obyek dapat digunakan sebagai media ekspresi yang harus dikembangkan.
Dari uraian di atas, dalam penelitian ini anak-anak sekolah dasar kelas tinggi masuk pada periode awal realisme dimana anak-anak menggambar dengan memperhatikan detail objek yang akan digambar dan dapat mempertegas gambar dengan garis dan warna yang jelas.
2.1.4 Gambar Ilustrasi Anak
2.1.4.1 Pengertian Gambar Ilustrasi Anak
Susanto (2012) ilustrasi adalah pemanfaatan seni gambar untuk memberikan penjelasan suatu maksud tertentu secara visual.
Menggambar ilustrasi adalah kegiatan menuangkan informasi berupa coretan yang menghasilkan karya seni rupa dua dimensi. Sedangkan menurut Suhermawan (2010) gambar ilustrasi merupakan gambar yang dapat memberi penjelasan, sesuai dengan pendapat Rahmawati (2014) bahwa dalam menggambar ilustrasi seseorang tidak hanya mengekspresikan diri namun harus mampu mengkomunikasikan gagasannya secara jelas, mudah, dan menyenangkan.
Pamadhi dan S., Evan (2019) kegiatan menggambar yang dilakukan oleh anak ialah kegiatan naluriah bersatunya alam pikiran dan perasaan anak. Tabrani (2005) menyatakan bahwa cara anak menggambar sesuai dengan pertumbuhan, perkembangan, dan kematangan panca indra untuk menghasilkan imajinasi dan cara berpikir anak yang berbeda
15
dengan orang dewasa. Gambar yang dibuat oleh anak merupakan perpaduan panca indra dan imajinasi yang mereka rasakan.
Dari uraian tersebut gambar ilustrasi anak merupakan gambar yang dibuat oleh anak sesuai apa yang dirasakan dan dipikirkan anak untuk memberikan penjelasan tertentu mengenai suatu peristiwa. Dengan menggambar ilustrasi anak mudah menyampaikan dan mengekspresikan keadaan yang sedang dialami menjadi lebih kreatif dan berani.
2.1.4.2 Jenis Gambar Ilustrasi
Ada beberapa jenis gambar ilustrasi, menurut Purnomo, dkk (2014) sebagai berikut:
a. Ilustrasi komik
Ilustrasi komik disajikan menggunakan rangkaian gambar, antara gambar satu dengan gambar yang lain saling
berhubungan dan mengandung cerita.
b. Karikatur
Gambar karikatur merupakan gambar yang dilebih-lebihkan, lucu, unik, dan mengandung sindiran. Objek gambar karikatur biasanya diambil dari tokoh manusia maupun hewan.
c. Ilustrasi sampul buku
Sampul buku biasanya memuat isi buku tersebut, gambar ilustrasi dapat mengisi halaman yang kosong dan membuat sampul buku lebih menarik.
d. Ilustrasi karya sastra
Gambar ilustrasi di dalam karya dapat menjadi penguat isi dalam materi karya sastra berupa cerita pendek, puisi, dan sajak yang akan lebih menarik jika disertai dengan gambar ilustrasi.
Pada penelitian ini, karya gambar ilustrasi yang dibuat oleh anak termasuk ke dalam jenis ilustrasi karya sastra untuk menegaskan dan memperkuat peristiwa fenomena covid-19 di lingkungan anak tersebut.
16
Anak akan menggambar keadaan dimana mereka ia tinggal, perasaan mereka, dan hal-hal yang terjadi selama masa pandemi covid-19.
2.1.4.3 Tahapan Menggambar Ilustrasi
Menurut Purnomo, dkk (2014) tahapan dalam menggambar ilustrasi adalah sebagai berikut:
a. Menentukan tema atau gagasan
Gagasan yaitu bahan yang harus diilustrasikan. Setelah memperoleh gagasan, pilih dan pastikan adegan yang akan digambar, kemudian tentukan corak dan media yang akan digunakan.
b. Sketsa
Proses awal dalam menggambar adalah membuat rancangan gambar atau sketsa. Membuat sketsa dapat menggunakan media yang akan digunakan maupun dengan pensil warna. Gagasan yang ada selanjutnya dituangkan dalam bentuk sketsa.
Rencanakan gambar dengan sebaik-baiknya, buatlah coretan-coretan sesuai gagasan yang telah diperoleh, kemudian padukan semua unsur gambar yang telah direncanakan, berikan corak yang telah ditentukan.
c. Pewarnaan
Setelah selesai membuat sketsa, langkah selanjutnya yaitu mewarnai. Pewarnaan dalam menggambar ekspresi dapat dilakukan dengan dua corak, yakni corak realis dan corak non realis. Corak realis yaitu corak yang sesuai dengan kenyataan yang ada, sedangkan corak non realis dapat dilaksanakan secara bebas dan tidakt terikat pada kenyataan yang ada.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam menggambar ilustrasi langkah yang pertama yaitu menentukan tema, dalam penelitian ini menggambar ilustrasi menggunakan tema fenomena covid-19.
Langkah kedua yaitu membuat sketsa gambar dengan menggunakan
17
pensil 2B. Langkah yang terakhir yaitu mewarnai gambar ilustrasi sesuai dengan yang diinginkan menggunakan pensil warna atau krayon.
2.1.4.4 Alat dan Bahan Menggambar Ilustrasi a. Media kering
Menggambar ilustrasi dengan teknik kering tidak perlu menggunakan air atau minyak. Ilustrasi gambar dapat dibuat langsung pada bidang gambar berupa kertas kemudian dibuat sketsa dan diberi warna sesuai dengan media kering yang digunakan.
Menurut Purnomo, dkk (2014) beberapa media kering yang dapat digunakan untuk menggambar adalah sebagai berikut:
1. Pensil, pensil yang digunakan untuk menggambar ilustrasi berukuran 2B-6B.
2. Arang, arang yang digunakan untuk menggambar ilustrasi adalah arang yang terbuat dari kayu. Namun menggambar dengan arang akan meninggalkan debu pada kertas.
3. Krayon, krayon dapat digunakan untuk menggambar ilustrasi yang mengahsilkan ragam pewarnaan.
4. Charcoal. Berbentuk seperti pensil warna dengan lapisan kertas sebagai pembungkusnya.
5. Pulpen, sebagai alat untuk menggambar ilustrasi untuk memberikan kaarkter tegas pada garis gambar.
b. Media basah
Menggambar ilustrasi dengan media basah perlu menggunakan air atau minyak untuk pengencer. Menurut Purnomo, dkk (2014) media basah yang dapat digunakan untuk menggambar ilustrasi diantaranya:
1. Tinta cina, biasa digunakan untuk melukis. Tinta cina memiliki efek pekat, namun untuk mendapatkan warna yang tipis dapat ditambahkan air untuk bahan campuran.
18
2. Cat air adalah cat untuk melukis yang bersifat tembus cahaya.
Cara penggunaanya yaitu dilapiskan secara perlahan untuk mendapatkan warna yang lebih tajam.
3. Cat poster memiliki sifat pekat dan warnanya datar sehingga cocok untuk menggambar dekoratif.
4. Cat akrilik, cat akrilik terbuat dari pigmen fanatik yang mudah kering. Untuk pengencerannya dapat ditambahkan dengan air.
5. Cat minyak memiliki warna yang sangat cerah dan cemerlang.
Memiliki gradasi warna yang paling lebar dan memiliki daya tahan waktu yang awet. Cat minyak dapat membentuk pasta liat sehingga memberi efek tekstur yang berkesan bila digunakan dengan baik.
Pada penelitian ini menggambar ilustrasi menggunakan Teknik kering. Teknik kering merupakan Teknik menggambar yang tidak memerlukan air dan minyak. Ilustrasi gambar dibuat pada bidang gambar berupa kertas, dibuat sketsa menggunakan pensil 2B, dan diberi warna menggunakan pensil warna atau krayon.
2.1.5 Fenomena Covid-19 2.1.5.1 Pengertian Covid-19
Virus covid-19 menyebabkan penyakit flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS-CoV) dan Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS-(MERS-CoV). Virus covid-19 ialah zoonotic yang artinya ditularkan antara hewan dan manusia.
Berdasarkan Kementerian Kesehatan Indonesia, perkembangan kasus covid-19 di Wuhan berawal pada tanggal 30 Desember 2019 dimana Wuhan Municipal Health Committee mengeluarkan pernyataan “urgent notice on the treatment of pneumonia of unknown cause” (Hanoatubun, 2020). Menurut Muaz, dkk (2020) Penyebaran virus covid-19 sangat cepat bahkan sampai ke lintas negara. Penyebaran virus covid-19 yang
19
telah meluas ke berbagai belahan dunia membawa dampak pada pendidikan di Indonesia.
Covid-19 merupakan sekumpulan virus yang dapat menginfeksi
Covid-19 merupakan sekumpulan virus yang dapat menginfeksi