Bab IV merupakan inti persolan yang diangkat dalam skripsi ini, yaitu berupaya menerangkan analisis cerita yang dibangun dalam film Al-Kautsar
FILM FORM
B. Relevansi Film Al-Kautsar dengan Gagasan Pembaruan Islam
3. Film Al-Kautsar sebagai Representasi Islam yang Transformatif
Film Al-Kautsar merupakan sebuah representasi Islam dalam film Indonesia, narasi yang dibangun merupakan landmark bagi misi Islam yang membebaskan dan memiliki sebuah platform tentang perubahan sosial dan intisari ajaran Islam yang termanifestasikan dalam bentuk zikir, pikir, dan ibadah menjadi modal utama dalam membangun sebuah Islam dengan meminjam istilah Kuntowijoyo—berlandaskan humanisme teosentris atau doktrin tauhid sosial. Dalam tesisnya Kuntowijoyo menyebut bahwa konsep tauhid mengandung implikasi doktrinal lebih jauh bahwa tujuan kehidupan manusia tak lain kecuali mengabdi kepada Allah dan orientasi pengabdian ini mendapatkan titik baliknya terhadap manusia.
Dalam pandangan teosentris sebuah keyakinan religius tak terpisahkan dari amal jariyah (perbuatan). Iman harus teraktualisasikan menjadi aksi kemanusiaan. Pusat dari perintah zakat—misalnya adalah iman, adalah keyakinan kepada Tuhan; tapi ujungnya terwujudnya kesejahteraan sosial. Dengan demikian, di dalam Islam, konsep teosentrisme ternyata bersifat humanistik. Artinya, menurut Islam, manusia harus memusatkan diri kepada Tuhan, tetapi tujuannya adalah untuk kepentingan manusia sendiri. Humanisme-teosentris inilah yang merupakan nilai-inti (core-value)dari seluruh ajaran Islam.39
Humanisme-teosentris menjadi tema sentral peradaban Islam. Arti tema sentral inilah muncul sistem simbol. Sistem yang terbentuk karena proses dialektik antara nilai dan kebudayaan. Misalnya dalam Al-quran, kita mengenal adanya rumusan amar ma’ruf nahiy mungkar, yaitu perintah untuk menyeru kepada
bernafaskan dan berlatar belakang budaya Islam. Ekky Imanjaya dalam Wajah Islam dan Umatnya dalam Film Indonesia,2008. http://ekkyij.multy.com/journal/item/104
39
Kuntowijoyo dalam Paradigma Islam; Interpretasi Untuk Aksi, Cet. VIII, Bandung, Penerbit Mizan. 1998. Hal 229-9
kebajikan dan mencegah kemungkaran. Dari rumusan itu kita melihat adanya dua proses yang sekaligus berlawanan tapi sekaligus merupakan satu kesatuan: emansipasi dan pembebasan. Dalam konteks ini seluruh sistem simbol yang muncul dari rumusan amar ma’ruf m\nahiy munkar ditujukan untuk serangkian gerakan pembebasan dan emansipasi. Nahiy mungkar, atau mencegahkan kemungkaran, berarti membebaskan manusia dari semua bentuk kegelapan (zhulumat) alam pelbagai manifestasinya. Dalam bahasa ilmu sosial, ini juga berarti pembebasan dari kebodohan, kemiskinan, ataupun penindasan. Sementara itu, amar ma’ruf yang merupakan langkah berangkai dari gerakan nahi munkar, diarahkan untuk mengemasipasikan manusia kepada nur,kepada cahaya petunjuk ilahi, untuk mencapai keadaan fitrah. Fitrah adalah keadaan di mana manusia mendapatkan posisinya sebagai makhluk yang mulia.40
Dalam konteks ini, apa yang terkandung pada cerita film Al-Kautsar, film yang telah memenangi penghargaan pada Festival Film Asia XVIII di Bangkok untuk kategori Tata Suara Terbaik41 adalah melakukan dakwah dengan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar di desa Sekarlangit yang dilakukan oleh Saiful Bahri—tokoh utama film ini yang mengaktualisasikan ajaran Islam berdimensi emansipatif dan liberatif. Usaha Saiful Bahri dalam melangsungkan dakwahnya terbukti telah memberikan perubahan yang signifikan bagi desa Sekarlangit dengan menggagas dan mengimplementasikan Islam yang berpihak pada misi kemanusiaan.
40
Kuntowijoyo dalam Paradigma Islam; Interpretasi Untuk Aksi, Cet. VIII, Bandung, Penerbit Mizan. 1998. Hal 228-9
41
JB. Kristanto dalam Katalog Film Indonesia; 1926-2005.(Jakarta, Penerbit Nalar-FFTV IKJ Press. 2005). Hal 145
D. Sekilas Profil Pembuat Film Al-Kautsar 1. Asrul Sani
Asrul Sani dilahirkan disebuah kota kecil di kecamatan Rao, bagian utara Sumatera Barat, pada tanggal 10 Juni 1927. Ayahnya adalah seorang raja adat yang bergelar Sutan Marah Sani Syair Alamsyah Yang Dipertuan Sakti Rao Mapat, memerintah di suatu daerah yang dikenal dengan nama Besar Nan Empat Belas,di daerah Rao Mapatunggal. Sejak kecil, Asrul sudah gemar membaca-kegemaran yang ia warisi dari ibunya, yang kemudian menyelesaikan pendidikan formal— memiliki cita-cita yang tinggi terhadap anak-anaknya. Pendidikan formal Asrul diawali di sekolah dasar di HIS, Bukittinggi. Di samping belajar di HIS, Asrul mengikuti pelajaran ahama pada sore hari di sekolah agama, Dar el Ashri di kota yang sama. Pada usia 12 tahun (1939), Asrul berangkat ke Jakarta bersama ibunya sesaat ayahnya meninggal. Asrul kemudian melanjutkan ke sekolah menengah teknik KWS, Koningin Wilhemina School,Jakarta. Masuknya Jepang pada tahun 1941, menghentikan pendidikan Asrul karena ibunya menginginkan kembali ke Rao.
Meski sejak awal Djamaludin Malik memimpin dan menjabat ketua umum Lesbumi, tidak diragukan lagi bahwa pemberi bentuk dan konseptor Lesbumi adalah Asrul Sani, disamping Usmar Ismail. Asrul (1927-2004) berusia paling muda diantara kedua rekannya, Djamaludin Malik (1917-1970) dan Usmar Ismail (1921-1971). Dalam kepengurusan pucuk pimpinan Lesbumi, Asrul menjabat Wakil Ketua II.
Asrul Sani adalah konseptor utama Lesbumi. Ia sering memberi prasaran-prasaran dan ceramah-ceramah mengenai kebudayan dalam hubungannya dengan
agama Islam. 42tentu, cermaha-ceramah bertema hubungan kebudayaan dengan agama Islam ini dilakukan belakangan setelah Asrul bergabung dengan Lesbumi. Asrul dikenal seorang sastrawan Angkatan ’45. 43 Angkatan ini ditandai oleh munculnya Surat Kepertjaan Gelanggang tahun 1950. Bersama-sama dengan Chairil Anwar dan Rivai Apin, Asrul mendirikan organisasi seniman bebas ’Gelanggang Seniman Merdeka’. Ketiga penyair ini dianggap sebagai trio pembaru puisi Indonesia, pelopor Angkatan ’45. Mereka menerbitkan kumpulan sajak bersama, Tiga Menguak Takdir (1950). Karya Asrul di bidang sastra lebih banyak ditemukan dalam bentuk cerita pendek, dikumpulkan dalam Dari Suatu Masa Dari Suatu Tempat (1972), dan esai dikumpulkan dalam Surat-surat Kepercayaan (1997).44
Pada saat mendirikan Lesbumi (1962), kegitan Asrul sebenarnya sudah tidak lagi di bidang sastra, tetapi teater dan film. Di dunia teater dan film, Asrul terutama menekuni bidang penulisan skenario. Barangkali karena terdapat aspek ”penulisan skenario” maka bidang teater dan film ini dinilai masih ada hubungannya dengan sastra. Menurut Asrul, hubungan sastra, teater, dan film cukup rumit dijelaskan. Masalahnya, mencari hubungan antara sastra, teater, dan film berarti menghadapi suatu grensgeval, menghadapi persoalan yang edan. 45 yang hanya bisa diuangkapkan adalah bahwa kesamaan unsur yang terdapat dalam kesastraan dan juga film adalah ’unsur bercerita’. Film mengutarakan cerita
42
M.S. Hutagalung, Tanggapan Dunia Asrul Sani: Tindjauan atas Sadjak-sadjak dan Tjerita Pendek, (Jakarta: Gunung Agung, 1967), hal. 23 dalam Choirotun Chisan, LESBUMI; Strategi Politik Kebudayaan, (Yogyakarta, LKiS, 2008). Hal 186
43 A. Teew, Pokok dan Tokoh alam Kesusatraan Baru II. Djakarta: PT Pembangunan dalam Choirotun Chisan, LESBUMI; Strategi Politik Kebudayaan, (Yogyakarta, LKiS, 2008). Hal 186.
44
Choirotun Chisan, LESBUMI; Strategi Politik Kebudayaan, (Yogyakarta, LKiS, 2008). Hal 186
45
Asrul Sani, “Kedudukan Sastra dalam Sandiwara Pentas, Radio, dan Film”, dalam Satyagraha Hoerip (peny.), Antologi Esei tentang Persoalan-persoalan Sastra, (Jakarta: PT Sinar Kasih, 1969), hal. 64-79, dalam Choirotun Chisan, LESBUMI; Strategi Politik Kebudayaan,
dengan gambar, ”kata Asrul menyederhanakan. Ini berarti bahwa film menuntut penguasaan terhadap kedua segi tersebut. Tidak mengherankan jika dalam prasaran Asrul di hadapan peserta Musyawarah Besar I Lesbumi tahun 1962 di Bandung, Asrul lebih asyik menyoroti masalah teater dan film ketimbang sastra—bidang yang belakangan mulai digelutinya secara intensif.46 Berkat keseriusannya di bidang film, Asrul telah banyak membuat film baik skenarionya yang ia buat maupun film tersebut ia sutradarai.
Apa yang dilakukan Asrul Sani terhadap puisi, sama dan sbangun dengan apa yang dilakukannya pada film. Baginya, film adalah alat ungkap dan ekspresi personal. Dalam hal ini, Asrul Sani adalah pengarang (auteur)bagi karya-karyanya karena setiap karya adalah ekspresi pembuatnya. Ini merupakan perubahan besar dari pandangan generasi sebelumnya yang memandang film sebagai sarana ketakjuban. Bagi Asrul Sani, film adalah medium ekspresi. Dalam bahasa Jean Luc Godard, ia tidak membuat film politik, tetapi ia membuat film secara politik. 47