Sementara itu di belahan bumi lainnya, di Benua Afrika, muncul pula peradaban yang hampir bersamaan waktunya dengan kemunculan Peradaban Sumeria di Asia. Di Lembah Sungai Nil, suatu jalur hijau sepanjang kurang lebih 1.200 kilometer, seperti halnya di Asia, ketika penduduk Mesir mulai bercocok tanam, populasinya membesar, dan raja-raja setempat bersaing berebut kekuasaan.
Selama bertahun-tahun ada dua kerajaan: Mesir Hilir dan Mesir Hulu. Pada sekitar 3000 SM, Raja Menes, dari Abydos di Mesir Hulu menaklukkan Mesir Hilir, dan dimulailah Zaman Dinasti.
Terdapat perbedaan yang penting antara keagamaan Babilonia dan Mesir. Agama orang-orang Mesir Kuno lebih tertuju pada soal kematian, dan mereka percaya bahwa jiwa orang mati turun ke dunia-bawah di mana mereka diadili oleh Osiris, raja orang-orang mati, sesuai dengan cara hidupnya di dunia. Mereka pun percaya bahwa pada akhirnya jiwa akan kembali ke tubuh; inilah yang mengilhami pembuatan mummi dan pusara-pusara yang elok.
Gambar 5.1 Peta Wilayah Mesir Kuno
(Sumber: https://www.pinterest.com, akses 2 Juni 2016)
Kehidupan yang nyaman di Mesir membuat penduduknya menyukai kemewahan dan kesenangan, sangat berbeda dengan rekan sezamannya, orang Sumeria
51
yang sangat serius. Ketika orang Sumeria masih memakai kulit domba, orang Mesir sudah belajar menenun linen tipis. Alih-alih menulis di lumpur, mereka menggunakan semacam kertas lembut yang terbuat dari batang buluh papyrus. Keelokan seni mereka tak tertandingi di dunia, bahkan tulisan mereka pun berseni. Mereka masih terkenal karena kosmetik, cat rambut, rambut palsu, dan barang untuk bersolek lainnya. Barang kali manisnya hidup mereka itulah yang membuat orang Mesir begitu mengkhawatirkan kematian. Pada masa Pradinasti, raja dihukum mati bila sudah terlalu lemah untuk dapat memerintah. Para pendeta menghibur raja dengan gagasan bahwa dia akan hidup setelah mati. Maka dari itu orang Mesir berusaha agar supaya badan jasmani orang yang telah mati tidak akan rusak. Untuk mencapai tujuan itu mayat manusia harus dijadikan mummi; ia diberi obat-obatan, sehingga kering dan tidak dapat rusak. Umumnya pembuatan mummi dimulai segera setelah kematian, tapi bila jasad perempuan bangsawan, keluarganya lebih suka membiarkan mayatnya membusuk lebih dulu selama beberapa hari – untuk menghindari nafsu birahi tukang balsem.
Pada masyarakat Mesir Kuno, cara penguburan mayat, jenazah hanya ditimbun pasir tanpa ditandai. Ketika badai gurun datang, maka kuburan itu akan hilang, atau mayatnya dimangsa binatang buas. Melihat pengalaman yang tidak menguntungkan itu, orang Mesir mulai berfikir untuk mempertahankan kuburan nenek moyang mereka. Maka kuburan harus ditutup pada bagian atasnya, muncullah bangunan Mastaba.
Disebut mastaba karena bentuknya seperti bangku yang biasa terdapat di teras rumah orang Mesir Kuno (Bahasa Arab mastaba artinya bangku). Sedangkan untuk makam orang yang meninggal, bentuk mastaba bagian atasnya datar dan mempunyai sisi miring yang terbuat dari batu bata. Agar lebih indah pada sisi yang miring dihiasi dengan pola-pola seni geometrik.
Mastaba mempunyai beberapa kamar, salah
satunya dipergunakan untuk menyimpan jenazah dan yang lainnya dipergunakan untuk menampung barang-barang. Lama-kelamaan mastaba yang dibuat diperbesar dan semakin tinggi, sampai-sampai ada yang lima meter tingginya. Penataannya pun semakin rumit. Pada masa selanjutnya ada mastaba yang dibangun secara besar-besaran, dan mempunyai 30 ruangan.
Gambar 5.2 Tipikal Mastaba
53
Gambar 5.3 Detail Mastaba
(Sumber: https://www.studyblue.com, akses 4 Juni 2016)
Gambar 5.4 Mastaba di Sakhara
Jika di atas mastaba itu dibuatkan beberapa
mastaba yang makin ke atas makin kecil bentuk dan
ukurannya, maka mastaba itu menjelma menjadi sebuah Piramida – piramida berundak. Pada masa kemudian, karena orang selalu mencari jalan untuk memperkuat makam, maka piramida berundak itu, pada bagian luarnya, tepatnya pada bagian undaknya, ditambahkan lapisan batu yang tebal, akhirnya tumbuhlah bentuk piramida lurus – piramida sejati. Salah satu dari piramida berundak itu ialah makam Raja Zoser (Cho-ser) di Sakhara, yang tingginya 60 meter lebih. (Gambar 5.5 dan Gambar 5.6).
Gambar 5.5 Perkembangan Mastaba menjadi Piramida (Sumber: http://wiredcosmos.com, akses 4 Juni 2016)
55
Gambar 5.6 Piramida Berundak (makam Zoser) di Sakhara (Sumber: https://id.wikipedia.org, akses 4 Juni 2016)
Pada sekitar 2700 SM, Raja Zoser meminta arsiteknya, Imhotep, agar membuat makam yang memperlihatkan ketinggian statusnya. Imhotep merancang makam dari batu, bukan batu bata, bahan yang biasa digunakan untuk membangun makam. Di bawah makam dan kuil-kuilnya, dia merancang salah satu jaringan lorong bawah tanah paling ruwet yang pernah dibangun. Dia mengerahkan ribuan pekerja selama musim banjir, yang normalnya adalah saat libur mereka. Batu-batu yang sangat besar didatangkan dari tempat yang jauh dengan melalui Sungai Nil dan gurun.
Kemudian dibangun satu piramida sejati, mungkin untuk Raja Sneferu, pada sekitar 2600 SM. Adalah anak laki-laki Sneferu, Khufu (Cheops-Kheops), yang memutuskan untuk mengabadikan namanya dengan
piramida raksasa. Secara keseluruhan, 100.000 orang menghabiskan waktu 20 tahun membangun makam Khufu di Kota Gizeh. Dia bahkan menutup kuil dan menyuruh para pendetanya bekerja, boleh jadi itu karena mereka menentang sifat Khufu yang mengagungkan diri sendiri. Seperti yang Khufu harapkan, nama dan makamnya tetap bertahan.
Gambar 5.7 Piramida (makam Sneferu) di Gizeh (Sumber: https://commons.wikimedia.org, akses 4 Juni 2016)
Gambar 5.8 Sphinx (kepala manusia, badan singa): Penjaga Piramida di Gizeh
57
Gambar 5.9 Susunan Ruang Piramida (makam Sneferu) di Gizeh (Sumber: http://www.egyptian-pyramids.co.uk, akses 4 Juni 2016)
Era para fir’aun (‘per-o’ = ‘istana agung atau rumah besar’) yang berkuasa selama 500 tahun semenjak Zoser, dikenal sebagai Kerajaan Mesir Tua. Pada masa Kerajaan Mesir Tua, kehidupan penduduk Mesir mulai mengikuti ‘irama tak kenal waktu’.
Pada sekitar 2200 SM, sebuah revolusi menjatuhkan kekuasaan raja dan mulai Periode Peralihan Pertama. Setelah 150 tahun tanpa pemerintah pusat, Mentuhotep, dari Thebes menaklukkan kembali Mesir. Untuk melakukan itu, dia harus berbagi kekuasaan dan tanah dengan para bangsawan lain, sehingga Zaman Kerajaan Mesir Pertengahan juga dikenal sebagai Zaman Feodal.
Pada akhir masa Kerajaan Mesir Pertengahan, ketika para bangsawan sedang cekcok lagi, Mesir Hilir diserang bangsa asing yang mengendarai kereta perang yang ditarik kuda. Makhkluk-makhkluk barbar itu – kuda
dan orang berambut merah – aslinya berasal dari balik Pegunungan Kaukasus, di wilayah Selatan Rusia. Pada suatu waktu sekitar 2000 SM, mereka mulai berimigrasi ke negeri-negeri yang lebih beradab di Selatan. Dengan bantuan kuda-kuda perang mereka, satu kelompok menyatakan diri sebagai penguasa Kanaan, dan pada sekitar 1780 SM, mereka memasuki Mesir.
Bangsa Mesir yang terpecah belah dan takut kuda, menyerah tanpa perlawanan pada ‘Bangsa Hyksos’ atau ‘Raja-raja Asing’, yang pemerintahannya sangat dibenci. Mereka menguasai Mesir antara tahun 1780-1580 SM. Bangsa Hyksos itu mendirikan ibukota baru di Avaris, di sebelah Timur Delta Sungai Nil.
Dua ratus tahun pemerintahan Hyksos memberi orang Mesir satu pelajaran berharga, yaitu menyerang dengan menggunakan kereta perang. Setelah menguasai keahlian mengendarai kereta perang, Ahmosis, seorang bangsawan dari Thebes menyerang Hyksos. Setelah pengepungan panjang, pada tahun 1580 SM, tentara Ahmosis mengusir orang-orang asing itu sampai ke ujung Kanaan, Palestina. Di kemudian hari, Bangsa Hyksos berdiam di Syria Utara.
Sekembalinya ke Mesir, Ahmosis menyingkirkan para bangsawan pesaingnya satu persatu. Ahmosis dan pewaris takhtanya, Amenhotep I, membangun Thebes, tempat kekuasaan Dewa Amon menjadi kota yang indah. Dan mulailah Zaman Kerajaan Mesir Baru, yang nantinya berakhir sekitar tahun 525 SM, setelah Mesir ditaklukkan Persia. Sejak Zaman Kerajaan Mesir Pertengahan, Dewa Amon dipersamakan dengan Dewa Re dan kemudian menjadi dewa dwimurti yang disebut Amon-Re.
59
Raja terbesar pada Zaman Kerajaan Mesir Baru ialah Thutmosis III (sekitar 1490-1436 SM); ia semula memerintah Mesir bersama-sama ibu tiri yang juga bibinya, Hatshepsut. Hal ini terjadi karena Raja Mesir sebelumnya, Thutmosis II (sekitar 1495-1490 SM), yang adalah saudara kandung dan sekaligus menjadi suami Hatshepsut, tidak memiliki keturunan. Menjelang kematiannya, sang raja mengawini seorang selir, dan darinya diperoleh seorang anak laki-laki yakni Thutmosis III. Untuk mencegah krisis pemerintahan, maka Ratu Hatshepsut bertindak sebagai wali Thutmosis III dalam memerintah Kerajaan Mesir. Tak lama kemudian sang Ratu mengangkat dirinya sebagai fir’aun wanita dengan mengesampingkan Thutmosis III.
Hampir duapuluh tahun, Thutmosis duduk di Takhta selalu dibayangi oleh kekuasaan Ratu Hatshepsut. Di antara para fir’aun, Hatshepsut termasuk yang paling aktif membangun Mesir. Setelah sang Ratu meninggal, Thutmosis memperluas wilayahnya dengan menaklukkan sebagian besar wilayah Asia Barat: Palestina, Syria, Funisia, hingga ke Pegunungan Taurus, di Turki Selatan sekarang. Sementara negeri-negeri di Mesopotamia, seperti Mitanni yang berkuasa di Hulu Sungai Eufrat, Kerajaan Babilonia, yang semakin lemah, dan Assyria, yang belum kuat, menyatakan tunduk dan bersedia memberi upeti berupa barang-barang berharga dan tenaga kerja (budak) kepada Mesir. Dengan kekayaan dan tenaga kerja dari negeri-negeri taklukkan, Thutmosis dapat mendirikan kuil, rumah pendewaan, untuk Dewa Amon-Re yang sangat besar dan indah di Karnak dan Luxor.
Gambar 5.10 Lokasi Kuil di Karnak dan Luxor (wilayah Thebes), dan kuil-kuil lain di sekitarnya
(Sumber: http://www.vazyvite.com, akses 17 Juni 2016)
Karnak dan Luxor termasuk dalam wilayah Thebes, yang berada di bagian Timur Sungai Nil. Di bagian Barat Sungai Nil, terdapat beberapa kuil seperti kuil Ramesseum di Theban Necropolis, kuil Sethi I di Abydos, kuil Thutmosis III dan kuil Hatshepsut di Deir El-Bahari.
Pada masa Raja Amenhotep IV (sekitar 1380-1363 SM), negeri Mesir tidak lagi merupakan negeri yang tertutup, karena hubungan dengan Asia sedemikian eratnya; bahkan Thebes menjadi kota dunia, yang sangat ramai.
61
Gambar 5.11 Denah Kompleks Kuil di Karnak (Sumber: http://www.setterfield.org, akses 4 Juni 2016)
Gambar 5.12 Perspektif Kompleks Kuil di Karnak (Sumber: http://www.setterfield.org, akses 4 Juni 2016)
Gambar 5.13 Denah Kuil Amon ( kuil utama) di Karnak (Sumber: http://www.setterfield.org, akses 4 Juni 2016)
Gambar 5.14 Denah Kuil Khonsu di Karnak
(Sumber: http://s464659611.onlinehome.us, akses 4 Juni 2016)
Raja Amenhotep IV adalah penguasa Mesir pertama yang memaklumatkan bahwa dewa yang patut disembah hanyalah satu dewa saja di seantero wilayah kekuasaan Mesir, yakni Dewa Aton (berupa bulatan matahari). Untuk memperlihatkan bahwa ia berbakti kepada Aton, namanya diganti dengan Echn-Aton
63
(Akhenaton). Semua dewa lain, betapapun tua dan regional, dicekal. Kemudian, matahari menjadi dewa tunggal, pencipta dan pemberi makan. Sudah barang tentu tindakan raja itu ditentang oleh pendeta-pendeta agama Amon di Thebes; untuk menghindarkan tentangan itu ia memindahkan ibukota kerajaan dari Thebes ke kota baru, Tell-el-Armana.
Gambar 5.15 Perspektif Kuil Khonsu di Karnak: Tipologi Kuil Mesir Kuno
(Sumber: https://www.pinterest.com, akses 4 Juni 2016)
Nefertite, yang terkenal sebagai ‘putri tercantik dari Zaman Kuno’, istri Raja Akhenaton, sangat mendukung kebijakan suaminya. Tuan putri selalu menyertai baginda, sampai-sampai pada upacara-upacara ketika menerima duta negeri asing. Pada waktu yang sedemikian duduklah Nefertite di samping baginda. Nefertite memberikan baginda tujuh orang putri.
Gambar 5.16 Denah Kuil di Luxor
(Sumber: http://www.ancientluxor.com, akses 4 Juni 2016)
Gambar 5.17 Perspektif Kuil di Luxor
65
Gambar 5.18 Pilar Kuil Amon di Karnak (sebuah model) (Sumber: http://www.ancient-wisdom.com, akses 4 Juni 2016)
Gambar 5.19 Bentuk alam (pohon papirus dan lotus) sebagai acuan bentuk pilar dan kapital Kuil di Mesir Kuno
Gambar 5.20 Reruntuhan Kuil Amon di Karnak (Sumber: http://www.anniebees.com, akses 4 Juni 2016)
Sang raja yang monoteis itu pun meninggal dan digantikan oleh salah seorang menantunya, Tut-Anch-Aton. Para pendeta berhasil memaksa raja baru ini untuk kembali berbakti kepada Dewa Amon, dan dewa-dewa lama dikembalikan ke tempat-tempat pemujaan mereka. Kemudian raja juga mengganti namanya dengan Tut-Anch-Amon (Tutenkhamon).
Gambar 5.21 Akhenaton
67
Fir’aun-fir’aun Mesir Kuno selalu menyuruh membuatkan lukisan maupun patung mereka dalam segala kebesarannya. Mereka ingin dipandang sebagai dewa, sebab mereka sendiri sudah menganggap dirinya dewa.
Pada Gambar 5.21, tampak Akhenaton memakai mahkota kembar dari Mesir Utara dan Selatan. Pada bagian depan mahkota tampak ukiran ular keramat pada tingkat pertama, yakni lambang kebijaksanaan dan kehidupan.
Gambar 5.22 Bentuk pilar dan kapital Kuil di Mesir Kuno, (Sumber: http://pix-hd.com, akses 4 Juni 2016)
Gambar 5.23 Pembuatan batu bata di Mesir Kuno, (Sumber: http://www.egypt-shape.com, akses 19 Juni 2016)
Tampak pada Gambar 5.20, hamba sahaya bangsa Asia sedang membakar dan menimbun batu bata. Orang Mesir belum mengenal gambar perspektif, oleh karena itu segala yang tampak terlukis di bagian atas sesuatu haruslah dibayangkan bahwa letaknya sebenarnya di bagian belakang. Di sebelah kiri tampak sebuah kolam; di dalamnya ada tumbuh-tumbuhan. Dua orang sedang menimba air untuk membasahi tanah liat, bahan membuat batu bata. Kendi yang seorang telah penuh, tetapi yang seorang lagi masih asyik menimba. Di sebelah paling kanan, tampak orang Mesir yang mengawasi pekerjaan itu. Orang itu memegang sebuah tongkat. Di bagian depan gambar, tampak dua orang sedang mencangkul tanah liat kering. Di sebelah kiri bagian belakang gambar, tampak seorang yang memasukkan tanah liat yang dibasahkan ke dalam tuangan. Di sebelah kanan depan, kelihatan orang-orang yang mengangkut batu bata yang telah selesai dibakar.