Sekitar tahun 2000-an SM, sekelompok orang di Kota Ur, di bawah pimpinan Abram atau Abraham atau Ibrahim, meninggalkan kota pergi menuju ‘tanah yang dijanjikan Tuhan’, yakni Kanaan. Para peneliti menduga bahwa Abraham mungkin sekali merupakan salah seorang pemimpin kafilah pengembara yang membawa rakyatnya dari Mesopotamia menuju Laut Mediterranean (Laut Tengah) pada akhir milenium ketiga SM. Para pengembara ini – sebagian dari mereka disebut Abiru, Apiru, Habiru, dalam sumber-sumber Mesopotamia dan Mesir – berbicara dalam Bahasa Semit Barat, yang mana Bahasa Ibrani adalah salah satunya.
Kisah dalam Alkitab tentang Abraham dan anak keturunannya mengindikasikan adanya tiga gelombang kedatangan orang-orang Ibrani di Kanaan. Yang pertama, terkait dengan kedatangan Abraham dari Mesopotamia; kemudian, setelah kematian istrinya, Sara, ia membeli tanah dan menetap di Hebron, sekitar tahun 1850 SM. Gelombang kedua, berkaitan dengan cucu Abraham, Yakub; ia menetap di Sikhem, yang sekarang menjadi kota Arab, Nablus, di Tepi Barat. Dan gelombang ketiga, terkait dengan kedatangan suku-suku yang mengaku keturunan Abraham, tiba di Kanaan dari Mesir, sekitar 1200 SM.
Mereka mengatakan bahwa mereka telah dijadikan budak oleh orang Mesir, tetapi dimerdekakan oleh Tuhan yang bernama Yahweh, yang juga merupakan tuhannya pemimpin mereka, Musa. Setelah mendesak masuk ke Kanaan, mereka beraliansi dengan orang Ibrani yang ada di sana dan kemudian disebut sebagai orang Israel, nama yang dinisbatkan kepada nama Yakub.
Gambar 2.1 Peta rute perjalanan Abraham dan Musa (Sumber: http://just-another-inside-job.blogspot.co.id,
akses 26 Mei 2016)
Jauh sebelum Abraham, sekitar 3000 SM, banyak suku-suku Arab yang berhijrah dari Jazirah Arab menuju Utara. Suku Funisia (Phoenicia) adalah yang pertama; mereka berdiam di tepi pantai Laut Mediterranean, di Asia Barat. Daerah pantai ini sebenarnya terlalu sempit, karena di sebelah Baratnya dibatasi oleh laut, dan di sebelah Timurnya oleh gunung-gunung (wilayah yang sekarang dikenal Lebanon). Oleh karenanya, mereka menuju ke laut dan berlayar, yang dengan cara itu mereka
13
dapat berhubungan dengan banyak negara untuk berdagang. Di sebelah Selatan kawasan yang didiami oleh Bangsa Funisia itu, tinggal pula Bangsa Arab lainnya, Bangsa Kanaan, yaitu sekitar 2500 SM. Mereka mendiami tepian Sungai Yordan sebelah Barat yang terbentang ke Laut Mediterranean. Daerah yang didiami Bangsa Kanaan ini, oleh Alkitab dinamakan ‘Tanah Kanaan’.
Di sebelah Timur Laut Sungai Yordan, hidup orang-orang Aramaean yang datang dari Lembah Sungai Eufrat, Mesopotamia; negeri mereka kemudian dikenal dengan Syria (Suriah). Kedatangan orang-orang Aramaean, yang juga berbahasa Semit, di Syria, bisa jadi karena mereka terdesak oleh Bangsa Mitanni yang berbahasa Indo-Eropa, yang mulai menghuni Lembah Sungai Eufrat; dan waktunya, kemungkinan, menjelang tahun 1500 SM. Salah satu kota yang dapat didirikan oleh Bangsa Aramaean ialah Kota Damaskus, yang sejak itu menguasai perdagangan di seluruh Asia Barat. Di sebelah Timur Sungai Yordan, dan Selatan Laut Mati (Laut Luth), terdapat tiga kerajaan, yakni Amon, Moab, dan Edom, yang juga menggunakan Bahasa Semit.
Sekitar tahun 1000 SM, Bangsa Aramaean dapat menciptakan suatu macam tulisan, yang apabila dibandingkan dengan Huruf Hieroglyph atau Huruf Paku lebih sempurna. Karena Bangsa Syria menjadi bangsa yang maju perdagangannya di Asia Barat, maka Bahasa Aramaean juga berkembang dan dipergunakan oleh segenap bangsa di Asia Barat dan Laut Mediterranean, mengalahkan bahasa-bahasa lokal lainnya. Sebagai contoh, Yesus, yang sesungguhnya orang Yahudi,
berbicara, tidak dalam Bahasa Ibrani, melainkan dengan Bahasa Aramaean.
Kedekatan hubungan antara Tanah Kanaan, tempat lahirnya agama-agama samawi, Yahudi dan Kristen, dengan Jazirah Arab, tempat lahirnya agama samawi, Islam, cukup menjadi petunjuk bahwa Abraham, ‘Bapak Bangsa-Bangsa’ dan ‘Bapak Para Nabi’ pernah berdakwah menyampaikan Risalah Tuhan di kedua wilayah itu. Ishak, putra kedua Abraham dan keturunannya berdakwah di Tanah Kanaan dan sekitarnya, sementara Ismail, putra pertama Abraham dan keturunannya berdakwah di Jazirah Arab.
Menurut Al-Qur’an, Abraham dan Ismail Alaihissalam adalah bapak dan anak yang saling bahu-membahu membangun Ka’bah, Bait Allah, di Mekah, jauh sebelum Sulaiman membangun Bait Suci di Yerusalem. Istri Abraham, Hajar (Hagar), bersama Ismail yang masih kecil ditinggal oleh Abraham di lembah Bakkah (Mekah). Di tempat itu, kemudian terbangun permukiman masyarakat Arab. Dari tempat ini pula, Muhammad bin Abdullah mendapat perintah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk mengajarkan agama Islam ke seluruh umat manusia.
Hampir bersamaan waktunya dengan kedatangan orang-orang Israel di Kanaan dari Mesir, sekitar 1200 SM, gelombang orang-orang Suku Filistin dari Pulau Krete (Kreta) di Laut Mediterranean, datang di tepi Pantai Asia Barat mencari tempat kediaman baru setelah kediaman mereka sebelumnya dihancurkan oleh serangan dari Utara. Mereka mendiami daerah antara Yava dan Gaza. Maka bercampurlah mereka dengan orang-orang Kanaan
15
yang terlebih dulu ada di sana. Wilayah ini kemudian dikenal dengan Palestina. Karena wilayah Palestina terletak di antara kedua negara besar, Mesir di Barat dan Babilonia di Timur, di mana di sanalah muncul dan tumbuhnya kemegahan peradaban pada Zaman Kuno, maka ia paling banyak dipengaruhi oleh kedua negara itu. Perebutan pengaruh atas Palestina diramaikan pula oleh Kerajaan Hittite (Hatti) di Utara, yang kekuasaannya meliputi wilayah Asia Kecil (Turki sekarang). Tumbuhnya Kerajaan Hittite hampir sezaman dengan tumbuhnya kesatuan politik di Palestina.
Gambar 2.2 Peta rute perjalanan Abraham, Hajar, dan Ismail (Sumber: http://www.angelfire.com, akses 29 Mei 2016)
Gambar 2.3 Perspektif Kota Berbenteng di Kanaan (sebuah model) (Sumber: http://realhistoryww.com, akses 20 Juni 2016)
Sekitar 4000 SM, di Kanaan orang-orang yang sebagian besar adalah para petani, membangun rumah-rumah mereka dari bahan bata-lumpur. Mereka hidup dalam sebuah kota yang berdinding tebal terbuat dari bahan batu kasar dan bata-lumpur. Dalam kota yang berdinding ini, para petani menghasilkan berbagai produk hortikultura lokal, seperti: zaitun, anggur, dan gandum. Para petani juga menggembalakan ternak.
Dengan berjalannya waktu, kota-kota awal tumbuh lebih kompleks, dengan penambahan dinding kota di bagian luar dinding pertama, sehingga sebuah kota bisa memiliki dua atau tiga dinding pelindung kota; ia sebagai dinding pertahanan. Keberadaan dinding-dinding kota yang dijaga ketat, adalah bukti bahwa ini bukan periode damai.
17
BAGIAN 3
BABILONIA
Di bawah kepemimpinan Hammurabi (1792-1750 SM), Kerajaan Babilonia yang ibukotanya di Babilon, mengalami kemajuan pesat, wilayahnya mencakup Assyria, Mesopotamia Utara (di bagian Barat Laut Mesopotamia) dan Mesopotamia Selatan (di bagian Tenggara Mesopotamia). Selama pemerintahannya, ia memajukan pendidikan, seni, ilmu pengetahuan, perdagangan, dan mengeluarkan hukum tertulis.
Hukum itu dikenal dengan Undang-Undang Hammurabi; terdiri atas 280 pasal. Undang-Undang Hammurabi, antara lain mengatur: soal pencurian dan tukang tadahnya, korupsi, pembunuhan, penculikan, penipuan, perpajakan, pencemaran nama baik, dan kehidupan keluarga. Salah satu isi Undang-Undang Hammurabi: dalam perkawinan Bangsa Babilonia, pengantin laki-laki memasang cadar pada mempelai perempuannya sebagai tanda bagi laki-laki lain bahwa perempuan itu adalah miliknya dan tidak boleh diperebutkan lagi. Si laki-laki berusaha meyakinkan perempuannya bahwa cadar itu demi kebaikan mereka sendiri – bahkan itu adalah hak istimewa. Menurut hukum Babilonia, perempuan budak dan selir dilarang mengenakan cadar. Hammurabi juga punya
gagasan-gagasan segar: dia menjadikan Marduk sebagai raja semua dewa, mitos kuno pun diciptakan, seperti ‘ Marduk menciptakan langit dan bumi’. Hammurabi membangun ibukotanya menjadi kota terbesar di antara Mesir dan India. Sepeninggal Hammurabi, Babilonia mengalami kemunduran.
Gambar 3.1 Undang-Undang Hammurabi. Dewa Marduk, sedang duduk di singgasananya, memegang gulungan undang-undang, yang
hendak diserahkannya kepada baginda.
19
Pada tahun 1739 SM, bangsa barbar dari Timur, Bangsa Kassit, berhasil menaklukkan ibukota Babilon dan menguasai Mesopotamia Selatan. Dan, pada tahun 1595 SM, Raja terakhir Dinasti Babilonia, Samsuditana, ditaklukkan oleh Raja Mursilis I (1620-1590 SM), dari Kerajaan Hittite. Namun, Bangsa Hittite, tidak sepenuhnya memerintah di Mesopotamia, dan wilayah ini dibiarkan begitu saja, sehingga Bangsa Kassit masih memerintah di Mesopotamia Selatan. Dan, sekitar 1500 SM, wilayah di Hulu Sungai Eufrat, Mesopotamia Utara, dikuasai sepenuhnya oleh Bangsa Mitanni.
Sementara, di bagian wilayah Utara Mesopotamia, muncul kekuatan baru, Bangsa Assyria, yang berpusat di Kota Ashur (Assur), di Hulu Sungai Tigris. Bangsa Assyria, sebelumnya, menjadi bagian dari kekuasaan Babilonia. Dimulai sekitar abad 17 SM, dengan melakukan serangkaian ekspedisi militer dan berusaha memperluas pengaruhnya, Bangsa Assyria, empat abad berikutnya (abad 13 SM), berhasil menduduki dan menguasai daerah-daerah yang letaknya di sebelah Utara. Pada masa kekuasaan raja-raja Tiglath-Pilaser III, Sargon II, Sennacherib, dan Assarhaddon, yang memerintah pada abad 9-7 SM, Kerajaan Assyria mengalami kejayaannya.
Sekitar abad 7 SM, Sargon II menjadi penguasa Assyria. Pada masa pemerintahannya, Sargon II memindahkan ibu kota dari Assur ke Dur-Sharrukin, kira-kira 20 km di sebelah Timur Laut Nineveh, dekat desa Khorsabad zaman sekarang.
Istana Sargon II dibangun bersamaan dengan pembangunan ibu kota baru. Arsitektur istana Sargon II
memiliki 200 ruangan di lahan seluas hampir 10 ha yang dibuat lebih tinggi 7,5 m daripada wilayah sekitarnya. Patung-patung lembu raksasa yang bersayap dan berkepala manusia menjaga gerbang istana. Tembok-tembok istana dihiasi lukisan maupun relief yang menggambarkan kampanye militer dan prestasi sang raja.
Gambar 3.2 Denah Kota Khorsabad
21
Gambar 3.3 Perspektif kota berbenteng Sargon II di Khorsabad (Sumber: https://www.pinterest.com, akses 25 Mei 2016)
Gambar 3.4 Perspektif istana Sargon II di Khorsabad (Sumber: http://www.crystalinks.com, akses 26 Mei 2016)
Gambar 3.5 Perspektif gerbang istana Sargon II di Khorsabad (Sumber: http://www.istockphoto.com, akses 26 Mei 2016)
Sepeninggal Sargon II, Assyiria dipimpin oleh putranya yang bernama Sennacherib. Sennacherib membangun istana baru di Kouyunjik, tidak jauh dari Khorsabad, masih termasuk wilayah Nineveh. Pada masa Sennacherib, arsitektur kota Nineveh yang semula kurang menarik, segera diperindah, dengan patung-patung yang besar dan tinggi menghiasai kota. Dinding kotanya amat kokoh; tingginya duapuluh lima meter. Di setiap sudut dinding kota dilengkapi menara-menara berbentuk segi empat yang jumlahnya mencapai seratus enampuluh tujuh buah. Jalan masuk ke kota yang merupakan benteng itu berupa delapan buah pintu gerbang yang dibuat dari perunggu. Pintu gerbang tadi diperkuat semuanya; di kiri dan kanannya, ditempatkan patung lembu besar yang bersayap. Semua pintu gerbang kota dan pintu masuk ke istana di kerajaan Assyria dijaga oleh
23
lembu bersayap, tubuhnya menyerupai lembu jantan, tetapi kepalanya meniru kepala manusia. Patung lembu yang bersayap itu dinamakan Lamassu; ia selalu dibuat berkaki lima, sehinga selalu tampak empat buah kaki dari manapun ia dilihat.
Gambar 3.6 Denah istana Sennacherib di Kouyunjik (Sumber: http://picssr.com, akses 26 Mei 2016)
Hingga tahun 650 SM, Assyria menjadi sebuah kerajaan yang tiada tertandingi, wilayahnya hampir meliputi seluruh kawasan Timur Tengah sekarang, yang membentang mulai dari Teluk Persia di Timur hingga Lembah Sungai Nil di Barat, dan dari Gurun Arabia di Selatan hingga Tanah Palestina di Laut Tengah. Untuk sementara Yerusalem selamat dari sepak terjangnya.
Gambar 3.7 Perspektif istana Sennacherib di Kouyunjik (Sumber: http://www.bbc.com, akses 26 Mei 2016)
Gambar 3.8 Interior istana Sennacherib di Kouyunjik (Sumber: www.crystalinks.com, akses 26 Mei 2016)
25
Gambar 3.9 Lukisan taman istana Sennacherib di Kouyunjik (Sumber: https://gatesofnineveh.files.wordpress.com, akses 26 Mei 2016)
Sementara itu di wilayah Asia Barat, sekitar abad 11 SM, untuk pertama kalinya orang Israel berperang melawan orang Filistin, di Tanah Kanaan, mereka langsung kalah total. Suku-suku Israel, yang merujuk kepada keduabelas putra Yakub, melawan dengan mentaati perintah tunggal seorang raja, Saul. Setelah Saul meninggal, salah satu suku, Yehuda, mengangkat seorang suci, Daud, sebagai raja, sementara suku-suku Israel lainnya mengikuti Isyboset, putra Saul. Selama dua tahun, kedua pihak itu bertempur, dan akhirnya Isyboset berhasil dibunuh. Sekarang, gantian Bangsa Filistin diserang dan dikalahkan oleh Yehuda pimpinan Daud. Karena terkesan posisinya yang kuat dan sulit dijangkau musuh, setelah berhasil menaklukkan Yerusalem, Daud, menjadikannya sebagai ibu kota kerajaan. Kemenangan Daud atas orang-orang Filistin membuatnya ditaati oleh
seluruh suku Israel. Namun, bangsa Filistin dapat mempertahankan independensinya sampai tahun 734 SM, ketika Filistin diserbu oleh Raja Tiglath-Pileser III, dari Assyria.
Kemudian, Daud mengalahkan kerajaan-kerajaan Moab, Amon, dan Edom. Kejayaan Daud diperlihatkan dengan keberhasilannya menyatukan seluruh wilayah Syria Selatan, kecuali Filistin, sampai jauh ke Utara di pedalaman, ke ujung Selatan Dataran Anti Lebanon, sampai di sebelah Utara Damaskus. Setelah Daud meninggal, pada tahun 955 SM, putranya, Salomo, menggantikannya.
Salomo mewujudkan keinginan ayahnya, Daud, untuk membangun sebuah Bait Suci bagi Tuhan Yahweh di Yerusalem. Raja Hiram di Tyre, Funisia, memberi Salomo bantuan teknologi yang diperlukan dalam pembangunan itu. Salomo membangun Bait Suci bagi Yahweh di atas bukit kota sebelah Timur, di mana Kubah Batu, tempat suci Muslim yang sangat penting, saat ini berdiri. Bangunan Salomo berbentuk empat persegi panjang dengan serambi menghadap Timur. Tempat yang paling suci, di bagian tengah, berisi Tabut Perjanjian, dan seluruh bangunan dikelilingi tembok tebal.
Bait Suci itu mulai dibangun pada tahun 968 SM. Tujuh tahun kemudian dapat diadakan upacara pembukaan Bait Suci oleh Raja Salomo. Di tengah-tengah tampak sebuah gedung, yang lebih tinggi dari yang lain. Di situlah terdapat ‘tempat suci’ dan ‘tempat yang maha suci’. Gedung itu dikelilingi oleh ruang-ruang dengan pembatas yang terbuat dari batu. Di ruangan itulah disimpan alat-alat upacara yang diperlukan ketika ada
27
kebaktian. Seluruh gedung induk itu dikelilingi oleh dua pelataran, satu untuk pendita-pendita dan yang sebuah lagi untuk rakyat. Pelataran tempat pendita-pendita lebih tinggi letaknya daripada pelataran untuk rakyat. Tepat di bagian depan gedung induk itu didirikan sebuah mezbah tempat membakar kurban, dan di situlah juga dijumpai ‘kolam tembaga’. Setelah Bait Suci ini berumur seratus tahun, pernah mengalami perbaikan-perbaikan. Namun, pada tahun 597 SM, oleh Nebuchadnezzar, Bait Suci ini dihancurkan.
Gambar 3.10 Bait Suci yang dibangun Salomo di Yerusalem (Sumber: http://www.bijbelseplaatsen.nl, akses 26 Mei 2016)
Menjelang akhir kekuasaan Salomo, kerajaan yang dibangun Daud, mulai menunjukkan kemunduran. Dimulai oleh orang-orang Edom dan Damaskus, yang berhasil memberontak pada akhir masa kekuasaan Salomo.
Setelah kematian Salomo, sekitar tahun 935 SM, orang-orang Israel non-Yehuda pun melepaskan diri dari Yehuda dan membangun sebuah kerajaan sendiri yang terpisah. Sekarang kerajaan terpecah menjadi dua: Yehuda dan Israel. Kerajaan Yehuda, dipimpin oleh Rehabeam, putra Salomo, beribukota di Yerusalem, menguasai wilayah bagian Selatan. Kerajaan Israel, dipimpin oleh Yerobeam, seorang pegawai istana raja, beribukota di Sikhem (kemudian pindah ke Samaria), menguasai wilayah bagian Utara. Dalam kondisi demikian, mereka harus menghadapi serangan Assyria.
Menghadapi serangan Assyria, para pemimpin Yehuda, Israel, Damaskus, Moab, Amon, dan Edom mengesampingkan pertikaian mereka, dan mengadakan koalisi. Dan ternyata koalisi mereka berhasil menahan serangan Assyria untuk sementara dalam pertempuran tahun 853 SM.
Pasukan Assyria terus bergerak maju, dan akhirnya pada 722 SM, Samaria, ibukota Israel jatuh. Lebih dari 27.000 penduduk diusir, dan tamatlah kerajaan Israel. Para penduduk yang diusir itu kemudian dikenal sebagai Sepuluh Suku Israel Yang Hilang. Sementara Raja Yehuda memberi banyak hadiah untuk Raja Assyria. Namun, pada 701 SM, setelah mengetahui Yehuda berkomplot dengan Mesir, pasukan Assyria benar-benar menyerang Yehuda, dan mengepung Yerusalem. Tiba-tiba datanglah wabah yang menyerang pasukan Assyria, sehingga Yerusalem terselamatkan.
Pada tahun 612 SM, Nineveh, ibukota Assyria, berhasil dihancurkan oleh pasukan gabungan: Bangsa Chaldea, suatu bangsa yang juga berbahasa Semit dan
29
menguasai tanah Mesopotamia bagian Selatan – bekas kerajaan Babilonia Lama – , dan dua bangsa yang berbahasa Indo-Eropa, yakni Bangsa Media dan Persia. Kerajaan Chaldea, yang juga dikenal sebagai Kerajaan Babilonia Baru, memilih Babilon sebagai ibukotanya.
Raja Babilonia Baru yang terkenal adalah Nebuchadnezzar. Pada tahun 597 SM, ia berhasil menaklukkan Yehuda, merebut dan menghancurkan Yerusalem; dan memindahkan sekitar 20.000 warga kelas atas Bangsa Yehuda ke Babilon.
Ketika Cyrus, Raja Persia, menguasai Babilonia, pada tahun 539 SM, maka secara otomatis, ia menjadi penguasa atas Yehuda. Raja Persia memperkenankan Bangsa Yehuda kembali ke Yerusalem, dan siap membantu pembangunan kembali Yerusalem. Persia menisbatkan Bangsa Yehuda dengan nama Yahudi, dan menamakan keyakinan mereka sebagai agama Yahudi. Sejak saat itu sebutan ‘Yahudi’ dilekatkan pada orang yang menganut agama Yahudi.
Ketika Nebuchadnezzar diangkat menjadi raja, Kota Babilon masih merupakan sebuah kota yang tidak menarik, karena seringnya diserang dan dihancurkan musuh. Maka, segera setelah itu, ia memugar dan mendirikan bangunan-bangunan baru di Kota Babilon, dan jadilah sebuah kota yang mengagumkan.
Keadaan arsitektur Kota Babilon: bentuknya segiempat dikelilingi tembok yang dihiasi dengan gambar-gambar binatang buas, dengan Sungai Eufrat yang mengalir di tengahnya. Di kota itu terdapat beberapa kuil, di antaranya Kuil Marduk. Di dalam kuil terdapat Ziggurat
Etemenanki. Di bagian tengah kuil juga dijumpai Menara Babel. Tidak jauh dari Kuil Marduk terdapat Taman Gantung yang terkenal itu, yang merupakan salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia. Taman Gantung Babilon dibangun di atas bukit buatan, tingginya sekitar 107 meter, bentuknya berupa podium bertingkat yang ditanami dengan pohon, rumput, dan bunga-bungaan. Ada air terjun buatan berasal dari air sungai yang dialirkan ke puncak bukit, lalu mengalir melalui saluran buatan; jadilah tempat yang asri dan sejuk di daerah yang panas dan kering.
Gambar 3.11 Denah Kota Berbenteng (Citadel) Babilon (Sumber: http://www.bible-history.com, akses 26 Mei 2016)
31
Gambar 3.12 Perspektif Kota Babilon
(Sumber: http://www.historyfiles.co.uk, akses 26 Mei 2016)
Gambar 3.13 Perspektif Gerbang Utama (Ishtar Gate) Kota Babilon (Sumber: https://www.pinterest.com, akses 26 Mei 2016)
Gambar 3.14 Perspektif Taman Gantung di Kota Babilon (Sumber: https://www.pinterest.com, akses 26 Mei 2016)
Gambar 3.15 Perspektif Ziggurat Etemenanki di Kota Babilon (Sumber: https://www.pinterest.com, akses 26 Mei 2016)
33
Agama orang Babilonia lebih mengutamakan kesejahteraan di dunia daripada kebahagiaan di akhirat nanti. Ilmu sihir, penujuman, dan ilmu perbintangan lebih banyak dikembangkan di sini daripada tempat-tempat lain. Dari Babilonia pun lahir beberapa hal yang tergolong ilmu pengetahuan: pembagian hari menjadi 24 jam, 1 jam=60 menit, 1 menit=60 detik, dan lingkaran menjadi 360 derajat; juga ditemukannya siklus gerhana, yang memungkinkan terjadinya gerhana bulan bisa diramal dengan tepat, dan gerhana matahari dengan beberapa perkiraan.
Gambar 3.16 Astronomi Babilonia
Gambar 3.17 Lamassu