Peradaban dan Arsitektur
DUNIA KUNO:
SUMERIA-MESIR-INDIA
Ada 3 peradaban awal
manusia di muka bumi
ini, yaitu Peradaban
Sumeria, Mesir dan
India. Ketiga peradaban
ini menunjukkan kepada
kita bagaimana
puncak-puncak kebudayaan dan
arsitektur awal muncul.
Buku ini dilengkapi
banyak gambar, sehingga
sangat memudahkan
dalam memahami
peradaban dan arsitektur
Dunia Kuno tersebut.
Ashadi, lahir 25 Pebruari 1966, di Cepu, Jawa Tengah. Pendidikan terakhir: sedang menempuh S3 Arsitektur di Unpar. Ia aktif sebagai dosen di Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta (FT-UMJ), sejak tahun 1993. Jabatan Struktural yang pernah dan sedang diemban yakni: Kepala Laboratorium Arsitektur FT-UMJ (1996-2000); Ketua Program Studi Arsitektur FT-UMJ (2000-2004 dan 2015-sekarang); Wakil Dekan FT-UMJ (2004-2006); Kepala Pusat Afiliasi, Kajian dan Riset Teknologi FT-UMJ (2007-2011); Kepala Lembaga Pengembangan Bisnis FT-UMJ (2011-2015). Kegiatan ilmiah yang pernah dan sedang dilakukan: Penelitian Hibah Bersaing DIKTI, publikasi jurnal nasional maupun internasional, dan presentasi ilmiah pada forum-forum seminar skala nasional maupun internasional. Jabatan Fungsional Dosen terakhir: Lektor Kepala.
Peradaban dan Arsitektur
DUNIA KUNO:
SUMERIA-MESIR-INDIA
Ashadi
Penerbit Arsitektur UMJ Press
2016
Peradaban dan Arsitektur
DUNIA KUNO: SUMERIA-MESIR-INDIA
Penulis: ASHADI
CETAKAN PERTAMA, AGUSTUS 2016
Hak Cipta Pada Penulis
Hak Cipta Penulis dilindungi Undang-Undang Hak Cipta 2002
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apapun tanpa izin tertulis dari Penerbit.
Desain Sampul : Abu Ghozi Tata Letak : Abu Ghozi
Perpustakaan Nasional – Katalog Dalam Terbitan (KDT) ASHADI
Peradaban dan Arsitektur Dunia Kuno: Sumeria-Mesir-India Jumlah halaman 100
ISBN 978-602-74968-0-4
Diterbitkan Oleh Arsitektur UMJ Press
Jln. Cempaka Putih Tengah 27 Jakarta Pusat 10510 Tetp. 021-4256024, Fax. 021-4256023
E-mail: [email protected] Gambar Sampul: Persepolis
(http://www.bigstockphoto.com, akses 31 Mei 2016) Dicetak dan dijilid di Jakarta
Isi di luar tanggung jawab percetakan
|arsitekturUMJpress|
Sanksi Pelanggaran Pasal 72:
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
2 ayat (1) atau pasal 49 ayat (1) dan (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/ atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum
suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (limaratus juta rupiah).
i
KATA PENGANTAR
Peradaban Sumeria, Mesir dan India Kuno adalah puncak-puncak awal kebudayaan dan arsitektur sebagai hasil olah pikir manusia. Dunia Kuno didominasi oleh peradaban dan arsitektur yang dibangun oleh manusia-manusia yang menggantungkan hidupnya di tepian sungai. Peradaban dan arsitektur Sumeria dibangun tidak jauh dari Sungai Eufrat. Mesir Kuno mengandalkan Hilir dan Lembah Sungai Nil, dan India memiliki dua kota kuno (Harappa dan Mohenjo-Daro) yang letaknya di Lembah Sungai Indus.
Buku ini menguraikan benang merah peradaban dan arsitektur di ketiga wilayah tersebut. Dengan mengeksplorasi kota-kota, bangunan-bangunan, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan kehidupan manusianya, dapat ditengarai bahwa di sana terdapat persamaan-persamaan. Kelengkapan gambar yang disajikan sangat membantu dalam memahami isi buku ini.
Ucapan terimakasih saya haturkan kepada Penerbit Arsitektur UMJ Press, yang telah bersedia menerbitkan buku ini. Semoga buku ini bermanfaat bagi kalangan pencinta buku.
Jakarta, Agustus 2016 Penulis
iii
PENGANTAR PENERBIT
Alhamdulillah, tulisan Ashadi, berjudul Peradaban dan
Arsitektur Dunia Kuno: Sumeria-Mesir-India, dapat kami
terbitkan. Buku ini adalah buku pertama dari empat buku yang diterbitkan dalam waktu bersamaan. Empat buku tersebut: (1) Peradaban dan Arsitektur Dunia Kuno:
Sumeria-Mesir-India; (2) Peradaban dan Arsitektur Klasik Yunani-Romawi; (3) Peradaban dan Arsitektur Zaman Pertengahan Byzantium, Kekristenan, Arab dan Islam; dan
(4) Peradaban dan Arsitektur Modern.
Dalam buku ini, penulis berusaha menelusuri akar peradaban dan arsitektur Sumeria, Mesir dan India, melalui tema-tema yang menarik, dengan menempatkan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada kurun waktu yang panjang, yang menurutnya memiliki keterkaitan antara satu dengan lainnya.
Kekuatan buku ini adalah deskripsi mendalam sejarah dan arsitektur dalam kerangka peradaban besar manusia. Kehadiran buku ini perlu mendapat apresiasi sebagai suplemen dalam khasanah ilmu pengetahuan. Jakarta, Agustus 2016
v
DAFTAR ISI
HAL. KATA PENGANTAR i PENGANTAR PENERBIT iii DAFTAR ISI v Bagian 1 Awal Peradaban Manusia 1 Bagian 2 Migrasi Ke Tanah Kanaan 11 Bagian 3 Babilonia 17 Bagian 4 Persia Kampium Di Timur 35 Bagian 5 Fir’aun Membangun Piramida 49 Bagian 6 Fir’aun vs Musa 69 Bagian 7 Warisan Harappa Dan Mohenjo-Daro 81 DAFTAR PUSTAKA 89
1
BAGIAN 1
AWAL PERADABAN MANUSIA
Sekitar lima ribu tahun yang lalu, suku-suku bangsa yang berbahasa Semit bermigrasi dari kampung halaman mereka, Jazirah Arab, menuju Utara, Asia Barat hingga ke Lembah Sungai Tigris dan Eufrat, Mesopotamia. Yang termasuk orang-orang berbahasa Semit adalah Bangsa Akkadia, Amoriah, Kanaan, Yahudi dan Arab, yang sekarang dikenal sebagai Irak, Syria, Yordania, Palestina, Israel dan Arab.
Sementara, Rusia Selatan, atau Asia Tengah bagian Utara, di balik Pegunungan Kaukasus, wilayah di sekitar Laut (Danau) Kaspia dan Laut (Danau) Aral, disinyalir merupakan tempat asal suku-suku bangsa yang berbahasa Indo-Eropa, yang menurunkan bangsa-bangsa besar di kemudian hari. Empat ribu tahun yang lalu, orang-orang Indo-Eropa menyebar dari kampung halaman mereka ke segala arah, kecuali Utara. Mereka menuju Timur sampai di Mongolia (Bangsa Mongol), ke arah Selatan sampai di Mesopotamia – Irak sekarang – (Bangsa Mittani), Iran (Bangsa Media dan Persia) dan India (Bangsa Arya), ke arah Barat Daya sampai di Asia Kecil – Turki sekarang – (Bangsa Hittite), Asia Barat dan Mesir (Bangsa Hyksos), dan Yunani (Bangsa Achaea), dan ke arah Barat sampai di Eropa Tengah (Bangsa Celtic – Jerman). Pada
akhirnya kedua rumpun suku bangsa nomaden itu – Semit dan Indo-Eropa – bertemu dan saling berebut pengaruh dan kekuasaan di wilayah Mesopotamia dan Asia Barat.
Pada sekitar 4000-an SM, di wilayah yang dikenal dengan Daerah Bulan Sabit Subur, di Lembah Sungai Tigris dan Eufrat (sekitar Irak sekarang), sudah tumbuh dan berkembang sebuah peradaban. Sejumlah manusia awal tinggal di wilayah itu, dan mereka menyebut wilayah yang berlumpur itu dengan Sumeria. Wilayah itu kemudian dikenal juga dengan Mesopotamia (Bahasa Yunani : mesos = tengah dan potamos = sungai) , yang artinya tanah di antara dua aliran sungai. Begitu suburnya daerah ini hingga seorang Pujangga Yunani, Herodotus, pernah menyatakan dalam salah satu karyanya, bahwa bumi Mesopotamia yang letaknya beribu-ribu kilometer dari Yunani itu bagaikan sebuah taman surga nan cantik jelita.
Kesuburan tanah Sumeria boleh jadi adalah berkah dari peristiwa banjir besar yang terjadi belum lama berselang di wilayah itu. Kitab Suci Agama Samawi (Taurat, Injil, dan Al-Qur’an) memberitakan seorang suci bernama Nuh Alaihissalam, yang beserta sedikit pengikutnya selamat dari terjangan banjir bandang tersebut.
Peradaban Sumeria dianggap sebagai peradaban yang paling tua di muka bumi ini. Ketika Sumeria semakin kaya, makin banyak desa dibangun: selain Eridu yang dibangun berkali-kali, juga dibangun Ur, Uruk, Lagash, Umma, Nippur, Larak, dan Kish. Masing-masing
3
diperintah oleh kuilnya. Desa tumbuh berkembang menjadi kota.
Gambar 1.1 Peta lokasi wilayah Bulan Sabit (garis titik-titik) (Sumber: https://www.google.co.id, akses 25 Mei 2016, elaborasi lanjut)
Gambar 1.2 Peta lokasi wilayah Mesopotamia dan sekitarnya (Sumber: https://martinhumanities.com, akses 25 Mei 2016)
Kota-kota Sumeria memiliki pemerintahan sendiri seperti sebuah negara sehingga dikenal dengan sebutan Negara Kota. Kota-kota Sumeria biasanya dilengkapi dengan kuil, Ziggurat. Bangunan ini dibuat dari batu bata yang telah dibakar, bentuk arsitekturnya seperti piramida yang didirikan di atas sebuah bukit buatan. Di puncak bangunan ada ruangan untuk dewa kota. Ruangan itu dapat dicapai melalui tangga besar dari lantai dasar. Untuk keperluan membuat patung dewanya, para pemahat mendatangkan batu dari daerah lain. Salah satu yang terkenal, ziggurat di kota Ur, memiliki ukuran denah dasar 150 x 200 kaki, dan tingginya 70 kaki.
Gambar 1.3 Kota Berbenteng (Citadel) Ur (Sumber: http://cw.routledge.com, akses 25 Mei 2016)
5
Gambar 1.4 Pusat Kota Ur
Gambar 1.5 Ziggurat di Kota Ur
(Sumber: http://whenintime.com, akses 25 Mei 2016)
Agama orang-orang Sumeria mengenal banyak dewa, dan Marduk dianggap dewa tertinggi, yang dilambangkan sebagai matahari yang memancarkan sinarnya ke bumi dan memberi kesuburan kepada para petani.
Karena yang menjalankan negara kota di Sumeria adalah kuil, maka para pendeta terpaksa menciptakan tulisan untuk mencatat segala pembukuan mereka. Tulisan itu, yang disebut Cuneiform (Tulisan Paku) diguratkan di atas lempeng tanah liat yang ribuan di antaranya masih awet hingga sekarang.
Setiap kuil, baik yang besar, sedang maupun kecil, tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga pusat kegiatan pendidikan, perdagangan, dan pertukangan. Kuil juga menyelenggarakan festival-festival musik dan olah raga.
7
Gambar 1.6 Contoh Tulisan Paku
(Sumber: https://www.thinglink.com, akses 25 Mei 2016)
Pada sekitar 3000 SM, Sumeria nampaknya dibanjiri orang asing, di antaranya orang-orang dari padang pasir Jazirah Arab, yang berbicara dalam kelompok Bahasa Semit. Mereka berdiam di sebelah Utara dan Barat Sumeria, mulai dari Kota Kish, melalui Lembah Tigris-Eufrat bagian Utara sampai ke pantai Kanaan, dan ada juga yang tinggal di Sumeria, bercampur-baur dengan Bangsa Sumeria.
Dan pada sekitar 2700 SM, dimulailah zaman kepahlawanan di Sumeria, artinya tampilnya pemimpin yang kuat di antara mereka, kalau perlu seorang pemimpin harus lebih daripada manusia biasa. Salah satu pemimpin kuat, Gilgamesh, dari Uruk, menjadi pahlawan Sumeria paling kesohor. Dan ketika ia meninggal, pada pemakaman sang pahlawan, puluhan budak yang
mengenakan pakaian terbaik mereka masuk ke liang kubur bersama jenazahnya dan minum racun.
Gambar 1.7 Gilgamesh
(Sumber: http://www.powerthoughtsmeditationclub.com, akses 17 Juni 2016)
Selama lima atau enam abad pertama dalam sejarah Peradaban Sumeria, negara-negara kota muncul berdampingan tanpa saling berseteru. Namun sejak sekitar paro milenium ketiga SM, ciri yang menonjol adalah perseteruan antar negara kota. Hingga kemudian Sargon, seorang pejabat muda Bangsa Akkadia, yang berbahasa Semit, muncul sebagai pemimpin melalui serangkaian penaklukkan. Setelah menaklukkan Raja Kish, ia memenangkan pertempuran penting melawan
9
tentara gabungan Sumeria yang dipimpin oleh Zaggesi, pada sekitar 2370 SM.
Dinasti Akkadia merepresentasikan kerajaan sejati pertama di Mesopotamia, yang wilayahnya membentang dari Teluk Persia di Selatan, hingga Asia Kecil di Utara, dan mencakup Irak, Syria, Lebanon, dan bagian-bagian Turki serta Iran; dan memiliki pengaruh di Mesir, Ethiopia dan Siprus. Kerajaan ini mencapai masa puncaknya di bawah lima raja pertamanya, yaitu Sargon I, Rimush, Manishtusu, Naram-Sin, dan Shar-kali-sharri.
Raja Akkadia, Naram-Sin, adalah tokoh yang dalam Kitab Suci Agama Islam, Al-Qur’an disebut Raja Namrud (Nimrud), musuh bebuyutan orang suci, Ibrahim Alaihissalam. Kota dimana ditemukan kompleks istana raja ini kemudian dinamakan Kota Nimrud. Raja ini menyandang gelar kebangsawanan ‘Raja Empat Penjuru Dunia’ dan ‘Dewa Akkadia’ (Dewa Ninurta). Mengikuti jejak kakeknya, Sargon I, dia menjadikan putrinya, Enmenna, sebagai pendeta tertinggi Dewa Bulan, yaitu Dewa Sin, di Ur, salah satu kota di Mesopotamia Kuno yang sekte utamanya menyembah bulan.
Sejak sekitar tahun 2130-2120 SM, baik Sumeria maupun Akkadia – Sumero-Akkadia, berada di bawah kekuasaan orang-orang barbar dari Pegunungan Utara. Selama periode ini, orang-orang Amoriah dari Syria, yang berbahasa Semit masuk ke Akkadia dari arah Barat Daya dan kemudian mendirikan dinasti baru di Kota Babilon.
Gambar 1.8 Denah Kota Berbenteng (Citadel) Nimrud (Sumber: http://oracc.museum.upenn.edu, akses 26 Mei 2016)
Gambar 1.9 Perspektif istana Nimrud (Sumber: http://www.wisdomlib.org, akses 26 Mei 2016)
11
BAGIAN 2
MIGRASI KE TANAH KANAAN
Sekitar tahun 2000-an SM, sekelompok orang di Kota Ur, di bawah pimpinan Abram atau Abraham atau Ibrahim, meninggalkan kota pergi menuju ‘tanah yang dijanjikan Tuhan’, yakni Kanaan. Para peneliti menduga bahwa Abraham mungkin sekali merupakan salah seorang pemimpin kafilah pengembara yang membawa rakyatnya dari Mesopotamia menuju Laut Mediterranean (Laut Tengah) pada akhir milenium ketiga SM. Para pengembara ini – sebagian dari mereka disebut Abiru, Apiru, Habiru, dalam sumber-sumber Mesopotamia dan Mesir – berbicara dalam Bahasa Semit Barat, yang mana Bahasa Ibrani adalah salah satunya.
Kisah dalam Alkitab tentang Abraham dan anak keturunannya mengindikasikan adanya tiga gelombang kedatangan orang-orang Ibrani di Kanaan. Yang pertama, terkait dengan kedatangan Abraham dari Mesopotamia; kemudian, setelah kematian istrinya, Sara, ia membeli tanah dan menetap di Hebron, sekitar tahun 1850 SM. Gelombang kedua, berkaitan dengan cucu Abraham, Yakub; ia menetap di Sikhem, yang sekarang menjadi kota Arab, Nablus, di Tepi Barat. Dan gelombang ketiga, terkait dengan kedatangan suku-suku yang mengaku keturunan Abraham, tiba di Kanaan dari Mesir, sekitar 1200 SM.
Mereka mengatakan bahwa mereka telah dijadikan budak oleh orang Mesir, tetapi dimerdekakan oleh Tuhan yang bernama Yahweh, yang juga merupakan tuhannya pemimpin mereka, Musa. Setelah mendesak masuk ke Kanaan, mereka beraliansi dengan orang Ibrani yang ada di sana dan kemudian disebut sebagai orang Israel, nama yang dinisbatkan kepada nama Yakub.
Gambar 2.1 Peta rute perjalanan Abraham dan Musa (Sumber: http://just-another-inside-job.blogspot.co.id,
akses 26 Mei 2016)
Jauh sebelum Abraham, sekitar 3000 SM, banyak suku-suku Arab yang berhijrah dari Jazirah Arab menuju Utara. Suku Funisia (Phoenicia) adalah yang pertama; mereka berdiam di tepi pantai Laut Mediterranean, di Asia Barat. Daerah pantai ini sebenarnya terlalu sempit, karena di sebelah Baratnya dibatasi oleh laut, dan di sebelah Timurnya oleh gunung-gunung (wilayah yang sekarang dikenal Lebanon). Oleh karenanya, mereka menuju ke laut dan berlayar, yang dengan cara itu mereka
13
dapat berhubungan dengan banyak negara untuk berdagang. Di sebelah Selatan kawasan yang didiami oleh Bangsa Funisia itu, tinggal pula Bangsa Arab lainnya, Bangsa Kanaan, yaitu sekitar 2500 SM. Mereka mendiami tepian Sungai Yordan sebelah Barat yang terbentang ke Laut Mediterranean. Daerah yang didiami Bangsa Kanaan ini, oleh Alkitab dinamakan ‘Tanah Kanaan’.
Di sebelah Timur Laut Sungai Yordan, hidup orang-orang Aramaean yang datang dari Lembah Sungai Eufrat, Mesopotamia; negeri mereka kemudian dikenal dengan Syria (Suriah). Kedatangan orang-orang Aramaean, yang juga berbahasa Semit, di Syria, bisa jadi karena mereka terdesak oleh Bangsa Mitanni yang berbahasa Indo-Eropa, yang mulai menghuni Lembah Sungai Eufrat; dan waktunya, kemungkinan, menjelang tahun 1500 SM. Salah satu kota yang dapat didirikan oleh Bangsa Aramaean ialah Kota Damaskus, yang sejak itu menguasai perdagangan di seluruh Asia Barat. Di sebelah Timur Sungai Yordan, dan Selatan Laut Mati (Laut Luth), terdapat tiga kerajaan, yakni Amon, Moab, dan Edom, yang juga menggunakan Bahasa Semit.
Sekitar tahun 1000 SM, Bangsa Aramaean dapat menciptakan suatu macam tulisan, yang apabila dibandingkan dengan Huruf Hieroglyph atau Huruf Paku lebih sempurna. Karena Bangsa Syria menjadi bangsa yang maju perdagangannya di Asia Barat, maka Bahasa Aramaean juga berkembang dan dipergunakan oleh segenap bangsa di Asia Barat dan Laut Mediterranean, mengalahkan bahasa-bahasa lokal lainnya. Sebagai contoh, Yesus, yang sesungguhnya orang Yahudi,
berbicara, tidak dalam Bahasa Ibrani, melainkan dengan Bahasa Aramaean.
Kedekatan hubungan antara Tanah Kanaan, tempat lahirnya agama-agama samawi, Yahudi dan Kristen, dengan Jazirah Arab, tempat lahirnya agama samawi, Islam, cukup menjadi petunjuk bahwa Abraham, ‘Bapak Bangsa-Bangsa’ dan ‘Bapak Para Nabi’ pernah berdakwah menyampaikan Risalah Tuhan di kedua wilayah itu. Ishak, putra kedua Abraham dan keturunannya berdakwah di Tanah Kanaan dan sekitarnya, sementara Ismail, putra pertama Abraham dan keturunannya berdakwah di Jazirah Arab.
Menurut Al-Qur’an, Abraham dan Ismail Alaihissalam adalah bapak dan anak yang saling bahu-membahu membangun Ka’bah, Bait Allah, di Mekah, jauh sebelum Sulaiman membangun Bait Suci di Yerusalem. Istri Abraham, Hajar (Hagar), bersama Ismail yang masih kecil ditinggal oleh Abraham di lembah Bakkah (Mekah). Di tempat itu, kemudian terbangun permukiman masyarakat Arab. Dari tempat ini pula, Muhammad bin Abdullah mendapat perintah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk mengajarkan agama Islam ke seluruh umat manusia.
Hampir bersamaan waktunya dengan kedatangan orang-orang Israel di Kanaan dari Mesir, sekitar 1200 SM, gelombang orang-orang Suku Filistin dari Pulau Krete (Kreta) di Laut Mediterranean, datang di tepi Pantai Asia Barat mencari tempat kediaman baru setelah kediaman mereka sebelumnya dihancurkan oleh serangan dari Utara. Mereka mendiami daerah antara Yava dan Gaza. Maka bercampurlah mereka dengan orang-orang Kanaan
15
yang terlebih dulu ada di sana. Wilayah ini kemudian dikenal dengan Palestina. Karena wilayah Palestina terletak di antara kedua negara besar, Mesir di Barat dan Babilonia di Timur, di mana di sanalah muncul dan tumbuhnya kemegahan peradaban pada Zaman Kuno, maka ia paling banyak dipengaruhi oleh kedua negara itu. Perebutan pengaruh atas Palestina diramaikan pula oleh Kerajaan Hittite (Hatti) di Utara, yang kekuasaannya meliputi wilayah Asia Kecil (Turki sekarang). Tumbuhnya Kerajaan Hittite hampir sezaman dengan tumbuhnya kesatuan politik di Palestina.
Gambar 2.2 Peta rute perjalanan Abraham, Hajar, dan Ismail (Sumber: http://www.angelfire.com, akses 29 Mei 2016)
Gambar 2.3 Perspektif Kota Berbenteng di Kanaan (sebuah model) (Sumber: http://realhistoryww.com, akses 20 Juni 2016)
Sekitar 4000 SM, di Kanaan orang-orang yang sebagian besar adalah para petani, membangun rumah-rumah mereka dari bahan bata-lumpur. Mereka hidup dalam sebuah kota yang berdinding tebal terbuat dari bahan batu kasar dan bata-lumpur. Dalam kota yang berdinding ini, para petani menghasilkan berbagai produk hortikultura lokal, seperti: zaitun, anggur, dan gandum. Para petani juga menggembalakan ternak.
Dengan berjalannya waktu, kota-kota awal tumbuh lebih kompleks, dengan penambahan dinding kota di bagian luar dinding pertama, sehingga sebuah kota bisa memiliki dua atau tiga dinding pelindung kota; ia sebagai dinding pertahanan. Keberadaan dinding-dinding kota yang dijaga ketat, adalah bukti bahwa ini bukan periode damai.
17
BAGIAN 3
BABILONIA
Di bawah kepemimpinan Hammurabi (1792-1750 SM), Kerajaan Babilonia yang ibukotanya di Babilon, mengalami kemajuan pesat, wilayahnya mencakup Assyria, Mesopotamia Utara (di bagian Barat Laut Mesopotamia) dan Mesopotamia Selatan (di bagian Tenggara Mesopotamia). Selama pemerintahannya, ia memajukan pendidikan, seni, ilmu pengetahuan, perdagangan, dan mengeluarkan hukum tertulis.
Hukum itu dikenal dengan Undang-Undang Hammurabi; terdiri atas 280 pasal. Undang-Undang Hammurabi, antara lain mengatur: soal pencurian dan tukang tadahnya, korupsi, pembunuhan, penculikan, penipuan, perpajakan, pencemaran nama baik, dan kehidupan keluarga. Salah satu isi Undang-Undang Hammurabi: dalam perkawinan Bangsa Babilonia, pengantin laki-laki memasang cadar pada mempelai perempuannya sebagai tanda bagi laki-laki lain bahwa perempuan itu adalah miliknya dan tidak boleh diperebutkan lagi. Si laki-laki berusaha meyakinkan perempuannya bahwa cadar itu demi kebaikan mereka sendiri – bahkan itu adalah hak istimewa. Menurut hukum Babilonia, perempuan budak dan selir dilarang mengenakan cadar. Hammurabi juga punya
gagasan-gagasan segar: dia menjadikan Marduk sebagai raja semua dewa, mitos kuno pun diciptakan, seperti ‘ Marduk menciptakan langit dan bumi’. Hammurabi membangun ibukotanya menjadi kota terbesar di antara Mesir dan India. Sepeninggal Hammurabi, Babilonia mengalami kemunduran.
Gambar 3.1 Undang-Undang Hammurabi. Dewa Marduk, sedang duduk di singgasananya, memegang gulungan undang-undang, yang
hendak diserahkannya kepada baginda.
19
Pada tahun 1739 SM, bangsa barbar dari Timur, Bangsa Kassit, berhasil menaklukkan ibukota Babilon dan menguasai Mesopotamia Selatan. Dan, pada tahun 1595 SM, Raja terakhir Dinasti Babilonia, Samsuditana, ditaklukkan oleh Raja Mursilis I (1620-1590 SM), dari Kerajaan Hittite. Namun, Bangsa Hittite, tidak sepenuhnya memerintah di Mesopotamia, dan wilayah ini dibiarkan begitu saja, sehingga Bangsa Kassit masih memerintah di Mesopotamia Selatan. Dan, sekitar 1500 SM, wilayah di Hulu Sungai Eufrat, Mesopotamia Utara, dikuasai sepenuhnya oleh Bangsa Mitanni.
Sementara, di bagian wilayah Utara Mesopotamia, muncul kekuatan baru, Bangsa Assyria, yang berpusat di Kota Ashur (Assur), di Hulu Sungai Tigris. Bangsa Assyria, sebelumnya, menjadi bagian dari kekuasaan Babilonia. Dimulai sekitar abad 17 SM, dengan melakukan serangkaian ekspedisi militer dan berusaha memperluas pengaruhnya, Bangsa Assyria, empat abad berikutnya (abad 13 SM), berhasil menduduki dan menguasai daerah-daerah yang letaknya di sebelah Utara. Pada masa kekuasaan raja-raja Tiglath-Pilaser III, Sargon II, Sennacherib, dan Assarhaddon, yang memerintah pada abad 9-7 SM, Kerajaan Assyria mengalami kejayaannya.
Sekitar abad 7 SM, Sargon II menjadi penguasa Assyria. Pada masa pemerintahannya, Sargon II memindahkan ibu kota dari Assur ke Dur-Sharrukin, kira-kira 20 km di sebelah Timur Laut Nineveh, dekat desa Khorsabad zaman sekarang.
Istana Sargon II dibangun bersamaan dengan pembangunan ibu kota baru. Arsitektur istana Sargon II
memiliki 200 ruangan di lahan seluas hampir 10 ha yang dibuat lebih tinggi 7,5 m daripada wilayah sekitarnya. Patung-patung lembu raksasa yang bersayap dan berkepala manusia menjaga gerbang istana. Tembok-tembok istana dihiasi lukisan maupun relief yang menggambarkan kampanye militer dan prestasi sang raja.
Gambar 3.2 Denah Kota Khorsabad
21
Gambar 3.3 Perspektif kota berbenteng Sargon II di Khorsabad (Sumber: https://www.pinterest.com, akses 25 Mei 2016)
Gambar 3.4 Perspektif istana Sargon II di Khorsabad (Sumber: http://www.crystalinks.com, akses 26 Mei 2016)
Gambar 3.5 Perspektif gerbang istana Sargon II di Khorsabad (Sumber: http://www.istockphoto.com, akses 26 Mei 2016)
Sepeninggal Sargon II, Assyiria dipimpin oleh putranya yang bernama Sennacherib. Sennacherib membangun istana baru di Kouyunjik, tidak jauh dari Khorsabad, masih termasuk wilayah Nineveh. Pada masa Sennacherib, arsitektur kota Nineveh yang semula kurang menarik, segera diperindah, dengan patung-patung yang besar dan tinggi menghiasai kota. Dinding kotanya amat kokoh; tingginya duapuluh lima meter. Di setiap sudut dinding kota dilengkapi menara-menara berbentuk segi empat yang jumlahnya mencapai seratus enampuluh tujuh buah. Jalan masuk ke kota yang merupakan benteng itu berupa delapan buah pintu gerbang yang dibuat dari perunggu. Pintu gerbang tadi diperkuat semuanya; di kiri dan kanannya, ditempatkan patung lembu besar yang bersayap. Semua pintu gerbang kota dan pintu masuk ke istana di kerajaan Assyria dijaga oleh
23
lembu bersayap, tubuhnya menyerupai lembu jantan, tetapi kepalanya meniru kepala manusia. Patung lembu yang bersayap itu dinamakan Lamassu; ia selalu dibuat berkaki lima, sehinga selalu tampak empat buah kaki dari manapun ia dilihat.
Gambar 3.6 Denah istana Sennacherib di Kouyunjik (Sumber: http://picssr.com, akses 26 Mei 2016)
Hingga tahun 650 SM, Assyria menjadi sebuah kerajaan yang tiada tertandingi, wilayahnya hampir meliputi seluruh kawasan Timur Tengah sekarang, yang membentang mulai dari Teluk Persia di Timur hingga Lembah Sungai Nil di Barat, dan dari Gurun Arabia di Selatan hingga Tanah Palestina di Laut Tengah. Untuk sementara Yerusalem selamat dari sepak terjangnya.
Gambar 3.7 Perspektif istana Sennacherib di Kouyunjik (Sumber: http://www.bbc.com, akses 26 Mei 2016)
Gambar 3.8 Interior istana Sennacherib di Kouyunjik (Sumber: www.crystalinks.com, akses 26 Mei 2016)
25
Gambar 3.9 Lukisan taman istana Sennacherib di Kouyunjik (Sumber: https://gatesofnineveh.files.wordpress.com, akses 26 Mei 2016)
Sementara itu di wilayah Asia Barat, sekitar abad 11 SM, untuk pertama kalinya orang Israel berperang melawan orang Filistin, di Tanah Kanaan, mereka langsung kalah total. Suku-suku Israel, yang merujuk kepada keduabelas putra Yakub, melawan dengan mentaati perintah tunggal seorang raja, Saul. Setelah Saul meninggal, salah satu suku, Yehuda, mengangkat seorang suci, Daud, sebagai raja, sementara suku-suku Israel lainnya mengikuti Isyboset, putra Saul. Selama dua tahun, kedua pihak itu bertempur, dan akhirnya Isyboset berhasil dibunuh. Sekarang, gantian Bangsa Filistin diserang dan dikalahkan oleh Yehuda pimpinan Daud. Karena terkesan posisinya yang kuat dan sulit dijangkau musuh, setelah berhasil menaklukkan Yerusalem, Daud, menjadikannya sebagai ibu kota kerajaan. Kemenangan Daud atas orang-orang Filistin membuatnya ditaati oleh
seluruh suku Israel. Namun, bangsa Filistin dapat mempertahankan independensinya sampai tahun 734 SM, ketika Filistin diserbu oleh Raja Tiglath-Pileser III, dari Assyria.
Kemudian, Daud mengalahkan kerajaan-kerajaan Moab, Amon, dan Edom. Kejayaan Daud diperlihatkan dengan keberhasilannya menyatukan seluruh wilayah Syria Selatan, kecuali Filistin, sampai jauh ke Utara di pedalaman, ke ujung Selatan Dataran Anti Lebanon, sampai di sebelah Utara Damaskus. Setelah Daud meninggal, pada tahun 955 SM, putranya, Salomo, menggantikannya.
Salomo mewujudkan keinginan ayahnya, Daud, untuk membangun sebuah Bait Suci bagi Tuhan Yahweh di Yerusalem. Raja Hiram di Tyre, Funisia, memberi Salomo bantuan teknologi yang diperlukan dalam pembangunan itu. Salomo membangun Bait Suci bagi Yahweh di atas bukit kota sebelah Timur, di mana Kubah Batu, tempat suci Muslim yang sangat penting, saat ini berdiri. Bangunan Salomo berbentuk empat persegi panjang dengan serambi menghadap Timur. Tempat yang paling suci, di bagian tengah, berisi Tabut Perjanjian, dan seluruh bangunan dikelilingi tembok tebal.
Bait Suci itu mulai dibangun pada tahun 968 SM. Tujuh tahun kemudian dapat diadakan upacara pembukaan Bait Suci oleh Raja Salomo. Di tengah-tengah tampak sebuah gedung, yang lebih tinggi dari yang lain. Di situlah terdapat ‘tempat suci’ dan ‘tempat yang maha suci’. Gedung itu dikelilingi oleh ruang-ruang dengan pembatas yang terbuat dari batu. Di ruangan itulah disimpan alat-alat upacara yang diperlukan ketika ada
27
kebaktian. Seluruh gedung induk itu dikelilingi oleh dua pelataran, satu untuk pendita-pendita dan yang sebuah lagi untuk rakyat. Pelataran tempat pendita-pendita lebih tinggi letaknya daripada pelataran untuk rakyat. Tepat di bagian depan gedung induk itu didirikan sebuah mezbah tempat membakar kurban, dan di situlah juga dijumpai ‘kolam tembaga’. Setelah Bait Suci ini berumur seratus tahun, pernah mengalami perbaikan-perbaikan. Namun, pada tahun 597 SM, oleh Nebuchadnezzar, Bait Suci ini dihancurkan.
Gambar 3.10 Bait Suci yang dibangun Salomo di Yerusalem (Sumber: http://www.bijbelseplaatsen.nl, akses 26 Mei 2016)
Menjelang akhir kekuasaan Salomo, kerajaan yang dibangun Daud, mulai menunjukkan kemunduran. Dimulai oleh orang-orang Edom dan Damaskus, yang berhasil memberontak pada akhir masa kekuasaan Salomo.
Setelah kematian Salomo, sekitar tahun 935 SM, orang-orang Israel non-Yehuda pun melepaskan diri dari Yehuda dan membangun sebuah kerajaan sendiri yang terpisah. Sekarang kerajaan terpecah menjadi dua: Yehuda dan Israel. Kerajaan Yehuda, dipimpin oleh Rehabeam, putra Salomo, beribukota di Yerusalem, menguasai wilayah bagian Selatan. Kerajaan Israel, dipimpin oleh Yerobeam, seorang pegawai istana raja, beribukota di Sikhem (kemudian pindah ke Samaria), menguasai wilayah bagian Utara. Dalam kondisi demikian, mereka harus menghadapi serangan Assyria.
Menghadapi serangan Assyria, para pemimpin Yehuda, Israel, Damaskus, Moab, Amon, dan Edom mengesampingkan pertikaian mereka, dan mengadakan koalisi. Dan ternyata koalisi mereka berhasil menahan serangan Assyria untuk sementara dalam pertempuran tahun 853 SM.
Pasukan Assyria terus bergerak maju, dan akhirnya pada 722 SM, Samaria, ibukota Israel jatuh. Lebih dari 27.000 penduduk diusir, dan tamatlah kerajaan Israel. Para penduduk yang diusir itu kemudian dikenal sebagai Sepuluh Suku Israel Yang Hilang. Sementara Raja Yehuda memberi banyak hadiah untuk Raja Assyria. Namun, pada 701 SM, setelah mengetahui Yehuda berkomplot dengan Mesir, pasukan Assyria benar-benar menyerang Yehuda, dan mengepung Yerusalem. Tiba-tiba datanglah wabah yang menyerang pasukan Assyria, sehingga Yerusalem terselamatkan.
Pada tahun 612 SM, Nineveh, ibukota Assyria, berhasil dihancurkan oleh pasukan gabungan: Bangsa Chaldea, suatu bangsa yang juga berbahasa Semit dan
29
menguasai tanah Mesopotamia bagian Selatan – bekas kerajaan Babilonia Lama – , dan dua bangsa yang berbahasa Indo-Eropa, yakni Bangsa Media dan Persia. Kerajaan Chaldea, yang juga dikenal sebagai Kerajaan Babilonia Baru, memilih Babilon sebagai ibukotanya.
Raja Babilonia Baru yang terkenal adalah Nebuchadnezzar. Pada tahun 597 SM, ia berhasil menaklukkan Yehuda, merebut dan menghancurkan Yerusalem; dan memindahkan sekitar 20.000 warga kelas atas Bangsa Yehuda ke Babilon.
Ketika Cyrus, Raja Persia, menguasai Babilonia, pada tahun 539 SM, maka secara otomatis, ia menjadi penguasa atas Yehuda. Raja Persia memperkenankan Bangsa Yehuda kembali ke Yerusalem, dan siap membantu pembangunan kembali Yerusalem. Persia menisbatkan Bangsa Yehuda dengan nama Yahudi, dan menamakan keyakinan mereka sebagai agama Yahudi. Sejak saat itu sebutan ‘Yahudi’ dilekatkan pada orang yang menganut agama Yahudi.
Ketika Nebuchadnezzar diangkat menjadi raja, Kota Babilon masih merupakan sebuah kota yang tidak menarik, karena seringnya diserang dan dihancurkan musuh. Maka, segera setelah itu, ia memugar dan mendirikan bangunan-bangunan baru di Kota Babilon, dan jadilah sebuah kota yang mengagumkan.
Keadaan arsitektur Kota Babilon: bentuknya segiempat dikelilingi tembok yang dihiasi dengan gambar-gambar binatang buas, dengan Sungai Eufrat yang mengalir di tengahnya. Di kota itu terdapat beberapa kuil, di antaranya Kuil Marduk. Di dalam kuil terdapat Ziggurat
Etemenanki. Di bagian tengah kuil juga dijumpai Menara Babel. Tidak jauh dari Kuil Marduk terdapat Taman Gantung yang terkenal itu, yang merupakan salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia. Taman Gantung Babilon dibangun di atas bukit buatan, tingginya sekitar 107 meter, bentuknya berupa podium bertingkat yang ditanami dengan pohon, rumput, dan bunga-bungaan. Ada air terjun buatan berasal dari air sungai yang dialirkan ke puncak bukit, lalu mengalir melalui saluran buatan; jadilah tempat yang asri dan sejuk di daerah yang panas dan kering.
Gambar 3.11 Denah Kota Berbenteng (Citadel) Babilon (Sumber: http://www.bible-history.com, akses 26 Mei 2016)
31
Gambar 3.12 Perspektif Kota Babilon
(Sumber: http://www.historyfiles.co.uk, akses 26 Mei 2016)
Gambar 3.13 Perspektif Gerbang Utama (Ishtar Gate) Kota Babilon (Sumber: https://www.pinterest.com, akses 26 Mei 2016)
Gambar 3.14 Perspektif Taman Gantung di Kota Babilon (Sumber: https://www.pinterest.com, akses 26 Mei 2016)
Gambar 3.15 Perspektif Ziggurat Etemenanki di Kota Babilon (Sumber: https://www.pinterest.com, akses 26 Mei 2016)
33
Agama orang Babilonia lebih mengutamakan kesejahteraan di dunia daripada kebahagiaan di akhirat nanti. Ilmu sihir, penujuman, dan ilmu perbintangan lebih banyak dikembangkan di sini daripada tempat-tempat lain. Dari Babilonia pun lahir beberapa hal yang tergolong ilmu pengetahuan: pembagian hari menjadi 24 jam, 1 jam=60 menit, 1 menit=60 detik, dan lingkaran menjadi 360 derajat; juga ditemukannya siklus gerhana, yang memungkinkan terjadinya gerhana bulan bisa diramal dengan tepat, dan gerhana matahari dengan beberapa perkiraan.
Gambar 3.16 Astronomi Babilonia
Gambar 3.17 Lamassu
35
BAGIAN 4
PERSIA KAMPIUM DI TIMUR
Pada sekitar 2000 SM, suku-suku bangsa yang mengembara dari kampung halaman mereka di Rusia Selatan ke arah Tenggara sampailah di Iran. Sebagian dari mereka ada yang terus mengembara ke India. Mereka yang menetap di Iran kemudian menjadi nenek moyang Bangsa Media dan Bangsa Persia. Sementara, mereka yang masuk ke India menjadi Bangsa Arya.
Setelah menetap di Iran, Bangsa Media dan Bangsa Persia hidup bertani, dan menjadi penggembala domba dan kuda. Mula-mula, sekitar abad 8 SM, yang berkuasa adalah Bangsa Media. Sesudah menaklukkan Bangsa Persia, Bangsa Media mendirikan kerajaan (kekaisaran) yang luasnya membentang dari Teluk Persia di Selatan sampai Laut Kaspia di Utara, beribukota di Ekbatana (Hamadan sekarang). Rajanya yang bernama Cyaxares (620-584 SM), pada tahun 612 SM, ikut menggempur kota Nineveh. Setelah kematian Cyaxares, dan diganti oleh Astyages (585-550 SM), Kerajaan Media mengalami kemunduran, hingga pada 550 SM, dapat ditaklukkan oleh Persia di bawah pimpinan Cyrus (600-530 SM).
Setelah berkuasa, Cyrus, Raja Persia, memutuskan untuk melancarkan politik perluasan wilayah. Pada tahun 548-547 SM, Persia berperang melawan Kerajaan Lydia di
Asia Kecil (Turki sekarang). Persia dapat menghancurkan ibukota kerajaan, Sardis, dan menangkap Croesus, Raja Lydia.
Kerajaan Persia (Kekaisaran Akhemeniyah), yang didirikan oleh Cyrus, yang semula lebih lemah dan senantiasa menjalin hubungan baik dengan Babilonia, berbalik menjadi musuh. Dan pada tahun 539 SM, Persia menaklukkan Babilonia Baru. Bangsa Yahudi, yang sejak Raja Nebuchadnezzar di tawan di kota Babilon, oleh Cyrus diperbolehkan pulang ke negeri Yehuda.
Pada tahun 530 SM, Cyrus berhasil menguasai sebagian tanah India bagian Barat Laut. Tidak lama kemudian ia terbunuh dalam upaya memukul mundur serangan di wilayah Utara kekaisarannya yang dilakukan oleh suku-suku nomaden. Ia digantikan putranya, Cambyses, yang dapat mengembalikan ketentraman dalam negeri.
Pada 525 SM, Cambyses, pengganti Cyrus, menaklukkan Mesir dan beberapa tempat lain di kawasan Afrika Utara, dan kemudian pasukannya juga menyerbu ke Ethiopia (Abisinia). Di segenap negeri yang ditaklukkan itu, adat istiadat masing-masing bangsa itu dihormati oleh Cambyses.
Setelah Raja Cambyses meninggal, sekitar tahun 522/521 SM, Darius naik takhta. Pada masa Darius (521-486 SM), Persia mengalami masa kejayaannya; wilayahnya meliputi Baktria, Parthia, Media, Babilonia, Syria, Yehuda, Armenia, Thracea, Karthago, Mesir, dan Afrika Utara, sehingga membentang dari Indus, India, di Timur hingga Yunani di Barat. Bila diambil patokan sekarang, wilayah itu meliputi negara-negara Rusia Selatan, Afghanistan,
37
India Barat Laut, Iran, Irak, Syria, Lebanon, Yordania, Palestina, Israel, Turki, Bulgaria, Macedonia, Yunani, Tunisia, dan Mesir.
Gambar 4.1 Peta wilayah kekuasaan Persia
(Sumber: http://www.israelnationalnews.com, akses 31 Mei 2016)
Sejak Darius memerintah, wilayah Persia yang luas itu dibagi menjadi beberapa provinsi. Provinsi-provinsi yang dikenal sebagai satrap itu dipimpin oleh pejabat negara yang disebut satrapi. Tugas seorang satrapi hampir sama dengan tugas seorang gubernur di zaman modern ini. Untuk memudahkan lalu-lintas, baik untuk keperluan ketentaraan maupun untuk perdagangan, dibuatlah jalan-jalan raya yang dimulai dari Susa. Masing-masing kota besar dihubungkan satu dengan lainnya melalui sistem
pos, yang dilengkapi dengan kuda-kuda pilihan dan petugas-petugas yang cakap. Di tiap-tiap tempat yang agak besar disediakan tempat perhentian untuk mengganti kuda yang lelah. Sebagai perbandingan, sebuah pesan dari Kota Sardis ke Susa, yang jaraknya sekitar 2000 km, baru tiba setelah tiga bulan perjalanan lamanya. Sedangkan tukang-tukang pos yang bekerja secara estafet dapat mempersingkat waktu hingga empat belas hari saja.
Para raja Persia membangun kota-kota dan istana-istana di Pasargadae, Susa, dan Persepolis. Pasargadae adalah ibukota kerajaan Persia pada zaman kekuasaan Raja Cyrus. Susa adalah ibukota kerajaan Persia pada zaman kekuasaan Raja Darius, letaknya agak jauh ke arah Barat Laut dari Pasargadae. Persepolis adalah salah satu kota terindah yang pernah dibangun oleh Darius, letaknya tidak jauh ke arah Barat Daya dari Pasargadae.
Para ahli sejarah kuno, menemukan bahwa reruntuhan istana Pasargadae yang dibangun oleh Raja Cyrus, dahulunya dilengkapi dengan taman bunga yang luas. Istana yang asri itu dibuat bertingkat-tingkat dengan tembok yang dibuat dari batu bata yang kokoh. Yang mengesankan dari bangunan istana itu adalah bahan yang digunakan berupa bubukan semen. Para ahli memastikan bahwa untuk pertama kalinya semen digunakan sebagai bahan bangunan yang utama. Jenazah Cyrus dikuburkan di dekat istananya di Pasargadae. Di atas kuburnya berdiri bangunan besar (cungkup).
39
Gambar 4.2 Lay Out Pasargadae
(Sumber: http://class.lism.catholic.edu.au, akses 31 Mei 2016)
Gambar 4.3 Perspektif Kompleks Istana Pasargadae (Sumber: http://kavehfarrokh.com, akses 31 Mei 2016)
Gambar 4.4 Perspektif Apadana (Balairung) Istana Pasargadae (Sumber: http://www.heritageinstitute.com, akses 31 Mei 2016)
Gambar 4.5 Cungkup makam Raja Cyrus di Pasargadae
(Sumber: http://www.untoldiran.com, akses 31 Mei 2016)
Di ibukota Kerajaan Persia, Susa, Raja Darius, membangun sebuah istana yang bercitra dunia. Para arsitek dari segala penjuru didatangkan ke Kota Susa. Bangsa Mesir yang terkenal mahir mencipta bangunan yang berkekuatan tinggi, tugasnya khusus mencipta semua tembok istana yang megah. Sementara, arsitek dari Babilonia tugasnya membuat batu bata yang terbaik
41
mutunya; terbukti mereka mampu membuat ziggurat-ziggurat yang baik dan kokoh. Pengerjaan kayu dipercayakan kepada Bangsa Serdian yang dibantu oleh sebagian orang Mesir. Ornamen-ornamen istana dicipta dengan material kualitas terbaik. Emas penghias istana khusus didatangkan dari Sardis (Lydia). Hanya tempat inilah di dunia yang paling masyhur menghasilkan logam mulia itu. Sedangkan perak kemilauan yang menghiasi berbagai ornamen dikirimkan khusus sebagai upeti dari Mesir. Aneka ornamen gading didatangkan dari negeri Ethiopia, dan kayu-kayu penyangga istana didatangkan khusus dari Ghandara, India.
Gambar 4.6 Lay Out Kota Susa
Gambar 4.7 Denah Istana Susa
(Sumber: http://www.bible-archaeology.info, akses 31 Mei 2016)
Gambar 4.8 Perspektif Apadana (Balairung) Istana Susa (Sumber: http://www.heritageinstitute.com, akses 31 Mei 2016)
43
Raja Darius, juga memerintahkan pembangunan kota dan istana di Persepolis. Dalam bahasa Persia kuno, kota ini disebut Parsa, yang berarti "Kota Bangsa Persia". Persepolis adalah terjemahan bahasa Yunani: Persēs polis, yang artinya "Kota Persia".
Bangunan di kompleks Persepolis terbagi atas tiga kelompok: kawasan militer, kawasan perbendaharaan (ruang harta), dan balai resepsi serta kediaman sementara Raja. Struktur utama antara lain: Tangga Agung, Gerbang Semua Bangsa (Gerbang Xerxes), Istana Apadana Darius, Balai Seratus Tiang, Balai Tripylon Hall, Istana Tachara milik Darius, Istana Hadish milik Xerxes, Istana Artaxerxes III, Bendahara Kemaharajaan, Istal kuda kerajaan, dan rumah Kereta Perang
Darius membangun istana megah di Persepolis. Istana ini disebut Apadana (Apadana Palace), yang digunakan sebagai balairung audiensi resmi. Istana ini memiliki balai agung berbentuk bujur sangkar, tiap sisinya berukuran panjang 60 meter dengan 72 tiang besar, 30 diantaranya masih tegak berdiri. Setiap pilar besar ini tingginya 19 meter. Pilar ini menopang atap yang luas dan sangat berat. Puncak tiang dihasi patung batu hewan, seperti banteng berkepala dua, singa, atau rajawali. Tiang ini terhubung oleh batang penopang datar dari kayu ek atau kayu sedar Lebanon. Dindingnya dilapisi lumpur dan stuko setebal 5 cm, sebagai perekat, kemudian dilapisi stuko hijau. Di sisi Barat, Utara, dan Timur istana terdapat serambi persegi yang memiliki 12 tiang tersusun dalam dua baris masing-masing enam tiang. Di sisi Selatan balairung terdapat serangkaian
kamar sebagai tempat penyimpanan. Dua tangga bergaya Persepolis dibangun secara simetris terhubung dengan fondasi batu. Di keempat sudut Apadana, dibangunlah empat menara yang menjorok ke luar. Dinding dilapisi tegel dan dihiasi gambar singa, banteng, dan bunga. Tangga simetris bergaya Persepolis dibangun di sisi utara dan timur untuk mengatasi perbedaan ketinggian. Ketika Alexander, Raja Macedonia, menaklukkan Persia, sebagian besar istana-istana Persia dihancurkan, yang tersisa hanya reruntuhannya saja.
Gambar 4.9 Denah Kompleks Istana Persepolis (Sumber: https://www.studyblue.com, akses 31 Mei 2016)
45
Gambar 4.10 Perspektif Kompleks Istana Persepolis (Sumber: http://brookcruz.blogspot.co.id, akses 31 Mei 2016)
Gambar 4.11 Interior Balai Seratus Tiang Istana Persepolis (Sumber: http://brookcruz.blogspot.co.id, akses 31 Mei 2016)
Gambar 4.12 Reruntuhan Istana Persepolis (Sumber: http://brookcruz.blogspot.co.id, akses 31 Mei 2016)
Gambar 4.13 Detail kolom Istana Persepolis (Sumber: http://http://kavehfarrokh.com, akses 31 Mei 2016)
Orang Persia sejak abad 6 SM, mengenal suatu agama yang mulanya dianut oleh orang-orang Media. Tokoh yang dianggap mengajarkan agama itu adalah
47
seorang bijak bernama Zoroaster (Zarathustra). Ia, yang tidak diketahui masa kehidupannya, terkenal sebagai tokoh Iran Kuno yang memurnikan kembali ajaran-ajaran asli kepercayaan Persia. Ia mengajarkan bahwa ada Dewa Tertinggi yang harus dihormati manusia, yakni Ahura Mazda, Dewa Penerang. Ahura Mazda, yang disimbolkan dengan api, dianggap sebagai pencipta alam semesta dan pemelihara kehidupan. Di dunia ini hingga di akhirat nanti, Ahura Mazda, selalu berjuang demi kebaikan, sehingga dikenal pula sebagai Dewa Kebaikan, melawan Angro Mainyu, Dewa Kejahatan, yang akhirnya akan dimenangkan oleh Ahura Mazda. Bagi orang-orang yang menjadi pengikut dan penolong Ahura Mazda, dengan cara mereka harus berbuat baik dan berkata benar, maka ketika meninggal, mereka akan masuk ke surga. Sebaliknya bagi para pengikut Angro Mainyu, ketika meninggal, mereka akan masuk ke neraka. (Gambar 4.14).
Gambar 4.14 Ahura Mazda
Gambar 4.15 Perspektif Istana di Susa (sebuah model) (Sumber: http://www.bible-archaeology.info, akses 31 Mei 2016)
Gambar 4.16 Reruntuhan tangga utama Istana Persepolis (Sumber: https://www.studyblue.com, akses 31 Mei 2016)
49
BAGIAN 5
FIR’AUN MEMBANGUN PIRAMIDA
Sementara itu di belahan bumi lainnya, di Benua Afrika, muncul pula peradaban yang hampir bersamaan waktunya dengan kemunculan Peradaban Sumeria di Asia. Di Lembah Sungai Nil, suatu jalur hijau sepanjang kurang lebih 1.200 kilometer, seperti halnya di Asia, ketika penduduk Mesir mulai bercocok tanam, populasinya membesar, dan raja-raja setempat bersaing berebut kekuasaan.
Selama bertahun-tahun ada dua kerajaan: Mesir Hilir dan Mesir Hulu. Pada sekitar 3000 SM, Raja Menes, dari Abydos di Mesir Hulu menaklukkan Mesir Hilir, dan dimulailah Zaman Dinasti.
Terdapat perbedaan yang penting antara keagamaan Babilonia dan Mesir. Agama orang-orang Mesir Kuno lebih tertuju pada soal kematian, dan mereka percaya bahwa jiwa orang mati turun ke dunia-bawah di mana mereka diadili oleh Osiris, raja orang-orang mati, sesuai dengan cara hidupnya di dunia. Mereka pun percaya bahwa pada akhirnya jiwa akan kembali ke tubuh; inilah yang mengilhami pembuatan mummi dan pusara-pusara yang elok.
Gambar 5.1 Peta Wilayah Mesir Kuno
(Sumber: https://www.pinterest.com, akses 2 Juni 2016)
Kehidupan yang nyaman di Mesir membuat penduduknya menyukai kemewahan dan kesenangan, sangat berbeda dengan rekan sezamannya, orang Sumeria
51
yang sangat serius. Ketika orang Sumeria masih memakai kulit domba, orang Mesir sudah belajar menenun linen tipis. Alih-alih menulis di lumpur, mereka menggunakan semacam kertas lembut yang terbuat dari batang buluh papyrus. Keelokan seni mereka tak tertandingi di dunia, bahkan tulisan mereka pun berseni. Mereka masih terkenal karena kosmetik, cat rambut, rambut palsu, dan barang untuk bersolek lainnya. Barang kali manisnya hidup mereka itulah yang membuat orang Mesir begitu mengkhawatirkan kematian. Pada masa Pradinasti, raja dihukum mati bila sudah terlalu lemah untuk dapat memerintah. Para pendeta menghibur raja dengan gagasan bahwa dia akan hidup setelah mati. Maka dari itu orang Mesir berusaha agar supaya badan jasmani orang yang telah mati tidak akan rusak. Untuk mencapai tujuan itu mayat manusia harus dijadikan mummi; ia diberi obat-obatan, sehingga kering dan tidak dapat rusak. Umumnya pembuatan mummi dimulai segera setelah kematian, tapi bila jasad perempuan bangsawan, keluarganya lebih suka membiarkan mayatnya membusuk lebih dulu selama beberapa hari – untuk menghindari nafsu birahi tukang balsem.
Pada masyarakat Mesir Kuno, cara penguburan mayat, jenazah hanya ditimbun pasir tanpa ditandai. Ketika badai gurun datang, maka kuburan itu akan hilang, atau mayatnya dimangsa binatang buas. Melihat pengalaman yang tidak menguntungkan itu, orang Mesir mulai berfikir untuk mempertahankan kuburan nenek moyang mereka. Maka kuburan harus ditutup pada bagian atasnya, muncullah bangunan Mastaba.
Disebut mastaba karena bentuknya seperti bangku yang biasa terdapat di teras rumah orang Mesir Kuno (Bahasa Arab mastaba artinya bangku). Sedangkan untuk makam orang yang meninggal, bentuk mastaba bagian atasnya datar dan mempunyai sisi miring yang terbuat dari batu bata. Agar lebih indah pada sisi yang miring dihiasi dengan pola-pola seni geometrik.
Mastaba mempunyai beberapa kamar, salah
satunya dipergunakan untuk menyimpan jenazah dan yang lainnya dipergunakan untuk menampung barang-barang. Lama-kelamaan mastaba yang dibuat diperbesar dan semakin tinggi, sampai-sampai ada yang lima meter tingginya. Penataannya pun semakin rumit. Pada masa selanjutnya ada mastaba yang dibangun secara besar-besaran, dan mempunyai 30 ruangan.
Gambar 5.2 Tipikal Mastaba
53
Gambar 5.3 Detail Mastaba
(Sumber: https://www.studyblue.com, akses 4 Juni 2016)
Gambar 5.4 Mastaba di Sakhara
Jika di atas mastaba itu dibuatkan beberapa
mastaba yang makin ke atas makin kecil bentuk dan
ukurannya, maka mastaba itu menjelma menjadi sebuah Piramida – piramida berundak. Pada masa kemudian, karena orang selalu mencari jalan untuk memperkuat makam, maka piramida berundak itu, pada bagian luarnya, tepatnya pada bagian undaknya, ditambahkan lapisan batu yang tebal, akhirnya tumbuhlah bentuk piramida lurus – piramida sejati. Salah satu dari piramida berundak itu ialah makam Raja Zoser (Cho-ser) di Sakhara, yang tingginya 60 meter lebih. (Gambar 5.5 dan Gambar 5.6).
Gambar 5.5 Perkembangan Mastaba menjadi Piramida (Sumber: http://wiredcosmos.com, akses 4 Juni 2016)
55
Gambar 5.6 Piramida Berundak (makam Zoser) di Sakhara (Sumber: https://id.wikipedia.org, akses 4 Juni 2016)
Pada sekitar 2700 SM, Raja Zoser meminta arsiteknya, Imhotep, agar membuat makam yang memperlihatkan ketinggian statusnya. Imhotep merancang makam dari batu, bukan batu bata, bahan yang biasa digunakan untuk membangun makam. Di bawah makam dan kuil-kuilnya, dia merancang salah satu jaringan lorong bawah tanah paling ruwet yang pernah dibangun. Dia mengerahkan ribuan pekerja selama musim banjir, yang normalnya adalah saat libur mereka. Batu-batu yang sangat besar didatangkan dari tempat yang jauh dengan melalui Sungai Nil dan gurun.
Kemudian dibangun satu piramida sejati, mungkin untuk Raja Sneferu, pada sekitar 2600 SM. Adalah anak laki-laki Sneferu, Khufu (Cheops-Kheops), yang memutuskan untuk mengabadikan namanya dengan
piramida raksasa. Secara keseluruhan, 100.000 orang menghabiskan waktu 20 tahun membangun makam Khufu di Kota Gizeh. Dia bahkan menutup kuil dan menyuruh para pendetanya bekerja, boleh jadi itu karena mereka menentang sifat Khufu yang mengagungkan diri sendiri. Seperti yang Khufu harapkan, nama dan makamnya tetap bertahan.
Gambar 5.7 Piramida (makam Sneferu) di Gizeh (Sumber: https://commons.wikimedia.org, akses 4 Juni 2016)
Gambar 5.8 Sphinx (kepala manusia, badan singa): Penjaga Piramida di Gizeh
57
Gambar 5.9 Susunan Ruang Piramida (makam Sneferu) di Gizeh (Sumber: http://www.egyptian-pyramids.co.uk, akses 4 Juni 2016)
Era para fir’aun (‘per-o’ = ‘istana agung atau rumah besar’) yang berkuasa selama 500 tahun semenjak Zoser, dikenal sebagai Kerajaan Mesir Tua. Pada masa Kerajaan Mesir Tua, kehidupan penduduk Mesir mulai mengikuti ‘irama tak kenal waktu’.
Pada sekitar 2200 SM, sebuah revolusi menjatuhkan kekuasaan raja dan mulai Periode Peralihan Pertama. Setelah 150 tahun tanpa pemerintah pusat, Mentuhotep, dari Thebes menaklukkan kembali Mesir. Untuk melakukan itu, dia harus berbagi kekuasaan dan tanah dengan para bangsawan lain, sehingga Zaman Kerajaan Mesir Pertengahan juga dikenal sebagai Zaman Feodal.
Pada akhir masa Kerajaan Mesir Pertengahan, ketika para bangsawan sedang cekcok lagi, Mesir Hilir diserang bangsa asing yang mengendarai kereta perang yang ditarik kuda. Makhkluk-makhkluk barbar itu – kuda
dan orang berambut merah – aslinya berasal dari balik Pegunungan Kaukasus, di wilayah Selatan Rusia. Pada suatu waktu sekitar 2000 SM, mereka mulai berimigrasi ke negeri-negeri yang lebih beradab di Selatan. Dengan bantuan kuda-kuda perang mereka, satu kelompok menyatakan diri sebagai penguasa Kanaan, dan pada sekitar 1780 SM, mereka memasuki Mesir.
Bangsa Mesir yang terpecah belah dan takut kuda, menyerah tanpa perlawanan pada ‘Bangsa Hyksos’ atau ‘Raja-raja Asing’, yang pemerintahannya sangat dibenci. Mereka menguasai Mesir antara tahun 1780-1580 SM. Bangsa Hyksos itu mendirikan ibukota baru di Avaris, di sebelah Timur Delta Sungai Nil.
Dua ratus tahun pemerintahan Hyksos memberi orang Mesir satu pelajaran berharga, yaitu menyerang dengan menggunakan kereta perang. Setelah menguasai keahlian mengendarai kereta perang, Ahmosis, seorang bangsawan dari Thebes menyerang Hyksos. Setelah pengepungan panjang, pada tahun 1580 SM, tentara Ahmosis mengusir orang-orang asing itu sampai ke ujung Kanaan, Palestina. Di kemudian hari, Bangsa Hyksos berdiam di Syria Utara.
Sekembalinya ke Mesir, Ahmosis menyingkirkan para bangsawan pesaingnya satu persatu. Ahmosis dan pewaris takhtanya, Amenhotep I, membangun Thebes, tempat kekuasaan Dewa Amon menjadi kota yang indah. Dan mulailah Zaman Kerajaan Mesir Baru, yang nantinya berakhir sekitar tahun 525 SM, setelah Mesir ditaklukkan Persia. Sejak Zaman Kerajaan Mesir Pertengahan, Dewa Amon dipersamakan dengan Dewa Re dan kemudian menjadi dewa dwimurti yang disebut Amon-Re.
59
Raja terbesar pada Zaman Kerajaan Mesir Baru ialah Thutmosis III (sekitar 1490-1436 SM); ia semula memerintah Mesir bersama-sama ibu tiri yang juga bibinya, Hatshepsut. Hal ini terjadi karena Raja Mesir sebelumnya, Thutmosis II (sekitar 1495-1490 SM), yang adalah saudara kandung dan sekaligus menjadi suami Hatshepsut, tidak memiliki keturunan. Menjelang kematiannya, sang raja mengawini seorang selir, dan darinya diperoleh seorang anak laki-laki yakni Thutmosis III. Untuk mencegah krisis pemerintahan, maka Ratu Hatshepsut bertindak sebagai wali Thutmosis III dalam memerintah Kerajaan Mesir. Tak lama kemudian sang Ratu mengangkat dirinya sebagai fir’aun wanita dengan mengesampingkan Thutmosis III.
Hampir duapuluh tahun, Thutmosis duduk di Takhta selalu dibayangi oleh kekuasaan Ratu Hatshepsut. Di antara para fir’aun, Hatshepsut termasuk yang paling aktif membangun Mesir. Setelah sang Ratu meninggal, Thutmosis memperluas wilayahnya dengan menaklukkan sebagian besar wilayah Asia Barat: Palestina, Syria, Funisia, hingga ke Pegunungan Taurus, di Turki Selatan sekarang. Sementara negeri-negeri di Mesopotamia, seperti Mitanni yang berkuasa di Hulu Sungai Eufrat, Kerajaan Babilonia, yang semakin lemah, dan Assyria, yang belum kuat, menyatakan tunduk dan bersedia memberi upeti berupa barang-barang berharga dan tenaga kerja (budak) kepada Mesir. Dengan kekayaan dan tenaga kerja dari negeri-negeri taklukkan, Thutmosis dapat mendirikan kuil, rumah pendewaan, untuk Dewa Amon-Re yang sangat besar dan indah di Karnak dan Luxor.
Gambar 5.10 Lokasi Kuil di Karnak dan Luxor (wilayah Thebes), dan kuil-kuil lain di sekitarnya
(Sumber: http://www.vazyvite.com, akses 17 Juni 2016)
Karnak dan Luxor termasuk dalam wilayah Thebes, yang berada di bagian Timur Sungai Nil. Di bagian Barat Sungai Nil, terdapat beberapa kuil seperti kuil Ramesseum di Theban Necropolis, kuil Sethi I di Abydos, kuil Thutmosis III dan kuil Hatshepsut di Deir El-Bahari.
Pada masa Raja Amenhotep IV (sekitar 1380-1363 SM), negeri Mesir tidak lagi merupakan negeri yang tertutup, karena hubungan dengan Asia sedemikian eratnya; bahkan Thebes menjadi kota dunia, yang sangat ramai.
61
Gambar 5.11 Denah Kompleks Kuil di Karnak (Sumber: http://www.setterfield.org, akses 4 Juni 2016)
Gambar 5.12 Perspektif Kompleks Kuil di Karnak (Sumber: http://www.setterfield.org, akses 4 Juni 2016)
Gambar 5.13 Denah Kuil Amon ( kuil utama) di Karnak (Sumber: http://www.setterfield.org, akses 4 Juni 2016)
Gambar 5.14 Denah Kuil Khonsu di Karnak
(Sumber: http://s464659611.onlinehome.us, akses 4 Juni 2016)
Raja Amenhotep IV adalah penguasa Mesir pertama yang memaklumatkan bahwa dewa yang patut disembah hanyalah satu dewa saja di seantero wilayah kekuasaan Mesir, yakni Dewa Aton (berupa bulatan matahari). Untuk memperlihatkan bahwa ia berbakti kepada Aton, namanya diganti dengan Echn-Aton
63
(Akhenaton). Semua dewa lain, betapapun tua dan regional, dicekal. Kemudian, matahari menjadi dewa tunggal, pencipta dan pemberi makan. Sudah barang tentu tindakan raja itu ditentang oleh pendeta-pendeta agama Amon di Thebes; untuk menghindarkan tentangan itu ia memindahkan ibukota kerajaan dari Thebes ke kota baru, Tell-el-Armana.
Gambar 5.15 Perspektif Kuil Khonsu di Karnak: Tipologi Kuil Mesir Kuno
(Sumber: https://www.pinterest.com, akses 4 Juni 2016)
Nefertite, yang terkenal sebagai ‘putri tercantik dari Zaman Kuno’, istri Raja Akhenaton, sangat mendukung kebijakan suaminya. Tuan putri selalu menyertai baginda, sampai-sampai pada upacara-upacara ketika menerima duta negeri asing. Pada waktu yang sedemikian duduklah Nefertite di samping baginda. Nefertite memberikan baginda tujuh orang putri.
Gambar 5.16 Denah Kuil di Luxor
(Sumber: http://www.ancientluxor.com, akses 4 Juni 2016)
Gambar 5.17 Perspektif Kuil di Luxor
65
Gambar 5.18 Pilar Kuil Amon di Karnak (sebuah model) (Sumber: http://www.ancient-wisdom.com, akses 4 Juni 2016)
Gambar 5.19 Bentuk alam (pohon papirus dan lotus) sebagai acuan bentuk pilar dan kapital Kuil di Mesir Kuno
Gambar 5.20 Reruntuhan Kuil Amon di Karnak (Sumber: http://www.anniebees.com, akses 4 Juni 2016)
Sang raja yang monoteis itu pun meninggal dan digantikan oleh salah seorang menantunya, Tut-Anch-Aton. Para pendeta berhasil memaksa raja baru ini untuk kembali berbakti kepada Dewa Amon, dan dewa-dewa lama dikembalikan ke tempat-tempat pemujaan mereka. Kemudian raja juga mengganti namanya dengan Tut-Anch-Amon (Tutenkhamon).
Gambar 5.21 Akhenaton
67
Fir’aun-fir’aun Mesir Kuno selalu menyuruh membuatkan lukisan maupun patung mereka dalam segala kebesarannya. Mereka ingin dipandang sebagai dewa, sebab mereka sendiri sudah menganggap dirinya dewa.
Pada Gambar 5.21, tampak Akhenaton memakai mahkota kembar dari Mesir Utara dan Selatan. Pada bagian depan mahkota tampak ukiran ular keramat pada tingkat pertama, yakni lambang kebijaksanaan dan kehidupan.
Gambar 5.22 Bentuk pilar dan kapital Kuil di Mesir Kuno, (Sumber: http://pix-hd.com, akses 4 Juni 2016)
Gambar 5.23 Pembuatan batu bata di Mesir Kuno, (Sumber: http://www.egypt-shape.com, akses 19 Juni 2016)
Tampak pada Gambar 5.20, hamba sahaya bangsa Asia sedang membakar dan menimbun batu bata. Orang Mesir belum mengenal gambar perspektif, oleh karena itu segala yang tampak terlukis di bagian atas sesuatu haruslah dibayangkan bahwa letaknya sebenarnya di bagian belakang. Di sebelah kiri tampak sebuah kolam; di dalamnya ada tumbuh-tumbuhan. Dua orang sedang menimba air untuk membasahi tanah liat, bahan membuat batu bata. Kendi yang seorang telah penuh, tetapi yang seorang lagi masih asyik menimba. Di sebelah paling kanan, tampak orang Mesir yang mengawasi pekerjaan itu. Orang itu memegang sebuah tongkat. Di bagian depan gambar, tampak dua orang sedang mencangkul tanah liat kering. Di sebelah kiri bagian belakang gambar, tampak seorang yang memasukkan tanah liat yang dibasahkan ke dalam tuangan. Di sebelah kanan depan, kelihatan orang-orang yang mengangkut batu bata yang telah selesai dibakar.
69
BAGIAN 6
FIR’AUN VS MUSA
Sesudah Raja Tut-Anch-Amon meninggal, Mesir terpecah-pecah; di antara raja yang terkenal setelah penyatuan kembali Mesir ialah Ramses II (sekitar 1275-1220 SM); ia dapat menguasai seluruh wilayah Palestina dan mengalahkan Bangsa Hittite (Hatti) yang mengacau di wilayah Asia Barat.
Pada masa kekuasaan Ramses II, terjadi stabilitas politik yang luar biasa; di sana tidak ada krisis dalam negeri, dan segala macam kekayaan dari luar dibawa ke Mesir sebagai upeti tanda pengakuan akan kedewaan fir’aun. Monumen-monumen dan patung-patung dirinya menggambarkannya sejajar dengan para dewa, dan ia sendiri mengaku sebagai keturunan dewa.
Pada masa kejayaannya, Ramses II membangun istana dan kuil di mana-mana, seperti Kuil Abu Simbel di Nubia, Ramesseum di Thebes, kuil-kuil di Karnak dan Abydos, dan memperindah Pi-Ramesses. Kuil-kuil yang dibangun Ramses II terdapat di kota-kota di dua wilayah pinggiran Sungai Nil, yaitu wilayah bagian Timur dan Barat Sungai Nil.
Gambar 6.1 Peta Lokasi kuil-kuil Mesir Kuno (Sumber: http://chezrenejeanine.net, akses 4 Juni 2016)
71
Gambar 6.2 Denah dan Potongan Gambar Kuil Abu Simbel di Nubia (Sumber: http://www.bellabs.ru, akses 4 Juni 2016)
Gambar 6.3 Gerbang Kuil Abu Simbel, dengan 4 patung Ramses (Sumber: http://www.dewigog.co.uk, akses 4 Juni 2016)
Gambar 6.4 Panorama Kuil Abu Simbel di Nubia, terlihat Sungai Nil (Sumber: http://www.crystalinks.com, akses 4 Juni 2016)
Gambar 6.5 Interior Kuil Abu Simbel di Nubia (Sumber: http://www.8thingstodo.com, akses 4 Juni 2016)
73
Gambar 6.6 Denah Kuil Ramesseum di Thebes (Sumber: http://www.egyptianparadise.com, akses 4 Juni 2016)
Gambar 6.7 Perspektif Kuil Ramesseum di Thebes (Sumber: https://www.pinterest.com, akses 4 Juni 2016)
Gambar 6.8 Reruntuhan Kuil Ramesseum di Thebes (Sumber: https://commons.wikimedia.org, akses 4 Juni 2016)
Gambar 6.9 Denah Kuil Ramses II di Abydos (Sumber: https://commons.wikimedia.org, akses 4 Juni 2016)
75
Gambar 6.10 Perspektif Kuil Ramses II di Abydos (Sumber: http://www.yaplakal.com, akses 4 Juni 2016)
Gambar 6.11 Lokasi Kota Pi-Ramesses
Gambar 6.12 Kota Pi-Ramesses
(Sumber: http://www.hist-chron.com, akses 5 Juni 2016)
Gambar 6.13 Pusat Kota Pi-Ramesses
77
Gambar 6.14 Reruntuhan Kota Pi-Ramesses (Sumber: http://www.hist-chron.com, akses 5 Juni 2016)
Raja Ramses II sering dihubungkan dengan sejarah Bangsa Israel. Orang-orang Ibrani (Israel) datang ke Mesir bersamaan waktunya dengan penyerangan Bangsa Hyksos terhadap Mesir.
Selama masa kekuasaan raja-raja Hyksos, kurang lebih 200 tahun, Bangsa Ibrani yang bermukim di Mesir mengalami kehidupan yang menyenangkan, yang kelak diakhiri dengan masa-masa penindasan. Salah seorang Bangsa Ibrani yang dianggap saleh dan bekerja sebagai administrator di pemerintahan pada masa itu ialah Yusuf, putra Yakub.
Setelah Bangsa Hyksos berhasil diusir dari wilayah Mesir, sebagai akibat lain adalah munculnya gerakan-gerakan Anti Semitisme, dimana suku-suku Israel – dan